cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2010)" : 10 Documents clear
MENYIKAPI BENCANA SEBAGAI FENOMENA SOSIAL TERINTEGRASI Ridwan, Ita Rustiati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1663

Abstract

Bencana telah menjadi fenomena sosial karena setiap peristiwa bencana selalu melibatkan manusia di dalamnya. Penyebab bencana memang dapat diidentifikasi baik secara alam maupun perilaku manusia. Akan tetapi segala sesuatu dikatakan bencana karena menimpa kehidupan manusia. Bencana merupakan suatu keniscayaan dan sebagai manusia patut berusaha untuk menyikapi secara positif terhadap penyebab dan dampak yang ditimbulkannya. Setidaknya ada lima implikasi positif dalam menyikapi bencana, yaitu tindakan preventif dan mitigasi, tidak selalu tergantung pada teknologi, bersikap proaktif, dan bersifat otokritik. Cara pandang seperti ini akan memberikan implikasi bagi kita untuk lebih siap menghadapi bencana karena kita melihatnya sebagai sebuah fenomena sosial yang dapat ditanggulangi. Salah satu masalah sosial adalah kemiskinan. Kemiskinan itu sendiri telah menjadi bencana bagi kehidupan manusia yang tidak hanya disebabkan oleh bencana alam melainkan juga oleh faktor-faktor yang datang dari masyarakat itu sendiri. Studi kebencanaan memang perlu mendapatkan porsi yang besar dari beberapa bidang ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, psikologi, dan pada titik tertentu, “geografi”. Dengan demikian, kita semua menjadi manusia yang dapat menyikapi bencana sebagai fenomena sosial yang terintegrasi. Kata kunci : bencana, fenomena sosial, kemiskinan.
FLOOD MITIGATION: TINJAUAN TENTANG KONDISI DAN MASALAH SISTEM DRAINASE SERTA PENGENDALIAN BANJIR DI KOTA CIMAHI Nandi, Nandi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1668

Abstract

Bahaya atau bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Bentuk dan jenis bencana pun bermacam-macam, Bencana diartikan sebagai peristiwa fisik yang berpotensi merusak, yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa atau luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan. Bencana, seperti terjadinya bahaya, mungkin memiliki pengaruh lokal (lingkungan atau masyarakat) atau dampak yang sangat besar di atas batas negara. Bencana ini juga kadang tergantung oleh penyebabnya, bisa aktivitas manusia dan atau fenomena alam. Selain itu, bahaya untuk bencana dapat berupa serangan mendadak berbahaya atau serangan lambat berbahaya (UNDP, 1992). Tulisan ini akan menyajikan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh Kota Cimahi yang berhubungan dengan pengelolaan Sistem Drainase Kota. Fungsi drainase sebagai pengendali banjir saat ini mulai berkurang, kerusakan dan buruknya kualitas konstruksi bangunan air akan menjadi tantangan bagi pemerintah, masyarakat, dan berbagai stakeholder lainnya. Tuntutan akan peningkatan kondisi drainase sebagai pengendali banjir memang suatu keharusan, karena dengan kondisi drainase kota yang baik maka terjadinya bencana banjir akan terminimalisir. Selain itu, penyebab utama terjadinya genangan dan banjir di daerah perkotaan bukan semata karena faktor topografi atau geografis. Perubahan penggunaan lahan di daerah hulu merupakan pemicu terjadinya bencana banjir. Perubahan penggunaan lahan dari ruang terbuka dan tidak terbangun, menjadi ruang yang terbangun akan menyebabkan meningkatnya jumlah limpasan permukaan (run off). Di sisi lain, kapasitas drainase sebagai penampung air limpasan tidak memadai, sehingga terjadilah apa yang disebut banjir. Kata Kunci: Sistem Drainase, Kota Cimahi, Pengendali Banjir
MODEL PEMBELAJARAN MITIGASI BENCANA DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Maryani, Enok
Jurnal Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinamika alam sangat memberikan dampak bagi kehidupan manusia, baik bersifat menguntungkan maupun merugikan. Sifat merugikan inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan bencana. Untuk meminimalkan risiko atau kerugian bagi manusia, perlu pengetahuan, pemahaman, kesiapsiagaan keterampilan untuk mencegah, mendeteksi dan mengantisipasi secara lebih dini tentang berbagai macam bencana atau lebih dikenal dengan istilah mitigasi bencana. Mitigasi meliputi aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang dapat diawali dari persiapan sebelum bencana itu berlangsung, menilai bahaya bencana, penanggulangan bencana, berupa penyelamatan, rehabilitasi dan relokasi. Pengetahuan, pemahaman dan keterampilan berperilaku dalam mencegah, mendeteksi, mengantisipasi bencana secara efektif dapat ditransformasikan, disosialisasikan melalui pendidikan IPS yang secara khusus membahas mengenai isu-isu masalah sosial. Penelitian ini didesain untuk mengembangkan model mitigasi bencana dalam pembelajaran IPS SMP. Hasil kegiatan penelitian yang diharapkan adalah: (1) peta kompetensi dasar IPS yang mengandung mitigasi bencana, (2) deskripsi analisis kebutuhan penyusunan model mitigasi bencana dalam pembelajaran IPS, dan (3) seperangkat model mitigasi bencana dalam pembelajaran IPS. Metode yang digunakan adalah research and development (penelitian dan pengembangan). Untuk mengetahui kebutuhan akan pembelajaran bencana dilakukan survei di daerah yang rawan bencana yaitu Pangandaran (gempa dan tsunami), Sukabumi (gempa dan tsunami), Dayeuhkolot (Banjir), Lembang (longsor dan gunungapi), Cirebon (angin topan). Sampel terdiri dari 10 orang kepala sekolah, 10 dewan sekolah, 40 orang guru dan 81 orang siswa. Data diolah secara kuantitatif, untuk kemudian diinterpretasi sesuai dengan tujuan penelitian. Model pembelajaran terpadu merupakan model implementasi kurikulum IPS yang dianjurkan untuk diaplikasikan di SMP khususnya untuk mengajarkan tema mitigasi bencana. Adapun metode pembelajaran yang paling tepat diterapkan adalah melalui metode Cooperative learning dan problem solving, di samping metode lainnya seperti diskusi, simulasi dan demonstrasi. Media pembelajaran yang dianggap efektif adalah film, gambar dan peta, sedangkan evaluasi pembelajaran dapat dipadukan antara test, portofolio dan performance. Selain itu, model pembelajaran mitigasi bencana dalam pelatihan, penataran guru dan refreshing guru terhadap materi IPS kebencanaan perlu diberikan sebelum disosialisasikan pada peserta didik.Kata kunci: model pembelajaran, mitigasi bencana, Ilmu Pengetahuan Sosial.Artikel ini merupakan hasil penelitian Hibah Bersaing yang didanai Dit P2M Ditjen Dikti
KEBIJAKAN PELESTARIAN SUMBER DAYA HUTAN DALAM RANGKA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Nursalam, Nursalam
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1660

Abstract

Pelestarian hutan kini menjadi perhatian banyak negara termasuk Indonesia karena kondisi hutan dunia saat ini telah mengalami deforestasi yang memprihatinkan. Diperlukan kebijakan yang mendasar agar masalah kehancuran hutan dapat diatasi. Untuk itu kebijakan yang ditempuh oleh berbagai negara adalah dengan menerapkan paradigma pembangunan kehutanan yang berkelanjutan, yaitu bertumpu pada keseimbangan antar keberlanjutan fungsi ekonomi, ekologi dan sosial budaya dari pengelolaan sumberdaya hutan yang tidak sentralistis dengan membangun kemandirian masyarakat. Selain itu untuk mencapai tujuan dari pada kebijakan kehutanan maka salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam melestarikan sumber daya hutan. Partisipasi mereka dalam pelestarian sangat penting mengingat bahwa mereka adalah penentu (subjek) dan sekaligus yang merasakan dampak kebijakan tersebut (objek). Kata Kunci: Kebijakan, Pelestarian hutan, Pembangunan berkelanjutan.
PENENTUAN TIPOLOGI KAWASAN RAWAN GEMPABUMI UNTUK MITIGASI BENCANA DI KECAMATAN PANGALENGAN KABUPATEN BANDUNG Malik, Yakub
Jurnal Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Pangalengan di Kabupaten Bandung adalah salah satu wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa bumi yang terjadi 2 September 2009 dengan episentrum di selatan Tasikmalaya. Dampaknya terlihat di beberapa tempat mengalami kerusakan bangunan mulai dari tingkatan hancur sampai rusak ringan. Berdasarkan kejadian tersebut terdapat permasalahan yang dapat dikaji mengapa Kecamatan Pangalengan mengalami kerusakan cukup parah dibandingkan dengan kecamatan lain yang berdekatan. Setelah di kaji ternyata kondisi fisik lahan Kecamatan Pangalengan secara geologis rawan terhadap ancaman bencana gempa bumi. Berdasarkan penilaian “land capabilty rating “ termasuk lahan kurang stabil dengan tipologi kawasan rawan bencana gempa bumi tipe C (Kepmen PU No.21 Tahun 2007) terdapat lebih dari 2 faktor yang saling melemahkan. Jenis batuan dengan sifat fisik lemah, dekat dengan zona sesar, kemiringan lereng curam dan intensitas gempa tinggi. Selain kondisi lahan rawan secara geologis, faktor sosial turut memberikan andil terhadap tingkat kerusakan, yaitu kondisi rumah tidak ramah gempa, pola pemukiman mengelompok, tingkat kepadatan penduduk dan pengetahuan masyarakat tentang bencana yang masih kurang. Untuk mengurangi risiko bencana di masa yang akan datang perlu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan penataan kawasan Pangalengan pasca terjadinya bencana berbasis mitigasi bencana.Kata kunci: tipologi kawasan, rawan gempa bumi, mitigasi bencana.
KEMAJUAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH SERTA APLIKASINYA DIBIDANG BENCANA ALAM Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1661

Abstract

Indonesia merupakan negara yang besar dengan luas wilayah hampir 2 juta km2 yang terdiri atas 17.480 pulau yang membentang dari barat ke timur. Luas wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar, baik di daratan maupun di laut sebagai modal dalam pembangunan. Akan tetapi Indonesia juga merupakan negara yang rawan bencana baik bencana geologi seperti letusan gunungapi, gempa bumi, dan tsunami, maupun bencana meteorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan. Oleh karena itu, dalam pembangunan wilayah di Indonesia harus memperhatikan kondisi lingkungannya yang rawan bencana. Bencana alam merupakan peristiwa yang membuat kerugian, baik nyawa maupun harta benda. Kajian bencana alam memerlukan tingkat kerincian data dalam pemetaannya. Data dari penginderaan jauh dapat menyajikan informasi yang rinci sesuai dengan kemampuan resolusi dari citra penginderaan jauh. Kelebihan dari data penginderaan jauh, yaitu dapat mencakup wilayah yang luas karena diambil dari udara, diperoleh dengan cepat dan akurat meskipun daerahnya sulit dijangkau secara survei terestrial sehingga dalam perolehan datanya dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Dalam makalah ini akan diuraikan mengenai kemajuan teknologi penginderaan jauh dan aplikasinya untuk kajian bencana alam. Kata kunci : teknologi penginderaan jauh, bencana alam, mitigasi bencana alam
PENGEMBANGAN PUSAT PELATIHAN DAN SIMULASI KEJADIAN BENCANA ALAM UNTUK PENDIDIKAN KEBENCANAAN NASIONAL Yani, Ahmad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1666

Abstract

Pendidikan Kebencanaan Nasional merupakan pendidikan yang sangat dibutuhkan di negara yang selalu dihadang oleh bencana. Namun untuk dilembagakan masih sangat sulit dilakukan. Tulisan ini dapat dijadikan bahan bacaan awal untuk memulai usaha membangun Pendidikan Kebencanaan pada umumnya dan pendirian Pusat Pelatihan dan Simulasi Kejadian Bencana Alam pada khususnya. Sambil menanti terwujudnya gagasan ini, sebaiknya pendidikan kebencanaan sudah dimulai oleh semua pihak terutama oleh para guru IPS dan Geografi di sekolah. Sekolah yang telah mencoba melakukan simulasi evaluasi gempa bumi, banjir, dan kebakaran patut dihargai, apalagi jika sudah dijadwalkan secara rutin di sekolah. Kata Kunci: bencana, pendidikan, simulasi
MEMAHAMI BAHAYA GEMPA DAN TSUNAMI MELALUI PEMBELAJARAN GEOGRAFI Ruhimat, Mamat; Malik, Yakub
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1662

Abstract

Gempa bumi yang diikuti tsunami di lepas pantai barat Nangroe Aceh Darussalam pada penghujung Desember 2004 yang telah menyebabkan jatuhnya korban manusia lebih dari 150.000 jiwa di beberapa negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Isak tangis, haru biru dan air mata yang belum kering karena bencana di NAD, tiga bulan berikutnya, tepatnya pada akhir Maret 2005 Nias juga telah diguncang gempa bumi yang kekuatannya tidak terlalu jauh bila dibandingkan dengan di Aceh. Tak cukup sampai di situ saja, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera dan Jawa kemudian disusul dengan terjadinya gempa tektonik, seperti Padang, Palembang, dan bahkan juga Kota Bandung. Pembicaraan gempa belum selesai, pada April 2005 pun republik ini dikejutkan dengan adanya beberapa gunungapi yang aktivitas vulkaniknya mengalami peningkatan. Akibat rentetan peristiwa di atas, istilah-istilah gempa, tsunami, daerah patahan, subduksi, epicentrum serta erupsi saat ini menjadi istilah yang sangat populis di kalangan penduduk Indonesia ! Namun demikian, meski gempa bumi merupakan peristiwa biasa mengingat posisi geologis Indonesia yang berada pada jalur subduksi antar lempeng litosfer, pada saatnya terjadi gempa masyarakat kita seperti menghadapi peristiwa baru. Seringnya terjadi gempa, sejatinya dapat dijadikan pelajaran berarti untuk menentukan sikap positif jika suatu saat terjadi lagi. Bahkan, disisi lain, dunia pendidikan pun digugat, karena belum mampu memberikan pencerahan yang mencerdaskan, sehingga ada sebagian stakeholders pendidikan yang merasa perlu memasukkan pendidikan kebencanaan melalui struktur kurikulum nasional. Mencermati karakteristik serta ruang lingkup esensi keilmuannya, sejatinya pembelajaran geografi dapat menjadi wahana pencerdasan dalam menghadapi bahaya gempa bumi dan bencana lainnya. Kata kunci : gempa, tsunami dan pembelajaran geografi
POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA Murtianto, Hendro
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1667

Abstract

Aktivitas zona patahan Sumatera bagian tengah patut mendapatkan perhatian, karena zona tersebut merupakan zona yang rawan terhadap aktivitas pergeseran sesar yang dapat berdampak pada timbulnya kerusakan yang signifikan pada lokasi strategis manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah : 1) mengetahui persebaran daerah rawan bencana gempa bumi di Sumatera Barat dan sekitarnya akibat pergerakan patahan Sumatera bagian Tengah; 2) mengidentifikasi daerah potensial kerusakan bencana gempa bumi di Sumatera Barat dan sekitarnya akibat patahan Sumatera bagian Tengah. Metode yang digunakan adalah analisis Sistem Informasi Geografis, dengan data sekunder berupa citra landsat, peta patahan linier, sejarah kegempaan dan kepadatan penduduk di wilayah kajian. Hasil yang didapatkan adalah : 1) persebaran daerah rawan gempa akibat patahan Sumatera bagian tengah adalah berada di sekitar patahan, dan besar kecilnya kerusakan yang terjadi tergantung pada panjang, lebar, kedalaman hiposentrum gempa bumi, jenis batuan yang terkena gempa, besarnya pergeseran batuan (displacement), lama dari getaran gempa; 2) Daerah dengan potensial kerusakan BESAR akibat gempa bumi patahan Sumatera bagian tengah adalah pada : Solok, Padang Panjang, Bukit Tinggi,; Sedangkan Potensial kerusakan SEDANG akibat gempa bumi patahan Sumatera bagian tengah adalah pada : Muara Sijunjung, Sawah Lunto, Paya Kumbuh; dan Potensial kerusakan KECIL akibat gempa bumi patahan Sumatera bagian tengah adalah pada: Kota/Kabupaten di sebelah timur Muara Sijunjung, Sawah Lunto, Paya Kumbuh. Untuk kota di pesisir barat Sumatera, seperti Padang mempunyai tingkat kerawanan yang tinggi terhadap gempa bumi tektonik dari proses konvergen Lempeng Samudra Hindia dan Lempeng benua Eurasia dan gelombang tsunami yang dapat ditimbulkannya. Kata Kunci : Gempa Bumi, Patahan Sumatera.
COVER AND LIST OF CONTENTS GEA, JURNAL
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.12157

Abstract

Please download file below to see the cover and list of contents.

Page 1 of 1 | Total Record : 10