cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2012)" : 9 Documents clear
PERANAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM MEMAHAMI WILAYAH BENCANA DI KOTA BENGKULU Citra, Fevi Wira
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1787

Abstract

Bengkulu berada pada jalur patahan Sumatera, termasuk rawan bencana gempa. Berada pada pesisir pantai pulau Sumatera. Pendidikan geografi bergerak pada ranah pengetahuan, kecakapan, perilaku untuk membentuk pengalaman peserta didik yang berwawasan kemampuan mitigasi bencana. Untuk melihat pemahaman wilayah bencana yang dimiliki oleh peserta didik. Peneliti mengambil judul “peranan pembelajaran geografi dalam memahami wilayah bencana di Kota Bengkulu”. Penelitian ini menggunakan metode survei. Pengolahan data menggunakan korelasi dan regresi kemudian hasilnya dipaparkan secara deskriptif. Tingkat pemahaman mengenai wilayah bencana hanya 13,93% peserta didik yang tahu bahwa wilayah yang didiaminya adalah wilayah rawan bencana. Hubungan antara pembelajaran geografi terhadap pemahaman wilayah bencana peserta didik tidak ada hubungan. Perubahan pembelajaran geografi dalam materi mengenai bencana. Proses pembelajaran menggunakan teori konstrutivistik dan model pembelajaran simulasi yang dapat meningkatkan pemahaman peserta didik. Kata kunci : Pemahaman, pembelajaran Geografi, wilayah bencana
MEMBANGUN SINERGI PENDIDIKAN AKADEMIK (S1) DAN PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) Ningrum, Epon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1783

Abstract

Kualitas pendidikan terus diupayakan, di antaranya melalui peningkatan profesionalitas guru. Guru profesional dihasilkan melalui pendidikan akademik (S1) dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Untuk itu, dipandang penting membangun sinergi kedua lembaga pendidikan tersebut melalui kajian tentang kurikulum, sarana prasarana, sumberdaya manusia, dan program pengalaman lapangan, untuk menghasilkan guru yang memenuhi kualifikasi, memiliki kompetensi dan sertifikat pendidik. Kajian dilakukan terhadap tiga jurusan, yakni: Jurusan Pendidikan Geografi, Jurusan Pendidikan Sejarah, dan Jurusan pendidikan Kewarganegaraan. Responden: pimpinan jurusan, dosen, guru, dan mahasiswa. Instrumen penelitian: dokumentasi, angket, dan pedoman wawancara. Analisis data secara deskriptif. Struktur dan isi kurikulum pendidikan akademik (S1) belum memiliki relevansi dan kontinuitas dengan kurikulum pendidikan profesi guru (PPG). Kualifikasi akademik, persyaratan administrasi dosen pada pendidikan akademik dan guru pamong belum memiliki daya dukung optimal bagi pelaksanaan PPG. Sarana prasarana pada pendidikan akademik belum memiliki daya dukung optimal bagi workshop Subject Spesific Pedagogy (SSP). PPL-S1 dan PPL-PPG terdiri atas tiga tahapan kegiatan yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Terdapat komponen yang sama yaitu: dosen pembimbing, mahasiswa, guru, penguji, ujian, sekolah mitra, dan kelulusan, sedangkan komponen yang berbeda adalah prosedur pelaksanaan, supervisor, penguji, dan penilaian. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pengembangan kurikulum, sumber daya manusia, optimalisasi penggunaan sarana prasarana, dan PPL pada pendidikan S1 bagi efisiensi dan efektivitas PPG. Kata kunci: pendidikan akademik, pendidikan profesi guru.
SISTEM POLA TANAM DI WILAYAH PRIANGAN BERDASAKAN KLASIFIKASI IKLIM OLDEMAN Fadholi, Akhmad; Supriatin, Dina
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1788

Abstract

Wilayah Priangan merupakan bagian dari Pulau Jawa yang merupakan distributor pangan terbesar di Indonesia. Priangan memiliki tanah yang sangat subur karena di wilayahnya banyak terdapat deretan pegunungan dan sungai yang mengalir. Dengan kondisi topografi yang kompleks ini perlu dilakukan penelitian mengenai kondisi iklimnya untuk menentukan sistem pola tanam di wilayah tersebut. Unsur iklim yang dianalisa adalah unsur curah hujan yang sangat berperan langsung terhadap pertumbuhan tanaman dibanding unsur-unsur iklim lainnya. Hal ini tampak nyata terutama pada daerah persawahan tadah hujan, sehingga diperlukan upaya yang sistematis dan praktis untuk memahami perilaku iklim. Sistem klasifikasi Oldeman sangat berguna dalam klasifikasi lahan pertanian tanaman pangan di Indonesia dengan menggunakan unsur curah hujan. Kriterianya didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB) dan bulan kering (BK) berturut-turut yang batasannya memperhatikan peluang hujan, hujan efektif dan kebutuhan air untuk tanaman. Dengan klasifikasi iklim Oldeman ini dapat ditentukan sistem pola tanam di suatu wilayah. Berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman, sebagian besar wilayah Priangan bertipe iklim B1, B2, C1, C2 dan C3. Tipe iklim paling basah di wilayah Priangan adalah tipe B1, yang cocok ditanami padi sawah umur pendek 3 (tiga) kali panen atau padi sawah umur pendek 2 (dua) kali panen dan palawija 1 (satu) kali panen. Sedangkan tipe iklim paling kering di wilayah Priangan adalah tipe C3, yang cocok ditanami padi sawah umur pendek 1 (satu) kali panen dan palawija 2 (dua) kali panen khusus yang kedua jatuh pada musim kemarau. Kata kunci: curah hujan, iklim, klasifikasi iklim oldeman, sistem pola tanam.
NILAI-NILAI TATA LINGKUNGAN TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN DI KAMPUNG CIKONDANG KABUPATEN BANDUNG DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI Setiawan, Asep Yanyan; Pasya, Gurniwan Kamil; Rohmat, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1784

Abstract

Masyarakat Sunda memahami kondisi geografis tempat tinggalnya. yang menjadikan pengolahan sumberdaya alam sebagai penyokong dalam kehidupannya. Dasar inilah yang selanjutnya mengubah pada perilaku, adat-istiadat dan membentuk kebudayaan (sunda) itu sendiri, yang salah-satunya tergambar pada masyarakat Sunda di kampung Cikondang Desa Lamajang Kab. Bandung terhadap ruang dan lingkungan sebagai tempat tinggalnya yang masih memelihara kearifan lokal dalam pengelolaan dan penataan lingkungan yang terkait kelestarian lingkungan. Bentuk kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) dan tak berwujud (intangible) yaitu nilai-nilai yang masih turun temurun masih dilaksanakan diantaranya tercermin dalam tata wilayah, tata wayah dan tata lampah serta dalam bentuk upacara-upacara adat yang masih dilaksanakan oleh Masyarakat Cikondang. Implikasi hasil penelitian adalah memberikan informasi kepada peserta didik mengenai bentuk dan nilai-nilai tata lingkungan yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Geografi dengan model pembelajaran diantaranya group-investigation melalui metode karyawisata/observasi lapangan yang dapat memberikan informasi dan pengalaman langsung kepada peserta didik. Kata kunci : kearifan lokal, lingkungan, pelestarian.
APLIKASI PEMETAAN DAN ANALISIS SPASIAL UNTUK KAJIAN POTENSI TERNAK RUMINANSIA KECIL DI KABUPATEN KULONPROGO Susilo, Bowo
Jurnal Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemetaan dan analisis spasial banyak diaplikasikan dalam kajian secara keruangan terhadap potensi sumberdaya. Sumberdaya mencakup beragam aspek, salah satunya adalah sumberdaya hayati. Ternak merupakan elemen sumberdaya hayati yang memiliki nilai strategis berkaitan dengan isu ketahanan pangan. Kambing adalah ruminansia kecil yang banyak diusahakan diberbagai daerah di Indonesia. Kambing merupakan komoditas ternak unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji potensi ternak kambing di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah integrasi pemetaan dan analisis spasial. Survei terestris dan ekstra terestris digunakan untuk memetakan keberadaan kelompok ternak kambing dan potensi lahan untuk tanaman hijauan pakan ternak. Analisis spasial digunakan untuk mengkaji pola keruangan dan aksesibilitas kelompok ternak kambing. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 50 kelompok ternak kambing di daerah penelitian, yang secara keruangan membentuk pola mengelompok (clustered). Kelompok ternak terkonsentrasi di Kecamatan Samigaluh dan Girimulyo, yaitu 70% dari jumlah total. Ketersediaan lahan potensial untuk tanaman hijauan pakan ternak di dua wilayah kecamatan tersebut hanya 7,6 % dari luas total lahan potensial. Aksesibilitas kelompok ternak secara umum tergolong baik. Proporsi kelompok ternak yang berlokasi kurang dari 500 meter dari jalan adalah 70 %, sedangkan proporsi kelompok ternak yang berlokasi kurang dari 500 m dari sumber pakan potensial adalah 90%. Kata kunci: pemetaan, analisis spasial, potensi ternak, ruminansia kecil.
PERMUKIMAN PENDUDUK PERKOTAAN Pasya, Gurniwan Kamil
Jurnal Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertambahan penduduk kota-kota besar di Indonesia di antaranya dengan banyak pendatang sebagai migran, mereka ini menjadi kekhawatiran pemerintah kota apabila tanpa memiliki keahlian, keterampilan, dan dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Para migran datang ke perkotaan telah ada sejak jaman kolonial Belanda tetapi akan tampak jelas di saat-saat kemerdekaan, mereka ini menempati wilayah-wilayah kosong sebagai pemukiman spontan atau pemukiman liar, yang lambat laun menjadi kumuh. Walaupun demikian, ada pula yang tidak beruntung mendapatkan pemukiman karena berbagai hal yang akhirnya tidur di mana saja tanpa adanya usaha yang nyata untuk mendapatkan tempat tinggal. Pemukiman padat penduduk menjadi kumuh dengan segala permasalahannya memerlukan adanya perbaikan melalui perbaikan kampung sehingga menjadi tempat tinggal yang sehat sesuai dengan pendekatan manusiawi yang dilakukan pemerintah kota. Sebagai salah satu usaha untuk mengatasi pemukiman kumuh di perkotaan, melalui dibangunnya rumah susun bagi penduduk miskin di atas tanah negara yang sebelumnya dijadikan tempat tinggal mereka. Kata kunci : pemukiman, urbanisasi, perkotaan.
DINAMIKA FENOMENA DEMOGRAFIS PADA MASYARAKAT KECAMATAN BUAH DUA KABUPATEN SUMEDANG Eridiana, Wahyu
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1781

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Buah Dua Kabupaten Sumedang, dengan fokus kajian fenomena demografis pada keluarga di kecamatan ini. Jumlah sampel sebanyak 49 responden dan teknik pengujiannya menggunakan teknik perhitungan persentase. Dari hasil penelitian diperoleh perbedaan usia kawin pertama wanita antara generasi tua dan generasi muda. Rata-rata usia pernikahan pertama wanita generasi tua di bawah 15 tahun dan generasi muda 17 tahun. Perubahan ini disebabkan oleh meningkatnya pendidikan pada wanita generasi muda. Dalam Jumlah anak yang diinginkan, pasangan keluarga generasi tua rata-rata 2 anak dan generasi muda mulai dari 1 hingga 3 anak. Kelahiran anak pertama setelah menikah pada pasangan keluarga generasi tua rata-rata pada tahu ke 3 dan generasi muda pada tahun ke 2. Setelah dihubungkan dengan alasan perencanaan pada awal memasuki jenjang berkeluarga , prioritas kedua generasi tersebut tidak memilih punya anak dulu tetapi memiliki harta dulu. Jumlah anak yang dianggap ideal dalam keluarga baik pasangan keluarga generasi tua maupun generasi muda antara 2 – 3 anak dan kedua generasi memandang jumlah 3 anak dalam keluarga sudah dinilai banyak atau keluarga besar. Baik pasangan keluarga generasi tua maupun muda pada masyarakat Kecamatan Buah Dua berhaluan keluarga kecil. Sedikitnya rata-rata anak yang dimiliki keluarga terkait dengan penilai negatif seperti “supaya kebutuhan keluarga tercukupi”, dan “tidak mau direpotkan oleh anak “.Penilaian semacam ini artinya identik dengan anak sebagai beban ekonomi dan anak sebagai beban psikologis dalam keluarga. Kata kunci: demografis, keluarga generasi tua, keluarga generasi muda.
PENGUATAN PEMBELAJARAN PETA GEOPOLITIK DALAM PENGEMBANGAN NILAI KEBANGSAAN Sudarma, Momon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1786

Abstract

Dengan memperhatikan pembedaan konseptual antara peta dengan pemetaan atau peta geografis dan geopolitis ini, kita bisa menemukan ketegasan, bahwa persoalan dasar bangsa ini, tidak sekedar pada masalah peta geografis, tetapi hal yang jauh lebih krusial lagi itu, yakni terkait dengan masalah peta geopolitis. Warga negara kita, umumnya, dan pemerintah pada khususnya, belum mampu menunjukkan kemampuan dalam melakukan pemetaan secara strategis, sehingga bisa memecahkan masalah-masalah kebangsaan dengan benar. Hal sederhana, sebagai sebuah negara besar, dan butuh kelengkapan administratif, peta geografis tetap menjadi penting. Terlebih lagi dengan kebutuhan kita untuk melakukan pemetaan ulang mengenai daerah-daerah perbatasan, atau pulau-pulau terluar. Kebutuhan akan peta geografis tetap dibutuhkan. Namun demikian, bila dikaitkan dengan perkembangan informasi dan teknologi komunikasi saat ini, kebutuhan akan peta geografis dapat dengan mudah dipenuhi. Sebagaimana seorang cucu yang masih muda belia dengan memanfaatkan ponsel terbaru saat ini. Bahkan, bisa jadi, bangsa kita saat ini, rakyat Indonesia saat ini, tidak perlu lagi bersusah-susah untuk mencari, membeli atau membuat peta mengenai wilayah negara Indonesia. semua kebutuhan itu, bahkan yang jauh lebih detail dari itu, yaitu dengan menggunakan teknologi GPS (global positioning system). GPS adalah sistem untuk menentukan lokasi dan navigasi secara global dengan menggunakan satelit. Teknologi ini pertama kalinya dikenalkan oleh US DOD (United States Department of Defense) yaitu Departemen Pertahanan Amerika Serikat.4 GPS memungkinkan pengguna mengetahui letak posisi geografis diri kita baik itu dari segi lintang, bujur, dan ketinggian di atas permukaan laut. Dengan memanfaatkan teknologi ini, posisi kita di muka bumi, dapat diketahui dengan tepat.
KONTRIBUSI PEMAHAMAN KONSEP GEOGRAFI TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU KERUANGAN PESERTA DIDIK SMA DI KOTA CIREBON Segara, Nuansa Bayu; Pasya, Gurniwan Kamil; Maryani, Enok
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1782

Abstract

Proses pembelajaran geografi mengalami pergeseran orientasi, pembentukan sikap dan perilaku keruangan tidak lagi menjadi prioritas, karena prioritas utama pembelajaran geografi saat ini untuk meluluskan peserta didik dari ujian nasional. Begitu pula yang terjadi di Kota Cirebon, padahal dalam lima tahun terakhir ini Kota Cirebon berkembang pesat sebagai pusat pertumbuhan. Sehingga sikap dan perilaku penduduknya dalam memperlakukan ruang harus dibentuk sejak dini dengan proses pembelajaran geografi. Pemahaman konsep merupakan salah satu aspek yang dibentuk dalam proses pembelajaran geografi, sehingga perlu diketahui seberapa besar pemahaman konsep berkontribusi terhadap sikap dan perilaku keruangan peserta didik? Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut perlu mengukur variabel-variabel yang terkait. Pemahaman konsep geografi diukur dengan instrumen tes dengan indikator translasi, interpretasi dan ekstrapolasi yang dikaitkan dengan konsep lokasi, jarak dan interaksi. Sedangkan untuk mengukur sikap dan perilaku keruangan menggunakan instrumen non tes dengan skala rating. Hasil identifikasi dan analisis data didapatkan beberapa hal yang menjawab pertanyaan penelitian. Pemahaman konsep geografi berkontribusi rendah terhadap sikap dan perilaku keruangan. Selain itu, sikap keruangan berkontribusi cukup rendah terhadap perilaku keruangan. Hasil tersebut membuktikan teori postulat konsistensi tergantung bahwa hubungan sikap dan perilaku sangat situasional sehingga banyak faktor yang mempengaruhi. Kata kunci: pemahaman konsep, sikap keruangan, perilaku keruangan

Page 1 of 1 | Total Record : 9