cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2014)" : 10 Documents clear
PENGARUH METODE SIMULASI DAN DEMONSTRASI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP BENCANA TANAH LONGSOR (Study Eksperimen Pada Peserta Didik Kelas X SMA Negeri 1 Sirampog) Priyono, Adi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3398

Abstract

Salah satu kompetensi dasar geografi yang harus dikuasai siswa kelas X adalah kompetensi Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi dengan topik mitigasi bencana yang secara kebetulan daerah penelitian merupakan daerah labil dengan potensi tanah longsor dan amblasan tanah. Untuk itu diperlukan metode pembelajaran yang tepat dalam penanaman konsep tanah longsor tersebut. Metode yang akan diteliti adalah metode demonstrasi dan metode simulasi. Berapa besar pengaruh metode ini menjadikan timbul pertanyaan penelitian;1)Apakah terdapat perbedaan pemahaman konsep bencana tanah longsor pada peserta didik dikelas yang tidak menggunakan metode simulasi sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pretes – posttest) ? ”2)Apakah terdapat perbedaan pemahaman konsep bencana tanah longsor pada   peserta didik dikelas yang  menggunakan metode simulasi sebelum dan sesudah perlakuan diberikan (pretes – posttest)?”3)Apakah terdapat perbedaan pemahaman konsep bencana tanah longsor pada peserta didik dikelas yang menggunakan dan tidak menggunakan metode simulasi sesudah perlakuan diberikan (posttest) ? Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen (Quasi exsperiment design) dengan pengukuran dua faktor dalam versi faktorial pretes - posttest nonequivalent control group design .Sampel diambil dua kelas dari tiga kelas pada populsi penelitian yang memiliki karakteristik nilai yang tidak terlalu jauh. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen  tes untuk variabel 1 dan 2. Perhitungan statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Two Related Samples Test dan Two Independent Samples Test) dan statistik parametrik (Paired Samples T Test). Hasil penelitian ini menjawab semua pertanyaan penelitian dan membuktikan hipotesis yang diajukan. Pertama, Ada perbedaan hasil tes antara pretes dan posttes yang yang diperoleh pada peserta didik dikelas pada kelas eksperimen yang menggunakan metode simulasi dengan signifikansi 0,032. Kedua,  Ada perbedaan hasil tes antara pretes dan posttes yang yang diperoleh pada peserta didik dikelas pada kelas eksperimen yang menggunakan metode simulasi signifikan 0,00 .Ketiga, Ada perbedaan hasil belajar pada kelas eksperimen yang menggunakan metode simulasi (PostSimulasi) dan kelas kontrol yang menggunakan metode demonstrasi (PostDemonstrasi) dengan nilai Mean Rank Metode Simulasi sebesar 22,14 dan Mean Rank metode Demonstrasi sebesar 45. Jadi hasil belajar pada kelas kontrol yang menggunakan metode demonstrasi lebih besar dari pada metode simulasi.Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Metode Simulasi, Metode Demonstrasi
PELESTARIAN SUMBER AIR SEBAGAI KEARIFAN LOKAL MELALUI PETUAH PADA MASYARAKAT CIBIRU UTARA KOTA BANDUNG Suryadi, Edi
Jurnal Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan sumber air di Kawasan Cibiru Utara Kota Bandung di tengah keterbatasan sumber air memperlihatkan kondisi yang masih terpelihara dengan baik, sehingga kondisi ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Penelitian bertujuan menggali bentuk kearifan lokal yang masih nampak dalam pelestarian sumber air di Kawasan Cibiru Utara Kota Bandung. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif-verifikatif dengan pendekatan fenomenologi berusaha mengungkap makna dibalik fakta. Hasil penelitian ini menunjukan bentuk kearifan yang masih tersisa berupa nilai-nilai yang terdiri dari nilai adaptasi, nilai integrasi teknologi, nilai integrasi keruangan, nilai religi, nilai sosial budaya, nilai praktis, nilai keseimbangan lingkungan, dan nilai sustainability. Nilai-nilai tersebut memiliki makna yang sama dengan petuah dari karuhun (leluhur) orang Sunda. Fenomena bentuk kearifan lokal yang masih bisa ditelusuri sisanya terdapat 5 dari 12 kearifan yaitu Gawir awian, Cinyusu rumatan, Lebak Caian, Legok balongan, dan Lembur uruseun. Wujud kearifan inilah yang mempunyai fungsi perlindungan, pelestarian, pengendalian dan pengawetan sumber air bagi masyarakat. Langkah pemberdayaan kearifan lokal masyarakat dalam bentuk petuah dan tindakan mampu menjaga keselarasan interaksi manusia dengan lingkungannya dalam pelestarian sumber air. Maka fenomena ini menjadi hal yang penting untuk diinventarisasi dengan melibatkan peran serta pemerintah dan masyarakat setempat sehingga nilai-nilai kearifan lokal tesebut mampu diakses oleh masyarakat dan komponen lainnya. Kata Kunci: Pelestarian, Petuah, Local Wisdom, Sumber Air, Pembelajaran Geografi
FENOMENA GEOGRAFIS DI BALIK MAKNA TOPONIMI DI KOTA CIREBON Ruspandi, Jeko
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3394

Abstract

Manusia selalu memberi nama unsur-unsur lingkungannya sejak manusia berbudaya dan menetap di suatu tempat.  Nama-nama gunung, sungai, bukit, bahkan nama desa tempat tinggalnya diberi nama untuk acuan masyarakat dan nama-nama tersebut terkait dengan bahasa dan budaya masyarakat itu sendiri. Kota Cirebon sebagai salah satu kota di Jawa Barat, memiliki keunikan tersendiri dari segi bahasa. Meskipun daerah Jawa Barat sebagian besar berbahasa Sunda, namun masyarakat di Kota Cirebon tidak menggunakan bahasa Sunda dalam bahasa sehari-harinya melainkan bahasa Cirebon. Perbedaan bahasa yang dimiliki Kota Cirebon dengan daerah lain di Jawa Barat ini mengakibatkan toponim di Kota Cirebon juga berbeda dengan daerah lain di Jawa Barat pada umumnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang toponimi yang ada di Kota Cirebon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan variabel penelitian yaitu fenomena geografis yang melatarbelakangi toponimi di Kota Cirebon danpersepsi masyarakat terhadap toponimi yang ada di Kota Cirebon. Teknik pengumpulan data berupastudi literatur,wawancara, studi dokumentasi, danobservasi. Analisis data menggunakanmodel analisis interaktif Miles dan Huberman dengan teknik analisis persentase dan perhitungan skala Likert. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa toponimi di Kota Cirebon secara garis besar dilatarbelakangi aspek fisikal, aspek sosial, dan aspek kultural. 1) Aspek fisikal meliputi a) unsur biologis, yaitu Kecapi, Kesambi, Majasem, Cangkring, Api-api, Benda Kerep. b) unsur hidrologis (sungai), yaitu Kalitanjung. c) unsur geomorfologis, yaitu Larangan, Argasunya, Lemahwungkuk. 2) Aspek sosial meliputi a) tempat spesifik, yaitu Kejaksan, Kebonbaru, Pekiringan, Pegambiran, Panjunan, Jagasatru, Pekalipan, Pekalangan, Kesunean, Pagongan, Prujakan, Pasuketan, Petratean, Kebumen, Pegajahan, Kejawanan, Jagabayan, Pesantren, Pesayangan. b) aktivitas masa lampau, yaitu Pronggol, Cangkol. c) harapan, yaitu Harjamukti, Karyamulya, Sukapura. d) nama bangunan bersejarah, yaitu Kesepuhan, Sunyaragi, Benteng, Lawanggada, Kutagara, Talang, Keprabonan, Kanoman, Astana Garib, Kacirebonan. e) nama tokoh yaitu Kalijaga, Kesenden, Drajat, Pulasaren, Kanggraksan, Penggung. 3) Aspek kultural yaitu legenda/cerita rakyat seperti Karanggetas, Kemlaten. Sedangkan persepsi masyarakat terhadap makna dan asal-usul dari toponimi yang ada di Kota Cirebon sangat beragam dan tidak banyak yang sesuai dengan makna dan asal-usul toponimi tersebut. Hanya 31,52% toponimi yang makna dan asal-usulnya diketahui oleh responden. Ini berarti responden mengetahui kurang dari setengah sampel toponimi yang ditanyakan. Hal ini menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat Kota Cirebon terhadap makna dan asal-usul toponimi yang ada di daerahnya masih rendah. Kata kunci : Toponimi, Fenomena geografis, Persepsi masyarakat terhadap toponimi.
PENERAPAN TEKNIK PETA PIKIRAN (MIND MAP) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP GEOGRAFI PADA PESERTA DIDIK KELAS XI-2 IPS SMAN 1 RASAU JAYA KABUPATEN KUBU RAYA Harjanti, Diah Trismi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3399

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangai oleh lemahnya pemahaman konsep geografi peserta didik di SMAN 1 Rasau Jaya. penyebab lemahnya pemahaman konsep geografi adalah materi ajar yang sangat banyak pada setiap pokok bahasannya membuat guru sering memilih memberikan tugas meringkas materi dan mendiktekan materi kepada peserta didik disetiap pertemuannya. Salah satu upaya untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep geografi peserta didik adalah dengan dapat menerapkan teknik peta pikiran. Penelitian ini juga dapat mengetahui hambatan yang dihadapi selama penerapan teknik peta pikiran. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMAN 1 Rasau Jaya pada semester genap. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI IPS 2 dengan jumlah peserta didik 24, peserta didik laki-laki 12 dan peserta didik perempuan 12. Rencana tindakan dilaksanakan melalui dua siklus dan disetiap siklusnya terdiri dari dua tindakan. Adapun dalam setiap tindakan terdiri dari tiga kegiatan yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (action), dan refleksi (reflection). Indikator keberhasilan yang ditetapkan apabila 75% dari jumlah peserta didik atau sekitar 18 peserta didik mencapai KKM. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep geografi peserta didik melalui penerapan teknik peta pikiran (Mind Map) pada mata pelajaran geografi. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari setiap tindakan yang dilakukan. Hambatan yang dihadapi selama pelaksanaan penelitian diantaranya keterbatasan waktu penelitian, penguasaan langkah-langkah teknik pembelajaran, manajemen waktu yang kurang baik oleh guru model, dan kurangnya minat peserta didik dalam membaca dan menulis. Kesimpulannya, teknik peta pikiran (Mind Map) dapat meningkatkan pemahaman konsep geografi peserta didik. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah guru dapat mencoba menggunakan teknik peta pikiran untuk pembelajaran selanjutnya, selain dapat mempermudah dalam penyampaian pokok bahasan yang banyak juga dapat melatih guru dalam penggunaan waktu yang efisien., melatih minat baca dan menulis peserta didik serta melatih ketekunan, ketelitian dan kesabaran peserta didik. Kata kunci: teknik peta pikiran, pemahaman konsep, penelitian tindakan kelas.
PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR (STUDI EKSPERIMEN PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS VII DI SMPN 4 PADALARANG) Latief, Hilman
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3395

Abstract

Belajar adalah aktivitas yang dapat menghasilkan perubahan dalam diri seseorang, baik secara aktual maupun potensial. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Salah satu metode pembelajaran yang memposisikan peran aktif siswa dalam pembelajaran ini adalah metode pembelajaran kontekstual. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah apakah terdapat  perbedaan nilai tes awal dan nilai tes akhir serta perbedaan hasil belajar pada kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran kontekstual dan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen Nonequivalent  (pretest and posttest) Control-Group Design pada siswa kelas VII SMPN 4 Padalarang. Variabel bebas adalah pembelajaran kontekstual. Sedangkan variabel terikat adalah hasil belajar siswa. Pengujian perbedaan nilai pretest dan rata-rata nilai hasil posttest dengan menggunakan uji t pada taraf signifikansi α = 0,05, dengan dasar pengambilan keputusan  Ho diterima jika t hitung t tabel, sebaliknya Ho ditolak jika t hitung t tabel. Hasil yang didapat dari perhitungan perbedaan rata-rata menggunakan uji t pada α = 0,05, df 39 diperoleh t hitung = 6,773, sedangkan t tabel = 11,090. Karena menggunakan uji dua sisi, maka daerah penerimaannya adalah –t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Sementara itu t hitung (6,773)   t tabel (1,690), oleh karena itu maka Ho = diterima. Dari hasil perhitungan N-gain tiap kelas penelitian sebanyak 12,5% peserta didik termasuk kategori tinggi, 72,5% kategori sedang dan 15% kategori rendah. Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan terjadi pengaruh hasil belajar yang lebih besar pada kelas eksperimen daripada kelas kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan dari pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar yang ditunjukkan dengan adanya perubahan nilai hasil belajar yang lebih baik dari nilai hasil belajar sebelumnya pada siswa kelas VII SMPN 4 Padalarang.Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Hasil Belajar, Pretest, Posttest, N-Gain
ZONASI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH TERPADU (TPST) BANTARGEBANG Maulana, Yoga Candra
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3400

Abstract

Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi zonasi pemanfatan di TPST Bantargebang. Subjek penelitian adalah pemanfaat pembungan sampah di TPST Bantargebang. Penentuan informan melalui teknik rolling snowball. Hasil yang diperoleh adalah Zonasi formal di TPST Bantargebang, terdiri dari enam zona pembuangan berdasarkan asal sampah dan jenis samah yang dibuang dari DKI Jakarta (zona I – V) dan Kota Bekasi (zona VI). Penguasaan wilayah berupa kewenangan pengelolaan teritori dikuasai oleh dasar etnisitas. Rekomendasi yang dapat diberikan antara lain; (1) Penataan kawasan pembuangan sampah tidak hanya dilakuan dengan pendekatan formal seperti mengatur pembuangan sampah berdasararkan asal sampah dan jenis sampah. Namun penataan kawasan hendaknya melibatkan struktur informal melalui mandor dan ketua rombongan pemulung untuk mengatur pemanfaat terutama pemulung dalam melakukan aktivitas, dan pengaturan tempat tinggal pemulung di TPST Bantargebang. (2) Mengingat Tempat Pembuangan Sampah (TPST) Bantargebang menjadi magnet bagi para pendatang, dan hal ini rawan konflik maka harus adanya pengelolaan sosial yang baik. Pengelolaan sosial ini berupa pemberdayaan struktur sosial diantaranya Lapak, Penggilingan, dan Mandor dalam mengawasi dan membina pemulung.Kata kunci : Bantargebang, Dinamika TPST. 
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENJAGA KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN BALEENDAH Julimawati, Julimawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3396

Abstract

Masyarakat sebagai salah satu aktor pembangunan, berperan penting dalam menentukan kualitas permukiman, sikap dan perilaku masyarakat akan membawa dampak terhadap kualitas lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengukur kualitas lingkungan di kawasan Baleendah; 2) mengidentifikasi bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan permukiman; 3) mengidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan permukiman; Populasi penelitian ini adalah keseluruhan Blok Komplek Permukiman yang ada di Baleendah dengan jumlah Blok sebanyak 22, dengan jumlah KK 4.023. Sampel penelitian diambil secara random sampling dengan menggunakan rumus Taro Yamane, Blok sampel terdiri atas: 1) Komplek Balesarakan Baleendah; 2) Komplek KTSM; dan 3) Komplek Puri Cikarees. Tekhnik pengumpulan data dengan menggunakan instrumen yang dilakukan dalam bentuk observasi dan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan prosedur deskriptif  dan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan kecendrungan bahwa kualitas lingkungan permukiman dapat dikatakan baik. Bentuk partisipasi dalam meningkatkan kuaitas lingkungan yang terdiri dari buah pikiran/ide, harta/uang, tenaga, keterampilan dan bentuk sosial. Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat adalah pendapatan, ketersediaan sarana prasarana, persepsi tentang kualitas lingkungan permukiman, peran tokoh masyarakat, motivasi dan jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh dalam menjaga kualitas linkungan di komplek permukiman. Kata kunci : Partisipasi Masyarakat, Kualitas Lingkungan Permukiman 
PEMANFAATAN FENOMENA PERUBAHAN RUANG SIMPANG AMD BATOH DALAM PROSES PEMBELAJARAN GEOGRAFI DI SMA NEGERI 5 BANDA ACEH (Kasus Penggunaan Metode Insiden dan Media Gambar/ Foto dan Ilustrasi pada kelas XI) Adista, Deki
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3401

Abstract

Pendidik geografi Kota Banda Aceh beranggapan bahwa media pembelajaran selalu berkaitan dengan peralatan elektronik, sebagai pendidik terhadap media dan sumber belajar dilingkungan sekitar untuk mendukung proses pembelajaran geografi seperti fenomena-fenomena yang bersifat kontekstual pada daerah lokal untuk pemahaman konsep peserta didik terkait perubahan ruang Simpang AMD Batoh. Tujuan penelitian menganalisis pemahaman konsep perubahan ruang peserta didik sebelum dan sesudah serta keunggulan dan kelemahan pembelajaran metode insiden dengan media gambar/ foto dan ilustrasi dalam proses pembelajaran geografi. Metode penelitian Quasi Eksperiment. Populasi seluruh peserta didik kelas XI IS SMA Negeri 5 Banda Aceh sebanyak 98 peserta didik, sampel sebanyak 49 peserta didik. Teknik pengumpulan data soal test prestasi, lembar kerja siswa dan lembar observasi dan angket. Teknik analisis data statistik korelasi dan rumus N-Gain. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara hasil pre-test dan post-test pemahaman konsep perubahan ruang serta antara kelas metode insiden dan kelas media gambar/ foto dan ilustrasi dalam proses pembelajaran geografi. Kedua sampel homogen pada taraf kesalahan α  = 0,05, populasi berdistribusi normal pada taraf kesalahan α  = 0,05, pengujian hipotesis diterima pada taraf kesalahan α  = 0,05. Rekomendasi penelitian diharapkan kepada guru mata pelajaran geografi agar lebih mengedepankan fenomena-fenomena bersifat konten lokal untuk pemahaman konsep perubahan ruang peserta didik dalam proses pembelajaran geografi.
PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR Ramawati, Isye
Jurnal Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus pada penelitian ini adalah pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar efektif dan efisien untuk meningkatkan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS. Melalui metode inkuiri peserta didik diharapkan mampu berpikir kritis yang di dalamnya terdapat indikator-indikator: orientasi pada masalah, belajar meneliti, pemecahan masalah, mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah dan menganalisa proses pemecahan masalah melalui proses pengamatan lingkungan yaitu Kawasan Punclut yang merupakan kawasan yang terletak di Bandung Utara, kawasan ini merupakan bagian dari cekungan Bandung yang memiliki kondisi alam dan keterkaitan ekosistem yang sangat penting untuk menjadi kawasan hutan lindung, dan sebagai salah satu generator iklim mikro serta entry point bagi penataan kawasan Bandung Utara, dimana indikator yang diteliti adalah vegetasi, kemiringan lereng, pola penggunaan lahan dan kedalaman air tanah (dilihat dari kedalaman sumur gali). Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VII SMPN 52 Bandung tahun ajaran 2012-2013. Metode penelitian yang dipakai adalah kuasi eksperimen dengan instrument penelitian berupa pedoman observasi lapangan, observasi kelas, tes berpikir kritis, dan wawancara guru dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest berpikir kritis pada kelas yang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar melalui metode inkuiri dengan yang tidak memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar melalui metode ceramah. Hal ini terlihat dari uji t yang menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik yang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar melalui metode inkuiri dengan peserta didik yang tidak memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dengan menggunakan metode ceramah adalah berbeda secara signifikan. Dengan demikian, pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dapat meningkatkan cara berpikir kritis peserta didik. Rekomendasi yang dapat disampaikan : 1) Dibutuhkan kepiawaian guru untuk merancang perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan lingkungan yang berada di sekitar sekolah. 2) Sebelum peserta didik memanfaatkan lingkungan sekitarnya, hendaknya mereka dibekali wawasan keilmuan dan hubungan sosial dengan masyarakat sebagai landasan dasar berpikir kritis. Kata Kunci : Pemanfaatan lingkungan, sumber belajar IPS, berpikir kritis, metode inkuiri
UPAYA PEMELIHARAAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT DI KAMPUNG SUKADAYA KABUPATEN SUBANG Taufiq, Ahmad
Jurnal Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan yang terpelihara baik di Kampung Sukadaya dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup masyarakatnya. Untuk itu, diperlukan kajian upaya yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pemeliharaan lingkungan di Kampung Sukadaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif verifikatif. Hasil penelitian menunjukkan, nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat Kampung Sukadaya dapat menjadikan lingkungan alam Sukadaya tetap lestari. Nilai-nilai kearifan lokal pemeliharaan lingkungan di Kampung Sukadaya adalah nilai adaptasi lingkungan, nilai tanggung jawab, nilai kesadaran lingkungan, dan nilai kerja sama. Nilai-nilai kearifan lokal sebagai upaya pemeliharaan lingkungan di Kampung Sukadaya tercermin dari aktifitas warga dalam memelihara sumber mata air, memelihara kelestarian hutan rakyat, memelihara kebersihan lingkungan dan semangat gotong royong masyarakat.Kata Kunci: Pemeliharaan Lingkungan

Page 1 of 1 | Total Record : 10