cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2007)" : 9 Documents clear
PENATAAN LINGKUNGAN KEMISKINAN PERKOTAAN (Suatu Studi Program P2KP di Kota Bandung) Waspada, Ikaputera
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1710

Abstract

Kemiskinan merupakan masalah utama yang dihadapi negara-negara berkembang (development countries), termasuk Indonesia. Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) sebagai salah satu bentuk program pemerintah mengatasi kemiskinan. Penelitian ini bertujuan; (1). Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh partisipasi masyarakat dan kualitas sumber daya manusia terhadap keberhasilan program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) di kota Bandung, (2). Untuk menemukan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan program anti kemiskinan. Metode penelitian ini adalah metode survei eksplanatori pada anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai penerima dana P2KP di kota Bandung, yang meliputi 6 (enam) wilayah kerja. Penelitian ini terpilih secara proporsional sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dan kualitas sumber daya manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan (P2KP) di kota Bandung. Penelitian ini telah mengungkapkan bahwa keberhasilan penataan kemiskinan perkotaan (P2KP) di kota Bandung masih rendah. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya partisipasi masyarakat peduli, masih rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kata kunci : Penataan Kemiskinan
UPAYA MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN MELALUI PENDIDIKAN LINGKUNGAN Setiawan, Iwan
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1715

Abstract

Kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai kawasan dunia saat ini telah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Berbagai indikator lingkungan menunjukkan hal tersebut, sehingga berbagai pihak telah dan sedang berupaya keras untuk mengatasinya. Upaya-upaya tersebut, tidak jarang masih bersifat lokal atau sporadis dan jangka pendek, sehingga kerusakan lingkungan terus terjadi. Solusi jangka panjang tengah di perjuangkan oleh berbagai lembaga baik di dunia maupun Indonesia yaitu dengan menyiapkan generasi yang akan datang melalui pendidikan lingkungan. Di tingkat dunia, organisasi-organisasi di bawah naungan PBB terus berupaya menggalang kerja sama antar negara dalam membangun kesadaran lingkungan. Berbagai konferensi telah diselenggarakan dan sejumlah konvensi telah dihasilkan yang sangat bermanfaat sebagai dasar atau kerangka dalam merancang program di tiap negara. Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki posisi penting dalam tatanan lingkungan dunia juga terus mengikuti perkembangan tersebut. Kerusakan lingkungan yang terjadi di negara ini tidak bisa hanya diatasi sendiri tetapi memerlukan kerja sama dengan negara lain. Kementerian Negara Lingkungan hidup juga menjalin kerja sama dengan departemen lainnya untuk mengatasi permasalahan yang ada. Kerja sama penting telah dilakukan dengan Depdiknas dan Departemen Agama dengan merancang program pendidikan lingkungan hidup bagi generasi penerus. Kata kunci: Pembangunan berkelanjutan, Pendidikan lingkungan.
PENDAYAGUNAAN LINGKUNGAN BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Ningrum, Epon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1711

Abstract

Pada hakikatnya, kolektivitas manusia yang memiliki tata aturan relatif permanen berada pada tiga tatanan lingkungan, yakni lingkungan: sosial, budaya, dan alam (fisis geografis). Ketiga tatanan lingkungan tersebut merupakan potensi bagi kelangsungan (survive) dan kemajuan masyarakat. Lingkungan terdiri atas komponen biotik dan abiotik, yang dapat didayagunakan bagi pemberdayaan masyarakat. Untuk itu, diperlukan upaya transformasi potensi lingkungan ke dalam keuntungan sosial dan kultural. Dinamika demografis menuntut intensitas transfer dan eksploitasi sumber daya lingkungan bagi terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Kondisi demikian dapat mengganggu keberadaan lingkungan, sehingga sangat penting upaya pemanfaatannya secara efektif dan efisien agar lingkungan berfungsi sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Teknologi yang dipandang efektif dan efisien serta memiliki daya suai dengan ketiga tatanan lingkungan adalah teknologi adaptif dan teknologi protektif. Pemberdayaan masyarakat dengan mendayagunakan potensi lingkungan mengacu pada lima strategi, yakni: need oriented, endogenous, self-reliant, ecologically sound, dan based on structural transformations. Pada prinsipnya, konsep pemberdayaan memiliki makna yang sama dengan konsep pembangunan dan pengembangan, yakni bertujuan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Berdasarkan kelima strategi tersebut, maka keberadaan masyarakat dalam koneksitas lingkungannya akan tercapai kondisi: (1) masyarakat dan lingkungannya berada pada keseimbangan yang terlestarikan; (2) potensi lingkungan dapat teraktualisasikan; dan (3) lingkungan sebagai sumber kehidupan dan proses pemberdayaan masyarakat dapat berkelanjutan, sehingga pada jangka panjang akan tercapai kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Lingkungan, pemberdayaan, masyarakat, teknologi adaptif, teknologi protektif.
DAMPAK GEMPA BUMI TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP Sungkawa, Dadang
Jurnal Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara tentang gempa bumi adalah hal yang menarik saat ini untuk dibahas, karena seringkali wilayah Indonesia dilanda gempa bumi. Banyak masyarakat Indonesia sebelum tahun 2000 belum mengenal fakta empiris dari kejadian suatu gempa bumi, hal ini karena keterbatasan berita melalui media massa dan media elektronik. Namun sejak tahun 2000–an dengan banyaknya penyajian berita melalui saluran TV swasta maka berita tentang gempa bumi langsung dapat disaksikan oleh para pemirsa TV. Demikian juga dengan konsep “ tsunami”. Tsunami merupakan gelombang besar yang melanda pantai-pantai di Jepang setelah terjadinya gempa di dasar laut. Tsunami dapat menimbulkan korban harta benda dan jiwa. Tsunami saat itu belum banyak dilihat faktanya. Konsep gempa bumi dan tsunami baru menjadi fakta empiris bagi masyarakat Indonesia umumnya ketika terjadi gempa bumi di Aceh dan Sumatera Utara tanggal 26 Desember 2004, Gempa bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006, gempa bumi dan tsunami di Pangandaran masih di tahun 2006, gempa bumi di Bengkulu dan terakhir gempa bumi di Sumatera Barat 6 Maret 2007. Kata kunci: Gempa bumi, tsunami.
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR Hayati, Sri
Jurnal Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kita sedang menyaksikan suatu transisi cakrawala yang tak terbatas ke pencarian keseimbangan dalam ruang yang sempit atau bahkan yang tak terbatas. Pada intinya, dunia berada dalam masa transisi di mana bentuk sosial, tata cara yang berlangsung, serta nilai-nilai akan berlalu sebelum bentuk-bentuk dan metodologi baru punya waktu yang cukup untuk menggantikannya (Soerjani, 2000: 28-29). Dalam hal ini terjadi interaksi yang rumit, di mana jalinan interaksi lokal tidak lagi dapat dibedakan dengan jalinan interaksi dalam skala global. Dampak dari proses ini adalah beban yang cukup berat bagi sumber daya alam dalam proporsi yang memacu pada ketergantungan dan pertentangan baru yakni eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, terjadinya limbah, pencemaran, dan kemiskinan. Permasalahan kerusakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan, kemudian merebak secara global. Perluasan padang pasir, penggundulan hutan, erosi tanah, hujan asam dan pencemaran udara perkotaan menjadi agenda internasional. Selain itu, ditambah pula dengan berlubangnya lapisan ozon, pemanasan global, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati (World Commission on Environment and Development, 1995) Makalah ini mengkaji pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar yang difokuskan pada bagaimana konsep-konsep dasar dan permasalahan lingkungan hidup dapat diadopsi oleh siswa pada jenjang pendidikan dasar. Hal ini penting karena: pertama, pendidikan merupakan salah satu proses untuk dapat menjadikan diri seseorang lebih dewasa (Bloom, 1981). Perubahan tingkah laku merupakan indikator dari kedewasaan (Gagne, 1977). Kedua, proses pendewasaan menurut Piaget (1977) berkaitan dengan perkembangan intelektual seseorang dan kesiapan yang dimiliki untuk perkembangan selanjutnya. Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret di mana berpikir logis yang dimiliki didasarkan pada manipulasi fisik dan obyek, sehingga penanaman konsep lingkungan hidup pada jenjang ini merupakan hal yang strategis. Ketiga, menurut Orams (1993) dengan memodifikasi teori Piaget mengemukakan bahwa proses membangun struktur kognitif dapat terwujud melalui adanya informasi, transformasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dengan lingkungan hidup akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan tersebut. Kata kunci: Pendidikan lingkungan hidup, Pendidikan Dasar.
MODEL PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN PERKOTAAN BERBASIS EKOSANITA-IPLT (Studi kasus Kota Majalaya di DAS Citarum Hulu) Pamekas, Pamekas
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1707

Abstract

Effort to maintained the sustainability of the assimilative as well as carrying capacity of the human environment for medium and small town had already been done since the third of the fifth national development plan. About 2 700 unit of faecal sludge treatment plant had been constructed to improve the Indonesia city wastewater management. However, this effort have not meet the requirement while the economic crisis had placed water and sanitation sector in critical state. This research uses a system dynamics approach to model the ideal effort (EkoSanita- IPLT model) for improving wastewater management using the case of Majalaya town. The model is than used to study their behavior to formulate ways to maintained the assimilative capacity of drinking watersources and demonstrate their usefulness for policy formulation. The results indicate that increasing service coverage will decrease the wastewater volume in the water environment leading to increase the water environmental assimilative capacity. Extending service areas from one district to four and six district town leading to increase wastewater volume in the receiving body and subsequently reducing the assimilative capacity of the river body. The analysis also indicates that the existing capacity of faecal sludge treatment plant need to be extended. Finally, the EcoSanita-IPLT model has demonstrated their capability to formulate the policy for improving the wastewater management for the town of Majalaya in a comprehensive and systemic ways. Key word: Faecal sludge, system dynamic, policy formulation.
PERANAN GURU GEOGRAFI DALAM MITIGASI BENCANA LONGSOR LAHAN Susilawati, Susilawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1713

Abstract

Bencana alam adalah peristiwa alamiah, walau demikian manusia dengan keilmuan yang dimiliki, sekiranya dapat memprediksi gejala-gejala, tanda-tanda, pertambahan aktivitas sebuah fenomena dan usaha-usaha memperkecil jumlah korban (mitigasi). Selama ini penanggulangan bencana alam semata-mata tugas dan kewajiban lembaga yang berwenang. Karena itu, diperlukan peran aktif dari berbagai elemen khususnya mereka yang mendalami dan berkecimpung di bidang kealaman. Diantara berbagai elemen tersebut, termasuk diantaranya adalah peranan guru geografi. Guru-guru Geografi dapat mengambil peranan langsung dalam mengisi keterbatasan SDM profesional di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG). Tentunya dengan dibekali dan diberikan pelatihan terlebih dulu. Beberapa hal yang dapat dibekali untuk meningkatkan kompetensi guru geografi dalam mitigasi bencana antara lain penguasaan dalam survei lapangan, penyelidikan, pengamatan, penyuluhan, pemetaan dan termasuk keterampilan evakuasi. Kata Kunci: Peranan guru, Mitigasi bencana.
MODEL PENANGGULANGAN BANJIR Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1709

Abstract

Banjir dan genangan merupakan masalah tahunan dan memberikan pengaruh besar terhadap kondisi masyarakat baik secara sosial, ekonomi maupun lingkungan. Banjir bukan merupakan masalah pribadi yang diteliti berdasarkan disiplin ilmu, tetapi banjir diakibatkan sistem lingkungan yang rusak dan mata rantai fisis lingkungan yang terganggu, sehingga untuk mengatasi masalah banjir perlu dikaji secara terpadu. Banjir di wilayah Bandung Selatan, Jakarta Bekasi, Tangerang atau daerah lainnya disebabkan pada badan sungai terjadi pendangkalan oleh endapan material hasil erosi dari hulu sungai. Pendangkalan sungai tersebut menyebabkan kapasitas sungai berkurang. Selain terjadinya pendangkalan sungai, karena debit air yang mengalir dari hulu sungai meningkat. Peningkatan debit aliran pada anak dari hulu sungai sebagai akibat curah hujan yang turun tidak/kurang meresap ke dalam tanah, sehingga curah hujan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan yang bergerak di permukaan tanah mengikis tanah dan membawa ke badan sungai, karena itu aliran sungai bukan saja debit meningkat juga ditambah material hasil erosi. Material hasil erosi yang mengendap dengan debit aliran yang meningkat menyebabkan aliran air tidak dapat ditampung oleh sungai, sehingga aliran langsung pada badan sungai meluap yang berakibat banjir di sekitar dan sepanjang dataran sungai. Debit air permukaan yang meningkat yang disebabkan curah hujan yang tidak meresap, maka salah satu usaha yang perlu dikembangkan adalah curah hujan yang jatuh ke permukaan tanah harus meresap. Dengan ketebalan curah hujan dengan debit aliran permukaan yang meningkat, maka setiap unit penggunaan lahan harus mampu meresapkan curah hujan yang jatuh pada setiap satuan lahan yang ada, sehingga aliran permukaan kecil yang dapat ditampung badan sungai. Banjir yang terjadi hanya di sekitar wilayah Bandung Selatan, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan daerah lainnya, karena daerah tersebut merupakan daerah yang datar dan paling rendah. Tetapi Curah hujan yang terjadi di seluruh wilayah, terutama hulu sungai, maka untuk mengatasi peningkatan debit aliran permukaan, maka pada daerah hulu sungai dan penggunaan lahan perlu dikembangkan model resapan yang dapat menampung curah hujan meresap sebelum aliran permukaan mengalir melalui badan sungai. Model yang perlu dikembangkan untuk mengatasi terjadinya banjir adalah dengan mengurangi debit aliran permukaan, maka pada setiap unit penggunaan lahan harus meresapkan curah hujan. untuk meresapkan curah hujan dengan cara pembuatan sumur resapan alau lahan resapan. Pada setiap unit lahan aliran permukaan dialirkan pada sumur resapan atau aliran permukaan dialirkan ke lahan resapan, dimana struktur tanah pada lahan resapan diubah menjadi lahan yang mampu meresapkan air. Kata kunci: model, banjir
PERLINDUNGAN HUTAN MELALUI KEARIFAN LOKAL Pasya, Gurniwan Kamil
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1714

Abstract

Kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat parah sebagai akibat banyak perusahaan kayu yang membabat hutan secara besar-besaran, pencurian tanpa kendali, bahkan kebakaran hutan, akibatnya luas hutan setiap tahun semakin berkurang, sedangkan usaha untuk penghutanan kembali tidak seimbang dengan banyaknya pohon yang hilang. Karena itu, kita harus bercermin dari masyarakat adat yang memiliki kearifan dalam memelihara dan melindungi hutan, mereka membagi hutan sesuai dengan peruntukkannya, bahkan di dalam kehidupan mereka terdapat hutan lindung yang pohonnya dilarang untuk ditebang untuk alasan apa pun. Walaupun demikian, aturan adat yang dilaksanakan secara turun temurun tidak akan berdaya menghadapi rongrongan dari luar terhadap hutan mereka, sehingga perlu adanya campur tangan dari pemerintah untuk mengakui keberadaan mereka beserta hutannya melalui peraturan yang jelas. Hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup masyarakat adat jangan sampai terjadi penurunan kualitas, karena akan menurunkan kualitas hidup mereka. Dengan demikian, untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat adat di antaranya melalui pengakuan hak kehutanan agar kualitas lingkungannya menjadi lebih baik dan optimal, sehingga mereka tetap bertahan hidup dan berkesinambungan. Kata kunci: Kearifan lokal, sistem nilai, etika lingkungan.

Page 1 of 1 | Total Record : 9