cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana)
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 25276208     EISSN : 25279017     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Pharmaceutica Indonesiana (MPI) is a journal focusing on pharmaceutical aspects. MPI is dedicated to update and support the development of information and knowledge on pharmaceutical fields. This journal is published twice a year (June and December).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE" : 7 Documents clear
Simultaneous HPLC Determination of Lidocaine Hydrochloride and Hexachlorophene in a Suppository Product Cece Furwanti; Kusuma Hendrajaya; Gunawan Indrayanto
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2455

Abstract

Antihemoroid® suppository has been produced commercially by PT. Kimia Farma, Indonesia. For QC purposes, a separated densitometric method for analysis of its active ingredients, lidocaine hydrochloride and hexachlorophene, was applied. The objective of this study was obtaining more efficient analysis method of LH and HC, therefore an HPLC procedure has been developed for the determination of both compounds simultaneously. AYMC-Triart C18 column was used with a gradient mobile phase consisting of acetonitrile and phosphate buffer 0.05 M (pH 6.0). Quantitative evaluation was performed at 220 nm. Method validation was performed according to the new methods of USP 41. Result showed that the HPLC method was simple, accurate, precise, and robust. The HPLC method can be applied in simultaneous determination of LH and HC in suppositories as a QC tool in the pharmaceutical industries.
Cost Saving of Stress Ulcer Prophylaxis Used in Non-Intensive Care Unit (ICU) Inpatients Hening Pratiwi; Laksmi Maharani; Ika Mustikaningtias
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2323

Abstract

Stress ulcer prophylaxis (SUP) is largely prescribed to ICU and non-ICU patients. SUP, an acid-suppressive drug, is overused in hospital settings mainly due to inadequate prescriptions in low-risk patients. In this context, the appropriate administration of SUP needs to be analyzed, and the potentially saved money from reducing excessive use can thereby be quantified. This study was intended to calculate potential cost savings in inappropriate SUP therapy in non-ICU inpatients. With a non-experimental retrospective design, it analyzed medical records and details obtained from the financial department of “X” hospital in Purwokerto, Indonesia. The data were collected from 80 non-ICU inpatients in May 2015, which were selected by purposive sampling. We calculated potential cost savings by referring to the American Society of Health-System Pharmacists (ASHP) guidelines that had been modified by Zeitoun (2011) for stress ulcer prophylaxis in non-ICU inpatients. The results showed that inappropriate indications and doses were found in 32.5% and 18% of selected patients, respectively. Before the cost-saving calculation, patients had to spend USD 2,411. However, after the analysis eliminated unnecessary SUP use, this number was proven to be potentially decreased by USD 512 to only USD 1,899. Based on the Wilcoxon Sign Rank Test result (p = 0.000 (≤ 0.05)), there was a significant difference between the total cost before and after the application of modified ASHP guidelines for appropriateness. After a thorough assessment, we concluded that the treatment cost could be reduced by identifying and excluding inappropriateness in SUP therapy.
Pengembangan Granul Herbal Pada Tanaman Kumis Kucing, Temulawak, dan Pegagan dengan Pengisi Maltodextrine dan Spray Dried Lactose Roisah Nawatila; Diva Amadea Nabilla; Fransiska Levina Oktaviani; Rista Noer Efendi; Ade Ayu Kintan Anjarsari; Chintya Dewi Tanuwijaya; Rahma Anida Putri; Aditya Trias Pradana
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2790

Abstract

Pemanfaatan produk herbal di Indonesia semakin berkembang sejak tahun 2008. Daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus), rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza), dan herba pegagan (Centella asiatica) memiliki khasiat dalam mengatasi hipertensi ringan, namun masih memiliki rasa yang kurang enak. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengembangan produk herbal yang inovatif berupa granul yang dibuat dengan metode granulasi kering dengan pengisi Maltodextrine dan Spray Dried Lactose (SDL). Pada formula 1 menggunakan Maltodextrine, formula 2 menggunakan SDL, dan formula 3 menggunakan kombinasi dari kedua pengisi (1:1 w/w). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh jenis pengisi terhadap mutu fisik granul herbal. Data mutu fisik dianalisis statistik menggunakan metode oneway ANOVA (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengisi maltodextrine memberikan mutu fisik (terutama pada sifat alir granul) yang lebih optimal apabila dibandingkan dengan menggunakan pengisi spray dried lactose atau kombinasi keduanya.
Profil Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Pediatri Rujukan Berdasarkan Sistem Defined Daily Dose (DDD) Nurul Fatmawati Pua Upa; Widyati Widiaty; Frans O.H. Prasetyadi
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2503

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik pada pasien pediatri yang dirujuk ke RSPAL Dr. Ramelan selama bulan April hingga Juli 2019. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang dilakukan secara prospektif. Variabel yang terlibat adalah besar penggunaan antibiotik yang dinyatakan dalam satuan Defined Daily Dose (DDD)/100 hari rawat inap dan standar yang digunakan berdasarkan ketentuan dari WHO. Terdapat 30 subyek yang dirujuk ke RSPAL Dr. Ramelan. Sebagian besar subyek telah tinggal lebih dari 48 jam di rumah sakit sebelumnya, mereka menerima antibiotik sejak hari pertama di RSPAL Dr. Ramelan. Sebanyak 13 subyek (43%) menerima antibiotik yang serupa dengan rumah sakit sebelumnya dan 17 subyek lainnya (57%) tidak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghitungan total konsumsi antibiotik sebesar 10,50 DDD/100 hari-rawat dari 8 jenis antibiotik yang digunakan yaitu ampisilin-sulbaktam, kloksasilin, seftriakson, amikasin, gentamisin, meropenem, levofloksasin, dan metronidazol. Konsumsi antibiotik tertinggi adalah meropenem yang memiliki 3,49 DDD/100 hari-rawat, konsumsi antibiotik terendah adalah kloksasilin yang memiliki 0,05 DDD/100 hari-rawat. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu indikator evaluasi penggunaan antibiotik yang dilakukan di rumah sakit agar dapat meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik sehingga menurunkan resiko penyebaran resistensi antibiotik khususnya melalui pasien rujukan.
Karakterisasi Senyawa Metabolit pada Kultur Anggrek Dendrobium anosmum-gigantea Alfian Hendra Krisnawan; Sajekti Palupi; Sitti Suhartina; Alrivani Eka Yuli Saputri; I Gusti Agung Made Shinta Ari Putri; Ni Made Swasti Wandhini; Oeke Yunita
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2417

Abstract

Dendrobium sp. adalah salah satu spesies anggrek yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat karena menghasilkan berbagai macam metabolit penting, diantaranya adalah alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan, antikanker, dan mempunyai aktivitas neuroprotektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa metabolit yang dihasilkan dari kultur pucuk Dendrobium anosmum-gigantea, yang dibandingkan dengan tanaman induk menggunakan skrining fitokimia, kromatografi, dan densitometri. Kultur pucuk dilakukan menggunakan media MS dengan ZPT NAA 0,5 ppm dan BAP 0,5 ppm. Ekstraksi kultur pucuk dan tanaman induk dilakukan dengan metode ultrasonikasi. Skrining fitokimia dilakukan menggunakan metode spot test dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ada 4 golongan senyawa yang sama-sama dihasilkan oleh ekstrak kultur pucuk dan tanaman induk yaitu alkaloid, flavonoid, tannin, dan fenol. Analisis kandungan alkaloid antara kultur pucuk dan tanaman induk dengan metode KLT menggunakan fase gerak kloroform : metanol (12:2) menghasilkan 2 noda pada Rf 0,41-0,43 dan 0,75-0,78. Sementara itu, dengan metode densitometri menunjukkan spektra densitogram yang muncul pada Rf 0,50-0,60 dan 0,90-1,00. Kesimpulannya, kultur pucuk Dendrobium anosmum-gigantea mempunyai kemiripan kandungan golongan senyawa dengan tanaman induk jika dilihat dari hasil skrining fitokimia, kromatografi, dan densitometri, sehingga kultur pucuk bisa digunakan sebagai alternatif untuk produksi golongan senyawa yang sama pada tanaman anggrek Dendrobium anosmum-gigantea.
Efektivitas Profilaksis Primer Filgrastim Pada Pasien Kanker Payudara terhadap Insiden Neutropenia Andri Utomo; Widyati Widyati; Dwi Hari Susilo
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2831

Abstract

Kejadian febrile neutropenia menyebabkan penundaan jadwal kemoterapi, penurunan dosis kemoterapi, bahkan dapat menghentikan proses kemoterapi yang harus dijalani. Hal ini dapat berakibat pada penurunan tingkat keberhasilan terapi pada pasien kanker payudara. Kejadian neutropenia dapat dicegah dengan pemberian profilaksis primer granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), seperti filgrastim. Pemberian filgrastim dapat mengurangi risiko terjadinya febrile neutropenia, perawatan di Rumah Sakit, dan kematian pada pasien kanker payudara. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas pemberian profilaksis filgrastim primer pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancang bangun prospective cohort study. Sampel yang digunakan yaitu 87 pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi. Variabel yang diteliti adalah insiden neutropenia dan faktor risiko yang menyebabkan neutropenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap insiden neutropenia adalah usia (p = 0,000), luas permukaan tubuh (p = 0,037), jenis kemoterapi (p = 0,000), siklus kemoterapi (p = 0,000), dan regimen kemoterapi (p = 0,000). Adanya profilaksis filgrastim primer efektif dalam menurunkan insiden neutropenia.
Rhizome Buds Disinfection for Preparation of Red Ginger (Zingiber officinale Roxb. var. rubrum Rosc.) In Vitro Culture Popy Hartatie Hardjo; Alfian Hendra Krisnawan
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 1 (2020): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i1.2836

Abstract

The success of culture initiation depends on explant surface sterilization techniques. Suitable concentration, combinations, and duration of exposure of sterilizing agents are important to raise in vitro culture successfully. The aim of this work is to obtain the suitable sterilization method for explant buds of red ginger rhizome to get the axenic culture. Four sterilizing agents, fungicide, bactericide, Cefotaxime antibiotic, and NaOCl were tested for sterilization by various concentration and duration of exposure. The results showed that sterilizing agents 200 mg/L Cefotaxime and 100 mg/L Benomyl combined with NaOCl decreased the contamination of explants, and achieved 20% axenic culture.

Page 1 of 1 | Total Record : 7