cover
Contact Name
Mohammad Subhan Zamzami
Contact Email
mszamzami@iainmadura.ac.id
Phone
+6281232684323
Journal Mail Official
islamuna@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Madura Jalan Raya Panglegur KM. 4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2407411X     EISSN : 24433535     DOI : http://doi.org/10.19105/islamuna
Islamuna specializes in Islamic Studies which are the results of fieldwork research, conceptual analysis research, and book reviews from various perspectives i.e. education, law, philosophy, theology, sufism, history, culture, economics, social and politics. This journal encourages articles that employ an interdisciplinary approach to those topics and aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2021)" : 5 Documents clear
MA‘NĀ TAQLĪD "AL-SAKBAH" (TER-ATER) FĪ SYAHR RAMADLĀN BĪ SAMPANG MADURA Arif Wahyudi; Khairul Muttaqin.ilunks@gmail.com
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.3701

Abstract

ملخص البحث التقليد في الدراسة الإسلامية يسمى بالعرف، وهو أمر مألوف لبعض الناس لأنه أصبح عادة تتكامل مع حياتهم أقوالا كانت وأفعالا. فالتقليد الذي لا يزال تتطور في مجتمع سامبانج هي عادة “السكبة” (تير أتير-ter-ater)، وهي عادة بسكب (إعطاء) صحن من الطعم والتبادل للجيران والأقارب والأشخاص الأكابر في الأسرة بصورة خاصة. فكل الشهر القمرية، مارس الناس هذه العادة المحلية بأطعمة مختلفة. وفي هذا البحث، ركز الباحثون على بحث الثقافة في منطقة سامبانج (Sampang) لأن هذه المنطقة معروفة بتعصبها في الامور الدينية والتقاليد. كما تم تحديد إجراء هذا البحث في شهر رمضان، لأن في ذلك الشهر لا تزال هذه العادة كثيفًا للغاية من قبل غالبية المجتمع. عند مقدمة البحث، فقد تم تنفيذ هذا التقليد لأجيالهم. هم لا يعرفون متى وجود هذه العادة بالضبط وهذا الذي يدعم الباحثون في بعث هذه العادة. ومن خلال الدراسة الميدانية، تحلل هذه الورقة تطبيق ومعنى عادة السكبة (ter-ater) في منطقة سامبانج. نتجت هذه الورقة، أن اختيار الطعام في عادة السكبة (ter-ater) وفقًا للمجتمع على القدرة الاقتصادية وليس له معنى محدود. أما تحديد الشهر والتاريخ عند بعض الناس للحث على الحصول وبركات رمضان وليلة القدر لأن النبي يتحرى على ليلة القدر في ليالي الوتر من العشر الأواخر من رمضان. ABSTRAK Dalam kajian keislaman, tradisi disebut `urf yaitu sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat tertentu karena telah menjadi kebiasaan yang menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Tradisi yang hingga kini masih berkembang di masyarakat Sampang adalah tradisi ter-ater, yakni tradisi saling hantar makanan ke tetangga, saudara, dan orang-orang yang dituakan dalam keluarga. Bahkan masyarakat melakukan tradisi ini dengan makanan yang berbeda-beda setiap bulan Kamariah. Artikel ini fokus pada budaya ter-ater di Kabupaten Sampang Madura pada bulan Ramadan, karena masyarakatnya fanatik terhadap agama dan tradisi dan pada bulan tersebut tradisi ini masih sering dilakukan. Tradisi ini telah dilakukan turun-temurun yang tidak diketahui awal mula serta alasan di baliknya. Dengan kajian lapangan, artikel ini fokus pada tiga hal yakni: pertama, praktik dan makna ater-ater di bulan Ramadan. Kedua, praktik masyarakat Sampang dalam memburu lailatulkadar. Artikel ini berhasil mengungkap bahwa pemilihan makanan pada tradisi ter-ater menurut masyarakat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing dan tidak memilki makna tertentu. Terkait penetuan bulan dan tanggal menurut sebagian masyarakat karena termotivasi keinginan untuk mendapatkan berkah Ramadan serta lailatul kadar karena Nabi menyerukan agar mencari lailatulkadar pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadan.
TANÉAN LANJHÂNG: A Reflection of Guyub and Strengthening of Ukhuwah Among Madurese Society Raudlatul Jannah; Agik Nur Efendi; Fithriyah Rahmawati
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.4414

Abstract

The Madurese tribe has unique, distinctive, and remarkable cultures. It is inseparable from a heterogeneous socio-cultural society. Science, morals, ethics, morals, philosophy of life, social interactions correlate with culture. One of the philosophies in Madurese society that is synergized with livelihoods and kinship values ​​is tanean lanjhang. Tanean lanjhang is a residential space pattern within the Madurese community. The settlement consists of ​​a house yard, kobhung, kitchen, stable, well, and several houses. About 2-10 houses are lined up from west to east and inhabited by people with sibling relationships. As a society that upholds religious values, the concept of tanean lanjhang has a very noble, philosophical meaning and is full of Islamic values either deliberately built or ​​arising from the idea of social interaction in tanean lanjhang. This study aims to describe the philosophical meaning of the tanean lanjhang. This current study used a qualitative- descriptive approach and carried out literature review, observation, and interviews to collect the data. The results showed that tanean lanjhang is a sub-structure of unique community settlement layout and has a noble value from the concept of spatial planning or social interaction, which is manifested in several commendable morals, namely strengthening ukhuwah, caring and respecting people, and cooperation. ABSTRAK Suku Madura memiliki berbagai budaya yang unik, khas, bahkan istimewa. Ilmu pengetahuan, akhlak, etika, moral, falsafah hidup, interaksi sosial sesungguhnya berkorelasi dengan budaya. Salah satu falsafah dalam masyarakat Madura yang bersinergi dengan mata pencaharian dan nilai kekerabatan adalah tanean lanjhang. Tanean lanjhang merupakan konstruksi tata ruang pemukiman yang ada di masyarakat Madura. Pemukiman tersebut terdiri dari sebuah area halaman rumah, kobhung, dapur, kandang, sumur dan rumah rumah yang berjejer dari barat ke timur dengan jumlah 2-10 rumah yang dihuni oleh orang orang dengan hubungan saudara kandung. Sebagai masyarakat yang menjunjung nilai religius, maka konsep dari tanean lanjhang memiliki makna yang sangat luhur, filosofis, dan sarat dengan nilai- nilai keislaman, baik nilai yang sengaja dibangun atau nilai yang timbul dari konsep atau interaksi sosial dalam tanean lanjhang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna filosofis yang ada dalam konsep tanean lanjhang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan teknik Pustaka review, observasi dan wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanean lanjhangselain sebagai subuah konstruksi tata ruang pemukiman masyarakat yang unik juga memiliki nilai nilai luhur dari konsep tata ruang atau interaksi sosial yang menjadi cerminan konsep kekerabatan masyarakat Madura yang sangat kuat. Sehingga pada akhirnya mampu memperkuat ukhuwah dan memupuk sikap-sikap terpuji seperti sikap peduli, saling menghormati, dan gotong royong.
THE STYLE OF USING VEIL IN THE AGE OF GLOBALIZATION: Overview of Concepts and Practices Darti Busni; Betria Zarpina Yanti; Doli Witro
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.4753

Abstract

Along with the times, some people see the veil as no longer a symbol of piety but instead follow trends or popular models, not to mention that the veil is only considered a necessity used at certain times like entangled criminal cases and attending court. On the other hand, some use the veil as following the concept stipulated in Islam, namely, an obligation that cannot be abandoned and not adhered to by certain times, conditions, and situations. This article aims to explain the veil concept in Islam and the form of practice in society. Methodically, this article uses a qualitative research method, a research library compiled in scientific articles and analyzed using the phenomenological-sociological approach. The results showed In essence, the veil’s actual use as a form of obedience to the sharia follows the veil concept taught in Islam, where women with veils are not limited to a specific time, situation, condition, and place. ABSTRAK Seiring perkembangan zaman, sebagian masyarakat ada yang memandang jilbab tidak lagi sebagai simbol ketakwaan, tapi lebih mengikuti tren ataupun model yang sedang populer, belum lagi jilbab hanya dinilai sebagai sebuah kebutuhan yang hanya digunakan di saat tertentu saja seperti terjerat kasus kriminal dan menghadiri sebuah pengadilan. Di sisi lain ada yang menggunakan jilbab sebagai sesuai dengan konsep yang ditetapkan dalam Islam yaitu sebagai sebuah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan dan tidak terpaut pada waktu, kondisi, dan situasi tertentu. Artikel bertujuan menjelaskan konsep jilbab dalam Islam dan bentuk praktek yang terjadi di masyarakat. Secara metode, artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat library research yang disusun dalam bentuk artikel ilmiah dan ditelaah dengan menggunakan pendekatan fenomenologis-sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan pada hakikat yang sebenarnya dari penggunaan jilbab sebagai bentuk keta’atan terhadap syari’at inilah yang sesuai dengan konsep jilbab yang diajarkan dalam Islam yang mana perempuan berjilbab tidak terbatas pada waktu, situasi, kondisi, dan tempat tertentu.
STUDENTS' MOTIVATION TO WEAR THE VEIL IN YASNI BUNGO JAMBI ISLAMIC INSTITUTE Januri Januri; M. Syukri Ismail
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.5126

Abstract

ABSTRACT The veil is a Muslim woman's face covering, only her eyes are visible. Wearing the veil requires faith, mental and strong motivation. This study aims to examine the motivations of IAI student Yasni Bungo to wear the veil. This study uses a qualitative descriptive analytical approach. Data was collected by using observation, interview and documentation techniques. Determination of research subjects using purposive sampling technique, by interviewing female students who only wear the veil. The data analysis technique was carried out by listening to the interviews of female students wearing veils, recording their interviews, grouping the results of the interviews, analyzing the results of the interviews and conclusions. The results of the study indicate that the motivation for using the veil by IAI student Yasni Bungo is motivated by three factors, first, theological factors (students wear the veil because of religious orders, worship, sunnah of the prophet); second is psychological factors (students wear the veil because they are driven by a soul that feels comfortable when wearing the veil), and third, the intrinsic factor (students wear the veil to protect themselves, keep morals, to be better, more obedient). And there are no external factors (veiled because parents, teachers, ustadz ordered them, the rules of the Islamic Boarding Schools, or were motivated by the doctrine of forbidden sects). The more dominant factor is the theological factor. ABSTRAK Cadar merupakan penutup wajah wanita muslimah, yang nampak hanya kedua matanya. Memakai cadar dibutuhkan keyakinan, mental dan motivasi yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apa saja motivasi mahasiswi IAI Yasni Bungo memakai cadar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, dengan mewancarai mahasiswi yang memakai cadar saja. Teknik analisis data dilakukan dengan cara menyimak wawancara mahasiswi yang memakai cadar, mencatat wawancaranya, mengelompokkan hasil wawancaranya, menganalisis hasil wawancaranya dan membuat kesimpulan. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi penggunaan cadar oleh mahasiswi IAI Yasni Bungo dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yaitu pertama, faktor teologis (mahasiswi memakai cadar karena perintah agama, ibadah, sunnah nabi); kedua faktor psikologis (mahasiswi memakai cadar karena terdorong oleh jiwa yang merasa tenang-nyaman ketika memakai cadar), dan ketiga, faktor intrinsik (mahasiswi memakai cadar untuk menjaga diri, jaga akhlak, agar lebih baik, lebih taat). Dan tidak ada faktor eksternal (bercadar karena disuruh orang tua, guru, ustadz, aturan pesantren, atau terdorong oleh doktrin aliran terlarang). Adapun faktor yang lebih dominan adalah faktor teologis.
CHOOSING LIVES: Pandemic Emergency Triage from the Perspective of Maqāshid FUADY ABDULLAH
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.5439

Abstract

The spike in Covid-19 cases in Indonesia in mid-2021 has led to scarcity of various resources and resulted in a functional crisis of hospitals in accommodating patients. This condition puts health workers and relevant policy makers in difficult situation and ethical dilemma in triaging patients. In this context, there are at least two competing ethical approaches. The utilitarian approach demands maximum benefit in saving lives, whereas the egalitarian approach emphasizes equal rights and opportunities for treatment. This brings up several problems related to giving priority. The problems also include withdrawal of treatment in favour of other patients. This article normatively tries to discuss the issue from the Maqāshid perspective. This article is qualitative. Literature review of several related recommendations was carried out to explore the basic problems and then putting them in light of the maqāshid theory. This article argues that Maqāshid can be an alternative ethical approach in determining priorities. All considerations need to be read in the light of Maqāshid and its principles with primary focus on scientific and medical considerations. ABSTRAK Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia pada pertengahan tahun 2021 menyebabkan kelangkaan berbagai sumber daya dan krisis fungsional rumah sakit dalam menampung pasien. Kondisi ini menempatkan tenaga kesehatan & pengambil kebijakan berada dalam situasi sulit dan dilema etik untuk melakukan triase pasien. Dalam konteks ini, ada dua pendekatan etis yang bersaing yaitu utilitarian yang menuntut manfaat maksimal dalam menyelamatkan nyawa dan pendekatan egaliter menekankan persamaan hak dan kesempatan untuk mendapatkan perlakuan. Hal ini memunculkan beberapa permasalahan terkait pemberian prioritas. Artikel ini secara normatif mencoba membahas masalah tersebut dari perspektif Maqāshid. Artikel ini bersifat kualitatif. Tinjauan pustaka terhadap beberapa rekomendasi terkait dilakukan untuk menggali permasalahan mendasar dan kemudian meletakkannya dalam tinjauan teori maqāshid. Artikel ini melihat bahwa Maqāshid dapat menjadi alternatif pendekatan etis dalam menentukan prioritas triase. Seluruh pertimbangan yang ada perlu dibaca berdasar Maqāshid dan prinsip-prinsipnya dengan fokus utama pada pertimbangan ilmiah dan medis.

Page 1 of 1 | Total Record : 5