cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 2 (2013)" : 12 Documents clear
FATWA TENTANG HADIAH DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH Jaih Mubarok; Hasanudin Hasanudin; Yulizar D Sanrego
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.86

Abstract

Abstrak: Kajian ini dilakukan untuk menggali hukum tentang pemberian hadiah oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah berupa cindera mata maupun hadiah yang bersifat material pada saat pembukaan rekening dengan cara undian. Akad wadî‘ah dalam produk penghimpunan dana LKS secara substantif sama dengan akad qardh karena di dalamnya terkandung izin penggunaan objek yang dititipkan. Karena itu, akad wadî‘ah tersebut termasuk domain akad tabarru’. Sedangkan akad mudhârabah termasuk akad bisnis yang dikategorikan sebagai akad mu‘âwadhat/ tijârî. Jâ’izah tasjî‘iyah juga sama kedudukannya dengan akad mudhârabah, yaitu termasuk domain mu‘âwadhat. Karena itu, penulis menyimpulkan bahwa tidak relevan penggunaan jâ’izah tasjî‘iyah dalam memasarkan produk penghimpunan dana LKS yang menggunakan akad wadî‘ah atau qardh. Sebaliknya, jâ’izah tasjî‘iyah layak dipertimbangkan untuk digunakan dalam mempromosikan produk LKS yang meng- gunakan akad yang termasuk domain mu‘âwadhat.Abstract: Personal Legal Opinion on Present in Syari’ah Financial Insti- tution. This study is aimed at deducting legal ruling of material gift or present offered by the Syari’ah financial institution (LKS) for their clients at the time of opening account by way of lottery. Wadî‘ah contract in collecting LKS funds is substantially similar to that of qardh contract because permission to usufruct the stored object is inherent in the contract, therefore such wadî‘ah contract is included in the domain of tabarru’. Mudhârabah contract, on the other hand, comprises business contract which is categorized as mu‘âwadhat or tijârî contract. Jâ’izah tasjî‘iyah also have the same status as mudhârabah contract which is included in the mu‘âwadhat domain. As such, the authors conclude that it is irrelevant to use jâ’izah tasjî‘iyah in selling the product of LKS fund collection with wadî‘ah or qardh contract. Conversely, jâ’izah tasjî‘iyah is worthy of considering to be used in promoting LKS product using contract that comprises in the mu‘âwadhat sphere.Kata Kunci: hadiah, fatwa, mu‘âwadhat, qardh, wadî‘ah
KONFLIK AGAMA DAN PENYELESAIAANNYA: Kasus Ahmadiyah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Muhamad Zuldin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.91

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menyelidiki faktor-faktor penyebab konflik antara Islam mainstream dengan Ahmadiyah, resolusi konfliknya, peran SKB Tiga Menteri tahun 2008 dan Pergub tahun 2011 sebagai media resolusi konflik, dan respons terhadap SKB dan Pergub. Dalam tulisan ini ditemukan bahwa faktor-faktor penyebab konflik bermula dari aspek teologis, kemudian berkembang menjadi aspek politik, ekonomi, sosial, ketidaktegasan pemerintah, Ahmadiyah eklusif dalam beribadah, dan pengaruh pemberitaan media massa. Resolusi konflik berupa non litigasi dilakukan melalui mediasi yang melibatkan aparat pemerintah, tokoh masyarakat, kepolisian, dan litigasi melalui proses peradilan. Ahmadiyah menganggap SKB dan Pergub tidak bisa berperan sebagai media resolusi konflik agama sehingga mereka menolak serta berusaha membatalkannya secara hukum. Sebaliknya, Islam mainstream menerima namun tetap menginginkan keluarnya Keppres atau Undang-Undang untuk mem- bubarkan Ahmadiyah.  Abstract: Religious Conflict and Its Resolution: A Sutdy of Ahmadiyah in Tasikmalaya, Weste Java. This writing is aimed at analyzing factors that underly conflicts between mainstream Islam and Ahmadiya, its resolution, the role of SKB Tiga Menteri of 2008 and Pergub 2011 as a media of conflict resolution, as well as the responese to the two statutes. The findings of this study reveal that the religious conflicts stem from  theological aspects that extend to political, socio-economic, govern- ment’s inambiguity in implementing the regulation, Ahmadiya’s exclusiveness in their religious duties and the influence of media. Conflict resolution in non-litigation is carried out through mediation that involving the goverment’s apparatus and  the police, and  litigation  via judicial process. Ahmadiya argues  that SKB and Pergub are incapable of playing any role in resolving religious conflict and thus reject and try to revoke them judicially. Mainstream Islam, however, argues to the opposite and insists in  issuance of President Act  or statute to disperse Ahmadiya organization.Kata Kunci: konflik agama, Ahmadiyah, SKB, Pergub, Tasikmalaya
HADIS-HADIS ANTROPOMORFISME: Analisis terhadap Takwil Ibn Hajar al-‘Asqalânî dalam Fath al-Bârî Abdul Hamid Ritonga
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.82

Abstract

Abstrak: Dalam sejarah teologi Islam, perbincangan tentang ayat al-Qur’an dan hadis Nabi SAW. yang menjelaskan tentang antropomorfisme memiliki sejarah panjang, berawal dari perdebatan antara ahli hadis yang literalis dengan ahli kalam dan Muktazilah yang rasionalis. Tulisan ini mencoba mengelaborasi pendapat Ibn Hajar sebagai ahli hadis dalam memahami hadis yang menyamakan sifat Allah dengan sifat manusia. Dalam upayanya untuk menghindari kemungkinan keliru (syirk) dan adanya kesamaan (tasybîh) Allah dengan makhluk-Nya, Ibn Hajar menafsirkan hadis tersebut dengan metode takwil. Ibn Hajar melakukan penakwilan karena kondisi objektif sosial, politik, dan ajaran teologis yang mengitarinya yang  mengharuskannya mendukung ajaran Asy‘ariyah. Pada sisi lain, ia ingin menyelamatkan akidah kaum Muslim, khususnya orang awam dari menyerupakan Allah dengan makhluk.Abstract: Anthropomorphism in Hadith: An Analysis of Ibn Hajar al- ‘Asqalânî’s Ta’wîl in Fath al-Bârî. In the history of Islamic theology, discussion on Quranic verses and the Prophetic traditions that deal with anthropomorphism has undergone long history starting from heated debate between literal hadith centrists with those of rationalists theologians and the Muktazilah. This essay attempts to elaborate Ibn Hajar’s view, as an advocate of tradition, in understanding the hadiths that describe the attributes similar to that of His creatures. In order to avoid potential error and confusion in understanding the attributes of God, Ibn Hajar utilized ta’wîl method and departed from his root due to socio-political condition and the prevailing theological teachings that led him to support the tenets of Asy‘ariyah. Conversely, he was very keen on safeguarding the Muslim’s creed from equating God’s attributes with His creatures.Kata Kunci: teologi, hadis, antropomorfisme, takwil, Fath al-Bârî
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TENTANG DINAMIKA HUBUNGAN INDUSTRIAL DI INDONESIA Ismed Batubara
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.87

Abstract

Abstrak: Dinamika Hubungan Industrial di Indonesia mengalami sejarah yang cukup panjang sejak dari masa Kolonialisme sampai pada era Reformasi. Tulisan ini berupaya menjelaskan pola hubungan ideologi kerja yang dipengaruhi oleh dua kutub paham Liberalisme dan Komunisme dan dilanjutkan oleh paham ekstrimitas sistem ekonomi Kapitalisme dan Sosialisme vis-à-vis sistem Islam. Penulis menyatakan bahwa walaupun peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan telah tersedia, namun per- selisihan atau disharmoni hubungan antara buruh dan pengusaha masih saja terjadi. Secara substansial peraturan perundangan masih memiliki masalah yang terbukti dari fakta empiris ketidakmampuan pemerintah menangani permasalahan perburuhan dengan baik. Penulis menyimpulkan bahwa konsep Islam menjadi alternatif dalam hubungan industrial dengan menekankan prinsip kesetaraan dan keadilan sehingga terbebas dari kesewenang-wenangan dan eksploitasi model Kapitalisme dan kediktatoran model Komunisme.Abstract: Islamic Law Perspective of the Dynamic of Industrial Relation in Indonesia. The dynamic of industrial relation in Indonesia has undergone very long history since Colonial period to the Reformation era. This essay tries to elucidate relation pattern of labor ideology which seem to be influenced by Liberalism and Communism followed by two extreme economic ideologies vis-à-vis Islamic system. The author asserts that although regulations pertaining to labor have been made available, disputes and disharmony between workers and company or employer still occur repeatedly. Substantially, the regulations encompass delicate problems which are evident form the fact that the government is incapable of handling labor problem efficiently. The author concludes that Islamic concept should become an alternative in dealing with industrial relation which emphasizing equality and just principles and thus it is free from authoritarianism and expoloistation of Capitalistic models as well as from dictatorship of Communism ideology.Kata Kunci: hubungan industrial, Kapitalisme, Komunisme, hukum Islam, Indonesia
ACEH IN HISTORY: Preserving Traditions and Embracing Modernity Amirul Hadi
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.92

Abstract

Abstrak: Aceh dalam Sejarah: Mempertahankan Tradisi dan Mengawal Modernitas. Tulisan ini berupaya mendiskusikan secara kritis tentang bagaimana masyarakat Aceh dalam sejarah, sementara mencoba menyesuaikan diri dengan dunia modern, mereka melakukan segala upaya untuk mempertahankan tradisi. Sebagai sebuah etnik yang memiliki masa lalu yang gemilang, Aceh senantiasa memiliki keterikatan kuat dengan “identitas”, dan hal ini dituangkan dalam banyak hal, termasuk “ingatan sosial.” Untuk itu, “tradisi”, digali dan dipertahankan. Namun, tantangan modernitas juga merupakan hal yang harus direspon dan disikapi. Dalam konteks inilah kelihatannya masyarakat Aceh berada di persimpangan jalan. Di satu pihak mereka berupaya mempertahankan tradisi yang telah ada namun juga harus melibatkan diri dalam kehidupan modern. Penulis menyimpulkan bahwa masyarakat Aceh masih menemukan kesulitan dalam hal ini, karena mereka masih terpaku kepada “romantisasi sejarah”, bukan “kesadaran sejarah”, sehingga “ruh” masa lalu belum mampu dibawa ke masa kini.Abstract: This paper attempts to critically discuss on how the Acehnese in history, while trying to embrace the modern world, have made every effort at preserving their traditions. As an ethnic group which has a glorious past, Aceh has strongly been connected to “identity”; and this is expressed in various means, including “social memory.” For this very reason, “traditions”, including those of the past, are explored and preserved. Yet, the challenges of modernity are also apparent. It is in this context that the Acehnese are trapped at the crossroad. On the one hand, they tend to preserve their traditions, yet, on the other, they need to embrace modern lives. The Acehnese seem to have encountered considerable obstacles on this issue, for they tend to focus more on historical “romanticism” (nostalgia) rather than historical “awareness” (consciousness). Eventually, the “spirit” of the past cannot be brought into light.Keywords: Aceh, history, traditions, modernity
STRUKTUR PARADIGMATIK ILMU-ILMU KEISLAMAN KLASIK: Dampaknya terhadap Pola Pikir, Sikap, dan Perilaku Keberagamaan Ichwansyah Tampubolon
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.83

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji struktur paradigma Ilmu-ilmu keislaman klasik yang mendominasi diskursus intelektualisme Islam di dunia Islam Sunni. Secara epistemo- logis, dalam upaya meletakkan dasar-dasar keilmuannya, otoritas teks-teks kewahyuan dan pola pikir ulama salaf bercorak analogis (qiyâs), konsensus (ijmâ‘), dan intuitif (dzauqî) sangat mendominasi model pendekatan daripada penalaran akal secara filosofis. Secara ontologis, Ilmu Kalam, Fikih/Usul Fikih dan Ilmu Tasawuf lebih berorientasi pada transformasi nilai-nilai keislaman secara moral spiritual daripada upaya pemenuhan kebutuhan hidup dan peningkatan kesejahteraan hidup secara duniawi. Dalam pada itu, secara umum, pola pikir keilmuan Islam kasik itu berpengaruh terhadap pembentukan corak pemahaman, sikap dan perilaku umat beragama menjadi bersifat eksklusif, kaku, fanatik, tidak kreatif, dan anarkis.Abstract: Paradigmatic Structure of Classical Islamic Sciences, its Impact on Mindset, Attitude and Religious Experience. The aims of this article is to study the paradigmatic structure of the classical Islamic knowledge which had dominated the discources of Islamic intellectualism in the world of Sunni Muslim. Epistemologically, in order to contruct the principles of classical Islamic knowledge, the revealed textsand the thought patterns of ulama Salaf such as analogy (qiyâs), consensus (ijmâ’), and intuitive (dzauqî) had dominated. Axiologically, the purpose of classical Islamic knowlegde is more oriented to transform Islamic values and defense of  “religious” in order to gain the here after happiness, howeverthe aspects of socially realistic “secular” life tends to be periferal.In general, both textual-bayânî and ‘irfâni paradigm which till now have been established in the world of Islamic education had affected the mindset, attitude, and conduct of Ummah’s religiosity in order to respon the problems, opportunities, and challenges of modernity and globalization.Kata Kunci: sejarah Islam, tekstual-bayânî, irfânî, intelektualisme Islam klasik
RELIGIOUS EDUCATION AND EMPOWERMENT: Study on Pesantren in Muslim Minority West Papua Ismail Suardi Wekke
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.88

Abstract

Abstrak: Pendidikan Islam dan Pemberdayaan: Studi Kasus Pesantren pada Muslim Minoritas Papua Barat. Pendidikan Islam Indonesia merupakan salah satu pilar pendidikan nasional yang memiliki sejarah panjang. Dalam dinamika pembangunan, pesantren kembali membuktikan diri sebagai elemen penting bangsa. Tulisan ini membahas aktivitas dan gerakan madrasah di daerah minoritas Muslim dalam upaya membangun kapasitas umat melalui pembelajaran kewirausahaan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan ragam studi kasus. Observasi dan wawancara diterapkan untuk mengumpulkan data. Penulis menemukan adanya pelatihan dan pembelajaran berbasis kebutuhan mendorong siswa untuk menekuni keterampilan untuk aktivitas sehari-hari. Pesantren Roudhotul Khuffadz mengembangkan pola pembelajaran dengan mengacu kepada lingkungan peserta didik. Disimpulkan bahwa pendidikan Islam dengan tumpuan pada kebutuhan dan kepedulian akan lingkungan dapat memberdayakan santri untuk penguasaan keterampilan, walaupun itu dilaksanakan dengan keterbatasan komunitas di wilayah minoritas Muslim.Abstract: Islamic education in Indonesia is one pilar in national education whis has a long history. In the course of time with development dynamics, pesantren (Islamic boarding school) proves as a nation-wide important element. Therefore, this paper will explore dicsuccion on activity and madrasah movement in Muslim minority in term capacity building through enterprenurship learning. This study was employed qualitative approach with miscellaneous case study. Observation and in-depth interview were conducted on collecting data. This research shows that daily-need based training and learning encourages students to enhance their skills during day after day activities. Pesantren Roudhatul Khuffadz enlarges learning cycle according to students’ environment. Finally, it can be concluded that Islamic education can develop students’ skill acquicition, although it is practiced with community limitation in Muslim minority area.Keywords: pesantren, religious education, Muslim minority, West Papua
ANDALUSIA: Sejarah Interaksi Religius dan Linguistik L. Hidayat Siregar
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.93

Abstract

Abstrak: Andalusia merupakan satu bab yang sangat menarik dalam sejarah Islam, karena hentakan awalnya, tetapi juga karena ketragisan akhirnya. Tulisan ini memusatkan perhatian pada pembahasan mengenai interaksi yang terjadi antara orang Islam sebagai bangsa penakluk di satu sisi dan bangsa lokal Andalusia sebagai bangsa tertakluk di sisi lain. Kenyataan ini terkadang menimbulkan penafsiran yang hitam putih dan serba revolusioner terhadap pola hubungan dan saling pengaruh antara Muslim dan penduduk asli Andalusia dalam hal agama dan bahasa. Artikel ini mengargumentasikan bahwa, sebagaimana di tempat lain, pengaruh religius dan linguistik merupakan aspek kehidupan yang lebih substantif dan mendasar bagi sebuah masyarakat bila dibandingkan dengan aspek politik dan militer dan hal ini memerlukan proses interaksi yang intens untuk terjadi di Andalusia. Artikel ini menelusuri tahapan-tahapan interaksi tersebut dan menggarisbawahi faktor- faktor terpenting yang terlibat di dalamnya.Abstract: Al-Andalus (Islamic Spain): A History of Religious and Linguistic Interaction. Islamic Spain is a chapter of Islamic history that has alway been very interesting, not only because of its shocking beginning but also because of its tragic end. The main thrust of this essay is focused on discussing the interaction between the Muslim peoples as conqueror on one side and the lokcal Andalusians as the conquered on the other. This fact often results in a black-and-white revolutionary interpretation of the relations between the conquering Arab Muslims and the conquerred Latin Christians. This article argues that, as in anywhere else in the Muslim world, religious and linguistic influence is the most substantive and fundamental aspects of social life compared to political and military aspects and such to occur in the Arab Muslims upon the locals of al-Andalus requires a long intensive interaction. The most relevant factors of the process are explained in this article.Kata Kunci: Andalusia, Islamisasi, Arabisasi, Reconquista
MEMADUKAN KEMBALI EKSOTERISME DAN ESOTERISME DALAM ISLAM Syamsuri Syamsuri
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.84

Abstract

Abstrak: Di kalangan sebagian Muslim terjadi kesenjangan pemahaman terhadap dimensi eksoterisme (dimensi lahir, syariat) dan esoterisme (dimensi batin, tasawuf) Islam. Bagi yang mengutamakan dimensi eksoterisme, dimensi esoterisme dianggap tidak penting dan bahkan kadang-kadang keluar dari ajaran Islam. Sementara yang mengutamakan dimensi esoteris memandang bahwa eksoterisme tidak diperlukan lagi, karena manusia sudah mampu menyingkap rahasia Tuhan. Sejatinya, antara dimensi eksoterisme dan esoterisme ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Keduanya merupakan bagian ajaran Islam yang integral. Tulisan ini hendak mengungkapkan tarik-menarik pemahaman antara dimensi eksoterisme dan esoterisme Islam. Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa dimensi esoterisme (tasawuf) diperlukan manusia agar terjadi perimbangan dalam menghadapi hidup dan lebih memberi ruh dari pemahaman syariat yang dianggap kaku dan kering.Abstract: Reintegrating Exoterisme and Esoterisme in Islam. There have been a misnderstanding amonngst some Muslims between the exoteric of rituals or syariah and the esoteric dimension of tasawuf or mystisism in Islam. Those who give more weight for exoteric dimension regarded the esoteric of no great concern and even sometimes have departed from the Islamic teachings. For those who support the esoteric dimension, however, considered the exoteric to be unusefull, since man had been able to uncover the mystery of God. Ideally, the exoteric and esoteric dimensions are separate whole, both of which are an integrated part of Islamic tenets. This essay, is going to shed some lights on esoteric and exoteric dimension of Islam. The author concludes that the esoteric dimension of tasawuf is need by human being so that equilibrium can be maintained in facing their lives and will give more spiritual impetus in understanding the deemed rigid and wither syariah.Kata Kunci: tasawuf, fikih, esoterisme, eksoterisme, pemikiran Islam
PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK USIA DINI MENURUT IBN MISKAWAIH Rosnita Rosnita
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 37, No 2 (2013)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v37i2.89

Abstract

Abstrak: Selama era Reformasi, sistem pendidikan nasional sedang menghadapi sejumlah problem. Dalam aspek tujuan pendidikan nasional, misalnya, lembaga- lembaga pendidikan tampak belum bisa mencapai tujuan pendidikan nasional secara utuh. Pembentukan akhlak mulia dalam diri anak sebagai salah satu bagian dari tujuan pendidikan nasional masih menjadi persoalan. Banyak faktor penyebab problem ini, antara lain adalah kurangnya peran orangtua dan guru dalam membentuk akhlak anak sejak usia dini. Tulisan ini akan menyajikan pandangan Ibn Miskawaih tentang urgensi pembentukan akhlak anak sejak usia dini. Kajian ini menemukan bahwa seorang anak akan mampu menampilkan akhlak mulia manakala pendidik, baik orangtua maupun guru, mampu memahami kejiwaan anak sembari mulai mengajari dan membiasakan anak dengan akhlak mulia sejak kecil, serta memilih lingkungan yang sehat secara moral untuk anak tersebut.Abstract: Early Childhood Character Building in the View of Ibn Miska- waih. During the reformation era, the national education system is apparently facing some problems. On the goal of national education, for instance, educational institutions have not achieved their goals in the true sense. The noble character building in the child as part of the national education objective has yet become problem. There are a number of factors that led to these problems, some of which are the minor role of the parents and teachers in building child’s character since early childhood. This writing cast some lights on the importance of child character building since early childhood in Ibn Miskawaih’s view. This study finds that a child will be able to be acquainted with noble character when educators, whether parents or teachers, are capable of understanding the child’s psychological state and begin teaching to live with it since childhood. Also contributed to the character building success is choosing healthy environment morally for the child.Kata Kunci: akhlak, anak usia dini, Ibn Miskawaih

Page 1 of 2 | Total Record : 12