cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 38, No 1 (2014)" : 12 Documents clear
طُرق ترجمة القرآن الكريم إلى اللغة الإندونيسية دراسة مقارنة Muhammad Husnan Lubis
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.104

Abstract

Abstrak: Metode Penerjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Indonesia: Suatu Studi Perbandingan. Urgensi pengalihbahasaan Kitab Suci al-Qur’an meru­pakan hal yang tidak dapat dipungkiri dalam penyampaian pesan yang dikandung­nya agar tepat pada audiens yang dihadapi. Perkembangan penerjemahan al-Qur’an di Indonesia memiliki kekhasan gaya dan metode. Di antara karya penting terlihat seperti dalam karya Mahmud Yunus, HAMKA, dan Departemen Agama Republik Indonesia. Penerjemahan di dalam ketiga kitab tersebut telah mengakomodasi istilah Arab yang ditemukan baik secara lafal maupun makna. Dalam tulisan ini diketengahkan perbandingan penerjemahan menggunakan tiga metode yang berbeda dari masing-masih penerjemah tersebut. Berdasarkan hasil analisis penulis, dipahami bahwa kosakata yang berkaitan dengan masalah keagamaan memiliki pengaruh besar dalam penulisan penerjemahan. Abstract: The Qur’an Translation Method into Indonesian Language: A Comparative Study. The importance of the translation of the Qur’an is undeniable in order that its message can be properly conveyed to its audience faced. The development of Qur’anic translation in Indonesia has its distinct style and method. Amongst the most important ones are such works as Mahmud Yunus, HAMKA, and Departemen Agama Republik Indonesia (Department of Religious Affairs Ministry of the Republic of Indonesia). The translations of these works have accommodated Arabic expression both in verbal and meaning. This essay tries to compare the method of translation employed in those three works of translation. The author maintains that vocabularies that are related to religious matters have tremendous effect on translation process in Indonesia. Keywords:   metode penerjemahan, al-Qur’an, perbandingan, bahasa Indonesia
HAKIKAT PEMBANGUNAN HUKUM DAN PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM DALAM PAYUNG PANCASILA PERSPEKTIF ISLAM Paisol Burlian
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.95

Abstract

Abstrak: Fokus tulisan ini mengkaji sejauhmana nilai filosofis tentang konsep rumusan norma pertanggungjawaban hukum memiliki kesamaan antara hukum Islam dengan nilai-nilai yang dicita-citakan pembangunan hukum nasional, yaitu terwujudnya nilai keadilan, kemanfaatan dan kemaslahatan hukum bagi manusia. Akan tetapi dalam hal rumusan batasan usia atau dewasa bagi seseorang untuk dapat memikul pertanggungjawaban hukum, terdapat beberapa perbedaan prinsip antara rumusan ‘âqil bâligh dalam hukum Islam dengan peraturan perundangan di Indonesia. Batasan usia dalam peraturan perundangan Indonesia perlu disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat dewasa ini. Ketercukupan asupan gizi, perkem- bangan teknologi rekayasa pangan, dan perkembangan teknologi informatika ber- pengaruh kuat terhadap kecenderungan lebih cepat dewasa bagi seseorang. Diharap- kan kajian ini dapat mengisi atau memberikan sumbangan konsep atau wawasan baru bagi tersusunnya ilmu hukum Indonesia atau pembangunan hukum nasional Indonesia.Abstract: The Essence Legal Development and its Accountability under the Banner of Pancasila in Islamic Perspective. The focus of this paper is to examine the the extent to which philosophical formulation of the concept of legal accountability norms are similar between Islamic law with the values   aspired development of national laws, the final objective of which spins around the realization of the value of justice and for the interest of humans. However, in terms of the formulation of age limit for a person to be able to bear the legal liability, there are some differences between the formulation of the principle of legal capacity with the laws and regulations of Islamic law in Indonesia. The legal capacity in Indonesian laws needs to be formulated according to the social conditions of today’s society. Adequacy of nutrient intake, the development in food engineering technology, as well as information technology have relatively contributed to the process of maturity of a person become faster. This study is expected to fill the vacuum of law and throw new insights for the formulation and development of legal science in Indonesian national law.Kata Kunci: Pembangunan Hukum, Pertanggungjawaban Hukum, Pancasila dan Islam
PUSAT-PUSAT PERKEMBANGAN TAREKAT NAQSYABANDIYAH DI TAPANULI BAGIAN SELATAN Erawadi Erawadi
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.53

Abstract

Abstrak: Tulisan ini menelusuri perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di wilayah Tapanuli Bagian Selatan melalui beberapa pusat tarekat Naqsyabandiyah dengan menggunakan prinsip sejarah lokal. Tarekat ini di kawasan tersebut datang dari dua sumber, yaitu dari Minangkabau, Sumatera Barat, dan Babussalam, Langkat, Sumatera Utara. Pengaruh dari Minangkabau terutama melalui Syaikh Ibrahim Kumpulan, sedangkan dari Babussalam, Langkat melalui Syaikh Abdul Wahab Rokan. Namun demikian, sebagian Syaikh Naqsyabandiyah asal Tapanuli Bagian Selatan, setelah belajar pada Syaikh setempat, pergi dan belajar di Haramain. Sebagian mereka belajar langsung pada Syaikh Sulaiman Zuhdi atau Syaikh Ali Ridha di Jabal Abu Qubaisy. Di antara pusat-pusat perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli Bagian Selatan adalah Hutapungkut, Aek Libung, Sayurmatinggi, Nabundong, Sipirok, Pudun, Aek Tuhul, Ujung Padang, dan Batu Gajah. Kebanyakan organisasi tarekat ini telah bertahan selama beberapa generasi, namun sebagiannya tidak bertahan karena faktor-faktor tertentu.Abstract: The Centres of Tarekat Naqshabandiyah in South Tapanuli Region. Using the principles of local history, this article traces the developments of Thariqat Naqshabandiyah in Southern Tapanuli through its many centers of activities. This thariqat reached the region by ways of Minangkabau West Sumatra and Babussalam Langkat North Sumatra with Syaikh Ibrahim Kumpulan and Syaikh Abdul Wahab Rokan being the central figures. However, some of the region’s Naqshabandiyah syaikhs, after learnign under local masters, continue their learning to Haramayn, Hijaz. Mostly, they learn under the celebrated Syaikh Sulayman Zuhdi or Syaikh Ali Ridha at Jabal Abu Qubaysh. The most important Naqshabandiyah center of the region are to be found in Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal; Aek Libung, Sayurmatinggi, Nabundong, Sipirok, Tapanuli Selatan; Pudun, Aek Tuhul, Ujung Padang, Padang- sidimpuan; and Batu Gajah, Barumun, Padang Lawas. Most of these centers have survived for generations; some, however, have not survived for different reasons.Kata Kunci: tarekat Naqsyabandiyah, pusat tarekat, Tapanuli Selatan
STUDI TENTANG SIKAP BANKIR DAN PENGUSAHA TERHADAP POLA PEMBIAYAAN BAGI-HASIL PADA BANK SYARIAH Ratno Agriyanto; Abdul Rohman
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.96

Abstract

Abstrak: Sudah menjadi persepsi umum di masyarakat bahwa pada tataran operasional bank syariah menggunakan sistem bagi hasil. Namun demikian data menunjukan bahwa realisasi pembiayaan bagi hasil hanya berkisar 27% dari total portopolio pembiayaan bank syariah. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan studi tentang bagaimana sikap para pihak dalam memandang pembiayaan bagi hasil yang meliputi bankir dan pengusaha. Populasi dalam studi ini adalah seluruh bankir dan pengusaha. Sampel ditetapkan masing-masih sebanyak 30 bankir dan 30 pengusaha. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan uji beda. Dalam studi ini penulis menemukan bahwa pada tataran kognitif dan afektif terdapat kesamaan persepsi antara bankir dan pengusaha namun demikian dalam tataran tindakan masih terjadi perbedaan sikap dalam semua unsur implementasi bagi hasil yaitu karakter (kejujuran), kapasitas, modal, agunan, kondisi ekonomi dan efisiensi.Abstract: A Study of Banker’s and Enterprenour’s Attitude towards Profit and Loss Sharing Scheem in Syariah Banks. It has been widelyaccepted within the society that at the practical level, Islamic banks use profit and lostsharing system. However, the current data indicates that the realization of financing that utilized such system reached only around 27% of the total financing portfolio of Islamic banks. This study aims to determine how the attitude of the parties in regard to the results of financing that includes bankers and enterpreurs that represent the population of this study. Each sample is confined to 30 bankers and 30 businessmen. The information was collected using questionnaires and interviews. In this study, the writers found that atthe cognitive and affective levelsthere was resemblance of perception between the bankers and businessmen. At the practical level, however, they differred concerning all elements for the implementation of the profit and loss sharing which consisted of character (honesty), capacity, capital, collateral, economic conditions and efficiency.Kata Kunci: Sikap, Bankir,Pengusaha, Pola Pembiayaan Bagi Hasil
IMPLEMENTATION OF ISLAMIC SHARIAH IN THE FRAMEWORK OF SPECIAL AUTONOMY: Assessment Study in the Province of Aceh Abdul Gani Isa
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.55

Abstract

Abstrak: Pelaksanaan Syariat Islam Dalam Kerangka Otonomi Khusus: Studi Kajian di Provinsi Aceh. Mengemukanya isu ke publik tentang pelaksanaan syariat Islam di Indonesia, pada dasarnya sudah dimulai sejak saat merumuskan bentuk Negara Indonesia pasca kemerdekaan. Isu tersebut lebih gencar lagi disuarakan pada era reformasi, pasca runtuhnya rezim orde baru, terlebih setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Sejalan hal itu, pelaksanaan Syari’at Islam di Provinsi Aceh memiliki legalitas dan diakui dalam konstitusi Negara Republik Indonesia serta sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945. Pengakuan Negara terhadap pelaksanaan syariat Islam di Aceh sebagai otonomi khusus, didasarkan pada Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dari kedua UU tersebut telah disahkan sejumlah qanun di bidang Syariat Islam dalam mempercepat pelaksanaan dan implementasinya di Aceh Abstract: Emergence of the issue to the public on the implementation of Islamic law in Indonesia, basically started when formulating the post-independence Indonesian state form. The issue more aggressively again voiced in the reform era, after the collapse of the New Order regime, especially after the enactment of Law No. 22 of 1999 on Regional Government. Line it is, the implementation of Shariah in Aceh province have a legal and recognized in the constitution of the Republic of Indonesia as well as in line with Pancasila and the 1945 Constitution. Recognition of the state of the implementation of Islamic law in Aceh special autonomy, based on Law Number 44 of 1999 concerning the organization of the privilege of the Special Province of Aceh and Law No. 11 of 2006 on the Governing of Aceh. Of the two laws have been enacted in a number of qanun in accelerating the implementation of Islamic Shariah and its implementation in Aceh.Kata Kunci: Aceh, syariat Islam, otonomi khusus
OTORITAS HIRARKI KUTUB AL-SITTAH DAN KEMANDEGAN KAJIAN FIKIH Muhammad Habibi Siregar
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.54

Abstract

Abstrak: Tulisan ini mencoba melakukan pemetaan masalah yang membuat kajian fikih stagnan sebagaimana diklaim oleh sebagian ilmuwan hukum Islam. Otoritas hierarki Kutub al-Sittah ternyata merupakan persoalan mendasar yang membatasi ulama berijtihad. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan terhadap penggunaan kitab-kitab hadis di level tertinggi. Istilah Kutub al-Sittah semestinya diletakkan sebagai kitab fikih, yang ketika penggunaan awalnya dianggap kitab hadis. Menurut penulis, hal ini membuat Kutub al-Sittah cenderung menolak kritikan, sebab ada dimensi kesakralan di dalamnya. Karenanya perlu dilakukan kontekstualisasi terhadap pemahaman nash hadis yang dianggap untuk mengikuti perubahan sosial. Menurut penulis deduksi terhadap nilai teks nash tidak mengenyampingkan teks nash sebagai pijakan dalam pengembangan konsep maslahat. Otentisitas kajian fikih terkait dengan nilai-nilai normatif nash, namun hal tersebut tidak bisa langsung diterapkan dalam kehidupan.Abstract: The Authority of Kutub al-Sittah Hierarchy and the Stagnant of Fiqh Studies. This paper tries to map predicaments that contributed to fiqh studies that had been claimed to be stagnant at least by a few Islamic legal scholars. The authority of Kutub al-Sittah hierarchy, in fact, has become an important problem that restricted the learned scientific community or ulama to practice ijtihad. This stemmed from the limitation of the hadits books use at the highest level. The so called Kutub al-Sittah should be properly signified as fiqh book. According to the author, this makes Kutub al-Sittah seems to be resistant to criticism, due to the sacred and intrinsic dimension in it. Therefore, it is urgent that understanding the argument of Traditions which are relevant and in line with the social dynamics should be contextualized. He also maintains that legal deduction of the text of the Traditions does not necessarily overrule the principle values of the text as a foundation for the maslahat concept. In addition, the argues that the authority of the study of Islamic jurisprudence is closely related to the normative values of the text, but nonetheless such norms could not be directly applied to the real life.Kata Kunci: otoritas, Kutub al-Sittah, fikih
EPISTEMOLOGI TAUHID AL-FARUQI Syamsul Rijal
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.49

Abstract

Abstrak: Tulisan ini mengkaji konsep epistemologi teologi tauhid yang menjadi bagian konstruksi kajian keislaman dalam pandangan Ismail Raji’ al-Faruqi. Sebagai pemikir Muslim kontemporer, al-Faruqi berpandangan bahwa tauhid merupakan sesuatu yang subtansial meretas entitas jati diri kemanusiaan dalam beragam dimensi. Hal ini melahirkan dinamika pemaknaan tauhid yang selaras dengan ber- bagai dimensi kehidupan. Subtansi tauhid demikian mesti ditemukan dari sudut kerangka keilmuan. Untuk menemukan subtansi tersebut digunakan pendekatan deskriptif historis analisis. Sehingga formulasi epistemologi tauhid al-Faruqi memunculkan inspirasi pemaknaan tauhid dalam pelbagai kehidupan. Penulis menemukan bahwa paradigma keilmuan al-Faruqi dalam konteks penerapan tauhid dapat dilihat dari sudut epistemologi. Kajian ini mencoba merumuskan penalaran epistemologi tersebut. Upaya ini diharapkan memberikan spirit kehidupan manusia yang berbasiskan tauhid dalam segala aspek kehidupannya. Abstract: Al-Faruqi’s Theological Epistemology. This writing discusses the concept of tauhid theological epistimology incorporated as part of al-Faruqi’s construction of Islamic studies. As a contemporary Muslim thinker, al-Faruqi maintains that tauhid is a substantial point in human’s character building in various dimensions. As such, this gives rise to producing the dynamics of tauhid meanings in all aspects of life. This kind of tauhid essence has to be persued at the ontological and epis- temological conceptions. In order to explore such subtance, historical descriptive analysis approach is used so that the formulation of tauhid epistemology of al Faruqi could be known in detail throw light into the tauhid meanings in this life. The writer found that al-Faruqi’s scientific paradigm at the level of applying tauhid could be observed through epistemological perspective. This study tries to formulate such epistemological analysis, hoping that it will enlighten human life based on the principles of Islamic creed or tauhid.Kata Kunci: tauhid, epistemologi, Ismail R. al-Faruqi, antroposentris, teosentris
PERSENTUHAN AGAMA ISAM DENGAN KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA Deni Miharja
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.97

Abstract

Abstrak: Islam masuk ke Indonesia tidak dalam kondisi hampa budaya. Telah ada budaya setempat yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Hal ini melahirkan akulturasi budaya antara ajaran Islam dan budaya masyarakat setempat. Di sisi lain, tata cara pelaksanaan ajaran Islam lebih bercorak keindonesiaan (lokal) dan tidak sepenuhnya sama dengan wilayah aslinya di Timur Tengah. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana persentuhan agama Islam dengan kebudayaan lokal Indonesia, terutama dengan budaya Sunda. Penulis menyimpulkan bahwa hampir seluruh ranah kehidupan orang Sunda mengandung nilai-nilai yang Islami. Ajaran dan hukum dalam masyarakat Sunda pun disosialisasikan melalui seni dan budaya, seperti pada lakon pewayangan (wayang golek), lagu-lagu, pantun, dan banyolan-banyolan. Ajaran Islam melalui media wayang golek meliputi Islam sebagai a way of life, termasuk ajaran dasar tentang ketatanegaraan dan pemerintahan. Ajaran Islam melalui pewayangan seringkali menekankan ketaatan kepada ajaran agama dan negara secara bersamaan dan ber- kesinambungan yang mencerminkan pemahaman atas perintah ketaatan kepada Allah, Rasul dan ûli al-amri sebagaimana diamanatkan dalam al-Qur‘an.Abstract: The Convergence of Islamic Religion with the Indonesian Indigenous Culture. When Islam first entered Indonesian archipelago, this land was not culturally an empty space. There had existed local culture and developed in the Indonesian society, that has led to cultural acculturation between Islamic teachings and indigenous culture. As such, the ways of observing Islamic teachings are of Indonesian character and not necessarily similar to that of its origin in the Middle East. This paper explores how the convergence of Islamic religious teachings and the Indonesian local culture, especially the Sundanese had occurred. The author concludes that almost all aspects of Sundanese social life have been influenced by the Islamic values. The teaching and law in the Sundanese society could also be associated through art and culture, in such as puppet show (wayang golek), songs, poetry and anecdotes. The Islamic teaching through puppet show has often emphasized obedience to both religious teachings and the state simultaneously as reflection of understanding the fulfillment of God’s command, the Messenger and leader (ûli al-amri) found in the Qur’anic tenets.Kata Kunci : agama Islam, kebudayaan asli, akulturasi
TEOLOGI RASIONAL PADA PESANTREN TRADISIONAL: Telaah Konsep Teologi pada Buku Daras Teologi di Pesantren Musthafawiyah Salamuddin Salamuddin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.47

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berupaya mengkaji apakah konsep teologi yang terdapat dalam buku daras teologi di pesantren Musthafawiyah bersifat rasional atau tradisional. Metode yang digunakan adalah dengan menelaah secara mendalam konsep-konsep teologi yang terdapat pada buku-buku tersebut dan menimbangnya dengan tolak ukur ilmu logika (mantiq). Temuan yang dihasilkan menunjukkan bahwa konsep teologi yang terdapat pada buku daras tersebut bersifat rasional. Rasionalitas teologi itu diyakini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan dapat diterima oleh masyarakat umumnya, alumni atau santri yang sedang belajar di pesantren ini khususnya, sehingga tetap dapat bertahan hingga saat ini. Rasionalitas itu dapat dilihat pada kajian tentang keberadaan Tuhan, sifat-sifat, dan keadilan-Nya, perbuatan manusia dan defenisi iman yang dalam buku-buku daras tersebut didasarkan pada argumentasi akal, bukan naqal, sama dengan apa yang dilakukan oleh Muktazilah.Abstract: Rational Theology in Traditional Pesantren: An Analysis of Theological Concept of Theology Textbook in Pesantren Musthafawiyah. This essay tries to study whether the theological concepts that are written on thelogy text books at the Islamic boarding school of Musthafawiyah are rational or traditional. The methode used in this essay is an in-dept study on the theological concepts found in such textbooks while analyzing them through logic. This study reveals that theological concepts in those textbooks are is rational in character. The rationality of this theological concept is believed to be factor that lead to well reception by the community, graduates and especially active sudents of this boarding school and thus it can survive challenges till today. This rationality of the text is evident in such discussion as the existence of God, His attributes and justice, as well as on human actions and the articles of faith, all of which are based on logic rather than dogma like those of the Mu’tazilites’.Kata Kunci: teologi, rasional, tradisional, modern, buku daras, Musthafawiyah
NILAI-NILAI PEMBANGUNAN ISLAM DALAM MASYARAKAT GAYO Sukiman Sukiman
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 38, No 1 (2014)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v38i1.98

Abstract

Abstrak: Sistem budaya masyarakat Gayo bernilai spiritual dan berorientasi akhlâq al-karîmah. Nilai-nilai budaya ini membentuk pergaulan hidup bersama berlandaskan syariat Islam. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah dan mengangkat kembali nilai budaya Gayo yang dipandang relevan dengan ajaran Islam. Penulis menemukan bahwa nilai-nilai budaya Gayo;genap mupakat “syuro”(musyawarah), amanat (amanah), Tertib,Alang tulung beret bantu(saling-tolong menolong”,Gemasih (kasih sayang),setie(setia),bersikemelen (berkompetisi) memiliki nilai-nilai spiritual bagi masyarakat Gayo. Sistem-sitem nilai tersebut menurut analisis penulis sejalan dengan ajaran Islam. Sinergisitas antara Islam dan nilai-nilai budaya Gayo pada akhirnya diharapkan mampu mewujudkan pembangunan al-insân al-kâmil dalam masyarakat Gayo. Hal ini tentunya dapat terwujud jika ada upaya nyata untuk mengimplementasikan nilai-nilai budaya tersebut pada tataran praktis.Abstract: The Values of Islamic Development in Gayo Society. The system of Indonesian Gayo culture has spiritual dimension of value and virtuous character (akhlâq al-karîmah) orientation. Such cultural values form the relationship of living together based on the principles of Islamic shariah. This paper is aimed at analyzing and reconstructing Gayo cultural values perceived to be relevant with Islamic teaching. The author finds that the values of Gayo culture that includesmukemel (low hearted and honor),setie (faithful),semayang/gemasih (affection), mandate,genap mupakat (consolidation), alang tulung beret berbantu (helpful), bersikemelen (competitive) have spiritual values for Gayo society. Such value systems according to the author run parallel with the teachings of Islam. The synergy of Islam and the cultural values of Islam is finally hoped to be capable of producing perfect man oral-insân al-kâmil within Gayo society. And for this to be realized, there should be a more serious attempt to implement such cultural values at the practical level.Kata Kunci: Nilai budaya, pembangunan, Gayo, Islam

Page 1 of 2 | Total Record : 12