cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 1 (2017)" : 12 Documents clear
DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI ISLAM DI INDONESIA Amiruddin Amiruddin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.314

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berupaya menganalisis dinamika perkembangan  Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia dari perspektif sejarah. Penulis mengklaim bahwa Perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia adalah STI (Sekolah Tinggi Islam) didirikan di Jakarta pada tahun 1945, yang tiga tahun kemudian ditransformasi menjadi UII (Universitas Islam Indonesia) di Yogyakarta. Pada tahun 1951, selanjutnya, pemerintah mendirikan PTAIN di Yogyakarta dengan menegerikan fakultas agama Islam pada UII. Disamping itu, pemerintah mendirikan ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) di Jakarta pada tahun 1957. Hasil perkawinan kelembagaan antara PTAIN dan ADIA melahirkan IAIN  atau al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah didirikan pada tahun 1960 di Yogyakarta. Cabang-cabang IAIN di daerah ditingkatkan statusnya oleh pemerintah pada tahun 1997 menjadi STAIN. Perkembangan paling signifikan terjadi pada tahun 2002 dimana beberapa IAIN dan STAIN dikonversi menjadi UIN. Penulis mengklaim bahwa format terakhir ini merupakan perkembangan paling sentral di era globalisasi dengan konsep integrasi ilmu. Abstract: The Dynamics of Islamic Higher Education Institutions in Indonesia. This paper seeks to analyze the dynamics of the development of Islamic Higher Education in Indonesia from a historical perspective. The author claimed that the first Islamic College in Indonesia was the STI (Islamic High School) founded in Jakarta in 1945, which three years later was transformed into UII (Islamic University of Indonesia) in Yogyakarta. In 1951, furthermore, the government established PTAIN in Yogyakarta integrated in UII. In addition, the government established ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) in Jakarta in 1957. The result of institutional marriage between PTAIN and ADIA gave birth to IAIN or al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah was founded in 1960 in Yogyakarta. The IAIN branches in the region were upgraded by government in 1997 to become STAIN. The most significant developments occurred in 2002 where some IAIN and STAIN were converted to UIN. The author claims that this last format is the most central development in the era of globalization with the concept of science integration.  Kata Kunci: Indonesia, lembaga pendidikan tinggi, UIN, IAIN, STAIN
PENDEKATAN SAINTIFIK PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU Asnil Aidah Ritonga
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.339

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan pendekatan saintifik pembelajaran PAI pada SDIT di Kota Medan, berdasarkan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknis kualitatif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menyusun RPP pembelajaran PAI pada SDIT di kota Medan sudah melakukan variasi pencapaian dalam berbagai aspek yaitu dalam aspek pencapaian tujuan pembelajaran, pencapaian karakter yang diharapkan dalam pembelajaran PAI. Kemudian dalam menyusun kalimat dalam langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tuntutan pendekatan saintifik telah dituangkan dengan terurai meskipun indikator pencapaiannya belum terlihat secara jelas, dan juga sudah diterapkan meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan konsep pendidikan dan perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Penulis menyimpulkan bahwa kendala yang dihadapi di SDIT kota Medan (al-Fityan, Bunayya dan An-Nizam) tidak jauh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.   Abstract: Scietific Approach of Islamic Religious Learning in Islamic Integrated Primary School. This study aims to examine the application of scientific approach of PAI learning at SDIT in the city of Medan, based on qualitative approach with phenomenology method. Data analysis was performed using qualitative techniques of Miles and Huberman models. The results showed that in preparing the RPP of learning PAI at SDIT in Medan city has done variation of achievement in various aspect that is in aspect of achievement of learning goal, achievement of character expected in learning of PAI. Then in composing the sentences in the learning steps in accordance with the demands of the scientific approach has been poured down even though the indicators of achievement have not been clearly seen, and also applied even though there are some things that are not in accordance with the concept of education and need to get more serious attention. The author concludes that the obstacles encountered in SDIT Medan in such schools as Al-Fityan, Bunayya and An-Nizam, are not much different from one another.   Kata Kunci: pendidikan Islam, pendekatan saintifik, SDIT
INTERAKSI MUSLIM DAN KRISTIANI DALAM IKATAN KEKERABATAN DI SUMATERA UTARA Irwansyah Irwansyah
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.519

Abstract

Abstrak: Asumsi dasar yang dibangun pada penelitian ini adalah, hubungan muslim dan kristiani di Sumatera Utara berlangsung dalam berbagai domain dimana interaksinya bisa terjadi secara harmonis dan bisa pula disharmonis. Berpijak pada asumsi tersebut, permasalahan pada penelitian ini ditegaskan dalam pertanyaan “bagaimana hubungan muslim-kristiani di Sumatera Utara dalam ikatan kekerabatan?”. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan Sosiologi Agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan muslim dan kristiani di Sumatera Utara pada domain kekerabatan berlangsung harmonis ketika keduanya mengalami interaksi yang berkesinambungan; melebur dalam berbagai aktivitas sosial; saling menghormati dan melahirkan kesadaran saling membutuhkan satu sama lain. Sementara hubungan disharmonis terjadi ditandai dengan sikap saling mencurigai, persaingan satu sama lain serta lahirnya konflik-konflik yang tersembunyi (hidden conflict).Abstract: Muslim Christian Interaction within Kinship Tie in Sumatra Utara. The basic assumption of this study is that there has been a muslim and christian relations in North Sumatra in various domains, the interactions of which may occur in harmony, but also disharmony. Based on these assumption, the problem of this study is to answer the extent to which the muslim-christian relations occur in North Sumatra. Specifically, it traces the Muslims and Christians relations with regard to kinship. The study was conducted by using the socio-religious approach. The results of this study showed that the Muslim and Christian relations in North Sumatra, in the kinship domain run in harmony when both experienced continuous interaction, immerse themselves in various social activities, mutual respect and raise awareness of reciprocal relationship. While the disharmonious relationship occurred emanated from mutual suspicion, competition with one another and the hidden conflict.Kata Kunci: Muslim, Kristiani, Sumatera Utara, interaksi agama-agama
ISLAMIC EDUCATION DURING LANGKAT SULTANATE ERA IN 1912-1946: A Historical Study of Jam’iyah Mahmudiyah li Thalibil Khairiyah Langkat Zaini Dahlan
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.325

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengungkap pendidikan Islam pada masa Kesultanan Langkat 1912-1946, khususnya tentang Jam‘iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah Tanjung Pura Langkat ditinjau dari aspek kelembagaan, isi pendidikan, tenaga pendidik dan siswa, serta manajemen. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan sejarah sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jam‘iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah menggambarkan lembaga pendidikan modern formal pertama di Sumatera Timur. Dari aspek kelembagaan, Jam‘iyah Mahmudiyah memiliki visi misi, struktur organisasi, prasarana dan sarana yang modern, serta pendanaan yang jelas. Pada tahun 1912 Jam‘iyah Mahmudiyah mengadakan pembaruan di lembaga tersebut yang dimulai dengan pemberlakuan ujian dan berhak mendapatkan ijazah. Pendidiknya terdiri dari ulama yang memiliki latar belakang pendidikan dari Ummul Qurâ’ dan al-Azhar. Menurut penulis hal ini semakin kuat dengan kendali pengelolaan pendidikan yang langsung dikendalikan oleh organisasi yang dibawahi oleh Sultan Langkat. Abstract: Islamic Education in Langkat Sultanate During 1912-1946: A Historical Study of Jam'iyah Mahmudiyah li Thalibil Khairiyah Langkat. This study aims to reveal the Islamic education during the Langkat Sultanate 1912-1946, especially about Jam'iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah Tanjung Pura Langkat in terms of institutional aspects and management. This research is a historical research with social history approach. The results show that Jam'iyah Mahmudiyah Li Thalibil Khairiyah represents the systematic, planned, modern and first formal education institution in East Sumatra. As for the institutional aspect, the Jam'iyah has a vision of mission, organizational structure, infrastructure and modern facilities, as well as fixed budgeting. In 1912 the Jam'iyah reformed evaluation method, as well as standardized the qualification of the teachers of Umm al-Qurâ’ and Al-Azhar. According to the author, the system is getting stronger with the control of education management directly controlled by the organization that was under Sultan Langkat.  Keywords: Indonesia, Malay, Langkat sultanate, Islamic education, Jam’iyah Mahmudiyah
PAKIAH AND SADAKAH: The Phenomenon of Mamakiah Tradition in Padang Pariaman Novizal Wendry; Sri Chalida
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.342

Abstract

Abstrak: Pakiah dan Sadakah: Fenomena Tradisi Mamakiah di Padang Pariaman. Artikel ini mengungkap fenomena mamakiah pada komunitas pakiah, santri pesantren tradisional Padang Pariaman. Niimma mengklaim sadakah yang diperoleh oleh pakiah pada beberapa pesantren, diserahkan kepada buya. Penulis menelusuri latarbelakang historis kapan mamakiah terbentuk, faktor-faktor apa yang memotifasi munculnya, serta bagaimana sikap dan respon masyarakat. Melalui pendekatan fenomenologi ditemukan bahwa mamakiah telah eksis semenjak Islam masuk di Ulakan Sumatera Barat sekitar abad kelimabelas. Penulis berargumen bahwa pakiah disuport oleh masyarakat dan institusi. Selanjutnya menurut penulis Pakiah melakukan aktivitas mamakiah untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka selama proses belajar di surau. Dua motif lainnya adalah kultural dan pemahaman keagamaan. Penulis menyimpulkan bahwa selain motif di atas, pakiah memiliki modal kultural. Abstract: This article reveals the phenomenon of mamakiah in pakiah community, students of traditional Islamic boarding school (pesantren) Padang Pariaman. Niimma claims that sadakah obtained by pakiah in some pesantren, submitted to buya. The author traces the historical background to when mamakiah is formed, what factors motivate the emergence, and how the attitude and response of the community. Through the phenomenological approach it is found that mamakiah have existed since Islam entered Ulakan Sumatera Barat around the fifteenth century. The author argues that pakiah is supported by society and institutions. Furthermore, according to the author pakiah perform mamakiah activities to meet their basic needs during the learning process in surau (a simple form of mosque). Two other motifs are cultural and religious understanding. The writer believes that in addition to these motives, pakiah has also a cultural capital. Keywords: pakiah, buya, sadakah, mamakiah tradition
THE INTERACTIONS OF MADZHABS IN ACEH: The Tripolar Typology Fauzi Fauzi
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.327

Abstract

Abstract: Interaksi Madzhab di Aceh: Sebuah Tipologi Tripolar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat model interaksi di antara berbagai mainstream mazhab yang berkembang dalam praktik masyarakat  Aceh. Penulis menemukan bahwa terdapat tiga tipologi interaksi mazhab di Aceh, pertama; eksklufisme yang meyakini bahwa mazhab Syâfi’i merupakan model fikih yang layak untuk diikuti sebagai akibat pengajaran fikih selama ini berorientasi pada satu mazhab berkembang pada milieu pendidikan informal seperti Dayah. Kedua, inklusivisme, dimana masyarakat  cenderung bermazhab Shâfi‘î baik dalam ‘ibâdah maupun mu‘âmalah, sekalipun tetap membuka ruang bagi mazhab lain untuk diikuti. Ketiga, pluralisme yang beranggapan bahwa mazhab hanya merupakan sarana untuk memahami agama. Penulis menyimpulkan bahwa masyarakat perkotaan cenderung pada dua tipologi terakhir dalam bermazhab yang dikembangkan oleh pendidikan formal seperti perguruan tinggi Islam. Untuk membangun Aceh modern, masyarakat harus memahami mazhab secara tepat dan memposisikannya sebagai salah satu model pemahaman shari’ah yang menjadi rahmat li al-‘âlamîn sebagai social engineering. Abstract: This study aims to analyze the model of interactions amongst various legal school of thoughts in contemporary Aceh. This study was a field study with the qualitative method. The method used to analyze the data was descriptive analysis. In this research, it is revealed that the dynamic of interactions of Islam in spins around three typologies which are exclusivism, inclusivism and pluralism. As for the first typology, it is believed that the Shâfi‘î madhab is the only legitimate school and thus should be abide by. The second polar is inclusivism, a typology in which society tends to adhere to Shâfi‘î madhab in the realm of religious observation (‘ibâdah) and (mu‘âmalah) though it still gives room and tolerate any other madhabs to to survive side by side. The author asserts that this typology could be considered the neutral way to solve the current religious problems in Aceh. The third polar is pluralism that can be utilized as a principal standard in building the harmony, peace and respect amongst the Acehnese in order to accomplish the ultimate goal of Islam as rahmat li al-‘âlamîn. Keywords: Islamic law, madhab, Aceh, exclusivism, inclusivism, pluralism
RESISTENSI ULAMA DAYAH ACEH TAMIANG TERHADAP HAK-HAK PEREMPUAN DALAM KHI Muhammad Nasir
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.358

Abstract

Abstrak: KHI menurut beberapa kalangan sebagai wujud pembaharuan hukum Islam di Indonesia yang juga diklaim sebagai hukum yang banyak membela hak-hak perempuan, sekalipun masih ada kalangan yang berpendapat sebaliknya. Tulisan ini mengkaji bagaimana respons Ulama Dayah Aceh Tamiang terhadap pemberlakuan Kompilasi Hukum Islam (KHI), khususnya yang terkait dengan hak-hak kaum perempuan yang diatur dalam masalah pencatatan nikah, keabsahan talak dan harta bersama. Tulisan ini berangkat dari penelitian yang dilakukan terhadap Ulama Dayah Aceh Tamiang dengan menggunakan metode interviu dan observasi. Ada tiga teori yang dipergunakan dalam menganalisis data penelitian ini, yakni; Teori Relasi Negara dan Agama, Teori Otoritas Ulama dan Negara, dan Teori Concervative Turn. Penulis menemukan bahwa penentangan Ulama Dayah terhadap KHI dapat diidentifikasi pada dua tingkatan. Pertama, mereka tidak sependapat dengan beberapa aspek dari KHI seperti; pendaftaran pernikahan, harta kekayaan bersama dan prosedur hukum perceraian. Kedua, secara faktual bahwa Ulama Dayah tidak sepenuhnya terlibat dalam proses penyusunan rancangan naskah KHI tersebut. Abstract: The Resistance of Ulama Dayah Aceh Tamiang Against Women’s Rights in Compilation of Islamic Law (KHI).This article provides the latest information on how the Ulama Dayah Aceh Tamiang's response to the implementation of the Compilation of Islamic Law (KHI), particularly related to women's rights regulated in the issue of marriage registration, the validity of divorce, and joint property. This paper is based on research  conducted on Dayah Aceh Tamiang Ulama by using interview and observation method. There are three theories used in analyzing this research data, namely; theory of relations of state and religion, theory of ulama and state authority, and theory of conservative turn. The finding of this article reveals that the resistance of the Ulama Dayah against KHI can be identified in two levels. Firstly, they disagreed with some aspects of KHI in such as marriage registration, joint property, and divorce legal procedures. Secondly, the fact that Ulama Dayah were not involved in the process of legal drafting of the KHI.                                                                                Kata Kunci: KHI, ulama dayah, hukum, keluarga, wanita
ETIKA ISLAM DALAM RANAH POLITIK: Respon dan Tinjauan Kritis Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Provinsi Jambi terhadap Penyelenggaraan Pilkada Langsung, 2005-2015 Maulana Yusuf; Bahrul Ulum; M. Rusydi; M. Ishak
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.306

Abstract

Abstrak: Tulisan ini menelisik dampak Pilkada dan evaluasi kritis NU dan Muhammadiyah Jambi terhadap Pilkada langsung (2005-2015). Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data di lapangan berupa wawancara dan dokumentasi. Data-data dianalisis dengan menggunakan analisis hermeneutik dan fenomenalogis: Dari studi di lapangan didapatkan bahwa Pilkada langsung telah menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, karena itu NU dan Muhammadiyah memandang penting untuk meninjau dan memberikan catatan kritis. Pertama, penyelenggara Pilkada harus objektif, amanah, adil, dan transparan. Kedua, masyarakat pemilih harus  menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab dan menghindari money politic. Ketiga, Calon kepala daerah harus bersaing secara sehat, dan bersikap ksatria; siap kalah dan menang. Keempat, semua pihak dapat menghindari adanya  black campaign, dan pembunuhan karakter pada pihak pesaing. Kelima, semua pihak harus mengikuti aturan-aturan Pilkada secara konsisten dan senantiasa menempatkan nilai-nilai agama dan moral masyarakat menjadi pedoman dan penuntun. Abstract: Islamic Ethics in the Realm of Politics: Response and Critical Review of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah of Jambi Province Against the Implementation of Direct Elections (2005-2015). This paper reviews the impacts of election and the critical evaluations of NU and Muhammadiyah of Jambi against the direct elections during 2005-2015.This research uses field data collection techniques such as interviews and documentation. The Data obtained are analyzed by using hermeneutical and fenomenalogal analysis. The research found that the direct elections have negative impact on the people. Therefore, the NU and Muhammadiyah have considered to review and to provide critical notes; (i) The organizers of the elections must be objective, trustworthy, fair, and transparent. (ii) Voters should use their rights responsibly and avoid money politics, (iii) The candidates of the regional leaders must compete fairly, and be ready and gentleman whether they lose or win, (iv) All parties must avoid black campaign and character assassination to other competitors, (v) All parties must follow the rules of the election consistently and put religious (Islamic) values and public norms as guidance. Kata Kunci: Indonesia, Jambi, Melayu, NU, Muhammadiyah, etika, politik
AKULTURASI NILAI BUDAYA MELAYU DAN BATAK TOBA PADA MASYARAKAT MELAYU KOTA TANJUNGBALAI ASAHAN Mailin Mailin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.328

Abstract

Abstract: This paper attempts to analyze the acculturation process of Malays and Toba Batak cultures in Asahan Tanjungbalai, and to what extent the Sultan of Asahan influenced the process of acculturation. This study uses descriptive qualitative research method. The findings of this research showed that the process of acculturation Malay and Muslim Toba Batak culture in the city emerged from the government of Tanjungbalai Sultan Asahan I who ruled in the city before the independence era of the Republic of Indonesia. Religious leaders (ulama) and traditional leaders also played a role in the acculturation process of Malay cultural values in Tanjungbalai, especially in the Batak Toba ethnic Muslim milieu. Acculturation between these two cultures gave birth to a Malay culture which led to a different characteristic to the Malay culture in the archipelago. The author affirms that Malays in the city, by nature, tends to be tough in character as a result of Toba Batak ethnic character. Abstrak: Acculturation of the Malay and Toba Batak Cultural Values on Malay Societies in Tanjung Balai City Asahan North Sumatra. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bertujuan untuk mengetahui proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Tanjungbalai Asahan, serta seberapa besar pengaruh Sultan Asahan dalam proses akulturasi budaya Melayu dan Batak Toba di Asahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses akulturasi budaya Melayu dan budaya Batak Toba Muslim di kota Tanjungbalai berawal  dari  pemerintah Sultan Asahan I yang memerintah di kota Tanjungbalai sebelum kemerdekaan  Negara Republik Indonesia. Tokoh agama (ulama) dan tokoh adat juga turut berperan dalam  proses akulturasi nilai budaya Melayu di Kota Tanjungbalai, khususnya pada etnis Batak Toba Muslim. Akulturasi antar dua budaya ini melahirkan sebuah budaya Melayu yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan budaya Melayu di Nusantara. Melayu di kota ini memiliki sifat serta karakter yang cenderung kasar dan keras, seperti karakter etnis Batak toba. Kata Kunci: Melayu, Batak Toba, Kesultanan Asahan, Islam
TERJEMAHAN AL-HURÛF AL-MUQATHTHA‘AH VERSI INKAR AL-SUNNAH: Telaah Kritis Al-Qur`an dan Terjemah Versi Tadabbur Moh. Abdul Kholiq Hasan; Syamsul Hidayat
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 41, No 1 (2017)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v41i1.367

Abstract

Abstrak:  Penelitian ini mengkritisi al-Hurûf al-Muqaththa‘ah dalam buku al-Qur’an dan Terjemah Versi Tadabbur. Penelitian ini merupakan penelitian semantik kualitatif berbasis kepustakaan, dengan menggunakan metode deskriptif dan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Minardi Mursyid menggunakan tiga pendekatan dalam menerjemahkan al-Hurûf al-Muqaththa‘ah. Pertama, pendekatan fonetik Arab berupa bunyi dasar suara yang terdapat pada al-Hurûf al-Muqaththa‘ah. Kedua, pendekatan tematik dengan cara mengumpulan ayat-ayat lain yang ada kaitannya dengan al-Hurûf al-Muqaththa‘ah yang diterjemahkan. Ketiga, pendekatan matematik dengan memakai rumusan angka 19 temuan Rasyâd Khalîfah. Penulis menyimpulkan bahwa dari ketiga pendekatan tersebut terdapat deviasi kaidah penafsiran dan bahasa Arab. Abstract: Translation of al-Hurûf al-Muqaththa‘ah of Inkar al-Sunnah Version: a Critical Study of Minardi Mursyid’s al-Qur`an dan Terjemah Versi Tadabbur . This study aims to criticize translation of al-Huruf al-Muqathttha'ah in Al-Qur’an dan Terjemah Versi Tadabbur. This research is text-based using semantic qualitative approach. This study reveals that Minardi Mursyid used three approaches in translating al-Huruf al-Muqaththa‘ah. The first approach was Arabic phonetic considering through basic sounds of al-Huruf al-Muqaththa‘ah. The second approach was thematic by collecting other verses related to the translation of al-Huruf al-Muqaththa‘ah. The third approach was mathematic using phenomenon of number 19 found by Rasyad Khalifah. The author affirms that the three above mentioned approaches had deviated from the principles of Quran exegeses and Arabic language. Kata Kunci: Minardi, Inkar al-Sunah, al-Qur’an, al-Hurûf al-Muqaththa‘ah

Page 1 of 2 | Total Record : 12