cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
ISSN : 08520720     EISSN : 25023616     DOI : 10.30821
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman is a peer reviewed academic journal, established in 1976 as part of the State Islamic University of North Sumatra Medan (see: video), dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of Islamic Studies, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. MIQOT is accredited as an academic journal by the Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia (SK Dirjen Dikti No. 040/P/2014) valid through February 2019. Miqot welcomes contributions of articles in such fields as Quranic Studies, Prophetic Traditions, Theology, Philosophy, Law and Economics, History, Education, Communication, Literature, Anthropology, Sociology, and Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 1 (2019)" : 8 Documents clear
CULTURAL TRADITIONS IN DEATH RITUALS WITHIN THE COMMUNITY OF PIDIE, ACEH, INDONESIA Abdul Manan; Muhammad Arifin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.670

Abstract

Abstrak: Tradisi Kultural Kenduri Kematian dalam Masyarakat Pidie Aceh, Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk melihat akulturasi budaya dan agama dalam ritual kematian di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji konsep tasawuf yang terkait dengan tradisi ini. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan datanya diperoleh melalui pengamatan yang cermat dari tindakan ritual dan diskusi mendalam dengan protagonis utama dari kinerja ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual setelah kematian di Aceh masih mengandung jejak warisan pra-Islam yang telah dibiakkan dengan ajaran Islam sehingga tidak melangar aturan Islam. Dalam ritual kematian ini, unsur-unsur pra-Islam, yang bertentangan dengan ajaran Islam, telah diganti dengan doa yang direkomendasikan dalam Islam. Akulturasi ini bermanfaat bagi kedua belah pihak. Masyarakat Aceh dapat terus menerapkan budaya warisan mereka, sementara Islam dapat berkembang tanpa ada kontradiksi dalam budaya lokal.Abstract: This study was conducted to look into the cultural and religious acculturation in the rituals of death in Aceh. It aims to examine the concepts of Sufism related to these traditions. This research is a field research and its data was obtained through meticulous observation of the ritual action and in-depth discussion with the main protagonists of the ritual performance. The results of the research shows that the rituals following a death in Aceh still bear traces of their pre-Islamic legacy, which has been acculturated with the teachings of Islam, so it does not break the rules of Islam. In these rituals for death, the pre-Islamic elements, which conflict with the Islamic creed, have been replaced with prayers, which are recommended in Islam. This acculturation is beneficial to both sides, in one hand the Acehnese people may continue to implement their inherited cultures, while Islam can thrive without having any contradictions within the local cultures on the other. Keywords: tradisi, ritual yang mengikuti kematian, akulturasi, Aceh, Indonesia
PLURALISME HUKUM PERKAWINAN DI TAPANULI SELATAN Ikhwanuddin Harahap
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.656

Abstract

Abstrak: Pluralisme hukum merupakan fenomena universal yang dialami oleh semua bangsa. Ia mencakup berbagai aspek kehidupan manusia seperti hukum, politik, dan ekonomi. Pluralisme hukum adalah keniscayaan yang harus diterima. Dalam bingkai pluralisme hukum, masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan hukum, yaitu hukum adat, hukum agama dan hukum negara, tidak terkecuali masyarakat Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Masyarakat di daerah ini juga mengalami pluralisme hukum dalam bidang perkawinan. Paling tidak, tiga sistem hukum bisa menjadi pilihan mereka atau bahkan dengan melakukan kombinasi antar hukum yang ada. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk melihat bentuk relasi antar hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Tapanuli Selatan. Temuan penelitian ini mendeskripsikan bahwa pada level tertentu, secara umum, keragaman hukum perkawinan merupakan sebuah harmonisasi, di mana masyarakat menggunakan dua sistem hukum bahkan lebih pada saat yang bersamaan. Namun ada kalanya pada situasi tertentu, keragaman hukum ini berubah menjadi “ketegangan”.Abstract: Legal Pluralism on Marriage in South Tapanuli. Legal pluralism is an universal phenomenon experienced by all nations. He covers various aspects of human life, such as law, politics and economics. Legal pluralism is a necessity that must be accepted. In the framework of legal pluralism, people are faced with a variety of legal choices, namely customary law, religious law and state law. No exception is the South Tapanuli community of North Sumatra Province. Communities in this area also experience legal pluralism in the field of marriage. At least, there are three legal systems that can be choosed or by combining existing laws. This research was conducted with a phenomenological qualitative approach to see the form of inter-legal relations that lived in the midst of the community of South Tapanuli. The findings of this study describe that at a certain level, in general, the diversity of marital law is a harmonization, in which people use two legal systems even more at the same time. But sometimes in certain situations, the legal pluralism turns into “tension”.Kata Kunci: pluralisme hukum, perkawinan, Mandailing, Tapanuli Selatan
MUSLIM WOMEN AND VEILING: What Does It Signify? Siti Juwariyah
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.680

Abstract

Abstrak: Perempuan Muslim dan Penggunaan Cadar: Apa Maknanya?. Perdebatan mengenai perempuan Muslim dan tindakan mereka mengenakan hijab atau menutup wajah bukanlah fenomena baru. Makalah ini akan mengeksplorasi perspektif memakai hijab melalui analisis semiotik serta fenomena perempuan dan menutup wajah pada umumnya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan data dikumpulkan melalui pengamatan dan kajian pustaka. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kerudung melambangkan berbagai perspektif di tempat yang berbeda, budaya dan tradisi. Sebagaimana hijab sering diasosiasikan sebagai bagian agama Islam, hijab juga merupakan simbol yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hijab menjadi lambang identitas, religiusitas, kesopanan dan hak pilihan. Hijab juga mengungkapkan sikap mereka dalam masalah politik dan menunjukkan struktur sosial. Meskipun cadar bisa menggambarkan keterjangkauan perempuan dalam mengambil pakaian yang mereka pilih untuk hijab, beberapa simbol perlu ditinjau kembali karena mungkin ada beberapa perubahan dalam pemotretannya.Abstract: The debate upon women and their act of wearing hijab or veiling is not new phenomenon. This paper will explore the perspectives of wearing hijab through semiotic analysis as well as the phenomenon of women and veiling in general. This study employs qualitative approach, and the data were collected through observation and literature review. The findings indicate that veil symbolizes various perspectives in different places, cultures and traditions. As the veil often indexes as the religion of Islam, it is also a symbol which is affected by various factors. It becomes a symbol of identity, religiosity, modesty, and agency. The veil also reveals their stance in political matters and show the social structures. Even though the veil could portray the women’s affordability in taking up the clothing they choose to veil, some symbolizations need to be revisited since there might be some changes in its depictions. Keywords: women, veiling, hijab, symbol, Muslim
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Asrori Mukhtarom; Ety Kurniyati; Desri Arwen
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.667

Abstract

Abstrak: Tulisan ini membahas bagaimana perspektif al-Qur’an tentang pendidikan kewarganegaraan. Dengan menggunakan metode tafsir maudhû‘î dan metode historis kritis kontekstual dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah upaya membentuk warga negara yang baik. Menurut al-Qur’an, warga negara yang baik adalah warga yang memiliki hubungan harmonis dengan Tuhan yang diwujudkan dengan sikap takwa dan beriman, memiliki hubungan harmonis sesama manusia yang diwujudkan dengan sikap saling mengenal atau bersaudara dan melaksanakan amar ma‘rûf nahî munkar, serta memiliki hubungan harmonis dengan alam yang diwujudkan dengan penjagaan dan pelestarian lingkungan. Materi pendidikan kewarganegaraan yang diisyaratkan al-Qur’an meliputi hak asasi manusia, persaudaraan, persamaan dan keadilan, serta bela negara berlandaskan nilai-nilai tauhid yang bermuara pada satu tujuan yaitu ibadah kepada Allah.Abstract: Citizenship Education in Qur’anic Perspective. This paper discusses how the Qur’anic perspective on citizenship education. By employing the maudhû‘î exegesis method and critically-contextual-historical method with a qualitative approach, this study reveals that citizenship education is an effort to form good citizens, in a sense those who have a harmonious relationship with God which is manifested by an attitude of piety and faith, have a harmonious relationship with other humans which is realized by the attitude of getting to know each other or brotherhood and carrying out the amar ma‘rûf nahî munkar, and having a harmonious relationship with nature which is realized by safeguarding and preserving the environment. The citizenship education material indicated by the Qur’an includes human rights, brotherhood, equality and justice, and defending the country based on the values of monotheism which lead to one goal, namely worship to Allah.Kata Kunci: pendidikan, kewarganegaraan, al-Qur’an, tafsir
THE MODALITIES AND ROLES OF PESANTREN TO FACE THE ISSUES OF TERRORISM IN THE REGION OF MALANG Gonda Yumitro; Dyah Estu Kurniawati; Saiman Saiman; Peggy Puspa Haffsari
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.646

Abstract

Abstract: This study analysed the modalities and roles of pesantren (Islamic Boarding Schools) to face the issues of terrorism in the region of Malang. Contrary to the notion which stated that pesantren are the headquarters of terrorist groups, this paper discusses the existence of pesantren in the region of Malang with a various ideological background as the strategic and prominent stakeholders to face the issues of terrorism. The methodology was descriptive, with the concept of modality for deradicalisation. The result found that pesantren have modalities in dealing with issues of terrorism, namely, the spiritual modalities, the curriculum modality, the kyai and santri relations modality, and the social modality. Moreover, it is indicated that the pesantren and issues of terrorism are not interrelated. Pesantren have created an education system as the internal and external roles that can overcome the spread of radical movement activities and the issues of terrorism.Abstrak: Modalitas dan Peran Pesantren dalam Mengahadapi Isu Terorisme di Wilayah Malang. Studi ini menganalisa modalitas dan peran pesantren dalam menghadapi isu terorisme di wilayah Malang. Berbeda dengan pemikiran yang menyatakan bahwa pesantren merupakan pusat pengembangan bagi kelompok teroris, paper ini mendiskusikan keberadaan pesantren di Malang dengan latar belakang ideologi yang berbeda sebagai stakeholder yang strategis dan penting untuk menangani isu terorisme. Metodologi yang digunakan adalah diskriptif dengan konsep modalitas deradikalisasi. Adapun hasil yang ditemukan mengindikasikan bahwa pesantren mempunyai beberapa modalitas dalam menangani isu terorisme seperti modalitas spiritual, kurikulum, relasi kiai dan santri, serta modalitas social. Lebih lanjut, terdapat indikasi bahwa pesantren dan isu terorisme tidak terkait satu dengan lainnya. Pesantren sudah membangun sistem pendidikan sebagai bentuk peran internal dan eksternalnya untuk menyelesaikan penyebaran aktivitas gerakan radikal dan isu terorisme.Keywords: pesantren, terrorism, Malang, modality, deradicalisation
DISKURSUS PENAFSIRAN AYAT AL-HURÛF AL-MUQATHTHA‘AH: Studi Analisis Tekstual dan Kontekstual Abdul Muiz Amir; Fahmi Gunawan
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.615

Abstract

Abstrak: Al-Hurûf al-muqaththa‘ah di dalam al-Qur’an dipandang oleh sebagian umat Islam tekstualis hanya sebagai simbol yang sakral tanpa makna, sehingga tidak menunjukkan sisi kemanfatannya sebagai pedoman. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna ayat al-hurûf al-muqaththa‘ah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 1., dengan menggunakan metode kajian literatur yang meliputi tafsir, sastra bahasa Arab dan sejarah. Analisis data menggunakan pendekatan gramatikal bahasa Arab secara tekstual dan historis secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-hurûf al-muqaththa‘ah menjadi potret bagi sumber dan proses turunnya al-Qur’an secara autentik yang menunjukkan kelemahan sastra Arab saat berhadapan dengan wahyu. Keistimewaan al-hurûf al-muqaththa‘ah terletak pada nilai sastra dan kedalaman makna yang seyogianya dapat berperan aktif sebagai perekat ayat-ayat al-Qur’an lainnya secara holistik.Abstract: The Interpretation Discourse of Verses of al-Hurûf al-Muqaththa‘ah: Textual and Contextual Analysis. This article aims to reveal the meaning of the verse al-hurûf al-muqaththa‘ah in the Q.S. al-Baqarah/2: 1 by employing a historical and literature review method with textual and historical context grammatical approaches data analysis. The results of the study show that it portray the source and process of authentic Qur’an revelation. The mysterious eloquence of al-hurûf al-muqaththa‘ah lies in the literary value and the depth of meaning even though it consists only of a series of letters. The effort of the commentator to uncover the meaning of the verses of al-hurûf al-muqaththa‘ah should be able to play an active role as the uniting factor for other Qur’anic verses holistically. Therefore, a set of methods or approaches is required that is adequate to uncover the meaning that is in accordance with the thematic contexts of the verse.Kata Kunci: al-hurûf al-muqaththa‘âh, pendekatan tekstual, pendekatan kontekstual, penafsiran, al-Qur’an
STRENGTHENING LINGUISTIC AND EMOTIONAL INTELLIGENCE OF MADRASAH TEACHERS IN DEVELOPING THE QUESTION AND ANSWER METHODS Syahraini Tambak; Desi Sukenti
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.672

Abstract

Abstrak: Memperkuat Kecerdasan Linguistik dan Emosional Guru Madrasah dalam Mengembangkan Metode Tanya Jawab. Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan metode tanya jawab dengan memperkuat kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional guru Madrasah Tsanawiyah. Jenis penelitian adalah korelasi yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Negeri di seluruh Kota Pekanbaru. Analisis data menggunakan statistik inferensi dengan regresi linier. Penelitian ini menemukan bahwa kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional secara simultan berkontribusi kuat untuk mengembangkan kemampuan guru menggunakan metode tanya jawab dalam proses pembelajaran. Penguasaan kecerdasan linguistik dan kecerdasan emosional dapat mengembangkan keberhasilan guru-guru Madrasah Tsanawiyah menggunakan metode tanya jawab dalam pembelajaran. Kecerdasan emosional berkontribusi lebih tinggi daripada kecerdasan linguistik dalam mengembangkan keberhasilan guru-guru Madrasah Tsanawiyah dalam menggunakan metode tanya jawab selama pembelajaran.Abstract: This research explores the development of a question and answer method by strengthening linguistic and emotional intelligence of Madrasah Tsanawiyah teachers. The type of research is the correlation carried out in the State Madrasah Tsanawiyah throughout Pekanbaru City where the subjects of this study are teachers in various fields of Islamic studies. Linguistic intelligence is predicted to be able to develop the success of teachers using the question and answer method, as well as emotional intelligence. The emotional intelligence contributes higher than linguistic intelligence in developing the success of Madrasah Tsanawiyah teachers in using question and answer methods during learning.Keywords: linguistic, emotional intelligence, madrasah, Pekanbaru
Pemikiran Fikih Muhammad Asywadie Syukur Abdul Helim
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v43i1.651

Abstract

Abstrak: Artikel ini berupaya mengkaji pemikiran fikih Asywadie Syukur sebagai seorang ulama, akademisi dan sekaligus politisi. Pemikirannya meliputi tidak hanya terkait persoalan klasik tetapi juga persoalan kontemporer dan bahkan yang masih menjadi polemik di masyarakat, yang dihasilkan dari proses metodologis baik metode qaulî maupun metode manhajî. Dari proses inilah membuat Asywadie Syukur tidak terikat hanya pada satu mazhab tetapi terbuka pula pada mazhab yang lain. Namun karena referensi yang digunakan lebih dominan ke mazhab Syâfi‘î, kecenderungan fikih pun identik ke mazhab Syâfi‘î dengan tipologi tradisionalisme sekaligus neo-tradisionalisme bermazhab. Di sisi lain, Asywadie Syukur juga bermanhaj pada teori-teori kemaslahatan sehingga jika dikembalikan pada teori besar tipologi, disamping masuk dalam tipologi tradisionalisme ia juga masuk dalam tipologi modernisme.Abstract: Islamic Legal Thought of Muhammad Asywadie Syukur. This article seeks to examine Islamic legal thought of Asywadie Syukur as a scholar, academician and politician. His works covers not only in the field of the classical perspective, but also related to contemporary issues. But whatever they are, its naturally produced through the methodological process using either a qaulî or manhajî method. Based on this process, Asywadie Syukur is not confined to one particular school of legal thought. However, due to the fact that the references used are predominantly that of Syâfi’î, the tendency of his thought is identical with the principles of the latter with a typology of traditionalism with neo-traditionalism as a consequences of madhhab follower. Consequently, Asywadie Syukur follows the theories of public interest so that if is referred to grand theory of typology, in addition to traditionalism typology he also engaged in modernism typology.Kata Kunci: fikih, Asywadie Syukur, qaulî, manhajî, ushul fikih 

Page 1 of 1 | Total Record : 8