Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15, No 2 (2014)"
:
10 Documents
clear
TRANSFORMASI PERAN DA'I DALAM MENJAWAB PELUANG DAN TANTANGAN (Studi terhadap Manajemen SDM)
Aris Risdiana
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2918.187 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15210
Seiring perkembangan zaman, Dakwah Islam mengalami persoalan yang kompleks terkait dengan masalah kehidupan. Pada dasarnya Agama Islam mampu menjawab segala persoalan yang dihadapi Umat Islam itu sendiri. Hal itu tergantung dari para da’i sejauh mana wawasan dalam melihat realita yang ada. Sehingga perlu adanya muballigh yang mampu memiliki peta dakwah terhadap obyek dakwah terkait dengan problematika, budaya, dan karakter yang berbeda-beda. Sedemikian kompleks permasalahan yang dihadapi mad’u, maka perlu da’i yang mampu menjalani multi peran dalam masyarakat sesuai sosio-historis dalam implementasinya.Gambaran tentang pengembangan peran da’i akan penulis sampaikan sebagai referensi. Sehingga da’i mampu tampil prima sebagai pribadi-pribadi yang mencerahkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk memujudkan hal tersebut, para da’i perlu memahami perannya sebagai komunikator, konselor, problem solver, manajer, dan entrepreneur. Dengan demikian proses Dakwah Islamiyah mampu menjadi proses perubahan sosial melalui komunikasi. Sehingga tercipta masyarakat yang kuat dalam aspek aqidah, akhlak, ibadah dan mu’amalah.
INOVASI MATERI DAKWAH DARI IBADAH KE MUAMALAH BAGI ORMAS ISLAM UNTUK MEREALISASIKAN MASYARAKAT INKLUSIF DI KOTA SEMARANG
Siti Hasanah
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2588.782 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15205
Dakwah Islam pada dasarnya adalah fardu bagi setiap muslim, di mana aktifitas tersebut memerlukan pemahaman Islam secara komprehensif untuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam aktifitas kehidupan. Nilai-nilai Islam yang bersumber dari ajaran aqidah, syariah dan akhlak dapat diterapkan secara utuh, bukan setengah-setengah yang menyebabkan pada pola kehidupan yang memisahkan antara ajaran agama dengan urusan duniawi. Padahal antara urusan duniawi dan akhirat yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW tidak boleh terpisah. Oleh karena itu, perlu adanya dakwah transformatif bagi para da’i dalam menyampaikan risalah Islam. Dakwah transformatif dapat dilakukan dalam dua metode, yaitu metode refleksi dan aksi.Kota Semarang Propinsi Jawa tengah terdiri dari 16 Kecamatan 186 Kelurahan dengan dengan jumlah penduduk 1.260.985 orang yang mayoritas penduduknya beragama Islam dengan prosentasi 98%. Sebagai kota yang melaksanakan nilai-nilai religiusitas terbukti dengan dinamika kegiatan-kegiatan ta’lim yang diselenggarakan organisasi-organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Salimah, jama’ah tarbiyah, dan lainnya. Oleh karena itu, organisasi masyarakat (ormas) Islam memiliki peran yang strategis untuk mewujudkan kondusifitas keberagamaan di Kota Semarang.
KONTRIBUSI FALSAFAH POBINCI-BINCIKI KULI MASYARAKAT ISLAM BUTON BAGI DAKWAH ISLAM UNTUK MEMBANGUN KARAKTER GENERASI MUDA INDONESIA
Mahrudin Mahrudin
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2938.065 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15206
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi falsafah Pobinci-Binciki Kuli di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Falsafah ini merupakan warisan Kesultanan Buton dan sudah mulai terlupakan oleh generasi muda Buton saat ini. Falsafah ini diyakini dapat membangun karakter dan kesehatan mental generasi muda Indonesia. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan etnografi, hasil penelitian menujukkan bahwa falsafah Pobinci-Binciki Kuli dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda masyarakat Buton. Hal ini karena falsafah ini mengajarkan pentingnya nilai-nilai moral dalam bermasyarakat, yaitu pomae-maeka, popia-piara, pomaa-maasiaka, dan poangka-angkataka.Penerapan falsafah ini dalam kehidupan bermasyarakat dapat mempengaruhi perilaku generasi muda untuk tidak melakukan tindak kekerasan, merampas hak orang lain, penggunaan obat-obat terlarang, dan terorisme. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa falsafah ini dapat memberikan kontribusi bagi penyebaran dakwah Islam dalam membangun karakter generasi muda bangsa saat ini.
DAKWAH MELALUI MEDIA ELEKTRONIK: Peran dan Potensi Media Elektronik dalam Dakwah Islam di Kalimantan Barat
Juniawati Juniawati
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3005.408 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15201
Perkembangan media massa pada saaat ini mengalami kemajuan yang pesat. Media massa telah menjadi industri besar di tengah masyarakat Indonesia maupun di daerah. Hadirnya radio sebagai salah satu media masa elektronik dan dikembangkan melalui media digital telah memberi peluang manusia saling bertemu dan berinteraksi di dunia maya. Sehingga siaran radio lebih cepat lagi diterima telinga pendengar sebagai upaya media dalam menyebarluaskan berita dengan cepat, menembus batas-batas wilayah dan waktu. Oleh karena itu, media tersebut harus dimanfaatkan oleh umat islam guna mendakwahkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat.Begitu pula di Propinsi Kalimantan Barat, dimana media elektronik khususnya radio, dalam perkembangan 10 tahun terakhir mencapai 32 stasiun radio. Hendaknya dijadikan sebagai jembatan pertemuan da’i dengan mad’u guna menciptakan dan mendorong keterlibatan aktif dari umat Islam dalam usaha membantu memotivasi umat Islam agar menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Melalui dakwah islam yang dijalani oleh wartawan muslim hendaknya berpegang pada jurnalistik dakwah. Dan ditunjang dengan penyiar radio yang mampu mengarahkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik sebab penyiar merupakan ujung tombak dalam dakwah Islam melalui radio.
MELIHAT OBJEKTIFITAS MEDIA MASSA TERHADAP PERNYATAAN PAUS BENEDICTUS XVI
Reza Aprianti
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3625.975 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15207
Manusia membutuhkan media yang memberikan informasi atas sebuah realitas. Salah satu media yang banyak digunakan adalah surat kabar atau Koran. Namun dalam proses penyampaian informasi oleh media tidak semua peristiwa diberitakan media, ada proses seleksi mana berita yang layak diberitakan. Faktor-factor yang mempengaruhi proses pengolahan berita adalah ideologi media tersebut. Penulis memilih harian Kompas dan Republika sebagai surat kabat terbesar di Indonesia yang dapat mempengaruhi masyarakat banyak. Republika adalah Koran yang lahir dengan latar belakang Islam (ICMI) dimana misinya mengedepankan Islam. Sementara Kompas, walaupun sudah Independen dan terlepas dari pendirinya, Partai Katolik, namun stereotip Kristin masih melekat. Untuk melihat perbedaan kedua media tersebut dalam mengkonstruksi beritanya, penulis mengambil isu sentiment keagamaan yang dikeluarkan oleh Paus Benedictus XVI terhadap Islam yang terjadi di Universitas Regensburg, Jerman. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan paradigma produksi dan pertukaran makna yang disebut konstruksionis dengan menggunakan metode analisis Framing sebagai pisau analisa. Analisis Framing yang dipilih penulis adalah model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki serta teori Agenda Setting.Penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas dan Republikamempunyai framing yang berbeda. Republika mengkonstruksi berita yang berpeluang untuk memunculkan sisi positif pihak Muslim dengan memanfaatkan fakta yang ada. Sedangkan Kompas lebih pada keberpihakan atas opini Paus dengan membungkus sentimen keagaman Paus kedalam satu pencitraan yang positif sehingga dapat mempegaruhi publik melalui konstruksi berita.
OBJEK DAKWAH YANG TERNAFIKAN: Studi Kasus Pada Komunitas Samin
Moh. Rosyid
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4024.368 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15202
Negara kita di dalamnya terdapat berbagai budaya, suku, ras, kepercayaan, dan agama. Secara perundangan, negara mengakui adanya ragam budaya, suku, ras, dan agama, meskipun kepercayaan dipadukan dengan budaya. Meski pemeluk kepercayaan mengaku beragama sesuai dengan keyakinannya, sebagaimana warga Samin mengaku ber-agama Adam, oleh pemerintah dianggap kepercayaan. Pengakuan publik tak banyak mengetahui karena masih membenarkan anggapan kolonial masa lalu bahwa Samin ateis, kolot, miskin, dan introfet. Imbasnya warga Samin tak dijadikan mad’u. Para da’i perlu memahami bahwa ada mad’u yang belum digarap secara optimal. Pedoman yang ditetapkan bahwa Kepercayaan terhadap TYME merupakan budaya spiritual berunsur tuntunan luhur dalam wujud perilaku, hukum dan ilmu suci yang dihayati penganutnya dengan hati nurani dalam kesadaran dan keyakinan terhadap TYME.Da’i yang berperan adalah guru agama Islam di sekolah formal, modin desa, dan guru mengaji. Bagi warga Samin yang kawin dengan cara Islam di KUA, modin desa dapat berperan sebagai pendakwah sejak belajar membaca syahadatain dan dididik memahami ajaran Islam pasca-nikah (mualaf). Begitu pula guru mengaji dapat berperan sebagai pendakwah dengan memberi bekal pemahaman pada mualaf (eks-Samin) dalam forum nonformal seperti kajian agama secara personal atau kelompok. Ketiga sosok da’i ditunggu kiprahnya menjadi da’i sejati.
KEBERSYUKURAN (Upaya Membangun Karakter Bangsa Melalui Figur Ulama)
Ida Fitri Shobihah
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3763.008 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15208
Syukur menjadi salah satu bagian dari psikologi positif yang menggambarkan kondisi psikologis internal dalam nuansa Islam seperti jawaban dari respon terhadap semua yang mengalami. Bagi para ulama, syukur adalah ungkapan terima kasih secara penuh kepada Allah yang diwujudkan melalui tindakan yang terpuji. Proses syukur melibatkan kapasitas kognitif, unsur-unsur budaya dan agama yang dimiliki oleh setiap individu melalui proses belajar yang dialami. Orang-orang yang bersyukur dengan totalitas akan didorong untuk menjadi orang yang ikhlas, sabar, bersahaja, tidak mudah untuk menyalahkan Tuhan, murah hati, cukup, humanis, tidak materialistis, berpikir positif, dan nrimo. Dengan demikian, kondisi psikologis orang-orang yang bahagia, tenang, dan kedamaian dalam keadaan apapun. Orang-orang yang bersyukur mencerminkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar Indonesia , serta menjadi bagian dari upaya untuk membangun karakter bangsa.
MENGEMBANGKAN PRIBADI YANG TANGGUH MELALUI PENGEMBANGAN KETERAMPILAN RESILIENCE
Ros Mayasari
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3495.385 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15203
Menjalani kehidupan adalah sesuatu yang harus dijalani setiap makhluk ciptaan Allah SWT. Perkembangan zaman yang semakin modern menjadikan hidup semakin kompleks dan penuh tantangan, diperlukan pribadi ketangguhan, kepribadian tahan banting agar dalam menghadapi berbagai tantangan, kesulitan hidup baik sebagai pribadi maupun kelompok tangguh dalam istilah agama, merupakan pribadi yang senantiasa bersyukur atas segala apapun yang diberikan Allah SWT kepadanya apakah itu nikmat atau ujian. Untuk menjadi pribadi yang tangguh adalah tidak mudah, maka diperlukan latihan agar keterampilan pribadi yang tangguh dapat terasah sehingga apapun keadaannya dapat berprasangka baik kepada Allah SWT. Keterampilan resilience akan terlatih dengan interaksi individu dengan lingkungan, semakin individu berhasil mengatasi krisis yang dihadapi maka akan semakin meningkatkan potensi individu dalam rangka menghadapi tahapan perkembangan berikutnya. Hal itu pula yang akan menjadikan mental dan jiwa seseorang akan selalu hidup dan mempunyai energi positif yang terpancarkan. Selalu optimis dalam menhghadapi segala masalah kehidupan yang menerpa.
KECENDERUNGAN INTERNET ADDICTION DISORDER MAHASISWA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI DITINJAU DARI RELIGIOSITAS
A. Said Hasan Basri
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3730.118 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15209
Penelitian ini dilatarbelakangi risiko mahasiswa untuk mendapatkan kecenderungan Internet Addicted Disorder. Hal itu dikarenakan status mahasiswa di perguruan tinggi untuk mendapatkan semua informasi. Di sisi lain, mahasiswa mudah terpengaruh oleh internet karena tidak memiliki pengendalian diri yang lemah. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara religiositas dengan kecenderungan Internet Addiction Disorder. Selain itu, sejauh mana perbedaan religiositas dan kecenderungan tersebut ditinjau dari jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Purposive sampling, sedangkan subyek penelitian ialah mahasiswa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi yaitu mahasiswa laki-laki dan perempuan angkatan 2009-2011.Ada 148 mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini, 70 laki-laki dan 78 perempuan. Hasil Korelasi Pearson dengan menggunakan analisis product moment menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan dan negatif antara religiositas dan kecenderungan Internet Addiction Disorder, dengan nilai (r) = 0,444 korelasi, dan p <0,01, itu adalah 0,000. Hasil analisis regresi dengan (R Square) adalah 0,468 yang menjelaskan religiositas memberi efek terhaadap kecenderungan Internet Addiction Disorder sebanyak 4,68%. Perbandingan hipotesa dengan menggunakan uji t juga menunjukkan bahwa ada perbedaan antara religiositas dan kecenderungan Internet Addiction Disorder dilihat dari jenis kelamin. Perbandingan tingkat riligiositas pada mahasiswa perempuan lebih tinggi daripada laki-laki dengan skor 70,04 untuk pria dan 71.04 untuk perempuan. Hasil derajat perbandingan kecenderungan Internet Addiction Disorder menunjukkan bahwa laki-laki 63,76 dan 66,09 untuk wanita.
DAKWAH TRANSFORMATIF LEMBAGA PESANTREN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER
Ahidul Asror
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3098.093 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15204
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Agama Islam yang cukup tua di Indonesia. Sejak zaman penjajahan, pesantren mempunyai andil besar dalam memajukan negara Indonesia. Pada dasarnya pesantren mengajarkan ilmu agama islam yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin kontemporer, pesantren mengalami pasang surut dalam mengembangkan dan bersaing dengan lembaga pendidikan formal. pesantren dituntut mempunyai metode dalam proses pengajarannya sebagai upaya berdakwah yang transformatif. agar jati diri pesantren dalam menegakkan Islam di tengah-tengah kehidupan sosial dengan selalu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat.Oleh karena itu, pesantren harus mampu memainkan peran dalam masyarakat. Diantaranya ialah memberdayaan ekonomi masyarakat sipil yang tengah dihimpit oleh kapitalisme global, mengembangkan sikap toleran dan terbuka, melarang setiap bentuk kekerasan yang diusung ideologi Islam radikal yang berwatak keras dan eksklusif, serta memperjuangkan terwujudnya identitas gender yang penuh dengan semangat kesetaraan dan berkeadilan.