cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
ESOTERIK
ISSN : 24607576     EISSN : 225028847     DOI : -
Core Subject :
Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf is academic journal published by Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus collaborated with Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (Kotaterapi). Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf publish two times a year (each June and December). The focus of his study are Tasawuf, Sufism, Thariqah, Islamic Psychology, Islamic Psychotherapy, Spirituality, Mystical Experiences. Esoterik journal is open to lecturers, students and researchers who are interested in the above studies.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2015)" : 11 Documents clear
TASAWUF CINTA DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEMPURNAAN MANUSIA MENURUT ABD AL-KARIM AL-JILI Farida, Umma
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015): ESOTERIK JURNAL AKHLAK DAN TASAWUF
Publisher : ESOTERIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak sedikit  kaum sufi yang menjadikan mahabbatullahsebagai  puncak harapan hidupnya, seperti Rabi’ah   al-‘Adawiyah,  Dzan-Nun  al-Masri, Bayazid   dan  lainnya, sepadan dengan banyaknya kaum sufi yang menorehkan karya  mahabbah atau  tasawuf cintanya, seperti Ibn Abi al-Khair,  Jalal  ad-Din  ar-Rumi, Abd   al-Karim  al-Jili, Ibn  al-Faridh, dan  Abu  Hamid al-Ghazali.  Tulisan ini berupaya  mendeskripsikan  pemikiran  tasawuf  cinta al-Jili dengan dikaitkan dengan konsep manusia yang sempurna.  Manusia  sempurna  adalah  manusia  yang dapat mencerminkan nama  dan  sifat-sifat Tuhan. Manusia  sempurna  ini   mewujud  dalam    para   nabi, rasul,  dan  kaum sufi  yang  suci  (wali). Untuk meraih kesempurnaan ini memerlukan usaha  untuk mencintai dan  mendekat kepada Tuhan melalui berbagai tahap atau  tingkatan, dari  al-khullah, al-hubb,  al-khitam, dan al-ubudiyah.
MAKNA KEMATIAN DALAM PERSPEKTIF TASAWUF Karim, Abdul
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015): ESOTERIK JURNAL AKHLAK DAN TASAWUF
Publisher : ESOTERIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan manusia di dunia menjadi persoalan yangmenarik untuk dikaji, ketika ternyata hal itu memilikisuatu keterkaitan yang sangat erat dengan proses menujukehidupan akhir. Di sinilah awal dari sebuah misterikematian, ketika manusia mengalami proses peralihandari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat yangabadi. Berbagai fenomena muncul dari proses manusiadijemput oleh kematiannya. Ada berbagai spekulasi yangberkembang bahwa jika manusia itu mengalami tandatandakematian yang baik maka sesungguhnya ia masukke dalam golongan khusnul khatimah. Dan sebaliknyajika ada tanda-tanda dan fenomena tertentu yang burukterjadi menjelang kematian maka ia termasuk ke dalamgolongan su’ul khatimah. Ada asumsi bahwa tanda-tandayang baik dan buruk itu sangat terkait dengan perilakuseseorang ketika hidup di dunia. Itu artinya trackrecord seseorang menjadi salah satu variabel yang sangatmenentukan dalam memunculkan fenomena yangterjadi menjelang kematian. Oleh karena itu manusiaperlu belajar memahami arti hidup dan kehidupan yangsesungguhnya untuk memberikan terapi psikologis agarmanusia mampu mempersiapkan diri dengan optimismeyang tinggi dalam menghadapi kematian.
SHALAT SEBAGAI PERJALANAN RUHANI MENUJU ALLAH Istianah, Istianah
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015): ESOTERIK JURNAL AKHLAK DAN TASAWUF
Publisher : ESOTERIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Shalat sebagai perjalanan spiritual, proses transendensi(berpindahnya jiwa) menuju Allah. Naiknya jiwameninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam dirimanusia menuju kehadirat Allah. Menuju Zat yangMaha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaranistirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan,dan sumber mencari inspirasi. Manusia harus bergerakdi sebuah ruangan yang mana Allah sebagai porossumbunya. Orang yang telah mampu memahami bahwaAllah sebagai sumbu segala gerak hidupnya, dialahsebetulnya yang telah mengalami kebebasan. Sebabkebebasan secara spiritual merupakan kemampuanmanusia menaklukan ego duniawinya dan desahan setanyang selalu tampak menggiurkan. Dengan mengarahkanjiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahankarena berada pada ketinggian yang tak terbatas. Pikiranterlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diridari segala macam keruwetan. Sehingga jiwa mengalamiketenangan dan ketentraman. Oleh karena itu, setelahshalat seharusnya manusia aktif menjalankkan perankekhalifahannya dengan melakukan transformasi sosial,merealisasikan misi Rasulullah saw. sebagai Rahmatan lil‘Alamin dengan membangun tatanan kehidupan duniayang aman, adil dan sejahtera.
SHALAT SEBAGAI PERJALANAN RUHANI MENUJU ALLAH Istianah, Istianah
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.943

Abstract

Shalat sebagai perjalanan spiritual, proses transendensi(berpindahnya jiwa) menuju Allah. Naiknya jiwameninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam dirimanusia menuju kehadirat Allah. Menuju Zat yangMaha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaranistirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan,dan sumber mencari inspirasi. Manusia harus bergerakdi sebuah ruangan yang mana Allah sebagai porossumbunya. Orang yang telah mampu memahami bahwaAllah sebagai sumbu segala gerak hidupnya, dialahsebetulnya yang telah mengalami kebebasan. Sebabkebebasan secara spiritual merupakan kemampuanmanusia menaklukan ego duniawinya dan desahan setanyang selalu tampak menggiurkan. Dengan mengarahkanjiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahankarena berada pada ketinggian yang tak terbatas. Pikiranterlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diridari segala macam keruwetan. Sehingga jiwa mengalamiketenangan dan ketentraman. Oleh karena itu, setelahshalat seharusnya manusia aktif menjalankkan perankekhalifahannya dengan melakukan transformasi sosial,merealisasikan misi Rasulullah saw. sebagai Rahmatan lil‘Alamin dengan membangun tatanan kehidupan duniayang aman, adil dan sejahtera.
TASAWUF DAN TAREKAT: Komparasi dan Relasi ulya, Ulya
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.1286

Abstract

ABSTRAKManusia dilahirkan di dunia melalui campur tanganTuhan, maka tiada yang lebih indah dan lebih berhargakecuali ketika menjalani kehidupan ini, dia bisa merasakankedekatan dengan-Nya dan jika meninggal nanti bisabertemu dengan-Nya. Agar bisa merasakan kedekatandan bisa bertemu dengan-Nya maka manusia harusselalu menyempurnakan kualitas keberagamaannya.Membicarakan keberagamaan manusia atau bagaimanamanusia menjalankan agamanya banyak ragamnya: adakeberagamaan normatif, yang mana ketika manusiamenjalankan agamanya lebih mengedepankan padakesesuaiannya dengan aturan-aturan agama atautidak; keberagamaan filosofis, yang mana tatkalamanusia menjalankan agama lebih berlandaskan padaargumentasi-argumentasi rasional; dan keberagamaanmistis, yang mana tatkala manusia menjalankan agamanyalebih menonjolkan aspek emosional kedekatan denganTuhannya. Jika keberagamaan normatif terlahir daritradisi berpikir fiqh, keberagamaan filosofis terlahir daritradisi kalam, maka keberagamaan mistis terlahir daritradisi sufisme. Keberagamaan mistis yang terlahir daritradisi sufisme atau istilah lain adalah tasawuf, dan tasawufini menjadi salah satu wajah Islam yang memusatkanperhatiannya pada pembersihan aspek mental batiniahatau aspek ruhaniah manusia menuju tercapainyaakhlak-akhlak mulia sehingga menimbulkan pengalamankeberagamaan berupa rasa dekat dan selalu ‘bersama’ Tuhan. Tradisi tasawuf di awal perkembangannya telahmenarik antusiasme masyarakat muslim awam untukmengikutinya sehingga ulama-ulama sufi menyusunajaran-ajaran tasawuf, mengajarkannya kepadamasyarakat muslim awam, dan muncullah hubunganguru- murid. Saat inilah tasawuf terlembagakan dalamsebuah jalan sufi atau disebut tarekat. Tulisan sederhanaini akan menguraikan secara memadai tentang keduanya,dengan cara memperbandingkannya dan mencermatihubungan keduanya.Kata kunci : Tasawuf, Tarekat, Perbandingan, Hubungan
MENGURAI SEJARAH TIMBULNYA PEMIKIRAN ILMU KALAM DALAM ISLAM Zaini, Ahmad
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.1288

Abstract

ABSTRAKUtsman bin Affan adalah khalifah ketiga setelah Umarbin Khattab. Sepeninggal Utsman bin Affan, tampukkepemimpinan umat Islam beralih kepada Imam Alibin Abi Thalib. Seperti yang termaktub dalam bukubukusejarah bahwa meninggalnya Khalifah Utsmanbin Affan dikarenakan ketidakpuasan sebagian umatIslam pada waktu itu sehingga menyebabkan terjadinyapemberontakan terhadap pemerintahannya. Pada masaKhalifah Ali pun terjadi Perang Unta dan Shiffin. PerangShiffin yang diakhiri dengan tahkim atau arbitrase telahmenyebabkan munculnya berbagai golongan, yaituMuawiyah, Syiah (Pengikut) Ali, Khawarij dan sahabatsahabatyang netral. Dari peristiwa yang diakibatkan olehperseteruan dalam bidang politik akhirnya bergeser kepermasalahan teks-teks agama tepatnya masalah teologiatau ilmu kalam.Aliran Khawarij yang mengatakanbahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalamarti keluar dari Islam.Aliran Murjiah yang menegaskanbahwa orang yang berbuat dosa besar tetap mukmindan bukan kafir.Aliran Mu’tazilah yang tidak menerimapendapat-pendapat di atas.Orang yang serupa inimengambil posisi di antara ke dua posisi mukmin dankafir (al-manzilah bain al-manzilatain). Lalu munculpula dua aliran Ilmu Kalam yang terkenal dengan namaQadariyah dan Jabariah. Qadariyah berpendapat bawahmanusia memiliki kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya.Sedang Jabariyah sebaliknya berpendapatbahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalamkehendak dan perbuatannya.Kata Kunci : insiden unta, perang shiffin, tahkim, ilmukalam
MAKNA KEMATIAN DALAM PERSPEKTIF TASAWUF Karim, Abdul
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.942

Abstract

Kehidupan manusia di dunia menjadi persoalan yangmenarik untuk dikaji, ketika ternyata hal itu memilikisuatu keterkaitan yang sangat erat dengan proses menujukehidupan akhir. Di sinilah awal dari sebuah misterikematian, ketika manusia mengalami proses peralihandari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat yangabadi. Berbagai fenomena muncul dari proses manusiadijemput oleh kematiannya. Ada berbagai spekulasi yangberkembang bahwa jika manusia itu mengalami tandatandakematian yang baik maka sesungguhnya ia masukke dalam golongan khusnul khatimah. Dan sebaliknyajika ada tanda-tanda dan fenomena tertentu yang burukterjadi menjelang kematian maka ia termasuk ke dalamgolongan su’ul khatimah. Ada asumsi bahwa tanda-tandayang baik dan buruk itu sangat terkait dengan perilakuseseorang ketika hidup di dunia. Itu artinya trackrecord seseorang menjadi salah satu variabel yang sangatmenentukan dalam memunculkan fenomena yangterjadi menjelang kematian. Oleh karena itu manusiaperlu belajar memahami arti hidup dan kehidupan yangsesungguhnya untuk memberikan terapi psikologis agarmanusia mampu mempersiapkan diri dengan optimismeyang tinggi dalam menghadapi kematian.
SHALAT SEBAGAI PERJALANAN RUHANI MENUJU ALLAH
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.943

Abstract

Shalat sebagai perjalanan spiritual, proses transendensi(berpindahnya jiwa) menuju Allah. Naiknya jiwameninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam dirimanusia menuju kehadirat Allah. Menuju Zat yangMaha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaranistirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan,dan sumber mencari inspirasi. Manusia harus bergerakdi sebuah ruangan yang mana Allah sebagai porossumbunya. Orang yang telah mampu memahami bahwaAllah sebagai sumbu segala gerak hidupnya, dialahsebetulnya yang telah mengalami kebebasan. Sebabkebebasan secara spiritual merupakan kemampuanmanusia menaklukan ego duniawinya dan desahan setanyang selalu tampak menggiurkan. Dengan mengarahkanjiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahankarena berada pada ketinggian yang tak terbatas. Pikiranterlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diridari segala macam keruwetan. Sehingga jiwa mengalamiketenangan dan ketentraman. Oleh karena itu, setelahshalat seharusnya manusia aktif menjalankkan perankekhalifahannya dengan melakukan transformasi sosial,merealisasikan misi Rasulullah saw. sebagai Rahmatan lil‘Alamin dengan membangun tatanan kehidupan duniayang aman, adil dan sejahtera.
TASAWUF DAN TAREKAT: Komparasi dan Relasi
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.1286

Abstract

ABSTRAKManusia dilahirkan di dunia melalui campur tanganTuhan, maka tiada yang lebih indah dan lebih berhargakecuali ketika menjalani kehidupan ini, dia bisa merasakankedekatan dengan-Nya dan jika meninggal nanti bisabertemu dengan-Nya. Agar bisa merasakan kedekatandan bisa bertemu dengan-Nya maka manusia harusselalu menyempurnakan kualitas keberagamaannya.Membicarakan keberagamaan manusia atau bagaimanamanusia menjalankan agamanya banyak ragamnya: adakeberagamaan normatif, yang mana ketika manusiamenjalankan agamanya lebih mengedepankan padakesesuaiannya dengan aturan-aturan agama atautidak; keberagamaan filosofis, yang mana tatkalamanusia menjalankan agama lebih berlandaskan padaargumentasi-argumentasi rasional; dan keberagamaanmistis, yang mana tatkala manusia menjalankan agamanyalebih menonjolkan aspek emosional kedekatan denganTuhannya. Jika keberagamaan normatif terlahir daritradisi berpikir fiqh, keberagamaan filosofis terlahir daritradisi kalam, maka keberagamaan mistis terlahir daritradisi sufisme. Keberagamaan mistis yang terlahir daritradisi sufisme atau istilah lain adalah tasawuf, dan tasawufini menjadi salah satu wajah Islam yang memusatkanperhatiannya pada pembersihan aspek mental batiniahatau aspek ruhaniah manusia menuju tercapainyaakhlak-akhlak mulia sehingga menimbulkan pengalamankeberagamaan berupa rasa dekat dan selalu ‘bersama’ Tuhan. Tradisi tasawuf di awal perkembangannya telahmenarik antusiasme masyarakat muslim awam untukmengikutinya sehingga ulama-ulama sufi menyusunajaran-ajaran tasawuf, mengajarkannya kepadamasyarakat muslim awam, dan muncullah hubunganguru- murid. Saat inilah tasawuf terlembagakan dalamsebuah jalan sufi atau disebut tarekat. Tulisan sederhanaini akan menguraikan secara memadai tentang keduanya,dengan cara memperbandingkannya dan mencermatihubungan keduanya.Kata kunci : Tasawuf, Tarekat, Perbandingan, Hubungan
MENGURAI SEJARAH TIMBULNYA PEMIKIRAN ILMU KALAM DALAM ISLAM
ESOTERIK Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Jurusan Ushuluddin IAIN KUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/esoterik.v1i1.1288

Abstract

ABSTRAKUtsman bin Affan adalah khalifah ketiga setelah Umarbin Khattab. Sepeninggal Utsman bin Affan, tampukkepemimpinan umat Islam beralih kepada Imam Alibin Abi Thalib. Seperti yang termaktub dalam bukubukusejarah bahwa meninggalnya Khalifah Utsmanbin Affan dikarenakan ketidakpuasan sebagian umatIslam pada waktu itu sehingga menyebabkan terjadinyapemberontakan terhadap pemerintahannya. Pada masaKhalifah Ali pun terjadi Perang Unta dan Shiffin. PerangShiffin yang diakhiri dengan tahkim atau arbitrase telahmenyebabkan munculnya berbagai golongan, yaituMuawiyah, Syiah (Pengikut) Ali, Khawarij dan sahabatsahabatyang netral. Dari peristiwa yang diakibatkan olehperseteruan dalam bidang politik akhirnya bergeser kepermasalahan teks-teks agama tepatnya masalah teologiatau ilmu kalam.Aliran Khawarij yang mengatakanbahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalamarti keluar dari Islam.Aliran Murjiah yang menegaskanbahwa orang yang berbuat dosa besar tetap mukmindan bukan kafir.Aliran Mu’tazilah yang tidak menerimapendapat-pendapat di atas.Orang yang serupa inimengambil posisi di antara ke dua posisi mukmin dankafir (al-manzilah bain al-manzilatain). Lalu munculpula dua aliran Ilmu Kalam yang terkenal dengan namaQadariyah dan Jabariah. Qadariyah berpendapat bawahmanusia memiliki kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya.Sedang Jabariyah sebaliknya berpendapatbahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalamkehendak dan perbuatannya.Kata Kunci : insiden unta, perang shiffin, tahkim, ilmukalam

Page 1 of 2 | Total Record : 11