cover
Contact Name
Y. Andi Trisyono
Contact Email
anditrisyono@ugm.ac.id
Phone
+62274-523926
Journal Mail Official
jpti.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : 14101637     EISSN : 25484788     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 2 (2016)" : 8 Documents clear
Identifikasi Molekuler Virus Penyebab Mosaik pada Sembilan Varietas Tebu Dewi Rahmitasari; Susamto Somowiyarjo; Sedyo Hartono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1595.542 KB) | DOI: 10.22146/jpti.17733

Abstract

Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is very important commodity in Indonesia because of its economical value as a sugar producing plant. One of the disease in sugarcane cultivation which have to be treated is mosaic symptoms because of its potency in reducing sugar yield. Mosaic symptoms might be caused by some viruses, therefore virus identification is required to find the virus that has caused the sugarcane disease in all of sugarcane field which can be found in East Java as working area of Seeding and Protection Center for Estate Crops Surabaya. This laboratory had an authority to certify the shoot to be distributed. This research aimed to find out the virus that caused the mosaic symptoms from nine sugarcane varieties and to obtain information about the most suitable identification method for shoot health test in Seeding and Protection Center for Estate Crops Surabaya. The first method of this research were the sugarcane leaf with mosaic sampling from nine varieties: VMC 7616, PSJK 922, Kidang Kencana and Tolangohula 2 (Jombang); PS 881 and PS 862 (Pasuruan); PS 864 dan PSBM 901 (Kediri). The next experiments were conducted in the Laboratory of Phytopathology, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada. RNA was isolated from the sample and continued with RT-PCR technique, sequencing and bioinformatic analysis. Primers which was used in this research were MJ1-MJ2 and SCSMV cpF – SCSMV AP3. The result showed that mosaic symptoms of eight sugarcane varieties was caused by two species of virus: SCMV (Sugarcane mosaic virus) found in PS 881 and SCSMV (Sugarcane streak mosaic virus) found in seven another varieties. Sequencing analysis showed that SCMV isolate found in PS 881 was known to have a high nucleotide homology (93.6%) and related to the isolate from Kenya (KT630805.1), while the SCSMV had a high homology (96.9%−98.5%) and related to SCSMV isolate from Indonesia (AB563503.1) and Pakistan (GQ388116.1). INTISARITebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman penting di Indonesia. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pada tanaman tebu adalah penyakit mosaik karena potensinya dalam menurunkan produktivitas tebu sehingga perlu dilakukan identifikasi virus penyebab mosaik pada tanaman tebu. BBPPTP Surabaya sebagai instansi yang melaksanakan sertifikasi pada bibit tebu perlu mengetahui metode identifikasi virus penyebab mosaik sebagai dasar dalam pengujian kesehatan benih untuk mendukung tersedianya bibit tebu yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui virus penyebab mosaik pada sembilan varietas tanaman tebu dan mengetahui metode identifikasi virus pada tanaman yang cepat dan akurat untuk pengujian kesehatan benih. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel daun tanaman tebu pada sembilan varietas yang diambil dari tiga lokasi berbeda yaitu VMC 7616, PSJK 922, Kidang Kencana dan Tolangohula 2 (Jombang); PS 881 dan PS 862 (Pasuruan); PS 864 dan PSBM 901 (Kediri). Sampel diisolasi ss-RNA dilanjutkan dengan teknik RT-PCR (Reverse-Transcription Polymerase Chain Reaction), sekuensing dan analisis bioinformatika. Primer yang digunakan dalam penelitian ada dua yaitu MJ1-MJ2 untuk target sekuen dari SCMV dan SCSMV cpF-SCSMV AP3 untuk target sekuen dari SCSMV. Hasil penelitian ditemukan bahwa gejala mosaik yang ditimbulkan pada 8 (delapan) sampel varietas tebu disebabkan oleh 2 (dua) jenis virus penyebab mosaik yaitu SCMV (Sugarcane mosaic virus) yang ditemukan pada varietas PS 881 dan SCSMV (Sugarcane streak mosaic virus) yang ditemukan pada 7 (tujuh) varietas lain. Analisis sekuensing menunjukkan bahwa SCMV yang ditemukan pada varietas PS 881 memiliki homologi nukleotida (93,6%) dan kekerabatan terdekat dengan isolat di Kenya (KT630805.1). SCSMV hasil penelitian ini dikatakan mempunyai homologi (96,9%−98,5%) dan kekerabatan tertinggi dengan isolat SCSMV asal Indonesia (AB563503.1) dan Pakistan (GQ388116.1).
Pengaruh Stomata dan Klorofil pada Ketahanan Beberapa Varietas Jagung terhadap Penyakit Bulai Christine Agustamia; Ani Widiastuti; Christanti Sumardiyono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17703

Abstract

Resistant varieties are more advisable for controlling maize downy mildew compared with fungicides which is not effective and not environmentally friendly. This study is aimed to determine resistance of some varieties of maize against downy mildew. The maize varieties used were BS 0114, BS 0214, BS 0314, PAC 105, Sweet Corn and BISI 2. The parameters measured were disease incidence and intensity, chlorophyll content of leaves, stomatal density and plants dry weight. Data were analyzed by using analysis of variance (ANOVA) and Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results indicated that PAC 105, BS 0214 and BS 0314 were resistant varieties, while BS 0114, Sweet Corn and BISI 2 were susceptible. PAC 105 variety has the lowest stomatal density (65.353/mm2), and Sweet Corn variety has the highest stomatal density (110.79/mm2). Stomatal density was positively correlated with the disease intensity. Higher disease intensity has lower chlorophyll content compared with the lower intensity. PAC 105 variety has the highest chlorophyll content and plant dry weight, while Sweet Corn variety has the lowest chlorophyll content and plant dry weight. INTISARI Penggunaan varietas tahan bulai lebih dianjurkan digunakan dalam pengendalian penyakit bulai pada jagung dibandingkan dengan penggunaan fungisida karena tidak efektif dan tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan beberapa varietas jagung terhadap penyakit bulai. Varietas yang digunakan meliputi BS 0114, BS 0214, BS 0314, PAC 105, jagung manis, dan BISI 2. Parameter yang diamati adalah insidensi dan intensitas penyakit, kandungan klorofil setelah inokulasi, kerapatan stomata dan berat kering tanaman. Data yang diperoleh diuji dengan analisis varians (ANOVA) dan uji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian rumah kaca menunjukkan bahwa varietas PAC 105, BS 0214 dan BS 0314 merupakan varietas tahan, sedangkan varietas BS 0114, jagung manis dan BISI 2 merupakan varietas yang rentan. Varietas tahan PAC 105 memiliki kerapatan stomata paling rendah yaitu 65,353/mm2, dan kerapatan stomata paling tinggi dimiliki oleh varietas rentan yaitu jagung manis dengan kerapatan 110,79/mm2. Kerapatan stomata berkorelasi positif dengan intensitas penyakit dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,72526. Semakin rendah intensitas penyakit bulai kandungan klorofil dan berat kering yang semakin tinggi. Varietas PAC 105 yang mempunyai intensitas penyakit paling rendah , mempunyai kandungan klorofil dan berat kering tertinggi, sedangkan varietas jagung manis mempunyai kandungan klorofil dan berat kering terendah.
Pengaruh Pupuk Organik Cair dan Asap Cair dalam Pengendalian Xanthomonas oryzae pv. oryzae dan Pyricularia grisea pada Padi Gogo Galur G136 Iqna Khayatina Rusli; Loekas Soesanto; Ruth Feti Rahayuniati
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17690

Abstract

Increment of upland rice production in Indonesia faces many problems mainly from kresek caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae and blast caused by Pyricularia grisea. The use of Liquid Organic Fertilizer (LOF) and liquid smoke provides an alternative method to control the pathogen. This research aimed at knowing the potency of the leaf fertilizer applied to the soil and the liquid smoke to control the disease in G136 line’s rice and on the crop growth. Randomized Block Design was used with six treatments and replicated four times. The treatments were control without liquid smoke, control with 2% liquid smoke, using 2 ml l-1 LOF Biosena without or with 2% liquid smoke, and using 4 ml l-1 LOF Biosena without or with 2% liquid smoke. The variables observed were incubation period, disease intensity, infection rate, crop height, number of shoots, weight of 1,000 grains and rice production per hectare. The result of the research showed that treatment using the leaf LOF applied to the soil of 4 ml l-1 or 2 ml l-1, and combining with 2% liquid smoke was not able to suppress the kresek and blast development in G136 line. All treatment influenced the number of shoots and the crop height plants, but didn’t influence the weight of 1,000 grains and the rice production per hectare. INTISARIPeningkatan produksi padi gogo di Indonesia menemui banyak kendala di antaranya adalah penyakit kresek yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae dan penyakit blas yang disebabkan Pyricularia grisea. Penggunaan pupuk organik cair (POC) dan asap cair merupakan salah satu alternatif dalam pengendalian patogen ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi POC daun yang diaplikasikan pada tanah dan asap cair dalam menekan serangan penyebab penyakit pada padi gogo galur G136 serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan, yaitu kontrol tanpa asap cair, kontrol menggunakan asap cair 2%, 2 ml/l POC Biosena tanpa asap cair dan menggunakan asap cair 2%, 4 ml/l POC Biosena tanpa asap cair dan menggunakan asap cair 2%. Variabel yang diamati adalah masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot 1.000 bulir, dan produksi padi per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan POC daun yang diaplikasikan pada tanah dengan dosis 4ml/l dan 2 ml/l, serta asap cair 2% belum mampu menekan perkembangan penyakit kresek dan blas pada tanaman padi gogo galur G136. Perlakuan berpengaruh terhadap jumlah anakan dan tinggi tanaman tetapi tidak berpengaruh terhadap bobot 1.000 bulir dan produksi padi per hektar.
Study of The Use Of Maize as Barrier Crop in Chili to Control Bemisia tabaci (Gennadius) Population Yogi Puspo Friarini; Witjaksono Witjaksono; Suputa Suputa
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17731

Abstract

This study was conducted to determine the effect of maize as barrier crop to prevent the spread of Bemisia tabaci (Gennadius), the yellow virus vector in pepper farming. The research was conducted in the field at Pakem, Sleman, during two cropping seasons from October 2014 to February 2015 as first planting period and in April to August 2015 as second planting period. The escalation of B. tabaci (Gennadius) populations was directly correlated with virus yellow peppers increment. The result indicated that planting barrier was effective in reducing the spread of B. tabaci (Gennadius) in pepper plants. The population of B. tabaci (Gennadius) in plots with pepper surrounded by maize was lower compared to plots without maize barrier, showed that the yellow virus spreads on pepper can be minimized, and hence the incidence of yellow disease was also decreased. INTISARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penanaman jagung sebagai pemberian tanaman pembatas (barrier) untuk mengatasi penyebaran Bemisia tabaci (Gennadius) yang merupakan vektor virus kuning pada tanaman cabai. Penelitian dilakukan di lahan pertanaman cabai di Pakem, Sleman. Penelitian dilaksanakan selama dua musim tanam dari bulan Oktober 2014 sampai dengan bulan Februari 2015 pada periode tanam I dan bulan April 2015 sampai dengan bulan Agustus 2015 pada periode tanam II. Meningkatnya populasi B. tabaci (Gennadius) berbanding lurus dengan meningkatnya virus kuning pada cabai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penanaman tanaman pembatas (barrier) cukup efektif mengurangi penyebaran B. tabaci (Gennadius) pada ke dalam petak tanaman cabai. Populasi B. tabaci (Gennadius) pada petak tanaman cabai yang dikelilingi tanaman jagung lebih rendah jika dibanding dengan petak tanaman cabai yang tidak dikelililing tanaman jagung, sehingga secara tidak langsung penyebaran virus kuning pada cabai dapat diminimalisir.
Pewarisan Ketahanan Melon (Cucumis melo L.) Kultivar Melodi Gama 3 terhadap Kyuri green mottle mosaic virus Budi Setiadi Daryono; Faizatul Fitriyah
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17702

Abstract

Melon (Cucumis melo L.) belongs to Cucurbitaceae. Melon has high potential to be developed as main horticultural product in Indonesia. Melon is one of important foreign exchange and is the fifth biggest horticulture commodity in Indonesia. One of the problems in melon farming is mosaic disease caused by Kyuri green mottle mosaic virus (KGMMV). KGMMV infection reduces the quality and the amount of melon production. Melon farmers suffered a significant financial loss. Melodi Gama 3 (MG3) is a high yielding melon cultivar from the Genetics Laboratory, Faculty of Biology, Universitas Gadjah Mada. The use of genetically resistant melon cultivar has beneficial outcome for agriculture sector. The aim of this research was to study the resistance’s inherintance to KGMMV in MG3 melon cultivar. Two cultivars of MG3, MG3|5and MG3|8, were cultivated in the greenhouse. MAI, Glamour, Ladika, and Action melon cultivars were used as references. Resistance of KGMMV was analyzed by symptom observation and serological detection using Double Antibody Sandwich Enzyme Linked Immunosorbent Assay (DAS-ELISA). DAS-ELISA result analyzed further to establish resistance category. Description to melon cultivar phenotype variation was done. The result of this research indicates that MG3 melon cultivar is tolerant to KGMMV. The decrease of MG3 optical density was directly related with the lowering of KGMMV symptoms. The character of tolerance to KGMMV was inherited from Melodi Gama 1 (MG1) cultivar. INTISARI Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah yang tergolong dalam familia Cucurbitaceae. Tanaman melon berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk unggulan hortikultura di Indonesia. Tanaman melon juga merupakan salah satu penghasil devisa penting Indonesia dan menempati urutan ke-5 dari kelompok hortikultura. Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh petani melon adalah penyakit mosaik yang disebabkan oleh Kyuri green mottle mosaic virus (KGMMV). Infeksi KGMMV pada pertanian melon mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil, sehingga petani mengalami kerugian ekonomi yang cukup berarti. Melodi Gama 3 (MG3) merupakan kultivar melon unggul hasil rakitan Laboratorium Genetika, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Penggunaan kultivar melon yang tahan terhadap infeksi KGMMV secara genetis merupakan alternatif yang sangat bermanfaat dalam bidang pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pewarisan ketahanan MG3 terhadap infeksi KGMMV. Melon kultivar MG3, ditumbuhkan di greenhouse. Sebagai pembanding digunakan melon kultivar yang umum ditanam petani, yaitu MAI, Glamour, Ladika, dan Action. Kelima kultivar melon tersebut diinokulasi dengan KGMMV. Parameter ketahanan KGMMV yang digunakan adalah segregasi gejala dan uji serologis dengan Double Antibody Sandwich Enzyme Linked Immunosorbent Assay (DAS-ELISA). Hasil DAS-ELISA selanjutnya dianalisis untuk mengetahui kategori ketahanannya. Dilakukan pula deskripsi pada variasi fenotip kultivar melon yang ditanam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman melon kultivar Melodi Gama 3 memiliki sifat toleransi terhadap infeksi KGMMV. Toleransi ditunjukkan dengan nilai optical density (OD) yang menurun seiring dengan penurunan gejala infeksi KGMMV. Sifat ketahanan terhadap KGMMV diwariskan dari kultivar Melodi Gama 1 (MG1).
The Effect of Temperature, Potato Varieties, and the Origin of Cyst on the Reproductive Biology of Globodera rostochiensis Nurjanah Nurjanah; Y. Andi Trisyono; Siwi Indarti; Sedyo Hartono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17692

Abstract

Potato cyst nematode (Globodera rostochiensis [Wollenweber] Behrens) is a nematode species of worldwide regulatory concern. This nematode caused serious economic of potato losses in Indonesia. This research studied by factorial designed to evaluated the effect of temperature (10, 20, and 30ºC), potato varieties (`Granola´, `Margahayu´, and `Cipanas´), and origin of cyst (West, Central, and East Java) on reproductive biology of G. rostochiensis in the growth chamber. The research was conducted by observed of produced the new cyst number, reproduction fitness, survival, fecundity, and multiplication of G. rostochiensis. The result showed that all of the potato varieties were infected by G. rostochiensis when they were grown at the temperature ranging of 20 and 30ºC but not at 10ºC. The optimum temperature for maximum number of cysts with the highest reproduction factor, survival, fecundity and multiplication rate for all populations was 20ºC. The origin of cyst did not have any effect on the reproductive rate. The temperature of 20ºC provided is best environment for the life of G. rostochiensis on Granola. INTISARINematoda sista kentang (Globodera rostochiensis [Wollenweber] Behrens) adalah spesies nematoda yang mendapatkan perhatian khusus di seluruh dunia. G. rostochiensis menyebabkan kerugian ekonomi yang serius pada pertanaman kentang di Indonesia. Penelitian ini menguji pengaruh perbedaan suhu (10, 20, dan 30ºC), varietas kentang (Granola, Cipanas, dan Margahayu), dan asal sista (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) terhadap biologi reproduksi G. rostochiensis di growth chamber menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah sista baru, kemampuan reproduksi, daya tahan hidup, keperidian dan multiplikasi G. rostochiensis. Seluruh varietas kentang yang diuji terserang G. rostochiensis pada suhu 20 dan 30ºC kecuali pada suhu 10ºC. Kisaran suhu optimum untuk memperoleh jumlah sista baru yang maksimum dengan kemampuan reproduksi, daya tahan hidup, keperidian dan multiplikasi untuk semua populasi adalah 20ºC. Asal sista tidak berpengaruh terhadap biologi reproduksi yang diteliti. Kentang varietas Granola yang ditanam pada suhu 20ºC merupakan inang yang sesuai untuk kehidupan G. rostochiensis.
Obituari: Dr. Ir I. Hartana Triwidodo Arwiyanto
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17545

Abstract

Effects of Population Density and Host Availability on The Migration Process of Brown Planthopper Fed Using Susceptible and Resistant Rice Varieties Imam Habibi; Witjaksono Witjaksono; Arman Wijonarko
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.17732

Abstract

Brown planthopper, Nilaparvata lugens Stal. (Hemiptera: Delphacidae), is an important pest of rice. This pest can cause hopperburn and field failure. This research aimed to determine the effects of population density and host availability on migration of N. lugens. The criteria used to justify the effects of host availability and population density on migration of N. lugens were based the hardness and tannin tests of the rice stems, fecundity of N. lugens, and the life cycle of N. lugens. The research was conducted under the temperature of 29.42°C with relative humidity of 61% and Light 12: Dark 12 times, using ten pairs of N. lugens brachypterous (F0 constant) and then was added with five male adults on fifth days after the first infestation (F0 changed). The varieties used were IR64, as a resistant variety, and Ketan Lusi, as a susceptible variety. The results showed that the adding of the macropterous males did not affect the number of macropterous, because of that has been preplanned by the F0. Therefore, the percentage of existing macropterous was 51−52%. INTISARI Wereng Batang Cokelat (WBC) merupakan salah satu hama tanaman padi yang sangat penting. Kerusakan parah dapat menyebabkan hopperburn dan puso (gagal panen). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kepadatan populasi dan tanaman inang sebagai tempat migrasi WBC. Parameter yang dikaji untuk mengetahui pengaruh kepadatan populasi WBC dan tanaman inang tempat migrasi WBC berdasarkan tingkat kekerasan dan kandungan tanin batang tanaman padi, fekunditas WBC, dan siklus hidup WBC. Penelitian ini dilakukan pada temperatur 29.42˚C dengan kelembapan relatif 61% dan durasi siang hari 12 jam: durasi malam hari 12 jam. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan 10 pasang imago WBC brakhiptera (F0 konstan), kemudian dilakukan penambahan 5 ekor imago jantan pada hari kelima setelah infestasi awal (F0 diubah). Varietas padi yang digunakan yaitu padi varietas IR64 sebagai varietas tahan dan ketan Lusi sebagai varietas rentan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan imago jantan makroptera tidak berpengaruh terhadap jumlah keturunan makroptera yang dihasilkan, karena imago (F0) telah merencanakan terlebih dahulu keturunan yang akan dihasilkan. Oleh karena itu, persentase terbentuk keturunan imago makroptera berkisar antara 51−52%. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8