cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal METTEK (Jurnal Ilmiah Nasional Dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2017)" : 9 Documents clear
Uji Karakteristik Distribusi Butiran Minyak Kelapa Pada Semburan Nosel Burner Sederhana Ari Dwi Agus Sulistyo; I Ketut Gede Wirawan; Ainul Ghurri
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak kelapa merupakan salah satu jenis minyak nabati yang dihasilkan dari pohon kelapa yang berpotensi untuk dijadikan sebagai pilihan bahan bakar alternatif kompor bertekanan. Bahan bakar dikatakan baik jika menghasilkan ukuran butiran semburan yang kecil dan halus.Oleh karena itu sebagai langkah awal, telah dilakukan suatu pengujian eksperimental menguji karakteristik distribusi butiran (droplet) semburan minyak kelapa yang diuji melalui mekanisme menyerupai nosel burner sederhana kompor bertekanan.Minyak kelapa yang diuji dengan variasi tekanan injeksi yaitu 3 - 5 bar dan variasi viskositas yang dihasilkan melalui preheating 350°C-390°C.Karakteristik yang di uji adalah jumlah butiran dan ukuran diameter butiran yang terbentuk pada masing-masing pengujiaan.Dari pengujian yang telah dilakukan maka di dapatkan sebagai berikut, dengan peningkatan tekanan dan penurunan viskositas yang dapat mendeformasikan minyak kelapa menjadikan droplet kecil dan berjumlah banyak. Coconut oil is one type of vegetable oils produced from coconut trees that have the potential to be used as alternative fuel selection pressure stove. The fuel is said to be good if it produces spray of small droplet and smooth. Therefore, as a first step, we conducted a test experimentally test the characteristics of droplet distribution spray of coconut oil were tested through mechanism resemblings a pressure stove simple nozzle buner. Coconut oil is tested with a variety of injection pressure is 3-5 bar and viscosity variations produced by preheating to 350°C - 390°C. Characteristics test in the number of droplets and droplet diameter size formed on each test. From the testing that was done then get the following, with the increase in pressure and a decrease in viscosity resulting in deformed coconut oil into small droplets and numerous
PENGARUH KOMPOSISI BIOMASSA DAN BATUBARA TERHADAP PERFORMANSI CO-GASIFIKASI SIRKULASI FLUIDIZED BED I Ketut Wijaya; I Nyoman Suprapta Winaya; I Wayan Widhiada
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi co-gasifikasi circulating fluidized bed adalah pengkonversian dua campuran bahan bakar padat terfluidakan secara thermokimia menjadi bahan bakar gas mudah terbakar. Proses ini memerlukan sekitar 50% udara pembakaran. Batubara adalah sumber energi fosil yang paling siap untuk menggantikan peran minyak bumi sedangkan serbuk kayu adalah biomassa yang dapat digunakan sebagai sumber energi ramah lingkungan. Reaktor Gasifier circulating Fluidized Bed yang digunakan untuk penelitian berdiameter 96cm dengan tinggi 162cm dan ketebalan 3 mm dengan bahan plat stainless steel sc 20. Komposisi campuran bahan bakar yang digunakan adalah 30% batu bara: 70% serbuk kayu dengan membandingkan hasil tanpa system circulating fluidized bed. Temperatur operasi dalam penelitian ini adalah 600 0C. Hasil dari pengujian, didapat kan kandungan CO tertinggi dihasilkan pada system circulating fluidized bed sebesar 20,99%. Hal ini disebabkan karena komposisi bahan bakar serbuk kayu yang lebih banyak dari batubara. Persentase kandungan CO2 yang paling rendah terdapat pada variasi komposisi campuran bahan bakar 30% batubara dan 70% serbuk kayu. Dari data hasil perbandingan co-gasifikasi dengan system fluidized bed dengan co-gasifikasi yang dilengkapi dengan recirculating pluidized bed, ternyata pada co-gasifikasi dengan system sirkulaasi fluidized bed kandungan gas CO yang didapatkan prosentasenya lebih tinggi. Co-gasification circulating fluidized bed technology is the conversion process of two mixed solid fuel into combustible gas thermochemical. This process requires about 50% of air combustion. Coal is the most effective fossil energy source to replace petroleum, while saw dust is a biomass that can be used as an eco-energy source. Circulating Fluidized Bed Gasifier reactor used for the research had 96cm diameter with162cm height and 3 mm thickness with 20 sc stainless steel plate. The fuel mixture composition 30% coal: 70 % saw dust. By comparing the gas and temperature result without circulating system versus with circulating fluidized bed. The temperature of this study was 600 C. The results of the test, obtained the highest content of CO gas produced by composition of 30% coal and 70% saw dust, it was 20,99%. This was because the saw dust fuel composition was more than coal composition. The percentage of the lowest CO2 contained in the fuel composition of 30% coal and 70% saw dust. Based on the comparison result of co-gasification without circulating fluidized bed and with circulation fluidized bed, the circulation fluidized bed more efficient then co-gasification without circulating fluidized bed. The CO gas percentage demand output from co-gasification circulating fluidized bed is higher.
EFEK KOMPOSISI DAN PERLAKUAN SINTERING PADA KOMPOSIT Al/(SiCw+Al2O3) TERHADAP SIFAT FISIK, DAN KEAUSAN I Wayan Lega Suprapto; Ketut Suarsana; I.G.N. Nitya Santhiarsa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan material komposit berbasis logam pada dunia industri cukup potensial untuk memenuhi akan komponen-komponen permesinan. Dengan adanya perkembangan bahan yang sangat pesat, maka dituntut untuk menghasilkan bahan ringan dan murah yang merupakan persyaratan utama dalam dunia industri pembuatan komponen-komponen mesin. Hal ini memunculkan inovasi baru dalam pembuatan Aluminium Matrix Composite (AMC) yang berbasis matrik Alumunium dengan penguat Silicon Carbon dan Al2O3 partikel. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah dengan proses powder metalurgi dan variasi komposisi penguat komposit. Awal proses komposit dibuat dengan variasi komposisi matrik Aluminium dengan penguat SiC+Al2O3 dalam komposit. Komposisi Aliminium : 80% wt dengan variasi penguat 20% wt. Pembuatan material uji dilakukan dengan proses metalurgi serbuk dimana gaya tekan 25 N, waktu penahanan 15 menit. Pengujian karakteristik dilakukan untuk menggetahui sifat fisik dan mekanik komposit. Jadi hasil penelitian adalah penambahan komposisi persen berat SiC dan Alumina (Al2O3) memberikan pengaruh pada sifat fisik dan mekanik komposit. Dimana densitas dan keausan meningkat terjadi pada setiap penambahan Alumina (Al2O3) itu sendiri. Sebaliknya porositas menurun dengan meningkatnya komposisi penguat. Hubungan antara sifat dari masing-masing komposisi penguat SiCw dan Al2O3 pembentuk komposit yang dibuat dengan menganalisa struktur mikro yang terbentuk. The development of metal-based composite materials in the industrial world is sufficiently potential to meet the machining components. With the development of materials that are very fast, it is required to produce light and cheap materials which is a major requirement in the world of manufacturing machinery components. This led to new innovations in the manufacturing of Aluminum Matrix Composite (AMC) based on Aluminum matrix with Silicon Carbon and Al2O3 particle reinforcement. The method used in this research is by powder metallurgy process and variation of composite reinforcement composition. Initial composite process with variation of Aluminum matrix composition with SiC + Al2O3 amplifier in composite. Aliminium Composition: 80% wt with variation of 20% wt. N, hold time of 15 minutes. Characteristic testing is performed to determine the physical and mechanical properties of the composite. So the result of research is composition of heavy composition SiC and Alumina (Al2O3) give effect on physical and mechanical properties of composite. Where density and wear occurs, increase in each addition of Alumina (Al2O3) itself. The porosity reaction decreases with the capability of the reinforcing composition. The relationship between the properties of each of the SiCw and Al2O3 composite compositing compositions prepared by analyzing the formed microstructure.
Analisa Perpindahan Panas Pada Heater Tank FASSIP - 01 Mahran Noufal; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FASSIP-01 adalah sebuah piranti analisa pengembangan metode sirkulasi alamiah yang bertujuan dasar untuk mengedepankan aspek keamanan teknologi struktur untuk PLTN. Prototype FASSIP-01 memiliki beberapa komponen penting, salah satunya adalah Tabung Heater. Tabung ini berfungsi sebagai tabung induk pemanas untuk memanaskan pipa utama FASSIP – 01 yang melintas di dalamnya untuk kemudian terkena efek buoyancy dan bergerak mengikutin untaian. Penelitian FASSIP-01 telah dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) namun data yang dihasilkan belum ditemukan yang meliputi temperatur dan kecepatan aliran fluida. Dikarenakan kurangnya data pembanding awal, penulis melakukan beberapa asumsi yang dipakai sebagai acuan daripada penelitian ini. Selanjutnya data hasil simulasi kondisi asumsi tersebut dianalisa dan kemudian hasil simulasi dengan kondisi analisa menjadi hasil utama yang didapat dari penelitian ini. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa telah terjadi peningkatan unjuk kerja yang meliputi laju perpindahan panas dan efektivitas yang dihasilkan. Laju perpindahan panas yang dihasilkan apabila tanpa permukaan tambahan pada pipa menunjukkan hasil 55.760,56 Watt dan efektivitas 56,4 %, sedangkan jika ditambahkan permukaan berbentuk juring berjumlah 2 buah maka akan menghasilkan daya sebesar 64.150,86 Watt dan efektivitas sebesar 64,9 % dengan efisiensi sebesar 98%. FASSIP – 01 was an analysys loop that developed natural sirculation method purposed for leading safe and secure aspect on structure of nuclear power plant. The prototype of FASSIP – 01 had some important component of it, the one is Heater Tank. The tank was build as main heater to made main pipe of FASSIP – 01 heated, located inside of the tank that will affected with buoyancy and then flows following the loop. The research of FASSIP – 01 had been done at Indonesian Nuclear Researcher Agency (BATAN) but the result data was not completely found, included the temperature and real velocity of the flows. Caused by the less of main data that could be compared, we’ve made some assumption used for according to on this research. After all, the datas about simulation with assumption condition would be analyze and the result of simulation with real condition will be the main result as could as we got at this research. From this research, we could know that improvement of performance happened including heat transfer rate and effectivity. The heat transfer result if without the attachment of extended surface would be 55.760,56 Watt, dan the effectivity would be 56,4 %, at the other side if the attachment of extended surface with pie (segments) type with total amount is 2 was active so the heat transfer rate would be 64.150,86 Watt and the effectivity would be 64,9 % with the 98% efficiencies.
ANALISIS SIFAT FISIKA BAHAN BAKAR DARI LIMBAH ORGANIK I Komang Santika Yasa; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Santhiarsa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangkaian penelitian telah dilakukan oleh beberapa ahli untuk mengatasi krisis energi di berbagai negara, mulai dari pembuatan etanol dan biogasoline (campuran antara gasoline dan alkohol), pemakaian bahan bakar gas, hingga proses pembuatan bahan bakar alternatif pengganti bensin lainnya.Dalam penelitian ini, pembuatan alkohol dari limbah semangka dilakukan dengan metoda fermentasi dalam ruang tertutup (anaerob). Diharapkan proses ini dapat mempercepat proses pembuatan alkohol dan dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa untuk menghasilkan alkohol diperlukan campuran 15 kg sampah organik dengan 0,48 kg ragi dengan kadar alkohol 10,1%. Agar layak menjadi campuran (aditif) dalam biogasoline maka alkohol 10,1% tersebut didestilasi bertingkat hingga menghasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, yang divariasikan mulai dari kadar 90%, 93% dan 95%. Setelah itu dibuat biogasoline dengan variasi campuran A10, A15 dan A20 untuk bensin dan alkohol. Dari hasil pengujian massa jenis, kekentalan, nilai kalor, titik nyala dan titik bakar dapat diketahui bahwa biogasoline dengan rasio campuran A10 dengan kadar alkohol 95% ternyata memiliki sifat-sifat fisika yang mendekati sama dengan bensin murni. Artinya untuk menghasilkan biogasoline 100 ml dan memiliki sifat fisika yang mendekati sama dengan bensin murni diperlukan bensin sebanyak 90 ml dan alkohol dengan konsentrasi 95% sebanyak 10 ml. A series of studies have been undertaken by experts to address the energy crisis in many countries, ranging from the manufacture of ethanol and biogasoline (a mixture of gasoline and alcohol), the use of gas fuel, to the process of making other alternative gasoline alternatives. In this research, the manufacture of alcohol from watermelon waste is done by fermentation method in an enclosed space (anaerob). It is expected that this process can accelerate the process of making alcohol and with a high enough alcohol content. From the test results obtained that to produce alcohol required a mixture of 15 kg of organic waste with 0.48 kg yeast with alcohol content of 10.1%. In order to be eligible to be a mixture (additive) in biogasoline, the 10.1% alcohol is distilled up to produce higher levels of alcohol, which varies from 90%, 93% and 95%. After that, biogasoline was prepared with mixed variations of A10, A15 and A20 for gasoline and alcohol.From the results of testing of density, viscosity, heat value, flash point and fuel point, it can be seen that biogasoline with mixed ratio of A10 with 95% alcohol content turns out to have physics properties that are close to the same as pure gasoline. This means to produce 100 ml of biogasoline and has physics properties that close to the same as pure gasoline is required as much as 90 ml of gasoline and 95% concentration of alcohol as much as 10 ml.
Analisis Perpindahan Panas Pada Cooler Tank FASSIP - 01 Aprianto Tangkesalu; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Nengah Suarnadwipa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FASSIP-01 merupakan sebuah alat uji ekperimen yang dikhususkan untuk aliran satu-fasa dengan variabel parameter daya heater dan laju aliran pendingin di cooler. Pada sistem FASSIP-01 terdapat beberapa komponen penting salah satunya cooler tank. Cooler tank sendiri terdiri dari 2 bagian yaitu pipa refrigerator dan tabung cooler. Hasil eksperimen sementara yang telah dilakukan di BATAN dibagian cooler tank khususnya di pipa refrigerator, diperoleh perubahan temperatur yang meningkatkan dari keadaan awal, yang seharusya tidak boleh mengingat fungsi dan kerjanya sebagai pendingin. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis lebih dalam sistem perpindahan panas yang terjadi pada cooler tank melalui metode simulasi dan perhitungan matematis, untuk mengetahui seberapa besar temperatur fluida yang dapat diturunkan di pipa refrigerator yang akan menjadi fluida pendingin pipa utama di tabung cooler, sekaligus unjuk kerja daripada alat dan peningkatan kerja jika ada permukaan tambahan pada pipa utama di bagian dalam tabung cooler. Dari hasil analisis penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa temperatur inlet-outlet di pipa refrigerator turun dari 260C menjadi 21,570C setelah terjadi proses pendinginan. Sementara dengan penambahan permukaan pada pipa utama tabung cooler menunjukkan adanya peningkatan kerja meliputi laju perpindahan panas, efektivitas dan NTU. Laju perpindahan panas yang dihasilkan tanpa permukaan tambahan sebesar 1116,68 Watt dengan efektivitas 51% dan NTU 0,71. Sementara dengan adanya permukaan tambahan berupa cincin rectangular sebanyak 10 buah menghasilkan laju perpindahan panas sebesar 1456 Watt dengan efektivitas sebesar 67% dan NTU 1,10 dengan efisiensi 82 %. FASSIP-01 is an experimental test equipment that dedicated to a single-phase flow with variable heater power parameters and coolant flow rate in the cooler. In FASSIP-01 system, there are several important components, one is a cooler tank. Cooler tank consists from refrigerator pipes and cooler tubes. The experimental cooler tank results that had been done in BATAN, especially in refrigerator pipes, the temperature was increased from the initial state, which is should not be happened as the functions and works as cooler. This study aimed to analyze the heat transfer systems that occur on the cooler tank through simulation methods and mathematical calculations, to determine how much fluid temperature can be descreased in the refrigerator pipes which will be the fluid coolant in the cooler tubes, and performance that will increase in system if there is extended surface on the main pipe inside of the cooler tubes. From the analysis of research conducted found that the temperature at the inlet-outlet refrigerator pipes is descreased from 26oC into 21,57oC after cooling process. The extended surface on the main pipe cooler tubes showed an increase of work includes the heat transfer rate, effectiveness and NTU. The resulting rate of heat transfer without extended surface at 1116.68 Watt with effectiness 51% and NTU 0.71. While the extended surface with the form of a rectangular fins with 10 pieces produces the heat transfer rate at 1456 Watt with effectiveness 67% and NTU 1.10 as the fins efficiency 82%.
PENGUJIAN ALAT KONVERSI SAMPAH MENJADI ETANOL I Kade Agus Sugiarta; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah Organik merupakan sampah yang dapat di kelola sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Untuk menghasilkan bioetanol diperlukan sebuah alat yang bisa mengkonversi sampah organik menjadi etanol. Batasan yang ditentukan dalam pembuatan alat konversi sampah menjadi etanol diantaranya fungsi alat untuk mengkonversi sampah menjadi etanol minimal dengan volume 250 ml per 10 kg sampah organik, divariasikan dengan temperatur 20-400 C, divariasikan dengan tiga macam campuran ragi dan difermentasikan selama 3 hari. Setelah alat dinyatakan dapat bekerja sesuai indikator pengujian, maka dilanjutkan dengan proses pengamatan produksi etanol. Prosedur pengujian yang diamati adalah dari segi jumlah volume etanol dan jumlah nilai kadar alkohol yang dihasilkan. Dari hasil perhitungan perencanaan alat didapatkan dimensi poros dengan diameter 12 mm, tangki sampah berdiameter 600 mm dengan panjang 800 mm serta terdapat heater, menggunakan gearbox 1:50 dan menggunakan motor listrik 0,5 Hp. Dari hasil pengujian pengamatan jumlah produksi etanol dan kadar alkoholnya dapat simpulkan bahwa jumlah volume produksi etanol dan nilai kadar alkoholnya sangat berpengaruh pada variasi campuran ragi, putaran tangki, dan temperatur yang digunakan. Hal itu dikarenakan adanya faktor-faktor yang mendukung kondisi kamir untuk memfermentasikan produk menjadi etanol. Pada temperatur 200 C, campuran ragi 1 serta putaran 5 rpm menunjukkan jumlah produksi etanol dan nilai kadar alkohol paling tinggi yaitu 656 ml etanol dengan kadar alkohol 16 % Organic waste is a waste that can be managed as a raw material for making bioethanol. To produce bioethanol required a tool that can convert organic waste into ethanol. The limits specified in the manufacture of waste conversion tools into ethanol include a tool function for converting waste into minimal ethanol with a volume of 250 ml per 10 kg of organic waste, varied with temperatures of 20-400 C, varied with three different yeast mixtures and fermented for 3 days. Once the tool is declared to work according to the test indicator, then proceed with the observation process of ethanol production. The test procedure observed was in terms of the amount of ethanol volume and the amount of alcohol content produced. From the calculation of tool planning got the dimension of the shaft with a diameter of 12 mm, garbage tank diameter 600 mm with a length of 800 mm and there is a heater, using 1:50 gearbox and using 0.5 hp electric motor. From the results of the observation test the amount of ethanol production and the alcohol content can be concluded that the amount of ethanol production volume and its alcohol content value greatly influence the variation of yeast mix, tank rotation, and temperature used. This is due to the factors that support the condition of kamir to ferment the product into ethanol. At a temperature of 200 C, the yeast 1 and 5-rpm mixture showed the highest amount of ethanol production and alcohol content of 656 ml of ethanol with 16% alcohol content.
Menentukan Regime Pelumasan Pada Ball Bearing Dengan Menggunakan Kurva Stribeck Dedison Gasni; Syahrul Rahmat
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gesekan yang terjadi pada ball bearing akan menimbulkan keausan yang akan mengakibatkan umur pakai dari ball bearing akan berkurang. Gesekan dapat diminimalisir dengan cara memberi pelumas, untuk menentukan regime pelumasan pada ball bearing sebagai acuan dapat digunakan kurva Stribeck. Untuk mendapatkan kurva Stribeck dari sebuah ball bearing, diperlukan nilai koefisien gesek pada setiap putarannya dengan menggunakan pendekatan mixed lubrication model. Pada model ini, akibat beban yang diberikan pada ball bearing akan mengakibatkan terjadi kontak dengan sebagian dari asperity dengan cairan pelumas dan sebagian lagi berkontak dengan sesama asperity. Kontak yang terjadi pada ball bearing terjadi antara bola dengan inner ring dan outter ring. Pada tulisan ini akan dilihat bagaimana perbedaan kurva Stribeck antara inner ring dan outter ring. Disamping itu, akan dilihat bagaimana pengaruh viskositas, kekasaran permukaan, beban dan ukuran dari bantalan terhadap kurva Stribeck. Dari kurva Stribeck yang telah diperoleh, nantinya akan dapat diketahui regime pelumasan dari ball bearing. Berdasarkan hasil kurva Stribeck yang diperoleh untuk bantalan jenis deep groove ball bearing 6410, maka dapat diketahui bahwa koefisien gesek pada inner ring lebih besar dari koefisien gesek pada outter ring untuk daerah mixed lubrication. Pada daerah mixed lubrication, untuk perubahan viskositas, kekasaran permukaan, dan beban dapat dilihat bahwa : dengan meningkatnya viskositas pelumas, akan menurunkan harga koefisien gesek, dengan naiknya harga kekasaran permukaan, akan meningkatkan harga koefisien gesek dan begitu juga dengan peningkatan beban, akan menurunkan harga koefisien gesek. Namun dari semua parameter tersebut, perubahan harga koefisien gesek tidak terlihat pada daerah elasto hydrodynamic lubrication. Dengan demikian, untuk meminimalisir gesekan yang terjadi, maka ball bearing harus dioperasikan pada daerah elasto hydrodynamic lubrication. Friction on ball bearing will generate heat and wear that resulting service life of the ball bearing will be reduced. Friction can be minimized by giving the lubricant. To determine the lubrication regime in the ball bearing, a Stribeck curve can be used by using a mixed lubrication models. In this model, the total pressure is shared between the asperity contact and the elastohydrodynamic pressure. The contact is occurred on ball bearing between balls with the inner ring and outer ring. In this paper, Stribeck curve between the inner ring and the outer ring as well as the effect of viscosity, surface roughness, load and size of the bearings will be investigated. Based on the results obtained from Stribeck curve of deep groove ball bearing 6410, it is known that the coefficient of friction of the inner ring is greater than the coefficient of friction in the outer ring for mixed lubrication regime. In mixed lubrication regime, an increase of viscosity lubricants and loads will reduce the coefficient of friction and an increase of surface roughness will increase the coefficient of friction. In contrast, for all parameters, the change of coefficient of friction is not seen in the elastohydrodynamic lubrication regime, so the ball bearing must be operated in elastohydrodynamic lubrication regime.
Karakteristik kekerasan material dibawah permukaan akibat pemanasan-awal substrate dalam proses thermal coating Mustika Mustika; I Made Widiyarta; I Made Parwata; I Putu Lokantara
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses flame spray coating, pemanasan awal terhadap material inti sangat diperlukan untuk mengurangi tegangan sisa dan menyatunya material pelapis pada permukaan substrate material menjadi lebih baik. Suhu pemanasan awal tersebut tentunya akan mempengaruhi sifat kekerasan substrate material hingga kedalaman tertentu.Pada penelitian ini, pelapisan panas (flame powder spray coating) dilakukan pada baja karbon sedang dengan material pelapis NiW. Pemanasan awal dilakukan pada permukaan substrate material dengansuhu yang bervariasi (300ºC, 400ºC dan 500ºC). Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh antara variasi preheating dengan kekerasan material pelapis Ni-W hasil dari powder flame spray coating. Semakin ke dalam kekerasannya semakin berkurang hingga mencapai kekerasan material inti yang seragam. Material substrate mengalami sedikit pengerasan hingga jarak 0.5 mm dari boundary. In the process of the flame spray coating, pre-heating of the substrate is required in order to reduce residual stress and to improve the adhesion of the coating material on the substrate. The pre-heatingtemperature also has an effect on the hardness of substrate material into a certain depth. In this study, flame powder spray coating was performed on the medium carbon steel with the coating material NiW. Pre-heating on the substrate material was varied of about 300ºC, 400ºC and 500ºC. From the experiments, the variation of pre-heating was not affect the hardness of coating material NiW. The increase of depth form the surface, the hardness of the material decrease until the hardness of the material is uniform. The hardness of the substrate material was change into depth of about 0.5 mm from boundary layer.

Page 1 of 1 | Total Record : 9