cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
al-qardh@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
Jalan G.Obos, Komplek Islamic Centre, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Provinsi kalimantan Tengah
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Jurnal Al-Qardh
ISSN : 23546034     EISSN : 25990187     DOI : 10.23971/jaq.v1i2.
Journal Alqardh published by Faculty of Islamic Economics and Business is aimed at being a medium for research results dissemination and scientific papers on the Indonesian economy and business among international academics, practitioners, regulators, and public. The Alqardh is issued two times annually, i.e., in July, and Desember. The Editor receives research manuscripts that not have been offered for publication elsewhere. Since its first issue published in 2016, the Journal Al-Qardh has more progress. Its commitment toward the development of education, especially in the realm of research, the aim Alqardh being a prestigious scholarly periodical in the world on the Indonesian economy and business
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH" : 7 Documents clear
IMPOR BERAS DALAM KEBIJAKAN HUKUM EKONOMI ISLAM: KEINGINAN ATAU KEBUTUHAN Ahmad Dakhoir; Novi Angga Safitri; Khoiriyah Khoiriyah
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.659 KB) | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1180

Abstract

Beras merupakan bahan makanan pokok utama rakyat Indonesia. Kebutuhan beras dari tahun ke tahun terus meningkat karena kenaikan jumlah penduduk dan kebutuahan ini harus terpenuhi. Kekurangan pangan berpengaruh pada gizi buruk, kesehatan, dan sekaligus menurunkan kualitas sumberdaya manusia. Oleh karena itu, pemerintah senantiasa terus berupaya untuk memiliki serta memelihara ketahanan pangan khususnya beras. Tulisan ini akan menganalisis berdasarkan informasi yang ada, apakah inpor yang dilakukan pemerintah adalah suatu kebutuhan atau keinginan?Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif dimana peneliti berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya sehingga penelitian ini sangat memperhatikan proses, peristiwa, dan otensitas. Hasil analisis tersebut, yaitu: (1) Impor beras merupakan kebutuhan karena beberapa hal, yaitu kekurangan stok beras pada suatu negara atau memerlukan beras yang menyehatkan bagi masyarakat. (2) Impor beras menjadi hanya sebuah kepentingan jika hanya segelintir orang yang merasakannya. (3) Saran yang dapat penulis berikan adalah, sebaiknya pemerintah memberikan berhatian lebih kepada para petani, seperti menyediakan lahan, bibit, pupuk, dan sebagainya. Dan mendukung petani dalam menjual berasnya, dengan mengatur harga beras dipasaran.
IMPLEMENTATION OF SHARIA BANKS’ SOCIAL FUNCTION AND THE IMPACT ON WELFARE OF PADANGSIDIMPUAN SOCIETY Nofinawati Nofinawati
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.323 KB) | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1176

Abstract

Social function of Sharia Banks is to receive funds i.e. zakat, infaq, sedekah, wakaf, hibah, and distribute them in accordance to sharia laws under the banks’ name or amil zakat institutions appointed by the government. This function is an aspect that distinguishes sharia banks and conventional ones. In sharia law, social function and other functions cannot exist without the other. The implementation of social function in Kota Padangsidimpuan is in accordance with legal basis which is UU No. 21 tahun 2008. However, PT. Bank SUMUT Syariah KCS Padangsidimpuan has no authority to distribute social fund due to its existence as Islamic Windows. The implementation actually has positive impact on the welfare of the society despite being temporary. While it is only impactful towards those who receive the fund, the distribution is helpful.
JUAL BELI RAMUAN TRADISIONALMASYARAKAT DAYAK PERSPEKTIF BELOM BAHADAT DAN ETIKA BISNIS SYARIAH (STUDI KASUS DI PASAR KAHAYAN KOTA PALANGKA RAYA) Jefry Tarantang; Bella Mutiara Kasih
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.356 KB) | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1177

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian mengenai praktik jual beli masyarakat Dayak dalam menjual ramuan tradisional di pasar Kahayan kota Palangka Raya dilakukan para pedagang yang berumur di atas 55 tahun di karenakan kematangan pengetahuan yang dimiliki para pedagang, selain itu tidak semua masyarakat asli suku Dayak memiliki pengetahuan tentang ramuan tradisional ini, karena tidak ada sumber tertulis yang dapat dijadikan pedoman mereka. Hanya mengandalkan bakat turun-temurun dari para leluhur mereka. Etika jual beli masyarakat Dayak dalam berdagang ramuan tradisional adalah  terdapat penerapan falsafah Belom Bahadat pada praktik jual beli mereka. Peneliti menyimpulkan terdapat prinsip tolong-menolong yang amat kuat dan dijunjung tinggi oleh pedagang yang merupakan masyarakat adat Dayak, dengan slogan mereka yaitu Handep tuntung haduhup yang artinya menanggulangi masalah bersama dan saling tolong-menolong. Jual beli ramuan tradisional masyarakat dayak di Pasar Kahayan Kota Palangka Raya perspektif belom bahadat dan etika bisnis syariah terdapat adanya kesamaan antara filosofi Belom Bahadat, yaitu hidup bertata krama dan beradab dan hidup dalam kedamaian, kebersamaan, kesetaraan, keharmonisan, toleransi, menjunjung tinggi hukum dan kerja sama untuk meraih kesejahteraan bersama yang diaplikasikan dalam etika jual beli masyarakat Dayak dalam berdagang ramuan tradisional dengan etika bisnis syariah antara lain adanya prinsip Ketuhanan, rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), tahqiq ‘adl (me­wujudkan keadilan), nubuwwah (kenabian). As-siddiq (transparansi), freedom to act (kebebasan dalam bertindak dan berusaha) dan socio-profit oriented.
PROBLEMATIKA PEDAGANG BUAH KAKI LIMA DI KOTA PALANGKA RAYA Sofyan Hakim; Sali Sali; Akhmad Alfauji
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.626 KB) | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1178

Abstract

The problem of fruit street vendors is because they open their trade use the part of fruit street or sidewalk and other places for public’s importance that not for the trade and the place that not belong to them that’s way the street vendors become a difficult problem to solve well.  The research problem are 1)  What is the problem faced by fruiterer when trading in Palangka Raya City?  2) How does the view from the fruiterer about the government’s role in helping the fruiterer when trading?.This research used field research and used qualitative approach.  The object of this research was the problem faced by fruiterers at Palangka Raya City.  The subject of this research was the fruiterers that trade at sidewalk.  The data collection technique used interview, observation and documentation.The result of this research shows that 1) There is no special place for street vendors that make them difficult to trading.  2) The street vendors hopefully for government to gave them a special place for trade especially for the fruiterers.
PEMAHAMAN DAN PELAKSANAAN NILAI-NILAI AKUNTANSI SYARIAH PADA PRAKTISI PEGADAIAN SYARIAH (STUDI KASUS PADA PT. PEGADAIAN SYARIAH SE-KABUPATEN TAPANULI BAGIAN SELATAN) Windari Windari
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.523 KB) | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1175

Abstract

This study aims to determine the understanding and implementation of Islamic accounting values in sharia pawnshop practitioners. Data sources used by all employees of PT. Pegadaian Syariah District of South Tapanuli with a total of 14 respondents. From the results of this study, it can be understood that the humanist value of the employer is very adequate, the under­standing of emancipatory value is sufficient, the understanding of Teleological value is very adequate and the understanding of Transcendental value in the employees of Islamic sharia is adequate.
PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS MELALUI LEMBAGA ARBITRASE Nyoman adi Astiti; jefry Tarantang
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.549 KB) | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1179

Abstract

Penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase banyak diminati oleh para pelaku bisnis, sebab penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase memiliki kelebihan dibanding lembaga pengadilan yang bersifat formal. Kelebihan lain lembaga arbitrase diantaranya yaitu proses cepat dan sederhana, biaya murah, kerahasiaan sengketa terjaga, putusan bersifat merangkul dan menguntungkan para pihak (win-win solution), serta menjaga hubungan bisnis para pihak, sehingga dijadikan pilihan oleh pelaku bisnis. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode yuridis normatif yaitu penelitian yang menekankanpada data sekunder yakni dengan mempelajari dan mengkaji azas-azas hukum khususnya kaidah-kaidah hukum dalam peraturan perundang-undangan serta ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa bisnis melalui lembaga arbitrase dan eksekusi putusan lembaga arbitrase dalam penyelesaian sengketa bisnis.Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan seperti berikut. (1) Penyelesaian sengketa bisnis melalui lembaga arbitrase dilakukan dengan dua cara yaitu melalui factum de compromittendo, sebelum terjadi sengketa klausula arbitrase telah dicantumkan dalam perjanjian pokok, atau melalui akta kompromis setelah terjadi sengketa klausula arbitrase dibuat dalam bentuk tertulis terpisah dari perjanjian pokok. Sedangkan proses penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase menurut Pasal 27 sampai dengan 60 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 dan memiliki keputusan lembaga arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak, para pihak harus terikat dalam putusan arbitrase tersebut, walaupun pada tahap eksekusinya masih memerlukan keterlibatan Pengadilan Negeri. (2) Eksekusi putusan lembaga arbitrase dalam penyelesaian sengketa bisnis sebagaimana diatur dalam Pasal 59 sampai dengan 64 dari UU No. 30 Tahun 1999 dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan, lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter kepada Panitera Pengadilan Negeri untuk dilakukan pengujian syarat formil dan syarat materil oleh Ketua Pengadilan Negeri yang menjadikan putusan lembaga arbitrase memiliki kekuatan hukum mengikat yang bersifat final and binding.
JUAL BELI RAMUAN TRADISIONALMASYARAKAT DAYAK PERSPEKTIF BELOM BAHADAT DAN ETIKA BISNIS SYARIAH (STUDI KASUS DI PASAR KAHAYAN KOTA PALANGKA RAYA) Jefry Tarantang; Bella Mutiara Kasih
AL-QARDH Vol 3, No 2 (2018): AL-QARDH
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/jaq.v3i2.1177

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian mengenai praktik jual beli masyarakat Dayak dalam menjual ramuan tradisional di pasar Kahayan kota Palangka Raya dilakukan para pedagang yang berumur di atas 55 tahun di karenakan kematangan pengetahuan yang dimiliki para pedagang, selain itu tidak semua masyarakat asli suku Dayak memiliki pengetahuan tentang ramuan tradisional ini, karena tidak ada sumber tertulis yang dapat dijadikan pedoman mereka. Hanya mengandalkan bakat turun-temurun dari para leluhur mereka. Etika jual beli masyarakat Dayak dalam berdagang ramuan tradisional adalah  terdapat penerapan falsafah Belom Bahadat pada praktik jual beli mereka. Peneliti menyimpulkan terdapat prinsip tolong-menolong yang amat kuat dan dijunjung tinggi oleh pedagang yang merupakan masyarakat adat Dayak, dengan slogan mereka yaitu Handep tuntung haduhup yang artinya menanggulangi masalah bersama dan saling tolong-menolong. Jual beli ramuan tradisional masyarakat dayak di Pasar Kahayan Kota Palangka Raya perspektif belom bahadat dan etika bisnis syariah terdapat adanya kesamaan antara filosofi Belom Bahadat, yaitu hidup bertata krama dan beradab dan hidup dalam kedamaian, kebersamaan, kesetaraan, keharmonisan, toleransi, menjunjung tinggi hukum dan kerja sama untuk meraih kesejahteraan bersama yang diaplikasikan dalam etika jual beli masyarakat Dayak dalam berdagang ramuan tradisional dengan etika bisnis syariah antara lain adanya prinsip Ketuhanan, rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), tahqiq ‘adl (me­wujudkan keadilan), nubuwwah (kenabian). As-siddiq (transparansi), freedom to act (kebebasan dalam bertindak dan berusaha) dan socio-profit oriented.

Page 1 of 1 | Total Record : 7