cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 2 (2015)" : 8 Documents clear
Penggunaan Isolasi Dasar Single Friction Pendulum dan Triple Friction Pendulum pada Bangunan Beton Bertulang Bambang Budiono; Cella Adelia
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.1

Abstract

Abstrak. Penggunaan sistem isolasi dasar merupakan salah satu perkembangan dalam bidang rekayasa teknik sipil sebagai upaya proteksi struktur terhadap gempa. Konsep penggunaan sistem isolasi dasar pada dasarnya untuk meningkatkan perioda alami struktur dan memberikan tambahan redaman. Kedua hal tersebut menyebabkan kerusakan struktur yang terjadi dapat direduksi atau dihindari karena energi gempa kuat yang masuk ke struktur akan didisipasikan oleh sistem isolasi ini. Penelitian ini akan membandingkan dua buah tipe friction pendulum bearing system (FPS) yaitu tipe single pendulum dan triple pendulum pada gedung bertingkat beton bertulang. Desain FPS menggunakan analisis dinamik linear, yaitu menggunakan kombinasi respon spectra mengikuti Standar Indonesia SNI 1726-2012. Selain itu akan dilakukan evaluasi kinerja struktur dengan menggunakan analisis dinamik nonlinear dari tujuh buah riwayat gempa yang telah diskalakan. Parameter yang akan dibandingkan adalah kinerja yang akan dievaluasi, yaitu gaya geser dasar, perpindahan antar lantai, percepatan lantai paling atas struktur, tingkat kerusakan, dan juga energi yang didisipasi oleh kedua FPS tersebut pada kondisi gempa desain dan gempa rencana maksimum.Abstract. The use of base isolation system is one of the developments in civil structural engineering in order to protect structures under major earthquake loads. The concept of the use of the base isolation system is to increase structure's natural period and to provide additional damping to the structures reducing or avoiding the structural damage significantly under major seismic loadings because the input energy from the seismic will be dissipated through the FPS mechanisms. The study implemented two types of friction pendulum bearing system (FPS) namely the Single and Triple Pendulums. In this research, the behaviors of the single and triple friction pendulums implemented in the reinforced concrete high rise buildings will be compared and discussed. The design method of FPS is based on the combination of ultimate load and response spectra complying with the Indonesian Standard SNI 1726-2012 standard. Seven time histories were implemented for non-linear analysis to study the performance of the structures. Parameters used to evaluate the performance namely base shear, inter-story drift, roof acceleration, degree of damage and energy dissipation resulting from the responses of these two types of FPS's both under design based and maximum credible earthquakes.
Kualitas Papan Zephyr Pelepah Sawit dan Papan Komposit Komersial Sebagai Bahan Bangunan Lusita Wardani; Muhamad Yusram Massijaya; Yusuf Sudo Hadi; I Wayan Darwaman
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.2

Abstract

Abstrak. Papan zephyr dapat dibuat dari pelepah sawit dari limbah perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas Papan Zephyr Pelepah Sawit (PZP) dengan beberapa jenis papan bio-komposit komersial (plywood, papan blok dan papan partikel) yang ada dipasar berdasarkan sifat fisis-mekanisnya. PZP yang dibandingkan adalah papan zephyr dibuat dari 3 lapis lembaran zephyr yang disusun bersilang dengan perekat urea formaldehida. Papan komposit komersial diambil secara acak di toko bahan bangunan. Hasil penelitian diperoleh PZP 3 lapis, plywood, papan blok dan papan partikel masing-masing mempunyai kerapatan 0.79 g cm⁻³, 0.81 g.cm⁻³, 0.40 g.cm⁻³ dan 0.67 g.cm⁻³. Nilai rata-rata MOE masing-masing adalah 617.6(x10² kg.cm⁻²), 728.47 (x10² kg.cm⁻²), 398.74 (x10² kg.cm⁻²) dan 199.22(x10² kg.cm⁻²) dan MOR 405 kg cm⁻², 541 kg cm⁻²., 207 kg cm⁻². dan 119 kg cm⁻² serta kuat pegang sekrup masing-masing, 88.49 kg, 92 kg, 53.6 kg dan 61.4 kg. Papan zephyr hasil pengolahan limbah pelepah sawit ternyata mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan plywood, bahkan lebih baik daripada papan blok dan papan partikel yang diuji. Abstract. Zephyr board can be made from oil palm petiole, the waste from oil palm plantation. The objective of this study was to compare the quality of palm petiole zephyr board (PPZB) and the quality of several types of commercial biocomposite boards (plywood, block board, and particle board) available in market based on their physicalmechanical properties. PPZB that was compared was the zephyr board made from 3 layers of zephyr strands arranged crossly with urea formaldehyde adhesive. The target density was 0.8 g cm⁻³, and the board size was 300 mm x 300 mm x 10 mm at a pressing temperature of 120 ⁰C, and a pressure of 25 kg cm⁻² for 10 minutes. The commercial composite boards were taken randomly from a hardware store. The results of the study showed that3-layer PPZB, plywood, block board and particle board each had the density of 0.79 g cm⁻³, 0.81 g.cm⁻³, 0.40 g.cm⁻³ and 0.67 g.cm⁻³, respectively. The respective average value of MOE of each board was 617.6(x10² kg.cm⁻²), 728.47(x10² kg.cm⁻²), 398.74 (x10² kg.cm⁻²) and 199.22(x10² kg.cm⁻²), and that of MOR of each board was 405 kg cm⁻², 541 kg cm⁻², 207 kg cm⁻², and 119 kg cm⁻², while the screw holding strength of each was 88.49 kg, 92 kg, 53.6 kg and 61.4 kg, respectively.
Pengaruh Dimensi dan Bentuk Lamina Zig-zag pada Kekuatan Geser dan Lentur Balok Laminasi-Vertikal Bambu Petung Mujiman Mujiman; Henricus Priyosulistyo; Djoko Sulistyo; TA. Prayitno
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.3

Abstract

Abstrak. Kekuatan bambu semakin besar dari bagian dalam ke bagian luar. Kekuatan bambu dapat dimanfaatkan secara optimal dengan cara membuat balok bambu laminasi menggunakan lamina zig-zag. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan geser dan lentur balok bambu laminasi menggunakan lamina zig-zag dibandingkan dengan lamina persegi. Dimensi balok uji geser dan lentur beturut-turut 63/100-900 mm dan 63/100-2250 mm, panjang bentang pengujian 750 mm dan 2100 mm. Pengujian dilakukan diatas dua tumpuan sederhana sendi dan roll dengan dua beban terpusat masing-masing ditempatkan pada 1/3 panjang bentang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balok bambu laminasi yang dibuat menggunakan lamina zig-zag (Z7BL; Z9BL; Z7BG; Z9BG) lebih kuat, kaku dan daktil dibandingkan dengan menggunakan lamina persegi (P7BL; P9BL; P7BG; P9BG). Demikian juga balok bambu laminasi yang dibuat menggunakan lamina tebal 7 mm (Z7BL; Z7BG; P7BL; P7BG) lebih kuat, kaku dan daktil dibandingkan dengan menggunakan lamina tebal 9 mm (Z9BL; Z9BG; P9BL; P9BG). Kekuatan lentur balok uji P7BL, P9BL, Z7BL, Z9BL berturut-turut 41,36; 46,14; 48,04; 36,66 N/mm2. Kekakuannya berturutturut 297,86; 273,58; 292,11; 242,82 N/mm dan daktilitasnya berturut-turut 4,97; 4,48; 4,20; 5,08. Kekuatan geser balok uji P7BG, P9BG, Z7BG, Z9BG berturut-turut 3,47; 3,27; 3,92; 3,68 N/mm2, dan kekakuannya berturut-turut 1924,20; 1659,45; 2252,02; 1838,18 N/mm. Abstract. The strength of bamboo increases from the inside to the outer layer. Such strength can be utilized optimally by making laminated bamboo beams in zig-zag lamina. The objective of this reserach is to compare the shear and flexural strength of laminated bamboo beam with zig-zag bamboo beam and rectangular lamina. The dimensions of the shear and flexural beam of specimen were 63/100-900 mm and 63/100-2250 mm, respectively, with length of span of 750 mm and 2100 mm, respectively. The tests were carried out for two simple joint center, as well as for roll with two centered load. Each was positioned on the 1/3 of the length of span. Results indicated that the zig-zag limina for laminated bamboo beam (Z7BL; Z9BL; Z7BG; Z9BG) was stronger, more stiff and more ductile than rectangular shape lamina (P7BL; P9BL; P7BG; P9BG). Also, bamboo beam with lamina thickness of 7 mm (Z7BL; Z7BG; P7BL; P7BG) was stonger, more stiff and more ductile than bamboo beam with lamina thickness of 9 mm (Z9BL; Z9BG; P9BL; P9BG). The flexural strength of specimen beam P7BL, P9BL, Z7BL, Z9BL was 41,36; 46,14; 48,04; 36,66 N/mm2, respectively. The stiffnes was 297,86; 273,58; 292,11; 242,82 N/mm, with ductility of 4,97; 4,48; 4,20; 5,08, respetively. The shear strength of the specimen P7BG, P9BG, Z7BG and Z9BG was 3,47; 3,27; 3,92; 3,68 N/mm2, with stiffness of 1924,20; 1659,45; 2252,02; 1838,18 N/mm, respectively.
Program Eksperimental Perilaku Siklik Pilar Persegi Berongga Jembatan dengan Beton Berkekuatan Ultra Tinggi Mohammad Junaedy Rahman; Bambang Budiono; Awal Surono; Ivindra Pane
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.4

Abstract

Abstrak. Makalah ini membahas perilaku histeretik pilar beton bertulang berpenampang bujursangkar berongga (Hollow Rectangular Section Pier, HRSP) dengan mengaplikasikan material beton berkekuatan ultra tinggi (Ultra High Strength Concrete, UHSC). Program eksperimental dilaksanakan pada dua model spesimen HRSP-UHSC yang dibebani kombinasi gaya aksial tekan yang konstan dan perpindahan lateral siklik quasi static melalui aktuator pada loading frame. Pembebanan lateral berbasis pada control perpindahan sesuai ACI-374.1-05 (2005). Gaya aksial tekan diaplikasikan pada HRSP-70 dan HRSP-60 dengan rasio masing-masing sebesar 0.075fc'Ag. dan 0.15fc'Ag. Hasil ekeperimental menunjukkan bahwa peningkatan rasio gaya aksial tekan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kekuatan geser pilar, namun selanjutnya pilar mengalami degradasi kekuatan lebih cepat dengan pencapaian drift ratio dan faktor daktilitas perpindahan yang menurun. HRSP-70 mampu mencapai drift ratio 5.80% dengan faktor daktilitas perpindahan 5.35, sedangkan faktor daktilitas perpindahan HRSP-60 menurun menjadi 4.58 pada drift ratio 3.50%. Kecenderungan ini mengakibatkan HRSP-70 mampu mengakomodir  degradasi kekakuan dari keadaan leleh pertama sampai pada kondisi batas hingga 82.99%, sedangkan pada HRSP-60 hanya sekitar 77.86%. Begitu pula pendisipasian energi pada HRSP-60 menurun 39.46% setelah gaya aksial tekan dinaikkan sebesar 50%.Abstract. This paper discusses the hysteretic behavior of Hollow Rectangular Section Piers (HRSP) by applying Ultra High Strength Concrete (UHSC) material. The experimental program conducted in two models of HRSP-UHSC specimens were loaded by combination of a constant axial compression force and quasi static lateral cyclic loads through actuators on the loading frame. The lateral loads were based on displacement controls in ACI 374.1-05 (2005). The constant axial compression forces were applied into the HRSP-70 and HRSP-60 of 0.075fc'Ag and 0.15fc'Ag, respectively. The experimental results indicate that the increasing of the axial compression force ratio enhances the shear strength significantly, but then it experiences higher strength degradations with lower attainment of drift ratio and displacement ductility factor. The HRSP-70 achieved a displacement ductility factor of 5.35 at drift ratio of 5.80%, while HRSP-60 achieved a displacement ductility factor of 4.58 at drift ratio of 3.50%. This trend resulted that HRSP-70 was able to accommodate the stiffness degradation of the first yield state to the ultimate conditions up to 82.99%, while the HRSP-60 was only about 77.86%. Similarly, the energy dissipation of HRSP-60 decreased by 39.46% after the constant axial compression force had been increased 50% from previous specimen.
Mengukur Efisiensi Kontraktor di Sektor Konstruksi Nasional Menggunakan Data Envelopment Analysis Muhammad Arsyad; Andreas Wibowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.5

Abstract

Abstrak. Tulisan ini memaparkan hasil penelitian benchmarking efisiensi kontraktor menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Tujuannya adalah untuk membandingkan efisiensi satu kontraktor yang satu dengan yang lainnya dan mendapatkan kontraktor berkinerja terbaik untuk dijadikan benchmark bagi perusahaan lainnya. Variabel input meliputi jumlah pegawai, beban pegawai, jumlah proyek dikerjakan dalam setahun dan nilai proyek dikerjakan dalam setahun sementara variabel output adalah pendapatan dan laba bersih. Penelitian ini menggunakan 24 kontraktor besar yang beroperasi di pasar konstruksi nasional sebagai sampel, dengan tipe kepemilikan yang beragam. Berdasarkan skor rata-rata DEA antara 0 % (tidak efisien) dan 100 % (efisien) selama periode observasi dari tahun 2007 sampai 2012, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI; 98,16 %) memiliki peringkat tertinggi, diikuti kontraktor asing (97,90 %), swasta nasional non-BEI (88,22 %), swasta nasional BEI (84,65 %) dan, terendah, BUMN non-BEI (62,89 %) dengan efisiensi rata-rata adalah 87,07 %. Tidak ada perbedaan statistik efisiensi antara perusahaan BEI dan non-BEI. Tulisan ini mendorong perlunya tindakan segera oleh perusahaan yang berada jauh di bawah rata-rata untuk meningkatkan efisiensinya, terutama dalam menghadapi era perdagangan bebas ASEAN 2015.Abstract. This paper presents the research finding of efficiency benchmarking for national contractors using Data Envelopment Analysis (DEA). It aims to compare the efficiency of contractors and to obtain the best performing contractor against which peer firms may benchmark their performance. Input measures were number of staff, staff cost, number of completed projects in one year, total value of completed projects in one year) while output measures were revenue and net profit. This research sampled twenty four large construction firms operating in the Indonesian construction market, with a wide variety of organization ownership types. Based on the average DEA scores assigned from 0 % (inefficient) to 100 % (efficient) during the observation period from 2007 to 2012, Indonesia Stock Exchange (IDX)-listed State-Owned Firms (SOFs; 98.16 %) ranked the highest, followed by foreign firms (97.90 %), non-IDXlisted private firms (88.22 %), IDX-listed private firms (84.65 %), and non-IDX-listed SOFs (62.89 %) with average scores being 87.07 %. No statistical difference in efficiency was found between those IDX-listed and those not. This paper accordingly encourages immediate actions of far below-average national firms to improve their efficiency for especially facing the verge of the 2015 ASEAN free trade era.
Pemanenan Air Hujan Mengunakan Konsep Zero Runoff System (ZROS) dalam Pengelolaan Lahan Pala Berkelanjutan Fachruddin Fachruddin; Budi Indra Setiawan; Mustafril Mustafril; Prastowo Prastowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.6

Abstract

Abstrak. Kabupaten Aceh Selatan memiliki rerata curah hujan bulanan yang sangat tinggi sebesar 281,4 mm/bulan, sehingga memiliki potensi aliran permukaan yang tinggi. Ketersediaan curah hujan yang melimpah pada musim hujan belum dimanfaatkan secara optimal pada musim kemarau. Air hujan sebagian akan menjadi aliran permukaan sehingga tidak bisa dimanfaatkan tanaman secara efektif. Dampak dari terjadinya aliran permukaan yang tinggi akan menyebabkan hilang humus tanah sehingga terjadinya penurunan kesuburan lahan. Desain teknis sistem pemanenan air hujan yang efektif untuk konservasi air tanah dan memenuhi kebutuhan air tanaman pala telah dapat dibuat dengan rincian sebagai berikut: Sistem pemanenan air hujan pada penelitian ini menggunakan rorak yang dilengkapi saluran peresapan. Tata letak rorak dan saluran peresapan menyesuaikan dengan kontur lahan. Dimensi rorak ditentukan sesuai dengan debit aliran permukaan, yaitu kedalaman maksimal 30 cm dengan lebar 40 cm danpanjang 100 cm. Setiap rorak disertai saluran peresapan dari sisi kiri dan kanan dengan panjang 100 cm, dalam 10 cm dan lebar 20 cm.Abstract. South Aceh district has a very high average monthly rainfall of 281.4 mm/month, so it has a high potential of runoff. The availability of abundant rainfall during the rainy season has not been used optimally in dry season. A part of rainfall would become surface flow so that the plant cannot use it effectively. The impact of high surface flow will cause in loss of soil humus which leads to the decline of soil fertility. Technical design of rainwater harvesting systems which is effective for soil and groundwater conservation and for fulfil water needs from nutmeg crops could be constructed as : rainwater harvesting systems by using rorak equipped with infiltration channels. Rorak layout and channel infiltration should be adjusted to the contour of the land. Rorak dimensions are determined by the discharge of surface flow, which has the maximum depth of 30 cm, width of 40 cm and length of 100 cm. Each rorak is built with infiltration channels on the left and right side with lengt hand depth of 10 cm and width of 20 cm.
Kajian Koefisien Koreksi Indeks Kekeringan Menggunakan Basis Data Satelit TRMM dan Hujan Lapangan Edy Anto Soentoro; Levina Levina; Wanny K. Adidarma
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.7

Abstract

Abstrak. Untuk menganalisa kekeringan membutuhkan data curah hujan yang panjang yaitu > 30 tahun. Akan tetapi sangat sulit mendapatkan cukup data curah hujan, khususnya untuk daerah di luar Pulau Jawa yang memiliki keterbatasan data. Guna mengatasi problem tersebut, data hujan dari satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) dikaji kemungkinannya untuk menggantikan data hujan lapangan periode panjang. Studi kasus dilakukan dengan data di wilayah sungai Pemali Comal. Maksud dari kajian ini untuk mendapatkan koefisien koreksi indeks kekeringan data hujan dari satelit TRMM agar data TRMM tersebut dapat menjadi alternatif untuk menganalisa indeks kekeringan pada wilayah dengan keterbatasan data. Metode untuk menganalisa indeks kekeringan menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI) dan indikator dalam menentukan koreksi dengan Root MeanSquare Error (RMSE), dengan ambang batas kesalahan 0.5. RMSE dibandingkan antara RMSE SPI data hujanlapangan panjang (1951-2013) dan data satelit TRMM (2002-2013). Hasil rata-rata RMSE SPI koreksi < 0,5 untuk SPI semua skala waktu, sedangkan rata-rata RMSE tanpa koreksi, koreksi α-β wilayah dan pembagian wilayah berada > 0,5. Dengan demikian, data TRMM dengan koreksi SPI dapat digunakan dalam analisa kekeringan SPI semua skala waktu.Abstract. Analyzing drought requires a long period of rainfall data more than 30 years. Obtaining enough rainfall data, however, it is very difficult especially for areas outside of Java that have limited data. To solve this problem, the possibility of using Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) satellite rainfall data to substitute long-period of rainfall data is examined. For a case study, data from Pemali Comal river basin is used. This study is aimed to obtain the value of drought correction coefficient index based on the TRMM data, so that the data can be used as an  alternative to analyze drought index / severity of drought in areas with limited rainfall data. Standardized Precipitation Index (SPI) method is used to analyze drought severity, and the correction factor is determined by Root Mean Square Error (RMSE) with 0.5 as a threshold. Then the RMSE is compared between RMSE SPI of long period of groundstation rainfall data (1951-2013) and the TRMM satellite data (2002-2013). The results is that the average RMSE SPI correction is <0.5 for all SPI time scales, while the average RMSE without correction, correction α-β (whole region and sub-region) were > 0.5. Thus, the TRMM data with SPI correction can be used in the analysis of the SPI drought at all the time scale.
Evaluasi Struktural Perkerasan Lentur Menggunakan Metode AASHTO 1993 dan Metode Bina Marga 2013 Studi Kasus: Jalan Nasional Losari - Cirebon Akhmad Haris Fahruddin Aji; Bambang Sugeng Subagio; Eri Susanto Hariyadi; Widyarini Weningtyas
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.2.8

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis struktural perkerasan lentur, dengan metode Bina Marga 2013 dan membandingkan dengan metode AASHTO 1993, dimana keduanya merupakan bagian dari evaluasi metode non-destructive. Evaluasi struktural perkerasan lentur dengan Metode AASHTO 1993 dilakukan berdasarkan nilai lendutan d1 dan d6 dari survei FWD (Falling Weight Deflectometer) untuk menentukan nilai Modulus Resilien tanah dasar (MR) dan Modulus Efektif Perkerasan (EP) yang kemudian digunakan dalam menentukan nilai SNeff (Structural Number Effective), nilai SNf (Structural Number in Future), serta tebal lapis tambah (overlay). Sedangkan untuk Metode Bina Marga 2013, langkah pertama dalam evaluasi adalah dengan melakukan analisis pemilihan jenis penanganan yang didasarkan pada tiga nilai pemicu yaitu: Pemicu Lendutan, Pemicu IRI, dan Pemicu Kondisi, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan tebal lapis tambah (overlay) melalui pendekatan desain mekanistik dengan cara grafis dan Prosedur Mekanistik Umum (GMP). Perbandingan kedua metode menunjukkan bahwa tebal lapis tambah (overlay) perhitungan Bina Marga 2013, lebih tipis dibandingkan dengan perhitungan AASHTO 1993 untuk asumsi pemodelan yang sama, hal ini dikarenakan metode Bina Marga 2013 menggunakan cara analitis dengan bantuan program CIRCLY sehingga analisa tegangan regangan sebagai respon struktural perkerasan dapat diketahui lebih teliti dan mewakili kondisi yang sebenarnya dilapangan, dibandingkan cara analitis-empiris yang digunakan pada metode AASHTO 1993.Abstract. The purpose of of this research is to analyze structural flexible pavement by using Bina Marga 2013 Method and comparing with AASHTO 1993 Method, both of which are part of the non-destructive evaluation methods. Structural evaluation of flexible pavement by AASHTO 1993 Method carried out based on data deflections d1 and d6 of survey FWD (Falling Weight Deflectometer) to calculate value of Resilient Modulus of subgrade (MR) and Pavement Effective Modulus (EP), and then it used to determine SNeff value (Structural Number Effective), SNf value (Structural Number in the Future), and overlay thickness. While Bina Marga 2013 Method, first step of evaluation is analyzing the choice of treatment which is based on 3 trigger value, ie: Deflection Trigger, IRI  Trigger, and Conditions Trigger, then continued by calculation of overlay thickness through mechanistic design approaches with graphics and General Mechanistic Procedure (GMP). Comparison of the two methods shows that overlay thickness calculation of Bina Marga 2013, is thinner than calculation of AASHTO 1993 for the same modeling assumptions, this is because Bina Marga 2013 using the analytical method with the help of CIRCLY programs so that strain stress analysis of structural as a response of pavement can be determined more accurately and represent the actual conditions on site, compared to analytical-empirical method used in AASHTO 1993 Method.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 1 (2003) Vol 10 No 1 (2003) More Issue