cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014" : 12 Documents clear
BLOK INFRAKLAVIKULAR KONTINYU SEBAGAI MANAJEMEN NYERI AKUT PASCAOPERASI EKSTREMITAS ATAS Astuti, Sri; Widnyana, I Made Gede
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.293 KB)

Abstract

Seorang laki-laki 39 tahun mengeluh nyeri berat pada tangan kanan setelah kecelakaan lalulintas.Pada pemeriksaan rontgen didapat fraktur dan dislokasi sendi radiocarpal kanan. Tidak ditemukankelainan pada pemeriksaan fisik dan penunjang. Segera dilakukan operasi reduksi terbuka dan eksternal fiksasi, dikelola dengan anestesi blok infraklavikula pemasangan kateter kontinyu denganbantuan USG. Selama operasi dengan anestesi lokal bupivakain 0,5% 10 ml + epinephrine 1/400.000 dan lidokain 2 % + epinephrine 1/400.000 menghasilkan anestesi yang cukup selama operasi.Pascaoperasi dengan analgesia blok kontinyu  infraklavikula bupivakain 0,125 % 4 ml/jam dengan syringe pump. Kateter dipertahankan selama 3 hari, hari keempat dilanjutkan parasetamol oral dan hari kelima pasien pulang tanpa keluhan nyeri. [MEDICINA. 2014;45:47-51].
HUBUNGAN ANTARA KADAR ALBUMIN DAN MORTALITAS PASIEN DI UNIT PERAWATAN INTENSIF ANAK RSUP SANGLAH DENPASAR Indradjaja, Alice; Suparyatha, Ida Bagus; Budi Hartawan, I Nyoman
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.899 KB)

Abstract

Hipoalbuminemia berhubungan dengan luaran yang buruk pada pasien dewasa yang sakit berat namun hubungan ini pada pasien anak hingga saat ini belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin serum dengan mortalitas pasien anak yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Anak (UPIA) RSUP Sanglah Denpasar. Dengan desain kohort prospektif dilakukan penelitian di divisi Pediatri Gawat Darurat Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah dari periode Mei hingga Juli 2012. Pasien dikelompokan berdasarkan kadar albumin awal menjadi tiga kelompok, kelompok I dengan kadar albumin <2,5g/dl, kelompok II e”2,52,9g/dl dan  kelompok III >3g/dl. Data dianalisis dengan uji Kai-kuadrat dan analisis multivariat (regresi logistik) dengan tingkat kemaknaan á=0,05 (IK 95%). Dari 60 pasien, 20 pasien (33,3%) mengalami hipoalbuminemia dengan kadar albumin < 3 g/dl pada awal perawatan, terdapat 10 pasien(16,7%) pada kelompok I, sepuluh pasien (16,7%) terdapat pada kelompok II, dan kelompok III sebanyak 40 pasien (66,7%).  Mortalitas pada kelompok I dibandingkan kadar albumin normal menunjukkanperbedaan bermakna {RR 12,00 (IK95% 3,96 sampai 36,33), P<0,0001}, begitu juga untuk kelompok II bila dibandingkan dengan kelompok kadar albumin normal {RR 9,33 (IK 95% 2,92 sampai 29,81),P<0,0001}. Disimpulkan bahwa semakin rendah kadar albumin serum semakin tinggi angka mortalitas di UPIA RSUP Sanglah. [MEDICINA.2014;45:13-18].
MIXED GONADAL DYSGENESIS IN A SEVEN MONTH OLD BABY Krishna Levina, Made Ayu; Arimbawa, I Made
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.434 KB)

Abstract

Mixed gonadal dysgenesis is a very rare case with genital ambiguity as a clinical manifestation.Diagnosis of this condition is emerging due to proper gender assignment and  prompt treatment toachieve optimal physical and psychologic development. We reported a genital ambigous in a 7 month old baby, who was referred with enlargement of clitoris, an unpalpable testis, but with a highconcentration testosteron serum level, an uterus from genitography, and a mosaic karyotype 45,X/46,XY. The working diagnosis of this baby is mixed gonadal dysgenesis. Patients is being evaluated by a multidisciplinary team and planned having laparoscopy.  [MEDICINA 2014;45:52-57]
ASSOCIATION BETWEEN ENERGY AND MACRONUTRIENTS INTAKE WITH ANTHROPOMETRIC INDICATORS IN CHILDREN Yuliana, Yuliana; Sidiartha, I Gusti Lanang
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.703 KB)

Abstract

Antropometric indicator is the most widely used measurement of children’s nutritional status. The three main indicators that use to deûne undernutrition are underweight, stunting, and wasting, willrepresent different histories of nutritional insult to children. Adequate nutrition is a prerequisite to good health and one important determinant of growth and development. The objective of this study wasto investigate possible association between energy and macronutrients intake with anthropometric indicators. A cross-sectional study held at Jempiring Pediatric Wards Sanglah Hospital Denpasarfrom October until December 2013. Chi square and logistic regression test were used for detecting associations between energy and macronutrients intake with anthropometric indicators. A P-valueless than 0.05 was considered statistical significant. A total of 152 children were analyzed. Underweight was associated with inadequate intake of total energy, carbohydrate, and protein with PR 5.47 (95% CI 1.20 to 24.96), 4.29 (95% CI 1.03 to 117.86), 3.40 (95% CI 1.04 to 11.13), respectively. Stunting was associated with inadequate intake of total energy and protein with PR 4.76 (95% CI 1.56 to 14.57) and 13.41 (95% CI 4.42 to 40.68), respectively. Wasting was associated only with inadequate intake of total energy with PR 4.14 (95% CI 1.74 to 9.83). It can be concluded that underweight, stunting, and wasting showed association with inadequate energy and macronutrients intake. [MEDICINA 2014;45:3-8]
COR TRIATRIATUM SINISTER AT 34 DAYS OLD BOY Purnami, Adi; Gunawijaya, Eka
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.397 KB)

Abstract

Cor triatriatum merupakan kelainan bawaan yang sangat langka. Pada kelainan ini jaringan ikatfibrus akan membagi atrium kanan atau kiri menjadi 2 bagian. Angka kejadian hanya sebesar 0,1%dari seluruh kelainan jantung bawaan dan biasanya ditemukan bersama-sama dengan kelainanjantung lainnya. Perjalanan klinis tergantung dari hubungan antara bilik atas dengan bilik bawahdari atrium yang terbagi. Bila lubang penghubungnya kecil, keluhan mulai muncul sejak lahir danbiasanya meninggal saat masa bayi. Bila penghubungnya besar, keluhan akan muncul pada usia anakatau dewasa dengan gejala klinis menyerupai stenosis mitral. Kami melaporkan kasus pada bayiusia 34 hari yang datang dengan keluhan sesak napas dan kebiruan pada bibir bila menangis. Diagnosisditegakkan dari klinis, foto dada, dan ekokardiografi. Satu-satunya terapi adalah koreksi melaluipembedahan, tapi kasus meninggal sebelum pembedahan dilakukan. [MEDICINA  2014;45:65-70].
ASTAXANTHIN MENURUNKAN KADAR VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR, TUMOR NECROSIS FACTOR ALPHA, INTERLEUKIN-6, DAN NITRIC OXIDE PADA NONPROLIFERATIVE DIABETIC RETINOPATHY RINGAN: UJI KLINIS TERKENDALI Laksmi Utari, Ni Made; Putrawati T, AA Mas; Pertami Dewi, Ida Ayu; Sedani, Ni wayan
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.535 KB)

Abstract

Diabetic Retinopathy (DR) merupakan komplikasi mikrovaskular pada Diabetes Mellitus (DM) dan penyebab kebutaan paling sering pada usia produktif. Hiperglikemia menyebabkan terjadinya reaksiinflamasi dan stres oksidatif  dalam patogenesis DR dipaparkan oleh beberapa peneliti, namun peran antioksidan dalam mengurangi progresifitas DR masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pemberian astaxanthin 8 mg dapat menurunkan kadar Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-á), Interleukin-6 (IL-6) dan Nitric Oxide (NO) padapenderita Non Proliferative Diabetic Retinopathy (NPDR) ringan. Penelitian clinical trial dengan perluasan Randomized, Double Blinded, Placebo-Control, Pre and Posttest Group Design ini dilaksanakanpada bulan Juli 2013 - Desember 2013 di Poliklinik Mata RSUP Sanglah Denpasar Bali. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria eligibilitas sebanyak 40 pasien NPDR ringan terbagi menjadi 20 pasien  sebagai kelompok perlakuan yang diberikan astaxanthin 8 mg dan 20 pasien NPDR ringan yang diberikan plasebo sebagai kelompok kontrol. Pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan dilakukan sebelum dan setelah pemberian astaxanthin 8 mg serta plasebo selama 4 minggu. Perbedaan kadar rerata VEGF, TNF-á, IL-6 dan NO dianalisis dengan uji-t jika distribusi data normal dan uji Mann-whitney jika distribusi data tidak  normal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikaninformasi mengenai hubungan VEGF, TNF-á, IL-6, dan NO dalam perkembangan NPDR ringan serta manfaat pemberian astaxanthin dalam perkembangan NPDR ringan. [MEDICINA 2014;45:31-37]
HUBUNGAN ANTARA PERSALINAN SEKSIO SESAREA DAN KEJADIAN BRONKIOLITIS PADA ANAK Yuliana, Yuliana; Subanada, Ida Bagus
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.871 KB)

Abstract

Bronkiolitis sering mengenai anak usia kurang dari 2 tahun yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi tiap tahunnya. Beberapa penelitian menunjukkan adanya faktor-faktor yangmeningkatkan risiko terjadinya bronkiolitis, salah satunya persalinan seksio sesarea. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persalinan seksio sesarea dan kejadian bronkiolitispada anak. Penelitian ini menggunakan metode kasus kontrol yang dilakukan terhadap 60 pasien bronkiolitis sebagai kasus dan 60 pasien bukan bronkiolitis sebagai kontrol. Data diperoleh darirekam medis dan anamnesis langsung dari keluarga pasien anak usia lebih dari 1 bulan dan kurang dari 3 tahun yang dirawat inap di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Udayana/RSUPSanglah pada periode Januari 2013 sampai Maret 2013. Data dianalisis dengan uji Kai-kuadrat dan analisis multivariat (regresi logistik) dengan tingkat kemaknaan á = 0,05 (IK 95%). Dari data dasarsubjek penelitian didapatkan median usia 8 (1-36) bulan, laki-laki 63,3%, berat lahir rendah 15,8%, kehamilan kurang bulan 10,8%, malnutrisi 39,2%, pemberian ASI eksklusif 34,2%, vaksinasi BCG93,3%, riwayat atopi pada keluarga 16,7%, dan paparan asap rokok 27,5%. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara persalinan seksio sesarea dengan kejadian bronkiolitis {RO2,36 (IK 95% 0,89 sampai 6,25), P=0,76}. Paparan asap rokok mempunyai risiko lebih besar untuk terjadinya bronkiolitis {RO 2,87 (IK 95% 1,19 sampai 6,96), P=0,015}. Disimpulkan bahwa persalinanseksio sesarea tidak bermakna meningkatkan kejadian bronkiolitis. Paparan asap rokok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya bronkiolitis. [MEDICINA. 2014;45:19-24].
HIPERPLASIA ADRENAL KONGENITAL (HAK) KLASIK SIMPLE VIRILIZING PADA ANAK UMUR 3 TAHUN Indradjaja, Alice; Bikin Suryawan, I Wayan; Arimbawa, I Made
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.155 KB)

Abstract

Hiperplasia adrenal kongenital merupakan salah satu dari kelompok kelainan genetik akibat defisiensi enzim yang diperlukan untuk biosintesis steroid di korteks kelenjar adrenal. Bentuk kelainan hiperplasia adrenal kongenital yang tersering adalah defisiensi enzim 21-hidroksilase (21OHD) hingga mencapai 90% kasus. Kelainan utama pada pasien dengan defisiensi enzim 21-hidroksilase adalah kegagalan sintesis kortisol secara adekuat. Defisiensi 21-hidroksilase klasik tipe virilisasi sederhana menyebabkan genitalia ambigu pada bayi perempuan. Dilaporkan sebuah kasus hiperplasia adrenal kongenital klasik tipe virilisasi sederhana pada anak perempuan usia tiga tahun. Pasien dirujuk ke Poliklinik anak RSUP Sanglah Denpasar dengan keluhan utama pembesaran dan pemanjangan klitoris yang progresif disertai tumbuhnya bulu pubis.  Pasien lahir dengan genitalia ambigu. Pasien didiagnosis defisiensi 21-hidroksilase berdasarkan hasil pemeriksaan kadar progesteron 17-OH >1.200ng/dl dan pemeriksaan fisik didapatkan prader derajat III. Pada pemeriksaan usia tulang menunjukkan usia tulang yang melebihi umurnya, USG abdomen dalam batas normal dengan hasil analisis kromosom 46,XX. Pasien tidak pernah mengalami krisis adrenal selama 3 tahun dan menjalani tindakan pembedahan pada usia 3 tahun. Keluarga pasien diberikan konseling, dilakukan monitor  berkala pada pasien dan terapi hidrokortison. Prognosis pada pasien ini baik. [MEDICINA 2014;45:58-64].
PERAN MUTASI GEN p53 PADA KARSINOGENESIS SEL BASAL KULIT Dewi, Kadek Pramesti; Winarti, Ni Wayan
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.519 KB)

Abstract

Karsinoma sel basal (KSB) merupakan keganasan kulit non-melanotik tersering dan mempunyai kaitan erat dengan paparan sinar ultra violet (UV). Keganasan ini berasal dari sel-sel pluripotensial stratum basalis epidermis maupun selubung akar folikel rambut. Gambaran klinis dan histopatologis terdiri dari KSB tipe klasik (noduler) dan KSB varian (tipe superfisial, fibroepithelial, KSB dengan diferensiasi adneksal, basoskuamous, infiltrating, morpheaform).Kanker pada tubuh manusia muncul karena adanya mutasi genetik pada gen-gen yang terlibat dalamkontrol pertumbuhan sel, seperti onkogen, tumor suppressor gene, gen apoptosis, dan DNA repair gene.Pada kebanyakan kasus KSB, gen yang tersering mengalami mutasi adalah tumor suppressor genep53. Mutasi ini timbul akibat paparan langsung sinar UV, bergantung pada dosis, durasi dan intensitas paparan.Gen p53 dikenal dengan sebutan guardian of the genome, karena fungsinya sebagai sensor terhadapterjadinya kerusakan DNA. Adanya kerusakan DNA menginduksi aktivasi p53 untuk menghentikan siklus sel saat memasuki fase G1, sehingga memberikan kesempatan kepada DNA repair proteinbekerja memperbaiki kerusakan DNA. Lebih dari itu, p53 juga mengaktivasi gen GADD45 (growth arrest and DNA damage) untuk membantu perbaikan DNA. Jika perbaikan gagal, p53 akanmengarahkan sel dengan DNA yang rusak ke mesin apoptosis.Pada sel-sel basal terpapar UV, gen p53 mengalami mutasi dan inaktivasi. Karena itu, sel-sel dengan DNA yang mengalami kerusakan non-lethal akan mengalami ekspansi klonal sehingga tumbuh menjadilesi pra kanker dan akhirnya kanker (KSB). [MEDICINA 2014;45:38-42]
POLA KUMAN DAN SENSITIFITAS ANTIBIOTIK KASUS DEMAM BERKEPANJANGAN PADA PASIEN ANAK YANG DIRAWAT DI BAGIAN ANAK RSUP SANGLAH DENPASAR Gustawan, I Wayan; Tarini, Ade
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.1 KB)

Abstract

Demam berkepanjangan (prolong fever) merupakan salah satu kasus yang sering dijumpai dalam perawatan pasien anak sehari-hari. Penyebabnya telah banyak dilaporkan, namun penelitian di RSUPSanglah belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman penyebab dan sensitifitasnya terhadap antibiotik pada kasus demam berkepanjangan yang dirawat di bagiananak RSUP Sanglah selama tahun 2011-2012 dengan desain penelitian deskriptif retrospektif. Hasil penelitian didapatkan 146 pasien demam berkepanjangan selama kurun waktu 2 tahun (2011-2012),namun hanya 75 pasien yang mempunyai data lengkap. Distribusi terbanyak pada umur 12-60 bulan (30,7%) dan 62,7% merupakan pasien laki-laki. Penyebab terbanyak adalah infeksi (84,2%). Limapenyebab infeksi terbanyak adalah pneumonia berat, sepsis, demam tifoid, HIV/AIDS, dan meningitis bakteri. Tiga bakteri penyebab terbanyak adalah Pseudomonas aeruginosa, disusul Staphylococcusepidermidis dan Klebsiella pneumoniae. Pseudomonas aeruginosa sebagian besar masih sensitif terhadap gentamisin  dan hanya sebagian sensitif terhadap meropenem, amikasin, dan sefepim, namun sudahresisten terhadap ampisilin dan fosfomisin. Staphylococcus epidermidis resisten terhadap ampisilin, seftazidim, sefepim, ertapenem, ampisilin sulbaktam, dan fosfomisin, namun masih sensitif terhadapamikasin. Klebsiella pneumoniae resisten terhadap ampisilin, ampisilin sulbaktam, dan seftazidim,namun masih sensitif terhadap meropenem.[MEDICINA 2014;45:25-30]

Page 1 of 2 | Total Record : 12