cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 47 No 2 (2016): Mei 2016" : 13 Documents clear
Faktor-faktor yang memengaruhi status imunisasi pada anak dengan infeksi human immunodeficiency virus Jayanti, Kadek Surya; Wati, Ketut Dewi Kumara; Adnyana, IGAN Sugitha; Suarta, I Ketut
Medicina Vol 47 No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.65 KB)

Abstract

Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang secara langsung mengurangi pembiayaan kesehatan. Anak dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan populasi yang rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi sehingga imunisasi sangat direkomendasikan. Kelengkapan status imunisasi pada anak dapat dipengaruhi oleh pendidikan ibu, usia ibu, berat badan lahir, penyakit yang diderita, dan persepsi orangtua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status imunisasi dasar pada anak dengan infeksi HIV dan faktor-faktor yang berpengaruh. Penelitian ini menggunakan desain potong-lintang. Data didapat dari rekam medis. Analisis data menggunakan metode bivariat dan multivariat dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Dari analisis multivariat didapatkan bahwa usia saat diagnosis kurang dari 12 bulan berhubungan dengan status imunisasi pada anak dengan infeksi HIV [RP=0,07 (IK95% 0,02 sampai 0,25), P<0,0001)]. Simpulan dari penelitian ini adalah usia pasien saat didiagnosis dengan infeksi HIV kurang dari 12 bulan merupakan salah satu faktor risiko untuk tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap. Immunization is one of public health intervention which directly reduces health cost. Children with human immunodeficiency virus (HIV) infection are vulnerable for suffering preventable diseases which could be prevented through immunization. Thus makes immunization is strongly recommended. Factors that are determinants of childhood immunization are maternal education, maternal age, birth weight, accompanying disease, and parental perception on immunization. The aim of this study was to reveal immunization status on children with HIV infection and the determinant factors. This study used a cross-sectional design. Data was taken from medical record. We used bivariate and multivariate analysis with significant level of P<0.05. Multivariate analysis showed that age at diagnosis less than 12 months was associated with immunization status on children with HIV infection [PR=0.07 (95%CI 0.02 to 0.25), P<0.0001)]. The conclusion of the study was age at diagnosis less than 12 months was determinant factor for not receiving complete immunization.
Manifestasi infark miokard tanpa obstruksi arteri koroner pada kasus lupus eritematosus sistemik Suryawati, Gusti Ayu; Artha, Made Junior Rina; Rina, Ketut
Medicina Vol 47 No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.777 KB)

Abstract

Infark miokard pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyebab kesakitan dan kematian yang memiliki patogenesis kompleks dan sampai saat ini masih sulit dimengerti. Pada wanita yang mengalami infark miokard dengan peninggian segmen ST, 10-25% didapatkan hasil angiografi koroner normal. Laporan ini memaparkan satu kasus pada seorang wanita 34 tahun dengan LES yang mengalami manifestasi infark miokard, dan setelah dilakukan angiografi koroner didapatkan hasil normal. Myocard infarction in systemic lupus erythematosus (SLE) patients, a leading cause of morbidity and mortality, has a complex pathogenesis that is incompletely understood. Ten to twenty five percent of women with acute ST-segment elevation myocardial infarction, have normal coronary angiography. This case report described female, 34 years old with SLE and myocard infarction with normal coronary angiography.
Abses septum nasi pada anak Rikakaya, Putu Vira; Ratnawati, Luh Made; Wulan, Sari
Medicina Vol 47 No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.063 KB)

Abstract

Abses septum nasi adalah terdapatnya atau terbentuknya nanah pada daerah di antara tulang rawan atau tulang septum nasi dengan mukoperikondrium atau mukoperiosteum yang melapisinya akibat dari trauma pada hidung. Kasus abses septum nasi jarang terjadi. Jika terlambat ditangani menyebabkan komplikasi perforasi septum nasi, hidung pelana atau disebut saddle nose, selain itu bisa menyebabkan infeksi intrakranial. Dilaporkan satu kasus abses septum nasi pada anak lelaki umur 9 tahun dengan riwayat mengorek-ngorek hidung. Pada pemeriksaan fisis didapatkan pembengkakan septum nasi pada kedua sisi yang berbentuk bulat, merah, dan teraba fluktuasi yang telah dilakukan aspirasi untuk pemeriksaan biakan dan tes sensitivitas kemudian dilanjutkan insisi drainase lalu pemasangan drain dan tampon serta pemberian antibiotik parenteral. Setelah dilakukan insisi drainase abses serta pemberian antibiotik parenteral yang adekuat, septum nasi kembali normal dan tidak didapatkan tanda-tanda perforasi septum. Abses septum nasi merupakan kondisi yang memerlukan tindakan pembedahan segera berupa insisi dan drainase untuk mencegah komplikasi yang berbahaya. Nasal septal abscess defined as a collection of pus between the cartilaginous or bony nasal septum and its overlying mucoperichondrium and/ or mucoperiosteum. Nasal septal abscess is an uncommon condition. If left untreated, there are risks of nasal septal perforation which called by saddle nose deformity and also intracranial complications. A case of nasal septal abscess on a child, male 9 years old with history of nose picking has been reported. On the physical examination there were bilateral nasal septal round swelling, reddish and fluctuation and already done with aspiration for the culture and sensitivity test examination and then incision drainage, drain and nose packed and also parenteral antibiotic therapy. After incision drainage and an adequate parenteral antibiotic, the nasal septal back to normal condition and there was no septal perforation. Nasal septal abscess is a serious condition that necessitates urgent surgical management in order to prevent potential life threatening complications.

Page 2 of 2 | Total Record : 13