I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Indonesian Modified Checklist for Autism in Toddler, Revised with Follow-Up (M-CHAT-R/F) for Autism Screening in Children at Sanglah General Hospital, Bali-Indonesia. Windiani, I Gusti Trisna; Soetjiningsih, S.; Adnyana, I Gusti Agung Sugitha; Lestari, Kadek Apik
BALI MEDICAL JOURNAL Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : BALI MEDICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.541 KB)

Abstract

Background: Autism Spectrum Disorder (ASD) is a developmental disorder characterized by impaired reciprocal social interaction and communication, and by a restricted, repetitive or stereotyped behavior. Early detection of autism is recommended on all toddlers from the ages of 9 months because of increasing in prevalence. The Modified Checklist for Autism (M-CHAT) in Toddlers, a Revised with Follow-Up (M-CHAT-R/F) is a 2-stage parent-report screening tool to assess a risk for ASD and it demonstrates an improvement compared to the original M-CHAT. It is translated to Indonesian language by Soetjiningsih and colleagues, and it needs to be validated. Methods: This is a diagnostic accuracy study conducted at Sanglah Hospital, Bali, conducted from March 2015 to December 2016. We included children 18-48 months in this study. The parents of the outpatient children in the growth and development clinic of Sanglah Hospital were asked to fill out the Indonesian M-CHAT-R/F form. In the same visit, the Autism Spectrum Disorder (ASD) assessment according to the DSM-5 as a gold standard was done by the researchers, without knowing the M-CHAT -R/F result. The assessment comparison based on M-CHAT-R/F and DSM-5 was analyzed to obtain the AUC intersection on ROC curve that gives the best sensitivity and specificity. Results: We found 10.71% of our outpatient was diagnosed with autism according to DSM 5, when they are 18-24 months old. The Indonesian version of M-CHAT-R/F as an ASD screening tool has 88.9% in sensitivity and 94.6% in specificity. Conclusion: Our results suggest that the Indonesian translation of the M-CHAT-R/F is an effective screening instrument for ASD, particularly when a two-step screening process is used.
Faktor-faktor yang memengaruhi status imunisasi pada anak dengan infeksi human immunodeficiency virus Jayanti, Kadek Surya; Wati, Ketut Dewi Kumara; Adnyana, IGAN Sugitha; Suarta, I Ketut
Medicina Vol 47 No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.65 KB)

Abstract

Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang secara langsung mengurangi pembiayaan kesehatan. Anak dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan populasi yang rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi sehingga imunisasi sangat direkomendasikan. Kelengkapan status imunisasi pada anak dapat dipengaruhi oleh pendidikan ibu, usia ibu, berat badan lahir, penyakit yang diderita, dan persepsi orangtua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status imunisasi dasar pada anak dengan infeksi HIV dan faktor-faktor yang berpengaruh. Penelitian ini menggunakan desain potong-lintang. Data didapat dari rekam medis. Analisis data menggunakan metode bivariat dan multivariat dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Dari analisis multivariat didapatkan bahwa usia saat diagnosis kurang dari 12 bulan berhubungan dengan status imunisasi pada anak dengan infeksi HIV [RP=0,07 (IK95% 0,02 sampai 0,25), P<0,0001)]. Simpulan dari penelitian ini adalah usia pasien saat didiagnosis dengan infeksi HIV kurang dari 12 bulan merupakan salah satu faktor risiko untuk tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap. Immunization is one of public health intervention which directly reduces health cost. Children with human immunodeficiency virus (HIV) infection are vulnerable for suffering preventable diseases which could be prevented through immunization. Thus makes immunization is strongly recommended. Factors that are determinants of childhood immunization are maternal education, maternal age, birth weight, accompanying disease, and parental perception on immunization. The aim of this study was to reveal immunization status on children with HIV infection and the determinant factors. This study used a cross-sectional design. Data was taken from medical record. We used bivariate and multivariate analysis with significant level of P<0.05. Multivariate analysis showed that age at diagnosis less than 12 months was associated with immunization status on children with HIV infection [PR=0.07 (95%CI 0.02 to 0.25), P<0.0001)]. The conclusion of the study was age at diagnosis less than 12 months was determinant factor for not receiving complete immunization.
Masalah Adiksi Game Online pada Anak Reza, Muhammad; Sugitha Adnyana, IGAN; Ayu Trisna Windiani, I Gusti; -, Soetjiningsih
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 4 (2016): Adiksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.081 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i4.44

Abstract

Game online adalah game berbasis elektronik dan visual yang menggunakan jaringan internet, yang dapat dimainkan oleh beberapa pemain di lokasi berbeda. Game ini tidak asing lagi di kehidupan masyarakat, dapat dijumpai di rumah, warung internet, konsol, dan gadget. Maraknya game online dapat menyebabkan adiksi pada anak. Adiksi game online dapat menimbulkan kerugian signifikan, yaitu timbulnya sikap dan perilaku kompulsif, agresif, dan acuh pada kegiatan lain. Juga munculnya gejala seperti rasa tak tenang atau gelisah jika hasrat bermain tidak segera terpenuhi. Peran orangtua dalam terapi anak dengan adiksi game online sangat penting. Orangtua wajib membangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak; melarang terlalu keras dapat menyebabkan anak melawan dan akan berperilaku makin menyimpang.
PREVALENS GANGGUAN TIDUR PADA ANAK OBESITAS Desak Putu Gayatri Saraswati Seputra; I Gusti Ayu Trisna Windiani; I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.028 KB)

Abstract

Kejadian obesitas dinyatakan meningkat dua kali pada anak dan empat kali pada remaja dalam tiga puluh tahun terakhir. Obesitas dapat menimbulkan munculnya populasi berisiko baru yaitu gangguan tidur. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui prevalens dan jenis gangguan tidur pada anak obesitas. Gangguan tidur ditentukan dengan menggunakan kuisioner Sleep Disorder Scale for Children (SDSC). Penelitian adalah studi potong lintang. Sampel terdiri dari 30 anak usia 7-12 tahun yang telah didiagnosis obesitas. Penelitian dilakukan melalui kunjungan rumah.  Pengisian kuisioner SDSC oleh orang tua dilakukan untuk menilai gangguan tidur pada anak. Prevalens gangguan tidur pada anak obesitas didapatkan sebesar 66,7%. Jenis gangguan tidur yang paling banyak adalah gangguan pernapasan saat tidur (55%). Subjek dengan gangguan tidur lebih banyak berjenis kelamin perempuan (60%) dan berada dalam kelompok usia 12 tahun (55%). Pada subjek dengan gangguan tidur, didapatkan angka yang lebih tinggi untuk variabel ayah dengan tingkat pendidikan tinggi (65%) dan didapatkan angka yang sama untuk variabel Ibu dengan tingkat pendidikan rendah dan tinggi yaitu masing-masing 50%. Berdasarkan karakteristik lingkungan tidur, pada subjek dengan gangguan tidur didapatkan angka yang lebih tinggi untuk variabel tidak bising (85%), mematikan lampu (70%), adanya TV/komputer di kamar tidur (75%), kebiasaan tidur siang (60%), dan adanya teman tidur/co-sleeping (85%). Hasil penelitian menunjukkan prevalens gangguan tidur pada anak dengan obesitas adalah sebesar 66,7%. Jenis gangguan tidur tersering yaitu gangguan pernapasan saat tidur (55%).
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI Kadek Agus Rendy Surya Sentana; I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana; Ida Bagus Subanada
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.101 KB)

Abstract

Diare pada anak didefinisikan sebagai pengeluaran feses dengan konsistensi cair, lembek, atau bahkan air saja dan frekuensi pengeluaran feses 3x atau lebih dalam satu hari. Penyebab paling sering dari diare pada bayi adalah virus, sehingga pada bayi faktor imunitas saluran cerna merupakan faktor penting untuk mencegah terjadinya diare. ASI ekslusif ialah pemberian ASI saja, tanpa makanan tambahan lain hingga usia bayi 6 bulan. ASI merupakan nutrisi yang tepat untuk membangun imun bayi pada awal kehidupannya. ASI juga dikatakan sebagai faktor protektif terhadap kejadian diare pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan kembali adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi pada populasi di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kasus-kontrol yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Banjarangkan II, Klungkung. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah consecutive sampling. Data yang diperoleh berupa data sekunder dari pencatatan puksesmas dan data primer yang dicatat melalui kuesioner. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dan analisis menggunakan aplikasi statistik komputer. Hasil penelitian menunjukan bahwa ASI eksklusif berhubungan secara signifikan terhadap kejadian diare, dimana status non-ASI eksklusif meningkatkan risiko kejadian diare pada bayi dengan nilai RO = 4,129 (IK 95% 1,542 sampai 11,05) nilai p = 0,005. Disimpulkan bahwa ASI non-eksklusif meningkatkan risiko diare pada bayi. Kata kunci: diare, ASI eksklusif
KARAKTERISIK LUARAN BAYI YANG LAHIR DENGAN SECTIO CAESAREA DI RSUP SANGLAH DENPASAR Hendry Raymen Satria; I Made Kardana; I GAN Sugitha Adnyana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i10.P13

Abstract

Researches about the health effect of caesarean section (CS) on maternal and perinatal morbidity, pediatric outcomes, psychologic or social well-being are still unclear and limited. This research aims to study the characteristics outcome and indications of CS baby in Sanglah General Hospital. The descriptive cross-sectional research was conducted on 36 eligible babies out of 72 cesarean cases by medical record throughout 2017. As a result, 22 (61.1%) were male, 18 (50%) were preterm, 19 (52.8%) were normal weight baby. Four most common indications found were antepartum bleeding placenta previa, fetal distress, breech presentation and locus minoris resitentiae (LMR) with 3 (8.3%) cases each. In conclusion, CS delivery rate were higher in male gender. Proportion of baby between aterm and preterm, also normal and low birth weight were similar. Placenta previa, fetal distress, breech presentation and LMR as the most common indication for cesarean babies in Sanglah General Hospital. Keywords: Cesarean Section, Characteristics, Indication, Neonatal, Pediatrics Outcome
HUBUNGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIFITAS (GPPH) TERHADAP STATUS GIZI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG RSUP SANGLAH DENPASAR Gusti Ayu Teja Devi Megapuspita; I Gusti Ayu Trisna Windiani; I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.99 KB)

Abstract

Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) consists of a pattern that shows signs of persistent inattention and / or impulsive behavior and hyperactivity, which are heavier than they should occur at the age of developmentDAss. Children with ADHD have more physical activity than children without GPPH that affect their nutritional status. The aim of this study was to determine the relationship Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) and nutritional status of children in Growth and Development Clinic Sanglah Hospital. This research method analytical cross-sectional, that taken from the register of children with ADHD in Growth and Development Clinic Sanglah Hospital on January 1, 2014 - August 31, 2016. The results of 120 samples consisting of 48 ADHD children and 72 of non-ADHD children. The relationships of ADHD with normal and abnormal nutritional status is significant (PR: 0.5, 95% CI : 0.26; 0.97, p = 0.028), thin and normal nutritional status are also significant (PR: 0.2, 95% CI : 0.48; 0.835, p = 0.001), whereas the obese and normal nutritional status was not significant (PR: 0.875, 95% CI : 0.37; 2.06, p = 0.759). The conclusions of this study there is a significant relationship between ADHD and nutritional status (p = 0.028), where the prevalence of abnormal nutritional status in the children with ADHD is half lower than the children in non-ADHD group. Keywords: attention deficit and hyperactivity disorders, nutritional status, malnutrition, overweight.
Skrining Stres Pascatrauma pada Remaja dengan Menggunakan Post Traumatic Stress Disorder Reaction Index Putu Dian Savitri Irawan; Soetjiningsih Soetjiningsih; IGA Trisna Windiani; I Gst Ag Sugitha Adnyana; IGA Endah Ardjana
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.56 KB) | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.441-5

Abstract

Latar belakang. Stres pascatrauma (post traumatic stress disorder atau PTSD) merupakan suatu gangguan psikiatri fungsi sosial seseorang.Universitas California Los Angeles (UCLA) mengembangkan serangkaian self-report kuesioner yang disebut PTSD Reaction Index(PTSD-RI) untuk deteksi dini gangguan tersebut. Namun, kuesioner tersebut belum pernah digunakan di Indonesia.Tujuan. Mengetahui reliabilitas instrumen post traumatic stress disoder reaction index (PTSD-RI) versi remaja, prevalensi, serta faktoryang berhubungan dengan PTSD.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan di enam SMUN di Denpasar. Digunakan kuesioner PTSD-RI versi remaja yangtelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Digunakan uji α Cronbach untuk menilai reliabilitas PTSD-RI. Analisis statistikmenggunakan uji chi-square dan multivariat regresi logistik.Hasil. Terdapat 300 pelajar SMUN yang mengikuti penelitian. Enam puluh orang (20%) dengan tersangka PTSD. ReliabilitasPTSD-RI baik (koefisien α 0,94). Tipe kepribadian tertutup sebagai faktor risiko PTSD [RP 3,55 (IK95% 1,46-8,66), p=0,01].Keluarga yang harmonis [RP 0,35 (IK95% 0,08-0,78), p=0,02], adanya dukungan keluarga [RP 0,13 (IK95% 0,03-0,50), p=0,01],adanya dukungan sosial [RP 0,25 (IK95% 0,09-0,68), p=0,01], serta trauma tunggal [RP 0,02 (IK95% 0,14- 0,82), p=0,01] berperansebagai faktor protektif PTSD.Kesimpulan. Instrumen PTSD-RI memiliki reliabilitas yang baik sehingga dapat digunakan di Indonesia. Prevalensi PTSD padaremaja di Denpasar sebesar 20%.
Korelasi Positif Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Tingkat Stres pada Anak Sekolah Dasar Putu Anindia Sekarningrum; IGA Trisna Windiani; IGAN Sugitha Adnyana
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.524 KB) | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.145-9

Abstract

Latar belakang. Kompetisi antar orangtua merupakan salah satu penyebab munculnya sindrom hurried child, yaitu fenomena percepatan perkembangan anak. Anak diberi berbagai kegiatan ekstrakurikuler setiap minggu yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak. Hubungan orangtua dan anak yang tidak sehat cenderung membuat anak merasa tertekan ketika menjalankan kegiatan akademik mereka. Kesenjangan antara tuntutan dari orangtua dan kemampuan diri anak akan menimbulkan kondisi stres di bidang akademik pada anak.Tujuan. Mencari besar korelasi antara kegiatan ekstrakurikuler dengan tingkat stres pada anak sekolah dasar.Metode. Digunakan rancangan penelitianobservasional analitik dengan desain potong lintang. Penentuan lokasi dan subjek penelitian digunakan metode purposive sehingga terpilih Sekolah Dasar Swasta C Denpasar. Hasil. Berdasarkan analisis korelasi dengan uji korelasi Pearson, didapatkan kegiatan ekstrakurikuler memiliki korelasi positif lemah dengan tingkat stres (r=0,309). Semakin lama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di bidang pelajaran sekolah dalam seminggu maka semakin tinggi skor stres (r=0,403) dan semakin lama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni dalam seminggu maka semakin tinggi skor stres (r=0,166).Kesimpulan. Kegiatan ekstrakurikuler memiliki korelasi positif dengan tingkat stres pada anak sekolah dasar. 
Sarapan dan Faktor yang Berhubungan dengan Hasil Tes Kecepatan dan Ketelitian pada Remaja Tristina Wardani; IGAN Sugitha Adnyana; IGA Trisna Windiani; Soetjiningsih Soetjiningsih; Luh Kadek Pande Ary Susilawati
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.477 KB) | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.31-6

Abstract

Latar belakang. Konsumsi sarapan berdampak positif pada remaja, yaitu meningkatkan kecukupan makanan, penurunan risiko kelebihan berat badan, obesitas dan, meningkatkan fungsi kognitif. Remaja yang melewatkan sarapan memiliki masalah perhatian lebih banyak yang memengaruhi performa belajar. Tes kecepatan dan ketelitian (differential aptitude test) digunakan untuk mengukur respon terhadap tugas atau pekerjaan, yang meliputi kecepatan persepsi, respon terhadap kombinasi huruf-angka, ingatan jangka pendek, pemahaman simbol, bekerja secara detail, dan kesuksesan akademik. Tujuan. Mengetahui hubungan sarapan dengan hasil tes kecepatan dan ketelitian pada remaja.Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang. Pemilihan sekolah menengah pertama (SMP) di Kotamadya Denpasar menggunakan metode purposive.Hasil. Pelajar SMP yang mengikuti penelitian 175 orang. Pada analisis multivariat regresi logistik didapatkan sarapan, jenis kelamin perempuan dan durasi tidur >9 jam memiliki hubungan dengan hasil tes kecepatan dan ketelitian yang baik secara signifikan (p=0,005; OR 2,5; IK95%: 1,322-4,924), (p=0,001; OR 2,9; IK95%: 1,545–5,764) dan (p =0,04; OR 1,9; IK95%: 1,028–3,874). Kesimpulan. Sarapan, jenis kelamin perempuan, dan durasi jam tidur >9 jam secara signifikan memiliki hubungan dengan hasil tes kecepatan dan ketelitian yang baik.