cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 47 No 3 (2016): September 2016" : 18 Documents clear
Korelasihipotensiortostatik dan fungsi kognitif padapasien geriatri diRSUP Sanglah Putra, I Komang Wisuda Dwija; Kuswardhani, A Tuty
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.662 KB)

Abstract

Tujuanpenelitianiniadalahuntuk mengetahui hubungan tekanan darah dan fungsi kognitif pada pasienhipotensi ortostatik. Metode yang dipergunakanadalah analisis potong lintang, pada pasien rawat jalan dipoliklinik geriatri RSUP Sanglah. Hipotensiortostatikadalahpenurunan minimal 20 mmHg tekanandarahsistolikdanatau 10 mmHg padatekanandarahdiastolikdariperubahanposisi baring kedudukatauberdiridenganselangwaktu 3 menit. Fungsi kognitif menggunakan skormini mental state examination(MMSE)danmontreal cognitive assessment (MOCA). Padapenelitianini didapatkanperbedaan yang signifikanpada skor MMSE dan MOCA pada pasien hipotensi ortostatik berdasarkan tingkat pendidikan,skor MMSE(simpangbaku/SB) padakelompokpendidikan SMA dandi atasnyasebesar 21,31(2,983) berbanding16,79(4,526) padakelompokpendidikan SMP dandi bawahnya (nilai P=0,003 IK 95% 1,694sampai7,359) danuntukskor MOCA (SB) sebesar17,75(3,396)berbanding13,36(4,088) dengannilai P=0,003IK95% 1,594sampai 7,191. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara tekanan darah diastolik saatberbaring dengan skor MMSE (r=0,481,nilaiP=0,007 dengan IK95% 22,836sampai41,132) dan terdapatkorelasi positif yang signifikan antara tekanan darah sistolik dan diastolik saat berbaring dengan skorMOCA (r=0,370 dan 0,447). Simpulanpenelitianini adalah tekanan darah memiliki korelasi denganpenurunan fungsi kognitif. Penelitianlanjutandenganjumlahsampel yang lebihbesar diperlukanuntukmengetahui hubungan tekanan darah dengan fungsi kognitif pada pasien hipotensi ortostatik.[MEDICINA.2016;50(3):7-11].The purpose of this study was to determine the relationship of blood pressure and cognitive function inorthostatic hypotension patients. The method used was a cross-sectional analysis on outpatient at geriatricclinic of Sanglah Hospital. Hypotension orthostatic was defined as a decrease at least 20 mmHg systolicblood pressure and or reduction of at least 10 mmHg diastolic blood pressure from lying position to sittingor standing position within 3 minutes. Cognitive function using themini mental state examination(MMSE)andmontreal cognitive assessment(MOCA) score. In this study, a significant difference in MMSE scoreand MOCA on patients with orthostatic hypotension based on their education level, MMSE score standarddeviation(SD) in high school education and above group is 21.31 (16.79), compare with number of juniorhigh and bellow group is 2.983 (4.526), (p value=0.003 95% CI 1.694 to 7.359) and for MOCA score(17.75 (3.396) and 13.36 (4.088)) with p value=0.003CI 95% 1.594 to 7.191. There wasa significantpositive correlation between diastolicblood pressure when lying down with MMSE score (r=0.481, pvalue=0.007 with CI 95% 22.836 to 41.132) and there is a significant positive correlation between systolicand diastolic blood pressure when lying down with MOCA score of (r=0.370 and 0.447). Theconclusion ofthis study was that the blood pressure has a correlation with declining of cognitive function. Larger studiesare necessary to determine the relationship between blood pressure and cognitive function on patients withorthostatic hypotension.[MEDICINA.2016;50(3):7-11].
Hubungan positif fungsi keluarga dan tipe kepribadian terhadap keparahan ketergantungan heroin pada klien Program Terapi Rumatan Metadon “Sandat” RSUP Sanglah Denpasar Murdhana Putere, Sagung Putri Permana Lestari
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1647.031 KB)

Abstract

Penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) saat ini semakin marak terjadi. Penyalahgunaan ini akhirnya menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan dapat menjadi parah tergantung dari faktor risiko yang ada pada seseorang, salah satu contohnya adalah ketergantungan heroin. Keparahan ketergantungan dapat disebabkan karena faktor individu, keluarga dan lingkungan. Faktor keluarga yang mempengaruhi salah satunya adalah fungsi keluarga, sedangkan faktor individu yang mempengaruhi salah satunya adalah tipe kepribadian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan fungsi keluarga dan tipe kepribadian dengan keparahan ketergantungan heroin. Penelitian ini penelitian potong lintang dengan pengambilan sampel secara purposive sampling yang dilakukan di PTRM Sandat RSUP Sanglah Denpasar dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Seluruh responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diberikan skala fungsi keluarga McMaster Family Assessment Device, WHO-ASSIST dan MMPI 180. Penelitian dilakukan selama 4 minggu sampai jumlah sampel terpenuhi. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS. Dari penelitian ini didapatkan seluruh skala fungsi keluarga yang buruk berhubungan dengan keparahan ketergantungan heroin. Tipe kepribadian psychoticism dan disconstraint berhubungan dengan keparahan ketergantungan heroin. Faktor yang paling berhubungan dengan keparahan ketergantungan heroin adalah psychoticism dengan OR 26,217(p=0,000). Kesimpulan terdapat hubungan antara fungsi keluarga dan tipe kepribadian dengan keparahan ketergantungan heroin. Tipe kepribadian psychoticism lebih berhubungan dengan keparahan ketergantungan heroin. Kata kunci: fungsi keluarga, tipe kepribadian, ketergantungan heroin, terapi metadon.
Perbandingankomposisitubuhpadakelompok lanjut usiasebelum dan setelah pelaksanaansenam tera diPanti Sosial Tresna WerdhaWana Seraya Denpasar Semadi, I Made Siswadi; Kuswardhani, RA Tuty
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.154 KB)

Abstract

Perubahan komposisi tubuh merupakan tanda penting proses penuaan. Salah satu upaya mempertahankan danmeningkatkan kesehatan padalanjut usia (lansia) adalah olahraga yang bersifat low impact, misalnyasenamtera.Tujuan penelitian ini adalahmengetahui perbandingankomposisi tubuh (berat badan, komposisi lemakdanototskeletal) kelompok lansia sebelumdan setelah pelaksanaan senamtera. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimental dengan desainone grouppretestandpostest. Penelitiandiikutioleh 16 orang, dilakukan di Panti SosialTresna WerdhaWana Seraya Denpasar pada bulan Januari-Maret 2013. Subjekdiberikan latihan senam tera selama 8minggu dengan frekuensi 3 kali perminggu. Pemeriksaankomposisitubuhdilakukansebelumdansetelah perlakuan.Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk, sedangkan uji komparasi menggunakan uji t berpasangan danWilcoxon rank test. Hasil analisis menunjukkanterdapat penurunanberat badan (51,37 vs 50,38 kg; P=0,007),persentase lemak tubuh total (36,37vs29,47%; P=0,005), persentase lemak viseral (10,19%vs7,12%; P=0,008),persentase lemak subkutan (24,57 vs 22,94%; P=0,138) dan otot skeletal (23,73 vs 23,68%; P=0,899), sertapeningkatan kekuatanotot(14,44vs15,53kg; P=0,358)setelah pelaksanaan senam tera. Disimpulkanbahwa terdapatpenurunan berat badan, persentaselemak total danviseral secarabermakna, namuntidakterdapat perubahan yangbermakna pada persentase lemak subkutan, otot skeletal serta kekuatan otot setelah pelaksanaan senam tera.[MEDICINA.2016;47(3):38- 41]Changing in body composition is important sign of aging process. Low impact exercise for example tera exercise isone effort to increase health status in elderly. The aim of this study was to compare the body composition (bodyweight, fat and skeletal muscle) in elderly before and after tera exercise. Thiswasaexperimental study withone grouppretest andpostest design.There was 16 subjects in WanaSraya Nursing Home Denpasar who participated in thisstudy. They did tera exercise for 8 weeks, 3 times a week. Body weight, fat, skeletal muscle composition and musclestrength were measured before and after intervention. Data normality was analysed using Shapiro-Wilk test,comparison of body compositions were analysed using pairedt-test andWilcoxon rank test. There were decrease ofbody weight (51.37 vs50.38 kg; P=0,007), total body fat percentage (36.37vs 29.47%; P=0.005), visceral fatpercentage (10.19%vs 7.12%; P=0.008), subcutaneous fat percentage (24.57 vs 22.94%; P=0.138) and skeletalmuscle(23.73 vs 23.68%; P=0.899) after tera exercise, while muscle strength was increase (14.44vs 15.53kg;P=0.358). It was concluded that tera exercise could significantly decrease body weight, total dan visceral fatpercentage, but no significant change in subcutaneus fat, skeletal muscle percentage, and muscle strength inelderly.[MEDICINA.2016;47(3):38-41]
seorang penderita tuberkulosis diseminata dengan komplikasi penyakit ginjal kronis Koncoro, Hendra; Kandarini, Yenny; Sudhana, Wayan; Widiana, I Gde Raka
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.707 KB)

Abstract

Tuberkulosis diseminata dapat melibatkan berbagai organ dan secara klinis timbul dengan bermacam-macam tanda dan gejala.Penyakit ginjal kronis merupakan salah satu komplikasi yang disebabkan oleh penyebaran hematogenik Mycobacterium tuberculosis ke traktus urogenital. Diagnosis dini dan inisiasi terapi yang tepat merupakan hal penting dalam pencegahan komplikasi lanjut penyakit ini. Dilaporkan sebuah kasus dengan tuberkulosis diseminata yang memperlihatkan keterlibatan paru dan organ ekstra-paru. Kasus ini memperlihatkan tuberkulosis paru, serviks, dan urogenital yang dikonfirmasi dengan pewarnaan sputum basil tahan asam, biopsi serviks, dan biopsi buli buli. Pewarnaan sputum basil tahan asam menunjukkan hasil 3+, sedangkan biopsi serviks dan buli buli menunjukkan radang kronik granulomatosa dengan multinucleated giant cell tipe Langhans. Kadar blood urea nitrogen (BUN) 11 mg/dL dan kreatinin serum 2,58 mg/ dL dengan hidronefrosis ringan kiri pada saat dirawat. Setelah diagnosis ditegakkan, pasien diterapi dengan obat anti-tuberkulosis dan membaik dengan kadar BUN 13,55 mg/ dL dan kreatinin serum 0,9 mg/ dL setelah satu bulan terapi.[MEDICINA.2016;50(3)63-70]
Perbedaan antara geriatric depression scale kelompok usia lanjut dengan insomnia dan geriatric depression scale kelompok usia lanjut tanpa insomnia Ake, Anselmus; Kuswardhan, RA Tuty
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.526 KB)

Abstract

Insomniamerupakangejaladari depresipada usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbedaanantarageriatric depression scale (GDS) kelompokusia lanjut dengan insomnia dan GDS kelompokusia lanjut tanpainsomnia. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan potong-lintang analitik. Penelitiandilakukanpadaindividuberusia 60 tahunkeatas. Untukmengetahuiperbedaanantara GDSdenganinsomniadantanpa insomniadigunakanuji Mann-Whitney.Sebanyak 87sampelmasukdalampenelitianini.Rerataumurpenderitaadalah 69,23tahundenganrangeantara 60 sampai 98 tahun. Uji Mann-Whitneymendapatkanperbedaanbermaknaantara GDS kelompokusialanjut dengan insomnia dan GDS kelompokusialanjuttanpa insomnia(P<0,001). Padapenelitian ini didapatkanperbedaanbermaknaantara GDS kelompokusialanjutdengan insomnia dan GDS kelompokusialanjuttanpa insomnia. Disarankan pada semua individu dengan insomnia harus dilakukan skrining untuk depresi,begitu juga sebaliknya.[MEDICINA.2016;50(3):12-16].Insomnia can be a symptom of depression in the elderly. This studywasaimedto determine thedifference betweengeriatric depression scale (GDS) group of elderly with insomnia and without insomnia. This study was anobservational study with cross-sectional analytical design. The study was conducted in individuals with the age 60yearsoldorabove. The Mann-Whitney testwasused to determine thedifference between GDS group of elderly withinsomnia and without insomnia. A total of 87 sampleswereincluded in this study. The meanofagewas69.23 yearsoldwith a range between 60 to 98 years old. Mann-Whitney test showed that thereweresignificant differencesbetweenGDS group ofelderly with insomnia and GDS group of elderly without insomnia(P<0.001).In this studywefound asignificantdifference between GDS group of elderly with insomnia and without insomnia.We suggest that inelderlyindividuals with insomnia should be screening for depression, and vice versa. [MEDICINA. 2016;50(3):1216].
Risk factors of neonatal mortality in sanglah hospital denpasar Lufyan, Reddy; Kardana, Made; Subanada, Ida Bagus
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2538.963 KB)

Abstract

The neonatal mortality continues to be one of the global burden for both developed and developing countries. Information on neonatal mortality at international level is in great demand because it emerges as an increasingly prominent component of overall under-five mortality. Since causes of neonatal death vary by country and with the availability and quality of health care, understanding neonatal mortality in relation to these factors is crucial. This study aimed to acknowledge the characteristics and identify the related risk factors of neonatal mortality in Sanglah Hospital Denpasar. This study was a case control study performed in Sanglah Hospital Denpasar. Data was obtained from medical record and registry, analyzed as bivariate using chi-square test and multivariate by using logistic regression analysis model. This study involved 96 subjects for each case and control group. Bivariate analysis showed that asphyxia, low birthweight, major congenital anomaly, prematurity, respiratory distress syndrome, and sepsis were risk factors of neonatal mortality. Multivariate analysis showed that major congenital anomaly (OR 15.67; 95%CI 3.43 to 71.57), prematurity (OR 4.99; 95%CI 1.23 to 20.17), and respiratory distress syndrome (OR 34.90; 95%CI 12.79 to 95.26) were the most significant risk factors of neonatal mortality. In conclusion, neonatal mortality is still an important issue to be concerned seriously. Respiratory distress syndrome, major congenital anomaly, and prematurity were the most significant risk factors associated to neonatal mortality. Better understanding of the risk factors would increase the clinical awareness, develop, and improve better service for neonatal care to reduce neonatal mortality rate. Keywords: risk factor, neonatal, mortality
Seorang pasien yang menderita sklerosis sistemik konkomitan dengan artritis reumatoid Yuliandari KK, Cok Istri; Kambayana, Gede
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.582 KB)

Abstract

Sklerosis sistemik (SS) dan artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit jaringan ikat yang bersifat kronik progresif.Sklerosis sistemik ditandai dengan fibrosis abnormal, sedangkan AR ditandai dengan gangguan pada persendian yangsimetris. Sklerosis sistemik merupakan penyakit yang jarang. Kedua penyakit ini dapat terpisah atau terjadi bersamaanyang disebut denganoverlap syndrome. Kami melaporkan sebuah kasus SS dan AR yang secara konkomitan terjadipada seorang pasien. Wanita, usia 30 tahun, suku bali, yang ditemukan dengan penebalan, penegangan, danpengerasan pada kulit seluruh tubuh yang dialami sejak 4 tahun yang lalu. Pada pasien juga ditemukan deformitas(swan neck deformity) simetris pada sendi jari tangan dan kaki. Anti-topoimerase 1 (anti-scl 70) positif, biopsi kulitmenunjukkan suatu skleroderma, foto manus dan pedis menunjukkan gambaran erosi marginal. Pasien memenuhikriteria diagnosis SS dan AR, dandiberiterapi metroteksat 7,5 mg setiap minggu, denganprognosis dubius ad malam.[MEDICINA.2016;50(3):42-46]Systemic sclerosis (SS) andrheumatoidarthritis (RA) are a chronic and progressive of connective tissue diseases.Systemic sclerosis presented by abnormal fibrosis, whileRA is presented bysymmetrical joint lesion. Systemicsclerosis is a rare case. Systemic sclerosis and RA can affect the patient separately or both can occurred in oneindividual, called overlaps syndrome. We reported a case of SS and RA overlaps syndrome. Athirtyyear old Balinesefemale patient found with a thickening, tightness,andhardening of her skin, occurred since 4 years. We also found theswan neck deformities on her fingers and toessymmetrically. Anti-topoimerase (anti-scl 70) positive, skin biopsyshowed scleroderma, manus and pedis x-ray showed the marginal erosion. The patient fulfilled criteria diagnosis forSS and RA. The patient was given metrotexat 7.5 mg each week, and the prognosis was dubius ad malam.[MEDICINA.2016;50(3):42-46]
Uji validitas dan reliabilitas modifikasi smartphone addiction scale versi Bahasa Indonesia Kurniawan, I Gde Yudhi; Rustika, I Made; Alit Aryani, Luh Nyoman
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.879 KB)

Abstract

Smartphone merupakan telepon seluler masa kini yang dilengkapi aksesinternet dan aplikasi dari pihak ketiga yang menarik. Penggunaansmartphone yang berlebihan dapat menjadikan penggunanya mengalamismartphone addiction. Peningkatan pesat penggunaan smartphone diIndonesia memerlukan suatu skala ukur yang sudah tervalidasi untukmelakukan penilaian sehingga prevalensi dan individu yang berisikomengalami smartphone addiction dapat diketahui. Penelitian ini bertujuanuntuk menguji validitas dan reliabilitas Smartphone Addiction Scalesehingga diharapkan dapat digunakan untuk penelitian berikutnya.Smartphone addiction scale orisinil dilakukan alih bahasa ke dalam BahasaIndonesia dan dilakukan modifikasi item menjadi favorable dan unfavorablelalu diujicobakan pada 65 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UniversitasMahasaraswati Denpasar. Hasilnya dari 33 item pernyataan smartphoneaddiction scale orisinil menghasilkan 21 item pernyataan valid dengan nilaikoefisien korelasi item total yang berkisar dari 0,282 sampai 0,802 dan nilaikoefisien Cronbach Alpha 0,890. Berdasarkan hasil tersebut, ModifikasiSmartphone Addiction Scale versi Bahasa Indonesia merupakan skala yangvalid dan reliabel sehingga skala self reporting ini dapat digunakan untukskrining individu yang memiliki risiko smartphone addiction. Kata kunci : smartphone, validitas, reliabilitas, smartphone addiction scale

Page 2 of 2 | Total Record : 18