cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 1 (2013)" : 10 Documents clear
URGENSI MADRASAH DI ERA KONTEMPORER Anwar Rasjid
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.558 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.180-200

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini bermaksud megulas eksitensi madrasah di era kontemporer. Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di Indonesia, madrasah selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan moral dan beragama di Indonesia, juga ikut serta berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia, di samping itu Madrasah juga berperan  dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Meski demikian performa madrasah saat ini masih dirasakan berkualitas kurang dan sangat perlu untuk ditumbuh-kembangkan pada masa yang akan datang. Masyarakat di era sekarang (kontemporer) semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis moral dan keagamaan, dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan orang. Hal ini menunjukkan urgensi dan signifikansi eksistensi madrasah di era kontemporer. ENGLISH:This article aims to explain the existence of Islamic school in contemporary era. As educational institution that has been developing for long in Indonesia. Islamic school not only success in building and developing the moral and religion in Indonesia but also participates in engaging the nationality to the soul of Indonesia society. Furthermore, Islamic School has role in educating the national life. In the other hand, the nowadays Islamic school performance is less satisfied and need to improve in the future. Today society (contemporary) made the Islamic school more unique. When the science and technology develop rapidly, the philosophy of modern life is seemingly lack of moral and religious crisis, and  world free trade comes closer, the existence of Islamic school is urgently needed. It shows that the urgency and significant of the Islamic school existence.
INTEGRATED TWIN TOWERS DAN ISLAMISASI ILMU Syaifuddin Syaifuddin
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.057 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.1-20

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini menunjukkan beberapa pemikiran sebagai berikut: Pertama, desain integrated twin towers dilakukan dalam rangka menyongsong perubahan IAIN menjadi UIN Sunan Ampel. Dalam desain integrated twin towers posisi keilmuan agama dan umum tidak dicampur menjadi satu, tetapi dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, dan pada saat tertentu dipertemukan untuk saling berdialog. Dalam desain integrated twin towers keilmuan agama tidak bermaksud mengintervensi keilmuan umum, karena keilmuan umum dianggap sudah mapan, jadi biarkan berjalan secara wajar pada posisinya; yang penting di antara kedua keilmuan itu bisa saling berkomunikasi. Kedua, desain Islamisasi ilmu dilakukan dalam rangka mengkritisi keilmuan umum yang notabene banyak bersumber dari Barat dan bersifat sekuleristik, materialistik, dan individualistik. Dalam proses Islamisasi ilmu, keilmuan Islam berupaya mengintervensi keilmuan umum dalam rangka memfilterisasinya sehingga keilmuan tersebut menjadi Islami. Jadi Islamisasi ilmu berarti memberikan wawasan (world view) keislaman kedalam keilmuan umum. Ketiga, meskipun ada perbedaan di antara desain integrasi keimuan berbasis Islamisasi ilmu dengan integrated twin towers, namun juga ada persamaannya. Perbedaannya terletak pada proses (epistemologi)-nya. Dalam prosesnya, desain Islamisasi ilmu berusaha mengintervensi kajian keilmuan umum dengan pendekatan kajian keagamaan; sedangkan dalam desain integrated twin towers keilmuan agama tidak bermaksud mengintervensi kajian keilmuan umum. Persamaannya terletak pada kurikulum (ontologi) dan tujuan (aksiologi). Dalam hal kurikulum, keilmuan yang dikaji adalah bidang kajian keilmuan agama dan umum. Sementara dalam hal tujuan, Islamisasi ilmu dan integrated twin towers sama-sama bertujuan untuk mengintegrasikan keilmuan agama dan umum, mendialogkan, mengkomunikasikan, dan mensinergiskannya; sehingga menjadi keilmuan yang utuh-integral-integratif. ENGLISH:This paper shows some idea as follows: First, integrated design of the Twin Towers as the changing action from IAIN to UIN Sunan Ampel. The religion and general knowledge’s position of Twin Towers’ integrated design is not mixed into one, but it works individually, and at the certain time are united in mutual dialogue. Second, Islamize design is done in order to criticize the general knowledge which has western sources and are secular, materialistic, and individualistic. In the process to Islamize the knowledge, Islamic knowledge tries to intervene the general knowledge in order to filter it so the knowledge will be Islamized. Consequently, to Islamize knowledge is to give an Islamic concept into general knowledge. Third, there are the similarities and differences between integrated design knowledge based on Islamic knowledge and integrated Twin Towers. The difference is in its epistemology process. The similarity is in the curriculum (ontology) and objective (axiology). In the curriculum, the examined knowledge is religion and general knowledge. While the objective, Islamize knowledge and integrated Twin Towers aims to integrate religion and general knowledge, to dialogue, to communicate, and to synergy, so it can be a knowledge which is intact-integral-integrative. 
PROGRESIVISME JOHN DEWEY DAN PENDIDIKAN PARTISIPATIF PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Ilun Mualifah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.63 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.101-121

Abstract

BAHASA INDONESIA:Artikel ini berisi tentang konsep pendidikan partisipatif yang dikaitkan dengan konsep progresivisme pendidikan John Dewey, dan kemudian dikaji dalam perspektif pendidikan Islam. Konsep pendidikan partisipatif dalam progresivisme pendidikan John Dewey merupakan konsep pendidikan yang mengacu pada teori-teori John Dewey yang berpijak pada asas-asas progresivitas. Asas progresivitas berprinsip pada sikap optimistis dalam memandang kemajuan peserta didik dalam proses pendidikannya. Konsep progresivisme pendidikan John Dewey yang megandung asas pendidikan partisipatif dalam pandangan pendidikan Islam bisa dipertegas: bahwa terdapat beberapa aspek kesesuaian (terutama dalam hal kemanfaatan yang bersifat duniawi), dan terdapat banyak aspek perbedaan yang sangat prinsip (terutama mengenai hal-hal yang bersifat metafisik-spiritual). Dengan demikian, ketika akan menerapkan asas partisipatif dalam konsep pendidikan Dewey di dalam kehidupan umat Islam, perlu difilter terlebih dahulu dengan kacamata nilai-nilai Islam. Apabila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka perlu diterapkan; namun apabila bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka tidak perlu diterapkan (cukup dijadikan pengetahuan saja). ENGLISH:This article discusses about participative education related to education progressivism concept by John Dewey, and then it is examined on Islamic studies perception. Participative education concept on John Dewey’s education progressivism is education concept that refers to John Dewey’s theories that bring up progressive principles. The progressive principles base on optimistic attitude on viewing the progress of learners’ learning process. The education progressivism concept by John Dewey contains participative education principles; it can be strengthened on Islamic education view that there are some compatibility aspects (especially in worldly usefulness), and there are many differences based on principles (especially in metaphysic-spiritual thing). Therefore, when Muslims will implement participative principles on Dewey’s educational concept in their life, they need to filter it based on Islamic views. If it does not contradict to Islamic views, it should be implemented on their life. Nevertheless, if it opposes Islamic views, it should not be implemented on their life (it is enough for them to know it as knowledge).
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) TERHADAP PEMAHAMAN SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS VII MTS AL-IRSYADIYAH DERMOLEMAHBANG SARIREJO LAMONGAN Siti Mukhoyyaroh; Syaiful Jazil
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.459 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.21-44

Abstract

BAHASA INDONESIA:Masalah yang diteliti dalam tulisan ini adalah: 1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan; 2) Bagaimanakah pemahaman siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan; 3) Bagaimanakah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) Observasi untuk memperoleh data tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share); 2) Angket untuk memperoleh data tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Fiqih; 3) Interview dan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data gambaran umum objek penelitian. Analisis yang digunakan adalah: 1) prosentase dan 2) product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) adalah baik, hal ini dibuktikan dengan hasil angket yang menunjukkan nilai sebesar 80,2%; 2) Pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Fiqih tergolong baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil angket yang menunjukkan nilai sebesar 69,9%; 3) Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Fiqih kelas VII MTs Al-Irsyadiyah Dermolemahbang Sarirejo Lamongan, berdasarkan hasil analisis diperoleh rxy= 0,208 dengan jumlah responden 41 sedangkan rtabel pada taraf signifikansi 5% adalah 0,316 dan taraf signifikansi 1% adalah 0,408. Jadi rxy lebih kecil daripada rtabel yang berarti hipotesa alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nol (Ho) diterima atau disetujui. Sedangkan jika dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai “r”  dimana nilai rxy berada diantara 0,20–0,40 yang berarti korelasinya rendah. ENGLISH:This paper examined some issues: 1) How is the application of cooperative learning model type TPS on Fiqh lesson; 2) How is the students’ understanding; 3) How is the effect of TPS in students’ understanding. Data collection techniques used in this paper include: 1) Observation to obtain data on the use of TPS; 2) Questionnaire to obtain data on the application of TPS and students’ understanding of Fiqh; 3) Interview and documentation was done to gain general data of the research’s object. The analyses used were: percentage and product moment. The result showed that: 1) the use of TPS was good; 2) Students’ understanding of Fiqh lesson was also good; 3) The effect of cooperative learning model type TPS in students’ understanding of Fiqh lesson, based on the result of the analysis was rxy = 0.208 with 41 respondents, while r table in the significant standard of 5% and 1% are 0.316 and 0.408. Therefore, rxy is smaller than r table which means the alternative hypothesis (Ha) is ignored and zero hypothesis (Ho) is accepted.
PERAN MANAJEMEN QALBU BAGI PENDIDIK M Faizin
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.571 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.122-139

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini bermaksud mengulas peran manajemen qolbu bagi pendidik (guru). Konsep manajemen qolbu dalam Islam semakna dengan tazkiyatun nufus (pembersihan jiwa). Melalui manajemen qolbu, seseorang dapat diarahkan agar menjadi sangat peka dalam mengelola sekecil apapun potensi yang ada dalam dirinya untuk menjadi sesuatu yang bernilai kemuliaan serta memberi manfaat besar, bagi dirinya dan makhluk Allah yang lain, juga kemaslahatan di dunia dan akhirat. Guru ideal adalah guru yang memiliki motivasi mengajar dengan tulus, yaitu ikhlas dalam mengamalkan ilmunya, bertindak ibarat orang tua yang penuh kasih sayang terhadap anak, dapat mempertimbangkan kemampuan intelektual anak, mampu menggali potensi yang dimiliki anak, bersikap terbuka dan demokratis untuk menerima dan menghargai pendapat anak, dapat bekerjasama dengan anak didik dalam memecahkan masalah, dan ia menjadi tipe ideal atau idola bagi anak didiknya, sehingga anak didik akan mengikuti perbuatan baik yang dilakukan gurunya. Dengan mendengarkan panggilan suara hati, para guru akan menjadi baik, karena suara hati adalah pantulan dari fitrah jiwanya. Melalui hati yang baik ia mampu memahami dan mengembangkan dirinya. Hal ini senantiasa menunjukkan seluruh gerakan dan kiprahnya untuk mendapatkan ridla Allah SWT, sebab tidak ada yang dituju kecuali hanya Allah SWT. Pada akhirnya para guru yang dapat mengelola hatinya (memiliki manajemen qolbu) akan dapat menjadi sosok guru yang “digugu dan ditiru”. Jadi manajemen qolbu sangat signifikan perannya dalam meningkatkan intelektualitas dan religiusitas bagi guru. ENGLISH:This study explains about the role of heart management for educators (teachers). Heart management concept on Islam has same purpose with tazkiyatun nufus (soul maintenance). Trough heart management, people can be directed to be sensitive to manage their small potential to be valuable thing that has big impact not only for themselves, but also for large societies in the world and hereafter. Ideal educator is an honest-straightforward person; she or he is sincere to teach the learners, acts and loves as if real parents, understands the ability of each learner, develops the learners’ potential, open-minded and democratic to receive and respect the learners’ opinions, does teamwork with the learners to solve the problem, and being idol to the learners. Hence, the learners will go along with good attitude of the educators. By understanding heart’s whisper, the educators will be good Muslims, because heart whisper is the mirror of the fitrah soul. Through kind heart, the educators can understand and develop themselves. This case shows that all of their actions and services only because of Allah. Finally, the educators can manage their hearts, and then they can be good role model for the learners. Accordingly, heart management has significant role in increasing intellectual and religious for the educators.
PENDIDIKAN MORAL PERSPEKTIF NASIH ULWAN Johan Istiadie; Fauti Subhan
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.357 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.45-60

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini berusaha memotret pemikiran pendidikan moral menurut Nasih Ulwan dan relevansinya dalam menjawab problematika manusia modern. Dalam perspektif Nasih Ulwan, pendidikan moral merupakan serangkaian prinsip dasar moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga ia menjadi seorang mukallaf, yakni siap mengarungi lautan kehidupan. Di era modern, persoalan yang muncul adalah persoalan fisik dan psikis. Persoalan fisik mengarah pada pengkondisian manusia sebagai objek dari segala produk iptek. Sementara itu persoalan psikis mengarah pada pendangkalan nilai-nilai moral-spiritual akibat dari dominasi produk iptek modern yang skuler. Salah satu problem mendasar di negeri ini adalah krisis moral dan kepercayaan. Krisis tersebut berawal dari ketidakjujuran aparatur Negara dalam menjalankan amanahnya sebagai pemegang kebijakan. Perilaku korupsi dan sejenisnya adalah cermin dari sikap suka bohong, suka mencuri, kenakalan dan penyimpangan. Oleh karena itu ajaran moral Nasih Ulwan amat relevan jika diterapkan di negeri ini demi menjawab problem krisis moral dan kepercayaan yang terjadi. ENGLISH:This paper concerned in moral education thought based on Nasih Ulwan and its relevance in answering the problems of human modern. From Ulwan’s perspective, moral education is a set of moral basic principle and the primacy of attitude and character (nature) which has to be owned and used as habit by children since they are young until become mukallaf, is ready to face the world. In modern era, the issue which emerges is a physical and psychic problem. Physical issue leads to conditioning a human as an object of all the products of science and technology. Meanwhile, psychic problem leads to the silting up of moral-spiritual value caused by the dominance of modern science and technology products. One of the fundamental problems in this country is a moral crisis and faithful. The crisis started from the dishonesty of country’s apparatures in carrying out their mandate as the policy controller. The corruption, and its relation, is the reflective of dishonesty, thieving, delinquency, and irregularities. Therefore, moral learning by Ulwan is very relevant if applied in this country in order to answer the moral crisis problem and trust which is occurred.
ANALISIS MATERI ASTRONOMI PADA PEMBELAJARAN SAINS (PENYAJIAN SAINS MODERN DAN ALQURAN) Esti Yuli Widayanti
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.692 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.140-160

Abstract

BAHASA INDONESIA:Menyandingkan sains dengan al-Quran dalam pembelajaran sudah banyak diperbincangkan, namun masih belum banyak dipraktikkan di pembelajaran sains sendiri, meskipun di sekolah berlabel agama. Hal ini disebabkan karena belum ada panduan khusus yang menyandingkan dua hal ini secara teknis. Buku-buku pelajaran masih memaparkan konsep secara ilmiah, sehingga yang disampaiakan guru juga hanya apa yang ada di dalam buku, yang kebetulan mereka jadikan acuan. Tujuan studi ini adalah memberikan sebuah acuan bagi para guru kelas di SD/MI dalam membelajarkan materi sains/IPA (meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori IPA) yang didukung dengan penyampaian ayat-al-Quran dan tafsitnya yang berkaitan dengan materi tersebut. Salah satu materi sains yang sangat menantang dan mengalami perkembangan yang signifikan dari masa ke masa adalah materi astronomi. Studi ini merupakan kajian kualitatif yang bertujuan menggambarkan dan mengungkap sebuah fenomena dalam hal penyampaian materi astronomi di SD/MI. Fenomena menarik disini berkaitan dengan bagaimana guru sains menyampaikan materi astronomi dengan yang dikuatkan dengan penyampaian ayat-ayat al-Qur’an serta tafsirnya yang terkait dengan materi astronomi SD/MI. Semakin terbuktinya ilmu astronomi yang diungkap di ayat-ayat al-Quran oleh hasil penelitian ilmiah, maka penyampaian ayat-ayat al-Qur’an bersamaan dengan materi sains adalah hal yang sangat penting. Hasil kajian meliputi tiga hal. Kajian pertama adalah analisis produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Untuk materi astronomi berdasarkan kurikulum 2006, diajarkan di kelas I, II, dan VI. Sedangkan berdasarkan kurikulum 2013, materi sains/IPA terkait astronomi disampaikan secara khusus di kelas VI. Kajian kedua mengidentifikasi ayat al-quran terkait dengan materi astronomi disesuaikan dengan ruang lingkup materi di SD/MI. Analisis terakhir yaitu strategi penyampaian ayat-al-Qur’an sebagai penguat materi astronomi adalah model terpadu dengan direct instruction. ENGLISH:There are a bunch of topics about the between Science and Koran. However, it has not practiced yet in science learning process, even in Islamic school. It is because the shortage of particular guidance that bring to a close between Science and Koran technically. Science book only discusses the concept scientifically. So, teachers only teach materials that are in book that coincidently they use it as source book. The purpose of this research is giving guidance for teachers in Public or Private Islamic Elementary School in teaching science (including fact, concept, principle, law, and science theory). Then, it is supported by delivering Koran verses and exclamation of passages of Koran by supplying additional material that relates to the material. One of science materials that is challenging and having significant development from time to time is Astronomy.  This research used qualitative method that has purpose to draw and explain the phenomenon in delivering Astronomy material in Public or Private Islamic Elementary School. Interesting phenomenon here relates to how science teachers deliver Astronomy material strengthened by delivering Koran verses and exclamation of passages of Koran by supplying additional material about Astronomy for Elementary students. The more Astronomy proves the truth of Koran by scientific research, the more important both Koran and science should be learned together. There are three results of this study.
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PERSPEKTIF SAID AGIL HUSIN AL-MUNAWAR M Nadlir
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.614 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.61-77

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini memaparkan pemikiran pendidikan multikultural menurut Said Agil Husin Al-Munawar. Dalam perspektif Said Agil Husin Al-Munawar, pendidikan multikultural di Indonesia dianggap sebagai sesuatu yang relatif baru di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Menurut SAH Al-Munawar, agar siswa memiliki pribadi yang aktif dan kepekaan sosial yang tinggi terkait dengan kondisi multikultural, maka pendidikan multikultural di Indonesia dapat mencakup tiga hal jenis transformasi, yakni: 1. Transformasi diri; 2. Transformasi sekolah dan proses belajar-mengajar; 3. Transformasi masyarakat. Menurut SAH Al-Munawar, dengan belajar dari model-model pendidikan multikultural yang pernah ada yang sedang dikembangkan oleh negara-negara maju, maka dikenal lima model pendidikan multikultural, yaitu: Pertama, pendidikan mengenai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau multikulturalisme penuh kebaikan. Kedua, pendidikan mengenai perbedaan-perbedaan kebudayaan atau pemahaman kebudayaan. Ketiga, pendidikan bagi pluralisme kebudayaan. Keempat, pendidikan dwi-budaya. Kelima, pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral manusia. ENGLISH:This paper describes the idea of multicultural education according to Said Agil Husin Al Munawar. In perspective of Said Agil Husin Al Munawar, multicultural education in Indonesia is regarded as something relatively new in Indonesia heterogeneous society. According to Al-Munawar, to make students have an active personal and social sensitivity associated with the multicultural, so the multicultural education in Indonesia can include three types of transformation: 1) Self-transformation; 2) The transformation of the school and the teaching-learning process; 3. Transformation of society. Based on Al-Munawar, learning from previous models of multicultural education which have been developed by the developed countries, then it is known as five multicultural education model, namely: First, education about cultural differences or benevolent multiculturalism. Second, education about cultural differences or cultural understanding. Third, education for cultural pluralism. Fourth, bi-cultural education. Fifth, multicultural education as a human moral experience.
PENDIDIKAN ASWAJA NU DALAM KONTEKS PLURALISME Muhammad Fahmi
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.054 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.161-179

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini berupaya memahami pendidikan aswaja NU dalam konteks pluralisme. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan aswaja NU bersifat plural, multikultural, toleran, tasamuh, tawazun, dan sejenisnya. Lanaa a’maalana walakum a’malukum (bagi kami perbuatan kami, bagui kamu perbuatan kamu); lakum diinukum waliya diin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Jadi pendidikan NU itu berwawasan pluralistik. Pendidikan aswaja NU mengatur hubungan antar manusia dalam tiga macam ikatan di atas, yang menuju kepada persaudaraan/ kerukunan berdasar saling mengerti dan menghornati. Persaudaraan/kerukunan yang diajarkan oleh Islam ini disebut dengan persaudaraan (ukhuwah) yang diajarkan oleh Islam. Dengan mengemukakan tri ukhuwah di atas, Nahdlatul Ulama menegaskan bahwa Islam mengajarkan persaudaraan dengan segala macam kelompok manusia; antara lain kelompok seagama, sebangsa, dan sesama manusia di dunia. ENGLISH:This article tries to understand The education of ASWAJA NU in pluralism context. The result shows that The education of ASWAJA NU are plural, multicultural, tolerance, harmony, fair, and such like. Laana a’maluna walakum a’malukum (what I done is for me, and what you done is for you); lakum dinukum wa liyaa diin ( for you is your religion and for me is my religion). So NU’s view is pluralistic. The education of ASWAJA NU manages the relationship among mankind in those three relations that aims to brotherhood (Ukhuwah)/ harmony based on the understanding and respecting to each other. With those concepts, Nahdlatul Ulama emphasis that Islam teaches the brotherhood with all groups of mankind, including a group of religion, a group of nation, and all mankind in the world.
ETIKA BELAJAR DALAM KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM Hanik Yuni Alfiyah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.005 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.78-100

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini bermaksud mengulas tentang teori belajar dalam kitab Ta’lim al-Mut’allim yang dikarang oleh Imam Zarnuji. Kitab Ta’lim al-Mut’allim sangat mengedepankan aspek moral dalam proses belajar mengajar. Moralitas harus dimiliki pendidik dan peserta didik. Dalm Ta’lim al-Muta’allim sangat diagagungkan ilmu agama yang berorientasi untuk kepentingan kehidupan di akhirat. Kitab ini juga menyatakan bahwa setiap peserta didik harus memiliki sikap yang terpuji, antara lain: 1. Memuliakan pendidik, 2. Mengagungkan ilmu, 3. Menghormati Teman dan Bersikap Asih, 4. Bersikap Wira’i, 5. Penuh dengan Sikap Tawakkal, 6. Menghadap Kiblat ketika Belajar. Corak pemikiran pembelajaran dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim bersifat mistik-sufistik. Artinya, sangat mengedepankan aspek spiritual atau moral kepada Allah SWT. ENGLISH:This research discusses about learning theory on Ta’lim Al-Muta’allim book written by Imam Zarnuji. Ta’lim Al-Muta’allim book prioritizes moral aspect in teaching and learning process. The morality should be implemented by both educators and learners. Ta’lim Al-Muta’allim book has the focus on theology that orientates to the importance of life in hereafter. This book also explains that the learners should implement admirable attitude, they are: 1. Honoring the educators, 2. Honoring the science, 3. Respecting and loving the mates, 4. Implementing Wira’i, 5. Implementing Tawakkal, 6. Facing the west (direction)  if the learners study. The complexity of learning thought on Ta’lim Al-Muta’allim book has mystical-sufistical characteristic that means prioritizing spiritual or moral aspect to Allah.

Page 1 of 1 | Total Record : 10