cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2016)" : 7 Documents clear
PENGEMBANGAN KAPASITAS INSTITUSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DI MADRASAH: PENDEKATAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT Mo'tasim Mo'tasim
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.237 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.206-226

Abstract

Bahasa Indonesia:Pengembangan kapasitas institusi dan sumber daya manusia di madrasah merupakan misi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam dewasa ini. Namun, manajerial kelembagaan madrasah masih belum memenuhi ekspektasi yang diharapkan jika dilihat dari kreativitas dan inovasinya. Melihat fenomena tersebut, kiranya upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif dalam mencapai tujuan pendidikan adalah mutlak membutuhkan budaya manajemen yang kualitas melalui Total Quality Management (TQM) adalah salah satu alternatif. Dengan manajemen tersebut, diharapkan efektifitas pola kerja di madrasah akan dapat terwujud secara menyeluruh. Artikel ini mengkaji tentang peran kepala madrasah dalam mengembangkan kapasitas institusi dan sumberdaya manusia melalui pendekatan TQM. Artikel ini mendeskripsikan penerapan TQM  dengan library research melalui analisis deskriptif non-statistik sebagai penyajian datanya.  Sebagai kesimpulan, kepemimpinan dan manajerial kepala madrasah berperan penting dalam menentukan  kebutuhan lembaga dan menyusun visi, misi dan tujuan lembaga. Di sisi lain, efektifitas TQM ditentukan oleh kemampuan kepala madrasah dalam hal manajerial, gagasan pembaharuan, efektifitas proses pembelajaran, pengelolaan tenaga kependidikan yang baik, partisipasi warga madrasah dan masyarakat, akuntabilitas dan motivasi untuk mewujudkan tim kerja yang solid.English:Institutional and human capacity development in madrasah is central in developing islamic education quality nowadays. However, the institutional management in madrasah has not yet meet the expectation from its creativity and innovation. Based upon the phenomenon, this paper offers   Total Quality Management (TQM) as an alternative to create conducive atmosphere in madrasah for achieving educational purposes. The management expects holistic-effective workflow in madrasah. This article focuses on the role of madrasah principal in developing institutional and human capacity through the TQM. With library research, this article describes the TQM implementation and provides descriptive non-statistical analysis in providing the data. As a conclusion, the madrasah principal’s leadership and managerial role are the very important factors to decide intitutional needs and constructing institutional visions-missions-aims. In addition, the TQM effectiveness depends on the principal’s ability in managing, offering innovation, creating effective learning activities, managing staffs, involving stakeholders, promoting accountability, and motivating people for a solid teamwork.
DEMOKRATISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PANDANGAN KH. ABDUL WAHID HASYIM Moh. Ismail
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.718 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.315-336

Abstract

Bahasa Indonesia:Perkembangan demokrasi dalam masyarakat menghendaki pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat terutama peserta didik. Pendidikan model lama yang menganggap peserta didik sebagai gentong yang diisi semuanya oleh pendidik atau yang oleh Paulo Friere dikatakan dengan sistem bank, perlu diganti dengan sistem pendidikan yang dapat mengembangkan kemampuan rakyat (people empowerment). Pada dasarnya, prinsip demokrasi itu memberi hak semua orang untuk mengambil keputusan dan memandang semua orang mempunyai posisi yang setara. Oleh karena itu, dalam demokrasi harus ada yang namanya kebebasan, harus ada penghormatan akan martabat orang lain, harus ada persamaan dan juga harus dapat menjamin tegaknya keadilan. Di Indonesia, KH. Abdul Wahid Hasyim berusaha menghadirkan konsep pendidikan Islam yang demokratis dalam rangka menjembatani permasalahan-permasalahan sosial terkini yang ada. Pendidikan Islam yang demokratis memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk terlibat langsung dalam mengembangkan kemampuannya, sehingga siswa bisa menjadi manusia yang kritis dan kreatif. English:The development of democratic society deserves education based upon societal needs, especially from students’ need perspectives. Traditional education with -in Freire’s terms- Banking education needs to be substituted by people empowerment education. Basically, democracy provides every individual the same rights to decide as everyone is in the equal position. Therefore, freedom is required in democracy as well as respects to others, and justice guarantee. Indonesia’s KH. Abdul Wahid Hasyim attempts to display democratic Islamic education in purpose of solving contemporary social problems. The education provides opportunity to every students in directly involving activities for skill development; therefore the students are able to be more critical and creative. 
KURIKULUM PESANTREN DALAM PERSPEKTIF GUS DUR; SUATU KAJIAN EPISTEMOLOGIS Abdullah Abdullah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.724 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.227-248

Abstract

Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan tentang sepak terjang pemikiran KH. Abdurrahan Wahid (Gus Dur) tentang pesantren terkhusus kajian epistimologis tentang kurikulum pesantren. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan dan jenis penelitian kajian literatur, melalui literatur-literatur yang menjelaskan sejarah dan pemikiran Gus Dur. Hasil dari penelitian ini adalah, secara geneaolgi, struktur keilmuan pesantren yang sekarang ini merupakan hasil dialektika antara dua kelompok besar dalam arus intelektualitas Islam di masa awal,  yaitu hasil kombinasi sikap humanisme dan hasil serapan dari nalar berfikir filosofi Yunani yang sudah mengakar di Timur Tengah sejak agresi Sultan Iskandaria. Menurut Gus Dur, pesantren adalah lembaga yang berani mengambil lompatan pemikiran ala filosofi Yunani, namun di sisi yang lain mereka tetap mengedepankan al-Qur’an dan Hadith. Berdasarkan kajian epistemologisnya, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi nilai universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabi’in dan sahabat hingga sampai pada Nabi Muhammad. Dalam pandangan Gus Dur, pesantren harus menjadikan ilmu agama sebagai dasar, tanpa meninggalkan pengetahuan yang lain agar santri lebih dapat mengembangkan potensi dirinya English:This research is proposed to describe the thought of KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) regarding Pesantren, especially the epistemological discourse on its curriculum. In this research, the author uses library research dealing with literature on history and thought of Gus Dur. The result of the study shows that contemporary Pesantren’s structure of knowledge is a dialectical result of two mainstreams in the early Islamic periods, involving humanism and adoption of helenestical tradition in the Middle East after the aggression of Alexandrian Sultanate. According to Gus Dur, pesantren is an institution taking a giant leap in thought a la Helenistic periods without putting aside the Qur’an and Hadits. Epistemologically, the yellow scripture takes a role as universal values in human life for pesantren disciples. The scripture is understood as a chain of Islamic knowledge from the Prophet and the companions. Gus Dur strongly agree with putting religion as the foundation of Pesantren, but secular knowledge must be taken as well in order to develop the pesantren disciples’ self potential.
PERGESERAN ORIENTASI KELEMBAGAAN PESANTREN DI MADURA DALAM PERSPEKTIF KIAI BANGKALAN Zainal Alim
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.201 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.249-270

Abstract

Bahasa Indonesia:Pada mulanya Kiai di Bangkalan Madura tidak terlalu menerima pendidikan formal. Namun kini realitas itu mengalami pergeseran pemikiran dan prilaku yang sangat berefek pada pembaruan pendidikan Islam di Bangkalan Madura. Tulisan ini memuat tentang keterbukaan para Kiai di Bangkalan pada pendidikan umum dengan semakin banyaknya pesantren yang mempunyai kategori salafiyah mempunyai pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendekripsikan pergeseran orientasi kelembagaan dalam perspektif Kiai di pesantren Syaichona Kholil dan pesantren Al-Hidayah Bangkalan Madura. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara, sumber data primer diperoleh dari Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Kholil Bangkalan, pengasuh pesantren Al-Hidayah, Ketua Pondok dan sumber sekunder yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa terjadi pergeseran orientasi kelembagaan di pesantren dengan banyaknya lembaga pendidikan formal seperti MTs, MA, bahkan Perguruan Tinggi di beberapa pesantren yang ada di Bangkalan. Pergeseran ini tidak lepas dari berubahnya pola pikir Kiai yang disebabkan oleh globalisasi, teknologi yang semakin canggih, dan sulitnya para alumni santri mendapatkan peluang pekerjaan di instansi-instansi umum. English:In the beginning, Kiai in Madura didn’t accept formal schooling. However, the reality today shows thought and attitude shifts which takes effect on the renewal of Islamic Education in Bangkalan, Madura. This paper examines the openness of Kiai in Bangkalan towards formal education as it is indicated by the emerging more Salafi Pesantren with formal education ranging from elementary schooling up to higher education. This research is aimed to describe institutional orientation in Syaichona Kholil Pesantren and Al-Hidayah Pesantren in Bangkalan, Madura. Within the framework of descriptive and qualitative research, the field work involves primary data from Kiais in the two institutions as well as secondary data from relevan resources. The finding shows that there are more and more Pesantren to adopt formal shooling in the Madrasah format and Islamic higher education due to the shift of thought in the Kiai leadership as a negotiation results of globalization, technological advancement, and the high competition for Pesantren alumni in workforce within non-religious institutions.
KODE ETIK GURU DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME PENDIDIK; REAKTUALISASI DAN PENGEMBANGAN KODE ETIK GURU DI MADRASAH ALIYAH DARUL AMIN PAMEKASAN Akhmad Zacky AR
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.855 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.271-292

Abstract

Bahasa Indonesia:Dalam profesi keguruan terdapat kode etik untuk menjunjung tinggi martabat profesi, untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan anggotanya, untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi, untuk meningkatkan mutu profesi dan untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. Dengan kode etik, guru diharapkan mampu berfungsi secara optimal dan profesional, terutama dalam mengembangkan karakter dan budi pekerti anak didik dan menjunjung wibawa lembaga serta profesi pendidik. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan penerapan kode etik sekolah di MA Darul Amin Pamekasan dan bagaimana kode etik sekolah bisa meningkatkan profesionalitas dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan sumber data dari kepala sekolah MA Darul Amin pamekasan, guru dan sumber sekunder yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kode etik sekolah di MA Darul Amin  Pamekasan merupakan cara dalam peningkatan profesionalitas guru agar taat  kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh pihak pengelola MA Darul Amin Pamekasan. Kode etik  guru yang dikembangkan menjadi kode etik sekolah diangggap metode yang efektif dalam proses peningkatan profesionalitas guru di sekolah ini. English:There is a set of ethical codes in the teaching profession in purpose of upholding professional values, maintaining the prosperity for the members, increasing service quality as well as professional and organizational quality. With the ethics, this is a big hope that teachers can work optimally and professionally in developing students’ character as well as institutional legitimation and teaching profession. This research is aimed to describe the implementation of ethical codes in Islamic High School Darul Amin Pamekasan and how the ethics improves professionalism in learning process. In this descriptive-qualitative research, the primary information comes from the school principal, teachers, and other relevan resources. The finding shows that the ethical code is a way of monitoring and controlling teacher to improve their professionalism based upon agreement in the school. The teacher ethical code is then translated and developed as the school ethical code which is effectively improve the teacher professionalism.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENDUNG PENGARUH AJARAN ALUK TODOLO DI TANA TORAJA SULAWESI SELATAN Bulu' Bulu'
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1215.549 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.179-205

Abstract

Bahasa Indonesia:Pendidikan Agama Islam sangat berperan dalam mengantisipasi ajaran Aluk Todolo karena agama merupakan salah satu faktor pengendalian tingkah laku masyarakat. Bentuk ajaran Aluk Todolo yang masih melekat pada masyarakat Tana Toraja Sulawesi Selatan merupakan tantangan berat yang dihadapi masyarakat muslim sebagai minoritas karena ajaran tersebut telah lama ada secara turun temurun. Ajaran Aluk Todolo yang masih dipelihara oleh masyarakat termasuk oleh mereka yang beragama Islam sendiri adalah rambu solo, rambutuka, pamalian, me’nene’, ma’pakan dedeata, ma’bating dan paramisi. Beberapa faktor penghambat dalam mengatasi Aluk Todolo tersebut adalah pemahaman agama, struktur sosial masyarakat, emosi keagamaan, dan faktor kultural. Adapaun solusi dalam mengatasi pengaruh ajaran Aluk Todolo di Tana Toraja Sulawesi Selatan adalah dengan menjalankan nilai-nilai Agama Islam yang terbukti sudah menjadi alat pemersatu bangsa, bersilaturrahim dengan banyak kalangan yang dengan faham agama kuat, banyak membaca berbagai referensi dari buku-buku Agama Islam,  selalu ingin memperbaiki  diri,  menetapkan tujuan hidup, sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang nyaman, aman dan kondusif di tengah  perbedaan yang muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.English:Islamic education as a school subject has a very significant role in anticipating Aluk Todolo teachings since the religion is a factor of controlling people’s behavior. The Todolo teachings attached in the Tana Toraja South Sulawesi community is a hard challenge for the Muslim as the minority as the teaching has been rooted over generations. Several Todolo teachings which are still practiced the Muslim are rambu solo, rambutuka, pamalian, me’nene’, ma’pakan dedeata, ma’bating and paramisi. The challenge for anticipating the Todolo teachings are the understanding towards religion, social structure of the community, and the culture. The solution to anticipate the Todolo teaching in Tana Toraja are conducting Islamic teachings as a way of uniting people, visiting nad communicating with religious people, reading Islamic references, developing self quality, making life purposes, and creating safe and conducive environment in the middle of national diversity.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PENANGGULANGAN KENAKALAN SISWA (Studi Kasus MTs Hasanah Surabaya) Muchammad Ainul Yaqin
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.125 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2016.4.2.293-314

Abstract

Bahasa Indonesia:Dalam tulisan ini penulis meneliti tentang jenis kenakalan siswa, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana usaha sekolah dalam menanggulanginya melalui internalisasi Pendidikan Agama Islam. Dari data yang diperoleh, penulis memberikan kesimpulan bahwasannya keadaan nyata kenakalan siswa MTs Hasanah masih tergolong biasa dan tidak berbahaya seperti membolos, terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan PR, membuat gaduh dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswa sering kali disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua (broken home), pengaruh teman sepermainan dan dari diri mereka sendiri karena malas dan takut dengan guru. Sebagai upaya usaha pihak sekolah dalam menanggulangi kenakalan siswa dengan tiga cara yaitu secara preventif, represif dan kuratif. Preventif yang dianggap cukup berhasil adalah mengadakan pendekatan dengan orang tua atau wali siswa. Sedangkan cara represif yang cukup berhasil adalah dengan pemberian hukuman yang mendidik. Cara kuratif yang dianggap cukup berhasil adalah tradisi silaturrahim ke rumah siswa dengan diiringi kegiatan kegamaan dan penanaman nilai-nilai keteladanan. English:This paper deals with juvenile delinquency in many types, the antecedent factors, and how the school deals with the problem through Islamic Education as a school subject. The findings show that the delinquency level in the madrasah is still in the common level, and not dangerous, such as skipping classes, coming late to school, skipping homeworks, convulsing behaviors, etch. Several factors causing the behaviors are deserving parents’ attention (due to broken home), influence of peer friends, laziness, and being uncomfortable with teacher presence. The school deals with the problems mainly in three ways: preventive, repressive, and curative. The prevention is considered more fruitful due to the school approaches to the parents or those responsible to the students at home. Educative punishment is considered successful enough. Last, the curative also takes effect enough through the silaturrahim tradition along with religious activities and inserting values through personal modelling.

Page 1 of 1 | Total Record : 7