cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2017)" : 7 Documents clear
ULAMA’ DAN KONTESTASI PENGETAHUAN DALAM SUDUT PANDANG AL QUR’ĀN Imron Mustofa
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.729 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.68-93

Abstract

Bahasa Indonesia:Ulama` merupakan predikat psikologis proses mental dan tujuan, penguasaan data konkret dan ketercapaian hakekat pengetahuan universal. Artikel merespon beberapa pertanyaan epistemologis tentang ulama, seperti asal muasal ilmu seorang ulama, peranan ilmu, cara memperoleh pengetahuan, dan tolok ukur keilmuan. Temuan dari tulisan ini adalah, pertama, ‘Ulamā` dalam Islam dipandang sebagai suatu representasi makna dari individu atau golongan yang bergelut dalam aktifitas mental-spiritual, guna mampu mengenal, membedakan, menilai dan menyimpulkan makna pokok dari realitas, bentuk, mode, kuantitas, substansi dan esensi sesuatu. Kedua, Untuk dapat, dikatakan ‘ulamā` seseorang harus memiliki kualifikasi yang sangat ketat. Ketiga, proses seorang ‘ulama` untuk mendapatkan kesimpulan melewati tahap persepsi oleh persepsi sensoris kemudian disalurkan kepada persepsi mental. Keempat, dengan segala kualifikasi, instrumen dan klasifikasi pengetahuannya seorang ulama’ dituntut mampu menjangkau dimensi-dimensi universal, permanen, personal, spiritual dari tujuan pendidikan dan organisasi ilmu pengetahuan serta mampu merealisasikannya dalam segala aspek partikular, sosial dan segala aspek lainnya hingga menjadi insān kāmil. English:Abstract:‘Ulamā` is a psychological predicate of mentality processes and purposes, mastering concrete information and achieving the essence of universal knowledge. This article responds several epistemological questions about ulama, such as their source of knowledge, functions of the knowledge, how to get the knowledge, and their standards of knowledge. Findings of this paper are, first of all, ‘Ulamā` in Islamic perspective is individual or group representation who deal with mental-spiritual activities in purpose of identifying, distinguishing, evaluating, and concluding the essence of reality, formats, modes, quantity, substance, and essence of a thing. Second, therefore, in order to get a predicate of ‘Ulamā`, one must have a very st frict qualification. Third, ‘Ulamā` gain their knowledge from thr step of sensory perception towards mental steps. Last, with qualification that one has, instruments and classification of knowledge belongs to ‘Ulamā` must reach universal, permanent, personal, and spiritual dimensions of aims of education and knowledge structure to realize it in all particular, social, and other aspects to achieve the state of insān kāmil.
HUMANISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM: KONSEPSI PENDIDIKAN RAMAH ANAK Abd. Azis
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1205.773 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.94-115

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini mendeskripsikan humanisme dalam pendidikan Islam melalui model pembelajaran ramah anak. Melalui kajian literatur diperoleh hasil bahwa konsep pembelajaran ramah anak menjadi penting seiring masih maraknya kekerasan terhadap anak baik di dalam ataupun di luar institusi pendidikan. Dalam model pendidikan ini, pendidikan Islam menjadi katalis untuk mewujudkan humanisasi dalam pendidikan. Konsep ramah anak berupaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa merasa betah dan nyaman di sekolah. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap guru yang ramah terhadap siswa, proses pembelajaran efektif, pengelolaan kelas efektif dan lingkungan belajar kondusif, serta motivasi belajar siswa. Dalam hal internalisasi nilai-nilai keislaman, guru menanamkan sikap sabar dan mampu menjadi teladan bagi siswa, menggunakan metode yang bervariatif, menerapkan pengelolaan kelas yang menyenangkan dan didukung lingkungan belajar yang kondusif. English:This paper describes humanism in Islamic education through child-friendly education model. Literary study results in the importance of such education model along with the increase of violence towards children either in educational institutions or in outside the area. In the child-friendly education, Islamic education is a catalyst to achieve humanism in education.  The education model focuses on creating fun interaction and makes students feeling at home and safe at school. This can be seen from friendly teachers’ attitudes, effective learning processes, effective classroom management, conducive learning environment, and students’ motivation. In terms of Islamic values internalization, teacher cultivates patient attitudes and becomes model for students, implementing variety of learing methods, implementing positive classroom management within conducive learning environment.
REDESAIN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM TOLERAN DAN PLURALIS DI PONDOK PESANTREN (Studi Konstruktivisme Sikap Kiai dan Sistem Nilai di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo) S. Mahmudah Noorhayati
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.422 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.1-20

Abstract

 Bahasa Indonesia:Sebagaimana telah jamak diketahui bahwa salah satu bagian dari pesantren adalah nilai-nilai atau sikap pendirian dari seorang kiai yang sangat dominan dalam membentuk identitas santrinya. Nilai-nilai tersebut tidaklah cukup disampaikan secara jalur penyampaian pengajaran lisan, tetapi juga harus diaktualisasikan, didesain ulang, dan diimplementasikan dalam ruang proses yang lebih luas. Artikel ini membahas tentang pencapaian dibalik penanaman nilai, pemodelan dan indoktrinasi dalam pesantren, utamanya dalam hal pendirian kiai dalam sikap toleransi dan keberagaman budaya. Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi subjek dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi di lapangan, data yang didapatkan dianalisa dalam bingkai kerja teori konstruktivisme Peter L. Berger. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid membangun nilai-nilai toleransi dan penghargaan keberagaman budaya melalui pandangan sufisme dan disampaikan melalui pemodelan pandangan kiai dalam aktifitas sehari-hari dan kejadian-kejadian yang tidak direncanakan.English:It is the fact that one of ubiquitous element of pesantren is kiai’s dominant values or stance in developing santri’s identity. Those values is not enough merely delivered in oral transmission, but those have to be actualized, redesigned, and reimplemented in wider social contexts. This article deals with the achievement beyond the cultivation of values, modelling, and indoctrination inside pesantren, specifically in terms of kiai’s stances towards tolerance and multiculturalism. Pondok Pesantren Nurul Jadid becomes the subject of this research. Approached by phenomenological field work, collected data is analized within Peter L. Berger constructivism framework. This study shows that Pondok Pesantren Nurul Jadid constructs values of tolerance and multiculturalism through sufism views which is delivered through modelling by kiai in daily routines and accidental cases.
METODE HYPNOSIS LEARNING DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SANTRI; STUDI KASUS DI TPA SABILILLAH KETINTANG SURABAYA Muhammad Imron
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.81 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.116-137

Abstract

Bahasa Indonesia:Metode Hypnosis Learning merupakan sebuah pembelajaran yang dirancang dengan menciptakan situasi yang nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan terkendali untuk dapat masuk ke pikiran bawah sadar. Metode tersebut mengatasi berbagai problem belajar yang dialami oleh anak didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan belajar santri di TPA Sabilillah, berikut konsep dan implementasi metode Hypnosis Learning dalam mengatasi kesulitan belajar santri. Temuan penelitian ini menunjukkan, pertama, proses belajar santri di TPA Sabilillah tidak selalu berjalan seperti apa yang diharapkan. Ada beberapa kesulitan belajar yang dialami, yaitu kesulitan dalam bahasa, kesulitan belajar membaca (disleksia) dan kesulitan dalam menulis (disgrafia). Kedua, penerapan metode Hypnosis Learning menggunakan teknik afirmasi, sugesti dan visualisasi. Ketiga, penerapan Hypnosis Learning mengikuti tahapan-tahapan dan alokasi waktu berikut: persiapan (5 - 10%), presentasi (60%), praktik (30%) dan evaluasi. English:Hypnosis learning method is a learning activities with creating comfort and fun atmosphere in controlled environment in order to approach sub-conscious mind. The learning method solve various learning issues by students. This research is aimed to identify learning issues in Sabilillah Quranic School as well as concept and implementation of Hypnosis learning to solve the problem. Findings shows that, first of all, learnig process in the Quranic School was not as expected. Several issues found were language difficulties, reading difficulties, and writing difficulties. Second, the Hypnosis Learning was implemented through affirmation, suggestion, and visualization techniques. Third, in its implementation, the Hypnosis Learning follow steps and allocated time such as preparation (5-10%), presentation  (60%), practices (30%), and evaluation.
KONSTRUKSI SOSIAL PENDIDIKAN PESANTREN; ANALISIS PEMIKIRAN AZYUMARDI AZRA Evi Fatimatur Rusydiyah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.119 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.21-43

Abstract

Bahasa Indonesia:Pesantren telah dianggap sebagai model institusi pendidikan yang memiliki keunggulan baik dari aspek tradisi keilmuan dan internalisasi moralitas umat Islam. Saat ini, pesantren terus berbenah dan mempersolek diri. Di sisi lain, banyak pihak mengadopsi unsur positif dalam diri pesantren. Pesantren menumbuhkan apresiasi yang sepatutnya terhadap semua perkembangan yang terjadi di masa kini dan mendatang. Proses mengambil dan memberi secara sosiologis dan antropologis ini merupakan konstruksi sosialnya. Penelitian kepustakaan ini bertujuan untuk mendekripsikan dinamika pendidikan Islam, khususnya menyorot konstruksi sosial pesantren dalam pandangan Azyumardi Azra. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pesantren sangat piawai berdialektika dengan tesis budaya yang saling bertentangan dan melahirkan sintesis konstruksi sosial baru. Pesantren juga merupakan institusi sosial yang paling kreatif dan inovatif Karena falsafahnya: al-muhafadhu ‘alal qadimis sholeh wal akhdu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Hal ini juga menghadirkan nilai-nilai agama sebagai bobot atas sejumlah karya pendidikan, ekonomi dan budaya pesantren.English:Pesantren is considered as a model of educational institution with added value from scholarly tradition aspects and the internalization of Islamic morality. Contemporarily, pesantren keeps improving and maintaining its internal body. On the other hand, outsiders start to adopt existing positive values of pesantren. Pesantren grows relevant appreciation towards development today and in the future. The taking and giving process here is sociologically-anthropologically a social construct. This library research aims to describe the dynamics in Islamic education, particularly focusing on pesantren social construct within Azyumardi Azra’s point of view. The result shows that pesantren is very adaptable towards “incompatible” culture to syntesize in new social constructs. Pesantren is also a type of creative and innovative social institution due to its philosophy: al-muhafadhu ‘alal qadimis shaleh wal akhdu bil jadidil ashlah (preserving good old tradition and adopting better new one).  This results in the presence of religious values as the added values in various field such as education, economy, and pesantren culture.
POLA PENDIDIKAN BERBASIS TAREQAT QADIRIYAH WAN NAQSABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL-FITRAH SURABAYA Moh. Taufiq
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.077 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.138-160

Abstract

Bahasa Indonesia:Penelitian kualitatif ini dilakukan di Pondok Pesantren As>salafi Al-Fit}ra>h Surabaya. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode observasi, wawancara mendalam dan analisis dokumentasi. Kemudian data dianalisa menggunakan teknik analisa induktif berdasarkan tipologi data dan konsep sebelum melakukan interpretasi. Pendidikan berbasis T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah adalah bimbingan, pengajaran dan pelatihan yang dilakukan oleh murs}hid, guru, T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah terhadap murid yang berlangsung sepanjang hayat untuk mensucikan jiwa, menjernihkan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Murid adalah seseorang yang masuk T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah dan telah berbaiat kepada guru/ murs}hid. Adapun tujuannya adalah pendekatan diri kepada Allah (taqarru>b ila> Alla>h), pembersihan hati (tasfiyah al-qalb) dan penyucian jiwa (tazkiyat al-Nafs). Materi ajarannya meliputi empat ajaran pokok yaitu; 1) Kesempurnaan suluk, 2) Akhlaq Murid, 3) Dhikir,dan  4) Mura>qa>bah. Dan metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, mujahadah, tajribah, dan khalwat/ ’uzlah. Terdapat tiga pola pengajaran yang disampaikan di ponpes ini, pertama yaitu pendidikan, kedua risalah dan yang ketiga kewad}ifahan. Pendidikan yang diberikan di pondok pesantren ini merupakan kolaborasi ilmu kitab kuning dengan pengetahuan umum. Adapun hal-hal yang lainnya sama dengan pendidikan berbasis T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah pada umumnya.English:This qualitative research was conducted at Pondok Pesantren As>salafi Al-Fit}ra>h Surabaya. Data was collected by observation, in-depth interview, and documentation analysis. Data was analyzed inductively based upon its typology of data and concepts before interpreted. The education based upon T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah is a long-life guidance, learning, and training under a murs}hid of T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah in purpose of purifying soul and cleansing heart along with bringing the soul closer to Allah SWT. Disciple in the T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah has taken an oath to the teacher / murs}hid. The purpose of his training are taking closer to Allah (taqarru>b ila> Alla>h), cleansing the heart (tasfiyah al-qalb) and purifying soul (tazkiyat al-Nafs). The etaching materials involves four main teachings, such as 1) the perfection of suluk, 2) disciples’ practices of virtue, 3) remembering the Almighty, and 4) Mura>qa>bah. Teaching methods include lecturing, question and answer, demosntration, tasking, , mujahadah, tajribah, and khalwat/ ’uzlah. There are three types of learning in this pesantren, such as education, risalah (messaging), and kewad}ifahan. The education in this pesantren is a collaboration between the yellow scipture learning and secular science. The other aspects of education are the same as that of in pesantren with T}areqat Qa>diriyah wa>n Naqsyaba>ndiyah style.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN FIKIH KELAS X MADRASAH ALIYAH DALAM MODEL DICK & CAREY M Natsir
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1310.745 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2017.5.1.44-67

Abstract

Bahasa Indonesia:Keterbatasan perangkat dan kemampuan mengajar guru akan berdampak pada kualitas keluaran kompetensi siswa. Mata pelajaran Fikih di kelas X Madrasah Aliyah memiliki karakteristik yang lebih kompleks daripada mata pelajaran yang sama di jenjang sebelumnya. Fikih di Madrasah Aliyah mulai mengenalkan konsep-konsep yang lebih rumit dalam lingkup hubungan antar manusia, seperti perekonomian dalam Islam atau pelepasan dan perubahan kepemilikan harta. Hal ini menuntut penulis untuk melakukan pengembangan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien dengan menggunakan model Dick and Carey. Model ini memiliki karakteristik sistematis yang melibatkan pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan hasil pembelajaran. Hasil pengembangan bahan ajar, buku panduan guru, buku panduan siswa, dan desain media pembelajaran memperoleh hasil evaluasi yang yang sangat baik. English:Limitation of teaching aids availability and teacher competence will impact the quality of students’ competence. The Fiqh lesson in the first grade of Islamic High School has a more complex dimension compared to that of in previous grades. The Fiqh in the high school level covered a more complex concept regarding the relationship between individuals in society, e.g. Islamic economy or the release and the change in property ownership. This motivate the author to develop the lesson more efficiently and effectively ny using Dick and Carey Model. This model is characterized by systematic steps in the lesson involving the development, implementation, evaluation, and preservation of learning outputs. The result of the development shows good grade in terms of learning materials, teacher’s book, student’s book, and learning aids.

Page 1 of 1 | Total Record : 7