cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Uang dan Hiper-realitas: Sirkulasi Modal dan Jagad Raya Moneter Piliang, Yasraf A.
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baudrillard melihat ‘hiper-realitas uang’ hanya dalam konteks sirkulasi uang, di mana uangsebagai sebuah ‘satelit’ beredar melalui model sirkulasi murni di dalam orbit moneter,sehingga terputus sama sekali dari sektor riil ekonomi, yaitu investasi dalam sektor produksi.Di dalam orbit sirkulasi murni ini, uang tidak lagi berfungsi sebagai alat tukar dalampertukaran komoditas, melainkan ‘komoditas murni’, yaitu komoditas yang dipertukarkandari dan untuk dirinya sendiri. Dalam kondisi inilah uang menjadi semacam ‘hiperkomoditas’,yaitu komoditas yang melampaui baik fungsi sebagai alat tukar maupun nilaitukar, akan tetapi meleburkan keduanya.Meskipun demikian, pada kenyataannya, tidak saja ada hiper-realitas dalamfungsi uang, akan tetapi ‘hiper-realitas uang’ dalam pengertian uang telah ‘melampaui’ wujudmaterial-fisiknya sendiri. Bila sebelumnya uang ‘nyata’ dalam pengertian ia memiliki wujudfisik-material (benda, logam, kertas, plastik), sehingga mampu memberikan efek psikologisberupa rasa ‘memiliki uang’ dan efek fenomenologis berupa kesadaran ‘memegang uang’atau berhadapan dengan realitas uang (menyimpan, membawa, mengirim, mencuri,memalsukan, merobek, menghancurkan, membakar), kini baik efek psikologis maupunfenomenologis itu tak lagi bekerja, karena ‘uang’ kini tak lebih dari bit-bit komputer berupagrafis angka-angka yang ada di layar komputer atau wujud holografisnya.Dengan demikian, ‘hiper-realitas uang’ dapat dipahami sebagai kondisi dimana uang telah ‘melampaui’ baik wujud maupun fungsinya, yang keduanya telah berubahdari ‘nyata’ (real) menjadi ‘virtual’. ‘Bentuk uang virtual’ adalah uang dalam berbagai wujuduang elektronik (cybercash, bitcoin, cek digital), yang tak lagi memberikan sensasi‘memegang uang’. Fungsi uang virtual’ adalah fungsi uang yang tak lagi sebagai alat tukardalam sistem pertukaran komoditas, akan tetapi fungsi ‘tanda mengapung’ di mana uangdipertukarkan dengan uang itu sendiri dalam skema hiper-komoditas. ‘Hiper-realitas uang’adalah kondisi di mana uang yang ‘tak-nyata’ disirkulasikan dan dipertukarkan di dalamsebuah sistem ‘ekonomi tak-nyata’, yaitu gerak-gerik uang dalam orbit moneter, yangterputus sama sekali dari sektor ekonomi riil [ ]
Georg Simmel: Filsafat Uang Hardiman, Fransiskus Budi
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak Buruk Kultur Uang•1. Sikap blasé orang kota•2. Impersonalisasi hubungan antarmanusia => lebih melihat ‘kegunaan’/ ‘fungsi’ seseorang daripada orangnya.•3. Atomisasi dan isolasi antarindividu (ketercerabutan), sehingga individu diperbudak oleh kultur uang (uang menjadi “Allah Zaman Kita”)•4. Komodifikasi semua hal yang dipertukarkan dengan uang, termasuk harga diri (Mis. Prostitusi)
HUMOR DAN POP-CULTURE Yossie, Yossie
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
Fashion dan Filosofi Desain Sirait, Tiarma
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fashion dan Filosofi Desain
“Mengintip Dunia Arwah: Perspektif Mistik” Bagus, Ki Padmo
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaimana dan seperti apa dunia arwah.
Mind, Computational Thinking & Neural Network Liem, Inggriani
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mind, Computational Thinking & Neural Network
Seni dan Gerakan Sosial : MEMBEBASKAN DIRI DARI EKSTASE KONSUMSI DAN MENEMUKAN MASA DEPAN Rahmaiani, A.
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada millenium ketiga ini, seni mengalami situasi paradoksal : di satu sisi konon ia ‘telah berakhir’ (‘The end of art’ kata Arthur Danto dll), di sisi lain seni melebur ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi apa pun juga. Di satu sisi, dalam konstelasi teknokultur hari ini seni selalu dianggap sekedar hal sekunder –seperti tampak dalam kurikulum pendidikan umum-, di sisi lain pada strata masyarakat papan atas seni justru diapresiasi sebagai simbol kemewahan dan keberadaban. Situasi ini menarik, memaksa kita meninjau kembali keterkaitan antara seni dan kehidupan.  Barangkali sebenarnya yang berakhir hanyalah pemisahan ketat antara  ‘seni tinggi’ dan ‘seni populer’ yang semakin lama semakin dirasa artifisial dan tendensius, yang juga tidak sesuai dengan kenyataan perkembangan ‘seni tinggi’ itu sendiri. Barangkali juga yang sebenarnya menghilang hanyalah pretensi ‘eksklusif’ dari dunia seni itu, sebab dalam kenyataannya kini seni justru dianggap sebagai paradigma utama yang lebih tepat untuk memahami berbagai fenomena kreatif pokok dalam dunia manusia, sejak fenomena kreatif dalam sains, teknologi, industri, ekonomi, hingga politik, gaya hidup dan agama. Dunia manusia tetaplah dunia yang diciptakan dan‘dibuat-buat’nya sendiri alias dunia yang di’seni’kannya. Barangkali akhirnya seni memang bukan hanya soal ‘keindahan’, melainkan lebih perkara ‘kebenaran’, kebenaran tentang bagaimana hidup ini ditafsirkan dan dimaknai secara khas oleh manusia. Extension Course Filsafat kali ini hendak merenungi dan mengkaji lebih jauh posisi seni yang paradoksal itu, untuk memperjelas seberapa penting sesungguhnya seni itu dalam kehidupan kita kini.
Metafisika Seks Sugiharto, Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metafisika Seks
PARADIGM OF ART ITS CHANGE AND CHALLENGE Yohanes, Beny
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada millenium ketiga ini, seni mengalami situasi paradoksal : di satu sisi konon ia ‘telah berakhir’ (‘The end of art’ kata Arthur Danto dll), di sisi lain seni melebur ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi apa pun juga. Di satu sisi, dalam konstelasi teknokultur hari ini seni selalu dianggap sekedar hal sekunder –seperti tampak dalam kurikulum pendidikan umum-, di sisi lain pada strata masyarakat papan atas seni justru diapresiasi sebagai simbol kemewahan dan keberadaban. Situasi ini menarik, memaksa kita meninjau kembali keterkaitan antara seni dan kehidupan.  Barangkali sebenarnya yang berakhir hanyalah pemisahan ketat antara  ‘seni tinggi’ dan ‘seni populer’ yang semakin lama semakin dirasa artifisial dan tendensius, yang juga tidak sesuai dengan kenyataan perkembangan ‘seni tinggi’ itu sendiri. Barangkali juga yang sebenarnya menghilang hanyalah pretensi ‘eksklusif’ dari dunia seni itu, sebab dalam kenyataannya kini seni justru dianggap sebagai paradigma utama yang lebih tepat untuk memahami berbagai fenomena kreatif pokok dalam dunia manusia, sejak fenomena kreatif dalam sains, teknologi, industri, ekonomi, hingga politik, gaya hidup dan agama. Dunia manusia tetaplah dunia yang diciptakan dan‘dibuat-buat’nya sendiri alias dunia yang di’seni’kannya. Barangkali akhirnya seni memang bukan hanya soal ‘keindahan’, melainkan lebih perkara ‘kebenaran’, kebenaran tentang bagaimana hidup ini ditafsirkan dan dimaknai secara khas oleh manusia. Extension Course Filsafat kali ini hendak merenungi dan mengkaji lebih jauh posisi seni yang paradoksal itu, untuk memperjelas seberapa penting sesungguhnya seni itu dalam kehidupan kita kini.
LI CHANGGENG, MARX & UANG Mohamad, Goenawan
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam dunia modern uang bukanlah sekedar sarana transaksi atau alat tukar. Lebih dari itu ia adalah infrastruktur berbagai differensiasi sosial dan salah satu unsur pokok yang membentuk - atau memanipulasi- gambaran dunia (worldview). Uang memang berperan melebihi fungsi ekonominya saja. Pada lapisan lebih dalam ia sekaligus merepresentasikan spirit dasar modernitas: rasionalitas, kalkulabilitas dan impersonalitas.Bila dalam dunia kuno realitas dipahami dan dikelola berdasarkan imajinasi dan rasa, dan masyarakat lantas dihayati sebagai paguyuban dengan kohesi sosial yang erat, dalam era modern realitas dipahami melalui kalkulasi rasional dan abstraksi, dan masyarakat terpecah ke dalam bermacam differensiasi sosial, yang ditandai dengan uang sebagai ukuran kuantitatif pembedanya.  Dari sisi ini uang adalah salah satu faktor yang melahirkan pergeseran mendasar dari Gemeinschaft ke Gesellschaft, dari pola relasi estetik ke pragmatik, kerangka pandang kualitatif ke kuantitatif,  sistem yang personal ke impersonal. Akibatnya di dunia modern orientasi nilai dan faktor penentu utama  adalah profit, akumulasi kapital, dan kekayaan material. Segala nilai lain hanya penting sejauh mendukung hal-hal tersebut. 

Page 6 of 18 | Total Record : 172