cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
The Future of The Mind: Michio kaku Sugiharto, Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Future of The Mind: Michio kaku
Kematian: Inspirasi dari Neuroscience Sugiharto, Ignatius Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERSOALAN DASAR: makna kematian tergantung pada masalahadakah ‘hidup sesudah mati’ ?apakah KESADARAN tergantung pada OTAK ?Kini telah RATUSAN JUTA orang mengalami NDE, OBE, automatic writing, medium, dll . RIBUAN telah terdokumentasi dan dikaji.
Fenomena Musik Kontemporer Raseuki, Nyak Ina
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2016): ECF Musik
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena Musik Kontemporer
Bagaimana Menilai Karya Seni? - Krisis dalam ‘Penilaian Seni’ H. Jennong, Agung
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengurung persoalan, saya ingin merujuk pada pengertian seni sebagai suatu praktik (ekpresi, manifestasi gagasan dan imajinasi, dst.) yang terlembagakan secarasosial dalam masyarakat modern. Seni dalam pengertian ini (pernah) dipercaya sebagai praktik yang otonom, terbebas dari berbagai kepentingan agama, politik, ekonomi, dsb.Berkembangnya humanisme dan rasionalisme, dan tumbuhnya kaum borjuis dan kelas menengah baru di Eropa pada pertengahan abad ke-19 berperan dalam proses pelembagaan dan otonomisasi ini. Seni dilepaskan dari konteks sosial dan relijiusnya. Aktivitas artistik berangsur-angsur mengalami pemisahan dengan kehidupan keseharian. Sepanjang abad ke-20, seni otonom mengalami proses pelembagaan melaluipengetahuan dan praktik sosial yang terspesialisasi ke dalam kategori profesi (seniman, kritikus, kurator, kolektor, peneliti, dosen, dsb.) dan lembaga seni (museum, sekolah seni,galeri, dll.). ‘Seni’ dalam pengertian ini berbeda dengan pengertian harfiah dan inklusif seni yang digunakan ketika kita menyebut segala bentuk kecakapan ataupun praktik ritualmaupun tradisi. Seni otonom adalah seni yang menjadi pelayan untuk seni itu sendiri.Sebagai konsekuensi dari status otonominya, seni modern menciptakan pranata-pranata yang dianggap otoritatif dalam menentukan parameter penilaian. Dalam praktiknya,pranata ini melakukan sistematisasi, konvensi, klasifikasi, kodifikasi dan otorisasi definisi, ukuran-ukuran melalui pengetahuan-pengetahuan esoterik seperti sejarah dan teori seni. Pada tataran sosial, manifestasi proses pelembagaan ini tercermin dalam pendirian museum-museum dan sekolah seni, pengoleksian karya-karya, penelitian, pameran, penerbitan buku dan majalah. Dalam lingkup yang esoterik inilah praktik seni menjadi terikat pada basis-basis teoretik, historis dan metodologis, yang tidak hanya mempengaruhi corak perkembangan penciptaan yang dilakukan oleh para seniman tapi juga sistem penilaian terhadapnya.
Estetika Kuliner: Filosofi, Sejarah & Gastronomi Rahman, Fadly
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Estetika Kuliner: Filosofi, Sejarah & Gastronomi
Kultur Masyarakat Industri dan ideologi Ekonomi Djunatan, Stephanus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam konteks perubahan menuju masyarakat industri modern di Indonesia,kita perlu memperhatikan lebih jauh bagaimana masyarakat tradisional tetap menawarkanpilihan dan interaksi antar manusia. Kita memang tidak bisa menghapuskan bentukmasyarakat industri modern, demi menghidupkan lagi bentuk masyarakat tradisional.Keberadaan dan peran mereka di tengah komunitas modern semakin menandai bahwa masihada alternatif bagi wujud masyarakat modern. Lebih penting masih ada interaksi dialogis diantara berbagai sistem masyarakat. Jika masyarakat tradisional ini dilenyapkan dari tengahtengahmasyarakat Indonesia modern, kita akan jatuh pada jebakan yang sama dialamimasyarakat industri modern. Ketiadaan pilihan dapat menggiring kita pada semunyapengakuan pada uniknya tiap pribadi/kolektivitas dan kebebasannya dalam menentukan danmengembangkan diri. Untuk itu kita mendiskusikannya lebih jauh
KARAKTERISTIK HUMOR INDONESIA Nugroho, Garin
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor merupakan bagian dari budaya hidup manusia. Sebuah humor akan lekat hadir dalam kehidupan bangsa yang memiliki banyak masalah di dalamnya. Jenis humor yang seperti ini sering kali mendapat julukan “humor gelap“. Masyarakat yang penuh dengan kontradiksi dan masalah tersebutlah yang melahirkan humor tersebut. Dan humor tersebutyang berkembang semarak dan melahirkan sensitivitas terhadap berbagai gejala yang dihadapi bangsa. Humor-humor tersebutlah yang melahirkan suatu kultur yang menarik yaitu yaitu kultur humor dimana komedian dan masyarakat playful tumbuh.Sebuah hal yang unik ketika kembali melihat bahwa humor hadir dalam wilayah budaya tertentu, sehingga juga mempengaruhi gaya atau cerita humor disetiap budaya yang diusung oleh para komedian ataupun masyarakat. Humor yang tumbuh dalam budaya tersebut muncul karena adanya paradoks kebudayaan itu sendiri, yaitu mengenai hal yang kuno dengan yang baru. Hal yang kuno dan yang baru inilah yang kerap kali menjadi bagian dari sebuah materi untuk melucu.
Mind and Self Transcedence Wilianto, Herman
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mind and Self Transcedence
E. KUEBLER-ROSS : TANDA & TAHAP MENJELANG KEMATIAN Rachmat, Agus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EKB meneliti proses kematian dari para pasien yang mengalami “natural death”kibat usia tua dan penyakit terminal. Akibatnya, uraiannya mungkin tidak seluruhnya berlaku bagi  orang yang mengalami “violent death,” yakni para korban yang mati mendadak sebagai korban kejahatan, kecelakaan atau serangan fatal seketika penyakit tertentu. Tambahan lagi, para pasien yang diamati EKB itu mendapat perawatan medis dan bimbingan psiko-spiritual saat menempuh perjalanan akhir hidupnya. Mungkin tidak setiap orang bisa mendapoat fasilitas  dan keberuntungan semacam itu. Kendati demikian, uraian EKB trentang tanda & tahap kematian itu tetaplah berguna sebagai bahan refleksi pribadi kita dan panduan bagi interaksi kita dengan orang-orang yang berada di ambang maut, agar  merejka bisa meninggakl dengan tenang dan bermartabat.EKB juga menandaskan bahwa kelima tahap itu berlaku dan berguna bukan saja bagi orang yang dihadang oleh krisis kematian, melankan juga bagi memahami setiap krisis kehidupan yang dialami manusia pada umumnya. Krisis adalah “lifechanging events,” saat dan peristiwa yang membawa perubahan yang besar dalam cara hidup kita, misalnya: cacat, lumpuh, perceraian, patah hati, drop-out, PHK, bankrut, menopause, pensiun dan pikun etc. Dinamika bertahap yang serupa, dengan intensitas yang berbeda, mungkin bisa terjadi saat kita mencoba untuk bangkit dari aneka krisis semacam itu.
FILOSOFI KARINDING SUNDA Kimung, Kimung
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2016): ECF Musik
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FILOSOFI KARINDING SUNDA

Page 5 of 18 | Total Record : 172