cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
SENI DAN DUNIA MANUSIA Sugiharto, Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umumnya „seni‟ dipahami sebagai perkara keindahan, hiasan, kesenangan, atau hiburan. Pada tingkat lebih serius, seni dilihat sebagai produk mengagumkan hasil kecerdasan kreatif dan keahlian para genius, yang menuntut perenungan mendalam.• Persepsi di atas kini tidak lagi memadai, meski tidak salah juga. Seni telah mengalami perkembangan yang sedemikian kompleks dan paradoksal secara eksternal maupun internal. Perkembangan eksternal: seni kini telah menjadi bahan utama industri gaya hidup dan paradigma pokok untuk memahami segala fenomena dalam dunia khas manusia (dari sains, budaya, hingga agama). Perkembangan internal: bersama modernitas, seni sempat menjadi wilayah eksklusif yang otonom, dan hakekatnya lantas direnungkan ulang terus menerus sehingga bentuk ungkapan materialnya justru semakin menghilang, mengalami proses „dematerialisasi‟, sementara batas wilayah eksklusifnya pun akhirnya menjadi relatif, bahkan memudar dan kini menyatu kembali dengan kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya bentuk-bentuk karya seni mutakhir bisa aneh-aneh dan membuat orang bingung.
Digitalisasi Seks dan Kepuasan Virtual Piliang, Yasraf Amir
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalisasi Seks dan Kepuasan Virtual
Sebuah Telaah Fenomenologis tentang Diri Manusia Tedjoworo, Hadrianus
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah Telaah Fenomenologis tentang Diri Manusia
Humor dan Homo Ridens Heatubun, Fabianus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2014 ini ditandai dengan meninggalnya sejumlah komedian atau pelawak yang kesohor di tingkat internasional dan juga nasional. 13 Agustus 2014 Robin Williams mati bunuh diri cukup mengejutkan dunia tontonan. 4 September 2014 Joan Rivers meninggal meski dalam usia tua, namun menjadi pembahasan di mana mana, terutama kontroversi tentang dia yang pro dengan Israel tinimbang prihatin terhadap kemanusiaan di Palestina. 6 Maret 2014 pelawak senior Djodjon dari Jayakarta Group meninggal yang disusul oleh Mamiek Prakoso pada 3 Agustus 2014 sang pelawak Srimulat dengan ciri khas rambut bercat putih-hitam meninggal secara tiba-tiba. Kematian para pelawak ini bisa dianggap normal saja. Akan menjadi peristiwa yang istimewa dan penting ketika vokasi mereka sebagai komedian atau pelawak kita perkarakan. Bahwa ada profesi hidup sebagai pelawak dan profesi tersebut amat dibutuhkan oleh pemirsa di manapun. Jadwal acara TV akan terasa cemplang bila tidak disisipi tayangan yang bertema komedi. Masyarakat butuh tertawa. Entah untuk mentertawakan kekonyolan orang lain (para pelawak) atau mentertawakan diri sendiri ketika tontonan adalah proyeksi jiwa sang penonton. Pertanyaan yang sifatnya pragmatis, utilitaristik dan ekonomis mungkin lebih mudah untuk dijawab. Mengapa pelawak itu memilih profesi sebagai pelawak, karena pasar membutuhkannya. Namun bila petanyaan bergeser sedikit ke wilayah ontologis, barulah mengalami kesulitan untuk menjawab. Sulit karena memang tidak pernah, paling tidak jarang, untuk diperkarakan. Selain mengapa mesti diperkarakan. Namun sebagai „tracker‟ intelektual yang gemar menelusuri lorong-lorong gelap dan nyaris jarang ada orang yang melewatinya, kadang merasa asyik juga menjelajahinya
Mind and Data Science Sutarto, Herman Y.
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mind and Data Science
Filsafat Kematian Heidegger Hardiman, F. Budi
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Renungan tentang kematian terletak di jantung Sein und Zeit.  Sebagai keseluruhan dari keseluruhan struktur Dasein, Sorge  merupakan suatu gerak atau dinamika yang belum definitif. Bahwa salah satu momennya sich vorweg (mendahului) berarti  bahwa Sorge adalah penyingkapan terus-menerus. Ada dari  Dasein adalah kemungkinan (Seinkoennen), maka ia lebih  merupakan suatu gerak terus-menerus menuju dirinya daripada merupakan sesuatu yang sudah jadi. Rumusan filosofisnya adalah demikian: Manusia itu lebih ‘menjadi’ (Werden) daripada ‘ada’  (Sein). Dalam arti ini, “selama Dasein sebagai Mengada ada, dia  tak pernah mencapai ‘keseluruhan’nya.”
Seksualitas dan Spiritualitas Dewi, Saraswati
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seksualitas dan Spiritualitas
Uang dalam perspektif budaya dan filsafat Tionghoa Cangianto, Ardian
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ekonomi di Tiongkok yang ribuan tahun lamanya melahirkan banyakgagasan maupun teori tentang ekonomi dan fungsi uang. Para filsuf maupun ekonomTiongkok dari zaman ke zaman menghadapi permasalahan-permasalahan ekonomi yangharus diatasi. Secara garis besarnya, kendali negara atas perekonomian maupun perputaranuang itu adalah demi mensejahterakan rakyat. Tanpa ada rakyat yang sejahtera makakekuasaan negara bisa terancam bahkan digulingkan. Dalam mengelola maupunmelaksanakan kegiatan ekonomi harus memiliki keadilan dan kebajikan. Cara itulah yangbisa menghindari kebencian maupun amarah karena kegiatan yang mencari untungberlebihan.Makna dan nilai dari uang menjadi suatu perdebatan di kalangan para filsuf maupunpara ekonom Tiongkok kuno, terutama dalam bidang ekonomi maupun fungsi dalamkehidupan sehari-hari. Namun demikian, bentuk uang koin di Tiongkok selama dua ributahun tidak mengalami perubahan. Bentuk uang koin itu sendiri mengandung nilai filosofitentang keharmonisan.Fungsi dan makna nilai uang akhirnya melampaui fungsi ekonomi, terutama dalambidang metafisik maupun budaya bangsa Tionghoa. Dalam budaya Tionghoa, uang sudahbukan lagi sekedar alat tukar ekonomi, tapi menjadi alat untuk menolak bala, harmonisdengan alam dan lain-lain.
Peran Seniman dan Penonton Nugroho, Garin
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada millenium ketiga ini, seni mengalami situasi paradoksal : di satu sisi konon ia ‘telah berakhir’ (‘The end of art’ kata Arthur Danto dll), di sisi lain seni melebur ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi apa pun juga. Di satu sisi, dalam konstelasi teknokultur hari ini seni selalu dianggap sekedar hal sekunder –seperti tampak dalam kurikulum pendidikan umum-, di sisi lain pada strata masyarakat papan atas seni justru diapresiasi sebagai simbol kemewahan dan keberadaban. Situasi ini menarik, memaksa kita meninjau kembali keterkaitan antara seni dan kehidupan.  Barangkali sebenarnya yang berakhir hanyalah pemisahan ketat antara  ‘seni tinggi’ dan ‘seni populer’ yang semakin lama semakin dirasa artifisial dan tendensius, yang juga tidak sesuai dengan kenyataan perkembangan ‘seni tinggi’ itu sendiri. Barangkali juga yang sebenarnya menghilang hanyalah pretensi ‘eksklusif’ dari dunia seni itu, sebab dalam kenyataannya kini seni justru dianggap sebagai paradigma utama yang lebih tepat untuk memahami berbagai fenomena kreatif pokok dalam dunia manusia, sejak fenomena kreatif dalam sains, teknologi, industri, ekonomi, hingga politik, gaya hidup dan agama. Dunia manusia tetaplah dunia yang diciptakan dan‘dibuat-buat’nya sendiri alias dunia yang di’seni’kannya. Barangkali akhirnya seni memang bukan hanya soal ‘keindahan’, melainkan lebih perkara ‘kebenaran’, kebenaran tentang bagaimana hidup ini ditafsirkan dan dimaknai secara khas oleh manusia. Extension Course Filsafat kali ini hendak merenungi dan mengkaji lebih jauh posisi seni yang paradoksal itu, untuk memperjelas seberapa penting sesungguhnya seni itu dalam kehidupan kita kini.
Humor sbg ‘World-view’; atau Humor dan Kebudayaan Laksana, Bagus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.

Page 4 of 18 | Total Record : 172