cover
Contact Name
Ni Putu Diantariani
Contact Email
jurnalkimia@unud.ac.id
Phone
+628123640424
Journal Mail Official
jurnalkimia@unud.ac.id
Editorial Address
Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Jimbaran, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 19079850     EISSN : 25992740     DOI : 10.24843/JCHEM
Core Subject : Science,
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) publishes papers on all aspects of fundamental and applied chemistry. The journal is naturally broad in scope, welcomes submissions from across a range of disciplines, and reports both theoretical and experimental studies.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 18, No.1, Januari 2024" : 13 Documents clear
PEMBUATAN ARANG BAMBU TABAH (Gigantochloa nigrociliata) DENGAN AKTIVATOR ZnCl2 SEBAGAI ADSORBEN CONGO RED Manurung, M.; Hartanto, S. B.; Manuaba, I. B. P.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p06

Abstract

Arang aktif merupakan material unik sebab mampu menjerap ion positif, negatif, dan netral dengan baik. Penelitian bertujuan untuk mempelajari adsorpsi congo red menggunakan arang bambu tabah, tanpa aktivasi dan dengan aktivasi. Penelitian dimulai dengan membuat arang bambu tabah secara pirolisis. Sebagian arang diaktivasi dengan ZnCl2 secara impregnasi, sehingga didapatkan arang aktif. Arang tanpa aktivasi dan teraktivasi dikarakterisasi gugus fungsinya. Kapasitas adsorpsi masing-masing adsorben juga diukur setelah mengoptimasi beberapa parameter adsorpsi seperti waktu kontak, jumlah massa adsorben, pH larutan, dan suhu. AB2 yaitu arang teraktivasi, memiliki kemampuan terbaik dalam mengadorpsi congo red dengan nilai kapasitas adsoprsi sebesar 64,472 mg/g, waktu kontak 120 menit, massa adsorben 0,1 g, suhu 30 oC dan pH 2. Kapasitas adsorpsi AB0, AB1, dan AB2 secara berturut-turut adalah 31,137; 61,855; dan 64,472 mg/g. Arang bambu tabah memiliki potensi yang baik untuk menjerap congo red dari larutan. Kata kunci: Adsorpsi, Arang Aktif, Bambu Tabah, Congo Red ABSTRACT Activated charcoal is a unique material because it can absorb positive, negative, and neutral ions well. This research aimed to study the adsorption of Congo red by using inactivated and activated Tabah bamboo charcoals. The research began by preparing Tabah bamboo charcoal using pyrolysis. Some charcoal was activated with ZnCl2, by impregnation to obtain activated charcoal. The functional groups of inactivated and activated charcoal were characterized. The adsorption capacity of each adsorbent was also measured after optimizing several adsorption parameters such as contact time, adsorbent mass amount, solution pH, and temperature. AB2, namely activated charcoal, had the best ability to adsorb Congo red with an adsorption capacity value of 64.472 mg/g, contact time of 120 minutes, adsorbent mass of 0.1g, temperature of 30 ?, and pH 2. The adsorption capacities of AB0, AB1, and AB2 are respectively 31,137; 61,855; and 64.472 mg/g. Tabah bamboo charcoal has good potential to absorb congo red from the solution. Keywords: Activated Charcoal, Adsorption, Congo Red, Tabah Bamboo
KANDUNGAN HARA MAKRO SETELAH PENAMBAHAN PUPUK KOMPOS BLOTONG PADA TANAH PERKEBUNAN Rahmah, I.; Suarya, P.; Manuaba, I. B. P.; Ariati, N. K.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p12

Abstract

Blotong atau filter cake merupakan kotoran nira tebu dari proses pembuatan gula. Namun, blotong dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik karena kandungan hara dalam blotong cukup tinggi. Misalnya kandungan C, N, P, dan K yang dapat menjadi sumber hara serta meningkatkan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan unsur hara C, N, P, dan K pada tanah setelah pemberian pupuk blotong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Walkley and Black untuk penetapan hara C, metode Kjeldahl untuk penentuan hara N, dan metode Bray I untuk penentuan hara P dan K. Perlakuan pemupukan dilakukan dalam skala kecil, dimana tanah perkebunan direparasi dalam wadah polybag berukuran 50 cm x 50 cm. Pemupukan dilakukan selama 4 minggu dengan takaran variasi pupuk setara 0 ton/ha, 10 ton/ha, 25 ton/ha, dan 60 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk blotong dapat meningkatkan kadar hara pada tanah perkebunan. Perlakuan 0 ton/ha diperoleh hasil kadar C, N, P, dan K berturut-turut sebesar 1,12%; 0,12%; 102,7588 ppm, dan 101,320 ppm. Perlakuan 10 ton/ha diperoleh hasil kadar berturut-turut sebesar 1,18%; 0,13%; 122,9938 ppm, dan 145,610 ppm. Perlakuan 25 ton/ha diperoleh hasil kadar berturut-turut sebesar 1,22%; 0,14%; 144,8662 ppm, dan 260,960 ppm. Perlakuan 60 ton/ha kadar berturut-turut sebesar 2,58%; 0,15%; 190,6140 ppm, dan 380,180 ppm. Hal tersebut menunjukkan bahwa takaran setara 60 ton/ha cukup untuk meningkatkan kandungan hara C, N, P, dan K tanah dalam waktu 4 minggu. Kata kunci: Blotong, tanah, C-organik, N, P, K ABSTRACT Blotong or filter cake is sugar cane sap dirt from the sugar-making process. However, blotong can be used as an organic fertilizer because the nutrient content in blotong is relatively high. For example, the contents of C, N, P, and K can be a source of nutrients and improve soil quality. This study aimed to determine the increase in nutrients C, N, P, and K in the soil after applying blotong fertilizer. There were methods used in this study, such as the Walkley and Black method for determining C nutrients, the Kjeldahl method for determining N nutrients, and the Bray I method for determining P and K nutrients. Fertilization treatment was carried out on a small scale, where who repaired the plantation soil in polybags measuring 50 cm x 50 cm. Fertilization is carried out for four weeks with varying doses of fertilizer equivalent to 0 tons/ha, 10 tons/ha, 25 tons/ha, and 60 tons/ha. The results showed that blotong fertilizer could increase the nutrient content of the plantation soil. Treatment of 0 ton/ha resulted in C, N, P, and K of 1.12%, 0.12%, 102.7588 ppm, and 101.320 ppm, respectively, while the 10 ton/ha treatment yielded 1.18%, 0.13%, 122.9938 ppm, and 145.610 ppm, respectively. Moreover, the 25 ton/ha treatment produced a grade of 1.22%, 0.14%, 144.8662 ppm, and 260.960 ppm, respectively, whereas the treatment of 60 tons/ha of 2.58%, 0.15%, 190.6140 ppm, and 380.180 ppm successively. These results showed that the equivalent dose of 60 tons/ha was sufficient to increase the contents of C, N, P, and K nutrients in the soil within four weeks. Keywords: blotong, soil, C-organic, N, P, K
EXTRACTION OF KEMUNING ESSENTIAL OIL USING MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION (MAE) Royyan, M. Y. 'Izza; Trisnawati, A.; Sudarni, D. H. A.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p02

Abstract

Daun tumbuhan kemuning diketahui mengandung minyak atsiri yang berfungsi sebagai bahan antioksidan dan anti-inflamatori. Minyak atsiri daun kemuning pada penelitian ini dipisahkan dengan menggunakan metode Microwave Hydrodistillation (MHD), yaitu metode ekstraksi dengan menggunakan sistem destilasi dengan memanfaatkan radiasi gelombang mikro untuk mempercepat ekstraksi selektif dengan memanaskan pelarut secara cepat dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik minyak atsiri daun kemuning, pengaruh variasi berat bahan baku dengan variasi waktu ekstraksi terhadap rendemen minyak atsiri, serta pengaruh pengaturan suhu dan waktu ekstraksi terhadap rendemen minyak atsiri pada daun kemuning yang diekstraksi menggunakan teknik MHD. Ekstraksi minyak atsiri daun kemuning menggunakan metode MHD dengan variasi berat bahan baku, waktu ekstraksi dan pengaturan suhu, menghasilkan karakteristik minyak atsiri daun kemuning berwarna bening kekuningan, memiliki aroma khas daun kemuning, berat jenis rata-rata 0,8106 g/mL, rata-rata rendemen 0,0086% dan rata-rata indeks bias 1,33677. Waktu optimum proses ekstraksi pada penelitian ini yaitu 60 menit. Rendemen yang dihasilkan selama 60 menit pada suhu medium-low pada berat bahan baku 50, 75 dan 100 gram secara berturut-turut adalah 0 %; 0,0053 % dan 0,0055 %, sedangkan pada pengaturan suhu medium berturut-turut adalah 0,0074 %; 0,0101 % dan 0,0144 %. Pengaturan suhu medium memberikan hasil rendemen yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil pengaturan suhu medium low, baik pada berat bahan baku 50, 75 dan 100 gram. Kata kunci: Daun Kemuning, Ekstraksi, Minyak atsiri, Microwave Assisted Extraction, Karakterisasi. ABSTRACT Kemuning leaves contain essential oils that function as antioxidant and anti-inflammatory ingredients. The essential oil of Kemuning leaves in this study was separated using the Microwave Hydrodistillation (MHD) method, which is an extraction method using a distillation system that utilizes microwave radiation to accelerate selective extraction by heating the solvent quickly and efficiently. The objectives of the study were to determine the characteristics of the essential oil of Kemuning leaves extracted using MHD technique, the effect of variation in the weight of raw material of Kemuning leaves and extraction time on the yield of essential oil of Kemuning leaves, as well as the effect of temperature regulation with variation of extraction time on the yield of essential oil of Kemuning leaves. The extraction of Kemuning leaf essential oil by MHD method, with a variation of raw material weight, extraction time, and temperature setting, resulted in a clear yellowish oil color, a distinctive aroma of Kemuning leaves, average specific gravity of 0.8106 g/mL, average yield of 0.0086% and average refractive index of 1.33677. The optimum time for the extraction process in this study was 60 minutes. The yield produced for 60 minutes at medium-low temperatures with 50, 75, and 100 grams of raw material weight was 0%, 0.0053%, and 0.0055%, respectively, while at medium temperatures was 0.0074%, 0.0101%, and 0.0144%, respectively. The yields obtained at medium temperature settings was higher than medium-low temperature, for 50, 70 and 100 grams of raw material weight. Keywords: Kemuning leaf, Extraction, Essential oil, Micowave Assisted Extraction, Characterization.
IDENTIFIKASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKTRAK ETANOL KULIT DAUN LIDAH BUAYA TERHADAP BAKTERI Eschericia coli DAN Staphylococcus aureus Wasudewa, K. M.; Suirta, I W.; Wahjuni, S.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p09

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi senyawa aktif Antibakteri dari kulit daun Aloe vera. Penelitian dilakukan dengan mengekstrak 200g sampel kering kulit daun lidah buaya dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol selama 24 jam, kemudian pelarutnya diuapkan dengan rotary vacuum evaporator. Ekstrak kental yang diperoleh selanjutnya dipisahkan menggunakan kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dan fasa gerak n-heksana, etil asetat, dan etanol. Fraksi yang diperoleh kemudian diuji aktivitas antibakteri nya terhadap bakteri Escherichia coli dan staphylococcus aureus. Fraksi yang paling aktif kemudian dimurnikan dengan kromatografi kolom dan dilakukan identifikasi senyawa aktifnya dengan GC-MS. Hasil uji diperoleh bahwa fraksi n-heksan memiliki aktivitas antibakteri terbaik yang ditunjukkan dengan nilai zona hambat sebesar 12 mm terhadap E.coli dan 5 mm terhadap S. aureus. Hasil analisis senyawa dengan menggunakan GC MS diperoleh senyawa seperti: 1-metildodesilamin; 4-[2-(fenilsulfanil)etil] piridin; pentanal ; difenilefrin ; p-hidroksinorefedrin dan 5-(2-aminopropil)-2-metilfenol Kata kunci: Aktivitas antibakteri, Escherichia coli, lidah buaya, maserasi, Staphylococcus aureus. ABSTRACT This research was carried out to identify the active anti-bacterial compounds from aloe vera leaf skin. The study was conducted by extracting 200 grams of dried Aloe vera leaves skin using the maceration method with ethanol for 24 hours, then the solvent was evaporated using the rotary vacuum evaporator. The viscous extract obtained was then separated by column chromatography with a stationary phase of silica gel and a mobile phase of n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The obtained fractions were tested for their anti-bacterial activities against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. The most active fraction was purified by column chromatography, and then the active compound was identified by GC-MS. The results showed that the n-hexane fraction had the best anti-bacterial activity, with an inhibition zone of 12 mm against E.coli and 5 mm against S. aureus. The results of compound analysis using GC-MS obtained compounds are 1-methyl dodecyl amine, 4-[2-(phenyl sulfonyl)ethyl] pyridine, pentanal, p-hydroxynorephedrine, 5-(2-aminopropyl)-2-methylphenol, di-phenylephrine. Keywords: Aloe vera leaf, antibacterial activity, Escherichia coli, maceration, Staphylococcus aureus
FITOREMEDIASI TANAH PERTANIAN TERCEMAR Cu DENGAN TANAMAN GUMITIR (Tagetes erecta L) Siaka, I M.; Wijayanthi, I. A. G. S.; Ratnayani, O.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p07

Abstract

Logam berat Cu merupakan polutan yang umum ditemukan pada tanah pertanian dan mencemari tanaman yang tumbuh di tanah tersebut. Salah satu cara untuk mengurangi kandungan cemaran logam berat pada tanah pertanian adalah melalui fitoremediasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menurunkan kandungan Cu pada tanah pertanian yang tercemar logam Cu dan menetapkan nilai bioconcentration factor (BCF) berdasarkan kandungan Cu dalam tanaman gumitir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode remediasi dengan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) pada tanah percobaan yang tercemar logam Cu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kandungan Cu dalam tanah tersebut yang diremediasi selama 20, 40, dan 60 hari berturut-turut sebesar 8,1582 mg/kg; 16,4048 mg/kg; dan 1,4583 mg/kg, sedangkan rata-rata kandungan Cu pada tanaman gumitir yg tumbuh pada tanah tercemar tersebut selama 20, 40, dan 60 hari secara berturut-turut sebesar 11,8407 mg/kg; 15,7741 mg/kg; dan 15.3062 mg/kg. Tanaman gumitir tergolong kurang efektif dalam menyerap logam Cu yang ditunjukkan oleh nilai efektivitasnya tertinggi pada saat tanaman tumbuh selama 40 hari yaitu sebesar 13,82% (<50%). Berdasarkan perbandingan kandungan logam Cu dalam tanah dengan kandungannya dalam tanaman yaitu 0,11-0,14%, nilai BCFnya <1 yang artinya tanaman gumitir merupakan tanaman metal excluder, kurang cocok sebagai fitoremediator. Dengan demikian, tanaman gumitir tidak direkomendasikan sebagai fitoremediasi pada tanah tercemar Cu.
LULUR BADAN BERBAHAN KETAN HITAM DAN MINYAK KELAPA Mukti, R. A.; Fatmasari, F. H.; Nuraini, I.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p03

Abstract

Lulur merupakan kosmetika tradisional, yang salah satu bahan dasarnya adalah ketan hitam. Pada penelitian ini pembuatan lulur beras ketan hitam ditambahkan dengan minyak kelapa, teh hijau dan susu. Saat penyimpanan dibutuhkan kestabilan formulasi, untuk itu peneliti menambahkan antioksidan berupa tokoferol (vitamin E). Pada penelitian ini kestabilan 2 formula, yaitu formula tanpa dan dengan tokoferol diamati. Pengamatan dilakukan selama 2 minggu, dengan mengukur kadar keasaman (pH) dan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan kedua formulasi yng dibuat tidak menunjukan perbedaan signifikan. Pada formula dengan tokoferol didapatkan penurunan kadar keasaman sebesar 0,03 %, sedangkan pada formula tanpa tokoferol 0,017%. Sedangkan untuk data viskositas didapatkan tidak ada perubahan viskositas pada formula dengan tokoferol dan perubahan sebesar 0,18 % pada formula tanpa tokoferol. Kesimpulannya adalah kedua formula memiliki kestabilan yang hampir sama selama penyimpanan. Hal tersebut disebabkan karena pada kedua formula terdapat bahan campuran berupa minyak kelapa yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan setara dengan tokoferol. Kata kunci: anti oksidan, lulur ketan hitam, minyak kelapa ABSTRACT Lulur is a traditional cosmetic, and one of its ingredients is black sticky rice. In this study, black sticky rice was mixed with coconut oil, green tea, and milk to prepare the body scrub. To keep the formula stable during storage, adding an antioxidant in the form of tocopherol (vitamin E) is needed. The stability of 2 formulas, namely formulas without and with tocopherol, was observed. The observations were carried out for two weeks by measuring the acidity levels (pH) and viscosity. The research results showed that the two formulas did not show any significant differences. In the formula with tocopherol, the acidity level was reduced by 0.03%, while without tocopherol by 0.017%. However, there was no change in the viscosity of the formula with tocopherol, while in the formula without tocopherol, there was a slight change of 0.18%. In conclusions, both formulas had almost the same stability during storage. These were because both of the formula consisted of coconut oil that can act as an antioxidant equivalent to tocopherol. Keywords: Anti-oxidant, black sticky rice scrub, coconut oil
PENENTUAN KADAR ASAM AMINO BEBAS DAN KADAR PROTEIN TERLARUT DARI EKSTRAK KECAMBAH KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN VARIASI WAKTU PERKECAMBAHAN Laksmiwati, A. A. I. A. Mayun; Sahara, E.; Ariati, N. K.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p11

Abstract

Paper ini membahas pengaruh waktu perkecambahan kacang merah terhadap kadar asam amino bebas dan protein terlarut yang terkandung dalam kecambahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar asam amino bebas dan kadar protein terlarut dalam ekstrak kecambah kacang merah yang dihasilkan dari berbagai waktu perkecambahan, yaitu 0, 24,48,72,96 dan 120 jam. Penelitian ini meliputi serangkaian tahap percobaan yaitu diawali dengan proses perkecambahan kacang merah dengan perlakuan variasi waktu perkecambahan, selanjutnya masing-masing sampel kecambah memasuki tahap penepungan, ekstraksi, dan deproteinasi. Terhadap sampel tepung kacang merah dilakukan uji kadar air dan terhadap hasil deproteinisasi dilakukan uji kualitatif dan uji kuantitatif dengan spektrofotometer UV-Vis pada ? =54nm dan ? =570 nm. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar air tepung kacang merah sebesar 9,28 %, nilai ini memenuhi standar baku mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu tidak melebihi dari 10%. Uji kualitatif adanya asam amino dengan metode Ninhydrin dan uji protein dengan metode biuret terhadap hasil ekstraksi kecambah kacang merah dengan variasi waktu perkecambahan 0, 24,48,72,96 dan 120 jam menunjukkan hasil yang positif. Kadar total asam amino bebas pada variasi waktu perkecambahan tersebut berturut-turut sebesar 41,87; 69,20; 85,94; 96,31; 102,94 dan 80,62 mg/100g kecambah kacang merah. Kadar protein terlarut dalam ekstrak kecambah kacang merah dengan variasi waktu yang sama, berturut-turut diperoleh sebesar 2,34; 1,87; 1,67; 1,92;1,37; dan 1,15 % (b/b). Dari hasil penelitian ini, jelas terlihat bahwa kadar asam amino tertinggi diperoleh pada waktu perkecambahan selama 96 jam, sedangkan kadar protein terlarut tertinggi diperoleh pada waktu perkecambahan selama 72 jam. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lama perkecambahan mempengaruhi kadar total asam amino bebas dan kadar protein terlarut dalam kecambah kacang merah. Kata kunci: asam amino bebas, kacang merah, perkecambahan, protein terlarut ABSTRACT This paper discusses the effect of red bean germination time on the levels of free amino acids and dissolved protein contained in the sprouts. This study aimed to determine the values of free amino acids and dissolved protein levels in red bean sprout extracts produced at various germination times, namely 0, 24, 48, 72, 96, and 120 hours. This study included a series of experimental stages, initiated with the red bean germination process with variations in germination time, and the next stage was each sample of sprouts entered the stages of flouring, extraction, and deproteination. Samples of red bean flour were tested for their water content, and the results of deproteinization were tested qualitatively and quantitatively using a UV-Vis spectrophotometer at ? = 540 nm and ? = 570 nm, respectively. The results showed that the water content of red bean flour was 9.28%, which met the Indonesian National Standard (SNI), which did not exceed 10%. Qualitative tests for the presence of amino acids using the Ninhydrin method and the total protein content tests using the Biuret method on the extract of red bean sprouts with germination times of 0, 24, 48, 72, 96, and 120 hours showed positive results. The total free amino acid levels in the red bean extracts obtained from various germination times were 41.87, 69.20, 85.94, 96.31, 102.94, and 80.62 % (w/w), respectively, while the values of soluble protein were 2.34, 1.87, 1.67, 1.92, 1.37, and 1.15 % (w/w), respectively. It can be seen clearly that the highest level of amino acids was obtained at the germination time of 96 hours, while the highest soluble protein level at the germination time of 72 hours. Keywords: free amino acids, germination, red beans, soluble protein
LIMBAH KULIT BUAH SALAK TERAKTIVASI ASAM KLORIDA SEBAGAI ARANG AKTIF LOGAM BERAT TIMBAL Pb (II) dan KROMIUM Cr (VI) Prabawati, S. Y.; Aji, D. P.; Rahmadhani, D.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p13

Abstract

Keberadaan logam Pb (II) dan Cr (VI) sangat berbahaya bagi lingkungan hingga menimbulkan gangguan keseimbangan lingkungan, terutama pada ekosistem perairan. Upaya untuk mengurangi logam berat telah banyak menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah adsorpsi menggunakan arang aktif sebagai agen penyerap. Metode ini sangat efektif dan tidak mahal. Salah satu limbah organik yang berpotensi sebagai arang adalah limbah kulit salak. Kajian adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) telah dilakukan menggunakan arang kulit salak teraktivasi HCl. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik arang aktif kulit salak untuk menurunkan kandungan logam Pb (II) dan Cr (VI). Parameter uji dilakukan pada variasi pH waktu kontak, dan konsentrasi larutan logam. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan adanya gugus -OH, C=C, dan C-O pada permukaan arang aktif kulit salak. Karakterisasi SEM menunjukkan morfologi permukaan arang aktif kulit salak teraktivasi HCl memiliki struktur berpori sehingga diharapkan lebih efektif dalam menyerap ion logam berat. Adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) pada variasi pH didapatkan kondisi optimum pada pH 4 dan 2 dengan efektivitas adsorpsi masing-masing sebesar 85,05% dan 17,65%. Adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) memberikan waktu stabil pada menit ke 60 dan 90 dengan persen adsorpsi sebesar 42,05% dan 82,90%. Pola isoterm adsorpsi pada penelitian ini mengikuti pola isoterm Langmuir dengan kapasitas adsorpsi logam Pb (II) dan Cr (VI) masing-masing sebesar 0,2278 mg/g dan 0,9999 mg/g serta diperoleh energi adsorpsi sebesar 26,77 kJ/mol dan 26,43 kj/mol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, limbah kulit salak sangat berpotensi sebagai arang aktif dalam mengurangi logam Pb (II) dan Cr (VI). Kata kunci: adsorpsi, logam Pb (II) dan Cr (VI), limbah kulit salak, arang aktif, isoterm adsorpsi ABSTRACT The contents of Pb (II) and Cr (VI) metals are dangerous for the surrounding environment and can cause environmental disturbances, especially in aquatic ecosystems. The attempts to reduce heavy metals have used many methods, one of which is adsorption, which uses activated charcoal as an absorbent agent. One of the organic wastes that has the potential to be used as charcoal is salacca peel. The study about the adsorption of Pb (II) and Cr (VI) metals was carried out using charcoal from salacca peel activated with HCl. This research aimed to study the characteristics of activated charcoal from salacca peel to reduce the Pb (II) and Cr (VI) metals. The test parameters were carried out at variations in pH, contact time, and concentration of metal solution. The results of the FTIR characterization showed the presence of -OH, C=C, and C-O groups on the surface of the salacca peel charcoal after HCl activation. The characterization using SEM showed that the surface morphology of salacca peel charcoal after HCl activation has a porous structure that was expected to be more effective in absorbing heavy metal ions. The adsorption of Pb (II) and Cr (VI) metals at various pH obtained optimum conditions at pH 4 and 2 with adsorption effectiveness of 85.05% and 17.65%, respectively. The adsorption of Pb (II) and Cr (VI) metals had a stable time at 60 and 90 minutes with the adsorption percentages of 42.05% and 82.90%. The adsorption isotherm pattern in this study followed the Langmuir isotherm with the adsorption capacities of Pb (II) and Cr (VI) metals of 0.2278 mg/g and 0.9999 mg/g, respectively, and obtained adsorption energies of 26.77 kJ/mol and 26.43 kJ/mol. In conclusion, salak peel waste has great potential as active charcoal in reducing Pb (II) and Cr (VI) metals. Keywords: adsorption, Pb (II) and Cr (VI) metals, salacca peels, activated charcoal, adsorption isotherm
ADSORPTION OF Pb(II) METAL USING ACTIVATED ELEPHANT GRASS ADSORBENT Annisa, R. W. R.; *, Hasri; Pratiwi, D. E.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p04

Abstract

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan tanaman liar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Rumput gajah mengandung selulosa yang cukup tinggi, dengan gugus hidroksil (OH-) dan karboksil (-COOH) yang memiliki kemampuan mengikat logam berat. Oleh karena itu rumput gajah berpeluang dijadikan adsorben untuk menyerap logam berat khususnya logam Pb(II) yang dapat mencemari lingkungan. Pada penelitian ini dilakukan penentuan pH dan waktu kontak optimum serta kapasitas adsorpsi Pb(II) menggunakan adsorben rumput gajah. Tahapan penelitian meliputi pembuatan adsorben rumput gajah, aktivasi adsorben dengan HNO3, penentuan pH optimum, waktu kontak optimum serta kapasitas adsorpsi logam Pb(II). Selanjutnya gugus fungsi adsorben pada saat sebelum dan setelah aktivasi ditentukan dengan FTIR. Hasilnya menunjukkan bahwa pH optimum adsorpsi logam Pb(II) adalah 7 dan daya adsorpsi sebesar 95,60%. Waktu kontak optimum yaitu 60 menit. Kapasitas adsorpsi logam Pb(II) dengan konsentrasi 10, 30, 50 dan 100 ppm berturut-turut adalah 2,00; 6,67; 10,28 dan 13,05 mg/g. Adsorpsi logam Pb(II) menggunakan adsorben rumput gajah teraktivasi mengikuti pola isoterm Langmuir, dengan nilai R2 = 0,9632. Disimpulkan bahwa rumput gajah teraktivasi dapat digunakan sebagai adsorben logam Pb(II). Kata kunci: rumput gajah, asam nitrat, adsorpsi, logam berat. ABSTRACT Elephant grass (Pennisetum purpureum) is a wild plant that has not been utilized optimally. Elephant grass contains relatively high levels of cellulose, with hydroxyl (OH-) and carboxyl (-COOH) groups which can bind heavy metals. Therefore, elephant grass can be used as an adsorbent to absorb heavy metals, especially Pb(II) metal, which pollutes the environment. This research included preparing elephant grass adsorbent, activating the adsorbent with HNO3, determining the optimum pH, contact time, and the adsorption capacity of Pb(II) metal. Furthermore, the functional groups of the adsorbent before and after activation were analyzed using FTIR. The results showed that the optimum pH for adsorbing Pb(II) metal was 7, and the adsorption capacity was 95.60%. The optimum contact time was 60 minutes. The adsorption capacity of Pb(II) metal with concentrations of 10, 30, 50, and 100 ppm was 2.00, 6.67, 10.28, and 13.05 mg/g, respectively. Adsorption of Pb(II) metal using activated elephant grass followed the Langmuir isotherm pattern, with R2 value of 0.9632. In conclusion, activated elephant grass can be utilized as an adsorbent for Ph(II) metal. Keywords: elephant grass, nitric acid, adsorption, heavy metals.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK n-HEKSANA KULIT PISANG HIJAU LUMUT (Musa × paradisiaca L.) Rita, W. S.; Pardede, A. O.; Santi, S. R.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 18, No.1, Januari 2024
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2024.v18.i01.p08

Abstract

Kulit Pisang Hijau lumut (Musa x paradisiaca L.) merupakan limbah organik yang belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ekstrak kasar n-heksana kulit pisang hijau lumut, dan mengetahui kandungan senyawa yang terdapat dalam ekstrak kasar n-heksana. Ekstraksi kulit pisang hijau lumut dilakukan dengan metode maserasi dan partisi, uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode sumur difusi agar, dan identifikasi senyawa dalam ekstrak n-heksana dilakukan dengan skrining fitokimia. Maserasi 1000 gram serbuk kulit pisang hijau lumut dengan 10 liter metanol menghasilkan 120,34 gram ekstrak kental metanol. Partisi ekstrak kental metanol menghasilkan 23,41 gram ekstrak kental n-heksana. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa KHM dari ekstrak kasar n-heksana kulit pisang hijau lumut sebesar 3,125% baik terhadap bakteri S. aureus maupun E. Coli, sedangkan KBM ekstrak terhadap bakteri S. aureus dan E. coli masing-masing sebesar 50%. Hasil uji fitokimia ekstrak kasar n-heksana mengandung senyawa fenol, steroid, dan triterpenoid. Antibakteri, Escherichia coli, phytochemical, Staphylococcus aureus

Page 1 of 2 | Total Record : 13