cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
konversi@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Konversi
ISSN : 23023686     EISSN : 25413481     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012" : 16 Documents clear
PEMANFAATAN ARANG AKTIF DARI SERBUK GERGAJI KAYU ULIN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS Wijayanti, Hesti; Nora, Harmin; Amelia, Rajihah
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.106

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan arang aktif dari serbuk gergaji kayu ulin dalam proses adsorpsi minyak goreng bekas. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui waktu adsorpsi yang paling baik diantara range waktu yang digunakan untuk proses adsorpsi minyak goreng bekas dengan menggunakan arang aktif dari serbuk gergaji kayu ulin. Arang aktif dibuat dengan membakar serbuk gergaji kayu dan diaktivasi menggunakan ZnCl2 0,1 N. Arang aktif yang diperoleh digunakan untuk mengadsorpsi minyak goreng bekas dengan variasi jumlah arang sebanyak 5, 10 dan 15 gram. Selanjutnya minyak goreng bekas dan arang aktif yang sudah dicampurkan dalam Erlenmeyer tersebut diadsorpsi dengan variasi waktu 40, 60 dan 80 menit menggunakan shaker. Setelah disaring, minyak goreng bekas tersebut dianalisa angka asam, bilangan peroksida dan bilangan penyabunannya.Hasil penelitian yang didapatkan yang mememenuhi standar SNI 01- 3741-2002 dan hasil yang paling bagus adalah dengan berat arang aktif 15 gram dan dengan lama waktu pengadukan selama 80 menit. Dengan nilai angka asam sebesar 0,224 mgKOH/gram, bilangan peroksida sebesar 10 mg eq/gram, sedangkan untuk bilangan penyabunan yang memenuhi standar adalah dengan arang aktif 10 gram dan lama waktu pengadukan 40 menit yaitu sebesar 200,09 mg KOH/gram. Keywords : adsorpsi, minyak goreng bekas, arang aktif Abstract - This research conducted to investigate the ability of activated carbon from sawdust ulin wood for waste cooking oil adsorption and to get the best adsorption time from the used time range in this research. Activated carbon was gotten by carbonizing sawdust before activated it with 0.1 N ZnCl2. This activated carbon was used in adsorption waste cooking oil with weight variation of 5,10 and 15 gram that put into shaker for  40, 60 and 80 minute adsorption. After being filtered, this proceeded waste cooking oil would be analyzed in order to measure acid number, peroxide number and saponification number.As the result, the best dose for adsorption regarding SNI 01- 3741-2002 standard was 15 gram activated carbon in 80 minute adsorption which gave acid number was 0,224 mgKOH/gram, peroxide number was 10 mg eq/gram while the best dose to get saponification number that meet SNI 01- 3741-2002 standard was 10 gram in 40 minute adsorption which gave 200,09 mg KOH/gram. Keywords: adsorption, waste cooking oil, activated carbon
PEMANFAATAN TEKNOLOGI SONIKASI TAK LANGSUNG DALAM RANGKA PRODUKSI KITOSAN Arifin, Zainal
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.66

Abstract

Keberhasilan produksi kitosan dengan metode termokimiawi telah diketahui. Kitosan dihasilkan melalui proses deasetilasi kitin menggunakan alkali kuat pada konsentrasi tinggi, suhu tinggi, dan waktu yang lama. Inovasi teknologi diperlukan untuk mendapatkan proses produksi kitosan yang lebih efisien dengan hasil optimal. Ultrasonikasi-kimia adalah inovasi teknologi yang digunakan pada penelitian ini dalam rangkaproduksi kitosan berbasis limbah udang dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik 42 kHz. Sejumlah kitin (2 g) ditambahkan larutan NaOH dengan variasi konsentrasi antara 55-70%  menurut rasio tertentu dalam erlenmeyer yang terpasang pada ultrasonic bath bersuhu 70oC. Ultrasonik dijalankan dengan berbagai variasi waktu (10-30 menit). Kitosan yang dihasilkan dicuci hingga netral dan dikeringkan kemudian dianalisis derajat deasetilasinya menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Interpretasi nilai derajat deasetilasi dilakukan dengan metode baseline Sabnis and Block. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik deasetilasi tercapai pada konsentrasi NaOH 70% dan waktu reaksi 30 menit. Penggunaan gelombang ultrasonik untuk deasetilasi mampu mereduksi waktu reaksi deasetilasi sehingga dapat dikatakan lebih efisien. Hasil uji kualitas kitosan dengan parameter kadar air, kadar abu, viskositas, dan derajat deasetilasi masing-masing adalah 9.94%, 0.34%, 3.2 cP, dan 85.02%. Kitosan yang dihasilkan larut sempurna dalam asam asetat 1% dan secara umum sesuai untuk aplikasi bidang pangan.Kata kunci: derajat deasetilasi, kitin, kitosan, ultrasonik Abstrack-Thermochemically preparation of chitosanis as well as known. Chitosanis producedthroughthedeacetylationof chitinusingstrongalkaliat high concentrations, high temperatures,and a long time. Technological innovationhas requiredtoobtainchitosanproduction processmore efficient. In this paper indirect sonocationtechnology used to produce ofchitosan-based shrimp wasteusingultrasonicbath which offrequency 42kHz. A number ofchitin(2g) was added a solution ofNaOHwithconcentration between55-70% toa certain ratio.The mixture was irradiated in the ultrasonic bath at a set temperature (70oC) for a controlled period (10-30min). Chitosanwas neutralizedand driedthen analyzedof degree of deacetylation usingFourier Transform InfraredSpectroscopy(FTIR). The degree of deacetylation was interpreted by the SabnisandBlock baseline method. The results showedthat thebestcondition fordeacetylationwas achieved in70%of NaOH and reaction time30 min. Theparameters moisture content, ash content, viscosity, anddegree ofdeacetylation were found to be 9.94%, 0.34%, 3.2 cP, 85.02%, respectively. Chitosancompletely dissolvedin1%of aceticacidand suitablefor food application as edible film. Keywords: chitin, chitosan, degree of deacetylation, ultrasound
UPAYA PENURUNAN KADAR MERKURI DALAM MEDIA AIR MENGGUNAKAN ADSORBEN 2-MERCAPTOBENZOTHIAZOLE (MBT)–LEMPUNG AKTIF Wicakso, Doni Rahmat; Mirwan, Agus; Abdullah, Abdullah
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.68

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat adsorben 2-Mercapto-benzothiazole (MBT) – Lempung Aktif yang akan digunakan dalam upaya menurunkan kadar merkuri dalam media air. Penelitian dimulai dengan melakukan proses demetalisasi pada lempung (bentonit) yang dilakukan dengan merendam bentonit dalam larutan HCl, larutan NH4NO3 dan kemudian dilanjutkan dengan pemanasan pada dua temperatur yang berbeda (120 oC dan 400 oC). Langkah berikutnya adalah proses pilarisasi yang dilakukan dengan merendam bentonit hasil demetalisasi selama 18 jam dalam larutan AlCl3 yang sebelumnya telah ditambah dengan NaOH 0,1 M. Pada tahap akhir proses pilarisasi, bentonit dipanaskan pada temperatur 120 oC dan 400 oC. Bentonit hasil pilarisasi kemudian diuji kemampuan adsorpsinya dengan larutan metilen blue. Hasil pengujian dengan metilen blue tersebut diambil sebagai dasar untuk menentukan tahap selanjutnya, yaitu proses impregnasi mercaptobenzothiazole (MBT) pada berbagai konsentrasi (6%, 8%, dan 10%). Adsorben hasil impregnasi selanjutnya digunakan dalam proses adsorpsi larutan Hg pada berbagai konsentrasi (0,1 – 0,5 ppm) guna mengetahui kemampuannya sebagai adsorben. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan temperatur pemanasan pada lempung (bentonit) berpengaruh terhadap daya serapnya terhadap metilen blue. Perlakuan pada bentonit (demetalisasi, pilarisasi pada dua temperatur yang berbeda) berpengaruh pada pola difraksi sinar-X nya.  Kapasitas adsorpsi dari MBT-lempung aktif yang diamati melalui penelitian ini belum berhasil ditentukan, sehingga perlu upaya lanjutan untuk mengetahuinya. Kata kunci : mercury, MBT, activated clay, bentoniteAbstract-The objective of thus research was to make adsorbent 2-Mercapto-benzothiazole (MBT) – active clay used to reduce mercury content in water medium. Firstly, this research was run by soakingin a solution ofHClbentonite, NH4NO3solutionandthen followed byheating attwodifferent temperatures(120° Cand 400° C). The next step was pillarization process by soakingthe bentonitefor 18hoursin solution ofAlCl3that have previously beenaddedwith 0.1 M NaOHAtthe final stage ofthe pillarization process, bentonitewas heatedat a temperature of120 oCand 400oC. After that, the bentonite was analyzed ability of adsorption by metilen blue solution. The test resultswith methylenebluewas takenas a basisfor determiningthe next stage, which wasthe process ofimpregnation MBT at various concentrations(6%, 8%, and 10%). The adsorbentof impregnationwas usedto adsorb Hgat various concentrations(0.1 to 0.5 ppm) for determininghis ability asadsorbent. The results showedthat thedifference inthe heating temperatureonclay(bentonite) affect theabsorbanceof themethyleneblue. Treatment ofbentonite(metal reduction, pillarizationon twodifferent temperatures) effected onX-ray diffractionpattern. MBT-adsorption capacityof theactivatedclaysobservedthroughthis studyhas not beensuccessfullydetermined,so we needfurthereffortsto find out. Keywords:mercury, MBT, activated clay, bentonite 
PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI KATALISATOR ASAM TERHADAP SINTESIS FURFURAL DARI SEKAM PADI Juwita, Rinna; Syarif, Lailan Rizki; Tuhuloula, Abubakar
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.113

Abstract

Abstrak-Indonesia merupakan negara agraris dengan produksi padi yang besar, dimana seiring tingginya produksi padi maka semakin tinggi pula potensi limbah padi yang dihasilkan, salah satunya berupa sekam padi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furfural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh jenis dan konsentrasi katalisator asam terhadap perolehan furfural, menentukan kadar furfural yang diperoleh dengan menggunakan kedua jenis katalisator asam dalam berbagai variasi konsentrasi serta menentukan jenis dan konsentrasi katalisator asam yang dapat menghasilkan kadar furfural terbesar. Penelitian ini berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu tahap persiapan bahan baku, proses hidrolisa dan distilasi. Persiapan bahan baku dilakukan dengan menghaluskan sekam padi hingga 80 mesh kemudian dikeringkan menggunakan oven. Proses hidrolisa menggunakan katalisator asam dilakukan selama 4 jam dengan suhu 85oC, hidrolisat disaring untuk selanjutnya dilakukan pemurnian dengan distilasi. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan katalisator asam berupa asam sulfat dan asam klorida dengan konsentrasi 1%, 3%, 5%, 7% dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis furfural dari sekam padi dapat menghasilkan furfural tertinggi pada katalisator asam sulfat dengan konsentrasi 1%. Adapun kadar furfural yang diperoleh pada katalisator asam sulfat dengan konsentrasi 1%, 3%, 5%, 7% dan 9% berturut-turut sebesar 1,815%; 1,256%;  0,933%; 0,733% dan 0,730%, sedangkan kadar furfural yang diperoleh pada katalisator asam klorida sebesar 1,659%; 1,126%; 0,848%; 0,737% dan 0,726%. Keywords:hidrolisa, distilasi, katalisator asam, furfural Abstract-Indonesia is an agrarian country with a large rice production, where rice production is often high, the potential of rice waste will be higher, one of the waste is rice hull that can be used as raw material for the manufacture of furfural. This research aims to determine the type and concentration of acid catalyst in the manufacture of furfural, and analyze the effect of acid catalyst type and concentration to furfural obtained. This research was done by three stages, namely preparation of raw materials, hydrolysis and distillation process. Preparation of raw materials was started by reducing the rice hull’s size up to 80 mesh and then drying. Acid catalyst hydrolysis carried out for four hours with the operating temperature of 85 oC, then filtered hydrolyzate was purified by distillation. Research was done by varying the acid catalyst in the form of sulfuric acid and hidrochloric acid with the concentration of 1%, 3%, 5%, 7% and 9%. The results showed that the synthesis of furfural from rice hull obtained the highest furfural concentration on the sulfuric acidcatalyst at 1% concentration. The furfural obtained with concentration of 1%, 3%, 5%, 7% and 9% on a sulfuric acidcatalyst respectively at 1.815%; 1.256%; 0.933%; 0.733% and 0.730%, while the furfural obtained on the hydrochloric acid catalyst respectively at 1.659%; 1.126%; 0.848%; 0.737% and 0.726%. Keywords:hydrolysis, distillation, acid catalyst, furfural
ADSORPSI LOGAM BESI (Fe) SUNGAI BARITO MENGGUNAKAN ADSORBEN DARI BATANG PISANG Hidayah, Nur; Deviyani, Erlinda; Wicakso, Doni Rahmat
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.83

Abstract

Abstrak- Berdasarkan laporan BLHD Kalimantan Selatan tahun 2009 kandungan Fe Sungai Barito mencapai 2,5455 mg/L. Kadar ini melampaui aturan KEPMENKES tahun 2002 yang hanya membolehkan kandungan Fe dalam air sebesar 0,3 mg/L.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kemampuan batang pisang menurunkan kadar Fe dalam sampel air Sungai Barito serta mengetahui kondisi terbaik adsorben berdasarkan variasi proses aktivasi, aktivator, ukuran diameter adsorben, kecepatan pengadukan dan lama kontak adsorpsi dalam menurunkan kadar Fe sungai Barito sehingga  didapatkan air Sungai Barito yang memenuhi standart air minum ataupun air bersih berdasarkan KEPMENKES tahun 2002.Penelitian ini didasarkan pada  proses awal adsorpsi yang diakhiri dengan proses filtrasi. Batang pisang yang telah dibersihkan dipotong kecil untuk memudahkan penguapan kandungan air pada saat dipanaskan di bawah panas matahari kemudian dihaluskan dengan blender.Untuk mendapatkan ukuran diameter batang pisang 20, 30 dan 40 mesh, batang pisang diayak dengan menggunakan sieve track. Batang pisang selanjutnya diaktivasi secara kimia dengan menggunakan larutan KMnO4 ­0,1 M dan ZnCl2 0,1 M selama 24 jam. Sedangkan pada proses aktivasi fisika, batang pisang dipirolisis selama 30 menit dengan suhu 500oC. Karbon aktif yang dihasilkan digunakan untuk proses adsorpsi dengan beberapa variasi kondisi yang hasilnya akan diuji dengan menggunakan alat spectofotometry.Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa batang pisang dapat menurunkan kandungan Fe dalam air Sungai Barito. Kondisi terbaik penurunan kandungan  Fe berdasarkan penelitian didapatkan pada batang pisang ukuran 40 mesh yang diaktivasi secara fisika-kimia dengan menggunakan aktivator KMnO4 dengan kecepatan pengadukan 150 rpm dan lama waktu kontak 1 jam.Keywords: adsorpsi, batang pisang, Fe, sungai baritoAbstract- Grounded on BLHD’s report of South Borneo on 2009, Fe contents in Barito river achieve 2,5455 mg/L. This level pass by KEPMENKES on 2002 which only permit Fe contents in water as many 0,3 mg/L. The goals of this research are to study ability of banana stem to decrease Fe contents in water sample of Barito river. Knowing the best adsorbent condition to decrease Fe contents in Barito river based on variations of activation process, kind of activator,  adsorbent diameter size, stirring of velocity and adsorption duration as well as to find water of Barito river which appropriate with clean or drink water standart based on KEPMENKES on 2002.This research started with adsorption process and finishing with filtration process. Banana stem is washed until clean and then cut to small slice to abridge vaporization of water contents when is hoted under the sun. The dried banana stem be broken with blender. Banana stem is screned to find diameter size as big as 20, 30 and 40 mesh. Then, banana stem is activated using KMnO4 ­0,1 M dan ZnCl2 0,1 M solution during 24 hours. Whereas in physics activation, banana stem is pyrolysed during 30 minute at 500oC. Activated carbon is used to adsorption with some variation. The result will test use spectofotometry.Result of this research indicate that banana stem can decrease Fe content in water of Barito river. Activated carbon with size 40 mesh which use physic-chemical activation with  KMnO40,1 M solution as well as 150 rpm strring velocity and ahour adsorption duration give the best result. Keywords: adsorption, banana stem, Fe, Barito river
PENENTUAN KOEFISIEN TRANSFER MASSA EKSTRAKSI KALIUM DARI ABU BATANG PISANG Mardina, Primata; Gunawan, Ajang; Nugraha, Muhammad Imam
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.116

Abstract

 Abstrak-Kalium sebagai mineral alam bisa didapatkan dari batang pisang dengan cara ekstraksi padat-cair pada abu batang pisang menggunakan pelarut methanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pada proses ekstraksi kalium dari abu batang pisang koefisien transfer massa proses tersebut. Proses ekstraksi ini dilakukan secara batch pada labu leher tiga yang dilengkapi dengan motor pengaduk, pendingin balik, termometer dan media pemanas. Abu batang pisang sebanyak 25 gram dan metanol 250 mL dimasukkan ke dalam labu leher tiga sebagai sampel. Ekstraksi dimulai dengan memanaskan sampel sampai suhu yang diinginkan, yaitu 30oC, 45 oC dan 60 oC, kemudian motor pengaduk dijalankan pada kecepatan yang telah ditentukan. Sampel diambil dalam selang waktu tertentu 0, 15, 30, 60, 120 180 dan 240 menit. Dari proses ekstraksi kalium dapat diketahui koefisien transfer massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien transfer massa semakin besar dengan semakin tinggi suhu operasi. Nilai koefisien transfer massa terbesar adalah 0,0235/menit pada suhu 60oC. Hubungan antara koefisien transfer massa dengan variabel-variabel yang mempengaruhinya dapat dinyatakan dengan persamaan dalam bentuk kelompok tak berdimensi sebagai berikut: Dengan ralat rata-rata 6,56 % Keywords: Ekstraksi, kalium, abu batang pisang,  Abstract-Potassium is the one of chemical compounds which can be extracted from ash of pseudo stem of banana by methanol solid-liquid extraction method. The experiment investigated the effect of temperature on mass transfer coefficient of potassium extraction process from ash of banana’s pseudo stem. This experiment conducted in a three necks flask which equipped with mechanical stirrer, condenser, thermometer and heating mantle. The sample was heated to desired temperature, 30oC, 45 oC and 60 oC. and maintained constant while reaction time. The reaction was timed as soon as the mechanical stirrer was turned on. Samples were drawn at specified time interval 0, 15, 30, 60, 120, 180 and 240 minutes. The result showed increasing temperature increased mass-transfer coefficient. The highest value of mass-transfer coefficient was 0,0235 /minute at 60oC.The correlation between mass transfer coefficient and investigated variables is shown in the dimensionless equation below: The average error is 6.56 % Keywords: Extraction, potassium, ash of banana’s pseudo stem.
STUDI RECOVERY ALUMINA DARI TANAH LEMPUNG GAMBUT KAWASAN LANDASAN ULIN KOTA BANJARBARU Hadi, Sofyan; Sugianto, Sugianto; Mirwan, Agus
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.77

Abstract

Abstrak- Tanah lempung gambut memiliki kandungan alumina yang memiliki banyak manfaat. Proses recovery alumina dari tanah lempung gambut dapat dilakukan menggunakan metode kalsinasi dan elutriasi. Penelitian bertujuan untuk mengambil kembali alumina dari tanah lempung gambut dan mempelajari pengaruh variasi penambahan CaCl2 serta keefektifan variasi kecepatan pengadukan terhadap pengambilan alumina dari tanah lempung gambut. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap. lempung yang berasal dari tanah gambut dibersihkan dan dikeringkan. Lempung gambut yang sudah kering dilakukan penggerusan dan pengayakan hingga didapatkan lempung gambut berukuran 75 mesh. Lempung gambut yang berukuran 75 mesh  dicampur dengan CaCl2 dengan variasi perbandingan CaCl2 :  lempung gambut adalah 0,5:1, 1:1, dan 1,5:1. Masing-masing campuran CaCl2 dan  lempung gambut dikalsinasi dengan pemanasan dalam furnace pada suhu 800oC selama 4 jam. Lempung gambut hasil kalsinasi kemudian digerus dan diayak hingga  berukuran 200 mesh. 80 gram lempung gambut hasil kalsinasi ukuran 200 mesh ditambahkan 400 mL larutan HCl 6 N, kemudian dilakukan p leaching dengan pengadukan selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan sebesar 200 rpm, 300 rpm dan 400 rpm. Larutan hasil leaching didekantasi dan difiltrasi. Filtrat hasil leaching diuapkan  sampai tersisa 100 mL, selanjutnya ditambahkan dengan 100 mL aquadest. Penguapan kembali campuran filtrat dan aquadest sampai volumenya 100 mL dilakukan dengan pengadukan. Cairan yang dihasilkan diuji kandungan aluminanya dengan menggunakan titrasi volumetrik berdasarkan SNI 13-6620-2001. Berdasarkan hasil analisis untuk sampel awal diperoleh kadar alumina dalam tanah lempung gambut 2,81%. Hasil akhir diperoleh kadar alumina optimum yang dapat terambil dari tanah lempung gambut sebesar 0,622% menggunakan variasi perbandingan berat CaCl2 dan lempung gambut 0,5:1 dengan kecepatan pengadukan sebesar 400 rpm.Keywords: tanah lempung, alumina, kalsinasi, elutriasiAbstract- Peat clay contains alumina (Al2O3) that has many benefits. The process of recovery of alumina from clay peat can be done by using the method of calcination and elutriasi (stirring). This research aims to recover the alumina from clay peat and study the effect of the addition of CaCl2variations and the effectiveness of stirring speed variations in the process of alumina recovery from clay soils. This research was conducted with several steps. Clay from the peat soil is cleaned and dried by drying. The dry clay that has been done peat milling and sifting to obtain the size of 75 mesh peat clay. A 75 mesh peat clay mixed with a variation ratio of CaCl2 and peat clay is 0,5:1, 1:1, and 1.5:1. Each mixture of CaCl2 and peat clay calcined by heating in a furnace at a temperature of 800°C for 4 hours. Calcined peat clay was performed milling and sifting through a 200 mesh. 80 grams of calcined clay peat size of 200 mesh is added 400 mL of HCl 6 N, then performed solid-liquid separation processes (leaching) with stirring for 2 hours with stirring speed of 200 rpm, 300 rpm and 400 rpm. Solution of the leaching process was decanted and filtered. The filtrate of the result of leaching process is heated (evaporated) until the remaining 100 mL, then added with 100 mL of aquadest. Heating (evaporating) re-mixed filtrate and aquadest until the volume of 100 mL of this process while stirring by using stirer. Liquid contents alumina was tested using volumetric titration method based on SNI 13-6620-2001. Based on the results of the analysis initial sample obtained for the content of alumina in the  peat clay is 2.81%. The final result is obtained optimum levels of alumina which can be recover from peat clay soi is 0,622%l using a variation of weight ratio CaCl2 and peat clay 0,5:1 with stirring speed of 400 rpmKeywords: peat clay, alumina, calcination, elutriasi.
PENGAMBILAN LOGAM Cr6+ DAN Cr TOTAL DARI LIMBAH INDUSTRI ELEKTROPLATING SECARA ELEKTROKOGULASI Pahlevi, Muhammad Nizar; Mirwan, Agus; Triwulandari, Rahmi
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.117

Abstract

Abstrak-Industri elektroplating adalah industry pelapisan logam dengan cara mengendapkan logam pelapis pada logam atau plastic yang dilakukan secara elektrolitik sehingga menghasilkan limbah yang mengandung logam berat. Elektrokoagulasi merupakan proses penggabungan gumpalan-gumpalan yang diakibatkan dari pengaliran arus listrik searah (DC) untuk pengambilan senyawa logam yang terdapat dalam limbah cair. Dalam proses ini akan terjadi reaksi reduksi dan oksidasi. Dimana logam akan tereduksi dan elektroda positif (Al) akan teroksidasi menjadi (Al(OH)3) yang berfungsi sebagai koagulan. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini untuk mempelajari metode elektrokoagulasi menggunakan elektroda aluminium serta pengaruh lama waktu pengadukan dan kecepatan pengaduk terhadap pengambilan kadar Cr6+ dan Cr total. Elektrokoagulasi ini mengolah limbah cair elektroplating dengan dialiri listrik supaya ion-ion yang ada pada limbah terserap oleh koagulan pengikat yang di lepaskan dari elektroda sehingga akan terjadi ikatan antara ion-ion logam dengan koagulan. Variasi kecepatan pengaduk yaitu 200, 400 dan 600 rpm, sedangkan lama waktu pengadukan 25, 50 dan 75 menit. Berdasarkan hasil uji, setelah dilakukan analisis menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan terhadap kadar Cr6+ dan Cr total dalam limbah elektroplating tersebut,. Untuk Cr6+ diperoleh penurunan sebesar 95,1% pada menit 50 dan kecepatan pengaduk 200 rpm, sedangkan Cr total diperoleh penurunan sebesar 82,69% pada menit 75 dan kecepatan pengaduk 600 rpm. Keywords: Elektroplating, Elektrokoagulasi, Elektroda aluminium Abstract-Electroplating industry is a metal coating industry by way of metal precipitate coatings on metal or plastic which is done so that the electrolytic waste containing heavy metals. Electrocoagulation is a process of merging clumps resulting from the flux of electrical current (DC) for the extraction of metal compounds contained in wastewater. In this process of reduction and oxidation reactions occur. Where the metal is reduced and the positive electrode (Al) will be oxidized to (Al (OH) 3) which serves as a coagulant. The purpose of this research to study methods of electrocoagulation using aluminum electrodes and the influence of the length of time stirring and stirring speed of decision-CR6+ levels and total Cr. This electrocoagulation electroplating wastewater with electricity so that the ions are absorbed by the coagulant in waste binder in the release of the electrode and causes the bond between the metal ions with coagulant. Variation of stirrer speed of 200, 400 and 600 rpm, whereas the long stirring time 25, 50 and 75 minutes. Based on test results, after an analysis showed a significant reduction of the levels of total CR6 + and Cr in the electroplating wastes. CR6+ to obtain a decrease of 95.1% at minute 50 and the stirrer speed of 200 rpm, whereas the total Cr obtained a decrease of 82.69% at minute 75 and a stirrer speed of 600 rpm. Keywords: Electroplating, electrocoagulation, an aluminum electrode 
PEMANFAATAN ARANG AKTIF DARI SERBUK GERGAJI KAYU ULIN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS Hesti Wijayanti; Harmin Nora; Rajihah Amelia
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.106

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan arang aktif dari serbuk gergaji kayu ulin dalam proses adsorpsi minyak goreng bekas. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui waktu adsorpsi yang paling baik diantara range waktu yang digunakan untuk proses adsorpsi minyak goreng bekas dengan menggunakan arang aktif dari serbuk gergaji kayu ulin. Arang aktif dibuat dengan membakar serbuk gergaji kayu dan diaktivasi menggunakan ZnCl2 0,1 N. Arang aktif yang diperoleh digunakan untuk mengadsorpsi minyak goreng bekas dengan variasi jumlah arang sebanyak 5, 10 dan 15 gram. Selanjutnya minyak goreng bekas dan arang aktif yang sudah dicampurkan dalam Erlenmeyer tersebut diadsorpsi dengan variasi waktu 40, 60 dan 80 menit menggunakan shaker. Setelah disaring, minyak goreng bekas tersebut dianalisa angka asam, bilangan peroksida dan bilangan penyabunannya.Hasil penelitian yang didapatkan yang mememenuhi standar SNI 01- 3741-2002 dan hasil yang paling bagus adalah dengan berat arang aktif 15 gram dan dengan lama waktu pengadukan selama 80 menit. Dengan nilai angka asam sebesar 0,224 mgKOH/gram, bilangan peroksida sebesar 10 mg eq/gram, sedangkan untuk bilangan penyabunan yang memenuhi standar adalah dengan arang aktif 10 gram dan lama waktu pengadukan 40 menit yaitu sebesar 200,09 mg KOH/gram. Keywords : adsorpsi, minyak goreng bekas, arang aktif Abstract - This research conducted to investigate the ability of activated carbon from sawdust ulin wood for waste cooking oil adsorption and to get the best adsorption time from the used time range in this research. Activated carbon was gotten by carbonizing sawdust before activated it with 0.1 N ZnCl2. This activated carbon was used in adsorption waste cooking oil with weight variation of 5,10 and 15 gram that put into shaker for  40, 60 and 80 minute adsorption. After being filtered, this proceeded waste cooking oil would be analyzed in order to measure acid number, peroxide number and saponification number.As the result, the best dose for adsorption regarding SNI 01- 3741-2002 standard was 15 gram activated carbon in 80 minute adsorption which gave acid number was 0,224 mgKOH/gram, peroxide number was 10 mg eq/gram while the best dose to get saponification number that meet SNI 01- 3741-2002 standard was 10 gram in 40 minute adsorption which gave 200,09 mg KOH/gram. Keywords: adsorption, waste cooking oil, activated carbon
STUDI RECOVERY ALUMINA DARI TANAH LEMPUNG GAMBUT KAWASAN LANDASAN ULIN KOTA BANJARBARU Sofyan Hadi; Sugianto Sugianto; Agus Mirwan
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.77

Abstract

Abstrak- Tanah lempung gambut memiliki kandungan alumina yang memiliki banyak manfaat. Proses recovery alumina dari tanah lempung gambut dapat dilakukan menggunakan metode kalsinasi dan elutriasi. Penelitian bertujuan untuk mengambil kembali alumina dari tanah lempung gambut dan mempelajari pengaruh variasi penambahan CaCl2 serta keefektifan variasi kecepatan pengadukan terhadap pengambilan alumina dari tanah lempung gambut. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap. lempung yang berasal dari tanah gambut dibersihkan dan dikeringkan. Lempung gambut yang sudah kering dilakukan penggerusan dan pengayakan hingga didapatkan lempung gambut berukuran 75 mesh. Lempung gambut yang berukuran 75 mesh  dicampur dengan CaCl2 dengan variasi perbandingan CaCl2 :  lempung gambut adalah 0,5:1, 1:1, dan 1,5:1. Masing-masing campuran CaCl2 dan  lempung gambut dikalsinasi dengan pemanasan dalam furnace pada suhu 800oC selama 4 jam. Lempung gambut hasil kalsinasi kemudian digerus dan diayak hingga  berukuran 200 mesh. 80 gram lempung gambut hasil kalsinasi ukuran 200 mesh ditambahkan 400 mL larutan HCl 6 N, kemudian dilakukan p leaching dengan pengadukan selama 2 jam dengan kecepatan pengadukan sebesar 200 rpm, 300 rpm dan 400 rpm. Larutan hasil leaching didekantasi dan difiltrasi. Filtrat hasil leaching diuapkan  sampai tersisa 100 mL, selanjutnya ditambahkan dengan 100 mL aquadest. Penguapan kembali campuran filtrat dan aquadest sampai volumenya 100 mL dilakukan dengan pengadukan. Cairan yang dihasilkan diuji kandungan aluminanya dengan menggunakan titrasi volumetrik berdasarkan SNI 13-6620-2001. Berdasarkan hasil analisis untuk sampel awal diperoleh kadar alumina dalam tanah lempung gambut 2,81%. Hasil akhir diperoleh kadar alumina optimum yang dapat terambil dari tanah lempung gambut sebesar 0,622% menggunakan variasi perbandingan berat CaCl2 dan lempung gambut 0,5:1 dengan kecepatan pengadukan sebesar 400 rpm.Keywords: tanah lempung, alumina, kalsinasi, elutriasiAbstract- Peat clay contains alumina (Al2O3) that has many benefits. The process of recovery of alumina from clay peat can be done by using the method of calcination and elutriasi (stirring). This research aims to recover the alumina from clay peat and study the effect of the addition of CaCl2variations and the effectiveness of stirring speed variations in the process of alumina recovery from clay soils. This research was conducted with several steps. Clay from the peat soil is cleaned and dried by drying. The dry clay that has been done peat milling and sifting to obtain the size of 75 mesh peat clay. A 75 mesh peat clay mixed with a variation ratio of CaCl2 and peat clay is 0,5:1, 1:1, and 1.5:1. Each mixture of CaCl2 and peat clay calcined by heating in a furnace at a temperature of 800°C for 4 hours. Calcined peat clay was performed milling and sifting through a 200 mesh. 80 grams of calcined clay peat size of 200 mesh is added 400 mL of HCl 6 N, then performed solid-liquid separation processes (leaching) with stirring for 2 hours with stirring speed of 200 rpm, 300 rpm and 400 rpm. Solution of the leaching process was decanted and filtered. The filtrate of the result of leaching process is heated (evaporated) until the remaining 100 mL, then added with 100 mL of aquadest. Heating (evaporating) re-mixed filtrate and aquadest until the volume of 100 mL of this process while stirring by using stirer. Liquid contents alumina was tested using volumetric titration method based on SNI 13-6620-2001. Based on the results of the analysis initial sample obtained for the content of alumina in the  peat clay is 2.81%. The final result is obtained optimum levels of alumina which can be recover from peat clay soi is 0,622%l using a variation of weight ratio CaCl2 and peat clay 0,5:1 with stirring speed of 400 rpmKeywords: peat clay, alumina, calcination, elutriasi.

Page 1 of 2 | Total Record : 16