cover
Contact Name
Rifky Ananda
Contact Email
fkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentino.ulm@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentino: Jurnal Kedokteran Gigi
ISSN : 23375310     EISSN : 25274937     DOI : 10.20527
Core Subject : Health,
Dentino [P-ISSN 2337-5310 | E-ISSN 2527-4937] is the journal contains research articles and review of the literature on dentistry which is managed by the Faculty of Dentistry, Lambung Mangkurat University. Dentino published twice a year, every March and September.
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 42 Documents clear
KEBOCORAN MIKRO AKIBAT EFEK SUHU TERHADAP PENGERUTAN KOMPOSIT NANOHYBRID Gusti Gina Permata Sari; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Widodo Widodo
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.551

Abstract

ABSTRACTBackground: Composite is broadly used by dental practitioners as restoration material to treat caries. Nanohybrid composite is a type of composite composed of nano-sized filler combined with larger filler. Polymerization shrinkage commonly occurs in every restoration using composite, resulting in a gap between cavity margin and teeth structure, which eventually leads to microleakage. Purpose: The purpose of this study was to assess and measure the rate of nanohybrid composite microleakage as a result of temperature change from 5ºC to 60ºC. Methods: This study was true experimental with post test-only with control design. Specimens used were 20 maxillary premolars, divided into 2 groups: 5ºC to 60ºC temperature change treatment group and control group (without temperature change, sitting idly at 37ºC).  Results: Mean scoring of treatment group was 3 and control group was 1,9. Conclusion: It can be concluded that independent samples T-test presented significant difference between treatment group and control group.  ABSTRAKLatar Belakang: Komposit merupakan suatu bahan restorasi yang biasa digunakan oleh dokter gigi untuk menumpat gigi yang karies. Komposit nanohybrid merupakan salah satu jenis komposit yang memiliki komposisi filler berukuran nano dan digabung dengan filler yang berukuran besar. Pengerutan polimerisasi merupakan hal yang selalu terjadi pada setiap penumpatan dengan bahan komposit. Akibat dari pengerutan adalah terbentuknya celah antara tepi kavitas dan struktur gigi, hal tersebut akan menyebabkan kebocoran mikro. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya kebocoran mikro pada komposit nanohybrid akibat perubahan suhu 5ºC ke 60ºC serta mengukur besar kebocoran mikro yang terjadi. Metode: Jenis penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan post test-only with control design. Penelitian ini menggunakan gigi premolar rahang atas sebanyak 20 buah yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan perubahan suhu 5ºC ke 60ºC, dan kontrol yang tidak dilakukan perubahan suhu atau didiamkan pada suhu 37ºC. Hasil: Rata-rata skor untuk kelompok perlakuan adalah 3 dan kelompok kontrol adalah 1,9. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa hasil uji T-test tidak berpasangan  menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
DESKRIPSI FRAKTUR MANDIBULA PADA PASIEN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN PERIODE JULI 2013 - JULI 2014 (Studi Retrospektif Berdasarkan Insidensi, Etiologi, Usia, Jenis Kelamin, dan Tatalaksana) Ahmad Habibi Awwalu Hakim; Rosihan Adhani; Bayu Indra Sukmana
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.573

Abstract

ABSTRACK  Background:Mandibular fracture is a condition where the continuity of mandibular bone is broken. The loss of mandibular bone continuity may lead to fatal outcomes if left without proper treatment. Mandibular fractures classification according to anatomical position of the fracture is divided into dentoalveolar, condyle, coronoideus, ramus, mandibular angle, mandibular body, simphysis, and parasymphisis fracturesPurpose:The aim of this study was to assess mandibular fractures incidence based on genders, age, fracture etiology, and treatments. Methods:This study was retrospective descriptive study. Samples included medical records of patients with mandibular fractures during Juli 2013 – Juli 2014. Samples were chosen using total sampling. Result:The result of this study presented that mandibular fracture incidence rate was higher in males with 52 cases (74,1 %) than females with only 19 cases (25,9 %) with the ratio of 3 to 1. Based on age, mandibular fractures were often found in productive age of 11-30 years old (61,4%). The most frequent mandibular fractures were in symphisis area with 27 cases (38,1 %). The most common etiology was motorcycle accident with 47 cases (78,4 %). The treatment carried out on patients with mandibular fractures was Open Reduction (Elective ORIF) amounting to 58,1 %. Result also showed 18,8% patients refused treatment because of financial problem, anxiety and fear prior to operation thus they refused or delayed the treatment and requested for discharge against medical advice.  Keywords: incidence, mandibular fracture  ABSTRAK  Latar Belakang: Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula), dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar. Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan pada letak anatomi dapat terjadi pada daerah-daerah dentoalveolar, kondilus, koronoideus, ramus, sudut mandibula, korpus mandibula, simfisis, dan parasimfisis. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi fraktur mandibula berdasarkan jenis kelamin, usia, penyebab fraktur, dan penatalaksanaan. Metode:Jenis penelitian  merupakan penelitian metode deskriptif retrospektif. Sampel terdiri dari data rekam medik pasien fraktur mandibulaJuli 2013 – Juli 2014. Pemilihan sampel berdasarkan metode total sampling. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan insidensi fraktur lebih banyak terjadi pada laki – laki sebanyak 52 kasus (74,1%) dan perempuan sebanyak 19 kasus (25,9%)dengan rasio sebesar 3:1. Berdasarkan usia, fraktur mandibula paling banyak terjadi pada usia produktif yakni 11-30 tahun sebesar (61,4%). Fraktur mandibula paling banyak terjadi pada lokasi Fraktur Simpisis sebanyak 27 kasus (38,1%). Etiologi terbesarkarena kecelakaan sepeda motor sebanyak 47 orang (78,4%). Perawatan yang dilakukan terhadap pasien fraktur mandibula adalah Open Reduction (ORIF Elektif) sebanyak (58,1%). Hasil penelitian juga menunjukan pasien yang menolak perawatan sebanyak (18,8%) di karenakan kendala biaya, pasien sangat cemas dan ketakutan atau tidak siap operasi sehingga mereka menolak atau menunda dan meminta pulang paksa.  Kata-kata kunci : insidensi, fraktur mandibula
PERBANDINGAN SENSITIVITAS LIDAH TERHADAP RASA MANIS DAN PAHIT PADA ORANG MENGINANG DAN TIDAK MENGINANG DI KECAMATAN LOKPAIKAT KABUPATEN TAPIN Sunjaya Tunggala; Nurdiana Dewi; Asnawati Asnawati
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.566

Abstract

ABSTRACT  Background:Tongue has taste buds which are consisted of taste receptors. Its sensitivity is influenced by several factors including betel chewing habit. Purpose:This study aimed to identify whether tongue sensitivity of sweet and bitter tastes in betel chewing community was lower compared to non-betel chewing people in Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Methods:This study was an analytical survey with cross sectional approach. Samples were selected using total sampling method. Total samples were 32 people, classified into 2 groups of 16 women with betel chewing habit and 16 women without betel chewing habit. Both groups were given sucrose solution of 4 different concentrations (0,05; 0,1; 0,2 and 0,4g/mL) to test tongue sensitivity of sweet taste and quinine hydro-chloride solution of 4 different concentrations (0,0004; 0,0009; 0,0024 and 0,006g/mL) to test the bitter taste sensitivity. Result:Results shown provided an average scores of 1.875 ± 0.619 for sweet taste sensitivity and 1.250 ± 1.125 for bitter taste sensitivity in betel chewing community and an average scores of 3.687 ± 0.478 for sweet taste sensitivity and 3.000 ± 0.816 for bitter taste sensitivity in nonbetel chewing people. Mann-Whitney test result of both groups indicated a p-value of (0.000). Conclusion:Based on the results, it could be concluded that tongue sensitivity of sweet and bitter tastes in betel chewing community was lower than non-betel chewing people in Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.  Key Words :tongue sensitivity, tongue,betel chewing  ABSTRAK  Latar Belakang:Lidah memiliki taste buds yang mengandung reseptor rasa. Sensitivitasnya dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor termasuk kebiasaan menginang.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit pada orang menginang lebih rendah daripada orang yang tidak menginang di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 wanita dengan kebiasaan menginang dan 16 wanita tanpa kebiasaan menginang. Kedua kelompok sampel diberi larutan sukrosa dengan 4 konsentrasi berbeda (0,05; 0,1; 0,2 dan 0,4g/mL) untuk menguji sensitivitas rasa manis dan larutan quinine hydro-chloride dengan 4 konsentrasi berbeda (0,0004; 0,0009; 0,0024 dan 0,006g/mL) untuk menguji sensitivitas rasa pahit. Hasil: Hasil penelitian pada orang menginang terhadap rasa manis didapatkan skor rata-rata 1,875±0,619  pada rasa pahit didapatkan skor rata-rata 1,250 ±1,125 dan pada orang  tidak menginang terhadap rasa manis didapatkan skor rata-rata 3,687±0,478 pada rasa pahit didapatkan skor ratarata 3,000 ±0,816. Hasil uji Mann-Whitney pada kedua kelompok menunjukkan nilai p (0,000). Kesimpulan:Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpukan bahwa sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit pada orang menginang lebih rendah daripada orang yang tidak  menginang di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.  Kata-kata kunci : sensitivitas lidah, lidah, menginang
ANGKA KEJADIAN DIATEMA SENTRAL PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DISERTAI KEBIASAAN MENGHISAP IBU JARI Rizki Hadi; Rosihan Adhani; Widodo Widodo
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.569

Abstract

ABSTRACT  Finger sucking habit is oral habbit most common, the incidence of finger sucking habit is reported at between 13% to 100%. According Muthu and Sivakumar prevalence of this practice decreases with age, especially at the age of 3.5-4 years. The central diastema is a malocclusion that often appear with the characteristic form of a gap that exists between the maxillary central incisor. This study aims to calculate the incidence of children with special needs as thumb-sucking, calculate the incidence of central diastema on boys and girls with special needs children and large knowing the incidence of central diastema at the age of children with special needs. This study was a descriptive study by total sampling metode. The population in this study were students SDLB C Dharma Wanita Banjarmasin. The results showed 34 (53.96%) children who had a central diastema with 14 men, 20 women and 29 people who did not have a central diastema of a total of 63 students were examined. The habit of thumb sucking 28 people (44.44%).The central diastema thumb sucking habit with no male 11 people (17.46%) and 9 women (14.29%). The incidence of central diastema by age 6-8 years who had a central diastema as many as 15 (44.12%), 9-10 years who had diastema as many as 8 (23.53%), 11-14 years old who have a diastema as many as 11 (32 , 35%) of the total of 34 (53,96%). Thumb sucking by age found that children aged 6-8 years who had a habit of thumb sucking has 9 children (32.15%), 9-10 years amounted to 8 children (28.57%), 11-14 years amounted to 11 children (39.28%) of the total of 28 children.  Keyword:Central Diastema, With Special Needs, Thumb Sucking ABSTRAK  Kebiasaan menghisap jari merupakan oral habbit yang paling sering terjadi, insidensi kebiasaan menghisap jari dilaporkan mencapai antara 13% sampai 100%. Menurut Muthu dan Sivakumar prevalensi kebiasaan ini menurun seiring pertambahan usia, terutama pada usia 3,5-4 tahun. Diastema sentral merupakan suatu maloklusi yang sering muncul dengan ciri khas berupa celah yang terdapat diantara insisif sentral rahang atas.Penelitian ini bertujuan untuk menghitung angka kejadian anak berkebutuhan khusus menghisap ibu jari, menghitung angka kejadian diastema sentral pada siswa laki-laki dan perempuan pada anak berkebutuhan khusus dan mengetahui besar angka kejadian diastema sentral pada usia anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode total sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa siswi SDLB C Dharma Wanita Banjarmasin. Hasil penelitian didapatkan 34 orang anak (53,96%) yang memiliki diastema sentral dengan 14 laki-laki, 20 perempuan dan 29 orang yang tidak memiliki diastema sentral dari total 63 siswa yang diperiksa. Kebiasaan menghisap ibu jari sebanyak 28 orang (44,44%). Diastema sentral disertai kebiasaan menghisap ibu jari laki-laki sebanyak 11 orang (17,46%) dan perempuan sebanyak 9 orang (14,29%). Angka kejadian diastema sentral berdasarkan umur 6-8 tahun yang memiliki diastema sentral sebanyak 15 (44,12%), 9-10 tahun yang memilki diastema sebanyak 8 (23,53%) , 11-14 tahun yang memiliki diastema sebanyak 11 (32,35%) dari total 34  orang (100%). Menghisap ibu jari berdasarkan umur didapatkan anak yang berumur 6-8 tahun yang memiliki kebiasaan menghisap ibu jari berjumlah 9 anak (32,15%) , 9-10 tahun berjumlah 8 anak (28,57%), 11-14 tahun berjumlah 11 anak (39,28%) dari total 28 anak.  Kata-kata kunci: Diastema Sentral, Anak Berkebutuhan Khusus, Menghisap Ibu Jari
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana Linn.) TERHADAP JUMLAH MAKROFAG PADA INFLAMASI PULPA Studi In Vivo Pada Gigi Molar Rahang Atas Tikus (Rattus norvegicus) Wistar Jantan Cindy Dwintanandi; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Suka Dwi Raharja
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.562

Abstract

ABSTRACK  Background: Treatment of dental pulp is a basic treatment in dentistry. Nowadays dental pulp treatment used adhesive resin substance, but adhesive resin substance is irritative and expensive thus alternative substance is needed to use. Pericarp of mangosteen containing to be rich in various pharmacys and antioxidant activity so that called queen of fruits. Xanthone, flavonoid, tanin, and saponin compound can working as antiinflammatory that very important in open dental pulp healing. Purpose: This research to investigate the effect pericarp of mangosteen extract to amount of macrophag on pulp response inflammatory and compare with calcium hydroxide. Methods: This study used true experimental method with post-test only group design and simple random sampling, consist of 39 male wistar rats were divided into 3 groups.  Perforated each dental pulp rats were treated with pericarp of mangosteen extract as treatment group, with calcium hydroxide as positive control group, and no treatment indeed (no medicine) as negative control group. On the day 1 to day 7, sampels for hystological analysis should be done after treatment, inflammatory reactions occured in all of groups. Result: Inflammatory reactions reckoned from scoring of macrophage. Two way Anova and Post Hoc LSD test indicated that pericarp of mangosteen extract more effective than calcium hydroxide in decrease scoring of macrophage. Based on research could be concluded that significantly the treatment process pericarp of mangosteen extract could be usefull to decrease scoring of macrophage in pulp inflammatory.  Keywords: open dental pulp, pulp inflammatory, macrophage, pericarp of mangosteen, calcium hydroxide  ABSTRAK   Latar Belakang: Perawatan pulpa terbuka merupakan perawatan dasar dalam kedokteran gigi. Perawatan pulpa terbuka pada saat ini dengan menggunakan bahan resin adesif, namun  resin adesif bersifat iritatif dan  mahal sehingga diperlukan bahan alternatif yang lebih aman digunakan. Kulit manggis mengandung senyawa yang memiliki berbagai aktivitas farmakologi dan antioksidan sehingga disebut queen of fruits. Senyawa golongan xanton, flavonoid, tanin, dan saponin dalam kulit buah manggis dapat berfungsi sebagai antiinflamasi yang penting dalam penyembuhan pulpa terbuka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit manggis terhadap jumlah makrofag pada inflamasi pulpa dan membandingkannya dengan kalsium hidroksida. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan post-test only group design, menggunakan Rancangan Acak Sederhana, terdiri dari 39 tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok. Pulpa gigi tikus diperforasi yang kemudian diberi perlakuan ekstrak kulit manggis sebagai kelompok perlakuan, dengan diberikan kalsium hidroksida sebagai kelompok kontrol positif, dan tidak diberikan aplikasi apapun (tanpa obat) sebagai kelompok kontrol negatif. Sampel dianalisis secara histologis pada hari ke -1 hingga hari ke -7 setelah aplikasi, reaksi inflamasi terjadi pada seluruh kelompok. Hasil: Reaksi inflamasi dihitung dari jumlah makrofag. Uji two way Anova dan uji Post Hoc LSD menunjukkan bahwa ekstrak kulit manggis lebih efektif menurunkan jumlah makrofag dibandingkan kalsium hidroksida. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ekstrak kulit manggis secara bermakna dapat menurunkan jumlah makrofag pada inflamasi pulpa. Kata-kata kunci: pulpa terbuka, inflamasi pulpa, makrofag, kulit manggis, kalsium hidroksida
EFEKTIVITAS MENYIKAT GIGI DENGAN METODE FONE TERHADAP INDEKS KEBERSIHAN RONGGA MULUT Tinjauan pada Pasien Stroke di Klinik Millennia Banjarmasin Tahun 2014 Habibie Aldiaman; Rosihan Adhani; Adenan Adenan
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.554

Abstract

ABSTRACTBackground: Stroke often causing long term disability and patient’s oral hygiene quality defended difficultly. Purpose: The purpose of this study was to compare OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified) score before and after tooth brushing used fone method to the patient of stroke in Millennia Clinic Banjarmasin. Methods: It was a descriptive analitic study with pre and post-test design and used total sampling with 15 peoples sample and consisted of before and after tooth brushing used fone method as intervention. Results: The results showed an average of OHI-S score before tooth brushing used fone method was 2,3038 and after tooth brushing used fone method was 0,8847. Conclusion: The conclusion of this study was tooth brushing used fone method showed effectiveness significantly to decrease OHI-S score and there was significant differences in effectiveness between before and after. ABSTRAKLatar Belakang: Stroke seringkali mengakibatkan disabilitas jangka panjang dan kualitas  oral hygiene pasien sulit dipertahankan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan skor OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified) sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan metode fone pada pasien stroke di Klinik Millennia Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan pre and post-test design yang menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 15 orang dengan dilakukan intervensi berupa menyikat gigi dengan metode fone. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor OHI-S sebelum menyikat gigi dengan metode fone yakni sebesar 2,3038 dan setelah menyikat gigi dengan metode fone yakni sebesar 0,8847. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa menyikat gigi dengan metode fone terbukti efektif secara bermakna terhadap peningkatan indeks kebersihan rongga mulut pada pasien stroke di Klinik Millennia Banjarmasin pada tahun 2014.
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL PADA INFLAMASI PULPA Studi In Vivo pada Tikus Wistar Jantan Lutfiyah Lutfiyah; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Suka Dwi Raharja
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.575

Abstract

ABSTRACK  Background:Indonesia has various numbers of plants with medicinal contents; one of them is mangosteen (Garcinia mangostana L.). Mangosteen pericarp which is regarded as waste turns out to have benefits to health. Mangosteen pericarp extract contains chemical substances such as saponin, tannin, flavonoid, steroid, quinon, and xanthone. These substances have many benefits, one of them is antiinflammatory properties.Purpose: The aim of this study was to assess the effect of mangosteen pericarp extract on neutrophils count in wistar rats’ pulp inflammation. Methods:This study was true experimental with post-test only with control design. Samples used were 39 male wistar rats divided into 3 treatment groups: no treatment group (negative control), mangosteen pericarp extract treatment group, and calcium hydroxide treatment group (positive control). Samples were analyzed histopathologically on day 1, 3, 5, and 7.Result: The result presented mean scoring of neutrophils in mangosteen pericarp extract treatment group as 13,33 on day 1, 10,00 on day 3, 4,33 on day 5 and 2,33 on day 7. Two way ANOVA and Post Hoc LSD tests indicated that there was a significant difference between mangosteen pericarp extract treatment group and no treatment group and calcium hydroxide treatment group with p value of < 0,05. Conclusion:There was a significant effect of mangosteen pericarp extract on neutrophils count in wistar rats’ pulp inflammation compared to calcium hydroxide in decreasing neutrophils count.  Keywords: mangosteen pericarp extract, Garciniamangostana L., anti-inflammatory, neutrophils, pulp inflammation,pulp capping.  ABSTRAK  Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai jenis tanaman yang berguna sebagai tanaman obat, salah satunya adalah buah manggis (Garcinia mangostana L.). Kulit buah manggis yang selama ini dibuang ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Kulit buah manggis mempunyai kandungan kimia berupa saponin, tanin, flavonoid, steroid, kuinon, dan xanthone. Kandungan tersebut memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antiinflamasi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap jumlah neutrofil pada inflamasi pulpa gigi tikus wistar.Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan post-test only with control design. Sampel terdiri atas 39 tikus Wistar dengan jenis kelamin jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok tanpa obat (kontrol negatif), kelompok ekstrak kulit manggis (perlakuan) dan kelompok kalsium hidroksida (kontrol positif). Sampel dianalisis secara histologis pada hari ke-1, 3, 5 dan 7. Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata jumlah neutrofil ekstrak kulit manggis adalah 13,33 pada hari ke- 1, 10,00  pada hari ke-3, 4,33 pada hari ke-5 dan 2,33 pada hari ke 7.Hasil: Hasil two way ANOVA dan Post Hoc LSD menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok ekstrak kulit manggis dengan kelompok tanpa obat dan kelompok kalsium hidroksida dengan nilai p<0,05.Kesimpulan: Terdapat pengaruh ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap jumlah neutrofil pada inflamasi pulpa gigi tikus wistardibandingkan kalsium hidroksida yaitu terjadi penurunan jumlah neutrofil pada kelompok ekstrak kulit manggis dibanding kelompok kalsium hidroksida.Kata-kata kunci:  ekstrak kulit manggis, Garcinia mangostana L. antiinflamasi, neutrofil, inflamasi pulpa,pulp capping
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN TUNGGAL DIBANDINGKAN KOMBINASI SEDUHAN DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis) DAN MADU (Studi in Vitro terhadap Jumlah Koloni Bakteri Rongga Mulut) Tinjauan pada Mahasiswa PSKG FK Unlam Banjarmasin Angkatan 2011-2013 Wahyuni A; Nurdiana Dewi; Lia Yulia Budiarti
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.552

Abstract

ABSTRACTGreen tea has various active substances; one of them is polyphenol, mostly cathechin, an active compound which can protect teeth from caries because of its anti-streptococcal activity. A high content of minerals in honey has alkali characteristic thus the disinfectant trait in oral cavity. The aim of this study was to assess whether single and combined preparations of brewed green tea and honey can decrease bacterial colony count in oral cavity. This study was quasi experimental with pretest and posttest controlled group design. Samples of 38 Students of Dentistry Study Program Universitas lambung Mangkurat were divided into 19 groups: 3 groups were given 25%, 50%, 100% green tea in single preparations, 4 groups were given 6,25%, 12,5%, 25%, 50% honey in single preparations, and 12 groups were given combined preparations of green tea and honey. Bacterial colony before and after gargling grown on isolated medium was counted using colony counter. Repeated anova test showed p value of 0,037 (p < 0,05), stating that there was a significant difference among treatment groups. In conclusion, combined preparations of 50% green tea + 12,5% honey and 100% green tea + 25% honey were more effective in decreasing bacterial colony count.   ABSTRAKTeh hijau mempunyai beberapa komponen aktif yang salah satunya adalah polifenol berupa katekin, suatu senyawa aktif dalam melindungi gigi dari karies karena memiliki aktivitas anti-streptococcal. Kandungan mineral yang tinggi pada madu mempunyai sifat basa (mengandung unsur alkali) sehingga dapat berfungsi sebagai desinfektan terhadap rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan tunggal dan kombinasi seduhan daun teh hijau dan madu dapat menurunkan jumlah koloni bakteri rongga mulut. Penelitian ini bersifat eksperimental kuasi dengan rancangan pretest and posttest controlled group design. Sampel sebanyak 38 orang mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran yang dibagi dalam 19 kelompok yaitu sebanyak 3 kelompok perlakuan sediaan tunggal teh hijau menggunakan konsentrasi 25%, 50%, dan 100%, sebanyak 4 kelompok perlakuan sediaan tunggal madu menggunakan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%, sebanyak 12 dengan kelompok perlakuan sediaan kombinasi teh hijau dan madu. Jumlah koloni yang tumbuh pada media isolasi sebelum dan sesudah berkumur dihitung menggunakan alat colony counter. Hasil uji Repeated anova menunjukan nilai p = 0,037 (p < 0,05), terdapat perbedaan yang bermakna diantara perlakuan. Dapat disimpulkan bahwasediaan kombinasi teh hijau 50% dengan madu 12,5% dan teh hijau 100% dan madu 25% lebih efektif dalam menurunkan jumlah koloni bakteri.
PENGARUH EKSTRAK SEREH (Cymbopogon citratus) TERHADAP PANJANG LUKA MUKOSA LABIAL MENCIT SECARA KLINIS Melinda Hairi; Nurdiana Dewi; Husnul Khatimah
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.574

Abstract

ABSTRACT   Background: Lemongrass is one of the most widely used plants for traditional medicine. Lemongrass has bioactive substances such as phenolic acid, flavonoid, and tannin which act as anti-inflammatory and antioxidant agent which could affect the wound healing process. Purpose: The aim of this study was to assess the effects of 25%, 50%, and 100% lemongrass extract on mice labial mucosa clinical wound length by measuring the wound length. Methods: This study was a true experimental with post test-only with control design. 30 mice were used in this study, which were divided into 5 groups, patent drug containing Aloe vera extract as positive control group, 100% lemongrass extract group, 50% lemongrass extract group, 25% lemongrass extract group, and aquadest as negative control group. Results: One-way ANOVA and Post-hoc LSD tests showed significant difference between Aloe vera extract group, 100% lemongrass extract group, and 50% lemongrass extract group with aquadest group. There was no significant difference between Aloe vera extract group, 100% lemongrass extract group, and 50% lemongrass extract group. There was also no significant difference between 25% lemongrass extract group with aquadest group. Conclusion: Based on the conducted study, it can be concluded that 100% and 50% lemongrass extract could accelerate wound healing process on mice labial mucosa by measuring length of the wound.  Keywords: lemongrass extract, wound healing, wound length, oral mucosa, mice  ABSTRAK   Latar Belakang:Sereh adalah salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional.  Sereh mengandung zat bioaktif seperti phenolic acid, flavonoid dan tanin yang berperan sebagai antiinflamasi dan antioksidan yang berpengaruh dalam proses penyembuhan luka.Tujuan:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak sereh 25%, 50%, dan 100% terhadap panjang luka mukosa labial mencit secara klinis dengan mengukur panjang luka. Metode:Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan post test-only with control design. Penelitian ini menggunakan 30 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol positif yang menggunakan obat paten mengandung ekstrak Aloe vera, kelompok ekstrak sereh 100%,  kelompok ekstrak sereh 50%, kelompok ekstrak sereh 25%, dan kelompok kontrol negatif menggunakan akuades.Hasil:Hasil uji One-way ANOVA dan Post-hoc LSD menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok ekstrak Aloe vera, kelompok ekstrak sereh 100%, dan kelompok ekstrak sereh 50% dibandingkan dengan kelompok akuades. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok ekstrak Aloe vera, kelompok ekstrak sereh 100%, dan kelompok ekstrak sereh 50% serta tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok ekstrak sereh 25% dan kelompok akuades.Kesimpulan:Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak sereh 100% dan 50% dapat mempercepat penyembuhan luka mukosa labial mencit dilihat dari panjang luka.  Kata-kata kunci:ekstrak sereh, penyembuhan luka, panjang luka, mukosa mulut, mencit
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP ANGKA KARIES GIGI DI SMPN 1 MARABAHAN Azhary Ramadhan; Cholil Cholil; Bayu Indra Sukmana
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v1i2.567

Abstract

ABSTRACT  Background: Knowledge of oral health is one of the efforts to prevent and control dental health problems through education of oral health. Dental health education delivered is expected to change the behavior of an individual or community dental health of unhealthy behaviors towards healthy behaviors. Purpose: The research aimed to determine the correlation between oral  health level knowledge of the number of dental caries in SMPN 1 Marabahan Kabupaten Barito Kuala. Method: The method used analytic observational with cross-sectional design and the sample was 100 students of SMP 1 Marabahan. Results: The results obtained samples with a good level of knowledge had the DMF-T index of 19 repondence was very low, low 9 repondence, medium 1 person, 2 repondence high, very high 0 repondence. The sample had an index level of knowledge was very low DMF-t 23 repondence, low 10 repondence, medium 20 repondence, 3 repondence high, very high sample rate 0 repondence and poor knowledge of the index was very low DMF-t 0 repondence, low 3 repondence, medium 1 repondence, 7 repondence high and very high 2 repondence. Conclusion: Using spearmen significant value of (0.00). It can be concluded that there was a correlation between level of knowledge of oral and dental health dental caries figures.   Keywords: Knowledge of oral health, dental caries, DMF-T index scores  ABSTRAK  Latar belakang: Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu usaha untuk mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan gigi melalui pendekatan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Pendidikan kesehatan gigi yang disampaikan diharapkan mampu mengubah perilaku kesehatan gigi individu atau masyarakat dari perilaku yang tidak sehat ke arah perilaku sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi terhadap angka karies gigi di SMPN 1 Marabahan Kabupaten Barito Kuala. Metode: Jenis penelitian menggunakan metode penelitian analitik observasional yang menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan 100 sampel yang terdiri dari siswa-siswi SMPN 1 Marabahan. Hasil: Hasil penelitian diperoleh sampel dengan tingkat pengetahuan yang baik memiliki indeks DMF-t sangat rendah 19 orang, rendah 9 orang, sedang 1 orang, tinggi 2 orang, sangat tinggi 0 orang. Sampel tingkat pengetahuan sedang memiliki indeks DMF-t sangat rendah 23 orang, rendah 10, sedang 20 orang, tinggi 3 orang, sangat tinggi 0 orang dan sampel tingkat pengetahuan buruk memiliki indeks DMF-t sangat rendah 0 orang, rendah 3 orang, sedang 1 orang, tinggi 7 orang, dan sangat tinggi 2 orang. Kesimpulan: Hasil uji spearman diketahui nilai signifikan sebesar (0,00). Sehingga di ambil kesimpulan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut terhadap angka karies gigi.   Kata kunci: Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, karies gigi, indeks skor DMF-t