Sulesana
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8 No 1 (2013)"
:
11 Documents
clear
MAULID DAN NATAL
Hajir Nonci
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1281
Kelahiran Nabi Muhammad Saw yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 20 Mei 751 M. kelahiran inilah yang selalu diperingati atau dirayakan oleh umat islam yang disebut maulid. Dalam tinjauan historis maulid timbul 300 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw Yang mula-mula memperingatinya yaitu Malik Musaffar Abu Said penguasa Ibril Irak. Kemudian status maulid sebagaimana kita ketahui bahwa maulid itu adalah peringatan hari kelahiran seorang nabi atau seorang rasul. Karena maulid tidak di syari’atkan dalam ajaran islam, sehingga maulid itu controversial dikalangan ulama atau umat islam. Ada yang beranggapan bahwa itu bid’ah, juga ada yang berpandangan tidak, karena maulid lebih besar manfaatnya daripada mudaratnya, artinya posisinya sebagai syiar agmaa islam. Fungsi maulid adalah untuk mengenang serta merekonstruksi perjalanan hidup Rasulullah, sehingga kita paham misi perjuangan beliau.Natal dalam pandangan sejarah mulai diadakan pada tanggal 25 Desember untuk pertama kalinya dirayakan pada tahun 354 di Roma.
PERSPEKTIF PERILAKU MENYIMPANG ANAK REMAJA : Studi Berbagai Masalah Sosial
suryani suryani
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1293
Anak adalah buah hati, belahan jiwa, perhiasan dunia dan kebanggaan orang tua yang merupakan karunia terbesar karena anaklah, pahala orang tua bisa mengalir walaupun mereka sudah meninggal. Orang tua mempunyai peranan penting dalam pendidikan baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali bagi pertumbuhan anak yang dimana ia mendapatkan pengaruh dari anggota keluarga yang lain dan masa ini merupakan masa-masa kritis dalam perkembangan dan pertumbuhan baik jasmani dan rohaninya karena apa yang kita tanamkan dalam diri anak pada masa remaja tersebut akan sangat membekas pada diri anak dan tidak mudah hilang atau berubah sesudahnya. Dalam mendidik anak harus menjadikan kepribadian Rasul sebagai suri tauladan. Orang tua dan para pendidik harus mengerti dampak buruk dari keteledoran dalam mendidik anak karena ada beberapa faktor yang bisa memberi pengaruh pada proses pendidikan dan pergaulan anak, yaitu,keluarga, sekolah,liingkungan dalam hal ini teman bergaul, koran, televisi, radio, video, internet, telpon dan lainnya. Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang hams ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.
AKAL DALAM AL-OUR’AN
burhanuddin burhanuddin
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1283
Para pembahas di semua disiplin sependapat tentang eksistensi akal pada manusia sebagai instrumen terpenting, sekaligus sebagai jati diri dan pembeda dari makhluk Allah lainnya. Al-Qur’an tidak mendefenisikan akal secara sarih, namun dapat ditangkap maknanya ketika ia menerangkan tentang fungsi-fungsi akal bagi manusia seperti untuk mengenal, mengkaji tentang diri, alam dan Allah. Simpulannya, menurut al-Qur’an, akal bagi manusia itu adalah jati dirinya. Dengan begitu, maka Informasi dari al-Qur’an ternyata searah dengan apa yang disampaikan oleh para ilmuwan di berbagai disiplin; bahkan justru lebih memperkuat sekaligus memberi tekanan khusus pada hal-hal tertentu, yang tidak mereka bicarakan, terutama dalam hal akibat (dunia dan akhirat) bila akal itu tidak difungsikan oleh manusia. Apabila manusia memanfaatkan potensi akalnya dengan sungguh-sungguh, ia akan dapat mengorbit menjadi manusia pilihan dengan SDM yang berkualitas dan dengan jati diri terpuji di sisi Allah swt.
KAFĀLAT AL-YATῙM PERSPEKTIF HADIS TEMATIK
rosmaniah hamid
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1275
Mehdi Ha’iri Yazdi mengemukakan gagasan segar dalam rangka proyek besar bagi kebangkitan umat yaitu melalui proyek pemikirannya mengenai hakikat hubungan antara pengetahuan dan subjek yang mengetahui bisa menuntun kepada landasan intelek manusia sendiri dimana kata mengetahui tidak lain berarti mengada. Dalam keadaan ontologis kesadaran manusia ini, dualisme hubungan subjek-objek terkalahkan dan tenggelam dalam suatu kesatuan sederhana dari realitas diri yang tidak lain adalah pengetahuan swaobjek. Mengenai arti kesadaran kesatuan mistikal, dalam filsafat pencerahan hubungan inidisebut “tangga menaik” eksistensi (al-Silsilat al-Shu’udiyah). Seorang mistikus naik ke kesadaran uniter dan bersatu dengan Tuhan dalam pengertian terserap. Masalah besar yang kita hadapi ketika, sebagai filosof, berhadapan dengan teori mistisisme adalah masalah kesadaran “kesatuan” dengan Tuhan. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan kata “kesatuan” atau “persatuan” dengan Tuhan, atau dengan diri Universal, yang secara sepakat digunakan oleh otoritas-otoritas mistisisme, menjadi masalah utama dalam filsafat mistisisme. Menurut berbagai metode penafsiran yang diberikan kepada kata “kesatuan”, terdapat berbagai jawaban bagi pertanyaan ini. Jawaban-jawaban ini bersifat linguistik, filosofis, religius, psikologis, dan lain-lain.
FILOSOFI WIRAUSAHA NABI MUHAMMAD
Juhanis Juhanis
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1278
The interpeneur is basically one of the keys ofan economic indefendent. Everyone has dream to be successful in this case. So that, in earlier Islam had paid intention and regulated for managing an economic inprovement. In this artcile aimed at presenting the Muhammad’s consept of enterpreneur. He undoubtedly becomes a refrence of many live problems, but just very few Muslim Scholars’ article which elaborates his success as an interpeneurer. It is extremely different with Western scholars that concern to examine Muhammad’s success in trade. By historcial approach, the writer concludes that the key of Muhammad’s success in improving his interpeneur really has a high relation of his a good attitude, aspecially honestly (al-amanah), clever (al-fatanah), (al-tabligh) and (al-siddiqh). Prophet Muhammad’s manegement based on these attiudes becomes known asthe most succesfull an interpeneruer in the world.
القسم فى القرآن
Syamsuri Syamsuri
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1286
Para pembahas di semua disiplin sependapat tentang eksistensi akal pada manusia sebagai instrumen terpenting, sekaligus sebagai jati diri dan pembeda dari makhluk Allah lainnya. Al-Qur’an tidak mendefenisikan akal secara sarih, namun dapat ditangkap maknanya ketika ia menerangkan tentang fungsi-fungsi akal bagi manusia seperti untuk mengenal, mengkaji tentang diri, alam dan Allah. Simpulannya, menurut al-Qur’an, akal bagi manusia itu adalah jati dirinya. Dengan begitu, maka Informasi dari al-Qur’an ternyata searah dengan apa yang disampaikan oleh para ilmuwan di berbagai disiplin; bahkan justru lebih memperkuat sekaligus memberi tekanan khusus pada hal-hal tertentu, yang tidak mereka bicarakan, terutama dalam hal akibat (dunia dan akhirat) bila akal itu tidak difungsikan oleh manusia. Apabila manusia memanfaatkan potensi akalnya dengan sungguh-sungguh, ia akan dapat mengorbit menjadi manusia pilihan dengan SDM yang berkualitas dan dengan jati diri terpuji di sisi Allah swt.
PENDIDIKAN AGAMA DAN MORAL DALAM PERSPEKTIF GLOBAL
Muhaemin Gaffar
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1289
pembinaan moral erat kaitannya dengan pendidikan agama. Oleh karena itu pendidikan agama perlu ditingkatkan kualitasnya dengan melibatkan unsur kedua orang tua / rumah tangga, sekolah, dan masyarakat serta dengan menggunakan berbagai cara yang efektif. Pembinaan moral bukan hanya menjadi tanggug jawab guru agama saja, tetapi tanggung jawab seluruh guru. Pelajaran harus diikuti dengan pendidikan dengan cara menujukkan aspek pendidikan pada setiap ilmu yang diajarkan. Berbagai situasi dan kondisi lingkungan harus dijauhkan dari hal-hal yang dapat merusak moral
Kajian Kritis Akulturasi Islam Dengan Budaya Lokal
Hamzah Junaid
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1271
Keuniversalan Islarn berarti kehadirannya tidak hanya diperuntukkan pada satu etnis, golongan. dan ras tertentu, tetapi diperuntukkan untuk semua manusia, dengan demikian, lslam memiliki daya jangkau dan daya jelajah melampaui batas ruang dan waktu tertentu. Sebagai konsekuensi dari karakteristiknya yang universal tersebut, Islam meniscayakan sebuah kemampuan akulturatif terhadap lokalitas masyarakat di mana ia diterirna. Amat sulit dibayangkan ketika lslam hadir pada suatu komunitas lokal tertentu, kemudian merombak semua tatanan nilai, kebiasaan, budaya, dan tradisi yang mereka anut. Harus ditegaskan bahwa arti akulturasi di sini tidaklah berarti Islam dan budaya lokal dipandang sebagai dua variabel yang benar-benar sejajar, tetapi harus dipandang sebagai hubungan yang dinamis, dalam arti di dalamnya sangat memungkinkan terjadi pengkoreksian. Hal itu dapat terjadi jika bentuk-bentuk kearifan lokal tersebut benar-benar bertentangan dengan nilai-nilai lslam yang paling asasi. Namun demikian, tidak dapat diasumsikan sebaliknya. dalam arti bahwa budaya atau kearifan lokal mengoreksi nilai-nilai Islam.
METODE MEMAHAMI MAKSUD SYARI’AH
Djaenab Djaenab
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1279
purposein establishingHislaws. Therefore,efforts touncoverandunderstand thembythe scholarsdividedthefour methodswithdifferentshades ofunderstanding, namely: Methods lafzi atau al-Zahiri, method Ma’nawi (contextual), Understanding themeaning ofthe methodbeyondnashor themethod offreethought patterns, methodsMergerbetween lafziyah and Ma’nawiyah.
SINERGITAS FILSAFAT DAN TEOLOGI MURTHADHA MUTHAHHARI
Nihaya Nihaya
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/.v8i1.1291
Spiritual (yang selanjutnya disebut ‘irfan) adalah kecenderungan dalam menguak rahasia dan mengenal pengetahuan-pengetahuan bathiniah melalui keyakinan terhadap wilayah dan ajaran-ajaran Ahlul Bayt. Pengertian dan ciri-ciri seperti ini secara umum telah menghubungkan teosofi dengan makna tasawuf (‘irfan). Dari satu sisi penjelasan ini mengungkapkan bahwa hahekat Tasyayyu’ (Tasyayyu’bid-dzat) sebagai suatu jalan untuk mengenal rahasia-rahasia. Syi’ah memberi ruang lingkup yang tidak terbatas terhadap ajaran-ajaran yang mengenalkan pada rahasia dan pengetahuan-pengetahuan bathin. Syi’ah dengan keyakinan terhadap para Imam Suci yang merupakan ciri khasnya, telah mempersiapkan diri untuk menerima ajaran-ajaran tersebut dari para Imam Suci mereka Pada mulanya dalam dunia Islam hanya ada aliran besar dalam filsafat, yaitu: aliran iluminasi (mazhab al-Isyraqi) dan aliran paripatetik (mazhab al-Masysya’iy). Keduanya secara historis dan konseptual berkaitan dengan filsafat Yunani kuno.[i] Kemudian dalam perkembangan berikutnya muncul sebuah aliran baru dalam filsafat yaitu aliran Hikmah al-Muta’alliyah.[i]Ibid.,