cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 1 (2020)" : 3 Documents clear
A Latest Discovery of Austronesian Rock Art in the North Peninsula of Buano Island, Maluku Muhammad Al Mujabuddawat; Godlief Arsthen Peseletehaha
Kapata Arkeologi Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v16i1.13-26

Abstract

Gambar cadas merupakan salah satu tradisi yang tertua dan paling banyak tersebar di penjuru dunia. Gambar cadas menjadi bagian dari data penting dalam mempelajari masa lalu, karena gambar cadas kemungkinan mengandung makna pada pemikiran simbolik manusia yang membuatnya. Gambar cadas di Indonesia merupakan budaya yang berlangsung berkesinambungan sejak periode awal gelombang migrasi manusia di Kepulauan Indonesia sekitar puluhan ribu tahun hingga kedatangan penutur budaya Austronesia yang membuka periode Neolitik sekitar ribuan tahun lalu. Gambar cadas di Kawasan Kepulauan Maluku Bagian Tengah pada khususnya secara umum dikenali berciri Tradisi Gambar Austronesia atau lebih dikenal dengan sebutan APT (Austronesian Painting Tradition). Penelitian ini melaporkan temuan baru gambar cadas di di Situs Tanjung Bintang, Pulau Pua, Pesisir Utara Pulau Buano. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dan analitis dalam mendeskripsikan objek motif gambar cadas berdasarkan kajian literatur terkait referensi-referensi yang merujuk pada kajian gambar cadas di Maluku. Penelitian ini mengenali bahwa gambar cadas di Situs Tanjung Bintang berciri Tradisi Gambar Austronesia. Kajian ini merupakan yang pertama kali melaporkan keberadaan Situs Tanjung Bintang, gambar cadas di Pesisir Utara Pulau Buano, Kepulauan Maluku. Rock art is one of the oldest and most widespread traditions around the world. Rock art is part of essential data in studying the past because rock art has the potential to tell us something of the symbolic concerns of the people that created it. Rock art in Indonesia is a culture that has been ongoing since the early period of the wave of human migration in the Indonesian Archipelago for about tens of thousands of years until the arrival of the Austronesian speaker’s culture who opened the Neolithic period around thousands of years ago. Rock art in the Central Maluku Islands Region in particular, is generally recognized as characterized by the Austronesian Painting Tradition. This research reports new rock art findings at Tanjung Bintang Site, Pua Island, North Coast of Buano Island. This research applies qualitative and analytical methods in describing the object of rock art motifs based on a literature review related to references that refer to the study of rock art in Maluku. This research recognizes that the Tanjung Bintang Site is characterized by the Austronesian Painting Tradition. This study is the first record of the Tanjung Bintang Site rock art in the North Coast of Buano Island, Maluku.
Rock Art at Kel Lein Site, Kaimear Island, Maluku Lucas Wattimena; Marlyn J. Salhuteru; Godlief Arsthen Peseletehaha
Kapata Arkeologi Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v16i1.1-12

Abstract

Situs Kel Lein di Pulau Kaimear, Kepulauan Kei, adalah salah satu situs gambar cadas yang baru ditemukan. Situs ini dilaporkan pada 2018 dan dilanjutkan dengan perekaman data intensif pada tahun berikutnya. Berbagai motif seni cadas yang tersebar di sepanjang teras, dinding, dan atap ceruk gua dibagi menjadi tujuh panel. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dari survei lapangan pada tahun 2018, ditambah data terbaru yang diperoleh pada tahun 2019. Analisis gambar cadas dibagi menjadi beberapa panel di dalam ceruk, terdiri dari tujuh panel. Penelitian ini mencatat 488 motif, yang dikelompokkan menjadi motif figur manusia atau antropomorfik, perahu, alat batu, cap tangan (negatif), jejak kaki, geometris, lingkaran, garis vertikal dan horizontal, wajah atau topeng manusia, ayam atau hewan, tempayan (tembikar), jaring ikan, matahari, bulan, dan panah. Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak motif gambar cadas di Situs Kel Lein mengandung berbagai makna. Salah satunya adalah aktivitas manusia yang digambarkan dalam bentuk figuratif. Keragaman motif di Situs Kel Lein menempatkan situs ini pada posisi penting dalam kajian jalur migrasi manusia. Diperkirakan situs ini adalah salah satu lokasi yang cukup ramai disinggahi pada masa lalu. The Kel Lein Site in Kaimear Island, Kei Islands, is a recently discovered rock art site. This site was reported in 2018 and continued with intensive data recording the following year. Various rock art motifs scattered along the terrace, walls, and roof of the niche are divided into seven panels. The approach in this research uses descriptive qualitative. The data collected from a field survey in 2018, plus the latest data obtained in 2019. The rock art analysis is divided into several panels inside the niche, comprising seven panels. This research recorded 488 motifs, grouped into human or anthropomorphic figure, boats, stone tools, hand stencils (negative), footprints, geometric, circles, vertical and horizontal lines, human faces or masks, chickens, jars (pottery), fishing nets, sun, moon, and arrowheads. This research shows that many rock art motifs on the Kel Lein Site show various purposes. One of which is human activity depicted in a figurative form. The diversity of motifs at the Kel Lein Site places this site in a vital position in studying human migration pathways. It is estimated that this site is one of the most visited posts in the past.
Archaeological Object as Tourism in Samosir Island Femmy Indriany Dalimunthe; Ketut Wiradnyana
Kapata Arkeologi Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v16i1.27-40

Abstract

Pulau Samosir berada di tengah-tengah Danau Toba sebagai bagian dari proses geologi terkait dengan erupsi Gunung Toba. Keberadaan danau itu sendiri menjadi daya tarik sebuah objek wisata. Adanya berbagai tinggalan arkeologis berupa objek megalitik terkait dengan tradisi upacara kematian masyarakat Batak Toba yang berlangsung sejak lama. Prosesi kematian dan adat istiadat yang masih berlangsung hingga saat ini disadari menjadi sebuah atraksi wisata yang menarik minat wisatawan jika dikembangkan. Pengelolaan objek tradisi megalitik sebagai objek pariwisata di wilayah ini relatif belum maksimal, sehingga diperlukan upaya mengidentifikasi objek-objek dimaksud disertai dengan uraian informasi yang bersifat ilmiah serta membangun konsep pariwisata yang ideal. Berkenaan dengan itu wadah kubur dan objek arkeologis lainnya menjadi uraian kajian, disertai dengan konsep pengembangan pariwisata berkarakter lokal menjadi bagian dari pembahasannya. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, dan studi kepustakaan. Objek-objek arkeologi dideskripsikan lalu diinterpretasi secara induktif atas analogi dengan objek sejenis di tempat lainnya. Berdasarkan hasil pembahasan di dalam penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan bahwa tinggalan arkeologi di Pulau Samosir didominasi oleh wadah kubur yang merupakan tradisi megalitik. Tradisi megalitik ini erat berkaitan dengan konsepsi upacara kematian yang masih berlangsung di masyarakat Batak Toba saat ini. Keterkaitan antara objek arkeologi dengan tradisi masyarakat yang masih berlangsung dapat dikemas dalam satu ide pariwisata minat khusus objek sejarah berkarakter lokal. Pengelolaan pariwisata yang melibatkan masyarakat lokal diharapkan dapat memberikan dampak langsung baik secara ekonomi maupun merawat keberlangsungan tradisi dan objek arkeologi itu sendiri, juga memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi atraksi wisata dalam perspektif baru di Pulau Samosir. Samosir Island is in the middle of Lake Toba as part of a geological process related to Mount Toba's eruption. The existence of the lake itself becomes an attraction for a tourist attraction. There are various archaeological remains in the form of megalithic objects related to the Toba Batak community death ceremony tradition, which has lasted a long time. The procession of death and customs, which are still ongoing today, is considered a tourist attraction that will attract tourists if developed. The management of megalithic tradition as tourism objects in this region is relatively inadequate. Efforts to identify these objects are required, accompanied by descriptions of scientific information and building an ideal tourism concept. Therefore, burial container and other archaeological objects are the study's description, accompanied by the concept of developing tourism with local character as part of the discussion. The method in this research is descriptive analysis and literature study. Archaeological objects are described and interpreted inductively. The results of this study concluded that the archaeological remains on Samosir Island are dominated by burial containers, which belong to the megalithic tradition. This megalithic tradition is closely related to the conception of death ceremonies which is still sustained in the Batak Toba community today. The relationship between archaeological objects and community traditions can be packaged into tourism ideas of ​​particular interest of local character. Tourism management that involves local communities is expected to impact economically and maintain both the traditions and archaeological objects themselves. This idea is also considered to have great potential for tourist attractions of a new perspective in Samosir Island.

Page 1 of 1 | Total Record : 3