cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI" : 10 Documents clear
PERKEMBANGAN MUSIK IRINGAN TARI GUEL DI KABUPATEN ACEH TENGAH Reny Fharina; Aida Fitri; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Guel merupakan, tari yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah. Sedangkan musik iringan adalah musik pengiring sebagai pengendali keselarasan sebuah prosesi tari. Penelitian mengangkat masalah bagaimana perkembangan alat musik iringan Tari Guel di Kabupaten Aceh Tengah. Pendekatan dalam penelitian ini adalah Kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian adalah S. Kobat, Mukhlis Gayo, Ibrahim Kadir dan Teuku Aga. Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah perkembangan alat musik iringan Tari Guel. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu, dokumentasi, wawancara, dan observasi. Sedangkan untuk teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan alat musik iringan Tari Guel yang dipentaskan di Kabupaten Aceh Tengah mengalami perkembangan dalam beberapa periode, periode pertama 1972-1980 menggunakan gegedem, canang, gong dan vokal dengan dinamik lembut, dengan tempo bervariasi, irama dinamis dan terdengar harmoni. Kemudian berkembang pada periode kedua yaitu pada tahun 1980-2000 ada penambahan alat musik pendukung seperti teganing, bantal didong, bensi dan syair untuk membuat bunyi musik lebih beragam dan tidak mengubah unsur musik pada periode sebelumnya. Selanjutnya periode tahun 2000-2012 terdapat penambahan syair internal, penambahan alat musik suling untuk menggantikan vokal dan mengurangi alat musik pendukung sebelumnya, alasannya karena sulitnya mencari pelantun tradisi saat itu dan sebagai bentuk kreativitas seniman , dinamik menjadi agak cepat dan tempo tidak banyak variasi dan menjadi cepat juga, alat musik pada periode adalah gegedem, canang, gong, dan suling.  Perkembangan terakhir tahun 2012-2018 yaitu, pergantian alat musik gegedem menjadi rapa’i karena sulitnya mencari gegedem dan rapa’i dianggap lebih sesuai kebutuhan pentas, unsur musik dinamik dalam periode terakhir ini menjadi lebih cepat dan juga tempo yang lebih cepat dari tempo periode sebelumnya, alat musik yang digunakan pada periode ini diantaranya adalah rapa’i, gong, canang, suling, dan bantal didong.Kata Kunci: perkembangan alat musik iringan, tari Guel.
KERAJINAN GERABAH DI DESA ATEUK JAWO KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH Deslima Safda; Ismawan Ismawan; Ari Palawi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul Upaya Pengrajin Gerabah dalam Mempertahankan Eksistensi Kerajinan di Gampong Ateuk Jawo kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh, ini mengangkat masalah bagaimana upaya pengrajin gerabah dalam mempertahankan eksistensi dilihat dari proses, bahan bakunya, teknik pembuatan, alat yang digunakan serta bentuk yang dihasilkan serta apa saja kendala yang dihadapi pengrajin gerabah dalam mempertahankan eksistensi kerajinannya di Gampong Ateuk Jawo, Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi dan proses pembuatan Gerabah di desa Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh serta mendeskripsikan apa saja kendala yang dihadapi pengrajin gerabah dalam mempertahankan eksistensi kerajinannya di desa Ateuk Jawo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non-partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan, yaitu mereduksi data, menyajikan (display) dan verivikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa beberapa masyarakat masih ada yang memproduksikan kerajinan Gerabah, kerajinan yang dihasilkan berbentuk periuk nasi (kanot bu), belanga (beulangong), piring nasi (pinee), asbak rokok dan cobek (capah) sehingga Gerabah di Ateuk Jawo masih exist. Proses pembuatan kerajinan Gerabah di desa Ateuk Jawo melalui beberapa langkah yaitu: pengolahan tanah, pembentukan Gerabah, pengeringan Gerabah, dan proses pembakaran. Upaya yang dilakukan oleh pengrajin Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam mempertahankan eksistensi kerajinannya adalah berbentuk pemasaran secara rutin yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan proses pembuatan gerabah masih menggunakan cara tradisional. Kendala yang dihadapi pengrajin yaitu faktor pengrajin yang melakoni pekerjaan ini sudah semakin sedikit, dikarenakan pengrajin berasal dari ibu rumah tangga yang berusia lanjut. Kemudian bahan baku yang digunakan sulit ditemukan serta keberadaan gerabah dipengaruhi dengan adanya perkakas rumah tangga yang yang memiliki fungsi sama. Maka dari itu mereka mengadakan kerjasama dan gotong royong yang bertujuan untuk memajukan industri gerabah dan juga pariwisata yang ada di Gampong Ateuk Jawo, mereka saling memberi semangat dalam hal membuat gerabah.Kata kunci: eksistensi, kerajinan gerabah, kendala dan upaya
MAKNA MOTIF RAGAM HIAS PADA RUMAH TRADISIONAL ACEH DI MUSEUM ACEH Siti Maulin; Cut Zuriana; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Penelitian yang berjudul, Makna Motif Ragam Hias pada Rumah Tradisional Aceh di Museum Aceh, penelitian ini mengangkat masalah tentang bagaimana makna motif ragam hias pada bagian luar rumah tradisional Aceh di Museum Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna motif ragam hias pada bagian luar rumah tradisional Aceh di Museum Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan pendekatan semiotika dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah Nurdin. AR selaku tokoh adat dan sejarah serta merupakan staff di MAA (Majelis Adat Aceh) yang memahami bagian dari berbagai macam bentuk motif pada rumah tradisional Aceh di Museum Aceh. Objek dalam penelitian ini adalah rumah tradisional Aceh yang ada di Museum Aceh. Teknik Pengumpulan data digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik semiotik sintaktik, semantik dan pragmatik. Hasil analisis data menggunakan teori semiotik sintaktik tersebut menunjukan bahwa, makna motif ragam hias pada rumah tradisional Aceh di Museum Aceh yaitu, Motif Bungong Seumanga (Adat Keharuman), Bungong Seuleupok (Kesuburuan), Bungong Geulima (Kesuburan), Bungong Meulu (Adat Kesuburan), Bungong Sagoe (Keindahan), Bungong Kalimah (Azimat Penyangkal), Awan-awan (Keindahan), Awan sitangke (Keindahan), Bungong Tabue (Pluralisme), Puta Taloe (Penjaga), Bungong Lampu Gantung (Keindahan), Tapak catoe (Sosial), Bungong Kala (Keindahan), Bungong Mata uroe (Keindahan), Bungong Ayu-ayu (Keindahan), dan Bungong Apeng (Kesuburan).  Untuk mengetahui makna dari motif tersebut maka analisis selanjutnya menggunakan teori semiotik semantik, dimana setiap motif dimaknai dengan dua cara yaitu makna secara denotasi dan makna secara konotasi. Analisis makna motif selanjutnya menggunakan teori semiotik pragmatik yaitu menjelaskan hubungan antara tanda dengan penggunanya.Kata kunci: makna, motif, ragam hias, rumah tradisional Aceh
GARAPAN ILUSTRASI MUSIKAL PERTUNJUKAN TONEL DALAM LAKON NOSOH GADONG KARYA M. ABBAS Edi Sandika; Ari Palawi; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah tentang bagaimana proses penggarapan musik, komposisi musik, dan alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya  M. Abbas. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tentang proses penggarapan musik, komposisi musik, dan alat musik yang digunakan dalam pertunjukan tersebut. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian bersumber dari wawancara dan observasi langsung ke lapangan. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penulis, pemeran dan penggarap musik dalam Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas, sedangkan objek dalam penelitian adalah garapan ilustrasi musik dalam pertunjukan tersebut. Berdasarkan analisis data temuan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, proses penggarapan musik dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas berjalan dengan lancar. Baik pemusik dan pemain Tonel, masing-masing telah mampu menyesuaikan diri sehingga pertunjukan menjadi selaras dan menarik. Kedua, komposisi musik dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas ini terbagi ke dalam tiga yaitu musik pembuka, musik peralihan adegan, dan musik penutup. Adapun alat musik yang digunakan terdiri dari dua, yakni alat musik tradisional seperti suling, canang, teganing, gegedem, dan tepukan didong; dan alat musik modern seperti gitar, bass, drum, dan keyboard. Garapan musik dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas sudah memenuhi standar. Selain itu, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk melestarikan dan memajukan pertunjukan tradisional tersebut agar lebih baik dan tidak terlupakan.Kata kunci: garapan musikal, Tonel, Nosoh Gadong.
TRADISI BERBALAS PANTUN DALAM ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT ACEH TAMIANG “DILEMA KEUTUHAN DAN KEBERLANJUTANNYA” Siti Sarah; Tengku Hartati; Ismawan Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Tradisi Berbalas Pantun dalam Adat Perkawinan Masyarakat Aceh Tamiang “Dilema Keutuhan dan Keberlanjutannya”, dengan rumusan masalah bagaimana tradisi berbalas pantun dalaam adat perkawinan masyarakat Aceh Tamiang, faktor apasaja yang menyebabkan hilangnya beberapa tahapan berpantun dalam adat perkawinan masyarakat aceh tamiang, dan faktor apa saja yang menyebabkan perubahan bentuk dalam pantun dalam adat perkawinan masyarakat Aceh Tamiang.  Tujuan penelitin ini adalah untuk mendeskripsikan tradisi berbalas pantun adat perkawinan di masyarakat Aceh Tamiang, faktor yang menyebabkan hilangnya beberapa tahapan berpantun dalam adat perkawinan di masyarakat Aceh Tamiang, dan mengetahui perubahan bentuk berbalas pantun dalam adat perkawinan di masyarakat Aceh Tamiang. Penelitian ini menggunakaan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah para Syeh atau pemantun yang sudah lama melestarikan tradisi berbalas pantun yaitu Wak Alang, Wak Uteh, dan Wak Yo. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) tradisi berbalas pantun dalam adat perkawinan masyarakat Aceh Tamiang masih bertahan hingga saat ini (2) penyebab hilangnya beberapa tahapan berbalas pantun dalam adat perkawinan di masyarakat Aceh Tamiang adalah perkawinan berbeda suku yang pengantin pria tidak memahami proses-proses dalam adat perkawinan masyarakata Aceh Tamiang. (3) penyebab perubahan bentuk berbalas pantun dalam adat perkawinan di masyarakat Aceh Tamiang dikarenakan masyarakat yang menginginkan tradisi berbalas pantun dalam adat perkawinan masyarakat Aceh Tamiang yang menghibur dan mengikuti perkembangan zaman.Kata Kunci: tradisi berbalas pantun, adat perkawinan.
PEMBELAJARAN ALAT MUSIK ANGKLUNG PADA SISWA TUNARUNGU DI SMPLB KOTA LANGSA Nurfi Melina; Ari Palawi; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul Pembelajaran Alat Musik Angklung pada Siswa Tunarungu di SMPLB Kota Langsa mengangkat masalah bagaimanakah pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa, dan kendala apa saja yang dialami oleh guru dan siswa dalam pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota langsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispsikan pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa dan mendeskripsikan kendala apa saja yang dialami oleh guru dan siswa/siswi dalam pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa dan guru di SMPLB Kota Langsa. Objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumetasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan pendekatan induktif yang meliputi 3 langkah, yaitu: Reduksi data, Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu terdiri dari 5 tahap, yaitu: Pengenalan struktur orgonologi angklung, teknik dasar Angklung, dan pengenalan lagu, pengenalan notasi angka, memainkan alat musik angklung. Kendala yang didapat adalah peserta didik yang tidak konsentrasi dan serius dalam proses pembelajaran, dan juga dalam segi metode pembelajaran sulit diterapkan secara optimal disebabkan oleh kondisi peserta didik.Kata Kunci: pembelajaran alat musik angklung, tunarungu.
TENUN SONGKET ACEH “NYAKMU” DI DESA SIEM KABUPATEN ACEH BESAR Yasmin Afrilla Utami; Rida Safuan Selian; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul Tenun Songket Aceh “Nyakmu” di desa Siem Kabupaten Aceh Besar mengangkat masalah bagaimana proses pembuatan dan apa saja motif-motif yang digunakan pada kain songket Aceh “Nyakmu” di desa Siem Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan kain songket tenun dan motif-motif apa saja yang digunakan pada songket Aceh “Nyakmu”. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Dahlia dan Ida yang merupakan pengrajin tenun songket Aceh di desa Siem Kabupaten Aceh Besar. Objek dalam penelitian ini adalah proses pembuatan kain songket dan motif-motif yang digunakan pada songket Aceh “Nyakmu” di desa Siem Kabupaten Aceh Besar. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumetasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis induktif yang meliputi 3 langkah, yaitu: Reduksi data, Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses pembuatan kain songket terdiri dari 5 tahap, yaitu: 1) peuglah beuneung sutera (menggulung benang sutera), 2) seumiweut (menghani benang sutera), 3) peuget idong (membuat simpul benang lungsi yang akan dililit pada batang kumpar), 4) dong teupeun (melilit benang lungsi pada batang kumpar), 5) nyulek motif (mendesain motif) dan motif yang digunakan pada kain songket berjumlah 63 motif yang dibagi menjadi ragam hias geometris ada 25 motif sedangkan ragam hias flora ada 38 motif.Kata Kunci: proses pembuatan, Songket, motif, tenun.
MOTIF UNTUK PUKULAN RAPA’I PASEE PADA PERTUNJUKAN UROEH DI DESA GLUMPANG VII KECAMATAN MATANGKULI KABUPATEN ACEH UTARA Cut Amarlia; Aida Fitri; Cut Zuriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul Motif untuk pukulan Rapa’i Pasee pada pertunjukan Uroeh di Desa Glumpang VII Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Mengangkat masalah (1) Bagaimana motif untuk pukulan Rapa’i Pasee pada pertunjukan Uroeh dan aturan-aturan yang terkandung pada pertunjukan Uroeh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan motif untuk pukulan Rapa’i Pasee dan aturan-aturan pada pertunjukan Uroeh di Desa Glumpang VII Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian menganalisis data dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam penyajian pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee terdapat motif pukulan yang berbeda diantara motif satu dan lainnya yang disebut dengan istilah lagu (gaya) yang terdiri dari lagu sa, lagu dua, lagu lhee, lagu limong, laagu tujoh, lagu sikureung dan lagu duablah. Motif pukulan (lagu) juga dapat divariasikan dan dikembangkan oleh syeh (petua) yang konteksnya lebih bersifat hiburan atau untuk menambah variasi lagu-lagu yang dibawakan pada saat pertunjukan Uroeh seperti pukulan ekstra (hot) yang ikuti oleh awak rapa’i dan dimainkan secara berulang-ulang oleh para awak rapa’i dalam jangka waktu yang lama menurut kesepakatan yang telah dibuat bersama diantara dua kelompok (kuru). Dalam pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee ada 10 turan-aturan yang ditetapkan pada pertunjukan Uroeh merupakan kesepakatan diantara kedua kelompok (kuru) sebelum pertunjukan berlangsung atau pada saat proses latihan.Kata Kunci: motif Rapa’i Pasee, Uroeh dan Kuru.
ANALISIS STRUKTUR GERAK TARI LANDOK SAMPOT DI DESA LAWE SAWAH KECAMATAN KLUET TIMUR KABUPATEN ACEH SELATAN Rayhana Rizha; Tri Supadmi; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang “Analisis Struktur Gerak Tari Landok Sampot di Desa Lawe Sawah Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan” ini mengangkat masalah tentang bagaimana analisis gerak tari Landok Sampot. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian adalah T Raja Amat dan Wahallem selaku seniman sekaligus pemimpin sanggar cahyo keluwat sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah tari Landok Sampot. Data diperoleh dengan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis struktur gerak tari Landok Sampot dapat di tinjau dari 2 aspek yaitu aspek sikap meliputi gerak kepala, gerak badan, gerak tangan, gerak kaki dan aspek gerak meliputi motif gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak. Tari Landok Sampot terdiri dari 6 babak yaitu jalan masuk berbaris,  salam main, landok kedayung, landok kedidi sembar, Landok Sampot, dan landok main pedang. Sedangkan tata hubungan yang terdapat didalamnya yaitu tata hubungan Hierarkis Gramatikal dimana didalamnya terdapat tata hubungan sintagmatis yang terdapat pada gugus ke 6 kalimat gerak ke 12 frase ke 47 dan motif ke 186-193. Sedangkan tata hubungan paradigmatis yang terdapat pada gugus ke 2 kalimat gerak ke 2 frase ke 6 dan motif ke 21-32 dapat di pertukarkan dengan gugus ke 4  kalimat ke 6 frase ke 34 dan motif ke 135-137.Kata Kunci: Tari Landok Sampot, Analisis, Struktur
BENTUK PENYAJIAN PERTUNJUKAN MUSIK KOMUNITAS PERKUSI BARANG BEKAS (KOPER B'KAS) FAKULTAS TEKNIK UNSYIAH Cut Anzar Syarif; Ismawan Ismawan; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Bentuk Penyajian Pertunjukan Musik Perkusi Barang Bekas (Koper B’kas) Fakultas Teknik Unsyiah”. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian pertunjukan musik Koper B’kas Fakultas Teknik Unsyiah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian pertunjukan musik Koper B’kas Fakultas Teknik Unsyiah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penedekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah ketua Koper B’kas, objek penelitian ini yaitu Bascamp Koper B’kas Fakultas Teknik Unsyiah. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi untuk memperoleh gamabaran yang jelas mengenai hal yang di teliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyelidiki benda-benda untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa Koper B’kas merupakan suatu komunitas musik perkusi yang menggunakan alat musik perkusi dari barang bekas. Dalam hal pertunjukannya, Koper B’kas tidak hanya menampilkan pertunjukan musik perkusi saja, namun ada penambahan aksi-aksi gerakan seperti gerakan melingkar, gerakan perubahan formasi dan ada juga ditambah dengan aksi seperti pantonim yang sudah disesuaikan dengan tema pertunjukannya. Koper B’kas sering juga berkolaborasi dengan group band yang menggunakan alat musik modern dan selain itu Koper B’kas juga pernah menjadi musik pengiring dari sebuah pertunjukan tari.Kata Kunci: bentuk penyajian, Komunitas Perkusi Barang Bekas (Koper B’kas)

Page 1 of 1 | Total Record : 10