cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2019): MEI" : 10 Documents clear
TANTANGAN POPULARITAS MUSIK ACEH DALAM INDUSTRI MUSIK NASIONAL Odi Iswanda; Ari Palawi; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Tantangan Popularitas Musik Aceh dalam Industri Musik Nasional. Penelitian ini mengangkat masalah tentang apa saja hambatan musik populer Aceh menuju industri musik nasional, bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja hambatan musik populer Aceh menuju industri musik nasional. Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pemilik dan produser Kasga Record, produser IMM Production, band-band terkenal di Aceh dan seniman-seniman Aceh. Penelitian ini dilakukan di Banda Aceh. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa musik industri pertama kali berkembang di Aceh yaitu pada tahun 80-an yaitu dimana pada era itu Abu Bakar AR mengeluarkan album Jen Jen Jok setelah album itu beredar dan diterima di pasar Aceh, selanjutnya lahirlah musik-musik sejenis yang diindustrikan. Namun pada era (90-an) mulai masuklah musik etnis kolaborasi moderan yang mana musik Aceh ini memperkuat tradisi sehingga masyarakat juga tidak kehilangan musik tradisi. Kemudian masuk kembali musik moderen, namun tidak meninggalkan musik tradisi. Banyak band yang beraliran moderen namun banyak juga band etnis kolaborasi moderen. Band-band/musisi setelah terkenal di daerah, mereka pun ingin lebih populer dan ingin beranjak menuju nasional. Kebdala-kendala dan hambatan-hambatan menuju kesuksesan pun harus mereka lalui dan mereka jalani, untuk menjadi sukses harus mempunyai kualitas yang terbaik dan mempunyai karakter musik yang kuat sehingga tidak kalah bagus dibandingkan band-band ternama Indonesia. Kualitas musik mereka pun harus ditingkatkan sehingga lebel-lebel ternama nasional tertarik. Terdapat 2 tahapan kendala yang harus dilalui yaitu 1) Hambatan non musikal yaitu  hambatan kerja sama, hambatan dalam bidang produksi, hambatan dalam bidang persaingan, hambatan dalam bidang artistik dan hambatan dalam bidang fasilitas. 2) Hambatan musikal dimana menunjukan kualitas dan kuantitas yang musik telah diciptakan.Kata kunci: tantangan, popularitas musik Aceh, industri musik
ANALISIS STRUKTUR GERAK SEUDATI DI ACEH Iqbal Fahreza; Tri Supadmi; Ari Palawi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Analisis Struktur Gerak Seudati Aceh”. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana struktur gerak tari Seudati di Aceh. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripiskan bagaimana struktur gerak tari Seudati Aceh. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif dengan Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah syeh dan penari Seudati di Aceh, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah tari Seudati. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur gerak tari Seudati dapat ditinjau dari dua aspek yaitu tari Seudati berdasarkan unsur sikap dan unsur meliputi gerak kepala, gerak badan, gerak tangan dan gerak kaki dan tari Seudati berdasarkan unsur gerak meliputi motif gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak. Tari Seudati terdiri dari delapan babak yaitu babak saleum syahi, babak saleum rakan, babak bak saman, babak likok, babak saman, babak kisah, cahi panyang, dan babak lani atau ekstra. Sedangkan tata hubungan yang terdapat di dalamnya yaitu tata hubungan Hierarkis Gramatikal dimana di dalamnya terdapat tata hubungan Sintagmatis dan Tata Hubungan Paradigmatis.Kata Kunci: tata hubungan, tari Seudati, analisis struktur.
ANALISIS STRUKTUR TARI ZAPIN TAMIANG DI SANGGAR LENGGANG MUDE COMMUNITY KECAMATAN KARANG BARU KABUPATEN ACEH TAMIANG Rosy Dea Fatanah; Tri Supadmi; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian Tentang “Analisis Struktur Gerak Tari Zapin Tamiang di Sanggar Lenggang Mude Community Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang”. Penellitian ini Mengangkat masalah tentang bagaimana tata hubungan gerak tari Zapin dan apa saja elemen-elemen dasar gerak tari Zapin. Tujuan penelitan ini adalah untuk mendeskripsikan tata hubungan gerak tari Zapin dan mendeskripsikan elemen-elemen dasar gerak tari Zapin. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dengan subjek penelitian adalah analisis Struktur tari Zapin Tamiang dan objek penelitian Tari Zapin Tamiang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengolahan data dengan Reduksi data, Penyajian data, dan Verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Zapin ditarikan secara berkelompok yang menggambarkan kelincahan dan keramahan muda-mudi Aceh Tamiang yang memiliki sifat saling bekerja sama dan kompak dalam melakukan hal apapun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis struktur gerak tari Zapin dapat ditinjau dari 2 aspek yaitu unsur sikap dan unsur gerak yang berdasarkan  gerak kepala, gerak tangan, gerak Badan, dan gerak kaki dan meliputi berdasarkan unsur gerak meluputi gugus gerak, kalimat gerak, frase gerak dan motif gerak. Tari Zapin Tamiang terdiri dari 7 ragam gerak yaitu salam pembuka, songket melenggang, lenggang putar, gerak ukel, Tepuk serong kanan, lenggang angkat kaki, tepuk atas bawah. Tata hubungan yang terdapat di dalam tarian ini yaitu tata hubungan sintagmatis, dan memiliki elemen-elemen seperti sikap kepala, sikap badan, sikap tangan dan sikap kaki.Kata Kunci: tari, Zapin Tamiang, analisis, struktur
TRANSFORMASI TRADISI MEUDIKEE DALAM KONTEKS MASYARAKAT SAMALANGA KABUPATEN BIREUEN Lidia Fitri; Ramdiana Ramdiana; Rida Safuan Selian
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Transformasi tradisi Meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga di Kabupaten Bireuen”. Mengangkat masalah bagaimana tradisi Meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga di Kabupaten Bireuen dan bagaimana transformasi tradisi Meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga di Kabupaten Bireuen. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan tradisi Meudikee dalam kontes masyarakat Samalanga di Kabupaten Bireuen dan transformasi tradisi Meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga di Kabupaten Bireuen. Jenis pendekatan yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dan merujuk ke dalam jenis penelitian menggunakan metode deskriptif. Subjek penelitian ini ialah TPA Baburrisyad desa Mesjid Baro Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen, objek yang diteliti adalah menegenai tradisi Meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga Kabupaten Bireuen. Sumber data yaitu Tgk. Jamil sebagai pimpinan pesantren, Tgk. Maidi dan Ustazah Fakriah. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah mereduksi data terlebih dahulu kemudian penyajian data dalam bentuk uraian singkat selanjutnya verefikasi data atau penarikan kesimpulan dan menguji keabsahan data menggunakan metode triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan Meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga sebagai tradisi yang sangat sakral berisikan doa, shalawat sanjungan kepada nabi Muhammad SAW dalam memperingati hari kelahirannya dan tradisi Meudikee dalam masyarakat Samalanga di Kabupaten Bireuen mengalami perubahan yang signifikan terutama dari bentuk meliputi anggota, gerak, syair, properti dan kostum serta fungsinya telah menjadi seni pertunjukan sebagai hiburan tanpa mengubah fungsi utamanya yaitu sebagai tradisi maulid (memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW).Kata kunci: transformasi, tradisi, Meudikee
STRATEGI PEMBINAAN GITA SWARA TAMIANG DI KABUPATEN ACEH TAMIANG Shara Miranty; Tri Supadmi; Samsuri Samsuri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Strategi Pembinaan Gita Swara Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang”, dengan rumusan masalah bagaimanakah strategi pembinaan yang diterapkan pada komunitas paduan suara Gita Swara Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang? Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: untuk mendeskripsikan strategi pembinaan yang diterapkan pada komunitas paduan suara Gita Swara Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang. Penelitian ini dilakukan di komunitas Gita Swara Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian bersumber dari 30 peserta paduan suara dan seorang pembinanya. Dalam pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui adanya strategi pembinaan yang dilakukan oleh pembina pada kegiatan paduan suara Gita Swara Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang. Strategi itu dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk membina peserta didik dalam upaya pembinaan paduan suara dan prestasi yang diperoleh oleh komunitas paduan suara tersebut. Strategi pembinaan Gita Swara Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang secara umum terlihat pada tahun 2013 yang meliputi beberapa proses, seperti (1) perekrutan paduan suara, (2) strategi pembinaan paduan suara, (3) waktu dan tempat pelaksanaan pembinaan paduan suara, dan (4) strategi dalam mengatasi beberapa kendala yang sering terjadi. Sudah banyak perolehan prestasi yang diraih oleh paduan suara Gita Swara Tamiang baik nasional maupun internasional.Kata Kunci: strategi, pembinaan, paduan suara
BENTUK SENI PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI SANGGAR LESTARI BUDAYA KABUPATEN BENER MERIAH Lilik Safriana Aulia; Ari Palawi; Tri Supadmi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Bentuk Seni Pertunjukan Wayang Kulit di Sanggar Lestari Budaya Kabupaten Bener Meriah” ini mengangkat masalah bagaimana bentuk pertunjukan wayang kulit. Disanggar Setia Budaya Kabuten Bener Meriah pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif , dan jenes penelitiannya diskriptif, lokasi penelitian ini Disanggar Setia Budaya Kabuten Bener Meriah, dan penelitian ini yang menjadi informan yaitu Tupardi sebagai ketua sanggar Setia Budaya, Ujang sebagai wiyogo (pemusik) dalam pertunjukan wayang kulit , Sukinem selaku sindhen. Teknik penggumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian seni pertunjukan wayang kulit di sanggar lestari budaya, disajikan dalam beberapa acara adat seperti acara pernikahan, acara sunat rasul, memperingati hari-hari besar yaitu malam satu suro, malam syawal dan hari ulang tahun desa. Bentuk penyajian seni wayang kulit memilih unsur pendukung: pemusik, alat musik, kostum dan rias, lagu yang digunakan dalam seni pertunjukan wayang kulit yaitu: gendang, gong, kempul, Bonang, ktuk knong, saron penembung, saron barung, saron penerus, saron panacah, gambang kayu, pking, gender, slenthem,  busana yang digunakan oleh wiyogo (pemusik). Busana yang digunakan oleh dalang terdiri dari Blangkon, Baju jas berwarna hitam, kain sarung yang sudah dibuat menjadi rok agar mudah digunakan, kain panjang yang diikat di pinggang setelah memakai sarung, sedangkan busana yang digunakan oleh para pemusik adalah baju persatuan sanggar Lestari Budaya, dan blangkon. Sedangkan sindhen menggunakan pakaian biasa tanpa menggunakan kebaya, tatarias yang digunakan sangat sederhana. Musik yang digunakan adalah musik karawitan.Kata kunci: bentuk, seni pertunjukan, Wayang Kulit
KERAJINAN TAS ACEH DITINJAU DARI PERSPEKTIF INTRA ESTETIK DI ACEH UTARA Siti Nurhaliza; Rida Safuan Selian; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Kerajinan Tas Aceh Ditinjau dari Perspektif Intra Estetik di Aceh Utara”. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kerajinan tas Aceh ditinjau dari perspektif intra estetik di Aceh Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kerajinan tas Aceh ditinjau dari perspektif intra estetik. Pendekatan yang digunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian ini di rumah produksi kerajinan tas Aceh yang ada di Gampong Meunasah Aron Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara, subjek penelitian adalah pemilik dan beberapa pengrajin rumah produksi kerajinan tas Aceh dan objek penelitian adalah bentuk, motif dan warna pada kerajinan tas Aceh. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan data reduction, data display dan kesimpulan serta mengecek keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk kerajinan tas memiliki 4 bentuk diantaranya yaitu kotak, persegi panjang, bulat dan oval. Bentuk kotak terdiri dari tas tiara, tas hantaran, tas golf kulit, tas golf, tas luna, tas ransel cewek dan tas eumpang. Bentuk persegi panjang terdiri dari tas guci, dan tas dompet. Pada bentuk bulat terdiri dari tas rotan serta bentuk oval terdiri dari tas ransel. Pada tas ransel, tas selempang dan tas jinjing terdapat 11 motif yaitu Pinto Aceh, Bungong Meucanek, Pucok Bungong, Angka Lapan, Angka Nam, Kacang Goreng, Angka siploh, Taloe Ie, Awan Bungong, Bungong Ek Leuk, Bungong Lawang. Pada tas ransel terdapat motif Pinto Aceh, Bungong Meucanek, Pucok Bungong, Angka Lapan, Angka Nam, Kacang Goreng, Bungong Lawang, Taloe Ie, dan Angka Siploh. Warna yang terdapat pada kerajinan tas Aceh yaitu kuning, merah, hijau, hitam dan biru.Kata Kunci: kerajinan, perspektif, intra estetik
PERTUNJUKAN RAPA¬’I BUBÈE DI KABUPATEN PIDIE JAYA Nurul Afni; Cut Zuriana; Samsuri Samsuri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul “Pertunjukan Rapa-i Bubèe di Kabupaten Pidie Jaya”. Mengangkat masalah tentang sejarah Rapa-i Bubèe dan bentuk pertunjukan Rapa-i Bubèe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sejarah Rapa-i Bubèe dan bentuk pertunjukan Rapa-i Bubèe. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Rapa-i Bubèe adalah kesenian tradisi yang berasal dari Gampong Mee Pangwa kecamatan Trienggadeng kabupaten Pidie Jaya yang telah ada sekitar 150 tahun yang lalu oleh almarhum Abu Mukim. Rapa-i Bubèe diangkat dari aktivitas masyarakat menggunakan Rapa-i baik pada acara pelepasan nazar, acara sunatan, dan acara perkawinan. Dalam penyajian pertunjukan Rapa-i Bubèe dimainkan dengan jumlah minimal 13 orang dan maksimal 21 orang. Pemain terdiri dari 14 penabuh Rapa-i, 1 orang khalifah, 1 orang Syeh dan 2 hingga 5 orang pemain Bubèe. Pertunjukan Rapa-i Bubèe terdiri dari tiga tahap yaitu lagè, Bala Pari dan Tingkah Lhèe. Gerakan pada pertunjukan Rapa-i Bubèe adalah gerakan bebas yang tidak berpaku pada hitungan. Pertunjukan ini diiringi dengan syair bahasa Aceh dan alat musik Rapa-i. Busana dibedakan antara khalifah, pemain Rapa-i dan pemain Bubèe terdiri dari baju kemeja Aceh, celana panjang dan peci. Rapa-i Bubèe ditampilkan pada acara perkawinan, 17 Agustus tingkat kecamatan sebagai hiburan dan penampilan pada acara kesenian sebagai persembahan dari kabupaten Pidie Jaya yang dipentaskan di luar atau di dalam gedung.Kata Kunci: sejarah, bentuk, pertunjukan, Rapa-i Bubèe
KAJIAN KOREOGRAFI TARI KREASI PANEN LAWANG DI SANGGAR DANCE KILOMETER NOL KOTA SABANG Yulia Syahdanir; Ari Palawi; Tengku Supadmi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Kajian Koreografi Tari Kreasi Panen Lawang di sanggar Dance Kilometer Nol Kota Sabang” Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana koreografi tari kreasi Panen Lawang di sanggar Dance Kilometer Nol, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan koreografi tari kreasi Panen Lawang di sanggar Dance Kilometer Nol. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah koreografer atau pencipta tari Panen Lawang, yang menjadi objek penelitian yaitu koreografi tari Panen Lawang. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan gambar-gambar untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Teknik analisis data yang dilakukan dengan reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi data (conclusion drawing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Panen Lawang adalah tari kreasi baru yang diciptakan oleh M. Deni Gunawan, gerak pada tari Panen Lawang ini merupakan gerak pada kebiasaan masyarakat dalam aktivitas memanen cengkeh, pada awal penciptaan tari Panen Lawang koreografer terlebih dahulu menentukan tema dasar sebelum melakukan proses penggarapan sehingga terciptalah sebuah karya yang baik. Sebuah karya tari yang diciptakan harus melalui beberapa tahap yang dimulai dari tahap eksplorasi gerak/pencarian gerak, improvisasi dan komposisi tari yang akan digarap. Tari Panen Lawang memiliki pola lantai pada setiap pertunjukkannya, iringan musik pada tari Panen Lawang sangat berperan penting sebagai musik pengiring dan penuntun gerak lainnya. Tata busana tari Panen Lawang disesuaikan dengan tema tari, dalam hal ini koreografer menggunakan baju yang telah dikreasikan dengan nuansa coklat seperti cengkeh itu sendiri. Tata rias tari Panen Lawang sendiri merupakan rias cantik namun tetap sederhana, sehingga sesuai dengan tema dan karakter seorang petani cengkeh.Kata Kunci: tari Panen Lawang, kajian koreografi
MEUREUKON DI KABUPATEN PIDIE JAYA Fitria Fitria; Ramdiana Ramdiana; Ismawan Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Mereukon di Kabupaten Pidie Jaya” ini mengangkat masalah nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang terkandung dalam Meureukon di Kabupaten Pidie Jaya, apakah fungsi Meureukon di dalam kehidupan bermasyarakat Kabupaten Pidie Jaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dan fungsi terkandung dalam Meureukon di Kabupaten Pidie Jaya. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini ialah pendekaan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara mendalam tentang Mereukon di kabupaten Pidie Jaya. Subjek Penelitian ini adalah komunitas Jamaatul Fata Kabupaten Pidie Jaya, sedangkan objek yang akan diteliti mengenai nilai-nilai pendidikan yang terkadung Meurukon di Kabupaten Pidie Jaya dan fungsi Meureukon di dalam kehidupan bermasyarakat Kabupaten Pidie Jaya. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah dengan mereduksi data terlebih dahulu kemudian menyajikannya dalam bentuk uraian singkat dan akhirnya dilakukan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Meureukon adalah salah satu tradisi masyarakat Pidie Jaya, Meureukon merupakan sebuah media pembelajaran agama atau media dakwah karena syair-syairnya membahas tentang pengetahuan agama. Meureukon bukan hanya kegiatan berkumpul atau tempat belajar agama, namun di dalam Meureukon terkandung nilai-nilai pendidikan yang bersifat religius, kebersamaan, sosial dan estetis serta memiliki fungsi antara lain sebagai sarana upacara adat istiadat, sebagai sarana komunikasi, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana pendidikan, sebagai sarana ekspresi dan pengembangan diri.Kata Kunci: nilai-nilai pendidikan, Meureukon

Page 1 of 1 | Total Record : 10