cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI" : 5 Documents clear
IMPLEMENTASI MODEL PAKEM DALAM PEMBELAJARAN TARI LIKOK PULO DI MTsN 1 BIREUEN Cut Musliana; Cut Zuriana; Ahmad Syai
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan judul Implementasi Model PAKEM dalam Pembelajaran Tari Likok Pulo di MTsN 1 Bireuen mengangkat masalah bagaimana perencanaan Model PAKEM dalam pembelajaran tari Likok Pulo di MTsN 1 Bireuen, pelaksanaan Model PAKEM dalam pembelajaran tari Likok Pulo di MTsN 1 Bireuen, evaluasi dan hasil pembelajaran tari LIkok Pulo dengan menggunakan model PAKEM di MTsN 1 Bireuen dan hambatan-hambatan dalam pembelajaran tari Likok Pulo dengan menggunakan model PAKEM dan cara mengatasinya. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan implementasi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam pembelajaran tari Likok Pulo serta mengetahui hambatan-hambatan dalam pembelajaran dan cara mengatasinya.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Narasumber dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, siswa. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perencanaan pembelajaran disiapkan oleh guru. Pelaksanaan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yaitu mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Evaluasi dilakukan dalam bentuk tertulis dan praktek. Aspek penilaian praktik meliputi aspek wiraga, wirama, wirasa, dan wirupa. Hambatan yang dihadapi adalah kurangnya minat siswa laki-laki, kemampuan guru terbatas, fasilitas masih kurang terutama belum ada kaca di ruang kesenian. Pihak sekolah berusaha mengalokasikan dana dengan meminta guru untuk membuat anggaran. Pengawasan guru terhadap siswa masih kurang. Perlu adanya pelatihan untuk guru agar meningkatkan kualitas mengajar.Kata Kunci: Implementasi, Pembelajaran, PAKEM, Tari Likok Pulo
CANANG KAYU DI KABUPATEN ACEH SINGKIL Hamdani Hamdani; Ahmad Syai; Ismawan Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul “Canang Kayu di Kabupaten Aceh Singkil”, mengangkat masalah tentang bagaimana sejarah, proses pembuatan, dan teknik permainan dari alat musik Canang Kayu di Kabupaten Aceh Singkil. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah alat musik Canang Kayu itu sendiri sebagai subjek utama, kemudian tokoh adat/seniman, dan budayawan yang ada di Aceh Singkil. Sedangkan objek dalam penelitian ini yaitu meliputi sejarah, proses pembuatan, dan teknik permainan yang ada pada alat musik tradisional Canang Kayu. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi partisipan, teknik wawancara tidak terstruktur, dan teknik dokumentasi. Analisis data menggunakan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, sejarah awal dari diciptakannya alat musik Canang Kayu adalah untuk hiburan pada waktu senggang ketika saat istirahat setelah bertani padi dimana perkembangan dari awal diciptakan sampai sekarang tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Kedua, proses pembuatan alat musik Canang Kayu meliputi pemilihan bahan dasar yang menggunakan kayu cuping-cuping, teknik pemotongan, teknik pembentukan, dan teknik finishing. Selanjutnya teknik permainan pada alat musik Canang Kayu meliputi posisi badan tegak dengan duduk bersila di atas tanah/lantai, lalu posisi tangan kanan dan kiri memegang stick pemukul, dan teknik pukulan menggunakan pola irama tertentu yang beragam tergantung pada saat kapan atau pada acara apa Canang Kayu itu dimainkan. Susunan konstruksi dari alat musik Canang Kayu dapat dikatakan sepenuhnya berbahan kayu yang terdiri dari bilah canang, kotak resonator, dan stick pemukul.Kata Kunci: musik, alat musik tradisional, canang kayu.
PERKEMBANGAN MOTIF PADA BAJU PENGANTIN DI MEULABOH KABUPATEN ACEH BARAT Marliza Fadzila; Rida Safuan Selian; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Perkembangan Motif pada Baju Pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat”. Mengangkat masalah perkembangan motif pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat pasca Tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan motif pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat pasca Tsunami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara. Subjek penelitian ini adalah Syarifah Hennizar selaku pemiliki Cut Aja Wedding dan Rina selaku pemiliki Rina Queenna, objek penelitian ini adalah baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa perkembangan motif pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat pasca Tsunami, merupakan salah satu bukti nyata bahwa perkembangan yang terjadi pada motif baju pengantin di Meulaboh dapat dilihat dari tampilan motif yang berbeda seperti penambahan motif pada motif yang sudah ada, hal ini dapat kita lihat pada motif pinto aceh, yang mana terdapat beberapa bagian pada motif pinto aceh yang ditambahkan motif baru untuk memperindah motif pinto aceh yang sudah ada, seperti penambahan ukiran daun maupun ukiran batang. Masyarakat sekitar tidak mempermasalahkan perkembangan yang terjadi pada motif yang terdapat pada baju pengantin, hal ini dikarenakan tidak terdapatnya motif-motif yang memilliki arti negatif. Motif itu sendiri merupakan identitas suatu masyarakat sehingga adanya motif sangat penting untuk diterapkan pada baju pengantin. Namun saya berharap agar motif-motif yang sudah ada seperti pinto aceh, uke bate, pucok reubong dan motif Aceh yang lain tetap diterapkan pada baju pengantin di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, meskipun nantinya ada penambahan motif ragam hias pada motif-motif Aceh tersebut.Kata Kunci: perkembangan, motif, baju pengantin, pasca Tsunami.
PEMBELAJARAN SENI RUPA PADA SANGGAR APOTEK WAREUNA Nailul Ullya; Ismawan Ismawan; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Pembelajaran Seni Rupa pada Sanggar Apotek Wareuna”. Mengangkat masalah bagaimana pembelajaran pada sanggar Apotek Wareuna dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan sanggar Apotek Wareuna bertahan hingga sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran seni rupa pada sanggar Apotek Wareuna dan untuk mendeskripsikan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan sanggar Apotek Wareuna bertahan hingga sekarang. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini ialah seluruh pengajar pada sanggar Apotek Wareuna dan peserta didik yang ikut serta dalam pembelajaran seni rupa pada sanggar Apotek Wareuna. Objek pada penelitian ini adalah pembelajaran seni rupa pada sanggar Apotek Wareuna. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran seni rupa pada sanggar Apotek Wareuna berlangsung melalui beberapa bagian yaitu kegiatan awal dimana peserta didik menyiapkan alat dan bahan, kegiatan inti peserta didik memilih bahan/karya yang akan dibuat, evaluasi dan penutup yang merupakan tahap akhir pengajar menilai karya yang telah dibuat oleh peserta didik. Pada kegiatan pembelajaran, pengajar menggunakan metode ceramah diawal pembelajaran, metode demonstrasi pengajar memberikan contoh kepada peserta didik dan metode latihan praktik peserta didik membuat sebuah karya secara utuh. Media yang digunakan berupa media visual, audio visual dan benda tiruan. Faktor yang mempengaruhi sanggar Apotek Wareuna tetap bertahan hingga sekarang terbagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi: tenaga pengajar, yang berasal dari dunia pendidikan dan praktisi, peserta didik dari berbagai kalangan seperti anak sekolah dan mahasiswa, Materi pembelajaran yang telah direncanakan, bakat dari dalam diri peserta didik, minat dan perhatian peserta didik dalam belajar, dan motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Faktor eksternal meliputi: keadaan keluarga yang mendukung peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, lingkungan belajar yang memanfaatkan lingkungan sekitar dan lingkungan masyarakat yang menyambut dengan baik kegiatan pada sanggar Apotek Wareuna.Kata kunci: pembelajaran, seni rupa, faktor sanggar bertahan.
MAKNA PELAMINAN KAMAR PENGANTIN SUKU ANEUK JAMEE DI KECAMATAN TAPAKTUAN Ardilla Septiana; Ramdiana Ramdiana; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Makna Pelaminan Kamar Pengantin Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan, mengankat masalah bagaimana fungsi dan makna simbolik pelaminan kamar pengantin suku Anauk Jamee. Tujuan penelitian yaitu untuk   mendeskripsikan fungsi dan makna simbolik pelaminan kamar pengantin suku Aneuk   Jamee di kecamatan Tapaktuan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan Semiotika, jenis penelitian ini yaitu deskriptif. Subjek penelitian ini ialah suku Aneuk Jamee dan objek penelitian ialah kamar pengantin suku Aneuk Jamee. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, fungsi keseluruhan dari pelaminan kamar pengantin ialah tempat pelaksanaan ritual adat pernikahan suku Aneuk Jamee dan di kamar itulah mempelai wanita akan melepaskan keperwanannya untuk dipersembahkan kepada sang suami. Makna simbolik yang terdapat di pelaminan kamar pengantin suku Aneuk Jamee di kecamatan Tapaktuan ialah (1) Labah Mangirok (lebah hinggap) yang bermaknakan seorang raja dan rakyat yang saling tolong-menolong, (2) Banta Gadang Tagak (bantal besar berdiri) bermaknakan seorang perempuan yang akan melahirkan keturunan, (3) Meracu dan Tapak diibaratkan seorang raja dan ratu, (4) Kipas Berwarna Warni yang memiliki tiga warna yaitu kuning, merah, dan hijau, (5) Banta Basusun (bantal bersusun) bermakna empat pihak delapan kaum, (6) Tilam Pandak adalah tempat duduk pengantin yang diumpamakan sebagai singgasana kehormatan untuk pengantin yang disandingkan di pelaminan, (7) Renda Putih yang bermaknakan suatu kesucian, (8) Langik-langik (langit-langit), (9) Buah Butun Kuning di Bangku yang berjumlah lima ruas mengartikan rukun islam ada lima perkara, (10) Pancuang Soa Kelambu (kelambu tujuh lapis) bagian utama yang terdapat pada pelaminan kamar pengantin, Bii (kening kelambu) maknanya kesucian hati suami istri dalam menjalankan bahtera rumah tangga, (11) Seprai Berlapis Tujuh, (12) Sampang Kain berfungsi tempat penyampangan kain yang dibawa oleh mempelai laki-laki, (13) Tikar Jajakan. Selain itu properti yang juga terdapat di kamar pengantin yaitu Ceurano (tempat sirih), Tuduang saji (tudung saji). Pelaminan Kamar Pengantin Suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan hanya dapat digunakan oleh perempuan yang bisa menjaga kehormatannya.Kata Kunci: Fungsi, makna simbolik, pelaminan kamar pengantin, Suku Aneuk Jame

Page 1 of 1 | Total Record : 5