cover
Contact Name
Indrya Mulyaningsih
Contact Email
indrya@syekhnurjati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indrya@syekhnurjati.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Language Education and Literature
ISSN : -     EISSN : 25022261     DOI : -
Indonesian Language Education and Literature is a journal of research publication. The scopes of this research are Indonesian language and literature teaching, either as the first, second, or foreign language. The research can be conducted in elementary schools, junior high schools, senior high schools, and / or university. The journal is regularly published on July and December in collaboration with the cooperation Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) or The Association of Indonesian Language and Literature Lecturers and Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) or The association of Indonesian Language and Literature Study Program.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2017)" : 10 Documents clear
PENINGKATAN KESADARAN MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA MELALUI PENDEKATAN HYPNOTEACHING Mohammad Ali Zahidin; Hikmah Uswatun Ummi; Nina Nurfiana; Emah Khuzaemah
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.336 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.2088

Abstract

Kebiasaan membuang sampah sembarangan ini jika dibiarkan akan menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan yang berbahaya bagi masyarakat Indonesia. Perlu ada solusi untuk mengatasi masalah ini. Agar bahaya sampah tidak berhenti pada buku teks pelajaran, guru sebagai pengelola pembelajaran harus mampu mengemas pembelajaran agar anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa Indonesia mempunyai kompetensi yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Penelitian ini dilakukan di kelas 3 SDN 1 Serang. Penggunaan teknik Hypnoteaching dalam mendongeng memengarungi tingkat kesadaran pada siswa. Penyampaian dongeng dengan menggunakan media yang bervariasi juga dapat memengaruhi daya tangkap siswa dalam memahami dongeng tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa (1) pada prasiklus dari 26 siswa hanya 19,23% siswa yang membuang sampah pada tempatnya. Artinya hanya 5 siswa yang membuang sampah dengan benar; (2) pada siklus pertama 61,54% siswa sudah membuang sampah pada tempat sampah, artinya 16 siswa membuang sampah pada tempatnya; (3) pada siklus kedua 92,31% siswa sudah membuang sampah pada tempatnya, sedangkan 7,69% atau 2 siswa yang masih membuang sampah sembarangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan hypnoteaching dengan metode mendongeng mampu meningkatan kesadaran siswa dalam membuang sampah pada tempatnya sebesar. This habit of littering if left unchecked will cause health and environmental problems that are harmful to the people of Indonesia. There needs to be a solution to solve this problem. In order not to stop the garbage hazard on textbooks, teachers as learning managers should be able to package the learning so that children as future generations of the Indonesian nation have competencies that match what is expected. This research was conducted in grade 3 SDN 1 Serang. The use of Hypnoteaching techniques in storytelling underlines the level of awareness among students. Submission of fairy tales by using varied media can also affect the ability of students to understand the fairy tale. The results showed that (1) in precycle of 26 students only 19.23% of students dumped the garbage in its place. This means that only 5 students throw garbage properly; (2) in the first cycle 61.54% of the students have already dumped the garbage in the trash, meaning that 16 students throw the garbage in its place; (3) in the second cycle 92,31% of students already throw garbage in place, whereas 7,69% or 2 students still throw garbage carelessly. Thus it can be concluded that through hypnoteaching approach with storytelling method can increase the awareness of students in disposing of waste in its place of equal.
POLA PENALARAN DALAM KARANGAN ARGUMENTASI PADA SISWA TAHAP OPERASI FORMAL Ulfah Mey Lida; Ida Zulaeha
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.859 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1570

Abstract

Penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah simpulan. Tujuan penelitian ini dalah untuk menemukan dan mendeskripsikan pola argumen dalam karangan argumentasi siswa tahap operasi formal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan model analisis dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini yaitu pola penalaran argumen siswa tahap operasi formal terdiri atas lima pola penalaran argumen dengan beberapa variasi bentukan. Pola yang digunakan siswa tahap operasi formal tidak terpaku pada jenjang sekolah. Pola yang paling sederhana, yakni pola (C-G) ternyata masih digunakan oleh siswa tahap operasi formal jenjang SMA. Begitu pula pada pola yang paling kompleks, yakni pola (C-G-W-B-MQ-PR) ternyata sudah mulai digunakan oleh siswa tahap operasi formal awal yaitu jenjang SMP. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa pada tahap operasi formal, daya pikir siswa sudah sangat kreatif dan variatif. Reasoning is a systematic and logical process of thinking to derive a conclusion. The purpose of this study is to find and describe the pattern of arguments in the student's argumentation of the formal operation phase. This research is a qualitative research with analysis model from Miles and Huberman. The result of this research is the reasoning pattern of students' argument of formal operation stage consists of five argument reasoning pattern with some formation variation. The pattern used by students in the formal operation phase is glued to the school level. The simplest pattern, while the pattern (C-G) was still used by students of the formal operation stage of senior high school. Similarly, in the most complex pattern, the pattern (C-G-W-B-MQ-PR) was already started to be used by the students of the formal operation phase of junior high school. These findings indicate that in the formal operation phase, students' thinking power has been very creative and varied.
KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN DARING DALAM PERKULIAHAN BAHASA INDONESIA DI PERGURUAN TINGGI Eko Kuntarto
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.709 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1820

Abstract

Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kini pendekatan pembelajaran telah berubah ke arah pembelajaran abad pengetahuan. Orang dapat belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Itulah ciri pembelajaran abad pengetahuan yang dikenal sebagai berbasis komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran daring atau Online Learning Model (OLM), sekaligus menerapkannya untuk meningkatkan keefektifan perkuliahan Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Pengembangan OLM menggunakan teknik Online Interactive Learning Model (OILM) dengan memanfaatkan media sosial berbasis internet serta telepon seluler atau ponsel sebagai sarananya. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa program S-1 peserta mata kuliah wajib umum Bahasa Indonesia di tiga fakultas, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), dan Fakultas Kedokteran (FK). Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran atau mix methods. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, angket, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) OILM efektif digunakan dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di program S-1; (2) model pembelajaran telah mampu meningkatkan penyerapan mahasiswa terhadap materi kuliah, dengan peningkatan mencapai lebih dari 81% dibandingkan dengan hanya menggunakan model pembelajaran tatap-muka; (3) berdasarkan hasil kuesioner, subjek berpendapat bahwa OLM telah memberikan sebuah pengalaman baru yang lebih menantang daripada model pembelajaran konvensional atau tatap-muka.In line with advances in information and communication technology, learning approaches have now shifted toward the learning of the century of knowledge. People can learn anywhere, anytime, with anyone. That is the hallmark of learning the century of knowledge known as computer-based. This study aims to develop online learning model (OLM), as well as apply it to improve the effectiveness of Indonesian language courses in Higher Education. OLM development uses the technique of Online Interactive Learning Model (OILM) by utilizing internet-based social media as well as mobile phone or mobile phone as its ingredients. The subjects of this research are the students of the S-1 program of the compulsory subjects of Bahasa Indonesia in three faculties, namely Faculty of Teacher Training and Education (FKIP), Faculty of Science and Technology (FST), and Faculty of Medicine (FK). This research uses the mixed approach or mix methods. Data were collected using questionnaires, questionnaires, and tests. The results of this study show: (1) OILM is effectively used in Indonesian language courses in S-1 programs; (2) the learning model has been able to increase the students' absorption of the lecture material, with an increase of more than 81% compared to using only face-to-face learning model; (3) based on the results of the questionnaire, the subject argues that OLM has provided a more challenging new experience than the conventional or face-to-face learning model.
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DI PONDOK PESANTREN MAHASISWA DARUSSALAM Dwi Kurniasih; Siti Aminataz Zuhriyah
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.274 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1521

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk alih kode dan campur kode serta faktor-faktor penyebab terjadinya kedua peristiwa kebahasaan tersebut. Data ini diperoleh dari tuturan santri yang berada di Pondok Pesantren Mahasiswa Darussalam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi langsung dalam mengumpulkan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam perkacapan santri Pondok Pesantren Darussalam terjadi campur kode dan alih kode berupa bahasa Jawa dan bahasa Indonesia karena ketidakefektifan penggunaan bahasa asing oleh santri. Aims the research to describe the forms of code mix and code transfer and the factors that cause the occurrence of these two linguistic events. This data is obtained from the speech of students at the Pondok Pesantren Mahasiswa Darussalam. The method used in this research is descriptive qualitative method. Descriptive method is a research method that tries to describe and interpret the object in accordance with the actual situation. This research also uses direct observation method in collecting data. The results of this study indicate that in the congregation santri Pondok Pesantren Darussalam mixed code and code transfer of Javanese and Indonesian language because the use foreign language by students is not effective.
STUDENTS RECEPTION TOWARD “CINTA SUCI ZAHRANA” NOVEL BY HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY Ira Yuniati; Yumna Rasyid; Emzir Emzir
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.55 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1461

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan resepsi siswa kelas XI IPS 1 SMAN 6 Kabupaten Bengkulu Tengah terhadap novel Cinta Suci Zahrana karya Habiburrahman El Shirazy. Resepsi siswa tersebut mencakup: (1) respon yang berkaitan dengan struktur novel dan (2) efek komunikatif yang diperoleh siswa. Data penelitian kualitatif ini diperoleh melalui angket terbuka, wawancara, dan diskusi kelompok fokus. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara: memberikan novel kepada siswa untuk dibaca dan dipahami, menyebarkan angket dan selanjutnya melakukan wawancara, mengumpulkan data, mengklasifikasikan data, serta menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini cocok dibaca oleh kalangan remaja terutama anak SMA karena mampu memotivasi menjadi orang yang lebih baik lagi serta gigih dalam meraih cita-cita yang diharapkan. Novel ini dapat menginspirasi siswa SMA untuk menulis sebuah cerita.The purpose of this study was to describe the reception of class XI IPS 1 SMAN 6 Kabupaten Bengkulu Tengah toward the novel of Love of Zahrana by Habiburrahman El Shirazy. Student receptions include (1) responses related to the novel structure and (2) the communicative effects that students gain. This qualitative research data was obtained through open questionnaires, interviews, and focus group discussions. Data collection procedure is done by a novel to students to read and understood, spread the questionnaire and then do the interview, collect data, classify data, and analyze data. The results showed that the novel is suitable to read by teenagers, especially high school children because it is able to motivate to be a better person and persistent in achieving the ideals that are expected. This novel can inspire high school students to write or write a story.
STRUCTURE OF SUNDA IN TANGERANG REGENCY AND THE TERRITORY OF USE Agus Sulaeman
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.165 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1555

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahasa-bahasa yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang. Data berupa bahasa yang digunakan di Kabupaten Tangerang. Data berasal dari bahasa lisan. Penentuan daerah berdasarkan arah angin dan ditambah bagian tengah. Penentuan desa dilakukan secara acak berdasarkan penggunaan berbagai bahasa sehingga diperoleh sampel dari dialek Kabupaten Sunda Banten. Mengingat keterbatasan ruang dan waktu, desa yang menjadi objek pengamatan diambil dari dua kecamatan. Adapun informan penelitian ini (1) penutur asli bahasa yang diteliti; (2) tidak memiliki kelainan dalam pelafalan, dan (3) memiliki daya ingat yang baik. Data pada setiap desa diperoleh dari dua informan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Data direkam, disimak, dan dicatat. Hal ini untuk melengkapi data yang sudah terkumpul. Analisis data menggunakan metode padan dan agih dengan berbagai teknik yang disesuaikan karakter data yang diperoleh dan tujuan penelitian. Selanjutnya, kerja analisis adalah membandingkan antar-unsur linguistik Sunda Kabupaten Tangerang. Perbedaan itu, meliputi: fonetik, morfologi, sintaksis, kosakata, dan tingkat bicara. This study aims to explain the languages that are in the area of Tangerang Regency. Data in the form of language used in Tangerang District. Data comes from spoken language. Determination of the area based on wind direction and added to the center. Village determination was done randomly based on the use of various languages so that samples obtained from the dialect of the Regency of Sunda Banten. Given the limitations of space and time, the village that became the object of observation was taken from two districts. The informants of this study (1) native speakers of the language under study; (2) have no abnormalities in pronunciation, and (3) has a good memory. The data in each village was obtained from two informants. Data collection was done by interview method. Data is recorded, recorded, and recorded. This is to complete the data that has been collected. Data analysis using the method of padan and agih with various techniques that adjusted the character of the data obtained and research purposes. Furthermore, the analytical work is to compare the linguistic elements of the Sundanese of Tangerang Regency. These differences include phonetics, morphology, syntax, vocabulary, and speech levels.
PEMBELAJARAN APRESIASI CERITA RAKYAT BERMEDIA WAYANG KANCIL Edy Suryanto; Budi Waluyo
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.626 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kebutuhan pendidikan karakter dalam pembelajaran apresiasi cerita rakyat; (2) mengkaji nilai-nilai cerita rakyat sebagai materi ajar; dan (3) membuat prototipe model pendidikan karakter dalam pembelajaran apresiasi cerita rakyat. Penelitian deskriptif kualitatif tahun I ini menggunakan pendekatan R & D, yang dilaksanakan di 15 sekolah dasar mulai Mei-Oktober 2015. Subjek penelitian adalah siswa kelas V, guru kelas, dan pengambil kebijakan. Penentuan sampel secara stratified random sampling. Tempat dan peristiwa, informan, cerita rakyat, dan dokumen sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian: (1) analisis kebutuhan diidentifikasi atas: visi misi sekolah belum menjadi panduan budaya kerja; permasalahan siswa di kelas dipengaruhi kegiatan pembelajaran guru; pendidikan karakter dipengaruhi faktor pembinaan, keteladanan, model, dan pembiasaan; (2) materi ajar disusun berdasarkan tingkat keterbacaan dan daya pikir siswa; dan (3) model didesain melalui tahap pengorganisasian nilai-nilai, pengondisian pembelajaran, internalisasi nilai-nilai, dan pengembangan nilai-nilai. Pembelajaran apresiasi cerita rakyat menggunakan media wayang kancil sangat menarik dan menyenangkan sebagai model pendidikan karakter di sekolah dasar. This study aims: (1) analyzing the character education needs in learning the appreciation of folklore; (2) examine the folklore values as teaching materials; and (3) create a prototype character education model in learning the appreciation of folklore. This qualitative descriptive research in the first year is using R & D approach, which is implemented in 15 elementary schools from May to October 2015. Research subjects are the students of class V, classroom teachers, and policy makers. Determination of sample by stratified random sampling. Places and events, informants, folklore, and documents as a source of data. Data collection techniques through observation, interviews, and document analysis. Data analysis using interactive analysis techniques. Result of the research: (1) needs analysis identified on: vision of school mission not yet become guide of work culture; students' problems in the classroom are influenced by teacher learning activities; character education is influenced by coaching factors, modeling, modeling and habituation; (2) teaching materials are prepared based on the students' legibility and thinking level; and (3) models are designed through the stages of organizing values, conditioning learning, internalizing values, and developing values. learning the appreciation of folklore using Kancil wayang media is very interesting and fun as a model of character education in elementary school.
NILAI MORAL DALAM CERITA BABAD CIREBON: BERDASARKAN PENCERITAAN DI KERATON KANOMAN Nurhannah Widianti; Agus Nuryatin; Bambang Indiatmoko
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.686 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1571

Abstract

Babad Cirebon merupakan cerita legenda yang mengisahkan awal mula berdirinya Cirebon. Cerita tersebut diceritakan di Keraton Kanoman setiap 1 Muharam atau bertepatan dengan HUT Kota Cirebon. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pelestarian karena cerita babad Cirebon berperan penting sebagai sarana penggugah nilai-nilai moral yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Cerita ini dapat memberikan pelajaran mengenai berbagai nilai kebajikan. Hal itu dapat dibuktikan dari cerminan sikap yang ditunjukkan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai pendiri Cirebon. Dari hasil analisis yang menggunakan pendekatan struktural, cerita babad Cirebon memuat 8 nilai moral, yakni nilai tanggung jawab, kejujuran, toleransi, penghormatan, kerja keras, kasih sayang, religius, dan tolong-menolong. Babad Cirebon was a legend that told the beginning of the Cirebon establishment. The story was told in Kanoman every 1 Muharam or coincide on the Cirebon city anniversary. This was done as a preservation since the Babad Cirebon story was the crucial tool to appeal of moral values that today is needed by the local and society community in general. This story gave the lessons about the various virtues value. It can be proved from the reflection of the attitude that shown by Prince Walangsungsang as a founder of Cirebon. From the analysis used a structural approach, Babad Cirebon story that have been conveyed orally more than four decades contained 8 moral values such as the values of responsibility, honesty, tolerance, respect, hard work, compassion, religious, and mutual assistance.
SIKAP MAHASISWA TERHADAP BAHASA INDONESIA Indrya Mulyaningsih
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.749 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1525

Abstract

Banyak mahasiswa yang berusaha belajar bahasa Inggris. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap keberadaan bahasa Indonesia. Seiring berjalannya waktu, sangat mungkin jika bahasa Indonesia sudah jarang digunakan dan digantikan oleh bahasa asing. Penelitian ini dilakukan dari Mei sampai Oktober 2017. Adapun populasinya adalah seluruh mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Cirebon, baik bidang umum, agama, maritim, maupun kesehatan. Sampel penelitian adalah masing-masing satu kelas dari 38 perguruan tinggi yang ada di wilayah Cirebon. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa mahasiswa memiliki sikap bahasa yang baik. Hal ini dibuktikan dengan pemahaman akan kaidah bahasa Indonesia yang sudah baik juga. Demikian juga pada aspek afektif. Meskipun memelajari bahasa asing, mahasiswa tetap bangga dan menggunakan bahasa Indonesia. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kecenderungan sikap bahasa tersebut: 1) mahasiswa menyadari peran penting bahasa Indonesia dalam pendidikan, 2) mahasiswa lebih percaya diri jika berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, dan 3) mahasiswa yakin bahwa bahasa Indonesia akan tetap eksis karena banyaknya jumlah penggunanya. Many students are trying to learn English. This, of course, affects the existence of Indonesian language. As time passes, it is possible if the Indonesian language is rarely used and replaced by a foreign language. This research is conducted from May to October 2017. The population is all students of various universities in Cirebon, both general, religion, maritime, and health. The sample of research is each one class from 38 universities in Cirebon region. Based on data analysis it can be concluded that students have good language attitude. This is evidenced by the understanding of the Indonesian rules that have been good as well. Likewise on affective aspect. Despite learning foreign languages, students remain proud and speak Indonesian. The factors that cause the tendency of language attitude are: 1) the students realize the important role of Indonesian language in education, 2) the students are more confident when speaking in The Indonesian language, and 3) the students are convinced that The Indonesian language will still exist because of the large number of users.
JEJAK KEKERASAN PADA NOVEL "TARIAN BUMI" KARYA OKA RUSMINI Novi Diah Haryanti
Indonesian Language Education and Literature Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.332 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v3i1.1379

Abstract

Tarian Bumi (2007) adalah salah satu novel yang memperlihatkan politik dan adat kekerasan yang jejaknya tidak bisa hilang dan dilupakan hingga saat ini. Novel ini juga bercerita tentang perjuangan perempuan Bali untuk memperoleh dan mengembalikan lagi hal yang telah hilang akibat persinggungan tokoh dengan tragedi politik’65 serta akibat dari pelanggaran adat. Tulisan ini akan mengeksplanasikan: 1) peran adat dan politik dalam melahirkan kekerasan yang bekasnya sulit dihapus dan dilupakan oleh para tokoh perempuan, dan 2) perjuangan para tokoh perempuan sebagai subaltern untuk bertahan hidup dan menyuarakan keinginannya. Penelitian kualitatif deskriptif analistik ini menggunakan perspektif pascakolonial. Berdasarkan analisis pada novel Tarian Bumi, tampak adat dan tradisi masih dipegang erat oleh masyarakat Bali. Kasta atau kelas menjadi penting untuk menentukan perempuan yang berhak berbicara dan yang seharusnya diam. Sebagai seorang Ida Ayu, Pidada merasa gagal lantaran anaknya menikahi seorang sudra. Pengalaman pahit yang dialami Luh Sekar karena status politiknya sebagai bekas anak PKI, membuatnya lebih tegar dan gigih dalam mencapai cita-citanya menjadi seorang jero atau bangsawan. Telaga mencoba memahami bahwa kebahagian hidup bukanlah dari atribut kebangsawan, tetapi justru pada cinta lelaki sudra bernama Wayan. Ulang-alik kelas ibu dan anak yang ditujukan oleh Oka Rusmini lewat sosok Kenanga dan Telaga, menunjukkan bahwa pergulatan subaltern tidaklah mudah dan pertarungannya terus berlangsung selama diskriminasi dan dominasi masih terus terjadi. Tarian Bumi (2007) is one of the novels that showcases the politics and customs of violence that traces can’t be lost and forgotten until now. This novel also tells the story of the struggle of Balinese women to obtain and restore the things that have been lost due to the intersection of the figures with the political tragedy'65 as well as the result of customary violations. This paper will explore: 1) the role of adat and politics in giving birth to violence that is difficult to erase and forgotten by women leaders, and 2) the struggle of women leaders as subalterns to survive and voice their desires. This descriptive analytical qualitative research uses a postcolonial perspective. Based on the analysis on the novel Tarian Bumi, it appears that customs and traditions are still held tightly by the people of Bali. Caste or class becomes important to determine the right woman to speak and who should be silent. As an Ida Ayu, Pidada feels failed because her son married a sudra. Buh Sekar's bitter experience due to his political status as a former PKI child, made him stronger and persistent in achieving his ideals of being a jero or nobleman. Telaga tries to understand that the happiness of life is not from the attributes of the noble, but it is precisely in the love of men sudra named Wayan. The mother-and-child class rounds directed by Oka Rusmini through Kenanga and Telaga figures show that the subaltern struggle is not easy and the fight continues as long as discrimination and dominance continue.

Page 1 of 1 | Total Record : 10