Jurnal Tamaddun
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam (ISSN 2528-5882) was published by the Department of History of Islamic Civilization Faculty of Ushuluddin, Adab and Da`wah IAIN Sheikh Nurjati Cirebon. Its mission is to disseminate the results of studies and research on the history, specifically Islamic Cultural History which includes science, theory, and historical concepts related to Islam and regional studies, Islamic civilization, Islamic intellectuals, Islamic culture and traditions. The manuscripts contained in this journal are the results of studies, research and literature review conducted by researchers, academics, and observers of Islamic Cultural History. This Tamaddun Journal is published twice in one year, July and December.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6, No 1 (2018)"
:
8 Documents
clear
NUANSA ISLAM DALAM GERAKAN PETANI TANGERANG 1924
Ilyas Ilyas
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (639.519 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3271
AbstractThe study is a study of farmers living in colonial times, taking place in the Tangerang region in the first half of the 20th Century. As one of the land that became private land, Tangerang is controlled by some rich landowners. They control the land and all the objects that are on it. Absolute mastery gave birth to resistance coming from the peasants of Tangerang. This article seeks to discuss the elements of Islam that exist in the resistance carried out by the farmers of Tangerang. From the study, it can be seen that the nuances of Islam seen in the 1924 Tangerang peasant movement are in the coronation of the movement's leaders, eschatogical concepts, prayers to God, tabaruk with pilgrimage, and wearing white clothes.Keywords: movement farmer, private land, landlord, Tangerang
KELAS SOSIAL DALAM SISTEM LANDELIIJK STELSEL MASA RAFFLES (1811-1816)
Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (291.363 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3252
Alih-alih disebut sebagai motor penggerak perubahan birokrasi dari sistem pemerintahan tradisional ke modern, Raffles justru memberikan ruang dan kesempatan bagi para pejabat kolonial untuk semakin memperbesar kekuasaannya. Sementara, para raja, sultan dan penguasa lokal semakin dikecilkan perannya, terutama dalam kegiatan politik dan ekonomi. Salah satu bentuk reformasi birokrasi yang diputuskan oleh Raffles adalah penetapan Sistem Landeliijk Stelsel (Sewa tanah) yang dianggap mengawali perubahan dalam gerakan sosial budaya dan mengangkat posisi para petani dengan cara menghapuskan sistem tanam paksa menjadi sistem kontrak atas tanah. Sebaliknya, sistem ini menjadi bukti dominasi terhadap priyayi yang banyak dikurangi tersebut. Apalagi setelah Raffles membentuk kebijakan baru yaitu mengangkat pegawai Eropa. Para pegawai Eropa yang baru dan dijadikan sebagai petugas pendamping, pengawas para bupati dan para pengawas penghasilan yang diperoleh dari tanah (Opziener der landelijke inkomsten) yang kemudian disebut sebagai pangreh praja (Controleur van het Binnenlands Bestuur). Kata Kunci: tuan tanah, petani, sewa tanah, Raffles
NASKAH-NASKAH JUNGJANG DAN KAJIAN TEKS WASIAT SANG WALI
Muhamad Mukhtar Zaedin
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (400.866 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3251
Tulisan ini membahas tentang satu naskah kuno yang disimpan oleh rumah budaya Pasambangan Jati; Wahosan Bujang Genjong. Manuskrip yang berbentuk tembang macapat ini bercerita tentang sosok Bujang Genjong dan Rara Gonjeng yang dimabuk asmara. Syarat “memahami ilmu sejati” untuk melamar yang diajukan sang pemudi kepada pemuda, ternyata membawanya semakin tenggelam dalam alam tasawuf. Dalam teks bertembang tengahan tersebut, Bujang Genjong sangat bersemangat untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi kesenangan dan kebanggaannya. Penamsilan teks terhadap petualangan sang pemuda dalam pencarian ilmu manunggal lebih menunjukkan kepada gambaran atas resiko dan tanggungjawab yang harus di pikul oleh setiap orang untuk mendapatkan kebahagiaannya. Secara kultural, apa yang bisa dilihat dari kandungan naskah ini adalah budaya pra-pernikahan yang apabila dilihat dari sisi calon isteri, dapat mengambil kesimpulan tentang kapasitas dan kesungguhan dari calon suaminya. Dan dari sisi calon suami, membentuk kesanggupan dan ketabahan terhadap cara dan tahapan yang harus dijalani dan diperjuangkan.Kata Kunci: manuskrip, tasawuf, ilmu sejati, kemanunggalan
TINJAUAN FILOLOGIS TERHADAP TEKS DEWI MANDAPA DI DALAM BABAD SUTAJAYA
Tarka Sutarahardja
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (836.969 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3272
AbstractThe text of Dewi Mandapa is one of the texts present in Babad Sutajaya. As a script originating from coastal areas, this chronicle is written in Javanese script (Cacarakan) by (Javanese) Cirebonan (language) in manufacturer's paper base. This text tells about the process of decline of the Sultanate of Cirebon caused by the desire of kings outside Java who wanted a girl named Rara Panas. Rara Panas is a child of Dewi Mandapa who has the pain of the death of his father by Sultan Cirebon. In an attempt to engage in text editing of Dewi Mandapa's text in this chronicle, the study is based on philological studies. To understand the content of text, a review takes the basis of traditional historiographic concepts. Based on the study conducted, the researcher got the description of Cirebon's regression process related to the existence of foreign powers in the archipelago. In fact, in the process of conquest of Cirebon, the foreign party cooperated with one of the native rulers named Raja Macan who was mistaken by Sultan Cirebon as “sato bisa muwus.”Keywords: Dewi Mandapa, regression, Cirebon
PROPAGANDA TERHADAP UMAT ISLAM JAWA DI ZAMAN JEPANG, 1942-1945
tendi tendi
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (385.819 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3266
AbstractThe period of Japanese occupation was one of the important phases of Indonesia's independence. This paper aims to find out how propaganda directed to Muslims by the Japanese military government to support and perpetuate their power in the Archipelago. From this study it is known that in its efforts to maintain the power and power of Allied attacks, Japan approached elements of Indonesian society. One of the targets is the Muslims, who are considered Japan as the majority group that can be invited to cooperation. On that basis, Japan then propaganda specifically against Muslims by: 1) Active in Islamic Religious Activities; 2) Make Aprroaches to Islamic Leaders; 3) Alignments in Education Policy; and 4) Establishment of Institutions for Islamic Groups.Keywords: propaganda, Muslims, Japanese period, military government
ISLAMISASI DI CIREBON: PERAN DAN PENGARUH WALANGSUNGSANG PERSEPEKTIF NASKAH CARIOS WALANGSUNGSANG
Siti Zulfah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.463 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3270
AbstractIslamization is a theme that continues to this day. Islamization can be defined as Islamic, through the conversion process of Religion. Cirebon Islamic Society is the result of mixing between indigenous (ethnic Javanese-Sunda) with immigrants (traders-Sufis) who are Muslims. Walangsungsang plays an active role in the opening, the spread of civilization (culture), the founder of the center of Islamic government. Keraton Pakungwati as the legitimacy of central Islamic government in Cirebon. This paper seeks to identify a biography of Walangsungsang (fact or myth) and to understand how Walangsungsang's role and influence in the Islamization of Cirebon is the perspective of the Carios Walangsungsang manuscript. This research is done by searching the manuscript of Cariyos Walangsungsang, references both books and research results about the history of Islam in Cirebon, and placing some historical places in Cirebon such as Keraton, petilasan (Tomb of Mbah Kuwu Cirebon Girang) Walangsungsang. Historical Approach to tracing historical facts, then explored in chronological order. This paper produces historical facts that the role of Walangsungsang as the first spreader of Islam in Cirebon from the Hindu-Buddhist kingdom (Padjajaran), cultivate Cirebon land, and founder of Pakungwati Islamic Kingdom. For his role Walangsungsang influential and changing Religion and culture of Islamic society Cirebon become more characteristic with the pattern of arranging a diverse society and a complex social hierarchy.Keywords: islamization, Walangsungsang, Cirebon
PERAN IBRĀHĪM AL-KŪRĀNĪ DALAM PENGEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA
Frenky Mubarok
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (512.975 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.2583
Perkembangan Islam di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari ulama-ulama yang telah belajar di pusat peradaban Islam di Timur Tengah, khususnya di dua kota suci Makkah dan Madinah. Artikel ini membahas salah satu tokoh ulama yang menjadi rujukan keilmuan para mahasiswa dari Nusantara ketika belajar di Haramayn, yaitu Ibrāhīm Al-Kūrānī. Meskipun Ibrāhīm Al-Kūrānī tidak pernah secara langsung berdakwah di Nusantara, namun para muridnya yang berasal dari Nusantara mengajarkan ajarannya dengan bersumber dari kitab-kitab karyanya. Ajaran Ibrāhīm Al-Kūrānī yang menekankan pentingnya pemahaman Ilmu Hakikat, Ilmu Tariqat, dan Ilmu Syari’at tetap dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam saat ini. Kata Kunci: Ibrāhīm Al-Kūrānī, Islam, Nusantara
KEWAHYUAN NABI MUHAMMAD DALAM PANDANGAN ORIENTALIS
budi sujati
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (391.539 KB)
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.2478
AbstrakTulisan ini berangkat dari permasalahan kewahyuan nabi Muhammad yang mendapat pandangan beraneka ragam dari kalangan orientalis dalam menyikapi kewahyuan nabi Muhammmad. Sikap para orientalis baik yang pro dan kontra masih menjadi polemik yang sampai saat ini tidak selesai titik permasalahannya. Oleh karenanya, dari kalangan yang menerima kewahyuan Muhammad beranggapan bahwa wahyu yang diterima oleh nabi Muhammad adalah wahyu yang benar-benar datang dari ajaran Tuhan bukan dari hasil karangan nabi Muhammad dan ajarannya bersumber dari Tuhan yang satu. Sedangkan mereka yang memberikan komentar sinis mengenai wahyu yang diberikan kepada Muhammad adalah hasil karangan Muhammad sendiri, sehingga memunculkan banyak polemik khususnya dari kalangan umat Islam sendiri yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan dan menjadi perdebatan. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa dengan pendekatan Ilmu sosial dan Ilmu humaniora akan ditemukan suatu fakta bahwa kewahyuan nabi Muhammad dalam pandangan orientalis harus sesuai dengan dari sebuah peristiwa dengan penuh objektif. Kata Kunci : Wahyu, Orientalis, Muhammad, Islam.