Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Jaringan Ulama Cirebon Abad ke-19 Sebuah Kajian Berdasarkan Silsilah Nasab dan Sanad Syafaah, Aah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.639 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4497

Abstract

ABSTRAK Jaringan Ulama di Cirebon abad ke-19 merupakan rangkaian mata rantai keilmuan baik berupa sanad tarekat yang ketersambungannya merujuk kepada Rasulullah SAW maupun melalui jalur  nasab yang dimiliki oleh para pendiri pesantren di Cirebon yang bermuara kepada Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayat (1448-1568) sebagai pendiri kerajaan Cirebon pada abad ke-15. Keduanya merupakan entry poin yang dapat menghubungkan ketersambungan ulama atau lebih dikenal sebagai jaringan ulama pada abad sebelum dan sesudah abad ke- 19 tersebut. Peran Makkah dan Madinah saat itu, terutama pada abad ke-17 dan 18 bahkan memuncak pada abad ke-19, sangat signifikan dalam membentuk rekonsiliasi tasawuf (mistisisme Islam) dan syariat sehingga muncul istilah neo-sufisme. Dan salah satu bentuk dari neo-sufisme ini adalah pengajaran-pengajaran tarekat selain pengajaran Islam lainnya yang lebih berorientasi kepada fikih. Tarekat Syattariyah kemudian menjadi tarekat yang paling dominan yang diinisiasi oleh para ulama Cirebon yang kemudian membentuk jaringan tersendiri dalam wadah pesantren-pesantren yang tumbuh dan berdiri di Cirebon; selain tentu saja banyak tarekat-tarekat lainnya yang juga berkembang cukup signifikan dengan jumlah pengikut yang cukup massif. Keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari keberadaan halaqa; baik di Makkah atau di al-Azhar Kairo, sampai kemudian  pesantren ini mengalami fungsi yang semakin meluas tidak hanya sebagai tempat kajian intelektual dan spiritual semata, tetapi juga sebagai tempat pengkaderan calon ulama-ulama yang kelak menjadi generasi penerus bagi terbentuknya jaringan ulama antar pesantren, khususnya yang berada di wilayah Cirebon. Kata Kunci: Cirebon, Tarekat Syatariyah, sanad, nasab, jaringan ulama
PERAN KH. ANAS SEBAGAI MUQODDAM TIJANIYAH DALAM ASPEK POLITIK, SOSIOEKONOMI DAN KEAGAMAAN DI PESANTREN AL-ISHLAH SIDAMULYA ASTANA JAPURA CIREBON (1883-1947) Aah Syafaah
Holistik Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.969 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v13i2.140

Abstract

Penelitian ini fokus pada sosok seorang Kiai Buntet dan muqoddam thoriqoh mu’tabaroh Tijaniyah, yang bernama kyai Anas Abdul Jamil. Kyai Anas adalah adik dari kyai Abbas Buntet. Sejarah kyai anas mengilutrasikan kepada kita bahwa ia tidak hanya sebagai sosok pemimpin keagamaan, tetapi juga seorang pemimpin yang gigih memperjuangkan kepentingan (sosial dan ekonomi) umat Islam waktu itu, terutama dalam konteks perlawanan melawan penjajahan Belanda guna kesejahteraan umat waktu itu. Sejarah kiai Anas ini menggambarkan kepada kita bahwa peran seorang kiai itu tidak bisa terlepas dari permasalahan yang sedang dihadapi umatnya. Dengan kata lain, permasalahan sosio-ekonomi umat adalah juga permasalahan keberagamaan karena pada hakekatnya agama tidak terlepas dari kepentingan kesejahteraan umat.
PERAN DAN PERJUANGAN KIAI MASYKUR DI DESA KARANGSARI WERU CIREBON (1835-1961) Aah Syafaah
Holistik Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.828 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v1i2.1124

Abstract

Islamisasi di Nusantara terutama pada masa Pemerintahan Hindia Belanda mengalami fase yang sangat sulit. Hal ini terjadi karena upaya Belanda untuk mengontrol perkembangan Pan Islamisme yang salah satunya dipelopori oleh kalangan sufi pengembara. Belanda kemudian menegakkan aturan rust en orde secara ketat. Sehingga pergerakan kalangan agamawan menjadi sangat terbatas dan selalu berada di bawah tekanan. Mengatasi hal ini, Kiai Masykur membangun poros kekuatan melalui strategi diplomatis demi menjaga kelangsungan proses tarbiyah dan al-ishlah yang dilakukannya untuk membentuk masyarakat yang lebih berdaya dalam hal agama maupun sosial ekonomi. Oleh karena itu, target dakwah dan tarbiyah beliau mencakup tarbiyah iqtishadiyah, menyebarkan ajaran tarekat Qadiriyah dan simbolisasi makna filosofis ajaran Bayt 12 kepada masyarakat. Hal ini beliau lakukan untuk menjaga dan menghindari pengintaian Belanda yang juga sempat menyusup ke dalam Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah yang beliau dirikan itu. Di sisi lain, kitab Bayt 12 yang beliau ajarkan pun tidak lepas dari polemik dan kontroversi yang datang dari kalangan ulama dan masyarakat awam yang merasa aneh dengan pola tarbiyah Islam yang memanfaatkan angka dan simbol uleg-cobek. Kata kunci: Kiai Masykur, Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah, Bayt 12, dakwah, tarbiyah iqtishadiyah  
MENELUSURI JEJAK DAN KIPRAH KIAI KHOLIL AL-BANGKALANI Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.44 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v5i1.1964

Abstract

Kiai Kholil is a scholar of international scale and a pivot of power for the synergy of the scholars network of santri. Specifically, in the land of Madura and Tapal Kuda ranging from Situbondo, Banyuwangi, Probolinggo and Bondowoso with the network of Pesantren Sidogiri Pasuruan and Talangsari Jember. By this coordination he succeeded to gather those social groups through the Sabilillah-Hizbullah laskar which also connected the kinship line of his predecessors. He was able to capture the hidden potentials behind the land and Madurese community, as Snouck Hurgronje had assessed as central to the network of scholars of santri in Java. This paper intends to trace the life of Kiai Kholil Al-Bangkalani as one of the influential clerics of his time. The influence was built not only by the kinship line it possesses, but also pioneered with great soul and expertise in various sciences and studies of social religious fields of society. His thoughts were contained in a number of works that continue to adorn the treasury of science from the past until today.Keywords: Thought, Madurese, Ulama, Kiai Kholil
Jaringan Ulama Cirebon Abad ke-19 Sebuah Kajian Berdasarkan Silsilah Nasab dan Sanad Farihin Farihin; Aah Syafaah; Didin Nurul Rosidin
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.249 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4675

Abstract

ABSTRAK Jaringan Ulama di Cirebon abad ke-19 merupakan rangkaian mata rantai keilmuan baik berupa sanad tarekat yang ketersambungannya merujuk kepada Rasulullah SAW maupun melalui jalur  nasab yang dimiliki oleh para pendiri pesantren di Cirebon yang bermuara kepada Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayat (1448-1568) sebagai pendiri kerajaan Cirebon pada abad ke-15. Keduanya merupakan entry poin yang dapat menghubungkan ketersambungan ulama atau lebih dikenal sebagai jaringan ulama pada abad sebelum dan sesudah abad ke- 19 tersebut.Peran Makkah dan Madinah saat itu, terutama pada abad ke-17 dan 18 bahkan memuncak pada abad ke-19, sangat signifikan dalam membentuk rekonsiliasi tasawuf (mistisisme Islam) dan syariat sehingga muncul istilah neo-sufisme. Dan salah satu bentuk dari neo-sufisme ini adalah pengajaran-pengajaran tarekat selain pengajaran Islam lainnya yang lebih berorientasi kepada fikih.Tarekat Syattariyah kemudian menjadi tarekat yang paling dominan yang diinisiasi oleh para ulama Cirebon yang kemudian membentuk jaringan tersendiri dalam wadah pesantren-pesantren yang tumbuh dan berdiri di Cirebon; selain tentu saja banyak tarekat-tarekat lainnya yang juga berkembang cukup signifikan dengan jumlah pengikut yang cukup massif.Keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari keberadaan halaqa; baik di Makkah atau di al-Azhar Kairo, sampai kemudian  pesantren ini mengalami fungsi yang semakin meluas tidak hanya sebagai tempat kajian intelektual dan spiritual semata, tetapi juga sebagai tempat pengkaderan calon ulama-ulama yang kelak menjadi generasi penerus bagi terbentuknya jaringan ulama antar pesantren, khususnya yang berada di wilayah Cirebon. Kata Kunci: Cirebon, Tarekat Syatariyah, sanad, nasab, jaringan ulama
KELAS SOSIAL DALAM SISTEM LANDELIIJK STELSEL MASA RAFFLES (1811-1816) Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.363 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v6i1.3252

Abstract

Alih-alih disebut sebagai motor penggerak perubahan birokrasi dari sistem pemerintahan tradisional ke modern, Raffles justru memberikan ruang dan kesempatan bagi para pejabat kolonial untuk semakin memperbesar kekuasaannya. Sementara, para raja, sultan dan penguasa lokal semakin dikecilkan perannya, terutama dalam kegiatan politik dan ekonomi. Salah satu bentuk reformasi birokrasi yang diputuskan oleh Raffles adalah penetapan Sistem Landeliijk Stelsel (Sewa tanah) yang dianggap mengawali perubahan dalam gerakan sosial budaya dan mengangkat posisi para petani dengan cara menghapuskan sistem tanam paksa menjadi sistem kontrak atas tanah. Sebaliknya, sistem ini menjadi bukti dominasi terhadap priyayi yang banyak dikurangi tersebut. Apalagi setelah Raffles membentuk kebijakan baru yaitu mengangkat pegawai Eropa. Para pegawai Eropa yang baru dan dijadikan sebagai petugas pendamping, pengawas para bupati dan para pengawas penghasilan yang diperoleh dari tanah (Opziener der landelijke inkomsten) yang kemudian disebut sebagai pangreh praja (Controleur van het Binnenlands Bestuur). Kata Kunci: tuan tanah, petani, sewa tanah, Raffles
PERAN TOKOH WANITA PADA MASA KOLONIALISME Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.925 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v5i2.2122

Abstract

AbstractThe idea of Shrieke in his race theory, as quoted by Azra, says that the Portuguese expansion can not be separated from the Crusade War in Europe and the Middle East. It is further said that the desire of adventure and ambition of honor combined with religious spirit is the driving force that drives the expansion of the Portuguese into the Asian region. The arrival of the Portuguese came in early 1511 to Malacca, followed by other Europeans such as France, Britain and the Netherlands to various parts of the archipelago, ultimately creating resistance from the people of the archipelago. In an effort to defend his honor and his homeland, the indigenous fighters were not only from the Adam people, as some of them were heroes of the female sex. The colonial period and the effort to achieve independence are very difficult times to pass. Where at that moment, words no longer sounded but only the sounds of ammunition. This is certainly a difficult time especially for women. In this condition, they are required to maintain the honor and salvation of their own lives.Keywords: female, colonial, Islamization
Memahami Bentuk Gerakan Perlawanan Rakyat dalam Perang Kedongdong (1802-1818 M) Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7322

Abstract

AbstrakPenjajahan Belanda yang terjadi selama bertahun-tahun di atas tanah Cirebon mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang berimbas pada penderitaan yang berkepanjangan. Tentu menyisakan penderitaan yang berkepanjangan bagi rakyat. Melihat hal ini, para ulama Cirebon kemudian memassifkan gerakan sosial yang dibangunnya sebagai bentuk reaksi rasional rakyat untuk merebut kemerdekaan dan memperjuangkan hak-haknya atas dominasi dan penjajahan bangsa lain di atas tanah airnya sendiri. Selain tentu saja, hal ini juga dilakukan karena masyarakat sudah terlebih dahulu menyadari bahwa mereka tidak dilengkapi persenjataan yang lengkap dan canggih. Para ulama dalam hal ini memainkan peran sebagai tokoh sentral yang mampu menggerakkan kekuatan rakyat dan melakukan berbagai perlawanan terutama untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat di bidang keagamaan, politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Meski melibatkan elemen massa yang beragam mulai dari petani, pejabat keraton, dan para dalang wayang kulit, dengan bekal jihad yang terus didengungkan mendapatkan aksi balasan yang kemudian membuatnya dipenjara, diasingkan bahkan sampai dibunuh. Sementara pesantren-pesantren yang dibangun oleh para ulama ini juga mendapatkan bombardir dari pihak kolonial tersebut.
The Contribution of Al-Ghazali in Promoting Islamic Moderate Thought in Indonesia Hajam Hajam; Muzaki Muzaki; Dedeh Nur Hamidah; Aah Syafaah; Aditia Muara Padiatra
Sunan Kalijaga: International Journal of Islamic Civilization Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/skijic.v3i2.1894

Abstract

The current paper is dedicated to investigate a moderate religious doctrine through the presence of Islamic mysticism (sufism) resulted from Imam al-Ghazali. We argue that al-Ghazali's teaching imparted balance between the world and the hereafter like body and spirit. Al-Ghazali’s thought influenced many Indonesian mystics across fifteenth to nineteenth century. We believed that Indonesian Moslems scholars who were influenced by Al-Ghazali’s teaching developed religious propagation through wisdom and moralilty. We found that by applying mysticism moderate Islamic propagation were accepted by most of Indonesian Moslems. As a result, they were succesful in undertaking social transformation without any negative impact.
Zuhud Versi Era Milenial dalam Perspektif Hadis: Sebuah Kajian pada Kitab Sunan at-Tirmidzi di Bab Zuhud Hapiz Ilham Maulana; Alfian Febriyanto; Engkus Kusnandar; Aah Syafaah; Izzudin Izzudin
Gunung Djati Conference Series Vol. 21 (2023): The 1st Nurjati Conference
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to discuss the millennial era version of zuhud in the perspective of hadith. This research uses a qualitative approach with descriptive-analytic method. The formal object of this research is the traditions about zuhud in Sunan at-Tirmidzi chapter Zuhud, while the material object of this research is the millennial era version of zuhud. The results and discussion of this study show that the millennial version of zuhud from the perspective of hadith can be extracted from the traditions of Sunan at-Tirmidzi chapter Zuhud in the hadith about early success in the hereafter, the hadith about the humiliation of the world before Allah and there is no comparison with the hereafter, and the hadith about hastening in goodness. This study concludes that the attitude of zuhun as an Islamic teaching exemplified by the Prophet PBUH which later became the forerunner of Sufism teachings can basically be realized in the form of a millennial era version through understanding and practicing hadith.