cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol. 5 No. 01 Juni 2017" : 10 Documents clear
Makna Puasa dalam Tafsir al-Jailani (Studi tentang Penafsiran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani) Rifa’i, Muhammad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2011

Abstract

Puasa adalah menahan diri pada siang hari dari hal-hal yang membatalkanpuasa, disertai niat oleh pelakunya, sejak terbitnya fajar sampaiterbenamnya matahari. Pengertian semacam ini adalah dipaparkan oleh ulama fikih, sedangkan makna puasa menurut ulama tasawuf adalah menahan hawa nafsu; panca indera; dan berpaling dari selain Allah. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap makna puasa ini dari sisi tasawuf di mana cakupanya lebih luas. Adapun tafsir yang digunakan sebagai sumber data primer adalah kitab tafsir al-Jailani. Karena kitab tafsir ini mempunyai ciri khas yang berbeda dengan kitab tafsir yang bercorak tasawuf lainnya. Di antara perbedaannya adalah terdapat pendahuluan dan penutupan tiap suratnya serta menjelaskan makna puasa dalam tiga macam, yaitu puasa syariat; hakikat (rohaninya), dan puasa berpaling dari selain Allah. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang disajikan yaitu (1) Bagaimana metode penulisan tafsir al-Jailani?(2) Bagaimana penafsiran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tentang makna puasa dan analisis penulis?” Adapun tujuannya adalah Untuk mendeskripsikan metode penulisan tafsir al-Jailani, mulai dari biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani; keterangan tafsirnya; penafsiran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tentang ayat-ayat puasa serta analisisnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan mengumpulkan data melalui teknik library research, yaitu menghimpun buku dan literatur yang mendapat mendukung penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan, yaitu terkait gambaran umum tafsir al- Jailani dan penafsiran al-Jailani tentang ayat-ayat puasa serta analisisnya. (A) Metode penafsiran dalam tafsir ini ada dua aspek. (1) Aspek teknik penulisan tafsir, meliputi: (a) Sistematika penyajian tafsir menggunakan sistem penyajian runtut sesuai urutan mus}haf usmani.(b) Bentuk penyajian tafsir yang digunakan adalah penyajian global. (c) Gaya bahasa penulisan tafsir adalah gaya bahasa reportase. (d) Bentuk penulisan tafsirnya adalah dengan menggunakan bentuk penulisan ilmiah. (e) Sifat Mufasirdalam tafsir al- Jailani adalah termasuk mufasir individual. (f) Asal-usul literatur tafsir berasal dari ruang non-akademik. (g) Sumber-sumber rujukan tafsir ini adalah kitab Muqaddimah fī Us}ūl al- Tafsīr karya Syaikh Imam al-Gazali, berbagai kitab hadis, pendapat para sahabat; tabi‘in; dan ulama salaf, serta pendapat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sendiri. (2) Aspek hermeneutika tafsir, meliputi: (a) Metode tafsiryang digunakan adalah aspek konteks di dalam teks yang dapat memuat ruang-ruang sosial budaya yang beragam. (b) Nuansa tafsir yang digunakan dalam tafsir al-Jailani adalah nuansa sosio-kemasyarakatan, sufistik dan psikologis. (c) Pendekatan tafsir yang digunakan oleh Syaikh Abdul Qadir al- Jailani dalam kitab tafsir al-Jailani adalah pendekatan kontekstual. (B) Adapun penafsiran Syaikh Abdul Qadir al-Jailani terkait ayat-ayat puasa adalah beliau memberi makna puasa dengan membagi menjadi tiga macam, meliputi puasa syariat, hakikat (rohaninya), dan puasa berpaling dari selain Allah. Namun yang ada dalam keseluruhan ayat puasa (kecuali al-Baqarah [2]: 183) itu hanya menjelaskan dua makna macam puasa (puasa syariat dan puasa hakikat). Kata kunci: Al-Jailani, Penafsiran, Puasa, Tafsir
AL-QURAN DAN FILSAFAT (AL-QURAN INSPIRATOR BAGI LAHIRNYA FILSAFAT) Asmuni, Ahmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2002

Abstract

Pedoman umat Islam yang menjadi petunjuk (hudan) utama bagi manusia adalah Al-Quran. Dalam Al-Quran Allah swt banyak memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan akal pikirannya (berpikir, berfilsafat). Dalam Al-Quran juga terdapat banyak ayat yang memberikan dorongan kepada manusia untuk selalu mengguna-kan akan dan senantiasa mengembangkan pikiran dan hatinya. AlQuran banyak mendorong manusia untuk memikirkan penciptaan langit, bumi,manusia, alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan sebagainya. Al-Quran sangat mencela orang-orang yang bersikap taqlid dan jumud kepada warisan para leluhurnya sehingga mereka enggan menggunakan akalnya untuk memikirkan kebenaran dan berpikir bebas guna mencapai kebenaran.Perintah Allah terkait dengan perintah untuk menggunakan akal pikiran ini, sejalan dengan filsafat yang menggunakan akal. Dengan demikian sangat bisa dipahami bahwa Al-Quran sesungguhnya menyuruh manusia untuk berfilsafat. Bahkan ternyata al-Quran telah menginspirasi terhadap lahirnya filsafat. Karena itu sangat bisa dipahami banyak lahir dari umat Islam para pemikir (Falosuf) yang terkenal terutama pada  masa klasik seperti; al-Razi, Ibnu Rusyd, al-Ghazali, dan lain-lain.Kata Kunci: Al-Quran, Filsafat, dan Filosof
PEMIMPIN IDEAL DALAM PERSPEKTIF HADIS Muthi’ah, Anisatun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2007

Abstract

Pemimpin ideal dalam anjuran islam seharusnya sekaligus berarti penolong, karena pemimpin bertugas melindungi orang-orang yang dipimpinnya dan berusaha menolong serta menyelamatkan mereka saat kesulitan dan bencana menimpa, karena pemimpinlah yang bertanggung jawab atas segala hal yang ada dan yang terjadi dalam wilayahnya serta ihwal orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin dipilih adalah untuk memimpin anggota kelompoknya untuk dapat mewujudkan tujuan bersama.Kata kunci: Pemimpin ideal, dan HadisAbstractThe ideal leader in Islamic advice should be included in the sense of a helper, for the leader is in charge of protecting the people he leads and trying to help and rescue them when hardships and disasters strike, for the leader is responsible for everything that is and what is happening in his territory and about the people he leads. A chosen leader is to lead members of his group to be able to realize common goals.Keywords: Ideal Leader, and Hatdits
AL-SUNNAH DAN TAFSIR AL-QURAN (Tinjauan tentang Fungsi dan Posisi Al-Sunnah dalam Tafsir Al-Quran) Mustopa, Mustopa
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2003

Abstract

Para sahabat ketika rasulullah Saw masih hidup, apabila mereka menemukan persoalan terkait dengan al-Quran mereka bertanya langsung kepada rasulullah Saw, kemudian rasulullah Saw menjelaskannya untuk mereka. Posisi rasulullah dalam hal ini sebagai penjelas al-Quran dan posisi ini merupakan posisi dan fungsi al-sunnah dalam tafsir al-Quran. Ada beberapa pendapat para ulama terkait penafsiran rasulullah Saw terhadap al-Quran. Pertama, Rasulullah Saw menjelaskan kandungan al-Quran kepada sahabat-sahabatnya. Sebagaimana Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Rasulullah Saw wajib untuk mengajarkan kandungan al-Quran kepada para sahabatnya. Kedua, Rasulullah Saw hanya sedikit dalam menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya. Sebagaimana riwayat Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw tidak menafsirkan satu ayat pun dari al-Quran kecuali sangat terbatas yaitu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh malaikat Jibril a.s
KONSEP MAHABBAH DALAM PERSPEKTIF TAFSIR MAUDHUI Samud, Samud
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2008

Abstract

Mahabbah, adalah dalam bahasa Arab Mahabbah berasal dari kata Ahabba- Yuhibbu-Mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam. Mahabbah di definisikan sebagai “kecenderungan hati secara total pada sesuatu, perhatian terhadapnya itu melebihi perhatian pada diri sendiri, jiwa dan harta, sikap diri dalam menerima baik secara lahiriah maupun batiniah, perintah dan larangannya; dan pengakuan diri akan kurangnya cinta yang diberikan padanya. Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang telah diberi rasa cinta, sehingga manusia mampu menjadikan dirinya makhluk yang mampu mengasihi sesamanya. Dengan perasaan cinta itu pula manusia dapat mencintai dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun apa yang terjadi pada zaman sekarang sebagian manusia dengan mengatas namakan cinta untuk berbuat suatu kedhaliman (kedurjanaan), hal tersebut yang tidak diharapkan oleh ajaran Islam. Konsep Mahabbah dalam al-Qur’an adalah pandangan al-Qur’an dalam hal ini adalah Mushaf ‘Utsmani tentang mahabbah dan hal-hal yang terkait dengannya yang dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang membahas tentang mahabbah.Kata Kunci: Mahabbah, Al-Qur’an, dan TafsirAbstractMahabbah, is in Arabic Mahabbah derived from the word Ahabba-Yuhibbu- Mahabbatan, which in language means deep love, love, or deep love. The Mahabbah is defined as "the total inclination of the heart to something, the attention to it more than the self, the soul and the possessions, the attitude of the self in receiving both outwardly and inwardly, its orders and prohibitions; and self-acknowledgment of the lack of love given to him. Man is one of Gods creatures who have been given a sense of love, so that man is able to make himself a being who can love his neighbor. With that feeling of love also humans can love and get closer to God. But what happens in the present time some people in the name of love to do something wrong, it is not expected by the teachings of Islam. The concept of Mahabbah in the Quran is the view of the Quran in this case is the Ottoman manuscripts of the mahabbah and the things associated with it are done by collecting passages that discuss the mahabbah.Keywords: Mahabbah, Al-Quran, and Tafsir
AL-QURAN KALAMULLAH MUKJIZAT TERBESAR RASULALLAH SAW Khalid, Idham
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2004

Abstract

Al-Quran merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang berfungsi untuk melegitimasi kerasulannya. Akal manusia belum bisa menerima kedudukannya sebagai Rasul tanpa membawa bukti kerasulannya dari Allah yang berupa mukjizat. Karena itu, setiap Rasul mempunyai mukjizat sebagai tanda kenabian dan risalahnya. Tanpa mukjizat, itu niscaya manusia tidak akan beriman pada mereka. Meskipun tingginya akhlak Rasul maupun pentingnya pesan yang dibawanya, atau tingginya intelektualitasnya, atau kedudukannya, masih belum cukup untuk menyatakan kerasulannya kepada manusia. Al-Quran bukan buku ketuhanan, bukan pula buku hukum, melainkan buku petunjuk bagi manusia. Otentisitas Al-Quran dijaga oleh Allah SWT sejak pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Oleh karena itu, Al- Quran tidak mengalami penyimpangan, perubahan dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.Kata Kunci: Al-Quran, Mukjizat, Nabi dan Rasul
Praktik Pembacaan Yasin Fadilah di Masyarakat Perspektif Living Qur’a>n dan Analisis Perubahan Sosial (Studi Kasus di Majelis Taklim Al-Muthmainnah Desa Lemahabang Kulon, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon) Shobahah, Luthfiatus
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2009

Abstract

This article focus on investigation about practice of reciting Al-Qur’an perspective of livingQuran and analysing social civilization. Living Quran is new approach for understanding sense of Quran with contextual concept. Practice of reciting Al-Qur’an which did by society is one of way to understand sense of Al-Qur’an. Research of living Quran be important because understanding and interpreting Al-Qur’an not only on library study facing texts of Al-Qur’an. Nevertheless, reception of society to practice of reciting Al-Qur’an is process an assembling and interpreting Al-Qur’an by context. Reception of Al-Qur’an theory and social civilization suitable for analysing of living Quran to find out social phenomenon related with presence of Al-Qur’an in certain community. Key Word : Living Quran, Social Civilization, Community.
SŪRAH YĀSĪN DALAM TAFSĪR AL-IBRĪZ Rosida, Siti
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2005

Abstract

Sūrah Yāsīn merupakan sūrah yang sering dibaca dan populerdi kalangan masyarakat Islam. Hal tersebut diketahui dari banyaknya hadis yang menyebutkan tentang keutamaannya. Namun tak hanya sekedar membacanya saja, mengetahui makna yang terkandung di dalamnya juga sangat penting. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang ditemukan kemudian dianalisis menggunakan teori tafsīr mauḍū‘ī. Sūrah Yāsīn dalam Tafsīr al-Ibrīz memiliki penjelasan yang berbeda dibandingkan dengan sūrah yang lainnya, yaitu adanya khatimah sūrah dan gambar. Bisri Mustofa mengklasifikasikan Sūrah Yāsīn ke dalam tiga pokok, yaitu tentang keesaan Allah, ketetapan risalah, dan adanya hari dibangkitkan (yaumul ba‘aṡ) dan hari dikumpulkannya semua makhluk (yaumul ḥasyr).Kata kunci: sūrah yāsīn, tafsīr al-ibrīz, tafsīr mauḍū‘ī, bisri mustofa, khatimah sūrah Sūrah Yāsīn is surah which often read and popular amongIslamic societies. That is because of many hadith narrated about the primacy. But not only read it, knowing the meaning contained in it is also very important. This research uses qualitative method. The data which are found then analyzed using the theory tafsīr mauḍū‘ī. Sūrah Yāsīn in the Tafsīr al- Ibrīz has a different explanation than the other surah, namely khatimah sūrah and picture. Bisri Mustafa classifies Sūrah Yāsīn into three principals, that is about the oneness of Allah, provision treatise, and the day of resurrection (yaumul ba‘aṡ) and the day gathered all beings (yaumul ḥasyr)Keywords: sūrah yāsīn, tafsīr al-ibrīz, tafsīr mauḍū‘ī, bisri mustofa, khatimah sūrah 
Konseptualisasi Kemiskinan Dan Penindasan Perspektif Farid Esack Hasby, Guntur; Maimun, Mumammad; Zain, Luqman
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2010

Abstract

Conceptualization Interpretation Studies Farid Esack In the book Qur’anLiberation And Pluralism An Islamic Perspective Of Interreligious Solidarity Against oppression About Verses Poverty The Quran is an indication of human life guidelines that would follow, it is not only related to the issue of ubudiyah but also social problems such as poverty which we will discuss the contents of this paper. In the life of modern society can not be separated from the problems that often become the color in the life of society itself. One of the many problems facing humans is the problem of poverty. The problem of poverty is as old as human age itself and the implications of the problem can involve all aspects of human life. In this issue has been widely discussed theories of poverty, including Farid Esack in book the Qur’an, Liberalism, and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against oppression describes the oppression that is one of the causes of their poverty.In this paper the problem under study is poverty caused by oppression. The purpose of this research is to suggest that poverty is caused by certain factors, and the solution to the problem. For that main reference in the discussion is karaya one of the leading figures of the Quran interpreter Farid Esack.The method used is a literature study, or better known as research libraries in other words the author uses the method of collecting and analyzing data. This study refers to the study in which the object is written by qualitative method.The results of this study relate to the suppression of a party to another party with a certain background of interest for an interest that benefits some parties regardless of the perceived consequences of others. The solution can be taken as a conclusion justice, hijrah, jihad, prohibition practice of riba , ban the practice of moneylenders, landlords removal system, alms. After all that can be accomplished, then the life of humanity based on equality in the eyes of human beings, and avoid the values of oppression.Keywords: Quran, Poverty, Oppression, and Liberation
Makna Zauj Dalam Tafsir Kementerian Agama RI (Analisis Strukturalisme Linguistik). Alfiyah, Laela
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 5 No. 01 Juni 2017
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.482 KB) | DOI: 10.24235/sqh.v5i01.2006

Abstract

Fenomena berpasangan belakangan marak di Indonesia. Dimulai dari trend couple di media sosial, permasalahan rumah tangga dalam film Wanita Berkalung Sorban, hingga jumlah kenaikan angka KDRT di Indonesia. Al-Qur’an menyebutkan kata zauj dalam 68 ayat, tersebar dalam 43 surah, dengan bentuk kata berbeda. Satu di antaranya menggunakan kata zawajnakaha, zawajnahum, yuzawwijuhum, zuwwijat, zauj, zaujan, zaujaka, zaujuhu, zaujaha, zaujani, zaujina, zaujaini, azwaj, azwajan, Al-Azwaj, Azwajah, Azwajika, Azwajukum, Azwajuhum, Azwajahunna, Azwajina. Salah satu produk Kementerian Agama RI adalah Tafsir Kementerian Agama RI dalam tiga edisi 1973-1989, 1990-1995, dan edisi disempurnakan 2003-2007. Hasil karya tafsir tersebut didistribusikan ke seluruh pelosok negeri melalui bidang Bimas Islam Kementerian Agama RI di seluruh kota di Indonesia agar masyarakat mempunyai pedoman tafsir bahasa Indonesia.Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengkaji lebih dalam kata zauj dalam Al-Qur’an yang diterjemahkan dan ditafsirkan oleh Kementerian Agama RI, 2) memberikan gambaran kemanfaatan analisis teori strukturalisme linguistik dalam terjemah dan tafsir ayat-ayat yang mengandung kata zauj.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menghasilkan data berbentuk uraian deskriptif. Adapun metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yakni; metode observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yakni analisis data berupa kata-kata dan bukan berupa angka.Hasil penelitian ini, melalui penerapan analisis strukturalisme linguistik memuat; Penelusuran sinkronis terjemah kata zauj dalam Al-Qur’an Tafsir Kementerian Agama RI tahun 2010 menggunakan 3 macam kelompok redaksi: 1) zauj diterjemahkan dengan pasangan, 2) zauj diterjemahkan dengan isteri, 3) zauj diterjemahkan dengan selain pasangan dan isteri. penerjemahan kata zauj menggunakan kata pasangan sebanyak 30 kali, isteri sebanyak 33 kali, dan selain dari pasangan dan isteri seperti perempuan-perempuan (lain), menganugerahkan, dipertemukan, macam tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman, golongan, berjenis-jenis, serupa, serta teman sejawat, masing-masing sebanyak satu kali, kecuali kata golongan diulang sebanyak 2 kali dalam ayat-ayat tertentu.Secara diakronis penerjemahan kata zauj mengalami perubahan makna dalam 11 surah. Sedangkan tafsir kata zauj secara diakronis menunjukkan adanya 10 penafsiran menggunakan perspektif laki-laki, dan 1 surah menggunakan perspektif gender pada permulaannya. Analisis sintagmatis mengarahkan kata zauj pada pemaknaan isteri, analisisparadigmatis mengarahkan zauj pada makna isteri, suami, dan pasangan, dan analisis relasi asosiatif mengarahkan zauj pada makna pasangan.Kata Kunci: Tafsir Kemenag RI, Strukturalisme Linguistik, Sinkronis, Diakronis, Sintagmatik, Paradigmatik, Relasi asosiatif.

Page 1 of 1 | Total Record : 10