Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 01 (2017): Juni"
:
20 Documents
clear
LIVING HADIS: TRADISI REBO WEKASAN DI PONDOK PESANTREN MQHS AL-KAMALIYAH BABAKAN CIWARINGIN CIREBON
Nurjannah, Siti
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3772
Tradisi rebo wekasan merupakan salah satu tradisi yang sampai saat ini masih dipraktikkan oleh masyarakat muslim Nusantara, baik yang berada di pulau Jawa maupun di luar Jawa. Tradisi rebo wekasan di Nusantara dipraktikkan dengan beragam ritual yang dijalankan, seperti: salat, berdoa, ziarah, mandi dan bersedekah. Namun keragaman ritual tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu agar pelakunya diberikan keselamatan dari segala macam bahaya dan malapetaka khususnya yang ada di bulan Safar. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah dan praktik ritual tradisi rebo wekasan serta menggali teks-teks keagamaan yang bersumber dari hadis Nabi yang merupakan pedoman atau pijakan Ya>si>n dan santri dalam melaksanakan tradisi rebo wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon. Penelitian ini menggunakan teori living hadis, dengan pendekatan historis-teologis serta fenomenologi. Metode yang digunakan adalah kualitatif, dan teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi.
AL-SUNNAH DAN TAFSIR ALQURAN (Tinjauan tentang Fungsi dan Posisi al-Sunnah dalam Tafsir Alquran)
MUSTOPA, MUSTOPA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3764
Para sahabat ketika Rasulullah Saw. masih hidup, apabila mereka menemukan persoalan terkait dengan Alquran mereka bertanya langsung kepada Rasulullah Saw., kemudian Rasulullah Saw. menjelaskannya untuk mereka. Posisi Rasulullah dalam hal ini sebagai penjelas Alquran dan posisi ini merupakan posisi dan fungsi al-Sunnah dalam tafsir Alquran. Ada beberapa pendapat para ulama terkait penafsiran Rasulullah Saw. terhadap Alquran. Pertama, Rasulullah Saw. menjelaskan kandungan Alquran kepada sahabat-sahabatnya. Sebagaimana Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. wajib untuk mengajarkan kandungan Alquran kepada para sahabatnya. Kedua, Rasulullah Saw. hanya sedikit dalam menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya. Sebagaimana riwayat 'Aisyah bahwa Rasulullah Saw. tidak menafsirkan satu ayat pun dari Alquran kecuali sangat terbatas yaitu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh malaikat Jibril.
METODE KAJIAN KITAB TAFSIR AL-IKLIL FI MA’ANI AL-TANZIL DENGAN FENOMENA SOSIAL DI PONDOK PESANTREN TAHSINUL AKHLAQ WINONG GEMPOL CIREBON
Kusen, Kusen;
Adib, Adib;
Maimun, Muhammad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3768
Tafsir adalah ilmu memahami Alquran. Kajian tafsir al-Iklil Fi Ma’ani al-Tanzil karya kiai Misbah Musthafa Bangil di pesantren Tahsinul Akhlaq Winong Gempol Cirebon sudah dilakukan sejak tahun 60-an. Kajian ini mempengaruhi kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat sekitar. Tulisan ini menjelaskan metode kajian kitab tafsir tersebut serta pengaruh sosial terhadap masyarakat. Hasil dari penelitiannya adalah kajian tafsir menggunakan metode penalaran deduktif dan tafsir lisan dengan nazam-nazam Jawa.
ALQURAN DAN FILSAFAT (Alquran Inspirator Bagi Lahirnya Filsafat)
Asmuni, Ahmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3763
Pedoman umat Islam yang menjadi petunjuk (hudan) utama bagi manusia adalah Alquran. Dalam Alquran Allah Swt. banyak memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan akal pikirannya (berpikir, berfilsafat). Dalam Alquran juga terdapat banyak ayat yang memberikan dorongan kepada manusia untuk selalu menggunakan dan senantiasa mengembangkan pikiran dan hatinya. Alquran banyak mendorong manusia untuk memikirkan penciptaan langit, bumi, manusia, alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan sebagainya. Alquran sangat mencela orang-orang yang bersikap taqlid dan jumud kepada warisan para leluhurnya sehingga mereka enggan menggunakan akalnya untuk memikirkan kebenaran dan berpikir bebas guna mencapai kebenaran. Perintah Allah terkait dengan perintah untuk menggunakan akal pikiran ini, sejalan dengan filsafat yang menggunakan akal. Dengan demikian, sangat bisa dipahami bahwa Alquran sesungguhnya menyuruh manusia untuk berfilsafat. Bahkan, Alquran telah menginspirasi bagi lahirnya filsafat. Karena itu, sangat bisa dipahami banyak lahir dari umat Islam para pemikir (Filosof) yang terkenal terutama pada masa klasik seperti; al-Razi, Ibn Rushd, al-Ghazali, dan lain-lain.
Living Quran: Resepsi Komunitas Muslim Pada Alquran (Studi Kasus di Pondok Pesantren at-Tarbiyyatul Wathoniyyah Desa Mertapada Kulon, Kec. Astatana Japura, Kab. Cirebon)
Nurfuadah, Hilda;
Junaedi, Didi;
Umayah, Umayah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3769
Artikel ini memfokuskan kajian tentang Living Quran sebagai resepsi komunitas Muslim pada Alquran. Living Quran pada hakikatnya bermula dari fenomena Quran in Everyday Life, yakni makna dan fungsi Alquran yang riil dipahami dan dialami masyarakat Muslim. Proses interaksi masyarakat terhadap Alquran tidak hanya sebatas pada pemaknaan teksnya, tetapi lebih ditekankan pada aspek penerapan (fungsional) teks-teks Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Memfungsikan Alquran seperti ini muncul karena adanya praktik pemaknaan Alquran yang tidak mengacu pada pemahaman atas pesan tekstualnya, tetapi berlandaskan anggapan adanya “fadilah” dari bagian tertentu dalam Alquran, penerapan teks-teks Alquran tersebut kemudian menjadi tradisi yang melembaga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
ALQURAN KALAMULLAH MUKJIZAT TERBESAR RASULULLAH SAW
Kholid, R. Idham
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3765
Alquran merupakan mukjizat Nabi Muhammad Saw. yang berfungsi untuk melegitimasi kerasulannya. Akal manusia belum bisa menerima kedudukannya sebagai Rasul tanpa membawa bukti kerasulannya dari Allah yang berupa mukjizat. Karena itu, setiap Rasul mempunyai mukjizat sebagai tanda kenabian dan risalahnya. Tanpa mukjizat itu, niscaya manusia tidak akan beriman pada mereka. Meskipun tingginya akhlak Rasul maupun pentingnya pesan yang dibawanya, atau tingginya intelektualitas, atau kedudukannya, masih belum cukup untuk menyatakan kerasulannya kepada manusia. Alquran bukan buku ketuhanan, bukan pula buku hukum, melainkan buku petunjuk bagi manusia. Otentisitas Alquran dijaga oleh Allah Swt. sejak pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Oleh karena itu, Alquran tidak mengalami penyimpangan, perubahan dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.
CADAR PERSPEKTIF MUFASIR Interpretasi Mufasir Salaf Hingga Muta’akhirin Terhadap Ayat 59 Surah al-Ahzab
Rahman, Haidir
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3770
Polemik cadar akhir-akhir ini menjadi buah perbincangan yang hangat untuk dikaji. Prilaku bercadar dinilai sebagai simbol bagi pemahaman Islam yang radikal. Anggapan ini menimbulkan respon negatif dari beberapa pihak yang kontra terhadap prilaku bercadar. Respon negatif ini di satu sisi telah mencederai kebebasan individu dalam melaksanakan ajaran agama Islam. Tulisan ini mencoba mangkaji prilaku bercadar dari sudut pandang ilmu tafsir. Pada kajian ini akan diungkap pendapat para mufasir sejak era salaf hingga era muta’akhirin. Bagaimana pandangan mereka terhadap aktifitas menutup wajah dengan cadar bagi wanita muslimah. Fokus kajian akan diarahkan pada interpretasi ayat 59 surah al-Ahzab sebagai landasan hukum bagi aturan berbusana wanita muslimah. Temuan dalam kajian ini menunjukkan bahwa mayoritas mufasir menginterpretasikan ayat 59 surah al-Ahzab sebagai perintah menutup wajah bagi wanita muslimah. Interpretasi mereka menunjukkan bahwa prilaku bercadar adalah prilaku yang bernilai positif dan bukan bagian dari ciri pemahaman radikal.
PEMIMPIN IDEAL DALAM PERSPEKTIF HADIS
Muthi’ah, Anisatun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3766
Pemimpin ideal dalam anjuran islam seharusnya sekaligus berarti penolong, karena pemimpin bertugas melindungi orang-orang yang dipimpinnya dan berusaha menolong serta menyelamatkan mereka saat kesulitan dan bencana menimpa, karena pemimpinlah yang bertanggung jawab atas segala hal yang ada dan yang terjadi dalam wilayahnya serta ihwal orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin dipilih adalah untuk memimpin anggota kelompoknya untuk dapat mewujudkan tujuan bersama.
REINTERPRETASI HADIS-HADIS INTOLERANSI AGAMA DALAM KUTUB AL-TIS’AH (KAJIAN TEMATIK)
Setiawan, Eka Tresna;
Zain MS, Lukman;
Umayah, Umayah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3771
Islam merupakan agama yang berprinsip kasih sayang terhadap seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) dan toleran. Persoalannya, di antara hadis-hadis Nabi Muhammad Saw., ada beberapa yang secara lahiriah tampak intoleran terhadap non Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep toleransi antar pemeluk agama dalam Islam, menjelaskan keberadaan hadis-hadis intoleran terhadap penganut agama dalam kutub al-tis’ah, dan menjelaskan reinterpretasi hadis-hadis tersebut. Penelitian ini berjenis penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif dan teknik analisis deduktif. Teori yang diambil adalah ikhtilaf al-hadith, yakni jam’u, tarjih dan naskh dengan menggunakan pengutamaan jam’u melalui kontekstualisasi universal, temporal dan lokal. Hasil penelitian ini adalah Pertama, Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, sebagaimana tercermin dalam ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi Saw. Kedua, ada beberapa hadis intoleran dalam kutub al-tis’ah, yakni penolakan ko-eksistensi, penolakan apresiasi dan penolakan ko-eksistensi. Ketiga, hasil reinterpretasinya adalah hadis-hadis yang tampak intoleran merupakan hadis temporal.
KONSEP MAHABAH DALAM PERSPEKTIF TAFSIR MAUDHU’I
SAMUD, SAMUD
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 5, No 01 (2017): Juni
Publisher : Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.482 KB)
|
DOI: 10.24235/sqh.v5i01.3767
Mahabah, adalah dalam bahasa Arab Mahabbah berasal dari kata ahabba-yuhibbu-mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam. Mahabah di definisikan sebagai “kecenderungan hati secara total pada sesuatu, perhatian terhadapnya itu melebihi perhatian pada diri sendiri, jiwa dan harta, sikap diri dalam menerima baik secara lahiriah maupun batiniah, perintah dan larangannya; dan pengakuan diri akan kurangnya cinta yang diberikan padanya. Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang telah diberi rasa cinta, sehingga manusia mampu menjadikan dirinya makhluk yang mampu mengasihi sesamanya. Dengan perasaan cinta itu pula manusia dapat mencintai dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun apa yang terjadi pada zaman sekarang sebagian manusia dengan mengatas namakan cinta untuk berbuat suatu kezaliman (kedurjanaan), hal tersebut yang tidak diharapkan oleh ajaran Islam. Konsep Mahabah dalam Alquran adalah pandangan Alquran dalam hal ini adalah Mushaf ‘Uthmani tentang mahabah dan hal-hal yang terkait dengannya yang dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang membahas tentang mahabah.