cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER" : 6 Documents clear
Prevalensi dan Faktor Risiko Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia Frits R.W. Suling; Medisa I. Patricia; Timothy E. Suling
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Sindrom Koroner Akut (SKA) sampai saat ini merupakan penyebab kematian utama di seluruh dunia. Berdasarkan data yang dicatat oleh WHO, 78% kematian global akibat jantung terjadi pada masyarakat miskin dan menengah. Berdasarkan data yang diolah oleh Riskesdas tahun 2013 didapatkan prevalensi SKA di Indonesia sebesar 1,5 % atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang. Penyebab SKA secara pasti belum diketahui, meskipun demikian banyak faktor yang berperan penting terhadap timbulnya SKA. Faktor risiko SKA terbagi menjadi dua, yaitu yang bersifat tak dapat dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga, serta yang bersifat dapat dimodifikasi seperti hipertensi, dislipidemia, merokok, diabetes melitus, dan obesitas. Insidensi SKA pada penderita hipertensi adalah lebih dari lima kali daripada yang normotensi. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 25,8% dan sebagian besar (63,2%) kasus hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko Sindrome Koroner Akut (SKA) pada pasien di Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia periode Agustus 2017 sampai dengan Desember 2017. Terdapat 15 pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada dan memiliki diagnosis akhir SKA. Hipertensi tetap menjadi faktor risiko terbanyak (30,9%) dari total keseluruhan pasien SKA di Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia.Kata Kunci: sindrome koroner akut, faktor risiko, hipertensi Abstract Acute coronary syndrome (ACS) is the leading cause of death in the world. According to WHO up to 78% of global death caused by ACS occurred in the lower and middle socio-economic class. According to the 2013 Primary Health Care Survey, the prevalence of ACS in Indonesia is as much as 1.5% or approximately about 2,650,340 patients. The certain cause of ACS is still unknown, but there are factors known to be strongly related with the incidence of ACS. The risk factors of ACS are divided into two categories, non-modified and modified. Non-modified risk factors include age, sex, and family history, while modified risk factors include hypertension, dyslipidemia, smoking, diabetes mellitus, and obesity. ACS incidence in hypertensive patients is more than five times greater than in normotensive patients. Based on the 2013 Primary Health Care Survey the estimated prevalence of hypertension in Indonesia was 25.8% and most of the cases (63.2%) were undiagnosed. This study was aimed to describe the prevalence of ACS in Christian University of Indonesia General Hospital between August 2017 and December 2017. There were 15 patients who came with chest pain and were diagnosed as ACS. The result of this study showed that hypertension remained the leading risk factor of ACS (found in 30.9%patients).Key words: sindrom koroner akut, faktor risiko, hipertensi
Kesesuaian Hasil Pemeriksaan CT Scan dan Klasifikasi Child-Pugh pada Sirosis Hepatis Richard Y. Marvellini; Nurdopo Baskoro Baskoro; Hery D. Purnomo; Muhammad S. Kosim
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Sirosis hepatis merupakan hasil akhir dari kerusakan kronis hepar akibat berbagai etiologi, ditandai dengan kerusakan parenkim mengarah kepada fibrosis yang luas dan regenerasi nodular. Fibrosis hepar berlangsung lambat dan bertahap menuju sirosis hepatis dekompensata. Derajat sirosis hepatis akan sangat membantu jika dapat ditentukan baik secara klinis maupun dengan pencitraan non-invasif. Derajat sirosis hepatis secara klinis dikaitkan dengan klasifikasi Child-Pugh sedangkan CT scan merupakan modalitas utama yang digunakan pada pasien dengan sirosis hepatis karena dapat menilai dengan baik serta akurat perubahan intrahepatik yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dan menggunakan data rekam medik 26 sampel penderita sirosis hepatis yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan korelasi Spearman’s Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian derajat sirosis hepatis yang memiliki korelasi yang kuat dan bermakna antara CT scan dengan klasifikasi Child-Pugh dalam menilai total volume hepar (r= -0,719; p=0,001); nilai rata-rata tiga diameter vena hepatika dengan rasio lobus kaudatus lobus kanan hepar (ld/CRL-r) (r= -0,760; p=0,001); dan perubahan kontur hepar (r= 0,812; p=0,001).Kata kunci: Sirosis hepatis, morfologi hepar, CT scan, klasifikasi Child-Pugh Abstract Liver cirrhosis is the final result of chronic damage to the liver from various etiologies, characterized by parenchymal injury leading to extensive fibrosis and nodular regeneration. Hepatic fibrosis proceeds slowly and gradually toward decompensated cirrhosis. It would be helpful if it were possible to determine the severity of liver cirrhosis clinically and by noninvasive imaging. The severity of liver cirrhosis is clinically evaluated with Child-Pugh classification while the CT scan is the primary modality used in patients with liver cirrhosis because it can assess properly and accurately the changes that occur intrahepatic. This research is a retrospective study using medical records of 26 liver cirrhosis patients who met the inclusion criteria. Data were analyzed using Spearman’s Rank correlation. There were strong and significant correlations between CT scan and Child-Pugh classification on total liver volume (r = -0.719; p=0.001), ld/CRL-r (r = -0.760; p=0.001), and the contour of the liver (r = 0.812; p=0.001).Keywords: liver cirrhosis, liver morphology, CT scan, Child-Pugh classification
Karakteristik Demografis dan Indeks Massa Tubuh Pasien Osteoartritis di Rumah Sakit Umum UKI Karuniawan Purwantono
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Osteoartritis adalah penyakit sendi yang menyebabkan rusaknya kartilago sendi. Berdasarkan WHO, prevalensi osteoartritis dunia tahun 2004 mencapai 151,4 juta jiwa. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007 prevalensi penyakit sendi di Indonesia adalah sebesar 30,3%. Terdapat dua jenis faktor risiko terjadinya osteoartritis yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti faktor genetik, jenis kelamin, ras, serta usia dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti obesitas, faktor hormonal, aktivitas berlebihan, kelemahan otot, dan trauma. Osteoartritis dapat menyebabkan hendaya dalam aktivitas sehari-hari terutama pada pasien usia tua. Osteoartritis juga dapat menyebabkan terjadinya kecacatan dan penurunan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui sebaran karakteristik jenis kelamin, usia, dan indeks massa tubuh (IMT) pasien osteoartritis di Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia periode tahun 2015 hingga tahun 2016. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa osteoartritis lebih banyak ditemukan pada pasien usia tua (usia di atas 60 tahun), jenis kelamin perempuan, dan pasien obes kelas I.Kata Kunci: faktor risiko, obesitas, osteoartritis Abstract Osteoarthritis is a joint disease that affects the cartilage in the synovial joints. According to WHO, the global prevalence of osteoarthritis was up to 151,4 million lives in 2004. According to the primary health care survey (Riskesdas) data in 2007, the prevalence of joint disease in Indonesia was as much as 30,3%. There are two types of osteoarthritis risk factors: non-modified and modified. The non-modified risk factors include genetic factors, age, sex, and race, while modified risk factors include obesity, hormonal factors, excessive physical activity, muscle weakness, and trauma. Osteoarthritis can cause disabilities in daily activity especially in older adults. Osteoarthritis can also decrease the quality of life of the patients affected. This study was conducted to describe the distributions of osteoarthritis patients based on age, sex, and body mass index (BMI) at Christian University of Indonesia General Hospital between January 2015 and December 2016. The result of this study illustrates that osteoarthritis was more frequent in older patients (older than 60 year old), female patients, and patients with grade I obesity.Key words: obesity, osteoarthritis, risk factors
Laporan Kasus: Gangguan Disosiasi (Konversi) Dwi Karlina
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Seorang pasien laki-laki, berusia 27 tahun, sarjana hukum, dan bekerja sebagai polisi. Sejak 5 bulan terakhir setiap kali memakai seragam, kaki kirinya menjadi sekaku kayu sehingga sulit digerakkan. Pasien juga merasa bingung kalau akan bekerja karena tak tahu jalan menuju kantor, walau sudah dihafalkan. Ia juga mengalami kesurupan. Pasien didiagnosis menderita amnesia disosiatif, gangguan motorik disosiatif dan trans. Psikoterapi memulihkan pasien. Kata kunci: amnesia disosiatif, gangguan motorik disosiatif, trans, psikoterapi. Abstract A male patient, 27 years old, held a bachelor degree in law, and worked as a policeman. In the past 5 months his left leg was spastic when he wore his uniform. He confused if he wanted to go to his office, because he didn’t know the way to his office. He also had trance. The patient was diagnosed as having amnesia dissosiative, motoric dissosiative disorder and trance. The condition was improved after receiving psychotherapy. Key words: amnesia dissosiative, motoric dissosiative disorder, trance, psychotherapy
Luka Bakar pada Anak Karakteristik dan Penyebab Kematian Cindy D. Christie; Rismala Dewi; Sudung O. Pardede; Aditya Wardhana
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Luka bakar merupakan salah satu penyebab kecacatan sementara, permanen, maupun kematian pada anak. Etiologi luka bakar dapat dibedakan menjaddi termal, luka bakar listrik, luka bakar kimiawi, dan radiasi. Menurut World Health Organization (WHO), angka kematian akibat luka bakar tertinggi di Asia tenggara yaitu 11,6 per 100.000 populasi dengan risiko tertinggi adalah anak-anak. Insiden dan kematian akibat luka bakar bervariasi di setiap negara dan dipengaruhi karakteristik luka bakar. Deteksi dini dan tata laksana yang tepat dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas luka bakar. Pengenalan karakteristik dan deteksi dini kondisi kritis sangat bermanfaat terhadap kemajuan tata laksana luka bakar.Kata kunci: anak, bula, luka bakar Abstract Burns are one of the causes of temporary and permanent defects or death in children. Etiology of burns can be devided into thermal, electricity, chemical, and radiation. According to the World Health Organization (WHO), the highest death rate from burns in Southeast Asia is 11.6 per 100,000 population with the highest risk being children. Incidence and mortality rate of burns injury vary across countries, and are affected by burns characteristics. Deaths in children with burns are most often due to sepsis and multi-organ failure. The introduction of characteristics and early detection of critical conditions can be beneficial to the progress of burn management.Keywords: children, bullae, burns
Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil dan Stunting Ida B. E. Utama; Lydia P. Hilman
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Seiring dengan masa kehamilan, akan terjadi peningkatan volume darah yang sudah dimulai sejak trimester pertama. Di dalam volume darah, termasuk di antaranya adalah konsentrasi hemoglobin dan hematokrit, yang berkurang pada saat kehamilan sebagai efek dari peningkatan volume darah. Keadaan ini akan menyebabkan ibu hamil mengalami anemia. Defisiensi besi merupakan penyebab terbanyak terjadinya anemia pada ibu hamil dikarenakan kebutuhan akan zat besi semakin bertambah pada masa kehamilan. Anemia pada masa maternal akan menyebabkan kondisi hipoksia pada fetal hepatic, sehingga sintesis protein hepatik akan terhambat. Secara in vitro, kondisi oksigen rendah akan menghambat aksi dari IGF-1 (insulin-like growth factors), terutama IGFBP-1 (insulin like- growth factors binding protein) terfosforilasi. IGF-1 merupakan suatu growth promoting factor dalam proses pertumbuhan dan bekerja sebagai mediator untuk GH (growth hormone), yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan linear. Hal ini akan mendasari awal terjadinya stunting pada anak.Kata kunci: Anemia defisiensi besi, insulin-like growth factors, growth hormone, pertumbuhan linier Abstract Increase in blood volume starts from the first trimester of the pregnancy. In pregnancy, hematocrit and hemoglobin concentration will decline that caused anemia in pregnancy as an effect of the increasing blood volume. Iron deficiency is the most common cause of anemia in pregnancy resulted from the rising demand. Anemia in pregnancy will cause fetal hepatic hypoxia that slows down protein synthetic in liver. Low oxygen level in pregnancy inhibit the phosphorylation of IGF-I (insulin-like growth factors) especially IGFBP-1 (insulin like-growth factors binding protein). IGF-1 is a growth promoting factor that increases linear fetal growth. Inhibition of IGF-1is the underlying factor of stunting in children.Key words: Iron deficiency anemia, insulin-like growth factor, growth hormone, linear growth

Page 1 of 1 | Total Record : 6