Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PEDIATRIC SEQUENTIAL ORGAN FAILURE ASSESSMENT SCORE: MODIFIKASI SISTEM SKOR PADA SEPSIS ANAK Rismala Dewi
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 70 No 2 (2020): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jinma.v70i2.176

Abstract

Pendahuluan: Society of Critical Care Medicine (SCCM) dan European Society of Intensive Care Medicine (ESICM) mengeluarkan definisi sepsis terbaru (Sepsis-3) yaitu disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respon imun pejamu terhadap infeksi. Skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) telah dipilih dan divalidasi sebagai sistem penilaian untuk mengukur disfungsi organ dikarenakan skor SOFA pada pasien dewasa dengan kecurigaan infeksi, sebanding atau bahkan lebih unggul daripada sistem penilaian lainnya dalam membedakan mortalitas rumah sakit. Untuk mengadaptasi definisi Sepsis-3, skor SOFA diadaptasi dan divalidasi untuk pasien anak-anak yang mengidap sakit kritis (pSOFA) dengan menggunakan kriteria yang telah disesuaikan berdasarkan usia. Hasil penelitian menunjukan perkiraan mortalitas pada pSOFA saat waktu kedatangan, hari 2, 4, 7 dan 14 setelah masuk Pediatric Intensive Care Unit (PICU) lebih baik dibandingkan skor disfungsi organ lainnya. Evaluasi serial dari skor pSOFA pada hari pertama setelah masuk PICU juga sangat baik dalam memprediksi prognosis dari pasien pediatri onkologi yang memakai ventilator selama 3 hari, anak-anak dengan sepsis di PICU dan berguna untuk memprediksi mortalitas 30 hari pada populasi PICU, namun kurang berhasil dalam memprediksi lamanya pasien untuk dirawat di PICU.
Peningkatan Kadar Troponin-I Paska Resusitasi Cairan pada Sus Scrofa Sebagai Model Hewan Coba Renjatan Hotber E. R. Pasaribu; Antonius H Pudjiadi; Rismala Dewi
Jurnal Ilmu Kedokteran Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ilmu Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.355 KB) | DOI: 10.26891/JIK.v12i1.2018.7-12

Abstract

Provision large amounts of fluids in a short period is known can cause hypervolemia. Therefore, an examination is needed to find out that the fluid resuscitation being administered does not cause hypervolemia. The purpose of this study is to assess the effect of hypervolemic resuscitation on cardiac contractility. The study was conducted on 10 male Sus Scrofa aged 6-8 weeks, as shocked animal models. There are 3 types of resuscitation treatments : normovolemic, hypervolemic-1, and hypervolemic-2. Cardiac contractility was assessed using DPmax and troponin-i levels. There was an increase in troponin-i levels after hypervolemic fluid resuscitation (p = 0.05). There is a decrease in cardiac contractility after hypervolemic resuscitation. Decreased cardiac contractility is associated with increased troponin-i (r = 0.720; p = 0.020). Based on the results, we conclude hypervolemic resuscitation causes changes in troponin-i levels, which reflect changes in cardiac contractility.
Luka Bakar pada Anak Karakteristik dan Penyebab Kematian Cindy D. Christie; Rismala Dewi; Sudung O. Pardede; Aditya Wardhana
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Luka bakar merupakan salah satu penyebab kecacatan sementara, permanen, maupun kematian pada anak. Etiologi luka bakar dapat dibedakan menjaddi termal, luka bakar listrik, luka bakar kimiawi, dan radiasi. Menurut World Health Organization (WHO), angka kematian akibat luka bakar tertinggi di Asia tenggara yaitu 11,6 per 100.000 populasi dengan risiko tertinggi adalah anak-anak. Insiden dan kematian akibat luka bakar bervariasi di setiap negara dan dipengaruhi karakteristik luka bakar. Deteksi dini dan tata laksana yang tepat dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas luka bakar. Pengenalan karakteristik dan deteksi dini kondisi kritis sangat bermanfaat terhadap kemajuan tata laksana luka bakar.Kata kunci: anak, bula, luka bakar Abstract Burns are one of the causes of temporary and permanent defects or death in children. Etiology of burns can be devided into thermal, electricity, chemical, and radiation. According to the World Health Organization (WHO), the highest death rate from burns in Southeast Asia is 11.6 per 100,000 population with the highest risk being children. Incidence and mortality rate of burns injury vary across countries, and are affected by burns characteristics. Deaths in children with burns are most often due to sepsis and multi-organ failure. The introduction of characteristics and early detection of critical conditions can be beneficial to the progress of burn management.Keywords: children, bullae, burns
Citrullinated Histone H3 Level as a Novel Biomarker in Pediatric Clinical Sepsis Ronald Chandra; Antonius Hocky Pudjiadi; Rismala Dewi
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 3 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i3.1597

Abstract

BACKGROUND: Sepsis is still leading cause of death in critically ill children. Early recognition of sepsis and treatments are needed to reduce its mortality. The use of citrullinated Histone H3 (Cit-H3) as an early sepsis marker and outcome predictor has been validated in previous studies among adults. However, only one study in pediatric meningococcal sepsis was reported with contradictory results. This study aims to determine Cit-H3 levels in pediatric clinical sepsis and analyze its association with sepsis severity and survival rate.METHODS: A prospective observational cohort study involving 67 pediatric subjects clinically diagnosed with sepsis was conducted. Cit-H3 levels, Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 (PELOD-2) score, and Pediatric Sequential Organ Failure Assessment (pSOFA) score were assessed at the time of diagnosis (0-hour) and 48 hours later. Pearson Correlation test was used to determine the correlation between Cit-H3 levels with PELOD-2 and pSOFA scores and receiver operating curve to find the cut-off of Cit-H3 levels on clinical sepsis patients.RESULTS: Among clinically sepsis patients, the median Cit-H3 level was 1,210 (800-32,160) ng/mL, with optimal cut-off point ≥1200 ng/mL (sensitivity 83.3% and specificity 75.7%) to discriminate sepsis. The median Cit-H3 levels at 0-hour were lower in survivor compared to non-survivor group (p=0.016). Cit-H3 level was able to predict mortality with optimal cut-off point ≥1,200 ng/mL, sensitivity 72.2% and specificity 57.1% (AUC of 69.2%; p=0.017). Using survival analysis, Cit-H3 was significantly associated with the mortality rate (p=0.023; hazard ratio of 3.45).CONCLUSION: Cit-H3 level could be potential to predict pediatric sepsis events and its outcome.KEYWORDS: citrullinated histone H3, neutrophil extracellular traps, pediatric sepsis, PELOD-2 score, pSOFA score, survival
Prevalensi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi Usia 4 – 12 Bulan di Kecamatan Matraman dan Sekitarnya, Jakarta Timur Rini Sekartini; oedjatmiko oedjatmiko; Corry Wawolumaya; Irene Yuniar; Rismala Dewi; Nycane Nycane; Imam D; Imam N; Adam Adam
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.2-8

Abstract

Latar belakang: prevalensi anemia defisiensi besi masih tinggi terutama pada bayi. Deteksidini terhadap anemia pada bayi terutama bayi dengan risiko tinggi sangat diperlukanuntuk mencapai tumbuh kembang optimal.Tujuan: untuk mengetahui prevalensi anemia defisiensi besi.Bahan dan cara metode: studi deskriptif belah lintang dilakukan di empat Puskesmasdi Jakarta Timur. Populasi sampel adalah bayi umur 4-12 bulan yang tinggal di wilayahKecamatan Matraman dan sekitarnya pada bulan Maret 2004. Sampling diambil denganmetode convenient, pengumpulan data dengan pengisian kuesioner oleh ibu bayi secaraterpimpin. Pengukuran di lakukan pada panjang badan, berat badan, lingkar kepalabayi. Pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan Hemocue®, sedangkan serum feritindiperiksa di laboratorium SEAMEO-TROPMED FKUI.Hasil: sampel terdiri dari 55 bayi, 63,6% laki-laki, 58,2% berumur 8-12 bulan, dan87,3% berasal dari keluarga dengan pendapatan per kapita per bulan rendah. Sebagianbesar berstatus gizi kurang (60%), 96,4% lahir cukup bulan, 3,6% bayi lahir denganberat badan rendah pemberian ASI ekslusif 94,5%. Diantara 55 bayi 38,2% mengalamianemia dan 71,4% bayi anemia tersebut menderita anemia defisiensi besi. Prevalensianemia defisiensi besi lebih besar pada bayi 8-12 bulan daripada bayi yang lebih muda,yaitu 73,3%.Kesimpulan: tidak didapatkan hubungan bermakna antara anemia defisiensi pada bayidengan jenis kelamin, umur, tingkat pendapatan orang tua, usia gestasi, berat lahir,pemberian ASI ekslusif, susu formula yang difortifikasi besi, dan makanan pendampingASI, serta infeksi yang diderita bayi.
Peran Kortikosteroid dalam Pencegahan Stridor Pasca-ekstubasi pada Anak Rismala Dewi; Cahyani Gita Ambarsari
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.17 KB) | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.14-20

Abstract

Stridor pasca-ekstubasi merupakan tanda obstruksi jalan napas atas akibat inflamasi yang terjadi padatindakan intubasi. Inflamasi ini menimbulkan risiko untuk perlunya reintubasi dalam 24-48 jam pascaekstubasi,sehingga memperpanjang lama rawat pasien di unit perawatan intensif, meningkatkan risikoterjadinya berbagai penyulit akibat penggunaan ventilator mekanis, dan meningkatkan mortalitas. Padacontoh kasus ini, pasien mengalami intubasi berulang sebanyak tiga kali dengan lama tiap-tiap penggunaanintubasi adalah 5 hari, dan ada riwayat kesulitan intubasi pada tindakan intubasi pertama. Pasca-ekstubasiyang pertama, pasien mengalami sesak dan stridor sehingga reintubasi diperlukan. Riwayat kortikosteroidprofilaksis sebelum ekstubasi tidak diketahui. Dengan mempertimbangkan adanya riwayat intubasi sulitserta durasi intubasi >48 jam, pasien ini berisiko mengalami kegagalan ekstubasi, sehingga pemberiankortikosteroid profilaksis sebelum ekstubasi diharapkan akan bermanfaat. Pada pasien anak, belum ada buktiberbasis medik yang memadai untuk menyimpulkan bahwa pemberian kortikosteroid profilaksis sebelumekstubasi elektif akan mencegah stridor pasca-ekstubasi. Telaah dari studi yang heterogen dengan metodologiyang kurang memadai seperti dalam ulasan ini cenderung hanya melaporkan efek terapi, tetapi belumdapat digunakan sebagai suatu pedoman. Beberapa studi menunjukkan peran kortikosteroid menghasilkankeluaran yang baik. Deksametason IV yang diberikan beberapa jam sebelum dan sesudah ekstubasi padaanak, termasuk pada pasien dengan riwayat kegagalan intubasi, akan mengurangi risiko terjadinya stridorpasca-ekstubasi.
Penggunaan MgSO4 pada Asma Serangan Berat: laporan kasus Bambang Supriyatno; Rismala Dewi; Wahyuni Indawati
Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.453 KB) | DOI: 10.14238/sp11.3.2009.155-8

Abstract

Derajat serangan asma dibagi dalam tiga kelompok yaitu serangan ringan, sedang, dan berat, untuk membedakan tata laksananya. Kadang-kadang dengan tata laksana yang sudah sesuai standar pada serangan berat kurang memberikan respons sehingga perlu tata laksana alternatif. Salah satu terapi alternatif adalah penggunaan MgSO4 yang masih menjadi kontroversi efektivitasnya dibandingkan dengan pemberian inhalasi beta-2 agonis dan ipratropium bromida. Di sisi lain pernah dilaporkan keberhasilan penggunaan MgSO4 pada asma serangan berat setelah gagal dengan tata laksana standar. Dilaporkan dua anak dengan asma serangan berat yang tidak responsif dengan terapi standar seperti pemberian oksigen, cairan rumatan, inhalasi dengan dengan beta-2 agonis dan kortikosteroid intravena. dengan penambahan MgSO4 didapatkan respons yang sangat baik. Sebagai kesimpulan MgSO4 dapat digunakan sebagai terapi alternatif pada asma serangan berat.
Efektivitas T-Piece Resuscitator Sebagai Pengganti Continous Positive Airway Pressure Dini pada Bayi Prematur dengan Distres Pernapasan Laila Laila; Rinawati Rohsiswatmo; Hanifah Oswari; Darmawan B Setyanto; Teny Tjitra; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.63 KB) | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.374-8

Abstract

Latar belakang. Teknik resusitasi yang tepat dengan penggunaan CPAP dini atau t-piece resuscitator di tempatbayi dilahirkan, dapat diturunkan kebutuhan intubasi, mengurangi penggunaan surfaktan, dan menurunkankomplikasi bronchopulmonary dysplasia (BPD). Penting untuk mengetahui peran t-piece resuscitator sebagaipengganti CPAP dini untuk mencegah kejadian intubasi pada bayi dengan distres pernapasan (DP).Tujuan. Mengetahui peran t-piece resuscitator sebagai pengganti CPAP dini untuk mencegah kejadianintubasi dan mengetahui faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kegagalan CPAP pada bayi prematurdengan DP.Metode. Penelitian kohort propektif dengan historical cohort sebagai kontrol pada 141 bayi prematur denganDP di Unit Perinatologi IKA-RSCM, selama Februari-Mei 2011.Hasil. T-Piece Resuscitator terbukti berdampak protektif menurunkan kegagalan CPAP sebesar 90%[RR:0,1,IK95%: 0,02-0,5, dan p=0,003]. Faktor lain yang memengaruhi kegagalan CPAP adalah settingawal FiO2>60% [p=0,005; RR: 1,1,IK95%: 1,03-1,2] dan sepsis neonatal [p=0,000; RR:11,6, IK95%:3,9-34,5].Kesimpulan. T-piece resuscitator berefek protektif menurunkan kegagalan CPAP 90% dan faktor-faktoryang memengaruhi kegagalan CPAP adalah setting awal FiO2>60%, dan sepsis neonatal.
Pediatric Early Warning Score: Bagaimana langkah kita selanjutnya? Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.68-73

Abstract

Pengenalan secara dini tanda dan gejala perburukan klinis pada pasien anak di ruang perawatan merupakan faktor utama demi kelangsungan hidup dan memperbaiki prognosis. Anamnesis dan pemeriksaan fisis singkat diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat agar intervensi oleh tim medis reaksi cepat (TMRC) dapat dilakukan segera, sehingga mencegah perburukan klinis menjadi gagal sirkulasi, gagal napas, atau henti kardiopulmonal. Pediatric early warning score (PEWS) merupakan salah satu alat atau sistem skoring menggunakan karakteristik pasien yang dapat mendeteksi perburukan klinis pada anak di ruang rawat inap saat ini belum ada konsensus dan juga bukti sistem PEW yang paling berguna atau ‘optimal’ untuk kasus anak. 
Penggunaan Kloral Hidrat Oral Dibandingkan Ketamin Intramuskular sebagai Agen Sedasi Pratindakan Invasif pada Anak Rismala Dewi; Andina Judith
Sari Pediatri Vol 22, No 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.1.2020.49-56

Abstract

Latar belakang. Sedasi pratindakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan tindakan invasif pada anak. Sebelum tindakan, pasien idealnya diberikan sedasi melalui jalur intravena. Jalur intravena ini seringkali sulit didapat, bahkan menjadi indikasi pemasangan akses sentral. Sedasi rutin diluar intravena yang umum digunakan adalah ketamin intramuskular, namun pemberian ini tidak nyaman dan seringkali dibutuhkan pemberian berulang sehingga menyakitkan bagi anak. Salah satu sedasi yang dapat dipertimbangkan sebagai alternatif adalah pemberian kloral hidrat oral.Tujuan. Mengetahui efektivitas kloral hidrat oral dibandingkan dengan ketamin intramuskular pada pasien anak yang memerlukan tindakan invasif dalam kondisi akses vaskular sulit.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik menggunakan Pubmed®, Cochrane® serta penelusuran manual.Hasil. Studi oleh Campbell dkk, menunjukkan bahwa rerata waktu induksi dengan menggunakan kloral hidrat lebih lama dibandingkan ketamin intramuskular (43,8 menit vs 16,6 dan 15,2 menit, p<0,001) dengan rerata waktu sedasi yang hampir sama pada kedua kelompok. Studi lain oleh Min dkk, menunjukkan hasil serupa dalam waktu induksi (kloral hidrat 34,97±24.07 menit, ketamin 14,97±8.77 menit, p≤0,001), tetapi tidak berbeda bermakna dalam durasi sedasi (kloral hidrat 72,49±51,75 menit, ketamin 56,09 ±32,31 menit p=0,102).Kesimpulan. Pemberian kloral hidrat sebagai sedasi pratindakan invasif memiliki efektivitas yang sama dengan ketamin intramuskular, meskipun memerlukan waktu lebih lama untuk induksi sedasi. 
Co-Authors Abdul Latief Abdul Latief Abriyanto, Abriyanto Adam Adam Aditya Wardhana Afif, Ahmad Ainul Alan Roland Tumbelaka Amir S. Madjid, Amir S. Andina Judith Andriani, Adinda Viviana Antonius H. Pudjiadi Antonius Pudjiadi Arie Dian Fatmawati Arvina Novianti Arwin A.P Akib Ashfahani Imanadhia Badriul Hegar Bambang Supriyatno Cahyani Gita Ambarsari Cindy D. Christie Corry Wawolumaya Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B Setyanto Darmawan B. Setyanto Dina Nurpita Suprawoto Dwi Utari Rahmiati Ega Iftahul Rizky Eka Laksmi Hidayati, Eka Laksmi Endah Sulistiawati Evita Kariani B. Ifran Fatimatuzzuhroh Fatimatuzzuhroh Freddy Guntur Mangapul Silitonga Gunanti . Hanifah Oswari Hartono Gunardi Hartono Gunardi Helen Dian Fridayani, Helen Dian Hermin Mardiana Hidayat, Nauval Edghina Hotber Pasaribu I Nyoman Budi Hartawan Ifran, Evita Kariani Imam D Imam N Iqbal Zein Assyidiqie Irawan Mangunatmadja Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Iskandar, Stephen Diah Jayanti, Reny Dwi Jeanne Laurensie Sihombing Jose M. Mandei Julianti Julianti, Julianti Kaltha, Karina Kusumaningrum, Alya Laila Laila Marissa Tania Stephanie Pudjiadi Misbah Muhammad Abhi Purnomosidi Mulya R. Karyanti Munar Lubis Nabilla Novella Riyanti Nathanne Septhiandi Niken Wahyu Puspaningtyas Novie Amelia Nycane Nycane oedjatmiko oedjatmiko Partini Pudjiastuti Trihono Piprim B Yanuarso Piprim B. Yanuarso, Piprim B. Purwasari, Lucy Asri Putri, Ruth Angelia Riki Siswandi Rina Amalia C. Saragih Rinawati Rohsiswatmo Rini Sekartini Risa Imanillah Risma Kerina Kaban, Risma Kerina Ronald Chandra Rosalina Dewi Roeslani, Rosalina Dewi Sita Febriani Sudung O Pardede, Sudung O Sudung O. Pardede Sukasno Sukasno Syafiqurosyid, M. Zufar Syamsidah Lubis, Syamsidah Teny Tjitra Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Tidi Maharani, Tidi Tjhin Wiguna Wahyuni Indawati Wardah, Nabila Amalya Wardhana, Aditya Widjaya, Malik Wisnu