cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2023): September" : 25 Documents clear
Pengaruh Penambahan Bioaktivator EM4 dan Molase dalam Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Restoran Khas Bali I Putu Cahya Windu Adi; I Putu Surya Wirawan; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p13

Abstract

Abstrak Pupuk organik cair merupakan jenis pupuk yang terbuat dari hasil pemanfaatan limbah organik. Limbah restoran yang digunakan pada proses pembuatan pupuk organik cair ini antara lain (sayur, sisa nasi, kulit bawang, dan sisa buah). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pengaruh penambahan bioaktivator EM4 Dan molase pada pembuatan pupuk organik cair dari limbah restoran. Metode yang digunakan untuk analisis kadar air adalah metode gravimetri (AOAC 2016). Hasil penelitian mununjukkan bahwa penggunaan molase dan EM4 tidak menyebabkan pengaruh yang signifikan pada suhu dan ph. Rata–rata suhu yang didapat dari tiga ulangan yaitu 27,8ºC dan nilai pH yang dihasilkan 7,49 diawal fermentasi tidak berpengaruh nyata. Pada analisis kadar NPK, peran penggunaan EM4 dan molase sangat berpengaruh, dimana masing–masing menghasilkan nilai 0,12%, 0,042%, 0,022% yang merupakan nilai tertinggi pada NPK. Hasil analisis kadar air bahan mendapatkan nilai 47,73%. Hasil analisis nilai C/N ratio menunjukkan nilai C-Organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai N-total. Warna yang dihasilkan dari lindi bahan sangat beragam, dikarenakan variasi bahan baku yang digunakan. Penggunaan bioaktivator EM4 dan molase tidak memiliki pengaruh terhadap suhu dan pH tetapi menghasilkan pengaruh yang signifikan pada kadar NPK. Abstract Liquid organic fertilizer is a type of fertilizer made from the utilization of organic waste. Food waste used in the process of making liquid organic fertilizer includes vegetables, leftover rice, onion peel, and fruit residue. The purpose of this study was to obtain the effect of using EM4 and molasses bioactivator in the manufacture of liquid organic fertilizer. The method used for water content analysis is the gravimetric method (AOAC 2016). From the results of research that has been done that the use of molasses and EM4 does not cause a significant effect on temperature and pH. From the results of field research, the average temperature obtained from three replications is 27.8ºC and the resulting pH value is 7.49 at the beginning of the fermentation. In the analysis of NPK levels, the role of the use of molasses and EM4 is very influential, where each produces a value of 0.12%, 0.042% , 0.022% which is the highest value for NPK. The results of the analysis of the water content of the material get a value of 47.73%. The results of the analysis of the C/N ratio showed that the C-Organic value was higher than the N-total value. The colors produced from leachate materials are very diverse, due to variations in the raw materials used. The use of molasses and EM4 bioactivator had no effect on temperature and pH but did have a significant effect on NPK levels.
Karakteristik Parameter Pertumbuhan Microgreen Lobak (Raphanus sativus) pada Jenis Media Tanam dan Penggunaan Grow Light Mus'ab Az Zubairi; Ni Nyoman Sulastri; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p18

Abstract

Abstrak Microgreen berpotensi dikembangkan pada sistem urban farming, karena kemudahan dalam mendapatkan media tanam, alat untuk digunakan serta dapat dibudidayakan pada lahan yang sempit. Microgreen lobak (Raphanus sativus) merupakan antioksidan yang baik bagi kesehatan yang berperan sebagai sumber polifenol. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan microgreen lobak pada pengaruh variasi media tanam dan LED grow light dan menentukan perlakuan yang menghasilkan pertumbuhan terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, jenis media tanam dan penyinaran, dalam model faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan, sehingga 27 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh yang nyata antara media tumbuh (P > 0,05) dan penggunaan grow light pada beberapa parameter pertumbuhan microgreen. Namun demikian, secara visual penggunaan grow light dan media pasir menunjukkan hasil yang terbaik di beberapa parameter pertumbuhan. Perlunya akuisisi citra pada keseluruhan microgreen pada tray penanaman, untuk mendapatkan data yang lebih akurat dalam menentukan pengaruh media tanam dan grow light pada parameter pertumbuhan microgreen. Abstract Microgreen has the potential to be developed in urban farming systems because of the ease of obtaining planting media and tools to use and can be cultivated on a limited land space. Microgreen radish (Raphanus sativus) is an antioxidant that is good for health and acts as a source of polyphenols. This study aims to determine the growth characteristics of microgreen radish on the effect of variations in planting media and LED grow light and determine the treatment that produces the best growth. The experimental design used in this study was a completely randomized design (CRD) with two factors: the planting media and irradiation with a factorial pattern of 3 x 3 with three replications, so there were 27 treatments. The results showed no significant effect (P>0.05) between the growing media and grow light on several microgreen growth parameters. However, using grow light and sand media visually showed the best results in several growth parameters. The image acquisition on the whole microgreen planting tray is needed instead of randomly picking a single microgreen for analysis to get more accurate data in determining the effect of planting media and grow light on microgreen growth parameters.
Studi Variasi Konsentrasi Asam Stearat dan Amonium Molibdat terhadap Karakteristik Fisik Kemasan Cerdas Bioplastik Ni Putu Ayu Prya Chandani; Ni Luh Yulianti; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p09

Abstract

Abstrak Kemasan cerdas merupakan kemasan yang memiliki kemampuan untuk memberikan informasi tentang mutu produk yang dikemas secara langsung dengan memanfaatkan sejumlah senyawa yang berperan sebagai indikator mutu produk yang dikemas, sehingga penelitian tentang kemasan cerdas layak untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh konsentrasi asam stearat dan amonium molibdat terhadap karakteristik fisik kemasan cerdas bioplastik; menentukan perlakuan yang menghasilkan karakteristik fisik kemasan cerdas bioplastik terbaik sesuai SNI serta mendapatkan respon indikator kemasan cerdas bioplastik terhadap tingkat kematangan buah alpukat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi asam stearat yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 0,4%, 0,5% dan 0,6%. Faktor kedua adalah konsentrasi amonium molibdat yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 1g, 2g dan 3g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter pemanjangan, kuat tarik, penyerapan air, ketebalan dan elastisitas. Perlakuan terbaik diperoleh pada penggunaan konsentrasi asam stearat 0,4% dan amonium molibdat 1g yang menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 13,85 MPa, nilai pemanjangan sebesar 3,60%, nilai elastisitas sebesar 384,93 MPa, nilai penyerapan air sebesar 0,81% dan nilai ketebalan bioplastik sebesar 0,23 mm. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu perlakuan konsentrasi asam stearat 0,4% dan amonium molibdat 1g merupakan perlakuan terbaik yang mampu memberikan respon terhadap tingkat kematangan buah alpukat berupa perubahan warna kemasan yang dihasilkan. Abstract Smart packaging is packaging that has the ability to provide information about the quality of packaged products directly by utilizing a number of compounds that act as indicators of the quality of the packaged product, so that research on smart packaging is feasible. This study was conducted to obtain the influence of stearic acid concentrations and ammonium molybdate on the physical characteristics of bioplastic smart packaging; determine the treatment that produces the physical characteristics of the best bioplastic smart packaging according to SNI and get the response of bioplastic smart packaging indicators to the maturity level of avocado fruit. This study used a two-factor Randomized Group Design. The first factor is the stearic acid concentration which consists of 3 levels, specifically 0.4%, 0.5%, and 0.6%. The second factor is the concentration of ammonium molybdate which consists of 3 levels, specifically 1g, 2g, and 3g. The results showed that the interaction between treatments had a significant influence on the parameters of elongation, tensile strength, swelling, thickness, and elasticity. The best treatment was obtained in the use of a stearic acid concentration of 0.4% and 1g of ammonium molybdate which resulted in a tensile strength value of 13.85 MPa, elongation value of 3.60%, an elasticity value of 384.93 MPa, a swelling value of 0.81% and a bioplastic thickness value of 0.23 mm. The conclusion of this study is that the treatment of stearic acid concentration of 0.4% and 1g of ammonium molybdate is the best treatment that is able to respond to the maturity level of avocado fruits in the form of a change in the color of the resulting packaging.
Efisiensi Kinerja Traktor dengan Bajak Rotari untuk Pengolahan Tanah Tahap Pertama pada Subak di Kabupaten Tabanan Fiqri Muhamad Hakim; I Wayan Tika; Pande Ketut Diah Kencana
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p14

Abstract

Abstrak Efisiensi kinerja merupakan perbandingan antara kapasitas kerja aktual dengan kapasitas kerja teoritis yang dinyatakan dalam persen (%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi kinerja traktor rotari untuk pengolahan tanah tahap pertama pada subak di Kabupaten Tabanan dan menjadi data acuan untuk penelitian selanjutnya. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dimana pengambilan data dilakukan melalui survei, wawancara dan pengukuran langsung dilapangan yang disajikan secara deskriptif. Spesifikasi traktor rotari yang digunakan adalah traktor rotari dengan daya 10,5 pk dan beberapa batasan yang diterapkan seperti kondisi traktor dianggap serupa, kemampuan operator dianggap serupa, kemiringan lahan dianggap seragam, air untuk pengolahan tanah cukup dan hanya pengolahan tanah tahap pertama. Parameter yang diuji pada penelitian ini adalah kapasitas kerja aktual, kapasitas kerja teoritis, dan efisiensi kinerja traktor rotari. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas kerja aktual sebesar 0,089 ha/jam, kapasitas kerja teoritis sebesar 0,155 ha/jam, dan efisiensi kinerja sebesar 57,091%. Abstract Performance efficiency is the ratio between actual working capacity and theoretical working capacity expressed in percent (%). The purpose of this study was to determine the efficiency of the performance of a rotary tractor for the first stage of tillage in subak in Tabanan Regency and become reference data for further research. The research method uses descriptive quantitative methods where data collection is carried out through surveys, interviews and direct measurements in the field which are presented descriptively. The specification of the rotary tractor used is a rotary tractor with a power of 10.5 hp and some limitations are applied such as the condition of the tractor is considered similar, the operator's ability is considered similar, the slope of the land is considered uniform, sufficient water for tillage and only the first stage of tillage. The parameters tested in this study were actual working capacity, theoretical working capacity, and efficiency of rotary tractor performance. The results showed the actual working capacity of 0.089 ha/hour, theoretical working capacity of 0.155 ha/hour, and performance efficiency of 57.091%.
Teknik Pendinginan dengan Konsentrasi Es Kering dan Lama Waktu Penyimpanan Dingin terhadap Mutu Sawi Putih Ni Wayan Diana Sepriani; Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p10

Abstract

Abstrak Sawi putih merupakan salah satu sayuran yang memiliki nilai gizi cukup tinggi sebagai sumber vitamin dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh lama waktu penyimpanan dan suhu terbaik selama penyimpanan dingin terhadap mutu sawi putih. Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 3 taraf yaitu (P0) sebagai kontrol/tanpa es kering, (P1) menggunakan 1 kg es kering dan (P2) menggunakan 2 kg es kering yang di simpan dalam kotak styrofoam selama 8 jam dengan waktu pengamatan setiap 0 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam untuk memvalidasi penelitian ini maka dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali ulangan. Parameter yang diamati pada penelitian meliputi suhu bahan, laju pendinginan, susut bobot, color difference, dan umur simpan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan es kering dapat mempertahankan mutu sawi putih di bandingkan dengan tanpa menggunakan es kering pada waktu penyimpanan. Waktu penyimpanan terbaik yaitu 8 jam dan suhu terbaik yaitu 13oC sampai dengan 10oC. Jumlah es yang dibutuhkan untuk mencapai suhu optimal pada penyimpanan dingin adalah lebih dari 1 kg dan atau kurang dari atau sama dengan 2 kg es kering untuk 3 kg sawi putih. Abstract Chinese cabbage is one of the vegetables that have a high enough nutritional value as a source of vitamins and minerals. This study aims to obtain the best storage time and temperature during cold storage on the quality of Chinese cabbage. Experimental Design This study used a one-factor Completely Randomized Design (CRD) consisting of 3 levels, namely (P0) as a control/without dry ice, (P1) using 1 kg of dry ice, and (P2) using 2 kg of dry ice stored in a styrofoam box for 8 hours with observation times every 0 hours, 2 hours, 4 hours, 6 hours and 8 hours to validate this research, it was repeated three times. Parameters observed in this study include material temperature, cooling rate, weight loss, color difference, and shelf life. The results showed that the use of dry ice could maintain the quality of cabbage compared to those without using dry ice during storage. The best storage time is 8 hours and the best temperature is 13oC to 10oC. The amount of ice needed to reach the optimal temperature in cold storage is more than 1 kg or less than or equal to 2 kg of dry ice for 3 kg of Chinese cabbage.
Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Berbahan Sampah Buah-Buahan dan Sayuran pada Rasio Bahan dan Headspace yang Berbeda I Putu Yogi Krisnadi Rahardi; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p15

Abstract

Abstrak Pengomposan pupuk organik cair (POC) perbedaan volume bahan dengan headspace bisa dipakai sebagai indeks untuk mengetahui efektivitas pengomposan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio bahan dan headspace terhadap laju pengomposan dan kualitas POC yang dihasilkan serta untuk menentukan rasio bahan dan headspace yang menghasilkan kualitas POC terbaik sesuai dengan persyaratan teknis minimal POC dari Menteri Pertanian Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Pengomposan menggunakan sistem anaerobik dan bahan yang digunakan berupa sampah buah-buahan dan sayuran. Pada penelitian ini memakai metode Rancangan Acak Lengkap satu faktor. Adapun faktor yang digunakan berupa rasio bahan dan headspace yaitu 1:5, 2:4, 3:3, 4:2, dan 5:1. Kelima perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan sehingga didapat 15 unit percobaan. Parameter penelitian meliputi kadar awal bahan, total mikroba bioaktivator, suhu bahan dan POC, pH bahan dan POC, penyusutan ketinggian bahan, kadar nitrogen (N-total), fosfor (P), kalium (K), C-organik, C/N rasio, bahan organik (OM), electrical conductivity (EC), dan total bakteri POC. Data yang didapat dari hasil pengamatan dianalisis dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Secara umum kualitas POC yang dihasilkan sesuai syarat teknis minimal dengan suhu POC 29,3°C-29,8°C, pH POC 5,3-6,3, kadar nitrogen 2,01%-2,15%, fosfor 2,02%-2,09%, kalium 2,03%-2,08%, C-organik 2,39%-3,69%, dan total bakteri POC 5,31×107-3,12×109cfu/ml. Rasio bahan dan headspace berpengaruh terhadap laju pengomposan dan kualitas POC yang dihasilkan. Perlakuan P2 (2:4) merupakan perlakuan terbaik berdasarkan hasil analisis data dan hasil dari parameter yang digunakan. Abstract Composting liquid organic fertilizer, composting efficiency may be gauged using the variation in material volume with headspace. The purpose of this study is to ascertain how the ratio of materials to headspace affects the rate of composting and the quality of the POC that results, as well as to identify the ratio of materials to headspace that yields the best POC quality in accordance with the minimal technical POC requirements based here on Decision of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia No. 261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Composting uses an anaerobic system and the materials used are fruit and vegetable waste. The method used is a one-factor Completely Randomized Design.The factor used is the ratio of material and headspace, namely 1:5, 2:4, 3:3, 4:2, and 5:1. The five treatment were repeated 3 times to obtain 15 experimental units. The research parameters include the initial content of the material, total microbial bioactivator, temperature, pH, material height shrinkage, nitrogen, phosphorus, potassium, and C-organic content, C/N ratio, organic matter, EC, and total POC bacteria. Data obtained from observations were analyzed by ANOVA test and continued with Duncan's test. In general, the quality of the POC produced complies with the minimum technical requirements with POC temperature 29,3°C-29,8°C, POC pH 5,3-6,3, nitrogen content 2,01%-2,15%, phosphorus 2,02%-2,09%, potassium 2,03%-2,08%, C-organic 2,39%-3,69%, and total POC bacteria 5,31×107-3,12×109cfu/ml. The ratio of materials and headspace affect the rate of composting and the quality of the resulting POC. Treatment P2 (2:4) is the best treatment based on results of data analysis and parameters used.
Studi Variasi Suhu Pengeringan dan Kapasitas Wadah Fermentasi terhadap Karakteristik Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Kering I Ketut Adwitya Ari Sudarsa; Ni Luh Yulianti; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p11

Abstract

Abstrak Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Produksi kakao di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan dan hal ini berbanding lurus dengan bertambahnya luas areal perkebunan kakao. Dari hasil produksi kakao tersebut hanya sebagian kecilnya saja yang menerapkan proses pascapanen seperti fermentasi biji kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan variasi suhu udara pengeringan dan kapasitas wadah fermentasi terhadap karakteristik biji kakao kering untuk menghasilkan biji kakao yang berkualitas sesuai dengan standar SNI. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yaitu faktor pertama kapasitas wadah fermentasi yaitu, kapasitas fermentasi 5,5 kg, 7,5 kg, dan 9,5 kg dan faktor kedua suhu pengeringan yaitu 40oC, 50oC, dan 60oC. Adapun parameter yang diteliti meliputi: suhu fermentasi, kadar air, kadar kulit, dan uji belah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan parameter yang diamati, perlakuan A2B3 dengan kapasitas fermentasi 7,5 kg dan suhu udara pengeringan 60oC menghasilkan karakteritik biji kakao kering terbaik yaitu suhu biji kakao fermentasi sebesar 46,5oC, kadar air sebesar 7,54%, kadar kulit sebesar 10,79%, biji tidak terfermentasi sebesar 2,67%, biji setengah terfermentasi sebesar 14%, dan biji terfermentasi sempurna sebesar 83,88%. Abstract Cocoa (Theobroma cacao L.) is one of the primary commodities of plantations that has an important role in the national economy. Cocoa production in Indonesia in recent years has continued to increase and this is directly proportional to the increase in the area of ??cocoa plantations. From the cocoa production, only a small part of it applies post-harvest processes such as cocoa bean fermentation. The purpose of this study was to determine the effect of air drying temperature treatment and storage on dry cocoa beans to produce quality cocoa beans according to SNI standards. This study used a completely randomized design with two factors, the first factor is the storage capacity of the fermentation, which consists of 5.5 kg, 7.5 kg, and 9.5 kg and the second factor is the drying temperature, which consists of 40oC, 50oC, and 60oC. The parameters studied include: fermentation temperature, moisture content, skin content, and split test. The results showed that based on the observed parameters, the A2B3 treatment with a fermentation capacity of 7.5 kg and a drying temperature of 60oC produced the best dry cocoa beans characteristics, namely the temperature of fermented cocoa beans at 46.5oC, moisture content of 7.54%, skin content of 10 .79%, 2.67% unfermented beans, 14% semi-fermented beans, and 83.88% fully fermented beans.
Dinamika Suhu dan Kelembaban Udara pada Penyimpanan Kentang (Solanum tuberosum L.) Bibit Tipe Para-Para M Ikram; Yohanes Setiyo; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p16

Abstract

Abstrak Petani di Bali belum mampu menghasilkan bibit yang baik akibat kegagalan di tahap penyimpanan dan masih tergantung pada bibit kentang kelompok G2-G4 yang didatangkan dari luar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika suhu udara dan kelembaban udara (RH) selama penyimpanan kentang bibit dan perubahan fisik umbi bibit kentang hasil penyimpanan. Parameter yang diukur antara lain suhu dan kelembaban selama penyimpanan kentang, analisis neraca massa dan energi, perhitungan panas respirasi, panas untuk menaikan suhu kentang, panas untuk menguapan air serta panas yang hilang ke lingkungan dengan pendekatan model matematik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu cenderung membentuk pola polinomial orde dua atau kuadratik, sedangkan RH cenderung membentuk pola linier. Suhu ruang penyimpanan kentang berada pada kisaran 29,50 ºC - 29,09 ºC dan RH berada pada kisaran 73,00% - 81,80%. Nilai panas respirasi bervariasi antara 470,26 - 491,30 Watt. Panas yang dihasilkan dari proses respirasi adalah sebesar 72 -143 watt, panas untuk menaikan suhu umbi kentang sekitar kentang adalah 2,02 Watt; 1,81 Watt; 3,80 Watt; 2,60 Watt; 10,70 Watt; dan 15,20 Watt. Panas yang hilang ke lingkungan membentuk pola linier. Para-Para mampu menciptakan kondisi penyimpanan dan penyediaan oksigen yang, untuk perubahan fisik hampir tidak ada. Abstract Farmers in Bali have not been able to produce good seeds due to failures at the storage stage and are still dependent on potato seeds from the G2-G4 group imported from outside. The aim of this study was to determine the dynamics of air temperature and humidity (RH) during the storage of potato seeds and the physical changes of potato seed tubers after storage. Parameters measured included temperature and humidity during storage of potatoes, analysis of mass and energy balances, calculation of respiration heat, heat for increasing the temperature of potatoes, heat for water evaporation, and heat lost to the environment with a simple mathematical model approach. The results showed that temperature tends to form a quadratic polynomial pattern, while RH tends to form a linear pattern. The temperature of the potato storage room was in the range of 29.50 ºC - 29.09 ºC and the RH was in the range of 73.00% - 81.80%. Respiration heat value varies between 470.26 - 491.30 Watts. The heat generated from the respiration process is 72 -143 watts, the heat to raise the temperature of the potato tubers around the potatoes is 2.02 Watts; 1.81 Watts; 3.80 Watts; 2.60 Watts; 10.70 Watts; and 15.20 Watts. The heat lost to the environment forms a linear pattern. Para-Para is capable of creating conditions for the storage and supply of oxygen that, for physical change, are almost non-existent.
Pengaruh Cara Mematikan dan Lama Waktu Post-Mortem terhadap Mutu Kesegaran Filet Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) Oliver Owen; I Wayan Widia; Mentari Kinasih
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p07

Abstract

Abstrak Filet ikan mujair merupakan salah satu bahan pangan sumber protein yang sangat diperlukan untuk pemenuhan gizi. Mutu kesegaran ikan filet ditentukan oleh beberapa hal, antara lain kualitas bahan baku dan cara mematikan ikan yang digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cara mematikan dan lama waktu post-mortem terhadap mutu kesegaran filet ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial-RAL (rancangan acak lengkap) dengan 2 faktor, yaitu cara mematikan ikan dan lama waktu post-mortem. Cara mematikan ikan memiliki 3 taraf perlakuan, yaitu mati menggelepar, suhu dingin, dan teknik ikejime. Sedangkan, lama waktu post-mortem memiliki 8 taraf perlakuan, yaitu; 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14 jam. Perlakuan diulang sebanyak 2 kali, sehingga didapat 24 kombinasi perlakuan dan 48 sampel percobaan. Parameter yang diamati adalah indeks rigor, organoleptik mutu kesegaran ikan, pH, kadar protein, dan organoleptik mutu kesegaran filet. Data hasil pengamatan diolah dengan analisis sidik ragam (ANOVA), uji Duncan, dan uji Kruskal-Wallis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa cara mematikan dan lama waktu post-mortem berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter mutu kesegaran filet ikan mujair. Kombinasi perlakuan terbaik adalah mematikan dengan teknik ikejime dengan lama waktu post-mortem 0 jam dengan karakteristik pH sebesar 6,94, kadar protein sebesar 26,65% dan skor organoleptik daging ikan sebesar 8,80, serta skor tekstur daging ikan sebesar 8,95. Abstract Tilapia fish filet is one of the protein-rich foods needed by the body. The freshness quality of the tilapia fish filet is affected by the quality of the raw materials and the method of killing the fish. This study aimed to determine the effect of the lethal technique and the length of post-mortem time on the freshness of tilapia fish (Oreochromis mossambicus) filets. This study used a factorial-CRD trial (Completely Randomized Design) for two factors. The first factor is how to kill the fish (floating death, cold temperature, and ikejime technique). The second factor was the length of post-mortem time (0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, and 14 hours). Each treatment was repeated by 2 times so that 48 samples were obtained from 24 treatment combinations. The observed parameters are the rigor index, organoleptic freshness, pH, and protein content. Observational data were processed by Analysis of Variance (ANOVA), Duncan test, and Kruskal-Wallis test. The results of this study indicate that the method of shutting down and the length of time post-mortem significantly affect several parameters of the freshness quality of tilapia fish fillets. The best combination of treatment is lethal with the ikejime technique with a post-mortem time of 0 hours which has a pH of 6.94, protein content of 26.65% and fish meat organoleptic score of 8.80, and fish meat texture score of 8.95.
Pengaruh Jenis Adsorben dan Panjang Kolom terhadap Durasi Pemurnian Asap Cair Tempurung Kelapa Vebiulina Simanjuntak; I Putu Surya Wirawan; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p01

Abstract

Abstrak Peningkatan mutu asap cair dilakukan dengan cara pemurnian (adsorpsi dan distilasi) menggunakan variasi panjang kolom dan jenis adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh jenis adsorben (arang aktif, silica gel, dan zeolit) dan panjang kolom (5 cm, kolom 10 cm dan kolom 15 cm) terhadap durasi yang dibutuhkan untuk memurnikan asap cair. Parameter yang dianalisis terdiri dari aroma, warna durasi pemurnian, dan kandungan senyawa. Uji kandungan senyawa asap cair dilakukan melaui uji GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan kolom dengan panjang 5 cm dan jenis adsorben silica gel adalah yang tercepat dengan waktu pemurnian 138 menit. Kolom dengan panjang 15 cm dan jenis adsorben arang aktif adalah yang terlama dengan waktu pemurnian 207 menit. Hasil uji GC-MS menunjukkan adsorben arang aktif merupakan asap cair terbaik dengan spesifikasi warna kuning keputihan dan jernih, aroma yang tidak kuat, dan kandungan senyawa fenol sebesar 12.88 % sesuai dengan standar mutu asap cair menurut FAO 2001 yang baik untuk dijadikan sebagai pengawet bahan pangan. Abstract Improving the quality of liquid smoke is carried out by purification (adsorption and distillation) using variations in column length and type of adsorbent. This study aims to determine the effect of the type of adsorbent (activated charcoal, silica gel, and zeolite) and the length of the column (5 cm, column 10 cm, and column 15 cm) on the duration required to purify liquid smoke. Parameters analyzed consisted of aroma, color, long purification time, and compound content. The liquid smoke compound content test by the GC-MS test. The results showed that the column with a length of 5 cm and the type of silica gel adsorbent was the fastest purification time at 138 minutes. The length column of 15 cm and the type of activated charcoal adsorbent were the longest purification time at 207 minutes. The results of the GC-MS test show that activated charcoal adsorbent is the best liquid smoke with specifications of a whitish yellow color and clear, not strong aroma, and a phenolic compound content of 12.88% in accordance with the quality standard of liquid smoke according to FAO 2001 which is allowed for use as a food preservative.

Page 1 of 3 | Total Record : 25