cover
Contact Name
Sri Handayani Nofiyanti
Contact Email
handayaninofiyanti@unud.ac.id
Phone
+6281339409979
Journal Mail Official
jurnalbetatep@unud.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kampus Unud No.2013, Jimbaran, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 25023012     DOI : https://doi.org/10.24843/JBETA.2025.v13.i02
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "vol 14 no 2 (2026): september" : 20 Documents clear
Kajian Keterlibatan Family restaurant dalam Pengelolaan Sisa Hasil Produksi/Limbah Restaurant Ni Kadek Sita Natasha Dewi; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dinamika timbulan sampah, komposisi jenis sampah, keterlibatan restoran, serta konsistensi praktik pengelolaan limbah di Kota Denpasar berdasarkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner berbasis skala Likert dan Guttman yang disebarkan kepada sejumlah restoran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar restoran menghasilkan sampah setiap hari dengan dominasi sampah organik. Pemilahan sampah telah dilakukan secara terbatas, namun masih belum menyeluruh dan berstandar. Praktik pengelolaan seperti penggunaan ulang bahan kemasan, penyediaan pelatihan kepada karyawan, dan kerja sama dengan bank sampah juga belum sepenuhnya merata. Berdasarkan analisis mean score dan distribusi frekuensi, diketahui bahwa keterlibatan dalam kegiatan 3R berada pada kategori cukup baik, meskipun terdapat aspek-aspek yang memerlukan peningkatan. Sementara itu, hasil analisis skala Guttman menunjukkan indeks reproducibility sebesar 0.767 dan scalability sebesar 0.812, menandakan bahwa konsistensi jawaban responden cukup tinggi dan skala yang digunakan memiliki daya diskriminasi yang kuat. Temuan ini memberikan gambaran bahwa meskipun sebagian restoran telah menunjukkan inisiatif dalam pengelolaan sampah, implementasi prinsip 3R belum sepenuhnya optimal dan masih membutuhkan dukungan kelembagaan serta penguatan pada level operasional.
Tingkat Penerimaan Masyarakat terhadap Tempat Sampah Transparan dalam Meningkatkan Kemampuan Pemilahan Sampah di Fasilitas Umum di Kota Denpasar Ni Wayan Putri Wijayaningsih; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Putu Surya Wirawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p02

Abstract

Permasalahan timbunan sampah dan pemilahan sampah seharusnya didukung dengan sarana dan prasarana yang mendukung penyelesaiannya. Salah satu inovasi yang dikembangkan berupa tempat sampah terintegrasi dengan empat kopartmen dan berdinding transparan. Hal ini untuk mempermudah mengidentifikasi jenis sampah dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat penerimaan tempat sampah berdinding transparan dalam meningkatkan pemilahan sampah di fasilitas umum seperti di pasar, kampus dan perkantoran di Kota Denpasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui observasi dan wawancara terhadap 197 responden yang tersebar di tiga lokasi fasilitas umum di Kota Denpasar. Data penelitian disajikan dalam bentuk statistik deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa 85% responden telah memilah sampah sesuai jenisnya, dan 66% mampu melakukan identifikasi serta pembuangan sampah dengan cepat. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap desain sampah tempat transparan ini (97,4±8,8), dengan tingkat penerimaan sebesar 92,4%. Nilai ini menunjukkan tingkat penerimaan terhadap tempat sampah transparan sangat tinggi dengan variasi yang relatif rendah di antara responden. Tingkat penerimaan ini menunjukkan bahwa desain tempat sampah transparan sangat informatif dan fungsional serta memiliki dampak yang mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Permasalahan timbulan dan pemilahan sampah perlu didukung oleh sarana dan prasarana yang mendukung penyelesaiannya. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah tempat sampah terpadu dengan empat kompartemen dan dinding transparan. Hal ini untuk memudahkan identifikasi jenis sampah dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pemilahan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat penerimaan tempat sampah berdinding transparan dalam meningkatkan pemilahan sampah di fasilitas umum seperti pasar, kampus, dan perkantoran di Kota Denpasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui observasi dan wawancara terhadap 197 responden yang tersebar di tiga lokasi fasilitas umum di Kota Denpasar. Data penelitian disajikan dalam bentuk statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% responden telah memilah sampah sesuai jenisnya, dan 66% mampu mengidentifikasi dan membuang sampah dengan cepat. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap desain tempat sampah transparan sebesar (97,4±8,8), dengan tingkat penerimaan sebesar 92,4%. Nilai ini menunjukkan tingkat penerimaan terhadap tempat sampah transparan sangat tinggi dengan variasi antar responden yang relatif rendah. Tingkat penerimaan ini menunjukkan bahwa desain tempat sampah transparan sangat informatif dan fungsional serta berdampak mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Timbulan dan Pemilahan Sampah pada Sekolah Dasar diKecamatan Denpasar Barat Yolanda Adella Putri Aulani; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p03

Abstract

Kurangnya pemahaman siswa dalam pemilahan sampah menjadi penyebab sampah belum diolah dengan tepat dan membebani sampah yang masuk ke TPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berat dan volume timbulan sampah, komposisi sampah serta mengetahui tingkat pemilahan sampah di lingkungan sekolah dasar di kota Denpasar Barat. Penelitian ini dilakukan di 55 sekolah dasar di Denpasar Barat. Penelitian ini menggunakan 2 jenis data yaitu  data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data berat sampah dan volume sampah. Data sekunder dengan studi literatur dan melakukan wawancara dengan pihak sekolah mengenai berapa jumlah warga dari masing-masing sekolah, dan sistem pengelolaan sampah. Dari hasil perhitungan, berat timbulan sampah yaitu 542,48 kg/hari dan volume 11,71 m3/hari. Komposisi sampah yaitu sampah daun 35%, sampah plastik 25%, sampah kertas 18%, sampah botol plastik 12%, sampah kaleng 9%, dan residu sebanyak 1%. Sejumlah 8 sekolah yang belum menerapkan penanganan sampah dan sisanya sudah melakukan penanganan sampah dengan bekerjasama dengan bank sampah Skor tingkat pemilahan sampah terendah yaitu 0 diperoleh oleh 8 sekolah, sedangkan skor tertinggi yaitu 100 diperoleh 3 sekolah. Skor yang paling sering muncul adalah 81, sebanyak 15 sekolah. Dari hasil penelitian,  sebanyak 57% masuk kategori sangat baik, 27% baik, dan 8% untuk kategori buruk dan sedang. Sekolah dengan kategori sangat baik dan baik tersebut terdapat program-program seperti bank sampah yang mempengaruhi tingkat pemilahan sampah.  Hal ini menunjukkan tingkat pemilahan sampah pada Sekolah Dasar di Denpasar Barat sudah tergolong baik. Abstract The lack of students’ understanding of waste segregation causes waste to be improperly processed and increases the burden on waste entering the landfill. This study aims to determine the weight and volume of waste generation, waste composition, and the level of waste segregation in primary schools in West Denpasar City. The study was conducted in 55 primary schools in West Denpasar. Two types of data were used: primary data and secondary data. Primary data included waste weight and waste volume, while secondary data were obtained through literature studies and interviews with school representatives regarding the number of school members and waste management systems. The results showed that the total waste generation was 542.48 kg/day with a volume of 11.71 m³/day. The waste composition consisted of leaf waste (35%), plastic waste (25%), paper waste (18%), plastic bottles (12%), cans (9%), and residue (1%). A total of eight schools had not implemented waste management, while the rest had managed waste in collaboration with waste banks. The lowest waste segregation score, 0, was obtained by eight schools, while the highest score, 100, was achieved by three schools. The most frequent score was 81, recorded by 15 schools. The study found that 57% of schools were categorized as very good, 27% as good, and 8% as poor or fair. Schools in the very good and good categories implemented programs such as waste banks, which influenced the level of waste segregation. This indicates that waste segregation in primary schools in West Denpasar is generally considered good.
Analisis Kinerja Rantai Pasok Produk Kubis Menggunakan SCOR dan BSC di Pusat Distribusi Gudang Fresh Food Adevia Candra; I Made Supartha Utama; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2026.v14.i01.p08

Abstract

Abstrak Distribusi produk hortikultura seperti kubis menghadapi tantangan besar akibat sifatnya yang mudah rusak dan memiliki umur simpan pendek. Dalam praktik distribusi ritel modern, ketidakefisienan dalam proses logistik, fluktuasi pasokan dari petani, dan lemahnya sistem rantai dingin (cold chain) kerap menyebabkan penurunan mutu dan meningkatnya food loss. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja rantai pasok distribusi kubis di Pusat Distribusi Gudang Fresh Food dengan pendekatan terintegrasi Supply Chain Operations Reference (SCOR), Balanced Scorecard (BSC), dan Analytic Hierarchy Process (AHP). Model SCOR digunakan untuk mengidentifikasi indikator operasional utama, yaitu: Keandalan Pengiriman (Delivery Reliability), Waktu Respon (Responsiveness Lead Time), Siklus Pesanan (Order Cycle Time), Perputaran Persediaan (Inventory Turnover), dan Biaya Distribusi (Distribution Cost). Selanjutnya, kerangka BSC mengelompokkan indikator tersebut ke dalam perspektif strategis: keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Prioritas antar indikator dianalisis menggunakan metode AHP melalui penilaian berpasangan oleh para pakar. Hasil pada Pusat Distribusi Gudang Fresh Food menunjukkan bahwa keandalan pengiriman (0,470) dan waktu respon (0,262) merupakan indikator paling krusial, yang menunjukkan pentingnya kecepatan dan kepastian layanan dalam meminimalkan kerusakan dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Nilai rasio konsistensi (CR) sebesar 0,024 membuktikan keandalan hasil penilaian AHP. Kerangka integratif SCOR–BSC–AHP ini memberikan sistem evaluasi kinerja yang menyeluruh dan terstruktur, menjembatani data operasional dengan wawasan strategis.
Analisis Kualitatif Kematangan serta Karakteristik Organoleptik Kompos Takakura Hasil Pemanfaatan Limbah Domestik dan Sisa Ritual di Bali Muliarta I Nengah; Sri Rahayu Ni Ketut
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p05

Abstract

Rapid economic and tourism growth in Denpasar, Bali, has significantly increased the volume of domestic waste, most of which is organic. This study aimed to evaluate the effectiveness of the Takakura composting method in processing three types of household organic waste—kitchen waste, garden waste, and canang (ritual) waste—and to assess compost quality based on physical parameters and organoleptic evaluation. The research employed a descriptive qualitative approach, using observation, interviews, documentation, and measurement of temperature, pH, moisture content, color, texture, and odor. The results showed that kitchen waste decomposed the fastest, reaching maturity within approximately 30 days, characterized by dark brown color, crumbly texture, neutral odor, and stable pH (6.5–7.0). Garden waste required around 45 days due to its high lignocellulosic content, while canang waste required 60–75 days because of its dry, fibrous structure and low nitrogen content. Organoleptic evaluation indicated that kitchen waste compost achieved the highest maturity level, followed by garden waste, while canang waste showed the lowest performance. The effectiveness of the Takakura method is strongly influenced by moisture content, C/N ratio, material characteristics, and aeration. Overall, the method is suitable for household-scale waste management as it is simple, environmentally friendly, and capable of producing good-quality compost. However, fibrous and low-moisture materials require additional treatment to optimize decomposition.
Organic Fertilizer Granulator for Urban Farming: High Efficiency and Simple I Made Mickey Yogi Ajna Karuna; Yohanes Setiyo; I Putu Surya Wirawan; Radi
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p06

Abstract

Solid organic fertilizers derived from livestock manure are rich in macro- and micro-nutrients essential for plant growth and soil health. Despite their nutritional value, commercially available powders pose challenges in handling, storage, and uniform field application, leading to inefficiencies in nutrient delivery and increased labor costs. To address this, developing a dedicated granulation machine is crucial for transforming powders into durable, easy-to-apply granules. The primary objective of this research was to design, construct, and evaluate a laboratory-scale granulation machine that processes solid organic fertilizer into granules compliant with SNI 7763:2024 standards, particularly targeting optimal granule sizes of 2-5 mm for enhanced usability. The machine incorporates a rotating granulation tube where centrifugal force of granulator’s unit is 31.31 N, moment of inertia of granulator’s unit is 1.27 kg.m2, and friction 3.71 N with the granulator unit, and rotational energy bind the material. Performance testing focused on working capacity (kg/h) and operational efficiency (%), varied by granulation tube speed and input mass of a 1:1 solid organic fertilizer-tapioca mixture. Key parameters included rotational speeds influencing granule formation dynamics. Results demonstrated capacities of  kg/h at higher speeds,  kg/h at medium, and  kg/h at lower, with peak efficiency of 98.76 ± 0.3% and ideal 2-4.75 mm granules at 22.66 RPM. These outcomes confirm the machine's reliability .In conclusion, the prototype excels at producing SNI 7763:2024-compliant granules with excellent success rates. Recommended operation at  RPM optimizes output for practical agricultural use, paving the way for scalable organic fertilizer production.
Kelayakan Usaha Alat Tangkap Saung Sirib di Pesisir Selatan Tasikmalaya Ilham Sudrajat; Gillang Fernando
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p07

Abstract

Both large and small-scale fishing play a vital role in supporting the economies of coastal communities. However, feasibility studies on the saung sirib fishing gear which is significantly larger than the similar lift net gear studied here are still rare. This study aims to assess the business feasibility of the saung sirib fishing gear on the southern coast of Tasikmalaya through technical and economic approaches. Data were collected through observations and interviews with 26 of the 34 identified units. The technical analysis was conducted descriptively, while the economic analysis used investment feasibility indicators such as NPV, IRR, Net B/C Ratio, and PP with a discount rate of 6%. The results show that the saung sirib is easy to operate, uses readily available materials, and yields a stable catch throughout the year. Economically, this business generates an NPV of Rp. 21,272,101, an IRR of 37%, a Net B/C Ratio of 4.99, and a PP of 0.32 years, indicating high feasibility supported by low investment costs and operational efficiency. These findings confirm that the saung sirib is a viable and adaptive alternative for capture fisheries, while also serving as a basis for investment decisions by fishermen and for the management of fishing gear by policymakers.
Pemetaan Risiko Longsor Berbasis Slope, Aspect, dan Curvature pada Agroindustri Tahu (Studi Kasus di Desa Sambak, Magelang) Anak Agung Caresasha Adinda Dea; Ni Nyoman Sulastri; Ngadisih Ngadisih; Ida Bagus Ary Purnayama Parbawa; Komang Ratih Indah Pradnyani
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p08

Abstract

Tanah longsor merupakan salah satu bencana geologi yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap keberlanjutan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya pada wilayah perbukitan. Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, merupakan kawasan dengan kondisi topografi curam yang berkembang sebagai sentra agroindustri tahu, sehingga memiliki tingkat risiko longsor yang perlu dikaji secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan risiko longsor sebagai dasar perencanaan mitigasi yang berkelanjutan bagi keberlangsungan agroindustri tahu di wilayah tersebut. Analisis dilakukan menggunakan data digital surface model (DSM) resolusi 0,45 m yang diolah untuk menghasilkan parameter kemiringan lereng (slope), arah hadap lereng (aspect), dan kelengkungan lereng (curvature). Metode frequency ratio (FR) digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan dan bahaya longsor berdasarkan hubungan antara parameter topografi dan kejadian longsor, sedangkan variabel kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity) dianalisis menggunakan interpolasi inverse distance weighted (IDW). Seluruh pengolahan data spasial dilakukan dengan perangkat lunak QGIS 3.18. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah penelitian terbagi ke dalam tiga kelas risiko longsor, yaitu risiko rendah, sedang, dan tinggi. Sebagian besar lokasi agroindustri tahu berada pada kelas risiko sedang, sementara dua lokasi teridentifikasi berada pada kelas risiko tinggi. Kondisi ini mengindikasikan perlunya upaya mitigasi yang terarah guna menjaga keberlanjutan usaha agroindustri serta mengurangi potensi kerugian akibat bencana longsor.
Pengaruh Ketebalan Dinding Kotak Pendingin Termoelektrik Terhadap Kinerja Kotak Penyimpanan Dingin Berbasis Tec1-12715 Sigit aris mahendra putra; Ida Bagus Putu Gunadnya; Ni Luh Yulianti; Bintang Madrini Ida Ayu Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p09

Abstract

Research to develop environmentally friendly cooling systems continues to be carried out. One widely studied eco-friendly cooling system is the thermoelectric cooling (Thermoelectric Cooler/TEC) system. This study aims to determine the effect of cooler box wall thickness and device operating time on cooling performance (COP) and temperature inside the storage room of a TEC1-12715-based cooler box. The study utilized a two-factor factorial Randomized Block Design (RBD). The first treatment consisted of three variations of styrofoam wall thickness, namely 2 cm, 4 cm, and 6 cm. The other treatment was the device operating time with periodic recording intervals of 20, 40, and 60 minutes. The storage room of the cooler box had a volume of 17.5 liters. Observations were conducted for 60 minutes by measuring the temperature inside the box and electrical parameters such as DC voltage and current. The results showed that the factors of box wall thickness and operating time separately had a highly significant effect (p < 0.01) on the COP value, but their interaction had no significant effect (p > 0.05). Thicker box walls led to a decrease in the COP value; conversely, longer operating times increased the COP. The significantly highest COP value was obtained at a wall thickness of 2 cm with a value of 0.123. An increase in the cooler box wall thickness caused the storage room temperature to become higher. The lowest storage room temperature was obtained from the 2 cm cooler box wall thickness treatment, which was 16.3°C. (Roboto10 pt, Justify, Italic).
Desain Alat Bantu Pemotong Tahu dengan Pendekatan Metode Nigel Cross Dan Value Engineering Rizqi Wahyudi; Asrori Latif
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i02.p10

Abstract

The main issue at Pak Sujadi's tofu factory is the cutting process, which is still done manually and results in size variation defects. The manual tofu cutting process produces 47 defective pieces due to size variation and takes 81.79 seconds. Improving the efficiency of the production process has become the main focus in the development of tools in the food industry, including at Pak Sujadi's tofu factory. This research aims to design a more efficient tofu cutting tool using the Nigel Cross method and value engineering. The Nigel Cross method is applied through seven systematic stages, from goal classification to improvement details (value engineering). The value engineering approach is used to reduce costs without compromising the quality and functionality of the tool. The results of the tofu cutter research show that it can reduce the cutting process time by 70.44% and decrease the defect rate of tofu size variation by 95.74%. The value engineering method reduces the material costs of the tool by 22%. The materials used in the tool consist of grip rubber handle pads, hollow aluminium handles, handle supports, and cutting matrices made of stainless-steel plates.

Page 1 of 2 | Total Record : 20