cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 19, No. 2, Desember 2018" : 22 Documents clear
METODE I‘RĀB AL-QUR’AN DAN KONVENSIONAL SEBAGAI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BAGI NON ARAB DI PONPES AL MADINAH BOYOLALI Hidayat, Syamsul; Ashiddiqi, Amien
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8119

Abstract

This study aims to obtain related information about (1) Exploring and knowing Arabic learning models for non-Arabs, (2) Knowing the differences between the i'r?b al-Qur'an (IQ) method and the conventional method (MK) for non-Arab speakers, (3) Knowing and describing the level of effectiveness of Arabic learning for non-Arabs using the i'r?b al-Qur'an (IQ) method and the conventional method (MK) in Islamic boarding schools. This research includes qualitative research at Al Madinah Islamic Boarding School Class XI MA Nogosari Boyolali Year 2017. The research subjects are the principal, teachers and students. Data collection is done through observation, interviews, and documentation. The data analysis technique carried out in this study is to analyze interactive model data by interacting between data collection, data reduction, data presentation and data verification. Research results: (1) Arabic Language Learning Model of Madrasah Aliyah Al Madinah Boyolali 2017/2018. The basic method used by the cleric is the bandongan method, which is a collective method (halaqoh) which is conveyed by the translation model in which the cleric reads the Arabic-language book, then translates and explains the rules and wisdom contained in it, while the students listen to the study delivered by the cleric. Learning uses the method of translation rules, delivery with lecturer, question-answer and talaqqi (sorogan). (2) The difference between the IQ method and the conventional method that the IQ method is applied in the boarding school environment in na?wu-?araf, bal?gah learning, and some in mu??la?ah lessons. The IQ method is more inviting students to interact directly with the al-Qur'an and Hadith. The IQ method is broader in discussion, while conventional methods are limited to the curriculum. (3) The level of effectiveness of learning Arabic for non-Arabs with the IQ method and conventional methods in Islamic boarding schools that conventional methods are less satisfying for bal?gah and mu??la?ah lessons, if there is no combination of strategies.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait tentang (1) Mengeksplorasi dan mengetahui model pembelajaran bahasa Arab bagi non-Arab, (2) Mengetahui perbedaan antara metode i?r?b al-Qur?an (IQ) dengan metode konvensional (MK) bagi penutur non-Arab, (3) Mengetahui dan mendeskripsikan tingkat efektifitas pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dengan metode IQ dan MK di lingkungan pondok pesantren. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif di Pondok Pesantren Al Madinah Kelas XI MA Nogosari Boyolali Tahun 2017. Subjek penelitian dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik analisis data model interaktif dengan menginteraksikan antara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian: (1) Model Pembelajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Al Madinah Boyolali Tahun 2017/2018. Metode yang digunakan para ustadz adalah metode talaqqi (sorogan-bandongan) yaitu metode kolektif (halaqoh) penyampaiannya dengan model kaidah-terjemah yang mana ustadz membaca kitab berbahasa Arab, lalu menerjemahkan dan menjelaskan kaidah-kaidah dan hikmah yang terkandung di dalamnya, sementara para santri menyimak kajian yang disampaikan ustadz. Pembelajaran menggunakan metode kaidah-terjemah, penyampaian dengan lecturer (ceramah), dan tanya-jawab. (2) Perbedaan antara metode i?r?b al-Qur?an dengan metode konvensional bahwa metode IQ diterapkan di lingkungan pondok pesantren dalam pembelajaran na?wu-?araf, bal?gah, dan beberapa di pelajaran mu??la?ah. Metode IQ lebih mengajak siswa berinteraksi secara langsung kepada al-Qur?an maupun Hadits. Metode IQ lebih mudah diingat siswa dan lebih luas pembahasannya, adapun MK terbatas dengan kitab kurikulum pegangan. (3) Tingkat efektifitas pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dengan metode IQ dan MK di lingkungan pondok pesantren bahwa metode konvensional kurang memuaskan untuk pelajaran bal?gah dan mu??la?ah, jika tidak ada kombinasi strategi.
MODEL PELAKSANAAN METODE MANHAJI DALAM PROGRAM TAFHĪMUL QUR’AN JUZ 1 (SATU) Shobron, Sudarno; Ramadhon, Syahrul
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8120

Abstract

A lot of Muslims are increasingly distant from the Holy Quran with various reasons such as busy, can not read even not understand the content of the verse that was read. Muhammadiyah as an Islamic da'wah organization that hathe motto ar ruju 'ilal Quran wa Sunnah (back to the Holy Quran and Sunnah) always try to re-grow the love and pride of Muslims to the Quran, one of the efforts is shown by choosing a method that feels easy for all students from the elderly to the elderly to understand the content of the Holy Qur'an, and the method which chosen by Majlis Tabligh Muhammadiyah was the method of manhaji. The purpose of this research is to know the level of difference understanding of students between before and after following program tafh?m with manhaji method. Beside that, this research also aim to measure effectiveness of manhaji method as a method to understand the meanings contained in the Holy Quran. This research is field research that using mixed method approach. This research took a case study at Muhammadiyah Boarding School (MBS) Muhammadiyah High School (SMA) Muhammadiyah Bantul (MUHIBA) and Muhammadiyah Branch Chief (PCM) Kretek. Data collection techniques in this research consisted of observation, interviews, questionnaire and documentation. The result of this research shows that the implementation of program of tafh?m al Quran with method of manhaji both of MBS MUHIBA and citizen of Muhammadiyah Kretek are done well, there is improvement of ability to understand Holy Quran at student of MBS MUHIBA and citizen of Muhammadiyah Kretek after following program of tafh?m al Quran with method of manhaji. It so happens, the result of effectiveness level of manhaji method in program of tafh?m al Quran at MBS MUHIBA is Very Effective, and at PCM Kretek is Effective.Banyak umat Islam semakin jauh dari al Quran dengan berbagai macam alasan seperti sibuk, tidak bisa membaca bahkan tidak faham dengan kandungan ayat yang dibaca. Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah Islam yang memiliki semboyan ar ruju? ilal Quran wa Sunnah (kembali kepada al Quran dan Sunnah) senantiasa berusaha untuk menumbuhkan kembali kecintaan dan kebanggaan umat Islam kepada al Quran. Salah satu usaha tersebut ialah dengan memilih metode yang dirasa tepat untuk memahami al Quran baik bagi para pelajar hingga orang yang berusia lanjut. Metode yang dipilih oleh Muhammadiyah melalui Majlis Tabligh adalah metode manhaji. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perbedaan pemahaman santri antara sebelum dan sesudah mengikuti program tafh?m dengan metode manhaji. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas metode manhaji sebagai metode untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam al Quran. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan mixed method atau metode campuran antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Penelitian ini mengambil studi kasus di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Bantul (MUHIBA) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kretek. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan metode manhaji dalam program tafh?m al Quran baik di MBS MUHIBA maupun PCM Kretek telah dilaksanakan dengan baik, terjadi peningkatan kemampuan dalam memahami al Quran pada santri MBS MUHIBA dan warga Muhammadiyah Kretek setelah mengikuti program tafh?m al Quran dengan metode manhaji. Adapun tingkat efektivitas metode manhaji dalam program tafh?m al Quran di MBS MUHIBA adalah Sangat Efektif, sedangkan tingkat efektivitas di PCM Kretek adalah Efektif.
PENGGUNAAN MEDIA AL-QUR’AN BRAILLE BOOK DAN BRAILLE DIGITAL BAGI TUNANETRA DI SURAKARTA Faridatul Husna Widiarti
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8118

Abstract

Qur'anic learning is needed by all Muslims. The learning process starts from studying the Qur'an, reading the verses of the Qur'an, understanding the contents and content of the verses of the Qur'an, practicing the content of the verses. Learning requires media or an effective intermediary. The learning of the Qur'an uses the Qur'an's media. Particularly for blind disability students, students who experience obstacles in their vision either do not function one or do not function both, the Qur'anic learning requires media that are in accordance with the abilities of students. The media used in the Al-Qur'an learning for net disabilities is the Al-Qur'an Braille. The researcher conducted a study of community organizations in the city of Surakarta, the organization of the Indonesian Muslim Blind Association in the Surakarta Regional Leadership Council in 2018 which organizes Qur'anic learning with the media of the Qur’an Braille book and the digital Braille Qur'an. Problems begin with (1) How can the use of the Koran Braille book and al-Qur'an digital Braille (2) what are the advantages and disadvantages of using digital Braille book and al-Qur'an Braille media ( 3) how successful is the use of the Braille book and digital Braille al-Qur'an media. Aim to find out the uses, strengths and weaknesses, and the level of success of the Koran Braille book and the digital Braille Qur'an. This study uses qualitative descriptive data collection through field observations, interviews with a number of resource persons, documentation of events in the field. The results of this study are expected for educators to master the media used in learning, as well as for educators and observers of education to develop and innovate the learning process for blind disability learners. Pembelajaran al-Qur’an diperlukan seluruh umat muslim. Proses pembelajaran bermula dari mempelajari al-Qur’an, membaca ayat-ayat al-Qur’an, memahami isi dan kandungan ayat-ayat al-Qur’an, mengamalkan kandungan ayat-ayat tersebut. Pembelajaran memerlukan media atau perantara yang tepat guna. Pembelajaran al-Qur’an menggunakan media al-Qur’an. Khusus peserta didik disabilitas netra, peserta didik yang mengalami hambatan dalam penglihatannya baik tidak berfungsi salah satu atau tidak berfungsi keduanya, pembelajaran al-Qur’an memerlukan media yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Media yang digunakan pada pembelajaran al-Qur’an bagi disabilitas netra adalah al-Qur’an Braille. Peneliti melakukan penelitian terhadap organisasi masyarakat di kota Surakarta, organisasi Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Dewan Pimpinan Daerah Surakarta Tahun 2018 yang menyelenggarakan pembelajaran al-Qur’an dengan media al-Qur’an Braille book dan al-Qur’an Braille digital. Permasalahan berawal dari (1) Bagaimana penggunaan media al-Qur’an Braille book dan al-Qur’an Braille digital (2) Apa kelebihan dan kekurangan dari penggunaan media al-Qur’an Braille book dan al-Qur’an Braille digital (3) Bagaimana tingkat keberhasilan dari penggunaan media al-Qur’an Braille book dan al-Qur’an Braille digital. Bertujuan untuk mengetahui penggunaan, kelebihan dan kekurangan, dan tingkat keberhasilan dari media al-Qur’an Braille book dan al-Qur’an Braille digital. Penelitian ini menggunakan diskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara dengan sejumlah nara sumber, dokumentasi kejadian di lapangan. Hasil dari penelitian ini diharapkan untuk pendidik menguasai media-media yang digunakan dalam pembelajaran, serta untuk pendidik dan pemerhati pendidikan untuk mengembangkan dan menginovasi proses pembelajaran bagi peserta didik disabilitas netra.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN TAUHID DALAM KISAH ASHABUL UKHDUD SURAT AL-BURUJ PERSPEKTIF IBN KATSIR DAN HAMKA M Muthoifin; Fahrurozi Fahrurozi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8123

Abstract

Tawhed is to insulate God in creation, worship and name and natures. he must be awake with the best of everything that can divert it. Because tawhed is a very basic and fundamental thing for a Muslim's life. Tawhid is the determinant of a person both in the life of the world and the hereafter, happy or miserable, safe or wretched. tawhed became one of the potential that brought every human being when he was born in the world, the need for educational efforts so that potential is maintained. This study aims to determine the concept of tawhed education in the story of ashabul ukhdud. So important is the story that Allah mentioned in the Qur'an. The second goal is to implement the concepts of Tawhed education in Islamic education. Because the most important element in Islamic education is tawhed education, education that teaches every practice, behavior, purpose of life is only God. The results showed that the ideal Islamic education is very concerned about the implementation of tawhid education, because tawhed is the spirit of Islamic education which consists of three principal, first, tawhed rububiyyah education contained therein such as human nature as the basis of tawhed education, the natural sign as a means of tawhed education, reward and punismant in tawhed education. Secondly, the education of tawhed uluhiyyah such as, the role of educators in tawhid education, evaluation in tawhed education and tawhed education throughout life. Then the third tawhid asthma 'wasifat (names and natures of Allah) education.Tauhid yaitu mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah dan asma’ washifat, harus terjaga dengan sebaik-baiknya dari segala yang bisa menyelewengkannya. Karena tauhidmerupakan perkara yang sangat pokok dan mendasar bagi kehidupan seorang muslim. Tauhid merupakan penentu seseorang baik di kehidupan dunia maupun akhirat, bahagia atau sengsara, selamat atau celaka. Tauhid menjadi salah satu potensi yang dibawa setiap manusia ketika ia dilahirkan didunia, perlu adanya usaha pendidikan agar potensi itu tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan tauhid dalam kisah ashabul ukhdud. Begitu pentingnya kisah tersebut sehingga Allah menyebutkannya dalam Al-Qur’an. Tujuan kedua yaitu untuk mengimplemen-tasikan konsep-konsep pendidikan tauhid dalam pendidikan Islam. Karena unsur terpenting dalam pendidikan Islam adalah pendidikan tauhid, pendidikan yang mengajarkan setiap amalan, perilaku, tujuan hidup hanya Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang ideal sangatlah memperhatikan pelaksanaan pendidikan tauhid, karena tauhid merupakan ruh dari pendidikan Islam yang terdiri dari tiga pokok, pertama, pendidikan tauhid rububiyyah yang terkandung didalamnya seperti fitrah manusia sebagai dasar pendidkan tauhid, ayat kauniah sebagai sarana pendidikan tauhid, Targhib dan tarhib dalam pendidikan tauhid. Kedua, pendidikan tauhid uluhiyyah seperti, peran pendidik dalam pendidikan tauhid, evaluasi dalam pendidikan tauhid dan pendidikan sepanjang hayat. Kemudian yang ketiga pendidikan tauhid asma’ wasifat.
METODE I‘RĀB AL-QUR’AN DAN KONVENSIONAL SEBAGAI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BAGI NON ARAB DI PONPES AL MADINAH BOYOLALI Syamsul Hidayat; Amien Ashiddiqi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8119

Abstract

This study aims to obtain related information about (1) Exploring and knowing Arabic learning models for non-Arabs, (2) Knowing the differences between the i'rāb al-Qur'an (IQ) method and the conventional method (MK) for non-Arab speakers, (3) Knowing and describing the level of effectiveness of Arabic learning for non-Arabs using the i'rāb al-Qur'an (IQ) method and the conventional method (MK) in Islamic boarding schools. This research includes qualitative research at Al Madinah Islamic Boarding School Class XI MA Nogosari Boyolali Year 2017. The research subjects are the principal, teachers and students. Data collection is done through observation, interviews, and documentation. The data analysis technique carried out in this study is to analyze interactive model data by interacting between data collection, data reduction, data presentation and data verification. Research results: (1) Arabic Language Learning Model of Madrasah Aliyah Al Madinah Boyolali 2017/2018. The basic method used by the cleric is the bandongan method, which is a collective method (halaqoh) which is conveyed by the translation model in which the cleric reads the Arabic-language book, then translates and explains the rules and wisdom contained in it, while the students listen to the study delivered by the cleric. Learning uses the method of translation rules, delivery with lecturer, question-answer and talaqqi (sorogan). (2) The difference between the IQ method and the conventional method that the IQ method is applied in the boarding school environment in naḥwu-ṣaraf, balāgah learning, and some in muṭāla‘ah lessons. The IQ method is more inviting students to interact directly with the al-Qur'an and Hadith. The IQ method is broader in discussion, while conventional methods are limited to the curriculum. (3) The level of effectiveness of learning Arabic for non-Arabs with the IQ method and conventional methods in Islamic boarding schools that conventional methods are less satisfying for balāgah and muṭāla‘ah lessons, if there is no combination of strategies.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait tentang (1) Mengeksplorasi dan mengetahui model pembelajaran bahasa Arab bagi non-Arab, (2) Mengetahui perbedaan antara metode i‘rāb al-Qur’an (IQ) dengan metode konvensional (MK) bagi penutur non-Arab, (3) Mengetahui dan mendeskripsikan tingkat efektifitas pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dengan metode IQ dan MK di lingkungan pondok pesantren. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif di Pondok Pesantren Al Madinah Kelas XI MA Nogosari Boyolali Tahun 2017. Subjek penelitian dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik analisis data model interaktif dengan menginteraksikan antara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian: (1) Model Pembelajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Al Madinah Boyolali Tahun 2017/2018. Metode yang digunakan para ustadz adalah metode talaqqi (sorogan-bandongan) yaitu metode kolektif (halaqoh) penyampaiannya dengan model kaidah-terjemah yang mana ustadz membaca kitab berbahasa Arab, lalu menerjemahkan dan menjelaskan kaidah-kaidah dan hikmah yang terkandung di dalamnya, sementara para santri menyimak kajian yang disampaikan ustadz. Pembelajaran menggunakan metode kaidah-terjemah, penyampaian dengan lecturer (ceramah), dan tanya-jawab. (2) Perbedaan antara metode i‛rāb al-Qur’an dengan metode konvensional bahwa metode IQ diterapkan di lingkungan pondok pesantren dalam pembelajaran naḥwu-ṣaraf, balāgah, dan beberapa di pelajaran muṭāla‘ah. Metode IQ lebih mengajak siswa berinteraksi secara langsung kepada al-Qur’an maupun Hadits. Metode IQ lebih mudah diingat siswa dan lebih luas pembahasannya, adapun MK terbatas dengan kitab kurikulum pegangan. (3) Tingkat efektifitas pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dengan metode IQ dan MK di lingkungan pondok pesantren bahwa metode konvensional kurang memuaskan untuk pelajaran balāgah dan muṭāla‘ah, jika tidak ada kombinasi strategi.
الشذوذ الجنسية عند المذاهب الأربعة والقانون العقوبات الإندونيسي M Muinudinillah Basri; Syafruddin Maulana
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8124

Abstract

The development of social interactions variety and the flow of information that brings positive and negative value, impact on social life and human behavior. Among them there is a wise attitude by always making religion as a guide and lifestyle, but some people lost his life orientation. Even penetrated the lifestyle associated with sexual behavior. Sexual behavior is one of the serious issues detil discussed in Islam. This is because the impact is very wide in various aspects of life. Islam considers that the biological need is the sunnah of life that every Muslim must live, in order to achieve the balance between the human side as a servant of Allah Ta'ala and as a keeper of the stability of social life of society. Sex disorientation is a threatening balance. That will affect the survival of human life in general or personal perpetrators. Among the disorientation is lesbi, gay, have sex with animals or known as zoofilia, also the trangender which is one of the identity of lesbian and gay. This study aims to examine whether the laws and sanctions of these sexual disorientations, presented comparatively between Islamic law and Indonesian criminal law. The results of this study concluded about the prohibition of lesbian, gay, zoophilia and trangender in Islamic law. While about the punishment, there are some differences between the 4 Imams. Some give death penalty. Some others conclude about the enactment of ta'zir where the judge is given a policy in determining the type of punishment. While in Indonesian, this is contained in the chapter asusila. Which concludes that lesbian, gay, zoofilia is something that gets a criminal penalty and is binding only on an adult perpetrator with as a victim is an immature child. As for if the perpetrator and the victim is mature, then not touched with criminal trap. And the trangender has not regulated it specifically. Berkembangnya bentuk interaksi antar manusia dan pesatnya arus informasi dengan seluruh muatan positif dan negatifnya telah memberikan dampak pada tatanan hidup setiap individu dan masyarakat. Di antara mereka ada yang menyikapi hal ini dengan penuh kehati-hatian dan menjadikan agama sebagai pembimbing dan pedoman. Namun tidak sedikit juga yang tersesat dan melampaui batas khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan moralitas seksual. Dalam hal ini agama sebagai pedoman hidup telah menempatkan seksualitas sebagai salah satu pilar yang menentukan baik buruknya kehidupan sosial dan telah mengaturnya dalam rumusan pernikahan. Pada sisi lain agama juga memberikan perhatian khusus pada seluruh bentuk disorientasi seksual yang menyelisihi garis besar pernikahan yang telah diatur di dalamnya. Dari sekian hubungan yang mendapatkan perhatian khsusus tersebut adalah homoseks, lesbi, zoophilia, dan transgender. Kaitannya dengan hal ini, hukum positif di Indonesia telah menempatkan perhatian yang khusus, karena adanya visi dan misi dalam membentuk masyarakat yang berkemanusiaan, adil dan beradab. Hanya ada beberapa perbedaan yang mendasar antara apa yang telah dimuat oleh hukum Islam dengan apa yang menjadi ketentuan dalam KUHP. Seluruh Imam empat madzhab yang dikenal luas dikalangan ummat Islam bersepakat tentang keharaman homoseks, lesbi, zoophilia dan transgender. Walaupun mereka berbeda dalam mengklasifikasi bentuk hukuman apa yang tepat untuk setiap perbuatan pidana tersebut. Ada yang menentukan hukuman mati, ada yang menyamakannya dengan hukuman zina dan ada pula yang menjatuhkan hukuman ta'zir yang dikembalikan kebijakan penentuannya pada hakim. Sementara KUHP memasukkan homoseks dan lesbi sebagai pidana aduan, pada pasal-pasal pencabulan dalam bab asusila yang memfokuskan hanya pada sisi korban di bawah usia dewasa. Sehingga terdapat kekosongan hukum ketika pelaku dan korban adalah orang dewasa. Adapun tentang zoophile maka termuat pada pasal penganiayaan hewan. Sementara pada masalah transgender, KUHP belum mengklasifikasikannya sebagaimana pidana delik perzinaan, pemerkosaan atapun pecabulan.
MODEL PELAKSANAAN METODE MANHAJI DALAM PROGRAM TAFHĪMUL QUR’AN JUZ 1 (SATU) Sudarno Shobron; Syahrul Ramadhon
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8120

Abstract

A lot of Muslims are increasingly distant from the Holy Quran with various reasons such as busy, can not read even not understand the content of the verse that was read. Muhammadiyah as an Islamic da'wah organization that hathe motto ar ruju 'ilal Quran wa Sunnah (back to the Holy Quran and Sunnah) always try to re-grow the love and pride of Muslims to the Quran, one of the efforts is shown by choosing a method that feels easy for all students from the elderly to the elderly to understand the content of the Holy Qur'an, and the method which chosen by Majlis Tabligh Muhammadiyah was the method of manhaji. The purpose of this research is to know the level of difference understanding of students between before and after following program tafhīm with manhaji method. Beside that, this research also aim to measure effectiveness of manhaji method as a method to understand the meanings contained in the Holy Quran. This research is field research that using mixed method approach. This research took a case study at Muhammadiyah Boarding School (MBS) Muhammadiyah High School (SMA) Muhammadiyah Bantul (MUHIBA) and Muhammadiyah Branch Chief (PCM) Kretek. Data collection techniques in this research consisted of observation, interviews, questionnaire and documentation. The result of this research shows that the implementation of program of tafhīm al Quran with method of manhaji both of MBS MUHIBA and citizen of Muhammadiyah Kretek are done well, there is improvement of ability to understand Holy Quran at student of MBS MUHIBA and citizen of Muhammadiyah Kretek after following program of tafhīm al Quran with method of manhaji. It so happens, the result of effectiveness level of manhaji method in program of tafhīm al Quran at MBS MUHIBA is Very Effective, and at PCM Kretek is Effective.Banyak umat Islam semakin jauh dari al Quran dengan berbagai macam alasan seperti sibuk, tidak bisa membaca bahkan tidak faham dengan kandungan ayat yang dibaca. Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah Islam yang memiliki semboyan ar ruju’ ilal Quran wa Sunnah (kembali kepada al Quran dan Sunnah) senantiasa berusaha untuk menumbuhkan kembali kecintaan dan kebanggaan umat Islam kepada al Quran. Salah satu usaha tersebut ialah dengan memilih metode yang dirasa tepat untuk memahami al Quran baik bagi para pelajar hingga orang yang berusia lanjut. Metode yang dipilih oleh Muhammadiyah melalui Majlis Tabligh adalah metode manhaji. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perbedaan pemahaman santri antara sebelum dan sesudah mengikuti program tafhīm dengan metode manhaji. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas metode manhaji sebagai metode untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam al Quran. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan mixed method atau metode campuran antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Penelitian ini mengambil studi kasus di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Bantul (MUHIBA) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kretek. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan metode manhaji dalam program tafhīm al Quran baik di MBS MUHIBA maupun PCM Kretek telah dilaksanakan dengan baik, terjadi peningkatan kemampuan dalam memahami al Quran pada santri MBS MUHIBA dan warga Muhammadiyah Kretek setelah mengikuti program tafhīm al Quran dengan metode manhaji. Adapun tingkat efektivitas metode manhaji dalam program tafhīm al Quran di MBS MUHIBA adalah Sangat Efektif, sedangkan tingkat efektivitas di PCM Kretek adalah Efektif.
السنة مصدر التشريع عند المحدث الشيخ محمد ناصر الدين الألباني Ridwan Wirabumi Asri
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8125

Abstract

This thesis is a literature discussion whose idea of writing is inspired by Shaykh Muhammad Nashirudin Al-Albani as an expert of Hadith. He did lots of brilliant works related to Sunnah but received many allegations from people regarding his capacity on the Ushul Fiqh knowledge. Whereas, Sunnah or Hadith is the source in Islamic law according to the science of Fiqh. Besides, in the fact that there are many muslims even the Islamic scholars who do not understand Sunnah. Therefore, this essay is mainly focus on four various aspects: 1. The role of Sunnah in the establishment of the Islamic law, 2. Is it true that the views of Shaykh Al-Albani are not built based on Fiqh, especially those which are related to Sunnah as the foundation of Islamic law? 3. What are his opinions about Sunnah as the source of Islamic law according to Fiqh? 4. Which Sunnah that can be implemented as a foundation of Islamic law according to Shaykh Al-Albani?. After the study on those four segments, the writer can conclude that: 1. The existence of Sunnah is important in the establishment of Islamic law, 2. That the Shaykh Al-Albani’s notions in the science of Fiqh always be based on the Sunnah from the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him), 3. He sees that the Sunnah has a great position in Islam as the Source of Islamic Law with the Qur'an, 4. Sunnah which can be used as a basis in the Islamic law must be based on a Saheeh Hadith relied on the Prophet in the form of his words, deeds and approval, including with Tarkiyah Sunnah. The weak hadith cannot be used as a legal basis even in the case of the virtue of charity. And related to the narrations of the Prophet and those who cited them, thus one that can be categorized as Sunnah is the Mursal Shahabat Hadith and Atsar of the Prophet’s Companions as well as their sayings: “Sunnah like that and that”, “We are commanded to do that and are forbidden to do that” also can be used as the source of law. As for when it all comes from Tabi’in then it cannot be used as law.  Tesis ini adalah pembahasan pustaka yang ide penulisannya berangkat dari Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani sebagai pakar hadits yang memiliki banyak karya gemilang tentang Sunnah namun banyak mendapatkan tuduhan diantaranya; Beliau tidak memiliki kapasitas dalam ilmu ushul fikih. padahal Sunnah atau hadits merupakan sumber dalam hukum Islam menurut ilmu usul fikih. disamping banyaknya kaum musllimin bahkan yang dianggap penuntut ilmu dan ulama Islam yang kurang memahami Sunnah. Maka pembahasan  ini beputar pada tiga permasalahan utama; 1) Bagaimanakah peran Sunnah dalam penetapan hukum Islam? 2) Apakah benar pendapat-pendapat Syaikh Albani tidak dibangun diatas dasar usul fikih terutama yang berkaitan dengan Sunnah sebagai sumber hukum Islam? 3) Bagaimanakah pendapat-pendapat beliau tentang Sunnah sebagai sumber hukum Islam dalam kacamata ilmu usul fikih. 4) Sunnah-sunnah seperti apa saja yang bisa menjadi dasar hukum Islam menurut Syaikh Albani?. Dan setelah dipelajari permasalahan tersebut sampailah penulis kepada  : 1) Pentingnya keberadaan Sunnah di dalam Islam dan dalam penetapan hukum Islam. 2) Bahwasanya pendapat-pendapat Syaikh albani dalam masalah hukum fikih selalu didasari oleh ilmu ushul fikih yang bersumber pada Sunnah Nabi 3) Beliau memandang bahwasanya Sunnah memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam sebagai Sumber Hukum Islam bersama Alquran. 4) Sunnah-sunnah yang bisa menjadi dasar hukum adalah yang didasari oleh hadits yang shahih yg disandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau, termasuk dengan Sunnah Tarkiyah. Adapun hadits lemah maka tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum meskipun dalam masalah keutamaan amal. Dan yang berkaitan penukilan riwayat dari Nabi dan orang-orang yang menukilnya maka yang bisa dikategorikan sebagai Sunnah adalah hadits Mursal Shahabat, dan atsar Shahabat Nabi, begitu juga perkataan mereka : Sunnah begitu dan begitu, Kami diperintah dan Kami dilarang begini dan begitu bisa dijadikan sumber hukum. Adapun apabila itu semua berasal dari Tabi’in, maka tidak bisa. الملخص: هذه السالة بحث وصفي مكتبي قامت فكرته من شخصية الشيخ الألباني محدث هذا الزمان له مؤلفات كثيرة عن السنة. فكثرت اتهمات إليه منها : أنه ليس أصوليا مع السنة هي مصدر من مصادر التشريع عند علم الأصول. وبجانب آخر كثير من المسلمين بل طلبة العلم حتى علمائهم لا يعرفون السنة فهما صحيحا. فمدار هذا البحث : (1) ما هي منزلة السنة في الإسلام وما هو دورها في تشريع الأحكام؟ (2) هل أقوال الشيخ الألباني كالمحدث وفتاويه الفقهية لا تنبنى على أصول الفقه خصوصا ما يتعلق بالسنة كمصدر من مصادر التشريع التي قام بدراستها ليلا ونهارا مصدر من مصادر التشريع الإسلامي؟ (3) فما الأصول التي تبناها الشيخ الألباني حتي يه يصدر منه آراؤه وفتاويه الفقهية ؟ خاصة في مباحث السنة التي تعتبر مصدرا ثانيا من مصادر (4) وما هي مباحث السنة عنده التي تكون مصدرا للتشريع في الإسلام؟ وبعد البحث في كتب الشيخ الألباني وغيره من العلماء توصل الباحث إلى : (1) أهمية السنة في الإسلام وفي الأحكام (2) أن أقوال الشيخ الأشرلباني الفقهية دائما تنبني على ألأصول التي مصدها السنة (3) ويرى أن السنة لها مكانتها الرفيعة كمصدر من مصادر التشريع مع القرآن. (4) والسنة التي تكون مصدر للتشريع هي التي تكون من الحديث الصحيح من النبي من قول أو فعل أو تقرير منه السنة التركية. أما الحديث الضعيف لا يجوز الاحتجاج به وإن كان في فضائل الأعمال. أما ما نقل من الصحابة كمراسيل الصحابة , آثارهم وقولهم من السنة كذا وكذا أو أمرنا أو نهينا بكذا وكذا فهي حجة كذلك. وأما إذا كان ذلك من التابعين فلا.الكلمات الرئيسة: السنة , الأحكام الإسلامية , الألباني
PENERAPAN SYARI’AH DALAM SISTEM PEMERINTAHAN NATION-STATE PERSPEKTIF HISTORIS DAN FIQH SIYASAH Rupi'i Amri
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8115

Abstract

Abstract: The tendency to apply sharia to the state or government by some Muslims is a very interesting new phenomenon in many Muslim countries. Several Muslim countries, such as Indonesia, Pakistan, Jordan, Sudan, Egypt, Morocco, Kuwait and Iran are examples of countries where "Islamist" groups want to implement sharia into government. Of course this desire raises different views from Islamic figures, some support and some oppose it. This paper seeks to find answers to the problems that arise from the views of supporters and opponents of the Islamic state, with the core of the problem are:  (1) seeking and knowing the concept of Islam and Caliphate in the Islamic political system; (2) explaining the government system according to historical perspective; namely in the era of the Prophet Muhammad and Khulafa ar-Rasyidin; and (3) explaining the relationship between religion and state in the concept of siyasa fiqh. The conceptual framework used in this paper is that there are two important things to be achieved in politics, namely (1) politics as anything related to state administration; and (2) politics as all activities directed to seek and maintain power in society. In relation to this, there is often a "tension" between groups that want to implement the Shari'ah into the rules of government with groups that oppose it. If the desires of the two groups cannot be met, then there is no possibility of various acts of violence in a country, and can even lead to a coup against the current government. Some findings from this study are that (1) System of government in an Islamic perspective is not clearly stated in the Quran and Sunnah so that Islamic political thinkers disagree over what government system must be applied in a nation state; (2) In a historical perspective, the system of government in the time of the Prophet Muhammad was more concerned with the substance of Islamic values into the system of state government. This can be seen rules of the Madina Constitution, while the government of the Khulafa ar-Rasyidin used a system of power of autocracy and monarchic dynasty; (3) Islamic political thinkers differ in their views on the relation between religion and state in the concept of siyasa fiqh into three groups, namely (1) religion and state must be integrated and cannot be separated because the state is a political and religious institution; (2) religion and state are not related at all because the Prophet Muhammad was only an ordinary prophet like the previous prophet with the single task of inviting people back to noble life; (3) religions and state relate reciprocally and need each other. Abstrak: Kecenderungan untuk menerapkan syariah Islam ke dalam negara atau pemerintahan oleh sebagian orang Islam merupakan gejala baru yang sangat menarik di banyak negara Muslim. Beberapa negara muslim, seperti Indonesia, Pakistan, Yordania, Sudan, Mesir, Maroko, Kuwait dan Iran merupakan contoh negara-negara di mana kelompok-kelompok “Islamis”-nya ingin menerapkan syariah ke dalam pemerintahan. Tentu saja keinginan tersebut menimbulkan pandangan yang berbeda-beda dari tokoh-tokoh Islam, sebagian ada yang mendukung dan sebagian lagi menentangnya. Tulisan ini berusaha untuk mencari jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari pandangan para pendukung dan penentang  negara  syariah, dengan inti permasalahannya adalah : (1) mencari dan mengetahui konsep Islam dan Kekhalifahan dalam sistem politik Islam; (2) menjelaskan sistem pemerintahan dalam perspektif historis, terutama pada masa Nabi Muhammad dan Khulafa ar-Rasyidin, dan (3) menjelaskan hubungan agama dan negara dalam konsep fiqh siyasah. Kerangka konseptual yang dipergunakan dalam tulisan ini adalah bahwa terdapat dua hal penting yang hendak dicapai dalam politik, yaitu       (1) politik sebagai segala yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara; dan (2) politik sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, seringkali terjadi “ketegangan” antara kelompok yang ingin menerapkan syari’ah ke dalam aturan-aturan pemerintahan dengan kelompok yang menentangnya. Apabila keinginan dari kedua kelompok tersebut tidak dapat dipertemukan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi berbagai tindak kekerasan dalam suatu negara, dan bahkan dapat menimbulkan kudeta terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Beberapa temuan dari peneletian ini adalah (1) Sistem pemerintahan dalam perspektif Islam tidak disebutkan secara jelas dalam al-Quran dan Sunnah sehingga para pemikir politik Islam berbeda pendapat tentang sistem pemerintahan apa yang harus diterapkan ke dalam sebuah negara-bangsa (nation-state); (2) Dalam perspektif historis, sistem pemerintahan pada masa Nabi Muhammad lebih mementingkan substansi nilai-nilai Islam ke dalam sistem pemerintahan negara. Hal ini dapat dilihat pada aturan-aturan yang tertuang dalam Piagam Madinah, sedangkan pemerintahan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin menggunakan sistem “autocratic power” (kekuatan autokrasi) dan a dynastic monarchy” (dinasti monarkhi); (3) Para pemikir politik Islam berbeda pandangan dalam menyikapi relasi agama dan negara dalam konsep fiqh siyasah menjadi tiga kelompok, yaitu pertama, agama dan negara harus terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan sebab negara merupakan lembaga politik dan sekaligus keagamaan, kedua, antara agama dan negara tidak berhubungan sama sekali (terpisah) karena Nabi Muhammad hanyalah seorang Rasul biasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia, ketiga, agama dan negara berhubungan secara timbal balik dan saling membutuhkan.
PERBEDAAN IMPLEMENTASI PROGRAM TAḤFĪẒ DI SEKOLAH DAN MADRASAH DI SURAKARTA Nurul Waridatil Zulfa
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8121

Abstract

Nowdays, Islamic school becomes the choice of people. Taḥfīẓ programs becomes the excellence program in Islamic Elementary School or Madrasah Ibtidaiyah. The people believe and they are sure to choose Islamic education which has taḥfīẓ program in its curriculum. The objective of this research is to describe the imlementation of taḥfīẓ program, achievement target of memorizing al-Qur’an, the method that used to memorize al-Qur’an, evaluation that has been done by the teachers to the their students, supporting factors, the obstacles and the solution the overcome and also the implication of taḥfīẓ program toward the result of studens’ learning. The kind of this research is qualitative study. The subject of this research consist of the principal, directur of taḥfīẓ program, teachers, students and parents in the taḥfīẓ program. The object of this research is SDTQ Al-Abidin Surakarta and MITTQUM Surakarta. The data collection techniques are observation, interview and documentation. The validity is determined by triangulation. The data technique analysis has been done by descriptive qualitative. The result of this research shows that (1) the background and the goals of tahfiz program to create ḥāfiẓ and ḥāfiẓah generation that have good intellectual based on al-Qur’an and hadith. (2) The achievement target in SDTQ Al-Abidin Surakarta is 10 juz and in MITTQUM Surakarta is 6 juz. The method that applied in SDTQ Al-Abidin Surakarta is wahdah, gabungan, kaisa, sima’i, jama’ and juz’i. The method that applied in MITTQUM Surakarta is wahdah, tallaqi, kitabah, sima’i and juz’i. (3) Evaluation that has done by the teachers is run well as routine and periodical. For the examination, SDTQ Al-Abidin Surakarta has applied one juz examination. It is called al-Qur’an sertification. Taḥfīẓ examination that has been done in MITTQUM Surakarta is one juz in one period or we call it juziyyah and 5 juz examination in one period and in the graduation ceremony. (4) The Supporting factors of memorizing al-Qur’an are self motivation, parents and the environment. The obstacles of memorizing al-Qur’an are the lack of self motivation, bustle activity of parent and time management. The way to overcome the obstacles are making joyful learning process of taḥfīẓ program, improving the communication between the school and parents and having good cooperation between the teachers and the students about the time. (5)The implication of taḥfīẓ program toward the result of student’s learning are the students have good ability to memorize al-Qur’an. Sudents who have good ability to memorize al-Qur’an, they also have good ability in academic. It means that the ability of memorizing al-Qur’an as good as academic achievement. Saat ini sekolah Islam menjadi pilihan masyarakat. Program taḥfīẓ menjadi program unggulan di Sekolah Dasar Islam atau Madrasah Ibtidaiyah. Masyarakat semakin yakin memilih pendidikan yang berbasis Islam dengan muatan kurikulum program taḥfīẓ. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi program taḥfīẓ yang meliputi dasar dan tujuan, target capaian hafalan, metode untuk menghafal, evaluasi pembelajaran dan evaluasi hafalan, faktor pendukung, kendala dan solusinya, serta implikasi program taḥfīẓ terhadap hasil belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari Kepala Sekolah/Madrasah, penanggung jawab program taḥfīẓ, guru pengampu taḥfīẓ, siswa dan wali murid. Objek penelitian ini adalah SDTQ Al -Abidin dan MITTQUM Surakarta. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan ditentukan dengan triangulasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dasar dan tujuan program taḥfīẓ adalah menjadikan generasi yang ḥāfiẓ dan ḥāfiẓah yang intelektual dengan berlandaskan al-Qur’an dan hadits. (2) target hafalan di sekolah adalah 10 juz, sedangkan di madrasah adalah 6 Juz. Metode yang digunakan di SDTQ Al-Abidin antara lain metode wahdah, gabungan, kaisa, sima’i, jama’ dan juz’i. Metode di MITTQUM Surakarta meliputi metode wahdah, tallaqi, kitabah, sima’i dan juz’i. (3) Evaluasi yang dilakukan guru meliputi evaluasi rutin dan berkala. Untuk ujian hafalannya di SDTQ Al Abidin disebut dengan sertifikasi al-Qur’an. Ujian di MITTQUM meliputi ujian juziyyah, ujian lima juz sekali duduk, dan ketika acara wisuda. (4) Faktor pendukungnya meliputi motivasi diri sendiri, orang tua, guru dan lingkungan. Kendalanya adalah kurangnya motivasi dari dalam diri, kesibukan orang tua, dan manajemen waktu. Solusinya adalah pembelajaran taḥfīẓ yang menyenangkan melalui cerita motivasi, memperkuat komunikasi antara sekolah dengan orang tua dan manajemen waktu antara guru dan murid. (5) Implikasi bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan bagus dalam menghafal al-Qur’an cenderung nilai akademiknya juga bagus. Dengan pengertian bahwa kemampuan menghafal al-Qur’an berbanding lurus dengan prestasi akademik.

Page 2 of 3 | Total Record : 22