cover
Contact Name
Jurnal Etnohistori
Contact Email
etnohistori@unkhair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arlinahmadjid@unkhair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
ETNOHISTORI: Jurnal Kebudayaan dan Kesejarahan
Published by Universitas Khairun
ISSN : 24601055     EISSN : -     DOI : -
Jurnal ETNOHISTORI adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan dengan tujuan turut serta mengembangkan ilmu Antropologi dan ilmu Sejarah di Indonesia. Karena itu, Redaksi Jurnal ETNOHISTORI menerima karangan dalam kedua ranah disiplin ilmu tersebut. Karangan dapat bersifat ulasan teoritis, refleksi metode, ataupun hasil penelitian lapangan.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2018)" : 4 Documents clear
KESULTANAN TERNATE PADA ERA PEMERINTAHAN SOEKARNO (1945-1968) Rustam Hasim
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.895 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v5i2.1122

Abstract

Proklamasi kemerdekaan RI 1945, secara politik bagi Kesultanan Ternate merupakan awal keruntuhan pranata feodalisme dengan lahirnya negara baru (negara kesatuan RI) tentu menjadi ancaman supermasi politik dan ekonomi mereka. Peran dan kedudukan  kaum elite yang otonom di Kesultanan Ternate  yang telah berabad-abad dinikmati, mendapat tantangan dengan dibangunnya ideologi  negara kesatuan yang mengedepankan basis loyalitas pada negara dengan dilakukannya pemisahan antara jabatan-jabatan publik dalam format politik modern dengan kekuasaan tradisional. Dengan demikian seorang sultan tidak secara otomatis menjadi gubernur maupun bupati, melainkan dipilih melalui kontestasi melalui partai politik atau jabatan-jabatan dalam birokrasi bukan lagi suatu yang melekat secara geneologis melainkan harus didasarkan atas kompotensi tertentu. Dalam menghadapi perubahan tersebut, solusi yang ditempuh oleh Kesultanan Ternate adalah berdiri atau bergabung dalam logika kekuasaan Soekarno dengan melibatkan diri dalam berbagai percaturan politik nasional, ataukah mengambil sikap berbeda dengan mengikuti konsep negara yang digagas oleh van Mook pada awal kemerdekaan RI. Perbedaan persepsi mengenai bentuk dan sistem pemerintahan Indonesia  pasca kemerdekaan yang akan menggantikan bentuk dan sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda  merepresentasikan kedua kubu yang berbeda.  Pandangan kaum nasionalis meyakini  bahwa  keutuhan Negara Indonesia tergantung pada kuatnya kontrol pusat, sedangkan pandangan Iskandar Djabir Syah (Sultan Ternate), justru berangapan bahwa Indonesia akan tampil sebagai negara demokratis yang egaliter, dengan  memberikan otonomi yang cukup luas kepada provinsi-provinsi yang ada (khususnya kawasan Timur Indonesia).Kata Kunci : Sejarah Politik, Kesultanan Ternate dan   Pemerintahan Soekarno
DINAMIKA SOSIAL-POLITIK KESULTANAN JAILOLO ( 2002 – 2017 ) Mustafa Mansur; Rusli Said
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.706 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v5i2.1137

Abstract

Kesultanan Jailolo merupakan salah satu dari empat pilar pranata tradisional Maluku yang dikenal dengan Moloku Kie Raha. Kesultanan ini telah dianeksasi oleh Kesultanan Ternate sejak 1620, dan dibangkitkan kembali oleh Sultan Nuku dari Tidore pada 1796.  Sejak 1825, Kesultanan Jailolo ini pernah berkedudukan di Pulau Seram hingga dibubarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1832. Sejak saat itu, tidak lagi berkedudukan seorang sultan baik di Jailolo Halmahera maupun di Seram. Pada 2002, Kesultanan Jailolo dihidupkan kembali untuk melengkapi kesempurnaan Moloku Kie Raha. Namun, kehadiran Kesultanan Jailolo dari 2002 hingga 2017, mengalami kontroversi berkaiatan dengan hubungan geneologis sultan yang menyebabkan Kesultanan Jailolo berada pada pusaran politik internal. Penelitian ini membahas bagaiamana pusaran politik itu membentuk dinamika sosial-politik dari 2002 sampai 2017. Hasilnya menunjukkan bahwa dinamika sosial-politik tersebut telah melahirkan terbentuknya dua kelompok masyarakat adat di Jailolo sebagai pendukungnya dalam  membangun solidaritas emosional dan sosial untuk mempertahankan legitimasi yang mereka yakini sebagai kebenaran.  Terdapat setidaknya empat orang sultan pada 2002 sampai 2017 yang masing-masing mengklaim memiliki hubungan geneologis dengan sultan-sultan Jailolo terdahulu. Dinamika tersebut menggambarkan  fenomena yang relatif sama dengan dinamika politik pada masa kolonial. Kata Kunci : Jailolo, sultan, dinamika sosial-politik
NILAI DAN EKSISTENSI PERMAINAN TRADISIONAL DI TERNATE Farida Maricar; Rudi S. Tawari
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.696 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v5i2.1138

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan nilai dan makna yang terdapat pada permainan tradisional di Ternate. Bagaimana nilai itu berperan terhadap pemertahanan permainan tradisional dan berbagai faktor yang ditengarai sebagai penyebab melemahnya permainan tradsional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Ternate, terdapat puluhan permainan tradisional. Dari puluhan itu, penelitian ini menemukan bahwa permainan yang masih dipraktikkan kurang lebih hanya tujuh permainan tradisional dan sudah jarang dimainkan. Dilihat dari aspek nilai, permainan-permainan tradisional di Ternate mengandung berbagai nilai, di antaranya adalah nilai kerja sama, kejujuran, sportivitas, dan tanggung jawab. Dalam kaitannya dengan pemertahanan, ternyata nilai-nilai ini tidak terlalu berperan. Faktanya, dari puluhan permainan itu, yang tersisa kurang lebih tujuh permainan tradisional. Pola pewarisan yang berlangsung saat ini adalah pewarisan aktif. Proses ini berjalan dengan mengandalkan lingkunga sebagai tumpuan eksistensi. Dengan demikian, ketika lingkungan bermain berubah maka permainan juga ikut berubah. Permainan tradisional tidak lagi digandrungi karena permainan modern hadir dalam beragam pilihan. Atas dasar itu, maka pewarisan alamiah tidak bisa lagi diandalkan. Jika ini dibiarkan maka permainan  tradisional yang tersisa dimungkinkan dapat mengalami hal yang sama seperti permainan tradisonal lainnya yang lebih dulu punah. Kata kunci: Ternate, Permainan Tradisional, Nilai, Pewarisan  
DINAMIKA IDENTITAS ETNIS SIMALUNGUN DAN PEMBANGUNAN DI KOTA PEMATANG SIANTAR Hisarma Saragih
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.344 KB) | DOI: 10.33387/etnohistori.v5i2.1325

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika identitas etnis Simalungun dalam proses pembangunan di Kota Pematangsiantar. Kota ini adalah kota yang pluralis dengan jumlah penduduk tahun 2016, berjumlah 249 505 jiwa dari berbagai etnis dan sub etnis : Simalungun, Toba, Karo, Mandailing, Pakpak, Angkola, Jawa, Melayu, etnis Tionghoa, India, Eropah, dan lainnya. Di kota ini juga ditemukan Agama Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, aliran kepercayaan dan lainnya. Kota ini dikenal dengan kota yang paling toleran di Indonesia, kota yang damai dan kota yang berbudaya. Permasalahan mengapa muncul aksi protes oleh etnis Simalungun ? Bagaimana dinamika Identitas etnis Simalungun di kota Pematang Siantar?  Apakah identitas etnis Simalungun masih mendapat posisi yang pas dalam pelaksanaan pembangunan di kota Pematangsiantar? Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, referensi, dan pengamatan langsung dapat dijelaskan secara historis, sosiologis, antropologis proses  pembangunan  dengan dinamikanya. Penelitian ini berkesimpulan muncul aksi protes oleh etnis Simalungun kepada pemerintah (walikota) Pematangsiantar, disebabkan ketidak puasan akan berbagai kebijakan pemerintah terutama dalam bidang budaya, yang dianggap telah melecehkan budaya dan etnis Simalungun. Dinamika Identitas etnis Simalungun ditunjukkan dengan semakin banyaknya elemen Simalungun, dan juga non Simalungun yang ikut bersimpati terhadap aksi protes dan tuntutan orang Simalungun. Identitas etnis Simalungun disinyalir tidak mendapat posisi, perlakuan dan keterlibatan yang serasi dalam pelaksanaan pembangunan di kota Pematangsiantar. Kata kunci : dinamika, identitas, etnis, simalungun, kota Pematangsiantar

Page 1 of 1 | Total Record : 4