Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Local Wisdom as a Social Security Instrument for the Poor in North Maluku, Indonesia Amin, Safrudin; Ahmad, Irfan; Maricar, Farida; Abdulrahman, Safrudin
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v11i1.18241

Abstract

The studies of cultural revitalization, local wisdom, and social security are often separated and seems unconneted. This article aims at connecting these domains through ethnographic research and document analysis of the phenomena in revitalization of local wisdom called bari to strengthen the social security of the poor in North Maluku. Revitalization activies like raising funds from public not from government budget to build hundreds of decent housing for the poor is interesting issue to study. The three main concerns of this article are socio-cultural factors that encourage the birth of this movement, the activities and achievements of these revitalization movements, and the typical characteristics of local wisdom as a result of revitalization that distinguishes it from its original form. The findings presented in this article can contribute to academic discourse in the domains of local wisdom, cultural revitalization, and social security. The more important of this finding is to construct arguments about the existence of a bridge between local wisdom, revitalization, and social security.
PHONOLOGICAL VARIATION OF TALIABU LANGUAGE DIALECTS Ridwan Ridwan; Farida Maricar; Sunaidin Ode Mulae; Sherly Asriyani
RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/retorika.v13i1.9266

Abstract

This research aimed to describe the phonological variation of Taliabu language dialects. This research used a qualitative descriptive method. The technique of data collection was obtained by taking notes, records, and interviews. Data obtained was analyzed by the stages of reduction, presentation, conclusion, and verification data. The result of the research showed that Taliabu language had three dialects, namely Kadai, Siboyo, and Mange. Phonological variations of Taliabu language occurred in the three dialects comprise of vowel variations, namely /e/, /a/, and /o/. Beside the vowel variation, there is also variation of consonants such as /g/, /y/, /h/, /t/, /d/, / m/, /ŋ/, /b/, /p/, /k/, dan /r/ phonemes. Among the three dialects, one of them has high innovation namely Mange dialect, meanwhile, dialects have high phonological differences between Kadai and Mange dialects.
Penggunaan Sapaan dalam Keluarga Inti Masyarakat Susupu Farida Maricar; Rahma Djumati
TEKSTUAL Vol 19, No 1 (2021): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.446 KB) | DOI: 10.33387/tekstual.v19i1.3089

Abstract

Penulisan artikel ini mendeskripsikan tentang penggunaan sapaan dalam keluarga inti pada masyarakat Susupu. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif  kualitatif  melalui  pengamatan langsung, wawancara, pengisian kuesioner, merekam, dan mencatat untuk melihat penggunaan sapaan dalam keluarga inti pada masyarakat Susupu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa bentuk penggunaan sapaan dalam keluarga inti yang digunakan oleh masyarakat Susupu. Yakni sapaan kepada ayah kandung, ibu kandung, kakek dan nenenk. Selain itu, sapaan yang digunakan bervariasi berdasarkan generasi penggunanya, yaitu generasi tahun 1980-an, generasi 1990- an, dan generasi 2000-an.  Kata kunci: bahasa, sapaan, masyarakat Susupu                                                                                                 AbstractThe writing of this article describes the use of greetings in the nuclear family in the Susupu community. The method used in this research is descriptive qualitative through direct observation, interviews, filling out questionnaires, recording, and taking notes to see the use of greetings in the nuclear family in the Susupu community. The results showed that there were several forms of greeting in the nuclear family used by the Susupu community. Namely greetings to biological father, biological mother, grandfather and nenenk. In addition, the greeting used varies based on the generation of users, namely the 1980s generation, 1990s generation, and 2000s generation.Keywords : language, greeting, Susupu society
Wacana dan Media; antara Kekuasaan, Representasi Ideologi dan Realita Sosial Farida Maricar
Tekstual Vol 16, No 1 (2018): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.019 KB) | DOI: 10.33387/tekstual.v16i1.1058

Abstract

Media had a great influence and power toward daily activities. By media, we can understandourselves. It means our ability to speak and think, get in touch to other people, even our dreamand awareness of identity was formed by media. In other words, learning media was learningourselves as social creature. There were three views on discourse analysis. The first wasrepresented by empirical-positivism. The second was called constructivism konstruktivisme. Thethird was called as critical view. In understanding a discourse (texts), it could not be rid of thecontext. To find the reality behind the texts, it was necessary to investigate to the context of textproduction, text consumption and socio-cultural aspects which influence the text production .This was because a text was not rid of subjective interest. A text also needs meaning thatmeans a text already exist could be a picture on theories which will be used to analyze theproblem.
Bahasa Melayu Ternate Sebagai Identitas Lain bagi Masyarakat Ternate Farida Maricar
TEKSTUAL Vol 18, No 1 (2020): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.809 KB) | DOI: 10.33387/tekstual.v18i1.727

Abstract

Bahasa Ternate merupakan salah satu bahasa yang dituturkan oleh penduduk yang berdomisili di sebagian besar wilayah Maluku Utara yang pernah menjadi wilayah kekuasaan kesultanan Ternate dan khususnya di kota Ternate. Dewasa ini ,penggunaan bahasa Ternate di kota Ternate semakin  minim. Penutur bahasa Ternate  lebih sering menggunakan bahasa Melayu Ternate. Bahasa Ternate  hanya terbatas penggunaannya oleh para orang tua. Sebagian besar anak-anak tidak dapat menuturkan bahasa Ternate dikarenakan pupusnya transmisi antargenerasi. Selain itu, kontak bahasa antara para pendatang dan penutur bahasa Ternate itu  sendiri menyebabkan beralihnya fungsi bahasa Ternate yang sebelumnya berfungsi sebagai lingua franca di Maluku Utara dan   digantikan oleh bahasa Melayu Ternate. Identitas Melayu pun menggantikan identitas non Austronesia bahasa Ternate.Kata kunci: Ternate, Melayu, kontak bahasa
VITALITAS BAHASA TERNATE DI PULAU TERNATE Farida Maricar; Ety Duwila
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.347 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i2.1003

Abstract

Penelitian ini bermaksud mengungkapkan sejauh mana daya hidup bahasa Ternate saat ini yang secara tidak langsung berada di antara dua karakteristik, yakni bahasa Ternate hidup dalam konfigurasi masyarakat yang plural, dan berada pada masyarakat yang multilingual. Karakteristik tersebut ditengarai sebagai gejala atas keterancaman bahasa Ternate. Untuk itu, artikel ini menguraikan pola pemakaian bahasa Ternate dalam berbagai ranah dan mendeskripsikan realitas interaksi antara penutur bahasa Ternate dengan bahasa etnik lainnya yang berada dalam wilayah kota Ternate, serta melihat sikap etnik penutur bahasa Ternate dan etnik di luar itu. Dengan cara ini, gambaran atas daya tahan bahasa Ternate dapat terlihat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, berbagai gejala sosial yang memengaruhi keterancaman bahasa Ternate dapat diuraikan dalam artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan, kesehatan bahasa Ternate masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Artinya, meskipun bahasa Ternate masih bertahan setakat ini tetapi sudah merisaukan karena Bahasa Ternate sebagai bahasa ibu yang sejatinya dipakai sebagai alat komunikasi utama dalam komunikasi sehari-hari, kini sudah tergantikan dengan Bahasa Melayu Ternate. Bahasa pertama yang diajarkan orang tua kepada anak adalah Bahasa Melayu Ternate. Akibatnya, bahasa ibu bagi anak-anak di Ternate adalah Bahasa Melayu Ternate. Selain itu, melemahnya Bahasa Ternate juga disebabkan oleh intensitas penggunaan yang mulai berkurang di berbagai ranah tutur.Kata kunci: Bahasa Ternate, Vitalitas Bahasa, Multilingual
NILAI DAN EKSISTENSI PERMAINAN TRADISIONAL DI TERNATE Farida Maricar; Rudi S. Tawari
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.696 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v5i2.1138

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan nilai dan makna yang terdapat pada permainan tradisional di Ternate. Bagaimana nilai itu berperan terhadap pemertahanan permainan tradisional dan berbagai faktor yang ditengarai sebagai penyebab melemahnya permainan tradsional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Ternate, terdapat puluhan permainan tradisional. Dari puluhan itu, penelitian ini menemukan bahwa permainan yang masih dipraktikkan kurang lebih hanya tujuh permainan tradisional dan sudah jarang dimainkan. Dilihat dari aspek nilai, permainan-permainan tradisional di Ternate mengandung berbagai nilai, di antaranya adalah nilai kerja sama, kejujuran, sportivitas, dan tanggung jawab. Dalam kaitannya dengan pemertahanan, ternyata nilai-nilai ini tidak terlalu berperan. Faktanya, dari puluhan permainan itu, yang tersisa kurang lebih tujuh permainan tradisional. Pola pewarisan yang berlangsung saat ini adalah pewarisan aktif. Proses ini berjalan dengan mengandalkan lingkunga sebagai tumpuan eksistensi. Dengan demikian, ketika lingkungan bermain berubah maka permainan juga ikut berubah. Permainan tradisional tidak lagi digandrungi karena permainan modern hadir dalam beragam pilihan. Atas dasar itu, maka pewarisan alamiah tidak bisa lagi diandalkan. Jika ini dibiarkan maka permainan  tradisional yang tersisa dimungkinkan dapat mengalami hal yang sama seperti permainan tradisonal lainnya yang lebih dulu punah. Kata kunci: Ternate, Permainan Tradisional, Nilai, Pewarisan  
SASTRA LISAN TIDORE SEBAGAI MANIFESTASI PEMERTAHANAN BUDAYA FARIDA MARICAR; ETY DUWILA; NURAIN JALALUDDIN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i2.4081

Abstract

 Penelitian ini menemukan beberapa nilai yang terkandung di dalam sastra lisan Tidore, yaitu nilai kepemimpinan dan nilai moral. Masyarakat Tidore di Kota Tidore Kepulauan memertahankan  budaya mereka melalui sastra lisan.  Salah satu  sastra lisan yang masih ada pada masyarakat Tidore adalah cerita rakyat. Penelitian ini bertujuan  mengidentifikasi, mencatat, dan menarasikan cerita-cerita yang ada di  masyarakat  Tidore, serta nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut. Ada beberapa cerita rakyat Tidore teridentifikasi dan mencerminkan nilai budaya dan kehidupan, seperti kesabaran, kesopanan, pengenalan bahasa, hingga pembentukan karakter anak.  Melalui cerita lokal, pengetahuan dan kearifan lokal itu dapat ditransmisikan kepada anak-anak sebagai warisan budaya dan pengetahuan nenek moyangnya. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa ada beberapa nilai yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut, yaitu nilai kepemimpinan, nilai moral dan nilai sosial. Kata Kunci: sastra lisan, cerita rakyat Tidore, budaya 
LANGUAGE MAINTENANCE OF BUGINESE IN BASTIONG VILLAGE, TERNATE, NORTH MOLUCCAS (A SOCIOLINGUISTIC STUDY) Adelia Rahman; Farida Maricar; Sutisno Adam
Humano: Jurnal Penelitian Vol 12, No 2 (2021): PERIODE NOVEMBER
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/hjp.v12i2.3858

Abstract

ABSTRACT. The aim of this research is (1) to describe how the Buginese maintain their language in the society of Ternate city, especially in BastiongTalangame village and also (2) to describe the factors contributing to the maintenance of Buginese Language in BastiongTalangame village.There are two data sources that the researcher uses; they are primary data and secondary data. In analyzing the data, researcher used qualitative descriptive methods. The data was analyzed with sociolinguistic theories which intend to make the researcher easier to understand and observe how language maintenance can survive in people’s everyday lives.The findings of this study indicate that this research is spoken by the people in the house, the surrounding environment, and also in public areas such as markets that can still survive. Buginese people use Buginese language when they communicate one another. However, they use Ternate Malay when communicating with people with other tribes. It can be concluded thatn the factors contributing to the Buginese Language maintenance include social and environmental factors where they are in a region of language concentration, namely in the BastiongTalangame Village, a language attitude factor that includes language user loyalty, pride in language and also awareness of norms that are still found in maintaining language And the last factor is a migration, where the Buginese community that comes and settles in the city of Ternate.
Pelatihan Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris melalui Media Games di Lingkup Komunitas Ternate Sulmi Magfirah; Sutisno Adam; Farida Maricar; Indra Purnawan Pandjaitan
ADMA : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 2 No 1 (2021): Juli 2021
Publisher : LPPM Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1273.455 KB) | DOI: 10.30812/adma.v2i1.1261

Abstract

The community service activities by Unkhair team in the form of English language skills training in Ternate communities aims to increase the enthusiasm of community members to learn English and improve English skills through effective, creative and fun learning, in this case through media games. The method used prioritizes courage in speaking without worrying about being wrong in pronunciation or expression in using English. The sample are around 40 participants by the community members in Ternate. Games are used as English communication media between mentor and participants. Finally, the result of this activity is the increase of English ability of the participants in using games, therefore the learning process is more effectice, creative, and fun.