cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
BERITA BIOLOGI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 60 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 5 (2001)" : 60 Documents clear
KAYU CENDANA SEBAGAIBAHAN BAKU INDUSTRI KERAJINAN RAKYAT MENYONGSONG OTONOMIDAERAH PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Suranto, Y
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.095 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1471

Abstract

Kayu Cendana (Sanlalum album Linn.) merupakan satu jenis produk terpenting yang dihasilkan oleh sumberdaya alam berupa hutan di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Perlu pengelolaan cendana lebih intensif dan pemanfaatan optimal bagi peningkatan kesejahteraan rakyat NTT dan Pendapatan Asli Daerah dalam menyongsong Otonomi Daerah. Sumber ekonomi yang diperoleh daerah NTT melalui penjualan kayucendana sebagai bahan mentah ke daerah lain kiranya patut ditinjau kembali. Pemanfaatan sebagai bahan baku bagi industri kecil dan menengah perlu ditumbuhkan, dibina dan dikembangkan di daerah NTT merupakan alternatif yang selayaknya ditempuh. Pemanfaatan kayu cendana sangat beragam. Berdasarkan sifat kayu dan kandungan minyak atsirinya, kayu cendana sudah digunakan sebagai bahan baku bagi industri minyak atsiri, industri serbuk (tepung) kayu dan industri kerajinan kayu. Industri kerajinan kayu merupakan industri yang paling potensial, meningkatkan kesejahteraan rakyat karena penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah yang langsung menyangkut masyarakat di tingkat bawah. Produk kerajinan berupa patung, ukiran dan topeng sering kali mengalami cacat retak atau pecah. Cacat ini akan menurunkan nilai produk tersebut. Penurunan ini dapat dihindarkan dengan penerapan teknologi pengeringan dan teknologi stabilisasi dimensi dengan Poli Etilen GUkol (PEG). Teknologi stabilisasi melalui perendaman selama 5 hari dalam PEG-1000 berkonsentrasi 40%, terhadap patung (hasil kerajinan) akan membebaskan sepenuhnya dari cacat retak dan pecah, tetapi mengubah warna kayu dari putih kekuningan menjadi putih keabu-abuan dan menguragi bahkan menihilkan aroma cendana. Penerapan teknologi pengeringan kayu berdampak yang serupa dengan dampak teknologi stabilisasi dimensi.
PELUANG DAN KENDALA CENDANA DALAM PEREKONOMIAN PROPINSINUSA TENGGARA TIMUR Musakabe, Herman; TNI (Purn), MayJen
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.409 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1453

Abstract

Berbagai peluang untuk tetap menjadikan cendana (Santalum album L.) sebagai komoditas utaraa dan andalan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) disampaikan dalam tulisan ini. Selain itu, mengatasi kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian dan pengembangan cendana, harus tetap melibatkan 3 komponen pelaku yaitu Pemerintah Daerah, Masyarakat dan Pengusaha industri cendana.Untuk itu,beberapa saran dalam upaya dimaksud, baik jangka panjang, jangka pendek maupun dari sisi hukum juga dikemukakan.
POTENSI SUMBERDAYA AIR PROPINSI NTT SEBAGAI PENUNJANG PENGEMBANGAN KAWASAN CENDANA Djuwansah, MR; tomo, EPU; N, TP Sastramihardja
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1467

Abstract

Kelayakan budidaya cendana (Santalum album L) di Propinsi NTT dibahas dari sisi sumberdaya air. Propinsi NTT merupakan daerah dengan iklim kering dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia. Di Propinsi ini terdapat daerah-daerah yang memiliki neraca air tahunan defisit. Daerah-daerah dengan potensi sumberdaya air yang memadai sangat terbatas. Potensi air tanah relatif sedikit dan mahal sehingga eksploitasinya hanya akan menguntungkan apabila komoditi yang diusahakan memiliki nilai ekonomis tinggi. Cendana merupakan salah satu alternatif karena (1) merupakan tumbuhan endemik daerah NTT, (2) toleran terhadap iklim kering dan (3) memiliki nilai ekonomis tinggi. Cendana laik dikembangkan secara estate di Propinsi NTT pada daerah beriklim kering yang terletak di tepi sungai atau sekitar mata air yang kontinyu, sekitar embung atau diairi oleh air tanah.
UPAYA MEMPERLUAS KAWASAN EKONOMIS CENDANA DINUSA TENGGARA TIMUR Darmokusumo, Sundoro; Nugroho, Alexander Armin; Botu, Edward Umbu; Jehamat, Alfons; Benggu, Matheos
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.963 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1458

Abstract

Walaupun cendana (Santalum album L.) pada masa lalu merupakan komoditi yang memiliki peran ekonomi bagi PAD (Pendapatan Asli Daerah), namun ironisnya populasi tanaman tersebut di daerah sebaran alaminya (NTT) mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Bahkan dilaporkan bahwa komoditi ini sejak tahun anggaran 2000 tidak lagi memberikan sumbangan terhadap PAD. Upaya pemulihan potensi komoditas ini telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan Propinsi NTT melalui berbagai kegiatan seperti pembibitan,penanaman, pemeliharaan dan pengamanan, meskipun hasilnya belum menggembirakan. Untuk itu upaya lain yang juga diusahakan adalah dengan memperluas kawasan ekonomis cendana, dengan merubah perlakuan konvensional menjadi intensifikasi dalam budidayanya.
KAJIAN TERHADAP PERAN TANAMAN CENDANA {Santalum album L.) SEBAGAI KOMODITIUTAMA PEREKONOMIAN DAERAH OTONOMI NUSA TENGGARA TIMUR Naiola, B Paul
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.934 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1449

Abstract

Topik inti diekstrak dari setiap makalah yang membahas tentang cendana ini. Kemudian dirangkaikan satu sama lain untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang persoalan dalam Cendana NTT itu sendiri.
KEBIJAKAN DAN POLA KONSERVASI CENDANA PADA MASA MENDATANG DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Wawo, Albert H; Naiola, BP; Syarif, Fauzia
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.932 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1472

Abstract

Cendana (Santalum album L.) adalah tumbuhan yang memiliki potensi ekonomi tinggi karena penggunaannya di berbagai bidang seperti bahan kosraetika, obat-obatan, kayu ukiran dan bahan kerajinan rumah tangga (home industry). Oleh karena potensinya yang tinggi itu maka eksploitasi dari habitat aslinya dilakukan secara terus-menerus tanpa memperhatikan upaya konservasinya, sehingga populasi cendana dalam habitat aslinya telah sampai pada kondisi yang memprihatinkan. Cendana merupakan salah satu komoditi unggulan di propinsi NTT yang mampu memberikan andil sebesar 22,08% untuk pendapatan asli daerah (PAD). Dalam rangka Otonomisasi Daerah sesuai dengan UU Nomor 22 tahun 1999 maka perhatian khusus untuk konservasi dan pengembangan cendana adalah salah satu prioritas yang tidak dapat dielakkan oleh masyarakat dan PEMDA NTT. Model agroforestry cendana merupakan salah satu pola konservasi dan pengembangan cendana di masa mendatang dengan melibatkan masyarakat lokal untuk menanam cendana di ladang atau tegalannya. Dengan menerapkan pola ini dalam periode jangka panjang (lebih dari 20 tahun) ke depan masyarakat secara berangsur-angsur mengurangi tekanan terhadap pengambilan cendana dari habitat aslinya di alammkarena cendana telah dapat dipanen dari ladang dan tegalannya. Tulisan ini akan membahas pula penyebab kegagalan konservasi cendana, dan beberapa pemikiran tentang kebijakan dasar untuk konservasi cendana pada masa mendatang.
PROSPER PENGEMBANGAN CENDANA DI NUSA TENGGARA TIMUR Suseno, Oemi Haniin
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.611 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1454

Abstract

Cendana (Santalum album L.) merupakan spesies asli Indonesia yang sebaran geografisnya terutama di kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemasaran kayu cendana tidak sulit, bahkan sampai pada saat ini jumlah produk masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan sehingga masih luas peluangnya untuk dikembangkan. Hutan cendana di NTT dapat diwujudkan serta dapat ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya dengan memperhatikan beberapa aspek (1) sejak awal problematika pembangunan hutan sudah diantisipasi, (2) dilakukan upaya konservasi genetik in-situ dan ex-situ, (3) dilakukan studi variasi benih dan kegiatan pemuliaan pohon untuk menghasilkan bibit unggul, (5) pengadaan SDM profesiona! dengan pelatihan-pelatihan pada berbagai tingkat petugas. Pada hakekatnya bekal ilmu kita sudah cukup (dari pengalaman penelitian untuk mewujudkan tegakan cendana yang Iayak. Namun pada kenyataannya hamparan cendana yang luas belum kita jumpai,karena berbagai kendala yakni (1) tidak ada motor penggeraknya sehingga tidak serius, (2) sedikitnya lahan yang tidak bermasalah, (3) segan karena umumya panjang, (4) ancaman api (kebakaran), (5) ancaman temak dan satwa lainnya, (6) ancaman perladangan berpindah, (7) sumber benih belum tersedia, (8) SDM belum siap, (9) peralatan masih kurang efisien, dan (10) dana tidak kontinyu dan tidak tepatwaktu atau bahkan belum tersedia. Dalam mengembangkan kembali cendana di NTT, perlu diperhatikan beberapa permasalahan khusus setempat, yakni (1) musim hujan sangat singkat sehingga penanaman harus dilakukan awal musim hujan dengan menggunakan bibit yang tepat, (2) persiapan penanaman dilakukan dengan baik meliputi ukuran lobang, perimbangan pupuk dasar dan mulsa, (3) pemagaran, (4) pembuatan jalur kebakaran, (5) diadakan jalur isolasi, (6) lokasi tidak ber masalah, (7) pelatihan untuk membentuk SDM dan (8) sosialisasi terhadap masyarakat luas terutama masyarakat NTT. Sumber benih sebaiknya dari Kebun Benih atau diambil dari pohon-pohon yang fenotipe superior. Diperlukan pula uji provenans di berbagai lokasi tempat pohon cendana akan dikembangkan.
KAJIAN EVALUASI LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN CENDANA DINUSA TENGGARA TIMUR Hendrisman, Marwan; Sosiawan, Hendri; Irianto, Gatot
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.751 KB) | DOI: 10.14203/bb.v5i5.1468

Abstract

Komoditas kayu cendana menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sampai 40% untuk Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),sehingga dapat dijadikan komoditas andalan bagi Propinsi ini. Pulau Sumba dan Pulau Timor diduga merupakan tempat asal tumbuh cendana, sehingga untuk pengembangan budidaya cendana dapat dicari daerah yang mempunyai ekosistem yang mirip dengan daerah asalnya.Teknologi budidaya tepatguna bagi cendana perlu dikembangkan untuk memperluas areal tanam komoditas tersebut.Untuk itu perlu dibentuk suatu dewan riset cendana secara lintas sektoral dari berbagai disiplin ilmu.
KONSERVASI EX SITU CENDANA (Santalum album L.): APLIKASI DAN TANTANGANNYA Soekotjo, Soekotjo
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1459

Abstract

Managing genetic resources of cendana/sandalwood (Santalum album L)requires an understanding of the biological dynamics of its population in which they exist. There are two strategies of conservation i.e. maintaining existing protected areas (in situ) and ex situ collections of various types.Ex situ methods include gene banks: clonal bank and breeding population. The two methods (in situ and ex situ) are complementary. Preservation of genetic resources in gene bank is essential for users of germplasm who need ready access.Ex situ conservation plantations are expensive to establish and maintain, and their use will thus be generally confined to species/ provenances of proven socio-economic value. This paper discussing collection of genetic resources of several population and establishment/ management of ex-situ conservation plantations.
OTONOMI DAERAH Seda, Frans
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1450

Abstract

-

Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 3 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 2 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 1 (2022) Vol 21, No 3 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 2 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 1 (2021) Vol 19, No 3B (2020) Vol 19, No 3A (2020) Vol 19, No 2 (2020) Vol 19, No 1 (2020) Vol 18, No 3 (2019) Vol 18, No 2 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 1 (1997) Vol 3, No 9 (1989) Vol 3, No 8 (1988) Vol 3, No 7 (1987) Vol 3, No 7 (1987): (Supplement) Vol 3, No 6 (1986) Vol 3, No 5 (1986) Vol 3, No 4 (1986) Vol 3, No 3 (1985) Vol 3, No 2 (1985) Vol 3, No 1 (1985) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 8 (1984): (Supplement) Vol 2, No 8 (1984) Vol 2, No 7 (1983) Vol 2, No 6 (1981) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 4 (1979) Vol 2, No 3 (1979) Vol 2, No 2 (1977) Vol 2, No 1 (1977) Vol 1, No 4 (1974) Vol 1, No 3 (1971) Vol 1, No 2 (1968) Vol 1, No 1 (1968) More Issue