cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Karet
Published by Pusat Penelitian Karet
ISSN : 0852808X     EISSN : 25030469     DOI : -
JURNAL PENELITIAN KARET (Indonesian Journal of Natural Rubber Research, p-ISSN : 0852-808X ; e-ISSN : 2503-0469) is accreditate national scientific journal published by Pusat Penelitian Karet (Indonesian Rubber Research Institute) – PT. Riset Perkebunan Nusantara, based in Jalan Salak Nomor 1 Bogor 16151 West Java Indonesia. The objective of the journal is to disseminate the innovation of rubber research to researcher, practitioner and user of information in general. Authors constribute on the publication of Jurnal Penelitian Karet are coming from Indonesian Rubber Research Institute and its subsidiary research center and also other research and development institutes, government agencies, universities, associations, and industries.
Arjuna Subject : -
Articles 490 Documents
POTENSI DAN KENDALA DALAM PENGUATAN DAN PENUMBUHAN KELOMPOK PEMASARAN BAHAN OLAH KARET TERORGANISIR DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Lina Fatayati Syarifa; Dwi Shinta Agustina; Aprizal Alamsyah; Iman Satra Nugraha
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i2.228

Abstract

Sistem pemasaran terorganisir telah mampu meningkatkan mutu bokar dan bagian harga yang diterima petani. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan untuk memperkuat dan menumbuhkan sistem pemasaran tersebut dengan mengidentifikasi kendala yang menghambat dan potensi yang memperkuat kelompok pemasarannya. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif di: 1) lokasi UPPB/KUD/Gapoktan yang masih aktif melakukan pemasaran bersama melalui lelang atau kemitraan; 2) lokasi yang sudah terbentuk kelompok pemasaran namun belum melakukan pemasaran lelang atau kemitraan; dan 3) lokasi Gapoktan/KUD/UPPB yang sudah tidak aktif lagi. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terhadap kelompok pemasaran. Hasil survei menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menghambat penguatan kelompok pemasaran adalah kurangnya komitmen masyarakat untuk terus berkelompok, kurangnya kesadaran untuk menjaga mutu bokar, dan kurangnya keterbukaan antara pengurus dan anggota. Pada kelembagaan pemasaran diperlukan bimbingan dan penyuluhan mengenai pemasaran terorganisir dan bimbingan teknis dalam meningkatkan mutu bokar. Sementara itu faktor pendukung yang dapat memperkuat lembaga pemasaran adalah adanya keterbukaan antara pengurus dan anggota, dan adanya kegiatan yang bersifat dapat mengikat anggota seperti kegiatan simpan pinjam dan penyediaan saprodi atau sembako.
KELAYAKAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN TANAH BUMBU KALIMANTAN SELATAN Iif Rahmat Fauzi; Ernita Bukit; Mochlisin Andriyanto; Istianto Istianto
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i1.229

Abstract

Kalimantan Selatan merupakan salah satu sentra perkebunan karet di Indonesia, tidak terkecuali tanaman karet. Salah satu diantara tiga belas  kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki potensi bagi pengembangan perkebunan karet adalah Kabupaten Tanah Bumbu. Dengan teknik budidaya yang masih tradisional, saat ini produktivitas lahan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu umumnya masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan pengembangan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian dilakukan pada tahun 2014 dengan metode survei dan dianalisis secara diskriptif kualitatif dan kuantitatif melalui pendekatan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan kelayakan finansial proyek menurut empat kriteria investasi yaitu Nett Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), dan Payback Period (PBP). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan perkebunan karet di kedua kecamatan sampel seluas ±5.620 Ha di Kecamatan Kusan Hulu sebagai Satuan Lahan I dan ±11.261 Ha di Kecamatan Satui sebagai Satuan Lahan II mendapatkan respon positif dari 90% responden. Secara finansial besaran nilai dari empat kriteria investasi masing-masing adalah NPV sebesar IDR 243 Milyar dan IDR 187Milyar, B/C ratio sebesar 2,08 dan 1,99, selanjutnya IRR sebesar 27,20% dan 17,53%, dan PBP selama 8 tahun 3 bulan dan 13 tahun 9 bulan. Berdasarkan keempat kriteria tersebut maka program pengembangan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu dinilai layak.    Diterima : 4 Agustus 2015 / Direvisi : 15 Juli 2016 / Disetujui : 26 Juli 2016 How to Cite : Fauzi, I., Bukit, E., Andriyanto, M., & Istianto, I. (2016). Kelayakan pengembangan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 107-118. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/229
RESPON TANAMAN KARET DI PEMBIBITAN TERHADAP PEMBERIAN PUPUK MAJEMUK MAGNESIUM PLUS MIKRO Saiful Rodhian Achmad; Riko Cahya Putra
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i1.230

Abstract

Masa tanaman karet di pembibitan dapat dipersingkat dengan cara pemupukan yang optimum. Saat ini banyak terjadi kelangkaan dan mahalnya pupuk anorganik untuk pembibitan karet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman karet di pembibitan terhadap pupuk majemuk magnesium plus. Penelitian aplikasi pupuk majemuk magnesium plus dilakukan di lahan percobaan Balai Penelitian Getas, Salatiga, Jawa Tengah. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap terdiri atas enam perlakuan dengan sepuluh ulangan. Perlakuan terdiri atas: 1) kontrol (perlakuan tanpa pemupukan), 2) perlakuan NPK+Dolomite, 3) pupuk tunggal NPK+Kieserite standar, 4) pupuk tunggal NPK kombinasi Magnesium plus dosis 75%,  5) pupuk tunggal NPK kombinasi Magnesium plus dosis 100%, dan 6) pupuk tunggal NPK kombinasi Mg plus dosis 125%. Parameter yang diamati: tinggi tanaman, diameter batang, bobot tanaman dan akar, kandungan hara daun serta nilai RAE. Pengamatan dilakukan setiap satu bulan sekali selama 6 bulan. Pemupukan dengan pupuk NPK yang dikombinasikan dengan berbagai tingkatan dosis pupuk majemuk magnesium plus dapat meningkatkan tinggi tanaman, diamater batang, bobot basah tanaman, serta bobot basah dan kering akar dibandingkan dengan perlakuan pupuk NPK+Kieserite standar dan kontrol tanpa pupuk. Secara agronomis perlakuan pupuk tunggal NPK dikombinasikan pupuk majemuk magnesium plus dengan tingkatan dosis 125% menunjukkan hasil yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain. Diterima : 26 Oktober 2015 / Direvisi : 14 Juli 2016 / Disetujui : 11 Agustus 2016 How to Cite : Achmad, S., & Putra, R. (2016). Respon tanaman karet di pembibitan terhadap pemberian pupuk majemuk magnesium plus mikro. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 49-60. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/230
ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN ANTAGONISME IN VITRO ISOLAT TRICHODERMA SPP. ASAL KEBUN KARET BLIMBING, PEKALONGAN, JAWA TENGAH Intan Berlian; Sindu Anarqi; Endang Pudjihartati
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i2.231

Abstract

Rigidoporus microporus merupakan patogen penyebab penyakit jamur akar putih (JAP) yang sangat merugikan perkebunan karet di Kebun Blimbing, Pekalongan, Jawa Tengah. Tindakan pengendalian secara preventif, kuratif dengan cara kultur teknis dan kimiawi sudah dilakukan namun belum dapat mengendalikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat lokal perkebunan karet di Kebun Blimbing yang bersifat antagonis terhadap JAP. Penelitian terdiri dari: (1) isolasi, (2) identifikasi, dan (3) uji antagonisme dengan metode dual culture. Pengujian menggunakan rancangan acak lengkap. Penelitian ini berhasil mendapatkan sebelas isolat Trichoderma spp. dari rhizosfer tanaman karet di Kebun Blimbing. Sebelas isolat tersebut yaitu Trichoderma spp. dari Blok Sikaum TBM 1 (P1), Blok Sikaum TBM 2 (P2), Blok Sikaum TM 1 (P3), Blok Sikaum TM 2 (P4), Blok Sari TM 1 (P5), Blok Sari TM 2 (P6), Blok Sitirejo TBM 1 (P7), Blok Sitirejo TBM 2 (P8), Blok Semurup TM 1 (P9), Blok Semurup TM 2 (P10), Blok Semurup TM 3 (P11). Semua isolat Trichoderma spp. tersebut bersifat antagonis terhadap pertumbuhan R. microporus. Persentase daya hambat Trichoderma spp. terhadap R. microporus berkisar antara 36,56% sampai 69,66%. Penghambatan paling tinggi (69,66%) diamati pada isolat P9 dan terendah (36,56%) pada isolat P3.
KARAKTERISASI SOSIAL EKONOMI DAN RESPON MASYARAKAT TERHADAP PENGEMBANGAN KARET DI HUTAN PRODUKSI JAWA BARAT Titik Widyasari
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i1.234

Abstract

Indonesia berpeluang menjadi produsen karet terbesar dunia karena masih tersedianya lahan dan tenaga kerja yang mendukung pembangunan kebun karet. Salah satu peluang tersedianya lahan adalah hutan produksi yang dikelola oleh negara.  Dalam perencanaan pembangunan kebun karet sangat penting dilakukan analisis dari sisi sosial ekonomi masyarakat sekitar, sehingga keberlangsungan pembangunan kebun karet dapat berjalan dengan lancar dan meminimalisir konflik kepentingan masyarakat dengan lembaga masyarakat sekitar hutan produksi. Tujuan penulisan artikel ini adalah menyajikan informasi mengenai kondisi sosial masyarakat sekitar hutan produksi yang akan dikembangkan menjadi kebun karet. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dan memilih sampel secara purposive yang dilakukan di empat kabupaten yang berbatasan dengan hutan produksi yang dikelola oleh Perusahaan A  yang akan dikembangkan menjadi kebun karet di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kabupaten Sumedang, Majalengka, Purwakarta dan Indramayu. Di tingkat desa, pengambilan data menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan masyarakat sekitar hutan, pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan perangkat desa. Data dianalisis menggunakan metode diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya infrastruktur dan kelembagaan di keempat kabupaten sudah memadai. Adapun land use dan vegetasi di hutan produksi berupa tanaman Jati, Kayu Putih, Mahoni dan Gmelina, tanaman tumpangsari serta ternak sapi dan kerbau. Sejumlah 90%-95% penduduk merupakan penduduk lokal, dengan mata pencaharian 47%-90% di bidang pertanian sebagai petani-buruh tani dan belum memahami teknik budidaya tanaman karet. Jika sebagian hutan produksi diubah menjadi perkebunan karet, pada umumnya memiliki respon setuju namun perlu meninjau ulang konsep Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang sudah berjalan. Diterima : 23 Februari 2016 / Direvisi : 1 Juli 2016 / Disetujui : 22 Juli 2016 How to Cite : Widyasari, T. (2016). Karakterisasi sosial ekonomi dan respon masyarakat terhadap pengembangan karet di hutan produksi Jawa Barat. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 89-106. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/234
KONSTRUKSI PETA PAUTAN GENETIK DAN ANALISIS QTL TANAMAN KARET PADA POPULASI HASIL PERSILANGAN ANTARA RRIM 600 DENGAN PN 1546 Sekar Woelan; Chairun Nissa; Tetty Chaidamsari; Edy Irwansyah
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i2.236

Abstract

Tersedianya peta pautan genetik merupakan salah satu  syarat dalam identifikasi QTL. Konstruksi peta pautan genetik dapat dilakukan pada tanaman turunan pertama dari suatu persilangan untuk tanaman-tanaman yang menyerbuk bebas dengan menggunakan strategi pseudo-testcross. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan posisi QTL komponen produksi karet (lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, partikel karet) yang mempunyai pengaruh langsung paling besar dengan produksi karet menggunakan analisis marka tunggal. Peta pautan genetik RAPD tanaman karet (2n=36) dibuat menggunakan data marka dengan strategi pseudo-testcross. Populasi hasil persilangan antara klon RRIM 600 dan plasma nutfah PN 1546 digunakan sebagai materi genetik untuk penelitian pemetaan QTL komponen produksi karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada tetua betina (RRIM 600) telah diperoleh tiga kelompok pautan yang dikonstruksi pada LOD 3,0 dan lima kelompok pautan yang dikontruksi  pada LOD 2,0.  Sedangkan pada tetua jantan (PN 1546) telah diperoleh dua kelompok pautan yang dikontruksi pada LOD 2,0. Marka OPH19_650 pada kelompok pautan 2 (KP-2) dan OPB20_1650 pada kelompok pautan 3 (KP-3) diduga terkait dengan sifat produksi karet dan lilit batang. Marka OPC13_2000 pada kelompok pautan 2 (KP-2) dan OPB20_1650 pada kelompok pautan 3 (KP-3) diduga terkait dengan sifat produksi karet dan tebal kulit.  Marka OPC13_2000 dan OPH06_850 pada kelompok pautan 2 (KP-2) diduga terkait dengan sifat produksi karet dan jumlah pembuluh lateks.
PENGARUH INTERVAL PENGENDALIAN GULMA DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA DAN TANAMAN KARET TBM Zulkipli Zulkipli; Yakup Yakup; Erizal Sodikin; Yernelis Syawal
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i2.237

Abstract

Metode pengendalian gulma yang tidak efektif akan menyebabkan dinamika gulma ke jenis yang lebih sulit dikendalikan dan tertundanya matang sadap 2-3 tahun. Penelitian ini untuk  mengkaji pertumbuhan gulma dan tanaman karet akibat pengaruh berbagai  interval pengendalian dan aplikasi herbisida pada kebun karet TBM. Penelitian dilaksanakan dari Januari 2013 sampai Juni 2014.  Rancangan penelitian Split Plot,  petak utama  adalah perlakuan interval  pengendalian gulma dan perlakuan herbisida sebagai anak petak dengan ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan  gulma daun lebar  lebih dominan  (SDR 52,76%) dari gulma sempit (SDR 47,24%) di awal penelitian (pra perlakuan). Bobot kering dan penutupan gulma lebih rendah, pada  interval pengendalian lebih singkat. Bobot kering gulma antar petak perlakuan berbeda nyata  pada Juni dan Desmber 2013.  Bobot kering dan penutupan gulma terendah  pada perlakuan  glifosat + metil metsulfuron  yang tertinggi pada perlakuan ditebas dan kontrol. Bobot kering dan penutupan gulma selalu berbeda nyata antara perlakuan glifosat + metil metsulfuron dengan perlakuan ditebas dan kontrol. Perlakuan herbisida campuran parakuat + metil metsulfuron menghasilkan pertumbuhan lilit batang karet lebih baik (17,9 cm) dibanding  perlakuan glifosat + metil metsulfuron (16,9 cm). Pertumbuhan lilit batang tanaman karet  sangat dipengaruhi  bobot kering  gulma dengan nilai koefisien diterminasi  R2  = 0,82. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan herbisida  glifosat + metil metsulfuron lebih efektif menekan pertumbuhan gulma dan  pertumbuhan  lilit batang  karet sangat dipengaruhi bobot kering  gulma yang membentuk pola hubungan pertumbuhan negatif.
Sampul Depan 29 2 2011 Santi Puspitasari
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v29i2.239

Abstract

Sampul Depam 29 2 2011
Sampul Belakang 29 2 2011 Santi Puspitasari
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v29i2.240

Abstract

Sampul Belakang 29 2 2011
EVALUASI PENGUJIAN LANJUTAN KLON KARET IRR SERI 200 PADA MASA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN Aidi Daslin
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v29i2.241

Abstract

Kegiatan pemuliaan tanaman karet generasi keempat yang dimulai tahun 1985 telah menghasilkan klon IRR seri 200. Dari hasil uji plot promosi telah diseleksi beberapa klon harapan dengan daya hasil lateks tinggi, pertumbuhan jagur, resisten terhadap  penyakit serta memiliki sifat-sifat sekunder penting yang baik. Untuk mendapatkan informasi yang lebih luas  telah dilakukan uji lanjutan sebanyak 12 klon pada dua lokasi masing-masing  di kebun Serbangan, PT. Bakrie Sumatra Plantation dan kebun Aek Pamienke, PT. Socfin Indonesia  provinsi Sumatera Utara, yang dibangun tahun 2005 dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Pengamatan pertumbuhan lilit batang dilakukan pada umur 2, 3, dan 4 tahun, tebal kulit, jumlah saluran, dan diameter pembuluh lateks masing-masing pada umur 5 tahun serta intensitas serangan penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora pada umur 3 dan 5 tahun. Dari pertumbuhan lilit batang pada umur empat tahun, IRR 220 dan IRR 211 tergolong klon yang jagur (masing-masing lilit batang 44,9 dan 51,0 cm). Klon IRR 220 tergolong stabil di dua lokasi pengujian, sedangkan  IRR 211 adaptif di lokasi dengan iklim yang lebih basah. Berdasarkan ketebalan kulit dan pembuluh lateks, klon IRR 208, IRR 211, IRR 215, IRR 217 dan IRR 220 diprediksi berpotensi cukup baik sebagai  penghasil lateks. Semua klon yang diuji tergolong agak resisten sampai dengan resisten terhadap penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora.  Diterima : 2 Februari 2011; Disetujui : 3 Mei 2011How to Cite : Daslin, A. (2011). Evaluasi pengujian lanjutan klon karet IRR seri 200 pada masa tanaman belum menghasilkan. Jurnal Penelitian Karet, 29(2), 93-101. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/241

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue JPK: Volume 43, Nomor 2, Tahun 2025 JPK : Volume 43, Nomor 1, Tahun 2025 JPK : Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024 JPK : Volume 42, Nomor 1, Tahun 2024 JPK : Volume 41, Nomor 2, Tahun 2023 JPK : Volume 41, Nomor 1, Tahun 2023 JPK : Volume 40, Nomor 2, Tahun 2022 JPK : Volume 40, Nomor 1, Tahun 2022 JPK : Volume 39, Nomor 2, Tahun 2021 JPK : Volume 39, Nomor 1, Tahun 2021 JPK : Volume 38, Nomor 2, Tahun 2020 JPK : Volume 38, Nomor 1, Tahun 2020 JPK : Volume 37, Nomor 2, Tahun 2019 JPK : Volume 37, Nomor 1, Tahun 2019 JPK : Volume 37, Nomor 1, Tahun 2019 JPK : Volume 36, Nomor 2, Tahun 2018 JPK : Volume 36, Nomor 2, Tahun 2018 JPK : Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018 JPK : Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018 JPK : Volume 35, Nomor 2, Tahun 2017 JPK : Volume 35, Nomor 2, Tahun 2017 JPK : Volume 35, Nomor 1, Tahun 2017 JPK : Volume 35, Nomor 1, Tahun 2017 JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016 JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016 JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016 JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016 JPK : Volume 33, Nomor 2, Tahun 2015 JPK : Volume 33, Nomor 2, Tahun 2015 JPK : Volume 33, Nomor 1, Tahun 2015 JPK : Volume 33, Nomor 1, Tahun 2015 JPK : Volume 32, Nomor 2, Tahun 2014 JPK : Volume 32, Nomor 2, Tahun 2014 JPK : Volume 32, Nomor 1, Tahun 2014 JPK : Volume 32, Nomor 1, Tahun 2014 JPK : Volume 31, Nomor 2, Tahun 2013 JPK : Volume 31, Nomor 2, Tahun 2013 JPK : Volume 31, Nomor 1, Tahun 2013 JPK : Volume 31, Nomor 1, Tahun 2013 JPK : Volume 30, Nomor 2, Tahun 2012 JPK : Volume 30, Nomor 2, Tahun 2012 JPK : Volume 30, Nomor 1, Tahun 2012 JPK : Volume 30, Nomor 1, Tahun 2012 JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011 JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011 JPK : Volume 29, Nomor 1, Tahun 2011 JPK : Volume 29, Nomor 1, Tahun 2011 More Issue