cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES
Published by Universitas Udayana
ISSN : 20854773     EISSN : 23022906     DOI : -
Core Subject : Health,
Indonesia Journal of Biomedical Science (IJBS), Print-ISSN 2085-4773; E-ISSN 2302-2906 is an international and peer-reviewed journal published twice per year in print and online by Indonesian of Biomedical Association in collaboration to Postgraduate School of Biomedicine Udayana University, Bali-Indonesia which was founded in 2007. The Journal aims to bridge and integrate the intellectual, methodological, and substantive diversity of biomedical scholarship, and to encourage a vigorous dialogue between biomedical scholars and researches. The Journal welcomes contributions which promote the exchange of ideas and rational discourse between practicing educators and biomedical researchers all over the world.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2, No. 2 Mei 2008" : 5 Documents clear
SUBTIPE HIV-1 DI BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA DAN PERANNYA SEBAGAI PETUNJUK DINAMIKA EPIDEMI HIV Parwati Merati, Tuti; Ryan, Claire; Turnbul, Shannon; Wirawan, DN; Otto, Brad; Bakta, I Made
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 2, No. 2 Mei 2008
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.901 KB)

Abstract

Subtipe HIV-1 dapat ditentukan dengan melakukan analisis sekuens nukleotida dari gen selubung luar HIV-1, dengan mengekstrak DNA proviral dari sampel pasien, dan memakainya dalam PCR khusus untuk envelope HIV-1. Kemudian ini di sekuens dan dianalisis dengan memakai rujukan sekuens dari bank gen LANL (Los Alamos National Library) untuk menentukan subtipe. Distribusi geografi subtipe HIV-1 bersifat dinamis. Sampai sekarang terdapat 9 subtipe HIV dan 34 circulating recombinant forms (CRFs). Penelitian terdahulu mendapatkan ada dua subtipe HIV-1 yang beredar di Indonesia, Subtipe B dan CRF01_AE. Dengan mengetahui subtipe HIV-1 dapat membantu penelusuran arah epidemi dan memberikan informasi untuk merencanakan pencegahan HIV demikian juga memberikan informasi yang diperlukan dalam pembuatan vaksin. Oleh karena itu sangat penting dilakukan penelitian mengenai subtipe HIV di Indonesia.Rancangan penelitian adalah cross-sectional analytic yang dilakukan di Klinik Pelayanan AIDS di Denpasar, Bali dan Panti Rehabilitasi Narkoba di Bogor, Jawa Barat. Responden adalah odha dewasa yang memenuhi kriteria inklusi (odha dewasa dan bersedia ikut dalam penelitian) dan responden dipilih secara non probability sampling sampai memenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan. Dengan memakai rumus 16.4 Sastroasmoro S. and Ismael S. (2002), jumlah sampel minimal dihitung sebesar 65. Untuk hipotesis 1, melihat perbedaan Subtipe HIV-1 dengan cara transmisi virus, analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Untuk hipotesis 2, membandingkan Subtipe HIV-1 dengan derajat penyakit, analisis data menggunakan uji statistik Fisher’s Exact test, sedangkan untuk analisis data epidemiologi kasus dikerjakan secara deskriptif. Hasil disajikan dalam bentuk tabel, gambar pohon phylogenetic dan narasi.Dari penelitian ini didapatkan empat jenis subtipe di Indonesia, yaitu Subtipe B, CRF01_AE, C dan G (A/G). Semua pengguna narkotika suntik (penasun) terinfeksi oleh Subtipe CRF01_AE, dan hubungan ini terbukti secara statistic bermakna (Chi-square test with continuity correction value 7,951 p = 0,005) (Tabel 5.3.1). Subtipe HIV-1 tidak berhubungan secara bermakna dengan derajat penyakit, akan tetapi terdapat kecenderungan CRF01_AE mempunyai lebih banyak kasus dengan derajat penyakit berat dibandingkan dengan NonCRF01_AE. Prevalensi kasus dengan performance yang terganggu pada CRF01_AE adalah 30,3% sedangkan pada Non CRF01_AE 14,3%. Perbedaan ini secara statistic tidak bermakna (Fisher’s-Exact test p = 0,3445 (Tabel 5.11). Dari analisis Phylogenetic didapatkan bahwa transmisi HIV pada populasi risiko tinggi di Indonesia bersifat dinamis, dan epidemi yang terjadi tidak terpisah diantara populasi dengan faktor risiko yang berbeda.Kesimpulan dari penelitian adalah: CRF01_AE merupakan subtipe yang paling banyak didapatkan dan tersebar disebagian besar wilayah. CRF01_AE didapatkan pada populasi penasun, heteroseksual, penjaja seks komersial dan pelanggannya. Karena prevalensi HIV pada penasun sangat tinggi, baik di Bali maupun daerah lainnya di Indonesia (50%), maka ada kemungkinan penasun merupakan episentrum epidemi HIV di Bali dan beberapa daerah di Indonesia, yang akan menyebar ke populasi umum melalui kelompok heteroseksual risiko tinggi yaitu PSK dan pelanggannya. Sedangkan Subtipe B, C dan G (AG) terdapat baik pada homoseks dan heteroseks, namun tidak ada penasun. Data tersebut didukung oleh gambaran pohon phylogenetic (Gambar 5.3). Pemakaian DBS dalam penelitian ini cukup praktis dan aman, walaupun keberhasilannya masih rendah (44,9%). Sekarang sudah ada kertas saring yang lebih baik dan sesuai untuk dipakai pada penelitian yang akan datang.Saran dari penelitian ini adalah, dalam program harm reduction bagi penasun hendaknya juga menekankan pemakaian kondom secara konsisten dengan pasangan seksualnya. Disamping itu disarankan perlunya melakukan pemeriksaan subtipe HIV secara periodik karena distribusi subtipe HIV bersifat dinamis.
RESPON KEKEBALAN HUMORAL MENCIT BALB/C YANG DIVAKSINASI DENGAN VAKSIN LIMPA DAN VAKSIN KULTUR PENYAKIT JEMBRANA TERHADAP PROTEIN VIRUS JEMBRANA MANIK WIDIYANTI, NI LUH PUTU; SUATA, I KETUT; MANTIK ASTAWA, I NYOMAN; -, HARTANINGSIH
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 2, No. 2 Mei 2008
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.306 KB)

Abstract

Sapi bali adalah salah satu aset nasional Indonesia yang harus dilestarikan karena mempunyai keuntungan ekonomi. Tetapi sapi bali mempunyai beberapa kelemahan penyakit khususnya penyakit Jembrana yang disebabkan oleh virus penyakit Jembrana (JDV). Pencegahan terhadap penyakit Jembrana telah dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin yang terbukti dapat menurunkan tingkat kematian sapi bali terserang JDV adalah vaksin limpa. Jenis vaksin ini hanya mampu menginduksi kekebalan dengan perlindungan 70%. Proteksi ini dapat ditingkatkan jika jumlah virus yang digunakan dalam vaksin meningkat. Tekhnik kultur in vitro adalah salah satu metode meningkatkan jumlah virus penyakit Jembrana, dan selanjutnya dibuat vaksin kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel limfosit sapi bali terinfeksi JDV adalah 9,5% pada limpa dan 57,43% pada sel kultur. Uji westernimmunoblotting sel limfosit sapi bali dari darah tepi dan limpa terinfeksi JDV menggunakan antibodi monoklonal (AbMo) anti Ca, terdeteksi protein dengan berat molekul 26 kDa, 42 kDa dan 51 kDa. Pada medium kultur PBMC dan endapan plasma sapi bali terinfeksi JDV, teridentifikasi protein dengan berat molekul 16 kDa an 26 kDa menggunakan AbMo, dan teridentifikasi protein dengan berat molekul 16 kDa; 21,5 kDa. 26 kDa; 29,7 kDa; 40 kDa dan 50 kDa menggunakan AbPo. Uji Elisa didapatkan nilai absorban antibodi mencit balb/c yang divaksinasi dengan vaksin kultur penyakit Jembrana lebih tinggi yaitu sebesar 0,3089 dibandingkan vaksin limpa yaitu sebesar 0,177 dengan p<0,05. Nilai absorban antibodi mencit balb/c terhadap antigen Ca, SU dan tat, memperlihatkan nilai absorban terhadap antigen SU berbeda sangat signifikan dibandingkan dengan antigen Ca dan antigen tat (p<0,01). Antigen Ca berbeda signifikan terhadap antigen tat (p<0,05).
FRAKSI HEKSAN EKSTRAK BIJI PEPAYA MUDA DAPAT MENGHAMBAT PROSES SPERMATOGENESIS MENCIT JANTAN LEBIH BESAR DARIPADA FRAKSI METANOL EKSTRAK BIJI PAPAYA MUDA Satriyasa, Bagus Komang
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 2, No. 2 Mei 2008
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.165 KB)

Abstract

Fraksi ekstrak heksan mengandung dua golongan zat aktif yang bersifat antifertilitas yaitu golongan steroid dan golongan triterpenoid yang diperkirakan bersifat antifertilitas, walupun mekanisme kerjanya belum jelas. Rancangan penelitian yang digunakan ialah ‘’ Pre-test post-test control group design’’. Penelitian ini memakai 30 ekor mencit jantan strain balb C , umur sekitar 12 minggu dengan berat 20-22 gram, kemudian dikelompokkan secara random menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 ekor. Satu kelompok kontrol (P0 = yang diberikan aquabides), dan dua kelompok perlakuan (P1 = kelompok perlakuan yang diberikan fraksi heksan ekstrak 20 mg/20 gram/hari, P2 = kelompok perlakuan yang diberikan fraksi ekstrak metanol 20 mg/20 gram/hari). Setelah 36 hari perlakuan lalu dilakukan pemeriksaan testis dan darah mencit. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov Goodnees of Fit test, uji homogenitas, dan uji anova. Didapatkan hasil bahwa fraksi heksan ekstrak maupun metanol dapat menurunkan jumlah sel spermatogonia A, sel spermatosit primer pakhiten, sel spermatid, dan sel Sertoli secara sangat bermakna (p < 0,01), sedangkan jumlah sel Leydig dan kadar hormon testosteron menurun tidak bermakna (p > 0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fraksi heksan ekstrak biji pepaya dapat menurunkan jumlah rata-rata sel spermatogonia A, spermatosit primer pakiten, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig dan kadar hormon testosteron lebih besar dari pada fraksi metanol ekstrak biji pepaya muda.
IODINE LEVEL OF IODIZED SALT REQUIRED IN ENDEMIC AREA Gunung, I Komang
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 2, No. 2 Mei 2008
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.674 KB)

Abstract

Iodized salt had been used in many countries for long term iodine deficiency disorders (IDD) control program. Several things should be considered related to iodine loss in iodized salt, e.g. iodine loss during cooking that may effect the effectivity of the program. Too high iodine level on the other hand, will cause health problems such as iodine-induced hyperthyroidism (IIH) and autoimmune thyroiditis. The purpose of this study was to know the level of iodine in iodized salt required in endemic area to meet the iodine recommended daily allowance (RDA) of 150 ?g/person/day. This study was a field trials using treatment by subyect design. Ten schoolchildren were selected systematically to get ten clusters of schoolchildren families. All members of the families were 33 persons (2 families were droped out). Urine examination showed the mean of urine iodine excretion (UIE) 84.8 ± 32.11 ?g/L and 208.1 ± 89.24 ?g/L of non-iodized salt and iodized salt consumption respectively. Salt intake was 6.64 g/person/day and iodine loss during cooking was 25%. Iodine level of iodized salt required in mild endemic area was 22 ppm at consumer level or 32 ppm at production level. This result was slightly higher than the minimum range (30 ppm) and much lower than the maximum range (80 ppm) was the level of iodine in iodized salt that was detemined by the government (30-80 ppm). Based on this finding, the range of iodine level in iodized salt production should be rivised according to the endemicity of area (mild, moderate, and severe).
PENDEKATAN ERGONOMI TOTAL MENINGKATKAN KUALITAS HIDUPPEKERJA WANITA PENGANGKUT KELAPA DI BANJAR SEMAJA ANTOSARI SELEMADEG TABANAN BALI Artayasa, I Nyoman
INDONESIAN JOURNAL OF BIOMEDICAL SCIENCES Vol. 2, No. 2 Mei 2008
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.007 KB)

Abstract

Kelompok (sekeha) pemetik kelapa (ngalap nyuh) ini terdiri dari 3 bagian pekerja yaitu (a) pemetik kelapa (tukang ngalap) (b) pengumpul (tukang nuduk) kelapa, (c) pengangkut kelapa (tukang suwun). Pengangkut kelapa melaksanakan pekerjaannya dengan meletakkan keranjang di atas kepala yang memuat sebanyak ± 25 biji kelapa, berat ± 25 kg, jarak ± 500 m dan dilaksanakan di tegalan dengan sudut kemiringan 10º - 25º. Setelah selesai bekerja mereka merasakan sakit pinggang, pegal-pegal di seluruh tubuh terutama di bagian tungkai dan leher. Jika dilihat beban kerja yang dihitung berdasarkan frekuensi denyut nadi kerja ternyata besarnya adalah 126,24±14,10 denyut/menit dan digolongkan pada katagori pekerjaan berat. Demikian pula dengan skor kelelahan mencapai 64,10±15,29 dan skor gangguan muskuloskeletal 56,25±7,44. Ergonomi total dapat diterapkan pada sektor ini, sehingga beban kerja, kelelahan dan keluhan sistem muskuloskeletal dapat diminimalkan dan pada akhirnya produktivitas kerja dapat ditingkatkan. Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan sama subjek, dan melibatkan 20 sampel penelitian yang dipilih secara acak sederhana pada pekerja wanita pengangkut kelapa di Banjar Semaja Antosari Tabanan Bali. Data dianalisis dengan uji t-paired dan Wilcoxon Signed Rank Test pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan penurunan beban kerja, kelelahan, keluhan muskuloskeletal, dan peningkatan produktivitas secara bermakna (p<0,05). Dapat disimpulkan, pendekatan ergonomi total menurunkan beban kerja dilihat dari penurunan denyut nadi kerja sebesar 10,61%. Penurunan kelelahan 53.97%, keluhan sistem muskuloskeletal 48,01%. Konsekuensinya, terjadi peningkatan produktivitas sebesar 48.84%. Dengan demikian dapat dikatakan pendekatan ergonomi total dapat meningkatkan kualitas hidup pekerja wanita pengangkut kelapa di Banjar Semaja Antosari Tabanan Bali.

Page 1 of 1 | Total Record : 5