cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 6 (2019)" : 10 Documents clear
Pemberian Proton Pump Inhibitor Dibandingkan dengan Antagonis Reseptor-H2 pada Anak dengan Penyakit Refluks Gastrointestinal Pramita G. Dwipoerwantoro; Annisa R Yulman
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.07 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.382-91

Abstract

Latar belakang. Pada umumnya anak dengan penyakit gastroesofageal refluks (PRGE) diterapi dengan antagonis reseptor H2 (H2RA) atau inhibitor pompa proton (PPI). Keduanya merupakan obat yang tersering diresepkan pada PRGE anak, namun efikasi keduanya masih kontroversi.Tujuan. Untuk mengevaluasi penggunaan PPI dan H2RA pada anak dengan PRGE melalui telaah sajian kasus berbasis bukti.Metode. Pencarian literatur secara sistematik menggunakan instrumen pencari PUBMED, Cochrane, dan Google Scholar. Pencarian dibatasi pada literatur berbahasa Inggris, yang dipublikasi selama 15 tahun terakhir, dan usia pasien 0–18 tahun. Studi dianggap memenuhi syarat bila dilakukan secara randomized-controlled trials, mengevaluasi PPI dan/atau H2RA untuk pengobatan GERD anak. Studi yang hanya berupa abstrak, yang hanya mengevaluasi selain non-klinis, dan laporan kasus diekslusi.Hasil. Studi kohort oleh Ruigomez dkk mencakup 8172 pasien dengan PPI (24 pasien dengan esomeprazole dan 8148 pasien dengan PPI lainnya) dan 7905 dengan H2RA. Karakteristik dasar keduanya serupa, namun anak dengan PPI cenderung lebih tua usianya. Luaran terkait keselamatan sebanyak 92 hanya pada PPI selain esomeprazole. Mattos dkk memperoleh 735 literatur, 23 studi (1598 pasien yang dirandomisasi) yang diikutsertakan dalam review sistematik. Delapan studi membuktikan bahwa PPI dan H2RA cukup efektif mengatasi manifestasi tipikal GERD. Studi lain menunjukkan bahwa omeprazole lebih unggul dibandingkan rantidin dalam pengobatan manifestasi refluks ekstra esofageal.Kesimpulan. Inhibitor pompa proton (PPI) atau H2RA dapat digunakan untuk pengobatan GERD pada anak. Omeprazol lebih unggul dibandingkan ranitidine pada pengobatan manifestasi refluks ekstra esophageal.
Hubungan Perilaku Ibu dalam Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 12-23 Bulan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinangor Viramitha Kusnandi Rusmil; Rizkania Ikhsani; Meita Dhamayanti; Tisnasari Hafsah
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.166 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.366-74

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan kondisi kurang gizi kronis disebabkan asupan makanan yang kurang dalam waktu lama. Kejadian stunting dapat direduksi oleh salah satu faktor yang memengaruhi pemenuhan gizi anak, yaitu perilaku ibu dalam praktik pemberian makan.Tujuan. Mengetahui hubungan perilaku ibu dalam praktik pemberian makan dengan kejadian stunting.Metode. Studi analitik potong lintang yang dilakukan pada ibu dan anak usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jatinangor. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan instrumen kuesioner yang disusun berdasarkan panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan World Health Organization (WHO). Pengukuran panjang badan anak menggunakan infantometer. Analisis menggunakan uji chi kuadrat dan Mann Whitney. Hasil. Lima puluh sembilan subjek (27,2%) dari 217 total subjek termasuk kelompok stunting. Angka kemaknaan pemberian makan cukup dan pemberian makan secara responsif dengan kejadian stunting sebesar 0,003 dan 0,012. Ketepatan waktu dan pemberian makan secara aman dengan kejadian stunting memiliki nilai p>0,05. Perilaku ibu dalam praktik pemberian makan secara keseluruhan menunjukkan nilai p<0,05.Kesimpulan. Praktik pemberian makan secara keseluruhan memiliki hubungan dengan kejadian stunting. Kecukupan dalam pemberian makan dan pemberian makan secara responsif memiliki hubungan dengan stunting, tetapi pemberian makan secara tepat waktu dan aman tidak memengaruhi kejadian stunting.
Diabetes Melitus Tipe-1 pada Anak: Situasi di Indonesia dan Tata Laksana Aman Bhakti Pulungan; Diadra Annisa; Sirma Imada
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.573 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.392-400

Abstract

Insidens Diabetes Mellitus (DM) Tipe-1 pada anak di dunia dan Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tercatat 1220 dengan DM tipe-1 pada tahun 2018. Kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai DM pada anak masih rendah, yang direfleksikan melalui tingginya angka anak yang terdiagnosis dengan DM tipe-1 saat mengalami ketoasidosis diabetikum mencapai 71% pada tahun 2017. Berdasarkan pedoman IDAI, terdapat lima pilar penanganan DM tipe-1 pada anak: injeksi insulin, pemantauan gula darah, nutrisi, aktivitas fisik, dan edukasi. IDAI merekomendasikan insulin minimal dua kali per hari menggunakan insulin basal dan kerja cepat. Pemantauan gula darah mandiri dilakukan minimal 4-6 kali per hari. Keterlibatan pemegang kebijakan, termasuk pemerintah, dan dukungan masyarakat dibutuhkan agar anak dengan DM tipe 1 tertangani dengan baik.
Kejadian Demam Neutropeni pada Leukemia Limfoblastik Akut Anak di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta Marshalla Agnes; Pudjo Hagung Widjajanto; Wahyu Damayanti
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.412 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.360-5

Abstract

Latar belakang. Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan keganasan yang sering ditemukan pada anak dan remaja. Demam neutropeni (DN) merupakan kedaruratan medik pada LLA yang sering menyebabkan kematian.Tujuan. Mengetahui angka kejadian dan kematian DN pada LLA anak selama terapi fase induksi.Metode. Penelitian deskriptif dengan disain potong lintang. Subjek adalah pasien LLA anak pada kurun Januari 2013 hingga Desember 2015, usia 1 bulan hingga 18 tahun dan tengah menjalani terapi fase induksi. Neutropeni ditegakkan dengan jumlah neutrofil absolut <1.500/mmk. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling.Hasil. Terdapat 246 kasus LLA baru pada kurun waktu penelitian, 115 (46,7%) mengalami DN selama fase induksi. Kematian terjadi pada 15/115 (13%) kasus, 9/15 (60%) berhubungan dengan DN (sepsis, syok sepsis), sisanya karena sebab lainnya (sindrom lisis tumor, herniasi dan infiltrasi mening). Analisis pada kasus yang rekam mediknya selama fase induksi lengkap (59/115 atau 51,3%) menunjukkan 50/59 (84%) subjek mengalami satu kali kejadian DN, sisanya 9/59 (16%) mengalaminya 2-3 kali. Median terjadinya DN kali pertama setelah diagnosis adalah 8 hari (0-62 hari). Median durasi DN 7 hari (3-23).Kesimpulan. Kejadian demam neutropeni selama fase induksi masih tinggi dan merupakan penyebab kematian yang paling utama.
Perundungan-siber (Cyberbullying) serta Masalah Emosi dan Perilaku pada Pelajar Usia 12-15 Tahun di Jakarta Pusat Bonny Tjongjono; Hartono Gunardi; Sudung O. Pardede; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.301 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.342-8

Abstract

Latar belakang. Internet dan media sosial memberikan banyak kemudahan hidup, namun juga berpotensi untuk disalahgunakan, misalnya untuk perundungan-siber. Perundungan-siber memiliki efek negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan sosial pelaku maupun korbannya. Tujuan. Mengidentifikasi karakteristik perundungan-siber serta masalah emosi dan perilaku pelajar usia 12-15 tahun di Jakarta Pusat.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada pelajar usia 12-15 tahun pada satu SMP di Jakarta Pusat. Perundungan-siber dinilai dengan kuesioner perundungan-siber Hinduja dan Patchin, yang telah diterjemahkan dan divalidasi dengan Cronbach’s α=0,72. Masalah emosi dan perilaku ditapis dengan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ).Hasil. Dari 274 pelajar yang berpartisipasi dalam penelitian ini, prevalens perundungan-siber adalah 48,2% (korban 11%, pelaku 14,2%, korban sekaligus pelaku 23%). Jenis perundungan-siber tersering yang dialami korban adalah tidak dihargai oleh orang lain (83,3%), disinggung-singgung oleh orang lain (80%), dan diacuhkan oleh orang lain (73,3%). Chat room di Line (60%) dan Instagram (60%), merupakan media sosial tersering yang digunakan. Teman sebaya laki-laki merupakan pelaku tersering (66,7%). Masalah hubungan dengan teman sebaya merupakan masalah emosi dan perilaku yang paling sering dialami oleh korban (10,2%), pelaku (13,5%), dan korban sekaligus pelaku (20,4%).Kesimpulan. Perundungan-siber merupakan suatu fenomena yang sering dijumpai pada pelajar usia 12-15 tahun di sebuah SMP di Jakarta Pusat. Masalah tersebut memerlukan perhatian yang lebih serius dari orangtua, guru dan tenaga kesehatan.
Luaran Klinis Anak dengan Epilepsi yang Mengalami Relaps Setelah Penghentian Obat Antiepilepsi Agung Triono; Elisabeth Siti Herini; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.059 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.335-41

Abstract

Latar belakang. Penghentian obat antiepilepsi (OAE) yang terburu-buru meningkatkan risiko relaps. Risiko resistensi obat pada anak dengan epilepsi yang mengalami relaps sangat tinggi. Hingga saat ini belum ada kesepakatan mengenai pengobatan kejang pasca relaps. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insiden relaps, karakteristik, prediktor, luaran, dan perjalanan elektroensefalografi (EEG) anak dengan epilepsi setelah mengalami relaps. Metode. Penelitian dilakukan pada Juni-Desember 2016. Desain studi adalah potong lintang, multisite dari rekam medis tahun 2012-2016. Subjek adalah anak dengan epilepsi yang mengalami relaps. Hasil. Epilepsi relaps terjadi paling banyak dalam tahun pertama setelah dosis OAE diturunkan, 41,3% relaps terjadi dalam 6 bulan, dan 31,7% antara 6-12 bulan. Riwayat waktu kejang terkontrol lama (≥1 tahun) pada kejang sebelumnya merupakan faktor yang memengaruhi (RP 1,846 95% IK 1,056 – 3,228) kejang yang tidak terkontrol dalam waktu 6 bulan pasca relaps. Sementara variabel lain tidak signifikan berpengaruh terhadap terkontrolnya kejang dalam 6 bulan pasca relaps. Kesimpulan. Anak dengan epilepsi relaps yang memiliki riwayat waktu terkontrol kejang lama (≥1 tahun) akan lebih sulit mencapai remisi kedua pasca relaps. 
Hubungan Parameter Antropometri dengan Nilai Arus Puncak Ekspirasi pada Remaja di Surakarta David Anggara Putra; Harsono Salimo; Ismiranti Andarini
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.471 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.349-53

Abstract

Latar belakang. Obesitas saat ini menjadi tantangan utama bagi tenaga kesehatan. Prevalensi anak dan remaja dengan obesitas semakin meningkat. Keadaan obesitas berpengaruh pada beberapa parameter fisiologi sistem pernapasan. Salah satu indikator penilaian status respirasi dengan menggunakan nilai arus puncak ekspirasi. Penelitian tentang obesitas dan sistem pernapasan pada anak masih kontroversial. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan parameter antropometri dengan nilai arus puncak ekspirasi pada remaja.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan studi potong lintang. Subjek penelitian merupakan siswa SMP usia 13 tahun sampai 18 tahun diambil mulai bulan September - Desember 2018. Pengambilan subyek penelitian dengan simple random sampling. Variabel bebas adalah antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh serta lingkar pinggang sedangkan variabel terikat adalah nilai arus puncak ekspirasi. Hasil. Subyek penelitian berjumlah 134 siswa dengan laki-laki 57 (42,5%) dan perempuan 77 (52,5%). Hasil analisis bivariat menunjukkan berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh dan lingkar pinggang berhubungan signifikan secara statistik dengan nilai p, yaitu 0,040; <0,001; <0,001; <0,001. Dari analisis multivariat diketahui berat badan, tinggi badan, umur, lingkar pinggang dan IMT secara bersama-sama berpengaruh dengan nilai arus puncak ekspirasi (r2=0,370; p<0,001)Kesimpulan. Semakin tinggi nilai antropometri (berat badan, indeks masa tubuh dan lingkar pinggang} mempunyai nilai arus puncak ekspirasi semakin rendah.
Peran foto toraks sebagai alat bantu diagnostik pada fase akut penyakit Kawasaki Najib Advani; Lucyana Alim Santoso
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.532 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.331-4

Abstract

Latar belakang. Belum ada pemeriksaan penunjang yang dapat memastikan diagnosis penyakit Kawasaki (PK) yang saat ini ditegakkan menggunakan kriteria klinis. Pemeriksaan penunjang tambahan dapat membantu dalam menegakkan diagnosis, meskipun tidak definitif.Tujuan. Mengetahui apakah foto toraks dapat digunakan sebagai alat bantu diagnostik pada  penyakit Kawasaki.Metode. Penelitian ini adalah penelitian retrospektif data rekam medis pasien penyakit Kawasaki di beberapa rumah sakit sejak Januari 2003 hingga Desember 2018. Kriteria inklusi adalah anak yang memenuhi kriteria diagnostik penyakit Kawasaki dari American Heart Association baik komplit maupun inkomplit serta memiliki data lengkap klinis, ekokardiografi dan foto toraks.Hasil.Terdapat 916 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan 786 (86%) diantaranya memiliki kelainan foto toraks. Kelainan terbanyak yang dijumpai adalah bercak infiltrat bilateral (84%). Tidak ada perbedaan bermakna pada frekuensi kelainan foto dada pada PK komplit maupun inkomplit.Kesimpulan. Tingginya angka kejadian kelainan paru pada foto toraks anak dengan PK, maka foto toraks dapat digunakan sebagai alat diagnostik tambahan pada kasus PK inkomplit.
Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan ASI Eksklusif Rokhmah Ayu Suliasih; Dwiyanti Puspitasari; Dhasih Afiat Dwi Pawestri
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.208 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.375-81

Abstract

Latar belakang. Pemberian ASI eksklusif (AE) merupakan intervensi yang efektif untuk mencegah penyakit metabolik dan permasalahan kesehatan anak. Data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2016 menunjukkan angka ASI eksklusif di Jawa Timur cenderung turun. Faktor yang memengaruhi pemberian AE meliputi faktor pemudah, pendukung, dan pendorong.Tujuan. Mengetahui hubungan antara faktor pemudah (pengetahuan tentang tanda kecukupan ASI, karakteristik sosiodemografi), pendukung (cara persalinan, Inisiasi menyusu dini, paritas ibu), dan pendorong (tenaga kesehatan, keluarga, dan media) dengan keberhasilan AE.Metode. Penelitian potong lintang analitik melalui pengisian kuesioner oleh ibu yang memiliki anak berusia 6-11 bulan yang datang ke Posyandu atau Puskesmas Simomulyo dan Manukan Kulon, Surabaya pada bulan Maret-April 2018. Data hasil pengisian kuesioner dianalisis statistik menggunakan uji Kai kuadrat dan regresi logistik, dengan confidence interval (CI) 95%.Hasil. Didapatkan proporsi AE 61% dari sejumlah 82 ibu, semua ibu pernah melihat iklan formula, dan alasan terbesar (53,1%) ibu tidak memberikan AE karena khawatir ASI tidak cukup. Usia ibu (p=0,020), pekerjaan (p=0,003), pendidikan terakhir (p=0,030), dan riwayat keberhasilan pemberian AE pada anak yang sebelumnya (p=0,032) berhubungan dengan AE.Kesimpulan. Ibu yang berusia 25-30 tahun, berpendidikan tinggi, memiliki riwayat keberhasilan AE, dan tidak bekerja dapat memengaruhi keberhasilan pemberian AE.
Rasio Neutrofil dan Limfosit (NLCR) Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Bakteri di Ruang Rawat Anak RSUP Sanglah Denpasar I Made Yullyantara Saputra; W Gustawan; MG Dwilingga Utama; BNP Arhana
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.354-9

Abstract

Latar belakang. Rasio neutrofil dan limfosit (NLCR) memiliki potensi sebagai prediktor bakteremia pada pasien dengan infeksi yang didapat di masyarakat. Insidensi bakteremia, atau adanya bakteri hidup dalam darah, mencapai sekitar 1% kasus pada populasi. Angka kematian mencapai 25%-30% dan meningkat hingga 50% pada sepsis berat.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan rasio neutrofil dan limfosit (NLCR) dengan kejadian infeksi bakteri.Metode. Sebuah studi kasus-kontrol dilakukan dengan meninjau rekam medis di RSUP Sanglah, Denpasar, pada periode Januari 2016 hingga Maret 2018. Data yang diambil adalah usia, jenis kelamin, kadar WBC, Neutrofil, limfosit, monosit, platelet, dan kultur darah. Kemudian dilakukan analisis hubungan antara rasio neutrofil dan limfosit terhadap infeksi aliran darah.Hasil. Selama periode studi didapatkan 98 pasien dengan hasil kultur positif dan 100 pasien dengan hasil kultur negatif. Dari total subjek yang dianalisis, didapatkan 116 (58,5%) subjek laki-laki dan 82 (40,9%) subjek perempuan. Median usia pada kelompok kasus adalah 12 bulan, sedangkan median usia pada kelompok kontrol adalah 24 bulan. Analisis kurva ROC menunjukkan nilai cut-off optimal untuk NLCR adalah 4,67. Rasio odd untuk hubungan antara NLCR dengan kejadian infeksi bakteri adalah 3,24 (95% IK 1,74 – 5,92) dan adjusted odds ratio sebesar 3,49 (95% IK 1,83-6,64).Kesimpulan. Nilai NLCR ≥4,67 merupakan faktor risiko untuk infeksi aliran darah yang berkembang. Hasil ini dapat digunakan sebagai titik potong untuk antibiotik yang awalnya diberikan untuk mencegah prognosis yang buruk (sepsis, kegagalan organ multipel, dan kematian).

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue